← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 4/20

ALLAH—PERSONA-NYA (2)

Dalam berita ini, kita akan melanjutkan membahas persona Allah.

2. Allah dan Bapa Tuhan Kita Yesus Kristus

Dalam Efesus 1:3 Paulus membicarakan Allah sebagai "Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus". Karena Yesus Kristus adalah Allah, mengapa Paulus mengatakan bahwa Allah adalah Allah Yesus Kristus? Bagaimana Allah bisa menjadi Allah-Nya? Selanjutnya Paulus menyebutkan bahwa Bapa adalah Bapa Yesus Kristus. Bagaimana mungkin Kristus yang adalah Allah, memiliki Bapa? Allah adalah Allah dari Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Anak Manusia, dan Allah adalah Bapa dari Tuhan kita Yesus Kristus sebagai Anak Allah. Menurut keinsanian-Nya, Allah adalah Allah-Nya; dan menurut keilahian-Nya, Allah adalah Bapa-Nya.

Pujian Paulus kepada Allah Perjanjian Baru dalam Efesus 1:3 sangat dalam dan berbobot. Pujian itu mencakup seluruh ekonomi Perjanjian Baru. Di sini bukan hanya ada penciptaan, yang diindikasikan dengan sebutan "Allah", tetapi juga inkarnasi, ditunjukkan oleh sebutan "Allah Tuhan kita Yesus Kristus". Wahyu pertama mengenai Allah dalam Alkitab berkenaan dengan penciptaan, karena Alkitab dimulai dengan kalimat, "Pada mulanya Allah menciptakan...." Setelah penciptaan ada inkarnasi. Suatu hari, Allah sang Pencipta berinkarnasi. Firman yang bersama-sama Allah dan yang adalah Allah menjadi daging (Yoh. 1:1, 14) untuk menjadi seorang manusia. Ketika Allah menjadi seorang manusia, Allah yang menciptakan segala sesuatu menjadi Allah-Nya. "Allah Tuhan kita Yesus Kristus" mengindikasikan bahwa Tuhan Yesus adalah seorang manusia. Jika Ia hanya Allah, Allah tidak akan pernah menjadi Allah-Nya. Agar Allah menjadi Allah-Nya, Ia harus menjadi manusia. Karena itu diperlukan inkarnasi. Allah yang disembah oleh orang Yahudi hanya Allah sang Pencipta, bukan Allah yang berinkarnasi. Hari ini Allah yang kita sembah bukan hanya Allah sang Pencipta, tetapi juga Allah yang berinkarnasi. Dalam inkarnasi, Allah sang Pencipta menjadi Allah dari Manusia Yesus. Selain itu, Allah juga adalah Bapa dari Kristus sebagai Anak Allah. Dalam keinsanian Kristus, Allah adalah Allah-Nya; dalam keilahian-Nya, Allah adalah Bapa-Nya.

Selanjutnya, karena sebutan "Allah" mengacu kepada penciptaan, maka sebutan "Bapa" mengacu kepada pembagian hayat. Ini terjadi dalam kebangkitan Tuhan. Pada hari kebangkitan-Nya, perkataan-Nya kepada Maria dalam Yohanes 20:17 mengindikasikan bahwa Allah bukan hanya Bapa-Nya, tetapi juga adalah Bapa kaum beriman-Nya. .Melalui kebangkitan-Nya itulah Allah Bapa menjadi Bapa kaum beriman-Nya. Inilah pembagian hayat Bapa kepada anak-anak-Nya.

Dalam Efesus 1:17, Paulus melanjutkan berkata, "Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu." Dalam ayat 3, Paulus berkata tentang Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang berarti menjajarkan Allah dan Bapa secara bersama-sama. Tetapi di sini ia menyebutkan-Nya secara terpisah, katanya, "Allah Tuhan kita Yesus Kristus, yaitu Bapa yang mulia itu." Dalam inkarnasi, Tuhan Yesus Kristus, Allah sendiri (Flp. 2:6), menjadi manusia. Sebagai manusia, Ia berhubungan dengan penciptaan Allah; karenanya, Allah sang Pencipta adalah Allah-Nya. Inkarnasi membawa Allah sang Pencipta ke dalam manusia, ciptaan Allah. Sebutan "Allah Tuhan kita Yesus Kristus" menyiratkan bahwa Allah sang Pencipta telah masuk ke dalam manusia. Kapankala kita berbicara tentang Allah secara demikian, kita menyatakan bahwa Allah bukan lagi sekadar sang Pencipta yang berada di luar ciptaan-Nya, manusia, tetapi Ia telah dibawa masuk ke dalam keinsanian. Kita, ciptaan yang jatuh, telah ditebus. Inkarnasi menunjukkan bahwa Allah adalah untuk kenikmatan kita. Kita dapat menikmati Allah karena Ia telah masuk ke dalam keinsanian untuk penebusan kita. Keilahian menjadi kenikmatan kita di dalam Yesus.

Melalui pekerjaan penciptaan-Nya, Allah menjadi sang Pencipta. Setelah penciptaan, Ia menempuh inkarnasi, dengan demikian Ia masuk ke dalam makhluk ciptaan-Nya, yaitu, manusia. Melalui dan dalam inkarnasi, sang Pencipta dan makhluk ciptaan menjadi satu. Ketika Tuhan Yesus berada di bumi, Ia adalah pemanunggalan antara Allah dengan manusia. Melalui ketersaliban, Tuhan merampungkan penebusan. Hasilnya, kita sebagai makhluk ciptaan yang jatuh, telah ditebus. Namun, orang-orang Yahudi tidak memiliki konsep mengenai inkarnasi dan penebusan Allah. Tetapi kita, sebagai orang-orang Kristen, memiliki Allah dalam penciptaan, inkarnasi, dan penebusan. Betapa banyak yang kita miliki yang jauh melebihi orang-orang Yahudi!

Dalam Yohanes 20:17 Tuhan menyuruh Maria berkata kepada saudara-saudara-Nya, "Aku akan pergi kepada Bapa-Ku dan Bapamu, kepada Allah-Ku dan Allahmu:" Ini mengindikasikan bahwa Tuhan sebagai manusia yang dibangkitkan menerima Allah sebagai Allah-Nya dan Bapa sebagai Bapa-Nya. Selanjutnya ayat ini mewahyukan bahwa Bapa dan Allah-Nya telah menjadi Bapa dan Allah kaum beriman-Nya.

Mengapa Tuhan menyatakan kepada Maria bahwa Ia akan naik (pergi) kepada Bapa dan Allah? Di satu pihak, Tuhan adalah Anak Allah, karenanya Ia akan menghadap Bapa sebagai Anak. Di lain pihak, Ia masih tetap sebagai Anak Manusia, karenanya Ia akan menghadap Allah sebagai manusia. Kita, kaum beriman-Nya, di satu pihak juga adalah manusia dan di lain pihak adalah anak-anak Allah. Karena kita adalah manusia, Allah adalah Allah kita. Karena kita adalah anak-anak Allah, Allah juga adalah Bapa kita. Karena sekarang kita adalah manusia dan juga adalah anak-anak Allah, maka kita memiliki Allah juga memiliki Bapa.

Semua orang beriman sebagai umat manusia telah menjadi saudara-saudara Tuhan dan anak-anak Bapa melalui kebangkitan Tuhan, karena mereka telah menerima hayat yang sama dengan Dia. Melalui kematian-Nya yang membagikan hayat dan kebangkitan-Nya, Tuhan telah membuat kaum beriman-Nya menjadi satu dengan-Nya. Karenanya, Bapa-Nya juga adalah Bapa kaum beriman-Nya, dan Allah-Nya juga adalah Allah mereka. Dalam kebangkitan-Nya, mereka memiliki hayat Bapa dan sifat Allah, sama seperti Dia. Untuk membuat mereka menjadi saudara-saudara-Nya, Ia telah membagikan hayat Bapa dan sifat Allah ke dalam mereka. Untuk membuat Bapa-Nya dan Allah-Nya menjadi milik mereka, Ia telah menempatkan mereka pada kedudukan-Nya—kedudukan sang Putra—di hadapan Bapa dan Allah. Jadi dalam hayat dan sifat di batin dan secara kedudukan di luaran, mereka sama seperti Dia.

Yohanes 20:17; Efesus 1:3,17; dan Wahyu 1:6 semuanya ditulis setelah kenaikan Tuhan. Kita telah melihat bahwa dalam Yohanes 20:17 Tuhan akan naik kepada Bapa-Nya dan Allah-Nya dan dalam Efesus 1:3 dan 17 Paulus berkata tentang Allah Tuhan kita Yesus Kristus. Selanjutnya, Wahyu 1:6 mengatakan bahwa Kristus telah "membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya." Seperti dalam Yohanes 20:17 serta Efesus 1:3 dan 17, "Allah-Nya" mengacu kepada hubungan Tuhan sebagai manusia dengan Allah, dan "Bapa-Nya" mengacu kepada hubungan-Nya sebagai Anak dengan Bapa. Karenanya, Perjanjian Baru menekankan fakta bahwa Allah yang menciptakan dan menebus kita serta yang membagikan dan mendispensikan diri-Nya ke dalam kita, adalah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus kristus.

3. Allah yang Mulia

Dalam Alkitab, kemuliaan adalah Allah yang diekspresikan. Ketika Allah diekspresikan, itulah kemuliaan. Tetapi begitu Allah tersembunyi, terselubung, maka tidak akan ada kemuliaan yang diekspresikan. Anda tidak pernah melihat Allah tanpa melihat kemuliaan-Nya. Jika Allah yang tidak terlihat adalah Allah, maka Allah yang terlihat adalah kemuliaan. Kemuliaan Allah terlihat pada saat umat Israel menempuh perjalanan dari Mesir menuju tanah permai (Kel. 13:21). Pada siang hari Allah terlihat sebagai awan dan pada malam hari Ia terlihat sebagai tiang api—itulah kemuliaan. Dalam Injil Yohanes, kita membaca bahwa Firman adalah Allah, Firman itu menjadi daging dan diam di antara kita, dan bahwa kita telah melihat kemuliaan-Nya (Yoh. 1:1, 14). Yohanes 1:18 mengatakan, "Tidak seorangpun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya." Ada kemuliaan dalam pernyataan Allah. Ketika kita melihat Allah, kita melihat kemuliaan.

Dalam Kisah Para Rasul 7:2, ketika Stefanus bersaksi di hadapan Imam Besar, beliau mengatakan, "Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham...." Kemuliaan di sini bisa jadi adalah kemuliaan yang terlihat seperti ketika awan dan api muncul di hadapan orang-orang Israel (Kel. 16:10; 24:16-17; Im. 9:23; Bil. 14:10; 16:19; 20:6; Ul. 5:24) serta memenuhi tabut dan bait Allah (Kel. 40:35; 1 Raj. 8:11). Allah yang sedemikian mulia itulah yang muncul di hadapan Abraham dan memanggilnya. Kemuliaan-Nya menjadi daya tarik besar bagi Allah. Itulah yang memisahkan, menguduskannya, dari dunia kepada Allah (Kel. 29:43), dan kemuliaan itu pulalah yang menjadi dorongan dan kekuatan besar baginya hingga ia mampu mengikuti Allah (Kej. 12:1, 4).

Perkataan Stefanus tentang Allah yang Mahamulia cocok dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dalam Suratnya yang kedua, Petrus memberi tahu kita bahwa Allah telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia (oleh kemuliaan-Nya dan kepada kemuliaan-Nya—Tl.) (2 Ptr. 1:3). Karena kita dipanggil oleh kemuliaan Allah Juruselamat kita (2 Ptr. 1:1), maka pada akhirnya kita menerima Tuhan Yesus, menyadari bahwa Ia lebih baik daripada segala sesuatu dan juga lebih baik daripada siapa saja.

Allah yang Mahamulia memanggil Abraham, dan Abraham tertarik serta terpikat oleh kemuliaan itu. Prinsipnya sama dengan kita hari ini. Kita semua telah ditangkap oleh Tuhan dalam kemuliaan-Nya. Kita telah ditangkap oleh kemuliaan-Nya. Suatu hari, Allah yang mulia datang kepada kita melalui pemberitaan Injil, lalu kita tertarik dan yakin sehingga mulai mengapresiasi Dia. Pada saat itu, Allah yang mulia mentransfusikan beberapa elemen dari diri-Nya ke dalam kita, dengan demikian secara spontan kita percaya kepada-Nya. Dipikat oleh Allah yang mulia berarti Allah mentranfusikan diri-Nya ke dalam umat yang dipanggil-Nya tanpa mereka ketahui atau sadari. Ini bisa dibandingkan dengan terapi radiasi yang dilakukan dalam pengobatan modern. Pasien yang ditempatkan di bawah sinar X tidak menyadari adanya sinar yang menembusnya. Kita bisa mengatakan bahwa Allah adalah "radiasi" yang paling kuat. Bila kita tinggal bersama Dia untuk sejangka waktu, Ia akan mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita. Tranfusi ini akan menyebabkan terjadinya infusi, penjenuhan, dan peresapan. Begitu Allah telah mentransfusikan diri-Nya ke dalam kita, kita tidak bisa melarikan diri; kita harus percaya kepada-Nya.

4. Bapa yang Mulia

Dalam Efesus 1:17, Paulus menggunakan istilah "Bapa yang mulia". Seperti yang telah kami tunjukkan, kemuliaan adalah Allah diekspresikan. Karenanya, Bapa yang mulia adalah Allah diekspresikan melalui anak-anak-Nya. Sebutan "Bapa" menyiratkan kelahiran kembali, dan kata "mulia" menyiratkan ekspresi. Karena itu istilah "Bapa yang mulia" menyiratkan kelahiran kembali dan ekspresi. Kita telah dilahirkan kembali oleh Allah dan kita adalah ekspresi-Nya.

Kita telah dilahirkan kembali, tetapi kelak kita akan dimuliakan dan mengekspresikan kemuliaan Allah (Rm. 8:30). Kelahiran kembali anak-anak dan ekspresi Allah adalah perampungan dari ekonomi ilahi. Melalui penyaliban-Nya, Tuhan Yesus merampungkan penebusan bagi kita. Hasilnya, kita sebagai makhluk ciptaan yang jatuh, telah di tebus. Kemudian kita dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah Bapa agar kita bisa mengekspresikan Dia. Pada hari kita dimuliakan, Allah akan sepenuhnya diekspresikan dari dalam kita. Dengan demikian kita akan sepenuhnya menjadi ekspresi-Nya.

Ibrani 2:10 mengatakan bahwa Allah memimpin banyak anak ke dalam mulia. Langkah terakhir dari keselamatan Allah yang besar adalah membawa anak-anak-Nya masuk ke dalam mulia. Roma 8 memberi tahu kita bahwa pekerjaan kasih karunia Allah atas diri kita dimulai dengan dipilih-Nya kita dari semula, lalu ditentukan-Nya dari semula, dipanggil, dan dibenarkan dan akan berakhir dengan pemuliaan-Nya (ay. 29-30). Roma 8 memberi tahu kita bahwa seluruh ciptaan sangat menantikan pernyataan pemuliaan dari anak-anak Allah, dan mengharap bahwa makhluk itu sendiri akan masuk ke dalam kebebasan kemuliaan anak-anak Allah (ay. 19-20). Ini akan dirampungkan oleh kedatangan Tuhan kembali (Flp. 3:21), pada saat itu kita akan dinyatakan bersama-Nya dalam kemuliaan (Kol. 3:4). Inilah pengharapan kita (Kol. 1:27). Pemuliaan anak-anak Allah ini, sebagai sasaran dari keselamatan Allah, akan berlangsung terus melalui kerajaan milenium dan akan dinyatakan sepenuhnya dalam Yerusalem Baru sampai selama-lamanya (Why. 21:11, 23).

5. Bapa dari Setiap Keluarga,

Baik yang di Surga maupun yang di Bumi

Efesus 3:14 dan 15 berkata, "Itulah sebabnya aku sujud kepada Bapa, yang dari pada-Nya semua turunan yang di dalam surga dan di atas bumi menerima nama-Nya (diberi nama—T1.)." Di sini Paulus tidak menyebutkan Allah tetapi Bapa. Bapa dalam ayat 14 digunakan dalam arti luas, tidak hanya menunjukkan Bapa keluarga seiman (Gal. 6:10), tetapi Bapa dari setiap keluarga di surga maupun di bumi. Bapa bukan hanya sumber dari kaum beriman yang dilahirkan kembali, melainkan juga sumber dari umat manusia ciptaan Allah (Luk. 3:38), bangsa Israel ciptaan Allah (Yes. 63:16; 64:8), dan malaikat-malaikat ciptaan Allah (Ayb. 1:6). Orang Yahudi berkonsep bahwa Allah hanyalah Bapa mereka. Karenanya Paulus berdoa kepada Bapa semua keluarga di surga maupun di bumi sesuai dengan wahyunya, bukan sebagai orang Yahudi yang berdoa hanya kepada Bapa Israel menurut konsep Yahudi

Istilah Yunani yang diterjemahkan menjadi "turunan (keluarga—TL)" dalam Efesus 3:15 bisa juga diterjemahkan menjadi "garis ayah", menyiratkan suatu keluarga. Karena Allah adalah sumber keluarga malaikat di surga dan sumber dari semua keluarga manusia di bumi, maka dari pada-Nyalah semua turunan yang di dalam surga dan di bumi diberi nama, sama seperti produsen memberi nama pada hasil produksi mereka dan para ayah memberi nama pada anak-anak mereka.

Lukas 3:38 mengindikasikan bahwa melalui penciptaan, Allah menjadi Bapa umat manusia, karena dalam ayat ini Adam disebut "anak Allah". Ini tidak berarti bahwa Adam dilahirkan oleh Allah dan memiliki hayat Allah. Adam diciptakan oleh Allah (Kej. 5:1-2), dan Allah adalah asal usulnya. Berdasarkan hal ini, ia dinyatakan sebagai anak Allah, bahkan penyair-penyair kafir pun menganggap semua umat manusia adalah keturunan Allah (Kis. 17:28). Mereka hanya diciptakan oleh Allah, tidak dilahirkan kembali oleh-Nya. Pada hakekatnya, mereka sama sekali berbeda dengan kaum beriman dalam Kristus yang menjadi anak-anak Allah. Mereka telah dilahirkan, dilahirkan kembali dari Allah, serta memiliki hayat dan sifat Allah (Yoh. 1:12-13; 3:16; 2 Ptr. 1:4).

Dalam Kisah Para Rasul 17:28 Paulus berkata, "Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada, seperti yang telah juga dikatakan oleh pujangga-pujanggamu: Sebab kita ini dari keturunan Allah juga." Dalam ayat ini, kalimat "di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada" menunjukkan bahwa hayat manusia dan eksistensi manusia bahkan tindakannya adalah dari Allah. Ini tidak berarti bahwa manusia memiliki hayat Allah, hidup, ada, serta bertindak tanduk di dalam Allah, sama seperti yang dilakukan kaum beriman dalam Kristus, yaitu orang-orang yang lahir dari Allah, memiliki hayat dan sifat-Nya, serta hidup, ada, dan bertindak tanduk dalam persona Allah.

Semua manusia adalah turunan Allah karena Adam juga disebut anak Allah. Karena Allah adalah sang Pencipta, sumber, dari semua manusia, Ia adalah Bapa mereka semua (Mal. 2:10) dalam arti alamiah, bukan dalam arti rohani. Dalam arti rohani, Ia adalah Bapa semua orang beriman (Gal. 4:6), yaitu orang-orang yang telah dilahirkan kembali oleh-Nya dalam roh mereka (1 Ptr. 1:3; Yoh. 3:5-6).

6. Tidak Dikenal oleh Siapa pun Selain Anak

dan Orang yang Kepadanya Anak Itu Berkenan Menyatakan-Nya

Dalam Matius 11:27 Tuhan Yesus berkata bahwa tak seorang pun mengenal "Bapa selain Anak dan orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakan-Nya." Kata Yunani yang diterjemahkan "mengenal" di sini mengindikasikan pengenalan penuh, bukan sekadar pengenalan objektif. Mengenai Putra, hanya Bapa yang memiliki pengenalan sedemikian; mengenai Bapa, hanya Putra yang memiliki pengenalan sedemikian. Karenanya, untuk mengenal Bapa perlu wahyu Putra (Yoh. 17:6; 26). Istilah Yunani yang diterjemahkan "berkenan" dalam Matius 11:27 berarti dengan sengaja melaksanakan hal itu melalui perembukan.

Dalam Yohanes 17:6 Tuhan Yesus berkata kepada Bapa, "Aku telah menyatakan nama-Mu kepada semua orang, yang Engkau berikan kepada-Ku dari dunia." Nama yang disebut di sini adalah nama Bapa. Nama Allah dan Yehova cukup banyak diwahyukan kepada manusia dalam Perjanjian Lama, tetapi tidak demikian dengan nama Bapa, walaupun dalam Yesaya 9:5; 63:16; dan 64:8 disinggung secara sepintas. Dalam zaman Perjanjian Lama, umat Allah hanya mengenal bahwa Allah adalah Elohim, yaitu Allah dan Yehova, atau Yang selalu ada, tetapi mereka sedikit sekali mengenal sebutan Bapa. Anak datang dan bekerja dalam nama Bapa (Yoh. 5:43; 10:25) untuk menyatakan Bapa kepada orang-orang yang telah Bapa berikan kepada-Nya dan membuat nama Bapa dikenal mereka (Yoh. 17:26), nama yang mewahyukan Bapa sebagai sumber hayat (Yoh. 5:26), untuk perkembangbiakan dan pelipatgandaan hayat, yang melaluinya banyak anak dilahirkan (Yoh. 1:12-13) demi ekspresi-Nya. Karenanya nama Bapa yang diwahyukan oleh Putra sangat berkaitan dengan hayat ilahi. Kita dapat mengenal Bapa secara hayat ilahi hanya melalui pernyataan Putra.

7. Sumber dari Segala Sesuatu

Sebagai Bapa dari semua keluarga yang di dalam surga maupun di bumi (Ef. 3:14-15), Allah adalah sumber dari segala sesuatu. Segala sesuatu berasal dari Dia. Roma 11:36 mengatakan, "Segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia." Di masa lalu, segala sesuatu adalah dari Dia; di masa kini, segala sesuatu adalah oleh Dia; dan di masa yang akan datang, segala sesuatu adalah kepada Dia. Segala sesuatu berasal (menjadi ada) dari Allah di masa lalu, segala sesuatu ada oleh Dia di masa kini, dan segala sesuatu kepada Dia di masa yang akan datang. Segala sesuatu adalah dari Dia, oleh Dia, dan untuk Dia.

Satu Korintus 8:6 mengatakan, "Namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari pada-Nya berasal segala. sesuatu." Ayat ini memberi tahu kita sekali lagi bahwa Allah yang adalah Bapa adalah sumber segala sesuatu. Bapa di sini bukan hanya ditujukan kepada Allah sebagai Bapa kaum beriman yang dilahirkan kembali, tetapi juga kepada Dia sebagai sumber segala sesuatu. Ini dibuktikan dengan perkataan, "dari pada-Nya berasal segala sesuatu." Segala sesuatu adalah dari Allah sebagai sumber; karenanya Allah disebut Bapa. Dia bukan hanya Bapa kaum beriman dalam kelahiran kembali, tetapi Dia adalah Bapa dari segala sesuatu yang diciptakan dalam penciptaan karena segala sesuatu berasal dari Dia.

Ibrani 2:10 memberi tahu kita bahwa Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan adalah Allah "yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan." Untuk membawa banyak. anak kepada kemuliaan, Allah perlu langit, bumi, dan segala sesuatu. Segala sesuatu yang Allah ciptakan untuk perampungan tujuan-Nya menjadi ada melalui Dia pada masa kini dan untuk Dia pada masa mendatang. Allah itulah yang memelihara segala sesuatu dalam alam semesta agar semua itu dapat menunjang tujuan-Nya.

8. Bapa Segala Roh

Dalam Ibrani 12:9 Allah disebut sebagai Bapa segala roh, "Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bnkankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?" Di sini "Bapa segala roh" berlawanan dengan "bapa daging kita (ayah kita yang sebenarnya—LAI)." Dalam kelahiran alamiah, kita dilahirkan dari bapa dalam daging. Karenanya, mereka adalah bapa daging kita. Dalam kelahiran kembali, kita dilahirkan dari Allah (Yoh. 1:13) dalam roh kita (Yoh. 3:6). Karenanya, Dia adalah Bapa roh kita.