← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 7/20

ALLAH—SIFAT-NYA

Dalam berita-berita sebelumnya kita membahas banyak aspek mengenai persona Allah. Dalam berita ini kita akan melanjutkan untuk membahas sifat Allah.

A. ORANG-ORANG YANG MENGAMBIL BAGIAN

DALAM SIFAT (KODRAT) ILAHI

Belakangan ini saya membaca surat yang ditulis oleh dekan dari satu sekolah Alkitab. Surat tersebut menuduh saya mengajarkan bidah karena saya mengatakan bahwa menurut Perjanjian Baru, kaum beriman memiliki sifat Allah. Orang yang membuat tuduhan keliru itu tidak tahu mengenai 2 Petrus 1:4, suatu ayat yang memberi tahu kita bahwa kita adalah orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat (kodrat—LAI) ilahi. Berbagian dengan sifat Allah berarti menikmatinya dan mengambil bagian di dalamnya. Kami dapat bersaksi bahwa hari demi hari kami tidak hanya merniliki sifat ilahi tetapi juga menikmatinya. Sebagai kaum beriman, tentu saja kita memiliki sifat ilahi di dalam kita. Penderitaan-penderitaan dan kesulitan-kesulitan tertentu tidak dapat kita tanggung sendiri; namun kita mampu menanggungnya dengan sifat ilahi.

1. Menikmati Apa Adanya Allah

Kita perlu memperhatikan dengan cermat perihal menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat ilahi. Dua Petrus 1:4 mengatakan, "Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia." Melalui janji-janji Allah yang berharga dan yang sangat besar, kita, kaum beriman dalam Kristus, Kristus yang adalah Allah dan Juruselamat kita, telah menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat ilahi-Nya dalam keesaan organik dengan-Nya. Kita telah masuk ke dalam keesaan ini melalui iman dan baptisan (Yoh. 3:15; Gal. 3:27; Mat. 28:19). Kebajikan sifat ilahi ini membawa kita masuk ke dalam kemuliaan Allah, ke dalam ekspresi penuh Allah Tritunggal.

Melalui "Janji-janji yang berharga dan yang sangat besar" tersebut, kita dapat menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat ilahi. Kita menerima hayat ilahi hanya melalui percaya dan sifat ilahi adalah substansi hayat ilahi. Meskipun kita menerima hayat ilahi pada saat kita percaya, sifat ilahi harus kita nikmati secara berkesinambungan. Kenikmatan ini memerlukan kasih karunia Allah. Semakin kita menikmati sifat ilahi, kita semakin memiliki kebajikan-Nya dan kita semakin dibawa ke dalam kemuliaan-Nya.

Mengambil bagian dalam sifat ilahi adalah menikmati apa adanya Allah. Agar kita bisa menikmati segala adanya Dia, Allah akan melakukan banyak hal bagi kita sesuai dengan janji-janji-Nya yang berharga dan yang sangat besar. Ini akan membuat kita mampu menikmati sifat-Nya, apa adanya Dia. Salah satu dari janji-janji-Nya yang berharga dan yang sangat besar, yaitu kasih karunia-Nya cukup kita pakai (2 Kor. 12:9). Kasih karunia Allah yang cukup akan bekerja di dalam kita hari demi hari agar kita dapat menikmati sifat-Nya.

Sifat ilahi mengacu kepada kekayaan-kekayaan dari apa adanya Allah. Segala adanya Allah ada di dalam sifat-Nya. Karenanya, ketika kita mengambil bagian dalam sifat ilahi, kita berbagian dalam kekayaan-kekayaan ilahi. Setelah menerima hayat ilahi pada saat kelahiran kembali, kita harus maju terus untuk menikmati apa adanya Allah di dalam sifat-Nya.

Kenikmatan ini adalah untuk masa sekarang dan masa kekekalan. Sampai kekal kita terus mengambil bagian dalam sifat ilahi. Ini diilustrasikan oleh pohon hayat dan sungai air hayat dalam Wahyu 22:1 dan 2. Dari takhta Allah dan Anak Domba mengalir keluar sungai air hayat. Ini melambangkan Allah yang mengalir keluar menjadi kenikmatan umat tebusan-Nya. Sungai yang mengalir itu akan menjenuhi seluruh kota Yerusalem Baru, dan pohon hayat yang tumbuh di dalam dan di sepanjang sungai itu akan menyuplai umat tebusan dengan Allah sebagai suplai hayat mereka. Inilah gambaran dari makna mengambil bagian dalam sifat ilahi.

2. Tersusun dengan Sifat Allah

Sama seperti secara jasmani, kita tersusun dengan makanan yang kita makan, maka kita, kaum beriman dalam Kristus, harus tersusun dengan Allah yang di dalamnya kita mengambil bagian. Hendaknya hal ini menjadi pengalaman kita dari hari ke hari. Jika kita menikmati Allah dan berbagian dalam-Nya, kita akan tersusun dengan-Nya. Kita akan tersusun sepenuhnya dengan sifat Allah.

Secara jasmani, kita semua tersusun dengan makanan yang kita makan. Contohnya, seseorang yang makan ikan begitu banyak akan tersusun dengan ikan sedemikian rupa sehingga baunya pun seperti ikan. Demikian pula kita bisa tersusun dengan Allah sedemikian rupa sehingga mengekspresikan Allah dalam segala adanya kita dan perbuatan kita. Bahkan kita bisa menebarkan "wangi-wangian" ilahi. Jika kita berbagian dalam Allah dari hari ke hari, pada akhirnya kita akan mengambil bagian di dalam-Nya secara tidak sadar. Ketika orang lain berkontak dengan kita, mereka akan melihat ekspresi Allah Tritunggal di dalam kita. Semua orang kudus perlu dijenuhi dengan sifat Allah. Semakin kita dijenuhi dengan Allah, kita akan semakin mengekspresikan Dia.

Menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat ilahi adalah menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam elemen, unsur, diri Allah. Ketika kita berbagian dalam Allah, aspek-aspek dari apa adanya Allah menjadi kenikmatan kita. Inilah menikmati unsur-unsur sifat ilahi.

3. Siklus Melarikan Diri (Luput)

dan Mengambil Bagian

Dalam 2 Petrus 1:4, ada syarat untuk menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat ilahi, yaitu "luput (melarikan diri) dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia." Semakin kita melarikan diri dari kebinasaan ini, kita akan semakin menikmati sifat Allah. Demikian pula, semakin kita mengambil bagian dalam sifat ilahi, kita akan semakin luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan. Ini adalah suatu siklus, aiklus luput (melarikan diri) dan mengambil bagian serta siklus mengambil bagian dan luput (melarikan diri). Jika siklus mengambil bagian dan luput ini bekerja di dalam kita secara kuat dan cepat, maka akan sulit bagi kita untuk menerima segala pengrusakan dunia. Sifat ilahi akan menguatkan kita untuk menjauhi kebinasaan. Dengan demikian, semakin kita jauh dari pengrusakan dunia, kita akan semakin menikmati kekayaan-kekayaan sifat ilahi. Inilah pengalaman akan ekonomi Allah.

4. Kenikmatan yang Berkesinambungan

Memiliki hayat kekal adalah perkara sekali untuk selamanya, tetapi mengambil bagian dalam sifat ilahi adalah perkara yang berkesinambungan. Walaupun kita memiliki hayat ilahi sekali untuk selamanya, kita tidak bisa menikmati sifat ilahi ini sekali untuk selamanya. Sepanjang perjalanan kehidupan kristiani kita di bumi dan bahkan dalam kekekalan, kita masih akan mengambil bagian dalam sifat ilahi.

Sifat ilahi mengacu kepada apa adanya Allah. Sekali lagi kita dapat memakai memakan makanan sebagai ilustrasi mengenai mengambil bagian dalam sifat ilahi. Misalnya, ketika kita makan ayam, kita mengambil bagian dalam sifat ayam. Apa adanya ayam itu menjadi gizi bagi kita. Ketika kita makan ayam, sesungguhnya kita sedang makan sifat ayam, yang meliputi berbagai unsur gizi. Elemen-elemen atau unsur-unsur ini, adalah penyusun sifat ayam. Prinsipnya sama dengan sifat ilahi. Melalui janji-janji Allah, kita mengambil bagian dalam sifat Allah beserta semua unsur ilahi-Nya. Sama seperti kita makan bukan sekali untuk selamanya, maka kita juga tidak mengambil bagian dalam sifat ilahi sekali untuk selamanya. Sampai kekal, seperti yang digambarkan oleh pohon hayat dan sungai air hayat dalam Wahyu 22, kita akan mengambil bagian dalam sifat ilahi.

5. Dilahirkan dari Allah

untuk Memiliki Hayat dan Sifat Ilahi

Kita telah melihat bahwa sifat ilahi menunjukkan apa adanya Allah, yaitu unsur pokok diri Allah. Karena kita adalah anak-anak Allah yang dilahirkan oleh-Nya, kita memiliki hayat Allah dan juga sifat-Nya untuk kenikmatan kita. Karena saya telah menyatakan kebenaran ini sesuai dengan Alkitab, beberapa orang menyalahkan saya dan dengan salah menuduh bahwa saya mengajarkan ajaran pendewaan. Mereka mengatakan bahwa saya meng-allah-kan diri sendiri dan mengajarkan bahwa gereja adalah Allah dan harus disembah sebagai bagian dari Allah. Kita mutlak menyanggah tuduhan palsu ini! Anak yang dilahirkan dari orang tua Amerika tentu adalah seorang Amerika. Lalu bagaimana dengan orang-orang yang telah dilahirkan oleh Allah? Melalui kelahiran baru, dilahirkan kembali, kita telah dilahirkan dari Allah, dan kita adalah anak-anak Allah. Karena kita telah dilahirkan dari Allah, maka dalam hayat dan sifat, kita sama seperti Allah. Dalam hal ini, mereka yang dilahirkan dari Allah adalah ilahi. Tetapi kita sama sekali tidak berbagian dalam ke-Allahan, dan tentu saja kita tidak menjadi objek penyembahan. Kita memiliki hayat dan sifat Allah, tetapi kita tidak menjadi bagian dari ke-Allahan.

Beberapa bapa gereja terdahulu mengajarkan mengenai mengilahikan kaum beriman. Tetapi mereka tidak mengajarkan bahwa kaum beriman mencapai ke-Allahan atau bahwa mereka akan disembah sebagai Allah. Sebaliknya, yang mereka maksudkan adalah orang-orang Kristen, orang-orang yang telah dilahirkan kembali oleh Allah, memiliki hayat dan sifat Allah. Kita, orang-orang yang telah dilahirkan kembali, sama seperti Allah dalam hayat dan sifat tetapi kita tidak sama dengan Allah dalam posisi ke-Allahan-Nya. Mengenai hal ini, kita perlu sangat berhati-hati. Mengajarkan pengilahian dalam arti menyatakan bahwa kaum beriman mencapai ke-Allahan adalah bidah. Tetapi mengajarkan bahwa karena kita telah dilahirkan oleh Allah, maka kita memiliki hayat dan sifat ilahi, karena itu dalam aspek-aspek ini, kita telah menjadi sama seperti Allah adalah sesuai dengan Alkitab. Kita sama sekali tidak dapat mengambil bagian dalam ke-Allahan atau memiliki posisi untuk disembah oleh orang lain seperti Allah. Namun, melalui kelahiran kembali, kita memiliki hayat dan sifat Allah.

Kita perlu kembali kepada Firman Allah yang murni dan memberi tahu yang lain bahwa barang siapa percaya kepada Anak Allah, dilahirkan oleh Allah dan memiliki hak, otoritas/kuasa, untuk menjadi anak Allah (Yoh. 1:12-13). Karena itu ia memiliki hak untuk mengambil bagian, menikmati, sifat Allah. Karena kita memiliki hayat Allah, kita menikmati sifat Allah dan kita memiliki kedudukan sebagai anak-anak Allah. Tetapi kita mutlak tidak memiliki kedudukan ke-Allahan, kedudukan untuk disembah oleh orang lain sebagai Allah. Puji Tuhan, karena kita memiliki kedudukan, kemampuan, dan syarat untuk menjadi orang-orang yang mengambil bagian dalam sifat Allah dan menikmati apa adanya Dia, yaitu menikmati unsur-unsur pokok diri Allah yang kaya.

B. ROH, KASIH, DAN TERANG

Apakah sifat Allah itu? Menurut Perjanjian Baru, Allah adalah Roh (Yoh. 4:24), kasih (1 Yoh. 4:8, 16), dan terang (1 Yoh. 1:5). Ungkapan, "Allah adalah Roh", "Allah adalah kasih", dan "Allah adalah terang", tidak dipakai dalam bentuk kiasan, tetapi dalam arti sebenarnya. Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan dan menggambarkan sifat Allah.

Dalam sifatnya, Allah adalah Roh, kasih, dan terang. Roh mengacu kepada sifat hakiki persona Allah; kasih mengacu kepada sifat hakiki esens Allah; dan terang mengacu kepada sifat hakiki ekspresi Allah. Baik kasih maupun terang berkenaan dengan Allah sebagai hayat, dan hayat ini adalah Roh (Rm. 8:2). Allah, Roh, dan hayat sebenarnya adalah satu. Allah adalah Roh dan Roh adalah hayat. Dalam hayat yang sedemikian itu ada kasih dan terang. Ketika kasih ilahi ini dinyatakan kepada kita, kasih ilahi itu menjadi kasih karunia, dan ketika terang ilahi ini bersinar atas kita, itu menjadi kebenaran.

Injil Yohanes menyingkapkan bahwa Tuhan Yesus telah membawa kasih karunia dan kebenaran kepada kita (Yoh.1:14, 17) agar kita memiliki hayat ilahi (Yoh. 3:14-16), sedangkan surat 1 Yohanes menyingkapkan bahwa persekutuan hayat ilahi membawa kita kepada sumber kasih karunia dan kebenaran, yaitu kasih ilahi dan terang ilahi. Satu Yohanes adalah kelanjutan dari Injil Yohanes. Dalam kitab Injil, Allah di dalam Putra datang kepada kita sebagai kasih karunia dan kebenaran agar kita bisa menjadi anak-anak-Nya. Dalam surat 1 Yohanes, kita, anak-anak-Nya itulah yang dalam persekutuan hayat Bapa, datang kepada Bapa untuk mengambil bagian dalam kasih dan terang-Nya. Mula-mula Allah keluar menuju pelataran luar untuk memenuhi keperluan kita di mezbah dengan kasih karunia dan kebenaran-Nya (Im. 4:28-31); setelah itu, kitalah yang masuk ke dalam Ruang Maha Kudus untuk berkontak dengan-Nya di tabut perjanjian dalam kasih dan terang ilahi (Kel. 25:22). Inilah pengalaman hayat ilahi yang lebih jauh dan dalam.

Allah adalah Roh. Ini mengacu kepada persona-Nya. Allah juga adalah kasih dan terang. Kasih mengacu kepada esens-Nya dan terang mengacu kepada ekspresi-Nya. Baik kasih Allah maupun terang Allah berkaitan dengan hayat-Nya. Hayat ini sebenarnya adalah Diri Allah sendiri. Hayat juga adalah Roh.

Ketika hayat ini dinyatakan, ia datang bersama kasih karunia dan kebenaran. Ketika kita menerima Tuhan Yesus, kita menerima hayat, dan sekarang kita menikmati kasih karunia dan kebenaran. Hayat ini akan membawa kita kembali kepada Allah untuk menikmati kasih dan terang-Nya. Mula-mula Allah datang kepada kita agar kita bisa menerima kasih karunia dan kebenaran. Kini, kita kembali kepada Bapa dan mengontaki-Nya sebagai sumber kasih karunia dan kebenaran dan sumber ini adalah kasih dan terang. Karenanya, dalam persekutuan hayat ilahi, kita dibawa kembali kepada Allah untuk menikmati kasih-Nya sebagai sumber kasih karunia dan terang-Nya sebagai sumber kebenaran.

Pemahaman terhadap kasih karunia dan terang ini bukan berasal dari pemikiran manusia tetapi berasal dari wahyu ilahi dalam Firman. Dalam wahyu ini, kita memiliki beberapa hal untuk kenikmatan kita, hal ini seumpama berbagai makanan dalam suatu perjamuan. Kita memiliki Allah, Roh sebagai sifat hakiki persona Allah, kasih sebagai sifat hakiki esens Allah, dan terang sebagai sifat hakiki ekspresi Allah. Ketika kita memiliki seluruh perkara ilahi ini, itu berarti kita telah dibawa kembali kepada Allah Bapa. Ketika kita dibawa kembali kepada Allah Bapa, kita menjumpai dan menikmati Dia sebagai kasih, yang adalah sumber kasih karunia; dan sebagai terang, yang adalah sumber kebenaran. Betapa ajaibnya karena dalam persekutuan hayat ilahi, kita menikmati terang ilahi dan kasih ilahi! Jadi, dalam pengalaman kita, kita bisa menikmati sifat Allah, yaitu kita bisa menikmati Allah sebagai Roh, kasih, dan terang.

C. SIFAT ALLAH YANG DIDISPENSIKAN KE DALAM KITA

AGAR KITA HIDUP DALAM ROH, KASIH, DAN TERANG

Menurut ekonomi Perjanjian Baru-Nya, sekarang Allah sedang mendispensikan diri-Nya ke dalam kita. Tentunya apa yang sedang Allah dispensikan ke dalam kita adalah apa adanya Dia di dalam sifat-Nya. Ketika Allah didispensikan ke dalam kita, sifat-Nya juga didispensikan ke dalam kita. Di pihak Allah, mendispensikan diri-Nya ke dalam kita berarti bahwa Dia sedang mendispensikan diri-Nya ke dalam kita dengan apa ada-Nya Dia menurut sifat-Nya (menurut kodrat-Nya).

Setiap hari istriku memberiku vitamin-vitamin dalam makananku. Setiap vitamin punya sifat (kodrat) masing-masing. Ketika saya menelan vitamin ini, saya juga menelan sifat dari vitamin-vitamin itu. Minum vitamin juga suatu ilustrasi dari Allah yang menyuapi kita dengan diri-Nya sendiri. Allah adalah pemberi makan yang paling baik. Setiap hari Dia menyuapi kita dengan vitamin-vitamin ilahi. Allah sedang menyuapi kita dengan "vitamin-vitamin" dari sifat-Nya.

Kita telah melihat bahwa sifat Allah meliputi Roh sebagai sifat hakiki persona Allah, kasih sebagai sifat hakiki esens Allah, dan terang sebagai sifat hakiki ekspresi Allah. Karena Allah sedang mendispensikan diri-Nya menurut sifat-Nya ke dalam kita, maka semakin kita berada di bawah pendispensian Allah, kita semakin memiliki Roh, kasih, dan terang-Nya.

Di luar pendispensian Allah, manusia hanya memiliki daging; pikiran, emosi, dan tekad jiwani; serta roh yang pasif. Sebagai akibatnya, mereka hanya hidup secara tubuh daging, jiwani. Tetapi jika kita berada di bawah pendispensian Allah dari hari ke hari, kita akan memiliki Roh lebih banyak dan lebih banyak. Akhirnya, orang lain akan bisa merasakan Roh itu dalam perbuatan dan perkataan kita.

Kita perlu mengalami pendispensian Allah dalam hidup pernikahan kita. Saudara saudari yang telah menikah, bagaimana reaksi Anda ketika suami atau istri Anda menyulitkan Anda? Bila Anda bereaksi secara negatif, ini menunjukkan bahwa Anda tidak berada di bawah pendispensian Allah. Jika Anda berada di bawah pendispensian-Nya dan semakin banyak menerima Roh itu ke dalam Anda, Anda tidak akan bereaksi dalam daging Anda atau dalam emosi Anda. Sebaliknya, Anda akan bereaksi dengan Roh.

Karena Allah adalah kasih dan juga Roh, maka semakin kita berada di bawah pendispensian-Nya, kita semakin memiliki kasih. Sebenarnya, semakin banyak sifat Allah didispensikan ke dalam kita, kita semakin menjadi kasih. Ini berarti kita bukan hanya memiliki kasih tetapi kita adalah kasih. Ketika Perjanjian Baru mengatakan bahwa Allah adalah kasih, ini tidak berarti bahwa Allah sekadar memiliki kasih tetapi Dia adalah kasih. Melalui pendispensian Allah akan diri-Nya ke dalam kita, kita menjadi kasih dalam arti kita tersusun oleh Allah sebagai kasih. Ketika kasih sebagai sifat hakiki esens Allah didispensikan ke dalam kita, kita akan bereaksi terhadap orang lain dalam kasih. Hanya ada satu jenis kasih yang sejati dan itu adalah kasih yang berasal dari pendispensian Allah. Ketika kita berada di bawah pendispensian Allah, kita bereaksi dengan kasih yang murni, yaitu Allah sendiri.

Ketika kita berada di bawah pendispensian Allah, hidup kita tidak akan hanya dengan Roh dan kasih, tetapi juga dengan terang. Kasih alamiah kita berada dalam kegelapan. Hanya satu jenis kasih yang penuh dengan terang dan itu adalah kasih yang berasal dari pendispensian Allah.

Jika kita berada di bawah pendispensian Allah dari hari ke hari, kita akan bertindak tanduk dengan Roh, dengan kasih, dan dengan terang. Dalam kehidupan sehari-hari, Anda bertindak tanduk dengan seberapa banyak Roh, kasih, dan terang? Ini adalah untuk menguji apakah Anda berada di bawah pendispensian Allah atau tidak.

Dalam berita-berita sebelumnya, kita telah melihat bahwa persona Allah memiliki banyak aspek, dan dalam berita ini, kita telah melihat bahwa Dia memiliki sifat (kodrat) yang adalah Roh, kasih, dan terang.

Jika kita berada di bawah pendispensian Allah yang sedemikian, tentu saja Dia akan menginfus kita dengan sifat-Nya, yaitu dengan diri-Nya sendiri sebagai Roh, sifat hakiki persona-Nya; kasih, sifat hakiki esens-Nya yang di dalam; dan terang, sifat hakiki ekspresi-Nya di luar.

Misalnya, seorang saudara tertentu tentu menerus berada di bawah pendispensian Allah secara penuh. Ketika Anda berkontak dengan-Nya, Anda akan merasakan bahwa Ia cukup banyak hidup dan bertindak tanduk dengan Roh. Pada dia, Anda tidak akan melihat tanda-tanda yang berasal dari daging atau jiwa tetapi dari Roh. Selain itu, Anda juga akan merasakan kasih dan terang. Ketika Anda berada bersamanya, Anda akan memiliki perasaan bahwa Anda diterangi. Saudara yang sedemikian itu tersusun atas Roh, kasih, dan terang karena ia berada di bawah pendispensian Allah yang menurut sifat-Nya adalah Roh, kasih, dan terang.

Hidup dengan Roh, kasih, dan terang sangat berbeda dengan sekadar hidup menurut etika, ajaran-ajaran moral. Perjanjian Baru mewahyukan pendispensian Allah yang persona-Nya memiliki banyak aspek dan yang sifat-Nya adalah Roh, kasih, dan terang. Jika kita bersatu dengan-Nya dan jika kita berada di bawah pendispensian-Nya dari hari ke hari, kita akan menjadi orang-orang yang secara spontan memperhidupkan kehidupan yang penuh dengan Roh, kasih, dan terang.

Kita perlu mempertimbangkan semua aspek mengenai apa adanya Allah dalam persona-Nya. Walaupun persona Allah memiliki banyak aspek, pada hakekatnya Dia sangat sederhana; Dia adalah Roh, kasih, dan terang. Jika kita berada di bawah pendispensian-Nya, reaksi kita akan menunjukkan kepada orang lain bahwa kita memiliki banyak Roh, kasih, dan terang.

Jika kita berada di bawah pendispensian Allah, tentunya kita akan berbagian dalam sifat Allah sebagai Roh, kasih, dan terang. Kemudian kita akan menjadi orang-orang yang hidup dalam Roh, kasih, dan terang dalam arti bahwa kita telah tersusun atas elemen-elemen sifat Allah ini. Dalam kehidupan kita, kita tidak perlu tampil atau bertindak tanduk secara sengaja atau dibuat-buat. Tetapi, kita hanya memperhidupkan hayat menurut sifat ilahi.