ALLAH—PERSONA-NYA (4)
Dalam berita ini kita akan menyimpulkan pengkajian kita mengenai aspek-aspek persona Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru.
25. Yang Ada, Yang Sudah Ada,
dan Yang Akan Datang
Dalam kitab Wahyu kita diberi tahu dua kali bahwa Allah adalah Yang ada, Yang sudah ada, dan Yang akan datang. Inilah arti nama Yehova. Dalam bahasa Ibrani, Yehova berarti "Aku adalah Aku”. Diri-Nya sebagai ‘sang Aku adalah’ menandakan bahwa Dia adalah Yang ada dari kekekalan sampai kekekalan. Secara mendasar, sebutan ini tersusun dari kata kerja "to be (adalah)". Di luar Allah, Yehova, segala sesuatu tidak ada artinya. Dialah satu-satunya sang Adalah, satu-satunya yang memiliki realitas keberadaan. Kata kerja "to be" mutlak tidak boleh diterapkan kepada siapa pun atau benda apa pun kecuali Dia. Dialah satu-satunya yang swaada dan kekal ada. Dalam alam semesta, segala sesuatu tidak ada artinya. Hanya Allah Yang ada, Yang sudah ada, dan Yang akan datang. Di masa lalu, Dia adalah (was), sekarang, Dia pun adalah (is), dan di masa yang akan datang, Dia juga adalah (will be).
Ibrani 11:6 mengatakan, "Barang siapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada (Dia adalah—Tl.)." Menurut ayat ini, Allah adalah, dan kita harus percaya bahwa Dia adalah. Allah adalah, tetapi kita bukan dan segala sesuatu juga bukan. Sebagai sang Adalah (di masa kini), sang Adalah (di masa lalu), dan sang Adalah (di masa yang akan datang), Allah itu swaada dan kekal ada, Dia adalah Seorang yang keberadaannya tidak tergantung pada apa pun kecuali diri-Nya sendiri dan Seorang yang ada sampai kekal, tidak berawal dan tidak berakhir. Sebelum segala sesuatu ada, Allah telah ada. Setelah segala sesuatu berlalu, Allah masih tetap ada. Allah sudah ada, ada, dan tetap ada.
Sebagai Persona yang serentak ada dan saling huni, Allah adalah realitas dari setiap perkara positif. Injil Yohanes mewahyukan bahwa Dia adalah segala sesuatu yang kita perlukan: hayat, terang, makanan, minuman, padang rumput, jalan, dan segala sesuatu. Karena itu sebutan Allah ini menunjukkan bahwa Ia bukan hanya ada selamalamanya, tetapi dalam arti positif, Dia juga adalah segala sesuatu. Apakah Anda memerlukan hayat? Allah adalah hayat. Apakah Anda memerlukan terang? Allah adalah terang. Apakah Anda menginginkan kekudusan? Allah adalah kekudusan. Allah ada dari kekekalan sampai kekekalan, dan Dia adalah segala sesuatu. Inilah Allah kita.
Perlu bagi kita untuk mengenal Allah sebagai yang ada (sang Adalah di masa kini), yang telah ada (sang Adalah di masa lalu), dan yang akan datang (sang Adalah di masa yang akan datang). Langit dan bumi bisa berlalu, tetapi Allah tetap ada. Apakah Anda putus asa dengan kelemahan Anda? Suatu hari kelemahan Anda akan berlalu, tetapi Allah masih tetap ada. Jangan percaya apa pun selain Allah. Jangan pula mempercayai kelemahan maupun kekuatan Anda, karena kelemahan maupun kekuatan Anda akan lenyap. Tetapi, ketika semua itu berlalu, Allah masih tetap menjadi yang ada (sang Adalah). Oh, kita harus percaya kepada Dia sebagai sang Kekal Ada! Bila kita mengenal Allah sebagai yang ada (sang Adalah di masa kini), yang pernah ada (sang Adalah di masa lalu), dan yang akan datang (sang Adalah di masa yang akan datang), kita akan mendapatkan dorongan besar, terutama pada masa-masa sulit.
26. Alfa dan Omega
Allah juga adalah Alfa dan Omega (Why. 1:8; 21:6). Allah yang kekal dan Mahakuasa adalah Alfa, suatu awal untuk permulaan, dan Omega, suatu akhir untuk penggenapan tujuan kekal-Nya. Dalam kitab Kejadian, Ia adalah Alfa dan dalam kitab Wahyu, Ia adalah Omega. Apa saja yang telah dimulai-Nya akan digenapkan-Nya. Secara pemerintahan, Ia melanjutkan pekerjaan universal-Nya yang dimulainya dari kekekalan dan akan merampungkannya.
Alfa dan Omega adalah huruf awal dan huruf akhir dari alfabet Yunani. Fakta bahwa Allah adalah Alfa dan Omega mengindikasikan bahwa Ia adalah keseluruhan "alfabet" yang diperlukan untuk menyusun kisah alam semesta. Dia juga adalah "huruf-huruf” yang dipakai untuk menulis sejarah kehidupan pribadi kita. Betapa bermaknanya hal ini, Allah kita adalah Alfa dan Omega!
27. Hakim atas Segala Sesuatu
Menurut Ibrani 12:23, Allah adalah Hakim atas segala sesuatu. Dalam Ibrani 12:22-24 ada daftar dari kedelapan butir positif yang telah dicapai oleh kaum beriman Perjanjian Baru. Yang kelima dari kedelapan butir tersebut adalah Allah, hakim atas segala sesuatu. Allah adalah Pencipta dan Tuhan, sang Pemilik, atas segala sesuatu, dan Ia ada di dalam segala sesuatu dan dengan segala sesuatu. Sebagai Allah yang sedemikian, Dia harus menjaga segala sesuatu benar dalam pandangan-Nya. Dia harus membenarkan yang benar dan menghakimi yang salah. Karenanya, Dia adalah Hakim atas segala sesuatu. Dalam daftar dari kedelapan butir yang positif itu, setelah butir mengenai Allah sebagai Hakim atas segala sesuatu, berikutnya adalah butir mengenai roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna. Orang-orang benar ini adalah orang-orang kudus Perjanjian Lama yang telah disempurnakan, yaitu dikoreksi oleh Allah sebagai Hakim atas segala sesuatu yang mengoreksi kesalahan-kesalahan umat pilihan-Nya untuk menyempurnakan mereka. Ibrani adalah sebuah kitab yang menanggulangi kaum beriman Ibrani yang memiliki konsep yang salah mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah dan juga menanggulangi tindakan mereka yang berpaling kepada Yudaisme kuno. Karena hal ini, Allah akan menghakimi mereka (Ibr. 10:26-31), mengoreksi kesalahan mereka sehingga pada akhirnya mereka dapat disempurnakan oleh Allah sebagai Hakim atas segala sesuatu. Karena itu, dalam pasal dua belas, mereka diberi tahu bahwa Allah yang mereka datangi adalah Hakim atas segala sesuatu. Ini seharusnya memperingatkan mereka agar segera mengoreksi diri dari kesalahan mereka sehingga Allah sebagai Hakim atas segala sesuatu tidak perlu menghakimi mereka agar mereka selaras dengan keadilan-Nya.
28. Tuhan
Sejumlah ayat dalam Perjanjian Baru mengindikasikan bahwa Allah adalah Tuhan (Mat. 1:20, 22; Kis. 3:19-20; Why. 1:8). Allah Yang Mahakuasa adalah Tuhan. Keberadaan-Nya sebagai Tuhan berarti Ia adalah Pemilik alam semesta. Kita dapat mengatakan bahwa Dia adalah "Tuan tanah" dari seluruh alam semesta. Dialah Penguasa, Otoritas. Apa yang kita atau orang lain katakan tidak berarti apa-apa, tetapi apa yang Allah katakan berarti segalanya karena Dia adalah Tuhan. Ketika Dia berkata, "Ya," berarti ya, dan ketika Dia berkata, "Tidak," berarti tidak. Allah adalah Tuhan, Pemilik, Otoritas.
29. Arsitek dan Pembuat Yerusalem Baru
Ibrani 11:10 menunjukkan bahwa Allah adalah Arsitek dan Pembuat (Perencana dan Pembangun) Yerusalem Baru. Sambil mengacu kepada Abraham, ayat ini memberi tahu kita, "Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah." “Inilah kota Allah yang hidup, Yerusalem surgawi" (Ibr. 12:22), "Yerusalem yang di atas (Yerusalem surgawi LAX)" (Gal. 4:26), "kota kudus, Yerusalem Baru" (Why. 21:2; 3:12), yang telah dipersiapkan Allah bagi umat-Nya (Ibr. 11:16), dan tabernakel Allah tempat Allah berhuni bersama manusia sampai selama-lamanya (Why. 21:3). Sama seperti para bapa leluhur kita yang menantikan kota tersebut, maka kita juga mencarinya (Ibr. 13:14).
Istilah Yunani yang diterjemahkan "Arsitek (Perencana—LAI)" dalam Ibrani 11:10 adalah technistes, seorang pekerja terampil, orang yang melakukan segala sesuatu menurut aturan-aturan semi, atau disebut juga seorang arsitek. Istilah Yunani yang diterjemahkan "Pembuat (Pembangun —LAI)" adalah demiourgos dan secara harfiah berarti orang yang bekerja untuk masyarakat. Dalam penggunaan pada umumnya, didefinisikan sebagai pembangun atau pembuat. Dalam Ibrani 11:10, baik technites maupun demiourgos digunakan untuk Allah. Technites membicarakan Allah sebagai Arsitek (Perencana), Perancang Yerusalem Baru; demiourgos membicarakan Allah sebagai Pembuat atau Penyusun yang sejati dari kota tersebut.
Beberapa terjemahan dari Ibrani 11:10 mengaburkan fakta bahwa Allah adalah seorang Arsitek, Arsitek Yerusalem Baru. Bayangkanlah Yerusalem Baru seperti yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Selain Allah, siapakah yang mampu merancang kota yang sedemikian? Hanya Allah sebagai Arsitek tertinggi yang mampu merancangnya. Yerusalem Baru dirancang oleh Arsitek yang kekal, ilahi.
B. DENGAN PERUMPAMAAN DAN TANDA-TANDA
1. Tuan Tanah dalam Perumpamaan
tentang Penggarap-penggarap yang jahat
Persona Allah juga diwahyukan dalam perumpamaan-perumpamaan dalam Perjanjian Baru. Dalam Perumpamaan tentang penggarap-penggarap yang jahat (Mat. 21:33-46), Allah adalah seorang Tuan Tanah. Mengenai ini, Matius 21:33 berkata, "Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lubang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain." Tuan Tanah itu adalah Allah, kebun anggur itu adalah kota Yerusalem (Yes. 5:1), dan penggarap-penggarap kebun adalah pemimpin-pemimpin orang Israel (Mat. 21:34). Dalam perumpamaan ini, kita melihat bahwa sebagai Tuan Tanah, Allah mengutus hamba-hamba-Nya, para nabi. Kemudian, Tuan Tanah itu mengutus anak-Nya, Tuhan Yesus. Akhirnya, Tuan Tanah itu membinasakan penggarap-penggarap yang jahat itu dan menyewakan kebun anggur tersebut kepada penggarap-penggarap yang lain. Ini tergenapi ketika Titus dan tentara-Nya menghancurkan Yerusalem di tahun 70 Sesudah Masehi. "Penggarap-penggarap yang lain" dalam perumpamaan ini adalah para rasul, orang-orang yang memperhatikan gereja, kerajaan Allah (Mat. 21:41) dalam Perjanjian Baru.
2. Raja dalam Perumpamaan
tentang Perjamuan Kawin
Allah adalah Raja dalam perumpamaan tentang perjamuan kawin (Mat. 22:1-14). Mengenai hal ini, Matius 22:2 mengatakan, "Hal Kerajaan Surga seumpama seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya." "Raja" di sini adalah Allah, dan "anaknya" adalah Kristus. Pertama, menurut perumpamaan ini, Allah mengutus "hamba-hambanya", kelompok pertama rasul-rasul Perjanjian Baru, untuk memanggil orang-orang yang diundang ke perjamuan kawin tersebut (ay. 3). Kemudian, Ia mengutus "hamba-hamba yang lain", para rasul yang diutus oleh Tuhan belakangan (ay. 4). Dalam ayat 6 dan 7, kita melihat bahwa Raja itu marah kepada orang-orang yang menyiksa hamba-hamba-Nya dan membunuh mereka, "lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka." Ini adalah pasukan Roma di bawah pimpinan Titus yang menghancurkan Yerusalem di tahun 70 Sesudah Masehi.
3. Teman dalam Perumpamaan Mengenai Doa yang Tidak Jemu-jemu
Lukas 11:5-8 membicarakan perumpamaan yang mengilustrasikan orang yang berdoa dengan gigih. Dalam perumpamaan ini, Allah yang kepadanya kita berdoa seumpama teman kita, dan kita seumpama teman-Nya, mengindikasikan bahwa dalam doa, Allah sangat intim dengan kita dan kita sangat intim dengan-Nya dalam kasih timbal balik. Gambaran ini, yaitu mengenai keintiman di antara teman, menghapus konsep agamawi mengenai "kekhidmatan" dalam doa kita kepada Allah.
4. Tuhan dalam Perumpamaan tentang Pohon Ara yang Tidak Berbuah
Dalam Lukas 13:6-9 kita memiliki perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah. Dalam perumpamaan ini, Allah adalah Tuan (ay. 8). Perumpamaan ini mengindikasikan bahwa Allah sebagai pemilik pohon ara yang ditanam di kebun anggur-Nya datang di dalam Putra kepada orang-orang Yahudi sebagai pohon ara yang ditanam di tanah perjanjian Allah sebagai kebun anggur untuk mencari buah dari mereka. Ia telah mencari buahnya selama tiga tahun (ay. 7), dan Ia tidak menemukan satu pun. Ia ingin menebangnya, tetapi Putra sebagai pengurus kebun anggur berdoa bagi mereka agar Allah Bapa sabar terhadap mereka sampai Ia mati bagi mereka (mencangkul tanah sekelilingnya—ay. 8) dan memberi penyubur (memberi pupuk), berharap mereka kemudian akan bertobat dan berbuah. Jika tidak, mereka akan ditebang. Potongan ayat dalam Lukas 11:29-32 dan 42-52 yang mengungkapkan umat Yahudi sebagai generasi yang jahat telah menegaskan interpretasi ini.
Dalam perupamaan ini, orang-orang Yahudi dianggap sebagai pohon ara oleh Allah. Ketika Allah tidak menemukan buah pada pohon ini, Ia berpikir untuk menebangnya. Tetapi pengurus kebun anggur, Tuhan Yesus, memohon agar Bapa tidak melakukannya sampai Ia menempuh kematian dan kebangkitan-Nya, dan melalui itu Ia mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk. Lalu, jika pohon itu masih tidak menghasilkan buah, boleh ditebang. Ini benar-benar terjadi. Karena orang-orang Yahudi tidak bertobat, bahkan setelah Tuhan Yesus mati dan bangkit dan Roh itu datang, maka "pohon ara" itu "ditebang". Ini terjadi di tahun 70 Sesudah Masehi ketika Titus membawa pasukan Romawi ke Yerusalem dan menghancurkannya. Penghancuran Yerusalem itu adalah penebangan pohon ara tersebut.
5. Tuan Rumah dalam Perumpamaan tentang Perjamuan Besar
Dalam Lukas 14:15-24, Allah adalah "tuan rumah "(ay. 21) dalam perumpamaan tentang perjamuan besar. Perjamuan besar ini berbeda dengan perjamuan kawin dalam Matius 22:2-14. Perjamuan kawin itu adalah untuk pahala kerajaan. Perjamuan besar ini adalah untuk keselamatan Allah yang lengkap. Allah, sebagai "seseorang" (Luk. 14:16), telah mempersiapkan keselamatan lengkap-Nya sebagai perjamuan besar, dan Ia mengutus rasul-rasul pertama sebagai hamba-hamba-Nya untuk mengundang orang-orang Yahudi (ay. 16-17). Tetapi karena mereka terbelenggu oleh kekayaan, seperti tanah, ternak, atau istri, maka mereka menolak undangan-Nya (ay. 18-20). Kemudian Allah mengutus para rasul untuk mengundang orang-orang di jalanan—orang miskin, orang cacat, orang buta, dan orang lumpuh. Karena kemiskinan dan kesengsaraan mereka, mereka menerima undangan Allah (ay. 21-22a). Namun demikian masih ada tempat, keselamatan Allah masih terbuka untuk lebih banyak orang. Karenanya Ia mengutus hamba-hamba-Nya untuk pergi lebih jauh lagi ke dunia orang kafir, "ke segala jalan dan lintasan", untuk memaksa orang-orang kafir masuk dan memenuhi ruangan keselamatan-Nya (ay. 22b-23; Kis. 13:46-48; Rm. 11:25).
6. Bapa yang Mengasihi dan Menerima
dalam Perumpamaan tentang Anak yang Hilang
Dalam perumpamaan tentang anak yang hilang (Luk. 15:11-32), Allah diwahyukan sebagai Bapa yang mengasihi dan menerima (ay. 20-24). Anak yang hilang mengumpulkan segala sesuatu yang diterimanya dari ayahnya dan pergi ke negeri yang jauh, di sana ia memboroskan harta yang dimiliknya itu dengan hidup berfoya-foya (ay. 13). Setelah menghabiskan segala yang diperolehnya dari bapanya dan tertimpa bencana kelaparan (ay. 14), ia pun menjadi sadar akan keadaannya dan memutuskan untuk kembali kepada bapanya (ay. 17-18). "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia" (ay. 20). Bapa melihat anaknya itu dari jauh, hal ini bukan terjadi secara kebetulan. Tetapi bapa keluar rumah untuk menantikan anaknya yang hilang supaya kembali. Ketika bapa melihat anaknya, ia berlari kepadanya dan merangkul serta menciumnya dengan mesra. Ini mengindikasikan bahwa Allah Bapa berlari untuk menerima orang berdosa yang kembali. Suatu kedambaan yang luar biasa! Bapa merangkul dan mencium anaknya dengan mesra, hal ini menunjukkan penerimaan yang hangat dan penuh kasih. Kemudian bapa itu berkata kepada hamba-hambanya, "Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita. Sebab anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali" (Luk. 15:22-24a).
7. Hakim yang Tidak Benar dalam Perumpamaan
tentang Doa yang Tidak Jemu-jemu
Dalam perumpamaan tentang doa yang tidak jemu-jemu dalam Lukas 18:1-8, hakim yang tidak benar itu mengacu kepada Allah yang benar (ay. 6-7). "Janda" dalam ayat 3 melambangkan kaum beriman. Dalam hal ini, kaum beriman di dalam Kristus adalah janda di zaman ini karena suami mereka, Kristus, (2 Kor. 11: 2) tidak bersama mereka. Kaum beriman dalam Kristus juga mempunyai lawan, Satan si Iblis, untuk itu kita perlu pembelaan Allah. Kita wajib berdoa dengan gigih untuk pembelaan ini dan jangan kendor. Ayat 8 menunjukkan bahwa pembelaan Allah akan terjadi pada saat sang Juruselamat datang kembali (2 Tes. 2:6-9).
Perumpamaan ini menunjukkan penderitaan yang kita peroleh dari lawan kita selama Tuhan tidak hadir secara nyata. Selama itu, kita adalah janda dan lawan kita mengganggu kita sepanjang waktu. Ketika lawan kita sedang menganiaya kita, kelihatannya Allah tidak adil karena Ia mengijinkan anak-anak-Nya dianiaya secara tidak adil. Contohnya, Yohanes Pembaptis dipenggal, Petrus mati martir, Paulus dipenjarakan, dan Yohanes dibuang. Selama berabad-abad, beribu-ribu pengikut Tuhan Yesus yang setia telah menderita aniaya yang tidak adil. Bahkan hari ini kita masih mengalami perlakuan yang tidak adil. Kelihatannya, Allah kita tidak adil karena Dia tidak datang menghakimi dan membela. Ketika sang Suami kita tidak hadir secara nyata dan kita ditinggalkan di bumi sebagai seorang janda, maka sementara waktu itu Allah seperti seorang hakim yang tidak benar. Walaupun kelihatannya Dia tidak benar, kita masih harus mohon kepada-Nya, berdoa dengan tidak jemu-jemu, dan mengganggu Dia berulang-ulang.
Di satu pihak, perumpamaan ini menunjukkan bahwa sang Hakim itu berkuasa. Ini berarti bahwa Ia menghakimi atau tidak itu terserah kepada-Nya. Kelihatannya, tanpa alasan, Ia boleh mendengar atau tidak mendengarkan janda itu. Perumpamaan ini mewahyukan bahwa Allah adalah Tuhan yang berkuasa dan Dia menghakimi kapan saja Dia mau. Di lain pihak, perumpamaan ini mengindikasikan bahwa kita perlu mengganggu Tuhan melalui doa yang tidak jemu-jemu. Makna perumpamaan ini begitu dalam. Kita semua perlu mengenal Allah sebagai Dia yang diwahyukan di sini.
8. Permata Yaspis dan Permata Sardis
Butir ini dan dua butir berikutnya, semuanya adalah lambang-lambang dalam kitab Wahyu untuk melukiskan apa adanya Allah. Dalam kitab Wahyu, Allah menyingkapkan wahyu-Nya kepada kita "dengan tanda-tanda" (Why. 1:1—LAI tidak menerjemahkan kalimat "dengan tanda-tanda" ini), yaitu dengan simbol-simbol yang mengandung makna rohani. Yohanes menerima wahyu yang demikian ilahi, misterius, dan dalam mengenai banyak hal, dan semua itu tidak bisa dijelaskan secara memadai dengan kata-kata manusia. Jadi, mereka diberi tahu dengan lambang-lambang. Wahyu 4:2 dan 3 mengatakan, "Sebuah takhta terdiri di surga, dan di takhta itu duduk Seorang. Dan Dia yang duduk di takhta itu nampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis." Menurut Wahyu 21:11, yaspis adalah "permata yang paling indah... jernih seperti kristal." Warnanya pasti hijau tua, yang melambangkan hayat dan segala kekayaannya. Yaspis di sini, seperti yang ditunjukkan oleh Wahyu 21:11, melambangkan kemuliaan Allah yang bisa disalurkan dalam hayat-Nya yang kaya (Yoh. 17:22, 2). Itulah penampilan Allah, yang juga akan menjadi penampilan kota kudus, Yerusalem Baru. Dinding kota dan fondasinya yang pertama dibangun dengan itu (Why. 21:18-19).
Sardis adalah batu permata yang paling indah dengan warna merah, yang melambangkan penebusan. Bila yaspis mengindikasikan Allah sebagai Allah yang mulia dalam hayat-Nya yang kaya, sardis melambangkan Allah sebagai Allah penebus. Pada tutup dada imam besar dalam Perjanjian Lama, batu yang pertama adalah sardis dan yang terakhir adalah yaspis (Kel. 28:17, 20). Ini melambangkan bahwa umat tebusan Allah memiliki permulaan dalam penebusan Allah dan perampungan dalam penampilan kemuliaan Allah dalam hayat.
9. Bait dalam Yerusalem Baru
Wahyu 21:22 mengindikasikan bahwa Allah adalah bait dalam Yerusalem Baru, "Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu." Kata Yunani untuk bait dalam ayat ini adalah naos, kata ini tidak menandakan keseluruhan bait seperti biasanya, yang meliputi Ruang Maha Kudus dan Ruang Kudus. Tetapi kata ini menandakan bait bagian dalam, Ruang Maha Kudus. Bait bagian dalam ini adalah Tuhan Allah, menandakan bahwa Allah akan menjadi tempat kediaman bagi kita, umat tebusan-Nya, dan tempat bagi kita untuk melayani Dia. Dalam Yerusalem Baru, kita akan tinggal di dalam Allah. Allah sendiri akan menjadi tempat kediaman bagi semua orang yang melayani Dia.
10. Terang dalam Yerusalem Baru
Dalam Wahyu 21:23, kita melihat bahwa Allah adalah terang dalam Yerusalem Baru, "Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya." Bait suci kota itu adalah Allah sendiri, dan terang itu juga Allah sendiri. Anak Domba sebagai lampu bercahaya dengan Allah sebagai terang untuk menerangi kota itu dengan kemuliaan Allah, ekspresi terang ilahi. Karena terang ilahi ini akan menerangi kota kudus, maka tidak diperlukan lagi terang alamiah atau terang buatan manusia. Allah sendiri akan menjadi terang dalam kota kudus.
Dalam berita-berita ini, kita telah meninjau banyak aspek mengenai persona Allah. Kita telah menggali Perjanjian Baru dalam hal ini. Ketika kita mempertimbangkan segala aspek dari persona Allah, kita dapat melihat Allah yang bagaimanakah yang mendispensikan diri-Nya ke dalam kita.