← Daftar isi Kejadian (5) · bab 16/16

DITANGGULANGI (8)

Kejadian 32 dan 33 memuat satu pengalaman yang sangat aneh pada hidup Yakub, orang yang terpilih. Telah kita tunjukkan bahwa Yakub tidak bersandar kepada Tuhan. Sejak ia dilahirkan, sudah menggunakan kemampuan alamiahnya untuk berjuang bagi dirinya sendiri. Dalam pasal 31, ia lari meninggalkan Laban, dan Allah melepaskan dia dari tangan pemerasan dan penipuan Laban. Karena Laban memberi tahu Yakub bahwa Allah telah memperingatkannya untuk tidak mengata-ngatai Yakub, serta merta Yakub memegang kesempatan ini untuk memarahi Laban (Kej. 31:24, 36); bagaimanapun juga Tuhan telah membawa Yakub melewati kesukaran itu. Namun, kini yang ada di hadapan Yakub adalah masalah lain yang serius, yakni Esau, kakaknya.

(15) Yakub Takut terhadap Esau

Yakub menghadapi suatu dilema. Di belakangnya ada Laban, di depannya ada Esau. Saya percaya bahwa sementara Yakub melarikan diri dari Laban menuju ke tempat nenek moyangnya, ia merasa sangat dirisaukan oleh kedua orang ini.

Sangat sukar baginya untuk tetap tinggal dengan Laban, namun sukar pula baginya kembali ke tempat Esau berada. Oleh belas kasihan Allah, ia sudah dilepaskan dari Laban, tetapi sekarang ia harus berhadapan dengan Esau.

(a) Malaikat Allah Menemui Yakub

Kejadian 32:1-2 berkata, “Yakub melanjutkan perjalanannya, lalu bertemulah malaikat-malaikat Allah dengan dia. Ketika Yakub melihat mereka, berkatalah ia: ‘Ini bala tentara Allah.’ Sebab itu dinamainyalah tempat itu Mahanaim.” “Mahanaim” berarti dua pasukan bala tentara. Ketika Yakub melanjutkan perjalanannya, mungkin ia terus berpikir tentang bagaimana ia akan bertemu dengan kakaknya. Boleh jadi ia berkata kepada dirinya sendiri, “Aku telah terselamatkan dari pamanku, tetapi sekarang bagaimana aku menghadapi Esau, kakakku?” Yang membuatnya terkejut ialah malaikat-malaikat Allah bertemu dengannya dan itu menunjukkan bahwa mereka akan melindunginya. Malaikat - malaikat Allah memang secara tidak kelihatan senantiasa hadir bersama orang-orang pilihan-Nya. Dalam keadaan ini, malaikat-malaikat Allah menampakkan diri kepada Yakub dan Yakub nampak mereka. Yang dilihat Yakub bukan sejumlah kecil malaikat, melainkan dua pasukan bala tentara. Ini mengingatkan kita akan Mazmur 34:8 yang berkata, “Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” Hadirnya dua pasukan tentara malaikat ini merupakan suatu dorongan besar bagi Yakub yang sedang menghadapi kesulitan. Namun Yakub masih tetap khawatir kalau-kalau kakaknya akan membunuh dia.

(b) Masih Saja Mengandalkan Perjuangannya Sendiri

Setelah nampak kedua pasukan malaikat itu, Yakub seharusnya sudah terhibur. Akan tetapi ia tidak mengandalkan kedua pasukan tentara malaikat itu. Tujuan Allah memberi penglihatan akan malaikat-malaikat ini, tidak usah diragukan lagi, adalah untuk menghibur dia, menguatkan dia, serta mendorong dia agar mengandalkan pasukan surgawi Allah. Tetapi Yakub tidak mengandalkan apa yang telah dilihatnya, sebaliknya dia masih mengandalkan perjuangannya sendiri (Kej. 32:3-8), dan segera meniru kedua pasukan malaikat Allah, membagi orang-orangnya menjadi dua pasukan. Dia tidak mengandalkan apa yang telah dilihatnya, dia malah meniru tekniknya. Kita hanya dapat menerka tentang apa yang dipikirkan Yakub ketika ia melakukan demikian (mungkin menurut pandangannya kedua pasukan keluarganya akan dinaungi oleh kedua pasukan tentara malaikat itu), tetapi satu hal yang jelas—Yakub tidak bersandar kepada Allah maupun kepada visi akan malaikat-malaikat itu; malahan menghambur-hamburkan waktu dan tenaganya untuk mempraktekkan kemampuan alamiahnya. Kejadian 32:7-8 mengatakan, “Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing domba-nya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. Sebab pikirnya: ‘Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput.’” Inilah kecerdikan Yakub. Tetapi sebenarnya ini sama sekali tidak pandai, karena seandainya Esau bisa mengalahkan pasukan yang pertama, yang terdiri dari perempuan dan anak-anak, apakah ia tidak bisa mengalahkan pasukan yang kedua? Pembagian yang demikian rupa terhadap orang-orangnya adalah yang paling baik yang bisa dilakukan Yakub.

(c) Juga Berseru kepada Tuhan

Setelah melakukan pengaturan-pengaturan ini, Yakub mungkin masih belum merasa tenang, karena itu ke-mudian dia melakukan sesuatu yang tidak biasa — dia berdoa (Kej. 32:9-12). Dalam seumur hidup Yakub, inilah catatan doanya yang pertama. (Kej. 28:20-22 merupakan nazarnya, bukan doanya kepada Allah). Selama dua puluh tahun Yakub berada di bawah tangan pemerasan Laban, tidak terdapat catatan yang menyebutkan dia berdoa. Sebanyak sepuluh kali Laban mengubah upahnya, dia tidak berdoa. Dalam prinsipnya, kita semua adalah Yakub. Kita telah menerima janji Allah dan kita pun telah mengenal Allah, namun kita tetap tidak berdoa. Apa pun menimpa kita, kita tidak berdoa. Kita tidak menggunakan roh kita untuk berdoa, sebaliknya kita memakai pikiran kita untuk mempertimbangkan dan memakai kekuatan alamiah kita untuk menghadapi setiap masalah. Ketika bersama-sama dengan Laban, Yakub tidak berdoa; sebaliknya ia menggunakan kekuatan alamiahnya untuk mengatasi situasi. Tetapi sekarang menjelang berhadapan dengan Esau, ia telah dibawa ke tempat di mana ia tidak mempunyai taktik lagi. Semua taktik, teknik, kemampuan, dan kekuatannya telah habis. Ketika dia mengetahui bahwa Esau datang bersama empat ratus orang laki-laki, ia segera ketakutan. Dan yang dapat diperbuatnya hanyalah membagi orang-orangnya ke dalam dua kelompok. Pikirnya, kalau kelompok yang pertama menjadi korban, maka kelompok yang kedua mungkin diselamatkan. Karena ini adalah satu-satunya jalan yang terbaik yang dapat ditempuh oleh Yakub, maka ia terpaksa berdoa.

Yakub mengucapkan sebuah doa yang sangat bagus. Doanya jauh lebih bagus daripada doa kebanyakan orang Kristen dewasa ini. Yakub berkata, “Ya Allah nenekku Abraham dan Allah ayahku Ishak, ya TUHAN, yang telah berfirman kepadaku: Pulanglah ke negerimu serta kepada sanak saudaramu dan Aku akan berbuat baik kepadamu” (Kej. 32:9). Di sini kita melihat Yakub berdoa dengan ber-pegang kepada firman Tuhan. Cara berdoa yang paling baik ialah menjadikan firman Allah sebagai tumpuan doa Anda. Seolah-olah Yakub berkata, “Tuhan, bukankah Engkau telah berkata bahwa Engkau akan berbuat baik kepadaku? Sekarang dengan berpegang kepada firman-Mu aku meminta Engkau melakukannya sesuai dengan firman-Mu.” Meskipun ayat ini seolah-olah menunjukkan bahwa Yakub sangat berpengalaman dalam hal doa, namun dalam catatan-catatan sebelumnya tidak pernah sama sekali menunjukkan bahwa ia berdoa.

Dalam Kejadian 32:10 Yakub berkata, “Sekali-kali aku tidak layak untuk menerima segala kasih dan kesetiaan yang Engkau tunjukkan kepada hamba-Mu ini, sebab aku membawa hanya tongkatku ini waktu aku menyeberangi sungai Yordan ini, tetapi sekarang telah menjadi dua pasukan.” Saya menyukai pernyataan Yakub ini. Ia seolah-olah berkata, “Tuhan, kapasitasku sangatlah kecil sehingga tidak dapat memuat semua kasih dan kesetiaan-Mu.” Di sini, Yakub merendahkan dirinya di depan Allah, mengaku bahwa ia tidak layak menerima segala kasih dan kesetiaan Allah yang dilimpahkan kepadanya. Tadinya ia menyeberangi Sungai Yordan dengan hanya membawa tongkatnya saja, namun kini Tuhan telah melipatkannya menjadi dua pasukan. Di sini terlihat gambaran hidup tentang dua pasukan di surga dan dua pasukan di bumi. Berdasarkan itulah, orang yang terpilih sudah seharusnya ditenteramkan seluruhnya. Dalam ayat berikutnya Yakub meneruskan perkataannya, “Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.” Di sini kita nampak ketakutan Yakub terhadap Esau. Titik puncak doa Yakub terkandung dalam ayat 12, “Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung.” Dalam bagian doanya ini, Yakub telah menjamah ekonomi Allah, karena ia telah menyinggung tentang keturunan. Berdoa seperti ini bukan hanya berpegang kepada firman Allah, lebih-lebih menjamah hati Allah. Allah memilih Yakub dengan tujuan memperoleh keturunan untuk menggenapkan kehendak-Nya, yaitu memiliki ekspresi korporat akan diri-Nya di atas bumi. Boleh jadi Yakub tidak paham akan hal ini, tetapi ia telah berdoa dengan sangat baik. Dalam mempelajari doa ini, kita melihat bahwa setiap hal dalam doa ini sangatlah mengagumkan. Saya mengharap kita semua berdoa seperti ini.

(d) Berjuang Lagi Berdasarkan Dirinya Sendiri

Setelah mengucapkan doa yang mengagumkan itu, seharusnya Yakub telah merasa tenteram. Akan tetapi ia masih aktif terus, ia tidak tidur, malahan “diambilnyalah dari apa yang ada padanya suatu persembahan untuk Esau, kakaknya” (Kej. 32:13). Pemberian ini dibaginya menjadi sembilan kumpulan, “diserahkannyalah semuanya itu kepada budak-budaknya untuk dijaga, tiap-tiap kumpulan tersendiri, dan ia berkata kepada mereka: ‘Berjalanlah kamu lebih dahulu dan jagalah supaya ada jarak antara kumpulan yang satu dengan kumpulan yang lain” (Kej. 32:16). Tujuan dari tindakan ini adalah untuk melihat bagaimana sikap Esau terhadap Yakub. Yakub sungguh cerdik, ia membagi hadiahnya ke dalam sembilan kelompok ternak dengan menaruh jarak antara kumpulan yang satu dengan yang lain. Ini berarti memperbesar jarak antara dirinya dengan Esau serta memberi kesempatan baginya untuk mempelajari apa yang akan diperbuat Esau, sehingga ia sempat berjaga-jaga menghadapi pertempuran.

Perhatikanlah seluruh gambar ini. Pertama-tama Yakub membagi orang-orangnya menjadi dua pasukan. Kemudian, setelah mengucapkan doa yang bagus, ia seharusnya pergi tidur dengan penuh damai. Tetapi bukan itu yang diperbuatnya, melainkan ia membentuk sembilan kumpulan ternak sebagai hadiah untuk Esau agar memperbesar jarak antara dirinya dengan Esau; supaya memberi waktu bersiap-siap menghadapi situasi. Inilah sebuah gambaran pengalaman yang sangat aneh. Di satu pihak, Yakub berdoa dengan sungguh-sungguh, tetapi di pihak lain, ia menggunakan hikmatnya sendiri. Inilah potret diri kita. Yakub mungkin hanya melakukan hal ini sekali saja, saya malahan berkali-kali. Di satu pihak, saya mencoba dengan segala usaha untuk mengatasi kesulitan-kesulitan, dan di pihak lain, saya dengan tekun berdoa kepada Tuhan. Betapapun bagusnya doa saya, saya masih tidak bersandar atau percaya. Yakub berdoa dengan baik sekali, tetapi ia tidak percaya akan doanya itu. Jika ia percaya setelah berdoa ia tidak akan seaktif itu. Kalau saya adalah salah satu pelayan Yakub, saya akan berkata, “Tuan Yakub, setelah tuan mengucapkan doa seperti itu, tuan tidak perlu lagi berbuat sebanyak ini.”

Yakub menyebut kesembilan kumpulan ternak itu sebagai hadiah, tetapi sebenarnya semuanya itu tidak lain adalah suap. Saya tidak percaya kalau Yakub mempunyai hati yang baik, yang mengasihi Esau, kakaknya. Hadiah ini bukan berasal dari hati yang mengasihi, melainkan muncul dari hati yang takut. Tujuannya adalah untuk mendamaikan hati Esau. Sebab pikir Yakub, “Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang diantarkan lebih dahulu” (Kej. 32:20).

Sementara keluarga dan pelayan-pelayan Yakub mungkin telah tidur dengan damainya, Yakub sendiri tidak bisa mengaso. Di hadapan Allah ia mempertaruhkan segalanya. Ini adalah perkara hidup atau mati. Yakub memperkirakan suatu pembunuhan tengah mendatanginya, ia merasa pasti bahwa Esau akan membunuhnya berikut keluarganya. Sebab itulah Yakub kehilangan damai. Ketika Yakub sedang sendirian, tiba-tiba datang “seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing” (Kej. 32:24). Lawannya ini bukan malaikat, melainkan Allah sendiri dalam bentuk manusia. Hanya Alkitab saja yang mempunyai cerita semacam ini. Yakub sangat terkejut, tidak disangkanya di larut malam, ketika ia sedang mempertaruhkan segalanya, seseorang mendatanginya serta mencoba dengan sekuatnya untuk membanting dia. Yakub tidak mau mengalah, maka mereka berdua bergulat semalaman suntuk sampai fajar menyingsing. Sebelum ini, Yakub takut akan dibunuh; saat ini, ia takut dikalahkan dalam pergulatan ini, maka ia mengerahkan seluruh tenaganya dalam pergulatan itu. Tuhan tidak mau segera menaklukkannya, agar dapat memperlihatkan kepada Yakub bahwa dia begitu alamiah, dan alangkah besarnya kekuatan alamiahnya. Akhirnya Tuhan menjamah pangkal paha Yakub, sehingga ia menjadi timpang. Yakub tetap tidak membiarkan Dia pergi sampai setelah Dia memberkatinya. Mengenai hal ini akan kita bahas lebih lanjut dalam berita berikutnya.

Dalam mimpinya di Betel, Yakub menerima janji yang tegas dari Tuhan. Tuhan memberitahunya, “Sesungguhnya Aku menyertai engkau dan Aku akan melindungi engkau, ke mana pun engkau pergi, dan Aku akan membawa engkau kembali ke negeri ini, sebab Aku tidak akan meninggalkan engkau, melainkan tetap melakukan apa yang Kujanjikan kepadamu” (Kej. 28:15). Tidak hanya demikian, ketika tiba saatnya Yakub meninggalkan Laban, Tuhan berkata kepada Yakub, “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau” (Kej. 31:3). Namun Yakub masih tetap mengandalkan dirinya sendiri serta menggunakan siasat dan kemampuan alamiahnya untuk menyelamatkan dirinya dari situasi yang sulit. Ia pun mengalami saat-saat bergumul mati-matian dengan Tuhan. Setelah mengalami kesemuanya ini, Yakub pasti tidak lagi berbuat sesuatu apa pun. Tetapi dalam pasal 33 kita nampak bahwa Yakub belum juga menghentikan perjuangannya. Tidak ada tanda-tanda, sekalipun dalam pasal ini, yang menunjukkan bahwa Yakub bersandar kepada Tuhan.

Setelah bergulat dengan Allah yang mendatanginya dalam rupa manusia, “Yakub pun melayangkan pandangnya, lalu dilihatnyalah Esau datang dengan diiringi oleh empat ratus orang” (Kej. 33:1). Setelah segala janji Allah, setelah doanya, dan setelah bergulat dengan Tuhan, Yakub masih saja menemukan hal-hal baru untuk dikerjakan. Dia memisahkan lagi istri-istri dan anak-anaknya. Pertama kali ia memisahkan keluarganya menjadi dua pasukan, meniru dua pasukan malaikat. Kedua kali ia memisahkan pemberiannya menjadi sembilan kelompok. Sekarang, setelah menimbang dan menimbang lagi urusannya, lalu ia membagi keluarganya menurut kasih sayangnya. “Maka diserahkannyalah sebagian dari anak-anak itu kepada Lea dan sebagian kepada Rahel serta kepada kedua budak perempuan itu. Ia menempatkan budak-budak perempuan itu beserta anak-anak mereka di muka, Lea beserta anak-anaknya di belakang mereka, dan Rahel beserta Yusuf di belakang sekali” (Kej. 33:1-2). Karena Yakub mengasihi Rahel dan Yusuf, maka ia menaruh mereka di paling belakang. Bahkan sampai saat ini, pada detik-detik terakhir, Yakub tetap menggunakan siasat untuk menghadapi situasi. Dua budak perempuan dan anak-anak mereka berjalan pertama, bila perlu dijadikan korban. Kelompok kedua yang menyusul adalah Lea beserta anak-anaknya. Rahel yang paling ia kasihi, be-serta Yusuf anaknya, menyusul paling belakang. Inilah tindakan si perebut, orang yang sama sekali alamiah. Ia telah memiliki janji-janji Allah, penanggulangan dan penderitaan, doa yang amat indah, pergulatan, dan pembagian orang-orang-nya yang terdahulu, tetapi ia masih tetap mengerjakan sesuatu yang lain. Inilah maksud saya menyebutkan pasal ini telah mengisahkan pengalaman yang aneh.

(e) Esau Menyambut Yakub

Sesudah semuanya ini, ketika Yakub melihat Esau, dengan berani namun rendah hati ia tampil ke depan men-jumpainya (Kej. 33:3-4). Kejadian 33:3 mengatakan, “Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.” Di satu pihak, boleh dikata Yakub setia terhadap istri-istri dan anak-anaknya, sehingga ia maju ke depan memelopori jalan. Sikap Yakub menghampiri Esau dengan demikian ini membuat Esau sangat tercengang. “Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia” (Kej. 33:4). Lalu Yakub dan Esau bertangis-tangisan. Dari sini kita nampak bahwa ketakutan Yakub semuanya timbul dari kekhawatirannya sendiri, dan sia-sialah semua yang ia kerjakan itu. Tidak perlu ia membagi keluarganya menjadi dua pasukan, mengucapkan doa yang indah, membagi ternaknya menjadi sembilan kelompok untuk dihadiahkan kepada Esau, bergulat dengan Tuhan yang dalam rupa manusia, dan pembagian kedua kalinya atas istri, anak, dan budak perempuannya. Kalau ia benar-benar mengenal Allah dan percaya kepada-Nya, ia akan selalu dalam kedamaian, sambil berkata, “Aku tidak perlu khawatir tentang Esau, sebab Allah telah berjanji akan membawa aku kembali ke negeri ayahku. Allah bahkan menyuruh aku pulang, karena itu aku merasa tenteram, Dia akan membawa aku ke sana. Tidak peduli Esau akan berbuat apa terhadapku, aku tidak cemas, karena Allah telah mengaruniakan firman-Nya kepadaku.”

Kita semua harus belajar dari pengalaman Yakub. Kita tidak perlu berbuat sebanyak itu. Bukankah kita ini Yakub hari ini, orang-orang yang terpilih? Ya, kita inilah orang-orang terpilih. Sudahkah Tuhan memberi kita janji-Nya? Benar, sudah. Bukankah malaikat berkemah melindungi kita? Kita harus yakin, memang demikian. Mungkin kita mengira beberapa orang itulah musuh-musuh kita. Iblis, si seteru itu, bisa saja menyuntikkan ke dalam pikiran kita mengenai Laban dan Esau. Pikiran semacam itu semuanya sia-sia. Renungkan kembali hari-hari Anda yang lampau. Bukankah Anda pernah mengerjakan banyak perkara yang akhirnya terbukti tidak berguna? Apa pun yang kita perbuat menjadi percuma. Sering kali saya berkata kepada diri saya sendiri, “Wahai manusia, engkau sungguh bodoh. Engkau membuang-buang waktu dan tenaga atas perkara yang sia-sia. Tidak satu pun yang kau lakukan itu memberi bantuan, karena Tuhan tidak memakainya sama sekali.” Yakub tentunya tidak pernah berpikir bahwa Esau akan men-datanginya dengan kasih yang begitu mesra. Allah menggagalkan Laban melalui berbicara kepadanya di dalam mimpi; Allah juga membuat Esau timbul kasih persaudaraannya terhadap Yakub. Karena itu, Esau tidak mendatangi Yakub dengan kebencian atau nafsu ingin membalas dendam, se-baliknya, dengan kasih persaudaraan yang hangat. Esau sudah lupa akan penderitaan yang ditimbulkan Yakub. Sebaliknya Yakub, si perebut itu, tidak lupa akan perbuatannya terhadap saudaranya. Di sini kita nampak perbuatan Allah yang ajaib.

Saya hendak berkata sepatah kata khususnya kepada saudara saudari muda. Tidak usah diragukan lagi, Anda mengasihi Tuhan. Karena mengasihi Tuhan, Anda yakin bahwa Anda adalah salah satu di antara kaum terpilih. Sebagai orang yang terpilih, maka janji Allah, sasaran Allah, dan takdir Allah adalah bagi Anda. Tuhan telah berpesan kepada kita semua agar maju menuju sasaran, maju terus sampai ke negeri Bapa kita, di mana kita boleh menikmati segala kekayaan Tuhan bagi tujuan-Nya yang kekal. Jadi, kita hanya perlu menikmati damai sejahtera di dalam Dia. Jangan dipusingkan oleh Laban atau Esau yang mana pun. Apa pun yang terjadi, istirahat saja di dalam Dia. Jika Anda sekarang tidak dapat menerima perkataan saya, tunggulah sejangka waktu tertentu, Anda akan menemukan bahwa segala perkara yang telah memusingkan Anda itu ternyata bukan apa-apa. Anda tidak perlu berbuat apa-apa, karena sebenarnya tidak ada persoalan yang sejati, baik di depan atau di belakang Anda. Kelihatannya memang ada kesulitan yang bertubi-tubi, namun sesungguhnya, berhubung Anda adalah pilihan Allah yang berada di bawah naungan-Nya yang serba cukup, maka tidak ada kesulitan sedikit pun. Anda adalah orang pilihan Allah yang dijamin oleh janji-Nya dan diamanati oleh tujuan-Nya. Kini Anda berada di atas jalan ini. Saya tidak mempedulikan penentangan-penentangan dan desas-desus. Kerap kali saya bahkan menertawai mereka. Asalkan kita menempuh jalan menuju tujuan Allah dan asalkan kita memiliki janji-Nya sebagai umat pilihan-Nya, semuanya pasti beres.

Kedua pasal ini merupakan sebuah potret yang mewahyukan macam apakah Allah kita ini. Saya dapat bersaksi bagi kasih sayang dan kesetiaan-Nya. Bila Yakub tidak cukup mencapai kasih sayang dan kesetiaan Allah, saya lebih-lebih tidak cukup. Entah bagaimana keadaan sekeliling kita, Tuhan ada di sini. Kita tegas mempunyai Dia, janji-Nya, sasaran-Nya, dan tentara-Nya. Lupakan siasat dan kekuatan Anda mengatasi situasi. Yakub sangat cerdik, membagi orang-orangnya begini, kemudian begitu. Kita telah melihat, pembagian yang kedua kalinya adalah berdasarkan cinta kasihnya, ingin meng-amankan Rahel dan Yusuf. Tetapi apa yang ia lakukan tidak ada gunanya; segalanya sia-sia. Alangkah baiknya gambar ini terhadap kita dewasa ini.

Sewaktu mempersiapkan berita ini, saya beroleh bantuan besar. Saya berkata kepada diri saya sendiri, “Orang yang kasihan, setidak-tidaknya engkau ini tetap ada miripnya dengan Yakub. Di satu pihak, engkau memiliki firman Allah, engkau bersandar kepada Allah, dan engkau berdoa kepada-Nya; di pihak lain, engkau masih saja memiliki cara-cara pembagian. Sampai-sampai akhirnya, orang yang engkau takuti itu justru adalah orang yang mengasihi engkau.” Sering kali orang yang kita takuti justru menjadi orang yang membantu kita. Inilah yang terjadi atas Yakub dan Esau. Yakub mempunyai harta yang banyak yang memerlukan bantuan pengangkutannya. Esau kebetulan membawa empat ratus orang untuk memberi bantuan. Akan tetapi, setelah mendengar ini, Yakub sangat ketakutan. Orang yang ia takuti itu sebenarnya adalah orang-orang yang membantunya.

Adakalanya Alkitab menggunakan permainan kata. Misalnya, ada dua pasukan malaikat, Yakub membagi orang-orangnya ke dalam dua pasukan. Kemudian dia membagi ternaknya menjadi sembilan kumpulan. Ketika Esau melihat kumpulan-kumpulan itu, ia tidak menyebut mereka kum-pulan, melainkan pasukan, katanya, “Apakah maksudmu dengan seluruh pasukan, yang telah bertemu dengan aku tadi?” (Kej. 33:8). Esau seolah-olah berkata, “Yakub, apakah engkau mengutus pasukan-pasukan itu untuk berperang dengan aku? Apakah maksudmu?” Jawab Yakub, “Untuk mendapat kasih tuanku . . . terimalah berkat yang kubawakan untukmu” (Kej. 33:8, 11 Tl.). Perhatikanlah, Yakub meng-ubah istilah “hadiah” menjadi “berkat” (Tl.). Seolah-olah dia berkata, “Esau, aku bukan datang untuk berperang denganmu, melainkan menyumbangkan berkat ini kepadamu. Ini bukan pasukan, melainkan berkat yang kubawakan untukmu.” Sejak itu, Yakub dan Esau berdamai.

Dengan baik hati Esau berkata kepada Yakub, “Baiklah kita berangkat berjalan terus; aku akan menyertai engkau” (Kej. 33:12). Yakub masih tetap was-was terhadap Esau, tidak berani tinggal terlalu lama di depan Esau. Dengan menggunakan kecerdikannya sekali lagi ia berkata, “Tuanku maklum bahwa anak-anak ini masih kurang kuat, dan bahwa beserta aku ada kambing domba dan lembu sapi yang masih menyusui, jika diburu-buru, satu hari saja, maka seluruh kumpulan binatang itu akan mati. Biarlah kiranya tuanku berjalan lebih dahulu dari hambamu ini dan aku mau dengan hati-hati beringsut maju menurut langkah hewan, yang berjalan di depanku dan menurut langkah anak-anak, sampai aku tiba pada tuanku di Seir” (Kej. 33:13-14). Dengan kata lain, berarti Yakub berkata, “Silakan tinggalkan aku, aku tidak ingin tinggal bersamamu. Selama engkau di sini, aku selalu terancam.” Ketika Esau berkata, “Kalau begitu, baiklah kutinggalkan padamu beberapa orang dari pengiringku.” Tetapi Yakub berkata, “Tidak usah demikian! Biarlah aku mendapat kasih tuanku saja” (Kej. 33:15). Asalkan muka Esau atau muka orang-orangnya masih kelihatan, Yakub mustahil tenteram. Sering kali, meskipun suatu perkara telah lewat, namun ekor masalah itu tetap di dalam kita, dan kita tidak suka mengingat itu kembali. Sebenarnya, itu bukan perkara yang merepotkan, melainkan perkara yang menyenangkan. Esau datang dengan hati kasih, tetapi ketakutan Yakub belum dapat disingkirkan seluruhnya. Ini merupakan suatu gambar yang tepat dari pengalaman kita.

Andaikata saya adalah Yakub, saya akan berkata kepada diri sendiri, “Orang tolol, Engkau tidak perlu berbuat apa-apa. Engkau memiliki janji Allah, engkau sedang ber-jalan menuju sasaran-Nya. Engkau telah nampak malaikat-Nya, bahkan Allah sendiri telah bergulat denganmu, mengubah namamu menjadi Israel, serta telah memberkatimu. Apa lagi yang engkau perlukan? Engkau tidak seharusnya berbuat apa-apa lagi.” Tetapi Yakub berkebalikan dengan ini, ia sangat menyibukkan dirinya, seperti semut yang sedang kebingungan kian kemari dalam wajan yang panas. Dalam dua pasal ini, tidak ada tanda yang menunjukkan Yakub mempunyai sesuatu kenikmatan. Saya tidak yakin kalau dia dapat makan atau tidur dengan enak. Ia tidak henti menyibukkan dirinya, memikirkan menghadapi situasi dan menghadapi Esau. Sampai-sampai Esau sudah datang kepadanya dengan kasih sayang, Yakub tetap tidak mempercayai dia, malahan mohon supaya Esau berjalan duluan di depannya. Sebetulnya Yakub berkata, “Esau, jangan tetap tinggal di sini. Bawalah empat ratus orangmu dan berjalanlah lebih dulu. Orang-orangmu menakutkan aku. Aku tidak menghendaki seorang pun dari mereka tinggal bersama aku.” Bukan kepalang aneh pengalaman ini!

(16) Yakub Kembali ke Kanaan

Allah itu setia, dan akhirnya Yakub kembali ke Kanaan (Kej. 33:17-20). Ayat 18 mencatat, “Sampailah Yakub ke Salem, suatu kota di Sikhem” (Tl.). Ayat ini boleh juga diterjemahkan, “Sampailah Yakub dengan selamat ke Sikhem.” Ia kembali ke Kanaan melintasi “Salem” (ayat 18). Salem adalah bagian belakang dari kata “Yerusalem”, artinya damai dan aman. Jadi, Yakub kembali ke Kanaan melalui “Salem”, berarti dia tiba dengan aman dan tenteram. Dalam berita selanjutnya kita akan melihat bahwa Yakub menyusuri jejak Abraham. Menurut pasal 12, ketika Abraham memasuki tanah Kanaan, kota pertama yang ia kunjungi adalah Sikhem. Yakub juga tiba dengan selamat di kota Sikhem. Ini membuktikan bahwa Allah memegang perkataan-Nya dan memenuhi janji-Nya; Dia pernah berjanji kepada Yakub bahwa Ia akan membawa ia kembali dengan selamat ke tanah air ayahnya. Bukan Yakub sendiri yang menyelenggarakan perjalanan ini, melainkan Allah yang menyelenggarakan baginya. Di Sikhem, Yakub melaksanakan dua hal yang pernah dilakukan oleh kakeknya: memasang kemah dan mendirikan mezbah (Kej. 33:18, 20). Sekarang ia mulai mempunyai kesaksian. Sepanjang dua puluh tahun yang silam, dia tidak ada kemah maupun mezbah, berarti ia belum mempunyai kehidupan yang wajar sebagai kesaksian Allah. Sekarang, setelah kembali pada kedudukan yang tepat dan tempat yang tepat, ia mempunyai kehidupan dengan kesaksian Allah. Di sini kita nampak bahwa orang pilihan Allah ini, demi anugerah Allah, telah dikembalikan kepada tumpuan yang tepat, bagi pencapaian tujuan Allah yang kekal.

?