← Daftar isi Kejadian (5) · bab 10/16

DITANGGULANGI (2)

(4) Mimpi di Betel

Dalam berita ini kita akan melihat satu perubahan yang sangat menentukan dalam kehidupan Yakub — mimpinya di Betel (Kej. 28:10-22). Walaupun kita semua sudah hafal cerita mimpi Yakub, tetapi saya ragu apakah kita benar-benar paham makna mimpi ini. Ingin mengetahui makna mimpi ini, kita harus memahami apa sebabnya Yakub bermimpi, di mana, dan kapan ia bermimpi. Mengapa ia tidak bermimpi demikian ketika ia di rumah berkumpul dengan orang tuanya? Asal kita mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini, kita akan menemukan apa makna mimpi ini bagi kita semua.

(a) Terombang-ambing

dalam Perjalanannya yang Sendirian

Ketika Yakub sedang terombang-ambing dalam perjalanannya yang sendirian, ia memimpikan hal ini (Kej. 28:10). Yakub lahir dalam keluarga yang sangat baik. Ia mempunyai ayah yang baik, ibu yang penyayang, dan kakak yang menyenangkan. Sebelum dunia diciptakan, Allah telah memilih dan menentukan dia memiliki hak kesulungan. Melalui cerita Yakub kita nampak maksud hati Allah dan hasrat manusia. Allah bermaksud agar Yakub menjadi yang pertama dan Yakub pun ingin menjadi yang pertama, bukan yang kedua. Jadi, hasrat Yakub sesuai dengan maksud hati Allah. Ini menunjukkan, bila kita mempunyai hasrat yang sesuai de-ngan maksud hati Allah, hasrat itu pasti berasal dari Allah, bukan dari kita sendiri. Allah ingin memberi kita hak kesulungan, dan kita pun menaruh hasrat ingin menjadi yang pertama. Hasrat ini tidak salah, melainkan sangat benar. Tetapi, kita harus belajar jangan menggunakan kemampuan alamiah kita dan kekuatan alamiah kita untuk menggenapkan maksud hati Allah dan memuaskan hasrat kita. Kekuatan dan kemampuan alamiah kita sering menimbulkan masalah.

Melalui membaca Kitab Kejadian didampingi seluruh Alkitab, kita nampak bahwa Allah ingin memberi hak kesulungan kepada Yakub dan Yakub pun ingin memperolehnya. Namun, kekuatan alamiah Yakub harus ditanggulangi. Karena itulah kedaulatan Allah menjadikan dia lahir nomor dua. Meskipun Allah telah memilih dia sebagai yang pertama, tetapi Allah membuat dia dilahirkan nomor dua, supaya Yakub mengenal bahwa manusia alamiahnya sama sekali tidak bernilai dan harus disingkirkan. Allah ingin memberi kita hak kesulungan, namun manusia alamiah kita tidak layak untuk itu. Kita perlu diubah. Allah tahu bahwa Yakub memerlukan transformasi (pengubahan), maka Ia membuatnya lahir sebagai yang kedua, bukan yang pertama. Tanpa adanya pengaturan kedaulatan ini, manusia alamiah dan kekuatan alamiah Yakub tidak akan ternyatakan. Andaikata Allah menempatkan Yakub mendahului Esau, Yakub mungkin mengira dirinya sangat rohani. Ia tidak akan meronta-ronta, karena ia sudah menjadi yang pertama. Justru Allah tahu apa yang terkandung dalam Yakub, maka Ia menempatkan Esau sebagai yang pertama, supaya manusia alamiah Yakub bisa disingkapkan. Bahkan ketika masih di dalam rahim ibunya, Yakub sudah bergumul untuk keluar duluan. Inilah pengaturan Allah.

Apa pun yang terjadi pada diri kita adalah menurut pengaturan Allah. Jangan sekali-kali menyangka Anda terlalu kecil dan tidak layak menerima kedaulatan pengaturan ini. Allah mempunyai satu tujuan terhadap kita — memberi kita hak kesulungan. Karena manusia alamiah kita tidak layak untuk ini, maka Allah harus mengubah kita. Allah tidak hanya melakukan hal ini dengan tangan pencipta-Nya, tetapi juga melalui proses panjang yang hanya bisa terlaksana setelah melewati berbagai peristiwa dalam seumur hidup. Sebagaimana telah kita lihat Allah menggunakan Ishak, Ribka, dan Esau untuk menanggulangi Yakub. Mereka bertiga tidak pernah mengadakan konferensi yang merundingkan bagaimana menanggulangi Yakub, namun mereka sudah bekerja sama dengan koordinasi yang baik bagi tujuan tersebut. Sebab segala sesuatu berada di bawah tangan kedaulatan Allah. Allah mengatur Esau dilahirkan dahulu. Ia pun mengatur Esau kuat dalam tubuh (jasmani), tetapi tidak pandai menggunakan akalnya. Sekalipun ia tidak pandai menggunakan otaknya, namun ia dapat mengalahkan Yakub dengan menggunakan kekuatan jasmaninya. Tambahan pula, Allah mengatur Yakub memiliki seorang ayah yang hanya tahu makan dan me-nikmati. Bahkan walaupun Ishak menyadari bahwa suatu kekeliruan telah terjadi ketika Yakub datang kepadanya menyamar sebagai Esau, tetapi Ishak tetap hanya tahu memperhatikan makanannya. Inilah sebabnya ia menjadi buta. Ketika Ishak bersikap netral, Ribka yang amat pintar itu bersikap pilih kasih dan sangat mencintai anak kesa-yangannya Yakub. Ketiga orang ini bekerja sama membuat Yakub meninggalkan ibunya yang terkasih dan rumah ayahnya, sehingga menjadi seorang pengembara yang sendirian.

Zaman dulu, tidaklah mudah bepergian dari Bersyeba ke tempat di mana Laban tinggal. Bagi Yakub, meninggalkan ayah ibunya dan suasana sekeliling di mana ia dibesarkan, serta menempuh perjalanan yang begitu jauh, bukanlah suatu perkara kecil. Menjadi seorang pengembara yang sendirian tentunya banyak mengalami penderitaan dalam perjalanan ini.

Jika Anda menoleh kepada masa lampau Anda dengan pengertian yang tepat, Anda akan menemukan betapa samanya pengalaman Anda dengan pengalaman Yakub. Tidak banyak dari antara kita yang diselamatkan ketika kita berada dalam keluarga yang baik-baik dan diasuh oleh ibu kita yang penyayang. Sebagian besar kita diselamatkan ketika kita sendirian dan dipaksa menderita. Ada yang telah kehilangan ibu, ayah, calon suami/istri, istri, suami, atau anak-anak, sehingga menjadi sendirian. Prinsipnya, kebanyakan dari kita diselamatkan pada saat kita sedang menderita dan sendirian. Selama tahun-tahun kita berada di bawah asuhan kasih sayang ibu, mimpi surgawi ini tidak datang. Kapan mimpi surgawi yang pertama mendatangi Anda? Kita semua pernah mempunyai mimpi ini. Mimpi pertama hayat rohani kita adalah keselamatan kita. Kita akan nampak bahwa setiap visi rohani adalah suatu mimpi. Dalam situasi apakah Anda, ketika mimpi pertama Anda tiba? Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa keadaan kita tidak menyenangkan. Ada yang sedang menderita, ada yang sendirian, ada pula yang sedang dalam lingkungan yang menyedihkan. Kita terpaksa menderita, terombang-ambing, dan sendirian. Menurut perasaan kita, sewaktu kita kehilangan segala sesuatu di bumi dan sewaktu kita menderita dan sendirian, datanglah mimpi surgawi yang pertama.

(b) Tidur Tanpa Rumah dan Beralas Kepala pada Batu

Mengenai Yakub, Kejadian 28:11 mengatakan, “Ia sampai di suatu tempat, dan bermalam di situ, karena matahari telah terbenam. Ia mengambil sebuah batu yang terletak di tempat itu dan dipakainya sebagai alas kepala, lalu membaringkan dirinya di tempat itu.” Yakub tiba di padang belantara, di sana tidak ada tempat penginapan. Saat hendak tidur, ia memerlukan sebuah bantal; diambilnya sebuah batu dan dijadikan bantal. Apa artinya ini? Ini berarti semua perbuatan manusia telah dikesampingkan. Tidak ada rumah, tempat penginapan, atau segala sesuatu yang dibuat oleh manusia. Semua yang ada di tempat itu tidak lain adalah karya Allah. Selama Yakub di rumah, keadaannya sangat berbeda. Segala sesuatunya dibuat oleh manusia. Namun malam itu di padang belantara, tidak satu pun buatan manusia. Semua yang ada dalam lingkungan itu dibuat oleh Allah. Jika Anda memeriksa kembali pengalaman Anda yang lampau, Anda akan nampak bahwa mimpi pertama dalam hayat rohani Anda datangnya pada saat hampir semua buatan manusia disingkirkan dan dikesampingkan. Yang tertinggal hanyalah langit dan bumi yang diciptakan oleh Allah. Ketika Yakub tinggal di rumah, ia dapat tinggal di tempat kediaman buatan manusia dan berbaring dengan bantal buatan manusia. Tetapi di padang belantara, ia harus beralaskan kepala dengan batu ciptaan Allah.

Andaikata saya adalah Yakub, saya akan lebih pandai; saya akan memakai kayu atau tanah liat sebagai bantal saya pengganti memakai batu. Saya tidak akan tahan tidur di atas batu. Tetapi Yakub tidak menggunakan kayu atau tanah liat. Kita akan nampak bahwa Yakub menggunakan batu sebagai alas kepala itu sangat berarti. Andaikata Anda adalah Yakub, Anda akan memakai tanah liat atau batu? Saya akan memilih bantal buatan tanah liat dan membaringkan kepala saya di atasnya. Namun, ini buatan manusia. Batu yang Yakub gunakan sebagai bantal adalah ciptaan Allah, perse-diaan Allah.

Hampir semua orang yang terpanggil dapat bersaksi bahwa sebelum mereka diselamatkan, mereka dipaksa untuk menderita, sendirian, dan di dalam lingkungan di mana buatan manusia menjadi bukan apa-apa. Mereka menyadari bahwa segala buatan manusia tidak berguna sama sekali, sehingga mereka bersandar pada penciptaan Allah, bersandar pada barang ciptaan Allah. Pada saat demikian, mimpi surgawi datang.

Prinsip ini tetap sama hari ini. Jika Anda menginginkan visi surgawi yang lain lagi, Anda harus mengalami suatu penderitaan. Sewaktu saudara-saudara mempersulit Anda, atau istri Anda menyusahkan Anda, boleh jadi mimpi surgawi akan sekali lagi mendatangi Anda. Jika Anda selalu gembira dan menghadapi situasi yang nyaman, kemungkinan mimpi itu tidak akan datang. Sebagian besar visi surgawi muncul pada saat Anda menderita atau teraniaya. Hampir semua visi yang saya lihat datangnya pada saat-saat penderitaan. Tidak ada orang yang suka menderita. Akan tetapi, ketika penderitaan itu menimpa diri kita di bawah tangan kedaulatan Allah, kita mustahil menolaknya dengan berkata, “Penderitaan, aku tidak menyenangimu, enyahlah!” Semakin kita berkata demi-kian, semakin ketat penderitaan mengejar kita.

Saya tahu dari pengalaman saya sendiri bahwa visi jarang sekali datang di saat kita gembira atau bahagia; melainkan datang sewaktu kita menderita. Ketika kita bahagia dalam hidup gereja yang sangat indah, mimpi surgawi mungkin tidak datang. Namun ketika kita dipersulit oleh saudara, saudari, atau para penatua, datanglah mimpi itu. Kalau Anda se-jak diselamatkan tidak pernah mempunyai mimpi surgawi, itu membuktikan bahwa Anda belum pernah menderita. Tanpa ada penderitaan, tanpa pula ada mimpi. Akan tetapi, setiap kali kita kehilangan segala buatan manusia dan ter-bawa ke tempat di mana hanya ada barang-barang ciptaan Allah, yaitu ketika kita diputuskan dari apa yang berasal dari manusia seraya bersandarkan pada apa yang berasal dari Allah, visi pun datang. Visi surgawi itu datang secara demikian.

Lihat saja pengalaman Yakub. Ia telah dipilih dan ditentukan oleh Allah. Tetapi karena ia meronta-ronta dan berusaha memperoleh apa yang ingin Allah berikan kepadanya, ia membuat dirinya jatuh ke dalam kesulitan. Kemudian Allah dengan kedaulatan-Nya datang memaksanya meninggalkan rumahnya, membawanya kepada situasi di mana ia sendirian tanpa bantuan. Andaikata Anda adalah Yakub, meninggalkan rumah dan keluarga Anda, kesepian dan sendirian, bagaimanakah perasaan Anda? Kalau saya adalah Yakub, saya sudah putus asa sama sekali. Justru pada saat inilah, mimpi datang.

(c) Bermimpi Melihat Tangga yang Melambangkan Kristus

Kejadian 28:12 mengatakan, “Maka bermimpilah ia, di bumi ada didirikan sebuah tangga yang ujungnya sampai di langit (surga), dan tampaklah malaikat-malaikat Allah naik turun di tangga itu” (Tl.). Inti mimpi ini ialah tangga. Dalam mimpi ini, apakah tangga itu turun dari langit? Tidak, tangga itu sudah ada di bumi, dan Yakub hanya perlu nampak visi ini. Sebelum ia bermimpi, ia tidak nampak tangga itu. Ini berarti bahwa jauh sebelum kita diselamatkan, segala sesuatu yang perlu untuk mewarisi hak kesulungan sudah tersedia di sana. Masalahnya adalah kita tidak melihatnya. Kita harus mempunyai visi agar nampak itu. Jangan mengira bahwa dalam mimpinya Yakub melihat tangga turun seperti Petrus melihat sebuah kain lebar turun dari langit (Kis. 10:9-16). Yakub tidak melihat sesuatu turun, melainkan sesuatu telah ada di bumi. Kita tidak diberi tahu bahwa tangga itu mencapai bumi, melainkan tangga itu “didirikan di bumi” dan “ujungnya sampai di langit”. Tangga itu telah ada di bumi, bukan turun dari langit.

Bagaimana dengan malaikat-malaikat Allah di tangga itu? Tahun-tahun yang silam ketika saya membacanya, saya selalu mengira mereka itu sedang turun naik. Tetapi ayat ini mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu “naik turun” (Tl.). Ini berarti malaikat-malaikat itu telah ada di sana sebelum Yakub bermimpi. Sewaktu Yakub melihat mereka, mereka terlebih dulu naik dan kemudian turun. Jika Yakub melihat tangga itu turun dari surga dan malaikat Allah turun, maka mimpinya itu dapat dianggap sebagai jawaban atas doa Yakub. Jika Yakub berkata, “Ya Allah, aku sendirian dan ingin sekali melihat visi dari surga.” Lalu, ada sebuah tangga turun dari surga dengan malaikat-malaikat turun di atasnya, tentu itu merupakan jawaban terhadap harapan atau doa Yakub. Namun, sama sekali bukan demikian. Yakub bahkan tidak berdoa, tiba-tiba Yakub melihat sebuah tangga didirikan di bumi, yang ujungnya mencapai langit. Malaikat-malaikat naik dan turun di tangga, ini menunjukkan bahwa mimpi itu bukan merupakan jawaban atas doa Yakub, melainkan sebelumnya telah direncanakan oleh Allah.

Jangan mengira bahwa keselamatan Anda itu adalah jawaban atas doa Anda. Sebelum Anda berdoa, keselamatan itu telah menunggu Anda. Bukan karena Anda berdoa lalu tiba-tiba keselamatan turun dari surga mendatangi diri Anda. Tidak, sebelum Anda diselamatkan, keselamatan telah menunggu Anda, namun Anda harus dipaksa meninggalkan rumah Anda serta semua keadaan buatan manusia dan dibawa ke dalam lingkungan yang sunyi sendirian. Kemudian mata Anda tercelik sehingga nampak keselamatan yang telah ada di sana.

Kejadian 28:12 berbeda dengan Yohanes 1:51, kita tidak diberi tahu bahwa Yakub melihat langit terbuka. Yakub tidak melihat langit terbuka, karena langit telah terbuka sebelum ia tiba di sana. Kapankah langit terbuka terhadap Anda bagi keselamatan Anda? Apakah Anda berpuasa, berdoa, dan berseru-seru kepada Tuhan agar membukakan langit bagi Anda dan kemudian langit tiba-tiba terbuka? Tidak, langit selamanya tidak pernah tertutup bagi umat pilihan Allah. Walau langit selalu terbuka bagi kita, kita tetap masih perlu datang ke Betel. Mungkin kita enggan datang ke sini, namun kita tidak ada pilihan lain. Sama seperti Yakub, kita dipaksa untuk datang kemari. Kebanyakan kita masuk ke dalam hidup gereja karena tidak ada pilihan lain. Kita di-paksa datang. Boleh jadi Anda berkata, “Asal ada jalan, aku mau keluar dari hidup gereja.” Tetapi syukur kepada Tuhan, Anda tidak ada jalan. Mungkin juga Anda berkata, “Aku tidak menyukai situasi dalam hidup gereja. Aku ingin pergi saja.” Namun puji Tuhan, ini tidak mungkin. Kita semua telah dipaksa datang ke Betel, tempat kita nampak tangga yang memang sudah ada di sini. Kita tidak perlu mohon dan menunggu langit terbuka. Begitu mata kita tercelik, nampak-lah tangga itu sudah di sini. Inilah visi surgawi, mimpi surgawi. Dalam mimpi ini, kita tidak melihat tangga turun, kita nampak tangga yang justru sudah ada di sini.

Ketika kita sampai pada Perjanjian Baru, kita nampak bahwa Kristus itulah tangga yang Yakub nampak. Dalam Yohanes 1:51 Yesus berkata kepada Natanael, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah naik turun kepada Anak Manusia.” Kristuslah yang membawa langit ke bumi dan bumi ke langit. Mula-mula, Ia membawa langit ke bumi dan kemudian Ia menghubungkan bumi dengan langit. Kejadian 28:12 mencatat tangga itu “didirikan di bumi”. Menurut konsepsi kita, Kristus telah meninggalkan bumi. Namun menurut konsepsi Allah, Kristus telah didirikan di bumi, dan tidak seorang pun dapat memindahkan-Nya. Selama sembilan belas setengah abad, manusia telah berusaha sekuat mereka untuk menggoncangkan tangga ini, tetapi mereka tidak berhasil. Jangan mengira Kristus itu sedang turun. Tidak, Ia telah didirikan di bumi.

Menurut perasaan lubuk batin Anda, di manakah Kristus pada saat Anda diselamatkan — di langit atau di bumi? Menurut konsepsi alamiah Anda, Ia berada di langit. Tetapi menurut perasaan batiniah Anda, Kristus ada di hadapan Anda, Ia telah didirikan di bumi. Kita semua telah mengalami hal ini. Namun, karena pengaruh agama, kita melangkah mengikuti angan-angan kita, bukan mengikuti pengalaman kita. Dalam pengalaman keselamatan kita, Kristus berada di bumi.

Kristus kita, yaitu tangga yang membawa langit ke bumi dan menghubungkan bumi dengan langit, sekarang ini tidak saja di langit, tetapi juga di bumi. Kristus telah didirikan di bumi dan mencapai langit dengan maksud mendatangi kita dan membawa kita kepada-Nya. Telah kita tunjukkan, dalam mimpi Yakub, malaikat-malaikat Allah naik turun di atas tangga. Malaikat-malaikat siap untuk naik. Saya percaya, begitu ada seorang berdosa menerima Tuhan Yesus dan diselamatkan, segera banyak malaikat naik ke langit untuk me-ngabarkan berita gembira. Mula-mula malaikat-malaikat dengan sukacitanya naik ke langit dan kemudian mereka turun dengan membawa barang-barang baik bagi orang yang baru percaya itu. Hubungan ini bukan dimulai dari langit, melainkan dari bumi ke langit dan kembali lagi ke bumi. Demikian pula, ketika kita bertobat dan berkata, “Tuhan, aku mau lebih banyak mendapatkan diri-Mu, juga lebih banyak Engkau dapatkan.” Tentulah malaikat-malaikat yang sesungguhnya adalah “reporter” ini, membawakan berita ini ke langit.

Saat ini, Kristus, Sang utusan, yang membawa langit ke bumi dan menghubungkan bumi dengan langit, berada di sini, di bumi. Sering kali dalam kamar, saya merasa Kristus ada di sana. Begitu saya menanggapi-Nya, ada beberapa malaikat meluncur ke atas langit seolah-olah lebih cepat daripada roket, melaporkan kabar baik. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa ada kalanya kita bersekutu dengan Tuhan demikian indahnya sampai-sampai kita tidak mampu melukiskan apa yang terjadi. Itulah bukti yang kuat bahwa para malaikat berada di sana naik turun. Kemudian, ketika persekutuan kita yang indah dengan Tuhan itu berlangsung terus, kita merasa melangkah lebih maju dengan Dia, dan malaikat-malaikat dengan senangnya naik lagi ke langit untuk mengabarkan berita yang baru, dan segera turun kembali dengan membawa lebih banyak barang-barang baik untuk kita.

Menurut visi yang tepat, malaikat-malaikat Allah naik turun. Kita tidak perlu berdoa atau berpuasa. Kita hanya perlu dipaksa oleh tangan Allah untuk meninggalkan segala barang milik manusia seraya memasuki lingkungan di mana kita beroleh mimpi dan mata kita tercelik. Lalu kita akan berkata, “Amin, Tuhan Yesus. Tangganya ada di sini, dan para malaikat naik turun di atasnya.” Ketika kita diselamatkan, terjadilah hal demikian ini. Namun kita tidak menemukan kata-kata penjelasannya. Hari ini, Kristus Sang tangga, inti alam semesta, ada di sini. Tangga ini telah didirikan di bumi dan menunggu kita melihat dan mengontaknya sekali demi sekali. Setiap kali kita memperoleh satu visi, kita mungkin tidak paham atau tidak dapat mengutarakannya dengan kata-kata, tetapi kita merasa bahwa ada sebuah tangga di hadapan kita. Setiap kali kita menikmati pengalaman rohani, maka dalam lubuk batin kita terasa ada sesuatu di hadapan kita, juga di dalam kita, menghubungkan kita dengan langit; jika kita menyentuhnya, kita menyentuh langit. Inilah Kristus. Ketika kita lebih berpengalaman dalam hidup gereja, kita akan tersenyum dan berkata, “Mengapa tidak dari sebelumnya nampak ini? Betapa bodohnya aku! Sesuatu telah didirikan di bumi yang mencapai langit; begitu aku menyentuhnya, ia pasti mengantar aku dan menghubungkan aku dengan langit.” Inilah tangga itu. Dalam berita selanjutnya kita akan nampak bahwa tangga ini menghasilkan Betel, rumah Allah, pintu gerbang surga. Dengan istilah hari ini, ialah menghasilkan gereja.

Mimpi Yakub di Betel bukan berasal dari dirinya, melainkan mutlak dari Allah. Yakub telah kehilangan semuanya dan putus asa sama sekali. Ia kehilangan harapan dan kehilangan rumah. Namun, sungguh menakjubkan, di tengah-tengah keputusasaannya itu, mimpi datang. Apakah mimpi ini? Mimpi ini adalah visi, penglihatan. Dalam pengalaman kita, tangga itu telah ada, hanya kita yang tidak melihatnya. Sekarang kita mempunyai visi, sehingga nampak tangga yang telah ada di sana itu. Inilah makna mimpi Yakub.

Setiap pengalaman rohani adalah sebuah mimpi. Saya tidak dapat memberi tahu Anda berapa banyaknya mimpi saya selama tahun-tahun ini. Masuk ke dalam hidup gereja adalah sebuah mimpi. Mengenal pelaksanaan gereja juga adalah sebuah mimpi. Kita sering berkata, “Astaga, pengalaman ini begitu hebat, ini tentunya sebuah mimpi. Mimpi luar biasa menimpa atasku!” Makin banyak kita bermimpi, makin baik, karena semakin banyak kita bermimpi, kita semakin menjamah dan menikmati tangga itu.

Inti setiap mimpi rohani selalu adalah Kristus sebagai tangga, yang membawa langit ke bumi dan menghubungkan bumi dengan langit. Setiap kali dalam lubuk batin kita merasa telah dibawa ke langit dan telah dihubungkan dengan langit, dipersatukan dengan langit dan langit juga dipersatukan dengan kita, itulah pengalaman kita terhadap Kristus. Kita harus melupakan pemikiran untuk mengalahkan dosa dan kelemahan. Pengalaman hayat yang tepat ialah bermimpikan Kristus sebagai tangga surgawi yang telah didirikan di bumi dan yang membawa kita ke langit. Janganlah berpikir untuk mengalahkan dosa, atau mengalahkan kelemahan Anda. Begitu Anda menjamah tangga ini, Anda akan berada di langit dan langit adalah milik Anda. Demikian akan terdapat banyak persekutuan antara bumi dan langit dan antara langit dan bumi. Anda akan memperoleh apa saja yang Anda butuhkan, dan semua masalah negatif akan berada di bawah kaki Anda. Inilah mengalami Kristus sebagai tangga surgawi.

Jangan berdoa mohon agar tangga itu turun kepada Anda. Baik Anda berdoa maupun tidak, asal Anda adalah umat pilihan Allah dan memiliki hasrat yang sesuai dengan maksud Allah, cepat atau lambat, Anda akan dipaksa untuk datang ke Betel di mana Anda akan bermimpi. Tujuan mimpi ini selalu adalah menampakkan Kristus sebagai tangga. Tangga surgawi ini menghasilkan Betel, rumah Allah, gereja. Di sini, dalam Kejadian 28:10-22, kita nampak Kristus yang menghasilkan gereja. Ini sungguh-sungguh adalah suatu mimpi.