ALLAH—ATRIBUT ATRIBUT-NYA (1)
Dalam berita ini kita akan mulai membahas atribut-atribut Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Atribut mengacu kepada sesuatu yang lebih dari sekadar kebajikan. Ketika berbicara tentang atribut Allah, yang kita maksudkan adalah segala sesuatu yang merupakan milik Allah. Tentu saja, ketika perkara-perkara yang merupakan milik Allah itu menjadi pengalaman kita, perkara-perkara itu menjadi kebajikan kita. Karenanya, pada Allah ada atribut-atribut dan pada kita ada kebajikan-kebajikan. Sebagai contoh, hidup adalah atribut Allah, bukan kebajikan. Tetapi ketika hal itu menjadi pengalaman kita, ia menghasilkan kebajikan. Jadi, jika berkenaan dengan Allah, kita memakai kata "atribut", tetapi jika berkenaan dengan kita, kita memakai kata "kebajikan".
A. HAYAT
Hayat ilahi bisa diangap sebagai atribut Allah yang pertama dan yang mendasar. Walaupun kata "hayat" digunakan banyak kali dalam Perjanjian Baru, frase "hayat Allah" hanya ditemukan sekali. Efesus 4:18 adalah ayat unik yang berbicara tentang hayat Allah, "Pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah (jauh dari hayat Allah—T1.), karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka." Hayat Allah itu kekal, bukan ciptaan. Manusia tidak menerima hayat ini pada saat penciptaan. Setelah diciptakan, manusia yang memiliki hayat insani ciptaan diletakkan di depan pohon hayat (Kej. 2:8-9) untuk menerima hayat ilahi yang bukan ciptaan. Tetapi manusia jatuh ke dalam pikirannya yang sia-sia dan memiliki pengertian yang gelap. Dalam keadaan yang jatuh demikian, manusia tidak mampu menjamah hayat Allah sampai ia bertobat (angan-angannya berpaling kepada Allah) dan percaya kepada Tuhan Yesus untuk menerima hayat kekal Allah (Kis. 11:18; Yoh. 3:16).
Sebenarnya, dalam seluruh alam semesta hanya hayat Allah itulah yang bisa dianggap sebagai hayat. Satu Yohanes 5:12 berkata, "Barangsiapa memiliki Anak, ia memiliki hidup (hayat); barangsiapa tidak memiliki Anak, ia tidak memiliki hidup (hayat)." Ayat ini menunjukkan bahwa jika kita tidak memiliki hayat Allah berarti kita tidak memiliki hayat. Dalam pandangan Allah, hanya hayat-Nya itulah yang adalah hayat. Karenanya, ketika hayat Allah disebutkan dalam Perjanjian Baru, hayat itu diperlakukan sebagai hayat yang unik, hayat satu-satunya (Yoh. 1:4; 10:10; 11:25; 14:6).
Hayat Allah itu ilahi dan kekal. Kata "ilahi” berarti berasal dari Allah, memiliki sifat Allah. Kata "kekal" berarti bukan ciptaan, tanpa awal atau akhir, swaada, dan kekal ada, keberadaan tidak berubah. Hayat Allah itu bukan ciptaan, tanpa awal atau akhir, swaada, kekal ada, dan tidak pernah berubah.
Hayat Allah yang ilahi dan kekal itu tidak fana dan tidak dapat berubah; ia tetap sama dan tetap hidup sekalipun telah melewati segala macam serangan (angin ribut) dan perusakan. Semua jenis hayat yang lain dalam alam semesta—hayat malaikat, hayat manusia, hayat binatang, dan hayat tumbuh-tumbuhan—fana dan bisa berubah. Hanya hayat Allah yang ilahi dan kekal itulah yang tidak fana dan tidak dapat berubah. Tidak peduli mengalami angin ribut atau perusakan jenis apa pun, ia tetap tidak dapat berubah dan tetap sampai selamanya. Karenanya, dari sudut pandang kekekalan, hanya hayat Allah itulah hayat. Menurut sifat hayat Allah yang ilahi dan kekal, hayat Allah adalah hayat yang unik. Karena hayat Allah adalah hayat yang unik, maka kapan kala Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani asli membicarakan hayat ini, ia menggunakan kata zoe, yang mengacu kepada hayat yang tertinggi (Yoh. 1:4; 1 Yoh. 1:2; 5:12).
Maksud Allah menciptakan manusia adalah agar manusia makan buah pohon hayat dan daripadanya manusia menerima hayat kekal Allah. Tetapi saat jatuh, sifat jahat Satan terinjeksi ke dalam manusia. Sebagai akibatnya, manusia harus dihalangi dari pohon hayat. Menurut Kejadian 3:24, Tuhan "menghalau manusia itu dan di sebelah timur taman Eden ditempatkan-Nyalah beberapa kerub dengan pedang yang bernyala-nyala dan menyambar-nyambar, untuk menjaga jalan ke pohon kehidupan." Jadi, manusia dipisahkan dari hayat Allah. Kerub, api yang menyala-nyala, dan pedang melambangkan kemuliaan, kekudusan, dan kebenaran Allah. Ketiga hal ini membuat manusia berdosa tidak dapat menerima hayat kekal Allah. Ketika Tuhan Yesus mati di kayu salib, Ia memenuhi semua tuntutan kemuliaan, kekudusan, dan kebenaran Allah. Karenanya, melalui penebusan Tuhan Yesus, sekali lagi jalan telah terbuka bagi kita untuk berkontak dengan Allah sebagai pohon hayat. Itulah sebabnya Ibrani 10:19 berkata bahwa, "oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat Kudus (Ruang Maha Kudus—Tl.)" Pohon hayat adalah Ruang Maha Kudus. Sebagai kaum beriman dalam Kristus, kita telah dibawa kembali kepada pohon hayat, dan sekarang hayat ilahi dalam Ruang Maha Kudus dapat menjadi kenikmatan sehari-hari kita. Tetapi, orang-orang yang tak percaya masih terpisah dari hayat Allah.
B. KASIH
Kasih ilahi, seperti yang telah kita lihat dalam berita sebelumnya, adalah sifat hakiki esens Allah. Jadi, kasih ilahi adalah atribut pokok Allah. Yohanes 3:16 memberi tahu kita bahwa "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal," dan 1 Yohanes 4:9 mengatakan, "Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya." Seperti dalam 1 Timotius 1:15, "dunia" mengacu kepada umat manusia yang telah jatuh, yang begitu dikasihi Allah, sehingga dengan hayat-Nya sendiri Ia menghidupkan mereka melalui Putra-Nya agar mereka dapat menjadi anak-anak-Nya. Dalam hal inilah kasih Allah ternyata.
Satu Yohanes 4:10 melanjutkan berkata, "Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita." Kata "inilah" mengacu kepada fakta berikut ini: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Dalam fakta inilah ternyata kasih Allah yang lebih tinggi dan mulia. Kasih ilahi sebagai atribut pokok Allah terutama terekspresi dalam pengutusan Putra-Nya untuk menebus kita dan membagikan hayat Allah ke dalam kita agar kita dapat menjadi anak-anak-Nya.
Efesus 2:4 mengatakan, "Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita." Objek kasih tentunya berada dalam keadaan yang menimbulkan kasih, tetapi objek rahmat selalu berada dalam keadaan yang kasihan. Karenanya, rah-mat Allah menjangkau lebih jauh daripada kasih-Nya. Allah mengasihi kita karena kitalah objek pilihan-Nya. Tetapi kita menjadi kasihan karena kejatuhan kita, bahkan mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita; karenanya, kita perlu rahmat Allah. Karena kasih-Nya yang besar, Allah kaya dengan rahmat untuk menyelamatkan kita dari keadaan kita yang bobrok ke keadaan yang cocok dengan kasih-Nya. Kasih Allah yang agung sebagai atribut pokok-Nya memerlukan atribut rahmat untuk mencapai kita di dalam lubang yang dalam dari kehidupan kita yang jatuh.
C. TERANG
Terang ilahi, seperti yang kita lihat dalam berita sebelumnya, adalah sifat hakiki ekspresi Allah. Jadi terang ilahi adalah atribut Allah yang diekspresikan. Wahyu 21:23 mengatakan, "Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya." Dalam milenium, terang matahari dan bulan akan diintensifkan (Yes. 30:26). Tetapi dalam Yerusalem Baru, dalam langit baru dan bumi baru, tidak diperlukan matahari maupun bulan. Matahari dan bulan tetap ada dalam langit baru dan bumi baru, tetapi tidak diperlukan dalam Yerusalem Baru, karena Allah, terang ilahi, akan bersinar jauh lebih terang.
Dalam Yerusalem Baru, Anak Domba sebagai lampu akan bersinar dengan Allah sebagai terang untuk menyinari kota itu dengan kemuliaan Allah, ekspresi terang ilahi. Karena terang ilahi yang sedemikian itu akan menyinari kota kudus, maka tidak perlu terang lainnya, baik yang diciptakan Allah maupun buatan manusia. Tidak perlu terang alamiah. Walaupun matahari dan bulan ada di langit baru dan bumi baru, kita tidak akan memerlukannya karena tempat kediaman kita akan jauh lebih terang daripada matahari maupun bulan. Terang buatan manusia juga tidak akan diperlukan. Allah sendiri akan menjadi terang dalam kota kudus.
Wahyu 21:23 juga mengatakan bahwa Anak Domba, Kristus, adalah lampu. Allah adalah terang, dan Kristus adalah lampunya. Terang memerlukan wadah. Ini mengindikasikan bahwa kita tidak seharusnya memisahkan Kristus dari Allah atau Allah dari Kristus. Sebenarnya, Allah dan Kristus adalah satu terang. Allah adalah isinya, dan Kristus adalah wadahnya, ekspresinya. Seperti terang ada di dalam lampu untuk menjadi isinya dap untuk diekspresikan melalui lampu, maka Allah Bapa berada di dalam Putra untuk diekspresikan melalui Putra.
Wahyu 22:5 juga mengacu kepada terang sebagai atribut ilahi, "Dan malam tidak akan ada lagi di sana, dan mereka tidak memerlukan cahaya lampu dan cahaya matahari, sebab Tuhan Allah akan menerangi mereka." Diterangi oleh Tuhan Allah akan menjadi salah satu berkat bagi umat tebusan Allah dalam kekekalan. Kita tidak akan memerlukan lampu, terang buatan manusia; maupun matahari, terang yang diciptakan Allah. Allah sendiri akan menyinari kita, dan kita akan hidup di bawah penyinaran-Nya. Allah sendiri akan menjadi terang, dan Kristus akan menjadi lampu, menyinarkan Allah untuk menerangi seluruh kota.
Dalam Yerusalem Baru, terang ilahi akan menjadi terang batin dan kemuliaan di luar untuk ekspresi. Terang ini akan bersinar di dalam dan melalui batu permata, seperti batu yaspis, yang melambangkan kaum beriman yang di transformasi (Why. 21:11). Allah sebagai terang di dalam Anak Domba sebagai lampu akan menyinari seluruh kota. Di dalam kota akan ada terang yang bercahaya. Di luar kota, terang itu akan mengekspresikan kemuliaan Allah, sehingga seluruh kota itu memiliki kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah adalah Allah sendiri yang bersinar keluar menembus kota melalui tembok yaspis yang transparan (Why. 21:18).
Hari ini, terang ilahi sebagai atribut Allah yang diekspresikan, diterapkan kepada kita dalam hidup kristiani kita. Satu Yohanes 1:5-7 memberi tahu kita bahwa Allah adalah terang, dan jika kita bersekutu dengan Dia, kita harus berjalan dalam terang ilahi. Ini mengindikasikan bahwa kita bisa menikmati atribut Allah yang diekspresikan ini bahkan di zaman ini, sebelum Yerusalem Baru datang dalam langit baru dan bumi baru.
D. KEKAYAAN-KEKAYAAN
Kekayaan-kekayaan ilahi adalah kumpulan dari atribut-atribut khusus Allah dalam banyak hal. Roma 2:4 membicarakan kekayaan-kekayaan dari kemurahan, kesabaran, dan kelapangan hati Allah. Kemurahan, kesabaran, dan kelapangan hati adalah atribut-atribut Allah terutama terhadap orang berdosa, yang di dalamnya ada kekayaan-kekayaan ilahi. Kitab Efesus membicarakan kekayaan Allah dalam belas kasih/rahmat (2:4), kekayaan kasih karunia Allah yang melimpah-limpah (1:7; 2:7), dan kekayaan kemuliaan Allah (3:16). Roma 9:23 juga membicarakan kekayaan kemuliaan Allah. Kekayaan-kekayaan ilahi dalam atribut-atribut ilahi seperti belas kasih, kasih karunia, dan kemuliaan, terutama adalah terhadap kaum beriman. Kekayaan-kekayaan kasih karunia Allah melampaui segala batas. Inilah kekayaan-kekayaan Allah sendiri untuk kenikmatan kita hari ini, yang akan dipamerkan secara umum, ditunjukkan kepada seluruh alam semesta sampai selamanya. Kekayaan-kekayaan kemuliaan Allah adalah untuk ekspresi Allah di dalam kaum beriman sebagai bejana Allah yang dihuni dan yang sepenuhnya diduduki oleh Kristus untuk mengekspresikan Allah (Ef. 3:16-19; Rm. 9:23). Roma 11:33 membicarakan kedalaman kekayaan, hikmat, dan pengetahuan Allah. Kekayaan-kekayaan ilahi dalam segala atribut Allah itu dalam, dengan kedalaman yang tidak terukur sebagaimana hikmat dan pengetahuan Allah yang tidak terukur.
E. KEPENUHAN
Atribut Allah yang lain adalah kepenuhan. Kolose 1:19 berkata, "Karena seluruh kepenuhan Allah (kata Allah tidak ada dalam bahasa aslinya, seharusnya diterjemahkan kepenuhan itu—red.) berkenan diam di dalam Dia." Apakah kepenuhan yang dibicarakan dalam ayat ini? Banyak orang yang menjawab bahwa kepenuhan ini adalah kepenuhan ke-Allahan. Meskipun hal ini benar, tetapi di sini Paulus tidak menambahkan kata lain pada kata "kepenuhan" ini, misalnya ditambah dengan frase "ke-Allahan" atau “dari Allah". Ia hanya berkata seluruh kepenuhan itu berkenan diam di dalam Kristus. Ada sesuatu yang disebut kepenuhan dan kepenuhan ini berkenan diam di dalam Kristus. Dalam Kolose 1:19, kepenuhan itu bukan mengacu kepada kekayaan-kekayaan dari apa adanya Allah melainkan ekspresi dari kekayaan-kekayaan tersebut. Semua ekspresi kekayaan diri Allah, baik dalam penciptaan maupun dalam gereja, diam di dalam Kristus. Karenanya, kepenuhan dalam Kolose.1:19 berarti ekspresi.
Jika sesuatu tidak memiliki kepenuhan, ia tidak dapat diekspresikan. Tetapi jika sesuatu memiliki kepenuhan, ia dapat diekspresikan. Contohnya, jika kita punya sangat sedikit kasih, kasih kita tidak dapat diekspresikan. Tetapi jika kasih kita penuh, kepenuhan kasih kita akan menjadi ekspresinya. Dalam prinsip yang sama, kepenuhan dalam Kolose 1:19 adalah ekspresi dari segala adanya Allah menurut kekayaan-kekayaan-Nya.
Sangatlah bermakna bahwa dalam Kolose 1:19 Paulus membicarakan kepenuhan sebagai kepenuhan itu, tidak memodifikasikannya dengan kata-kata lain. Ini mengindikasikan bahwa ia sedang membicarakan kepenuhan yang unik. Memodifikasi kata "kepenuhan" dengan cara apa pun bisa menyiratkan bahwa kepenuhan yang dimaksud di sini bukan yang unik. Untuk menjaga keunikan kepenuhan itu, Paulus tidak memakai kata tambahan apa pun. Karenanya, kepenuhan disini tidak lain adalah kepenuhan itu.
Kepenuhan itu, ekspresi Allah, adalah satu persona. Banyak kata ganti orang dalam ayat-ayat setelah Kolose 1:19 yang menunjukkan kepenuhan itu sebagai satu persona. Ayat 19 dan 20 mengatakan bahwa kepenuhan itu berkenan diam di dalam Kristus, dan "oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu." Jika kepenuhan itu bukan persona, bagaimana ia bisa berkenan diam di dalam Kristus? Fakta bahwa kepenuhan itu bisa berkenan diam di dalam Kristus mengindikasikan bahwa Ia adalah suatu persona. Kepenuhan itu tidak hanya berkenan diam di dalam Kristus, tetapi juga dikatakan "oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu". (Kata Ia dalam kalimat ‘Ia memperdamaikan segala sesuatu’ mengacu kepada kepenuhan—red.). Dalam ayat 19 dan 20 dua kata kerja dasar—diam dan memperdamaikan—dihubungkan dengan kata sambung. Jadi, kepenuhan itu berkenan diam dan memperdamaikan. Frase "oleh Dia (through Him)" digunakan dua kali dalam ayat 20 (tidak terlihat dalam terjemahan LAI), keduanya mengacu kepada Kristus sebagai sarana aktif yang melaluinya pendamaian diproses. Tetapi apa kata yang mendahului kata ganti "Dia" yang kepada-Nya segala sesuatu diperdamaikan? Kata itu adalah kepenuhan dalam ayat 19. Itulah sebabnya dalam New Translation (Terjemahan Baru), J.N. Darby menggunakan kata ganti "itself” dan "it" dalam ayat 20 dan 22 untuk mengacu kepada kepenuhan dalam ayat 19. Tetapi kata ganti Yunani ini tidak seharusnya dianggap sebagai kata berjenis netral tetapi berjenis maskulin. Jadi seharusnya bukan "it", melainkan "Him". Karenanya, segala sesuatu telah diperdamaikan kepada kepenuhan. Dalam ayat 21 dan 22, kita yang adalah musuh telah diperdamaikan oleh kepenuhan di dalam tubuh jasmani-Nya oleh kematian untuk menempatkan kita kudus dan tak bercela dan tak bercacat di hadapan kepenuhan itu. Betapa bermaknanya pemahaman pada bagian ini! Kepenuhanlah yang diam di dalam Kristus, kepenuhanlah yang memperdamaikan kita, dan kepada kepenuhanlah kita akan dipersembahkan. Kepenuhan itu adalah Allah sendiri yang terekspresi. Kepenuhan ini berkenan diam di dalam Kristus untuk memperdamaikan dan mempersembahkan kita kepada diri-Nya sendiri.
Kita telah melihat bahwa dalam Kolose 1:19 kepenuhan Allah adalah ekspresi Allah, bahkan adalah Allah sendiri. Kepenuhan ini tidak ditujukan kepada kekayaan-kekayaan dari apa adanya Allah; melainkan ditujukan kepada ekspresi dari kekayaan-kekayaan tersebut, ekspresi Allah yang penuh di dalam segala kekayaan-Nya. Kekayaan Allah terekspresi baik dalam ciptaan lama maupun dalam ciptaan baru. Dalam Kolose 2:9, Paulus melanjutkan, "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan." Sekali lagi kata "kepenuhan" bukan ditujukan kepada kekayaan-kekayaan Allah melainkan kepada ekspresi kekayaan-kekayaan tersebut. Apa yang berdiam di dalam Kristus bukan hanya kekayaan-kekayaan ke-Allahan tetapi ekspresi kekayaan-kekayaan dari apa adanya Allah. Penting bagi kita untuk melihat bahwa kepenuhan ke-Allahan adalah ekspresi ke-Allahan, yaitu ekspresi dari apa adanya Allah di dalam kekayaan-kekayaan-Nya. Ke-Allahan terekspresi baik dalam ciptaan lama, alam semesta, maupun dalam ciptaan baru, gereja.
Dalam Kolose 1:19 dan 2:9 kita melihat dua aspek kepenuhan. Menurut 1:19, seluruh kepenuhan berkenan diam di dalam Kristus. Menurut 2:9, seluruh kepenuhan berdiam secara jasmaniah di dalam Kritus. Ini menyiratkan tubuh jasmani yang dikenakan Kristus dalam keinsanian-Nya. Ini mengindikasikan bahwa seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus sebagai Seorang yang memiliki tubuh insani. Sebelum inkarnasi-Nya, kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Dia sebagai Firman kekal, tetapi tidak berhuni di dalam Dia secara jasmaniah. Setelah Ia berinkarnasi, kepenuhan ke-Allahan mulai berhuni secara jasmaniah, dan berdiam dalam tubuh-Nya yang telah dimuliakan (Flp. 3:21) sekarang dan selamanya. Sampai kekal, Kristus adalah perwujudan kepenuhan Allah, pengejawantahan ekspresi dari segala adanya Allah di dalam kekayaankekayaan-Nya yang tidak terbatas dan tidak terukur.
Dalam Efesus 3:19, kita memiliki firman lebih lanjut mengenai kepenuhan Allah, "Dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah." Menurut terjemahan ini, kepenuhan Allah adalah elemen, esens, yang olehnya kita dipenuhi. Tetapi ini adalah pemahaman yang keliru terhadap ayat ini. Di sini Paulus mengatakan bahwa kita akan dipenuhi sampai seluruh kepenuhan Allah, yaitu kita akan dipenuhi untuk menjadi ekspresi Allah. Ketika kita dikuatkan hingga ke dalam insan batin kita, ketika Kristus berumah di dalam hati kita dan ketika kita berakar dan berdasar di dalam kasih (Ef. 3:16-17), kita dipenuhi hingga seluruh kepenuhan Allah. Dalam roh kita, kita dipenuhi hingga seluruh kepenuhan Allah untuk menjadi ekspresi-Nya.
Selain itu, Efesus 3:19 tidak mengatakan bahwa kita dipenuhi dengan kekayaan-kekayaan Allah; ayat ini mengatakan bahwa kita dipenuhi sampai kepada kepenuhan Allah. Ini berarti bahwa kita dipenuhi untuk menjadi ekspresi Allah. Ekspresi Allah hari ini adalah gereja, yang adalah Tubuh, kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu (Ef. 1:23).
Ketika Kristus berumah dalam hati kita dan ketika kita kuat untuk memahami dimensi Kristus bersama semua orang kudus dan mengenal kasih-Nya yang melampaui pengetahuan melalui pengalaman, kita akan dipenuhi sampai seluruh kepenuhan Allah. Seluruh kepenuhan ini diam di dalam Kristus. Sekarang, melalui berhuni di dalam kita, Kristus membagi-bagikan kepenuhan Allah ke dalam diri kita. Ketika kita dipenuhi sampai seluruh kepenuhan Allah, kita menjadi ekspresi Allah, yaitu keadaan gereja yang seharusnya.
"Kepenuhan Allah" menyiratkan bahwa kekayaan-kekayaan dari apa adanya Allah menjadi ekspresi-Nya. Ketika kekayaan-kekayaan ini berada dalam diri Allah sendiri, semua itu adalah kekayaan-kekayaan-Nya. Ketika kekayaan-kekayaan Allah diekspresikan, semua itu menjadi kepenuhan-Nya (Yoh. 1:16).
Ketika kita membuat perbedaan antara kekayaan dan kepenuhan, beberapa orang mencoba membantah dengan mengutip Yohanes 1:16 "Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia." Lalu mereka berkata, "Yohanes 1:16 menyatakan bahwa kepenuhan-Nya telah kita terima. Bukankah kepenuhan ini sama dengan kekayaan? Bagaimana Anda bisa membedakan antara kekayaan dengan kepenuhan?"
Ketika Kristus berada di bumi bersama murid-muridnya, apakah Anda akan mengatakan bahwa kekayaan Allah ada bersama-Nya atau kepenuhan Allah yang ada bersama-Nya? Jika kekayaan-kekayaan dan bukan kepenuhan yang ada bersama-Nya, tentu akan ada sesuatu yang kurang. Tidak akan ada kesempurnaan, tidak ada kepenuhan. Ketika Tuhan Yesus datang, tidak diragukan lagi bahwa Ia membawa segala kekayaan Allah bersama-Nya. Tetapi, pada Dia bukan hanya ada kekayaan Allah, tetapi juga kepenuhan Allah. Itulah sebabnya Yohanes 1:16 mengatakan bahwa kita semua telah menerima kepenuhan-Nya. Kepenuhan ini adalah penyempurnaan kekayaan. Dalam bahasa Yunani "kepenuhan" berarti penyempurnaan. Jadi, menerjemahkan kata Yunani ini sebagai "kesempurnaan" adalah benar. Kata Yunani yang diterjemahkan "dari" dalam Yohanes 1:16 berarti "keluar dari". Jadi, keluar dari kepenuhan Kristus, kesempurnaan dari segala kekayaan Allah, kita semua telah menerimanya. Ketika Kristus datang, Ia datang bukan hanya dipenuhi dengan sebagian kekayaan Allah. Sebaliknya, Ia dipenuhi dengan kekayaan-kekayaan Allah yang tidak terbatas hingga meluap. Karenanya, kepenuhan, kesempurnaan dari apa adanya Allah di dalam kekayaan-Nya, dinyatakan oleh-Nya. Kepenuhan ini, kesempurnaan ini, adalah ekspresi Allah. Menurut Perjanjian Baru, kepenuhan Allah adalah ekspresi oleh kesempurnaan kekayaan-kekayaan Allah.
Menurut Yohanes 1:16, kepenuhan Allah datang bersama Kristus, yang adalah pengejawantahan kepenuhan Allah. Terhadap Kristus, ekspresi ini adalah perkara individu. Karenanya, ekapresi ini perlu diperbesar, diperluas, dari perkara individu menjadi korporat. Gereja hendaknya menjadi kepenuhan Allah secara korporat. Dalam gereja, Allah diekspresikan bukan secara individu tetapi secara korporat oleh Tubuh. Karenanya, kepenuhan Allah terejawantah di dalam gereja. Gereja sebagai pengejewantahan kepenuhan Allah adalah ekapresi Allah Tritunggal.
Dalam ayat-ayat pada Efesus pasal tiga, yaitu mengenai ekonomi Allah yang menghasilkan kepenuhan Allah, kita melihat Allah Tritunggal. Bapa (ay. 14) menjawab dan menggenapkan doa rasul melalui Roh (ay. 16) agar Kristus sang Putra (ay. 17) dapat berumah di dalam hati kita. Sebagai hasilnya, kita dipenuhi sampai kepada kepenuhan Allah Tritunggal. Inilah dispensi Allah Tritunggal ke dalam diri kita untuk menjadikan kita ekspresi korporat-Nya.
Menurut Efesus 3, Allah Tritunggal bukanlah objek perdebatan doktrin; Allah Tritunggal adalah untuk pendispensian diri-Nya ke dalam kaum beriman agar mereka dipenuhi sampai kepada kepenuhan Allah. Paulus berdoa supaya Bapa menguatkan kita melalui Roh-Nya agar Kristus berumah di dalam kita dan dengan demikian menduduki insan batin kita sepenuhnya dan akibatnya kita dapat dipenuhi sampai kepada ekspresi Allah Tritunggal. Betapa mulia dan ajaib! Inilah ekonomi Allah dan ini juga adalah wahyu Perjanjian Baru-Nya. Jadi, kepenuhan Allah sebagai atribut-Nya pada akhirnya tak lain adalah Kristus bersama gereja sebagai Tubuh-Nya.