ALLAH—ATRIBUT-ATRIBUT-NYA (2)
Dalam berita ini kita akan membahas lebih banyak lagi mengenai atribut Allah.
F. KEKUDUSAN
Kekudusan adalah salah satu atribut utama Allah kita. Wahyu 4:8 mengatakan, "Dan keempat makhluk itu...dengan tidak berhenti-hentinya mereka berseru siang dan malam: "Kudus, kudus, kuduslah Tuhan Allah, Yang Mahakuasa, yang sudah ada dan yang ada dan yang akan datang." Menyebut "kudus" tiga kali, seperti dalam Yesaya 6:3, menyiratkan pemikiran mengenai Allah yang adalah tritunggal seperti disebutkannya keberadaan Allah dalam tiga bentuk kata kerja (tenses). Yang ditekankan di sini adalah Allah Tritunggal itu kudus, dan adalah kudus tiga ganda, hal ini mengacu kepada kualitas sifat Allah—diri Allah. Apa adanya Allah itu kudus. Mengambil bagian dalam kekudusan Allah (Ibr. 12:10) adalah berbagian dalam kualitas sifat-Nya dalam apa adanya Dia.
Satu Petrus 1:15 dan 16 mengatakan, "Tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." Yang kudus adalah Allah Tritunggal—Bapa yang memilih, Putra yang menebus, dan Roh yang menguduskan (1 Ptr. 1:1-2). Bapa telah melahirkan kembali umat pilihan-Nya, membagikan sifat kudus-Nya ke dalam mereka (1 Ptr. 1:3); Putra telah menebus mereka dengan darah-Nya dari cara hidup yang sia-sia (1 Ptr. 1:18-19); dan Roh telah menguduskan mereka menurut sifat kudus Bapa, memisahkan mereka dari segala sesuatu yang tidak sesuai dengan sifat Allah agar mereka, oleh sifat kudus Bapa, bisa memiliki cara hidup yang kudus bahkan sekudus Allah sendiri.
Kita menjadi kudus melalui pengudusan Roh, berdasarkan kelahiran kembali, yang memberi kita sifat kudus Allah dan menghasilkan kehidupan yang kudus. Bapa telah melahirkan kita kembali untuk menghasilkan suatu keluarga kudus—Bapa yang kudus dengan anak-anak yang kudus. Sebagai anak-anak yang kudus, kita seharusnya berjalan menurut cara hidup yang kudus. Jika tidak, Bapa akan menanggulanggi ketidakkudusan kita. Dia melahirkan kita dengan hayat-Nya di dalam batin agar kita dapat memiliki sifat kudus-Nya; Ia mendisplin kita secara luaran agar kita dapat berbagian dalam kekudusan-Nya (Ibr. 12:9-10).
Kata-kata "kudus" dan "kekudusan" telah disalah-artikan oleh ajaran-ajaran hari ini. Dalam Alkitab, kata "kudus" jangan dipahami menurut konsep alamiah. Beberapa orang mengira bahwa kekudusan berarti tanpa dosa. Menurut konsep ini, seseorang terbilang kudus bila ia tidak berdosa. Pemikiran ini mutlak salah. Kekudusan itu bukan berarti tanpa dosa atau sempurna. Kudus bukan hanya berarti dikuduskan, dipisahkan kepada Allah, tetapi juga berbeda, terpisah dari segala sesuatu yang umum. Hanya Allah yang berbeda, lain, dari segala sesuatu sesuai dengan sifat-Nya. Jadi, Ia itu kudus; kekudusan adalah kualitas sifat-Nya yang terpisah, sebagai salah satu dari atribut-Nya.
Cara Allah menjadikan kita kudus adalah dengan membagikan diri-Nya, sang Kudus, ke dalam kita sehingga seluruh diri kita dapat diresapi dan dijenuhi dengan sifat kudus-Nya. Bagi kita, umat pilihan Allah, menjadi kudus berarti berbagian dalam sifat-Nya (2 Ptr. 1:4) dan seluruh diri kita diresapi dengan Allah sendiri. Ini berbeda dari sekadar sempurna tanpa dosa. Hal ini menjadikan kita kudus, seperti diri Allah sendiri dalam sifat-Nya.
Menjadi kudus adalah dipisahkan kepada Allah dari segala sesuatu yang bukan Allah. Menjadi kudus juga berarti berbeda, terpisah, dari segala yang bukan Allah. Jadi, kita tidak menjadi umum tetapi berbeda. Dalam alam semesta, Allah sendiri itu kudus. Ia berbeda dari segala sesuatu dan terpisah. Karenanya, menjadi kudus berarti menjadi satu dengan Allah dalam hal ini. Anda mungkin tanpa dosa dan sempurna, tetapi jika Anda tidak bersatu dengan Allah, Anda tidak kudus. Ketika Allah masuk ke dalam kita, kita kudus. Ketika kita masuk ke dalam Allah, kita menjadi lebih kudus. Dan ketika kita berbaur dengan Allah, kita menjadi paling kudus. Kita menjadi kudus melalui memiliki Allah di dalam kita, kita menjadi lebih kudus melalui berada di dalam Allah, dan kita menjadi paling kudus melalui dibaurkan, diresapi, dan dijenuhi dengan Allah. Pada akhirnya, semua ini akan menghasilkan Yerusalem Baru, yang disebut kota kudus (Why. 21:2, 10), kota yang bukan hanya milik Allah dan untuk Allah, tetapi dipenuhi dengan Allah, dijenuhi dengan Allah, dan bersatu dengan Allah, kesatuan kudus yang dikuduskan dengan Allah.
G. KEADIL-BENARAN
Atribut Allah yang lain adalah keadil-benaran. Allah itu adil-benar juga kudus. Kekudusan berkenaan dengan sifat batin Allah, keadil-benaran berkenaan dengan tindakan, cara, perbuatan, dan aktifitas luaran Allah. Segala sesuatu yang dikerjakan Allah adalah adil-benar.
Apakah keadil-benaran Allah itu? Keadil-benaran Allah adalah apa adanya Allah dalam tindakan-Nya yang berkenaan dengan keadilan dan kebenaran. Allah itu adil dan benar. Apa adanya Allah dalam keadilan dan kebenaran-Nya membentuk keadil-benaran-Nya.
Wahyu 15:3 mengatakan, "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!" Pekerjaan Allah adalah perbuatan-Nya, sedangkan jalan Allah adalah prinsip-prinsip pemerintahan-Nya. Jalan Allah itu adil-benar menurut prinsip-prinsip-Nya. Bila Anda mengenal jalan-jalan Allah, Anda tidak perlu lagi menunggu untuk melihat pekerjaan-Nya guna memuji Dia. Walaupun pekerjaan-Nya belum terlaksana, Anda akan tahu bahwa pekerjaan-pekerjaan itu akan terlaksana karena Anda tahu prinsip-prinsip pemerintahan yang digunakan Allah dalam melakukan segala sesuatu. Jalan Allah itu adil-benar menurut prinsip-prinsip-Nya.
Dalam Roma 1:16b dan 17a, Paulus mengatakan bahwa Injil "adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah." Dalam Yohanes 3:16, kasih Allah adalah sumber dan motivasi keselamatan Allah. Dalam Efesus 2:5 dan 8, kasih karunia Allah adalah unsur dasar keselamatan Allah. Tetapi di sini, keadil-benaran Allah adalah kekuatan keselamatan Allah. Secara hukum, baik kasih maupun kasih karunia, dapat berubah, tetapi tidak demikian dengan keadil-benaran. Ini benar bahkan lebih lagi dengan keadil-benaran Allah. Karena keadil-benaran Allah diwahyukan dalam Injil, Injil adalah kekuatan Allah sampai kepada keselamatan.
Menurut Yohanes 3:16, keselamatan itu berasal dari kasih Allah, dan menurut Efesus 2:5 dan 8, keselamatan adalah oleh kasih karunia Allah. Tetapi dalam Roma 1:17 Paulus mengatakan bahwa keselamatan datang melalui kebenaran (keadil-benaran) Allah. Baik kasih maupun kasih karunia tidak berkaitan dengan hukum. Tidak ada hukum yang memaksa kita untuk mengasihi atau memberikan kasih karunia. Entah kita mengasihi atau tidak, kita masih sah menurut hukum dan entah kita meningkatkan kasih karunia atau tidak, kita masih sah. Dalam hal ini, Allah tidak terikat untuk mengasihi kita. Selain itu, secara hukum, Dia tidak terikat untuk menunjukkan kasih karunia kepada kita. Sebaliknya, keadil-benaran sangat berkaitan dengan hukum. Karena Kristus telah memenuhi segala tuntutan keadil-benaran hukum Allah, Allah mau tidak mau harus menyelamatkan kita. Jika Anda berkata, "Tuhan Yesus, Engkaulah Juruselamatku," Anda bisa berpaling kepada Allah dan berkata, "Allah, Engkau harus mengampuni aku, tidak peduli Engkau suka atau tidak. Engkau adil-benar jika Engkau mengampuni aku, tetapi Engkau tidak adil-benar jika Engkau tidak mengampuni aku." Kita dapat berkata demikian kepada Allah karena Kristus telah menggenapkan seluruh tuntutan keadil-benaran dari hukum Taurat, dan sebagai akibatnya, Allah terikat oleh keadil-benaran-Nya untuk menyelamatkan kita. Karenanya, keadil-benaran ini adalah ikatan mahabesar yang membuat Allah tidak bisa melarikan diri—Ia harus menyelamatkan kita karena Ia adil-benar.
Satu Yohanes 1:9 mengatakan, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Allah adalah setia dalam firman-Nya (1 Yoh. 1:10) dan adil-benar dalam darah Yesus Anak-Nya (1 Yoh. 1:7). Firman-Nya adalah firman kebenaran Injil-Nya (Ef. 1:13), yang memberi tahu kita bahwa Ia akan mengampuni kita dari dosa-dosa kita karena Kristus (Kis. 10:43), dan darah Kristus telah memenuhi tuntutan keadil-benaran-Nya agar Ia mengampuni kita dari dosa-dosa kita (Mat. 26:28). Jika kita mengakui dosa-dosa kita, maka sesuai dengan firman-Nya dan berdasarkan penebusan melalui darah Yesus, Ia akan mengampuni kita, karena Ia harus setia dalam firman-Nya dan adil-benar dalam darah Yesus. Jika tidak, berarti Allah tidak setia dan tidak adil-benar.
Dalam Roma 3:21, Paulus berkata lebih jauh mengenai keadil-benaran Allah, "Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran (keadil-benaran) Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi." Mengatakan bahwa keadil-benaran Allah telah dinyatakan tanpa hukum Taurat berarti bahwa keadil-benaran Allah tidak berdasarkan perbuatan kita, yaitu tidak berdasar pada apakah kita memelihara hukum Taurat atau tidak. Meskipun keadil-benaran Allah telah ada selama berabad-abad, tetapi tidak dinyatakan kepada kita hingga kita percaya kepada Tuhan Yesus dan menyeru nama-Nya. Jadi, keadil-benaran Allah dinyatakan kepada kita ketika kita percaya kepada Tuhan.
Manifestasi keadil-benaran Allah disebutkan dua kali dalam kitab Roma. Roma 1:17 mengatakan bahwa keadil-benaran Allah diwahyukan dari iman kepada iman. Kemudian Roma 3:21 mengatakan bahwa keadil-benaran Allah telah dinyatakan tanpa hukum Taurat. Sekarang, di luar hukum Taurat, keadil-benaran Allah telah dinyatakan melalui iman dalam Yesus Kristus (Rm. 3:22).
Melalui mengampuni kita, Allah menunjukkan keadil-benarannya. Ia membuat pernyataan kepada seluruh alam semesta bahwa Ia harus mengampuni kita dari dosa-dosa kita karena Ia adil-benar. Karena Putra-Nya, Tuhan Yesus Kristus yang diletakkan dalam kematian oleh-Nya di atas salib demi kita, Allah berkewajiban mengampuni kita secara sah. Entah Ia senang dengan kita atau tidak, Ia harus mengampuni kita menurut keadil-benaran-Nya. Allah tahu bahwa kapan kala seseorang menyodorkan Kristus yang bangkit dan naik sebagai "kwitansi" untuk dosa, Allah harus mengampuni orang itu. Dalam hal ini, Allah yang adil-benar tidak punya pilihan.
Kapan kala hati nurani kita menyalahkan kita karena kegagalan-kegagalan kita, kita perlu ingat untuk berdiri di atas dasar keadil-benaran Allah. Hari ini Anda sangat sungguh-sungguh terhadap Tuhan. Tetapi kelak, Anda mungkin meninggalkan Dia dan menjadi sangat kecewa dengan diri sendiri, tidak lagi dapat percaya bahwa Allah selamanya dapat mengampuni Anda. Pada saat demikian, Anda perlu memuji Allah untuk keadil-benaran-Nya. Anda perlu memberi tahu Dia bahwa tidak peduli berapa banyak Anda telah gagal, Kristus masih duduk di sebelah kanan-Nya sebagai kwitansi pembayaran untuk semua hutang-hutang Anda (Ibr. 1:3). Pengalaman kita bisa saja naik turun, tetapi Allah tetap adil-benar selamanya. Kapan kala kita mengakui dosa-dosa kita, proklamirkanlah darah Yesus dan naik bandinglah kepada keadil-benaran Allah, Allah tidak punya pilihan kecuali mengampuni kita.
Pengalaman kita akan Kristus bersandar pada dasar keadil-benaran Allah. Dasar ini bukanlah kesungguhan atau kemenangan kita tetapi adalah keadil-benaran Allah, dasar takhta Allah yang tidak tergoyahkan (Mzm. 89:15). Allah telah menunjukkan keadil-benaran-Nya melalui mengampuni kita dari dosa-dosa kita. Dengan cara ini, Allah telah membuktikan bahwa Ia adil-benar. Kini, keadil-benaran Allah yang sedemikian itu adalah dasar kita yang kokoh.
Kita telah melihat bahwa baik kasih maupun kasih karunia dapat berubah, tetapi keadil-benaran itu solid dan kokoh. Allah bebas mengasihi kita atau tidak mengasihi kita; namun Ia terikat oleh keadil-benaran-Nya. Karena Kristus mati untuk menggenapkan tuntutan keadil-benaran Allah, Allah telah meletakkan diri-Nya ke dalam posisi yang terikat menurut hukum untuk mengampuni setiap orang yang percaya kepada Kristus. Allah terikat oleh keadilbenaran-Nya sendiri untuk mengampuni kita. Karenanya, keadil-benaran yang merupakan dasar takhta Allah juga merupakan dasar keselamatan kita. Dapatkah dasar takhta Allah diguncang? Tentu saja tidak! Demikian juga dasar keselamatan kita tidak dapat digoyahkan.
Jika memandang diri sendiri, kita akan menyadari bahwa kita tidak patut dikasihi juga tidak layak menerima kasih karunia Allah. Kita sama sekali tidak layak menerima apa pun dari Allah. Tetapi Allah itu adil-benar. Ia meletakkan Kristus dalam kematian demi kita dan Ia telah mengakui kematian Kristus sebagai pembayaran penuh atas hutang-hutang kita. Karenanya kita dapat berkata kepada Allah dengan berani, "Jika Engkau tidak menanggulangi aku menurut keadil-benaran-Mu, takhta-Mu akan terguncang. Hal terpenting adalah bukannya saya akan selamat atau binasa; melainkan apakah Engkau akan mengijinkan dasar takhta-Mu terguncang atau tidak. Ya Allah, saya mengingatkan Engkau akan keadil-benaran-Mu. Kristus telah mati untuk dosa-dosa saya dan Ia sekarang berada di sisi kanan-Mu sebagai bukti bahwa Engkau telah menerima pembayaran-Nya atas semua hutang saya. Menurut keadil-benaran-Mu, Engkau tidak punya pilihan lain kecuali mengampuni saya. Engkau terikat secara hukum untuk mengampuni saya dari dosa-dosa saya. Ya, Bapa Allah, saya menghargai kasih dan kasih karunia-Mu. Tetapi kini saya berdiri di hadapan-Mu menurut keadil-benaran-Mu. Karena Engkau adil-benar, Engkau harus mengampuni saya." Pernahkah Anda berdoa demikian kepada Allah? Ketika kita berdoa seperti ini, Ia akan senang. Ini adalah doa yang mengenal keadil-benaran Allah dan naik banding kepada Allah sesuai dengan keadil-benaran-Nya. Allah kita itu adil-benar, dan Injil Kristus adalah kekuatan Allah karena keadil-benaran Allah diwahyukan di dalamnya. Keadil-benaran yang sedemikian itu adalah atribut Allah yang menyolok.
H. HIHMAT
Roma 11:33 membicarakan hikmat Allah, "O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!" Pada akhir kitab Roma, Paulus mengatakan, "Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin" (Rm. 16:27). Hikmat berbeda dengan kepandaian, hikmat lebih dalam dari kepandaian. Dapat saja seseorang itu pandai tetapi tidak berhikmat. Contohnya, seorang kriminal bisa jadi sangat pandai, tetapi ia sama sekali tidak berhikmat. Allah sangat berhikmat dan melalui alam semesta Allah menyatakan hikmat-Nya.
Penting bagi kita untuk melihat perbedaan antara hikmat dan pengetahuan. Hikmat lebih tinggi dan lebih dalam daripada pengetahuan. Hikmat terlihat dalam permulaan sesuatu, misalnya dalam formulasi penemuan baru; sedangkan pengetahuan terlihat dalam penerapan praktis. Jika Anda hanya memiliki pengetahuan dan kekurangan hikmat, Anda tidak akan bisa memulai sesuatu atau pun menemukan sesuatu. Allah adalah pemula yang unik. Ia telah memulai banyak hal, bukan dengan pengetahuan-Nya tetapi dengan hikmat-Nya. Ketika Ia akan menerapkan apa yang telah dimulai-Nya, Ia menunjukkan pengetahuan-Nya.
Efesus 3:10 membicarakan pelbagai ragam hikmat Allah yang diberitahukan kepada pemerintah-perintah dan penguasa-penguasa di surga melalui gereja. Istilah Yunani yang diterjemahkan "pelbagai ragam" mengindikasikan bahwa hikmat Allah memiliki banyak sisi, aspek, dan arah.
Hanya melalui masalah-masalah barulah segala aspek hikmat Allah bisa dinyatakan. Dalam hal ini, berarti Allah memerlukan masalah-masalah dan gangguan-gangguan: Ia bahkan memerlukan musuh, Satan. Tanpa Satan, hikmat Allah tidak dapat dinyatakan sepenuhnya. Satan telah memberi banyak kesempatan sehingga hikmat Allah dapat dinyatakan dalam pelbagai cara, salah satunya adalah pemberontakan Satan. Pemberontakan ini membuat hikmat Allah ternyata. Jika bukan karena pemberontakan Satan, hikmat Allah tidak diberitahukan sepenuhnya. Jika Anda adalah seorang yang penuh hikmat, semakin banyak masalah dan kesulitan yang Anda hadapi maka semakin banyak hikmat yang akan Anda ekspresikan. Tetapi jika segala sesuatu yang berhubungan dengan Anda itu aman tenteram dan tanpa masalah, Anda tidak memiliki kesempatan untuk mengekspresikan hikmat Anda. Anda perlu memiliki masalah-masalah untuk memamerkan hikmat Anda. Demikian juga Allah perlu masalah-masalah untuk memamerkan hikmat-Nya. Apa pun yang dilakukan oleh musuh Allah akan memberi kesempatan kepada Allah untuk memamerkan hikmat-Nya.
Aspek lain dari hikmat Allah diwahyukan dalam 1 Korintus 1:30, di sana kita diberi tahu bahwa oleh Allah kita berada di dalam Kristus Yesus, "yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita." Agar Kristus menjadi kebenaran (keadil-benaran), pengudusan, dan penebusan kita, diperlukan banyak hikmat dari pihak Allah. Banyak aspek dari hikmat Allah ternyata saat Ia membuat Kristus menjadi kebenaran, kekudusan, dan penebusan kita. Pengalaman kita akan Kristus dalam perkara-perkara ini sesuai dengan hikmat Allah yang berlimpah-limpah.
Selain itu, di dalam hikmat-Nya, Allah mampu membuat kita menjadi gereja. Kadang-kadang Allah mungkin berkata, "Lihatlah Satan, Aku telah mengambil orang-orang yang telah kau hancurkan dan Aku telah membuat mereka menjadi gereja. Apakah kau memiliki hikmat untuk melakukan perkara seperti itu? Kau tidak punya hikmat ini, tetapi Aku punya"
Dalam pandangan Allah, hal yang paling menakjubkan dalam alam semesta ini adalah gereja, karena melaluinya pelbagai ragam hikmat-Nya diberitahukan kepada Satan dan malaikat-malaikatnya. Harinya akan tiba ketika Satan dan malaikat-malaikat dipermalukan. Mereka akan sadar bahwa segala sesuatu yang telah mereka lakukan malah memberi Allah kesempatan untuk menyatakan hikmat-Nya. Dalam prinsip yang sama, kegagalan, kesalahan, kekalahan, perbuatan-perbuatan kita yang salah juga telah memberi Allah kesempatan untuk memamerkan hikmat-Nya. Kita adalah umat pilihan Allah, dan bahkan melalui kegagalan-kegagalan kita, Ia menyatakan pelbagai hikmat-Nya. Hikmat yang sedemikian itu juga adalah atribut yang menyolok dari Allah kita.
I. PENGERTIAN
Efesus 1:8 menunjukkan bahwa hikmat dan pengertian itu berbeda. Dalam ayat ini, Paulus membicarakan kekayaan-kekayaan kasih karunia Allah, "yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian." Hikmat adalah apa yang ada di dalam Allah, yaitu untuk merencanakan dan menetapkan. tujuan mengenai kita; pengertian adalah penerapan hikmat Allah. Pertama, Allah merencanakan dan menetapkan tujuan menurut hikmat-Nya, kemudian Ia menerapkan apa yang telah Ia rencanakan dan tetapkan bagi kita dengan pengertian. Hikmat terutama adalah untuk rencana Allah dalam kekekalan, sedangkan pengertian terutama adalah untuk pelaksanaan rencana Allah dalam waktu. Apa yang telah Allah rencanakan dalam kekekalan menurut hikmat-Nya, sekarang dilaksanakan-Nya dalam waktu menurut pengertian-Nya.
Kita dapat mengatakan bahwa pengertian adalah "anak tangga" yang menghubungkan kepandaian (level yang lebih rendah) dengan hikmat (level yang lebih tinggi). Bertolak dari kepandaian, jika ingin mencapai hikmat, maka kita perlu pengertian. Jika seseorang memilih untuk tidak menetap dalam kepandaiannya tetapi maju kepada hikmat, ia harus naik anak tangga pengertian. Kita juga bisa berkata bahwa pengertian adalah kepandaian yang tepat. Orang-orang yang penuh pengertian tidak akan melakukan perkara-perkara secara bodoh. Pengertian yang sedemikian ini juga adalah atribut ilahi dalam pergerakan Allah.