ALLAH—PERSONA-NYA (3)
Dalam berita ini kita akan meninjau aspek selanjutnya mengenai persona Allah yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru.
9. Kepala Kristus
Satu Korintus 11:3 mengatakan, "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah lakilaki dan Kepala dari Kristus ialah Allah." Kristus adalah Yang diurapi Allah, ditunjuk oleh Allah. Karenanya Ia berada di bawah Allah, dan Allah sebagai Pemula adalah Kepala-Nya. Ini ditujukan kepada hubungan antara Kristus dengan Allah dalam pemerintahan ilahi. Dalam alam semesta, terutama dalam administrasi pemerintahan Allah, ada urut-urutannya. Allah adalah Kepala Kristus, Kristus adalah Kepala dari setiap laki-laki, dan laki-laki adalah kepala perempuan.
10. Juruselamat Semua Orang
Dalam 1 Timotius 1:1 Paulus mengatakan, "Dan Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita." Allah Juruselamat kita (1 Tim. 4:10; Tit. 2:13) dan Allah kita sang Juruselamat (LAI menerjemahkannya menjadi ‘Allah, Juruselamat kita’—1 Tim. 2:3; Titus 1:3; 2:10; 3:4) adalah sebutan-sebutan yang secara khusus dianggap berasal dari Allah dalam kitab 1 dan 2 Timotius serta Titus, kitab-kitab yang membicarakan keselamatan Allah sebagai dasar yang kokoh bagi ajaran-ajaran mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah (1 Tim. 1:15-16; 2:4-6; 2 Tim. 1:9-10; 2:10; 3:15; Tit. 2:14; 3:5-7). Paulus menjadi seorang rasul menurut perintah Allah yang menyelamatkan, Allah kita sang Juruselamat, bukan menurut perintah dari Allah pemberi hukum Taurat, Allah yang menuntut.
Satu Timotius 2:3 mengatakan, "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita (Allah kita sang Juruselamat T1.)." Dalam 1 Timotius, Paulus menekankan Allah sang Juruselamat. Karenanya dalam ayat ini ia tidak membicarakan Allah kasih karunia atau Allah belas kasih, melainkan Allah sang Juruselamat, Allah yang menyelamatkan kita. Dalam 1 Timotius 4:10, Paulus melanjutkan berbicara tentang "Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya."
Dalam Titus 1:3, Paulus sekali lagi berbicara tentang "perintah Allah, Juruselamat kita (Allah kita sang Juruselamat—Tl.)." Kemudian dalam Titus 2:10 beliau membicarakan "ajaran Allah, Juruselamat kita (ajaran Allah kita sang Juruselamat Tl.)." Juruselamat kita bukan hanya Kristus, melainkan Allah Tritunggal yang berejawantah di dalam Kristus, seperti yang ditunjukkan oleh Titus 2:13. Allah kita sang Juruselamat bukan hanya ingin menyelamatkan kita, melainkan juga mengajarkan pengetahuan akan kebenaran kepada kita (1 Tim. 2:4). Karenanya, ada ajaran dari Allah kita sang Juruselamat yang bisa dihiasi, dipercantik, dengan karakter yang telah ditransformasi milik orang-orang Nina yang telah diselamatkan oleh kasih karunia-Nya.
Dalam Titus 3:4 Paulus memberi tahu kita "nyata kemurahan hati Allah, Juruselamat kita (Allah kita sang Juruselamat—Tl.), dan kasih-Nya kepada manusia." Kemurahan hati dan kasih dari Allah kita sang Juruselamat itulah yang telah menyelamatkan dan membuat kita berbeda dari yang lain.
Yudas ayat 25 juga membicarakan Allah Juruselamat kita, "Allah yang esa, Juruselamat kita oleh Yesus Kristus, Tuhan kita, bagi Dia adalah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sebelum segala abad dan sekarang dan sampai selama-lamanya, Amin." Di sini kita melihat bahwa Allah yang esa adalah Juruselamat kita. Bagi Juruselamat yang sedemikianlah kemuliaan, kebesaran, kekuatan dan kuasa sepanjang segala abad. Kemuliaan adalah ekspresi dan kemegahan; kebesaran berarti megah dalam kehormatan; kekuatan adalah kokoh dalam tenaga; dan kuasa adalah wewenang dalam memerintah.
11. Abba Bapa Kaum Beriman
Dalam Persona-Nya, Allah adalah Abba Bapa kaum beriman. "Abba" berasal dari bahasa Aram lalu menjadi istilah dalam bahasa Ibrani dan "Bapa" adalah terjemahan dari istilah Yunani pater. Istilah itu digunakan untuk kali pertama oleh Tuhan Yesus di Getsemani ketika berdoa kepada Bapa (Mrk. 14:36). Kombinasi sebutan Ibrani dengan Yunani tersebut mengekspresikan rasa sayang yang luar biasa saat berseru kepada Bapa. Seruan yang penuh kasih sayang seperti itu menyiratkan hubungan hayat yang intim antara seorang anak sejati dengan ayah yang memperanakkan.
Bapa adalah sumber hayat. Hal ini terlihat dari perkataan Tuhan dalam Yohanes 5:26, "Bapa mempunyai hidup dalam diri-Nya sendiri." Dalam Perjanjian Baru, terutama dalam Injil Yohanes, Bapa mengacu kepada sumber hayat. Bahkan dalam keluarga manusia, bapa adalah sumber kehidupan (sumber hayat) dari keluarga tersebut. Karena bapa dari suatu keluarga adalah sumber dan asal usul kehidupan (hayat), maka nama Bapa mewahyukan Bapa sebagai sumber hayat.
Bapa, sumber hayat, adalah untuk perluasan dan pelipatgandaan hayat. Hayat Bapa adalah untuk perluasan dan pelipatgandaan. Dari Bapa, yang adalah sumber hayat, dan yang untuk perluasan dan pelipatgandaan hayat, dilahirkan banyak anak untuk ekspresi-Nya (Yoh. 1:12-13).
Nama Bapa sangat berkaitan dengan hayat ilahi. Tanpa memiliki hayat ilahi, Allah tidak dapat menjadi Bapa. Bagaimana mungkin seseorang menjadi bapa? Hanya melalui hayat. Bapa adalah seorang penghasil. Bapa menghasilkan bukan dengan mengusahakan pabrik, melainkan dengan memperanakkan. Seorang bapa memiliki hayat yang memperanakkan. Demikian pula Bapa telah memperanakkan kita melalui hayat-Nya. Kapan kala kita memanggil-Nya Bapa, kita harus menyadari bahwa sebutan ini dinyatakan oleh hayat ilahi. Tanpa hayat-Nya, nama Bapa hanyalah istilah kosong, tanpa isi atau realitas.
Wahyu apakah yang ada di balik nama Bapa? Bapa adalah panggilan untuk hubungan hayat. Ketika saya berkata, "Abba Bapa", saya menunjukkan bahwa saya memiliki hayat-Nya dan bahwa saya dilahirkan dari-Nya. Dalam Perjanjian Baru, Allah diwahyukan sebagai Bapa yang melahirkan kembali banyak anak. Dialah sumber hayat; karenanya, Dia adalah Bapa. Melahirkan banyak anak melalui melahirkan mereka kembali dengan hayat-Nya adalah maksud tujuan-Nya. Dalam kitab Matius, Tuhan mengajar murid-murid-Nya memanggil Allah Bapa, "Bapa kami yang ada di surga" (6:9). Kapan kala kita memanggil Allah sebagai Bapa kita, kita harus menyadari bahwa Dia adalah Bapa kita yang sejati. Dia bukan bapa angkat kita, dan kita bukan anak-anak pungut-Nya. Bapa kita adalah Bapa kita dalam hayat, Bapa sejati kita. Kita memanggil-Nya Bapa karena kita dilahirkan dari-Nya dan memiliki hayat-Nya.
Ketika kedua istilah "Abba" dan "Bapa" dipakai secara bersama-sama, hasilnya adalah perasaan yang dalam, mania, perasaan yang luar biasa intim. "Abba, Bapa" sungguh sangat mania. Karenanya perasaan yang kita miliki ketika memanggil secara demikian begitu manis dan intim.
Walaupun Roh keputraan telah masuk ke dalam roh kita, Roh itu berseru di dalam hati kita, "Abba, Bapa." Ini mengindikasikan bahwa hubungan kita dengan Bapa dalam keputraan begitu mania dan intim. Misalnya, ketika seorang anak memanggil bapanya "papa", tentu ada perasaan manis dan intim di lubuk hatinya. Namun perasaannya tidak akan demikian jika ia memanggil ayah mertuanya. Karena ia tidak ada hubungan hayat dengan ayah mertuanya. Betapa manisnya ketika anak-anak kecil, menikmati hubungan hayat dengan bapa mereka, dengan lembut berkata, "papa." Demikian pula, betapa hangat dan manisnya memanggil Allah, "Abba, Bapa!" Panggilan yang begitu intim melibatkan hati maupun roh kita. Roh keputraan di dalam roh kita berseru, "Abba, Bapa", dari hati kita. Ini membuktikan bahwa kita memiliki hubungan hayat yang murni dan bisa dipercaya dengan Bapa kita. Kita adalah anak-anak-Nya yang sebenarnya, anak-anak-Nya yang sejati, dan Dia adalah Bapa kita yang sejati.
12. Allah yang Esa
Dalam Perjanjian Baru, Allah secara jelas diwahyukan sebagai Allah yang Esa. Satu Timotius 1:17 mengatakan, "Hormat dan kemuliaan sampai selama-lamanya bagi Bapa Raja segala zaman, Allah yang kekal, yang tak nampak, yang esa! Amin." Dalam Roma 16:27 Paulus mendeklarasikan, "Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin." Yudas ayat 25 mengatakan bahwa Allah, Juruselamat kita adalah Allah yang esa. Selanjutnya, dalam 1 Korintus 8:4 dan 6 Paulus berkata bahwa "tidak ada Allah lain dari pada Allah yang esa" dan "bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa", Allah kita benar-benar esa; Dia mutlak berbeda dengan semua ilah palsu.
13. Allah yang Tidak Kelihatan
Kolose 1:15 membicarakan Allah yang tidak kelihatan. Walaupun Allah tidak kelihatan, Anak-Nya yang kekasih (Kol. 1:13), "cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah" (Ibr. 1:3), adalah citra-Nya, mengekspresikan apa adanya Dia.
Ayat-ayat lain yang menberi tahu kita bahwa Allah itu tidak kelihatan adalah 1 Timotius 1:17; 6:16; Ibrani 11:27; dan 1 Yohanes 4:12. Yohanes 1:18 berkata, "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." Menurut pasal satu Injil Yohanes, walaupun Allah tidak kelihatan, Anak Tunggal Bapa telah menyatakan Allah dengan Firman, hayat, terang, kasih karunia, dan realitas. Firman adalah Allah yang diekspresikan, hayat adalah Allah yang dibagikan, terang adalah Allah yang barcahaya, kasih karunia adalah Allah yang dinikmati, dan realitas adalah Allah yang dinyatakan. Allah yang tidak kelihatan dinyatakan secara penuh di dalam Anak melalui kelima hal tersebut.
14. Allah yang Hidup
Sejumlah ayat dalam Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Allah adalah Allah yang hidup. Dalam Matius 16:16 Tuhan Yesus disebut sebagai Anak Allah yang hidup. Dalam ayat ini, Allah yang hidup berlawanan dengan agama yang mati. Allah yang hidup, yang berejawantah di dalam Kristus, tidak ada sangkut pautnya dengan agama yang mati.
Dalam 1 Timotius 3:15 kita melihat bahwa gereja, rumah Allah adalah jemaat dari Allah yang hidup. Saat membicarakan gereja sebagai rumah Allah, Paulus secara khusus menyebutkan Allah sebagai Allah yang hidup. Allah yang hidup yang berhuni dalam gereja tentu subjektif terhadap gereja bukan sekadar objektif. Berhala di dalam bait orang kafir tidak berhayat. Allah yang bukan hanya berhuni melainkan juga bertindak, bergerak, dan bekerja di dalam bait-Nya yang hidup, gereja, adalah Allah yang hidup. Karena Allah begitu hidup, gereja juga hidup di dalam Dia, oleh dia, dan dengan Dia. Allah yang hidup dan gereja yang hidup, bergerak, hidup, dan bekerja bersama. Gereja yang hidup adalah rumah dan keluarga dari Allah yang hidup.
Dalam 1 Timotius 3:15 Paulus tidak hanya menyebutkan Allah melainkan Allah yang hidup. Allah itu hidup, dan kini Ia hidup, berhuni, bergerak, dan bekerja di dalam gereja. Karenanya gereja adalah gereja dari Allah yang hidup.
Dalam Ibrani 3:12 ada peringatan berkenaan dengan Allah yang hidup, "Waspadalah, hai saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang yang hatinya jahat dan yang tidak percaya oleh karena ia murtad dari Allah yang hidup." Allah kita adalah Allah yang hidup. Tidak percaya adalah jahat karena menghina Dia sebagai Allah yang hidup.
Mengenai Allah yang hidup, Ibrani 9:14 mengatakan, "Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup?" Kitab Ibrani bukanlah kitab yang mengajarkan agama tetapi merupakan kitab yang mewahyukan Allah yang hidup. Jika ingin berkontak dengan Allah yang hidup ini, kita perlu melatih roh (Ibr. 4:12) dan memiliki hati nurani yang telah dimurnikan dengan darah. Darah Kristus memurnikan hati nurani kita untuk melayani Allah yang hidup.
Ibrani 9:14 membicarakan pekerjaan yang sia-sia dan Allah yang hidup. Sebelum dilahirkan kembali, kita mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa (Ef. 2:1; Kol. 2:13). Karenanya apa saja yang kita perbuat, baik atau buruk, adalah pekerjaan yang sia-sia di hadapan Allah yang hidup. Tetapi, sekarang kita bisa melayani Allah yang hidup dengan hati nurani yang telah dimurnikan oleh darah Kristus.
Ibrani 10:31 mengatakan, "Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup." Ibrani 10 menyuruh kaum beriman Ibrani untuk melangkah maju menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah dan tidak melangkah mundur ke Yudaisme kuno. Kemudian memberi peringatan kepada mereka bahwa jika mereka jatuh hingga keluar dari jalur Perjanjian Baru Allah, maka mereka akan ditanggulangi oleh Allah yang hidup. Karena Ia hidup, Ia akan menghakimi umat-Nya.
Ibrani 12:22 membicarakan. kota Allah yang hidup. Sebagai kitab yang menanggulangi Yudaisme yang mati, kitab Ibrani mewahyukan Allah sebagai Allah yang hidup dari sudut pandang yang berbeda. Di sini kitab Ibrani memberi tahu kita bahwa kaum beriman Perjanjian Baru telah datang ke kota Allah yang hidup, yaitu Yerusalem surgawi, hal ini berlawanan dengan Yerusalem duniawi, yang telah dibuang Allah dalam ekonomi Perjanjian baru-Nya (Mat. 23:37-38). Karena Allah itu hidup dalam segala hal, kaum beriman Ibrani hendaknya tetap tinggal dalam hal-hal yang sesuai dengan Allah yang hidup.
15. Dia yang Tidak Fana
Bersemayam dalam Terang yang Tidak Terhampiri
Allah juga adalah Dia yang tidak fana yang bersemayam dalam terang yang tidak terhampiri. Mengenai hal ini, 1 Timotius 6:16 mengatakan, "Dialah satu-satunya yang tidak takluk kepada maut, bersemayam dalam terang yang tak terhampiri. Seorangpun tak pernah melihat Dia dan memang manusia tidak dapat melihat Dia. Bagi-Nyalah hormat dan kuasa yang kekal! Amin." Walaupun Bapa bersemayam dalam terang yang tak terhampiri, kita bukan hanya dapat menghampiri Dia dalam Kristus, melainkan juga dapat bersekutu dengan Dia. Kita bisa menghampiri Bapa karena kita tidak lagi berada dalam kegelapan. Dia berada dalam terang, dan kita juga berada dalam terang (1 Yoh. 1:5, 7). Selain itu, Dia yang tidak fana yang bersemayam dalam terang yang tidak terhampiri sedang didispensikan ke dalam kita.
16. Api yang Menghanguskan
dalam Kekudusan dan Ketegasan-Nya
Ibrani 12:29 mengatakan, "Sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan." Dia adalah api yang menghanguskan dalam kekudusan dan ketegasan-Nya. Allah itu kudus; kekudusan adalah sifat-Nya. Apa saja yang tidak sepadan dengan sifat kudus-Nya akan dihanguskan oleh Dia sebagai api yang menghanguskan. Jadi, Ia itu tegas, mengekspresikan kekudusan-Nya dalam ketegasan. Jika kaum beriman Ibrani, yang kepada mereka surat Ibrani ditujukan, berpaling kepada Yudaisme yang dangkal dan yang tidak kudus dalam pandangan Allah, maka hal itu akan membuat mereka tidak kudus, dan Allah yang kudus sebagai api yang menghanguskan akan menghanguskan mereka.
Allah bukan hanya benar tetapi juga kudus. Untuk memenuhi tuntutan kebenaran Allah, kita perlu dibenarkan melalui penebusan Kristus. Untuk memenuhi tuntutan kekudusan-Nya, kita perlu dikuduskan, dibuat menjadi kudus, oleh Kristus yang surgawi, hadir, dan hidup. Kitab Roma menekankan perkara pembenaran (Rm. 3:24) demi kebenaran Allah (Rm. 3:25-26), sedangkan kitab Ibrani menekankan perkara pengudusan (Ibr. 2:11; 10:10, 14, 29; 13:12) demi kekudusan Allah (Ibr. 12:14). Untuk ini, kaum beriman Ibrani perlu memisahkan diri mereka dari Yudaisme yang tidak kudus kepada Allah yang kudus yang telah mengekspresikan diri-Nya sepenuhnya dalam Putra dalam Perjanjian Baru. Jika tidak, mereka akan mencemarkan diri dengan agama usang mereka yang duniawi dan menerima Allah yang kudus sebagai api yang menghanguskan.
17. Mahakuasa
Sejumlah ayat memberi tahu kita bahwa Allah adalah yang Mahakuasa (Why. 1:8; 4:8; 19:6, 15; 2 Kor. 6:18). Kitab wahyu mengungkapkan Allah sebagai yang Mahakuasa. Dalam bahasa Ibrani, sebutan "Allah" berarti Yang Kuat, Seorang yang kuat, berkuasa. Tetapi dalam kitab Wahyu, kita melihat bahwa Allah bukan hanya berkuasa tetapi juga Mahakuasa. Sebagai yang Mahakuasa, Dia itu penuh kuasa dalam segala hal, dalam setiap aspek, dalam segala sesuatu, dan terhadap siapa pun.
18. Satu-satunya Allah yang Benar
Dalam Yohanes 17:3 Tuhan Yesus menyebut Bapa sebagai "satu-satunya Allah yang benar". Ini mengindikasikan bahwa hanya Allah itulah sang realitas, kebenaran. Segala sesuatu tanpa Dia itu tidak benar, bukan realitas. Tuhan datang bersama Allah sebagai kebenaran, realitas (Yoh. 1:14), membuat hidup kita menjadi riil. Agar kita mengenal realitas ini, Allah yang benar, maka Tuhan telah memberi kita hayat kekal. Firman-Nya dalam Yohanes 17:2-3 menyiratkan bahwa hayat kekal memiliki kemampuan untuk mengenal Allah yang benar. Untuk mengenal Allah yang benar, kita perlu hayat ilahi-Nya, hayat kekal. Karena sebagai kaum beriman kita telah dilahirkan dari hayat ilahi-Nya, kita mampu mengenal Dia sebagai Allah yang benar. Hayat dari Allah yang benar tentu saja mampu mengenal Allah yang benar. Karena kita memiliki hayat dari Allah yang benar, kita memiliki kemampuan untuk mengenal satu-satunya Allah yang benar.
Satu Yohanes 5:20 mengatakan, "Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang Benar dan hidup yang kekal." Dalam ayat ini, "Yang Benar" mengacu kepada Allah yang benar. Mengenal Dia yang benar sebenarnya berarti mengalami, menikmati, dan memiliki Allah yang benar. Kita perlu hayat Allah yang benar, hayat kekal, untuk mengalami, menikmati, dan memiliki Dia sebagai Yang benar.
Dalam 1 Yohanes 5:20 ungkapan, "Yang Benar" dipakai dua kali. Membicarakan Allah hanya sebagai Allah dapat saja secara objektif. Namun istilah "Yang Benar" adalah subjektif; hal ini mengacu kepada Allah yang menjadi subjektif bagi kita. Allah yang objektif menjadi Yang Benar dalam hidup dan pengalaman kita secara subjektif. Dia sang Benar adalah realitas. Melalui inkarnasi, kematian, dan kebangkitan-Nya, Anak Allah telah memberi kita pengertian agar kita bisa mengenal, yaitu mengalami, menikmati, dan memiliki realitas ilahi ini. Allah yang sebelumnya hanya bersifat objektif bagi kita kini telah menjadi realitas subjektif kita.
Bagian terakhir dari 1 Yohanes 5:20 mengatakan, "Ini (Dia—LAI) adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal." Kata "ini" mengacu kepada Allah yang telah datang melalui inkarnasi dan yang telah memberi kita kemampuan untuk mengenal Dia secara subjektif sebagai Yang Benar, membuat kita satu dengan Dia secara organik di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Semua ini adalah Allah yang Benar dan hidup yang kekal bagi kita. Segala adanya Allah yang benar ini terhadap kita adalah hidup (hayat) yang kekal bagi kita agar kita bisa berbagian dan menikmati Dia sebagai segala sesuatu bagi diri kita yang telah dilahirkan kembali.
19. Satu-satunya yang Berdaulat
Dalam 1 Timotius 6:15, ketika berada di bawah pemerintahan kaisar, Paulus memberi tahu kita bahwa Allah adalah satu-satunya Penguasa (yang Berdaulat), hal ini mengindikasikan bahwa Allah adalah satu-satunya Pemerintah, satu-satunya Raja, yang punya otoritas dan kekuatan yang paling mutlak dan paling tinggi. Karenanya, Ia adalah Raja di atas orang-orang yang memerintah sebagai raja dan Tuan di atas segala tuan. Kaisar berada di bawah-Nya. Tak diragukan lagi bahwa rasul yang dipenjarakan kaisar mendapatkan dorongan melalui mengenal Allah sebagai sang Berdaulat yang demikian.
20. Tuan yang Berdaulat, Kudus, dan Benar
Dalam Wahyu 6:10, orang-orang kudus yang martir menyebut Allah sebagai "Penguasa (Tuan yang berdaulat—Tl.), yang kudus, dan benar". Istilah Yunani untuk "Tuan yang berdaulat" adalah raja lalim (despotes), mengacu kepada majikan budak yang punya kedaulatan mutlak atas budak tersebut seperti dalam Kisah Para Rasul 4:24; Lukas 2:29; Yudas 1:4; 1 Timotius 6:1-2. Orang-orang kudus yang martir untuk firman Allah dan kesaksian Yesus mengenal Allah yang mereka layani dan yang melayakkan mereka untuk martir sebagai Majikan yang berdaulat sedemikian, yang kudus (berbeda dari segala sesuatu) dan benar (jqaujur) dalam sifat dan karakter-Nya dan telah membuat mereka menjadi kudus (menguduskan, memisahkan) dan benar (jujur, setia) kepada-Nya (cf. Why. 3:7 dan catatan 3).
21. Raja Segala Zaman
Dalam 1 Timotius 1:17 Paulus membicarakan Allah sebagai Raja segala zaman. Di sini "zaman" sebenarnya berarti kekekalan. Kata ini perlu dimengerti dalam kaitannya dengan kemerosotan gereja. Ketika Paulus berada dalam penjara, gereja-gereja mulai merosot dan situasi saat itu sangat mengecewakan sehingga banyak yang patah semangat. Bahkan beberapa rekan sekerja Paulus telah meninggalkan dia. Tetapi beliau memiliki iman yang kuat dengan jaminan mutlak bahwa Allah yang beliau percaya, Dia yang telah mempercayakan Injil kemuliaan kepadanya, adalah Raja segala zaman, Dialah yang memiliki otoritas mutlak sampai selama-lamanya, yang tak pernah berubah. Tidak ada satu pun raja dunia yang bisa disebut Raja segala zaman. Kaisar adalah pemerintah sementara, tetapi tidak demikian dengan Allah kita! Allah yang Paulus layani benar-benar adalah Raja segala zaman, Raja kekekalan. Dia yang kita layani dan yang sedang mendispensikan diri-Nya ke dalam kita adalah Raja segala zaman.
22. Raja di atas Segala Raja dan Tuan di atas Segala Than
Dalam 1 Timotius 6:15, Paulus juga memberi tahu kita bahwa Allah adalah "Raja di atas segala raja dan Tuan di atas segala tuan", ini mengindikasikan bahwa Allah adalah Penguasa tertinggi dalam alam semesta. Karenanya Dia adalah Penguasa satu-satunya (satu-satunya Yang berdaulat) yang Paulus percayai.
23. Tidak Dapat Binasa
Dalam 1 Timotius 1:17, kita melihat bahwa sebagai Raja segala zaman, Allah itu kekal (tidak dapat binasa). Sifat, kuasa, dan segala macam atribut-Nya tidak pernah berubah; Ia selalu sama. Segala sesuatu, kecuali Dia, dapat binasa. Gereja bisa mundur, memburuk, dan merosot, tetapi Allah tidak dapat binasa.
24. Allah Yang Kekal
Roma 16:25 hingga 26 memberi tahu kita bahwa Allah, yang telah memerintahkan untuk memberitakan rahasia yang tersembunyi kepada semua bangsa, adalah kekal. Ini mengindikasikan bahwa Allah tetap abadi, tidak bisa berubah karena situasi dan lingkungan apa pun. Karena Allah yang memberi perintah ini adalah kekal, tetap tidak berubah sampai selamanya, demikian pula dengan perintah-Nya.