← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 3/20

ALLAH—PERSONA-NYA (1)

Dalam berita ini kita akan mulai meninjau persona Allah. Persona Allah tak lain adalah Diri Allah sendiri. Hal-hal penting mengenai persona Allah lebih banyak diwahyukan dalam Perjanjian Baru daripada dalam Perjanjian Lama. Ketika meninjau berbagai aspek persona Allah, kita akan melihat Allah yang bagaimanakah ingin mendispensikan diri-Nya ke dalam kita. Anda menyadari bahwa Allah berhasrat untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam Anda. Tetapi Allah yang bagaimanakah yang didispensikan ke dalam Anda? Sebenarnya, sangat sulit untuk menjawab pertanyaan ini.

Butir-butir berbeda yang berkaitan dengan apa adanya Allah terdapat di sana-sini di sepanjang Perjanjian Baru. Cara Allah mewahyukan hal ini adalah dengan menyajikannya sedikit di satu tempat dan sedikit lagi di tempat lain. Karenanya, dalam Matius, Yohanes, dan semua kitab Perjanjian Baru yang lain, kita temukan banyak butir mengenai persona Allah. Butir-butir ini dapat dibandingkan dengan potongan-potongan jigsaw puzzle yang perlu disatukan untuk membentuk satu gambar yang utuh. Kita perlu mengumpulkan semua butir mengenai persona Allah yang ditemukan dalam Perjanjian Baru dan menyusunnya agar dapat melihat suatu gambaran mengenai Allah yang bagaimanakah yang didispensikan ke dalam kita.

Dalam Perjanjian Baru, persona Allah diwahyukan baik secara gamblang maupun dengan perumpamaan-perumpamaan dan lambang-lambang.

A. DENGAN KATA-KATA YANG JELAS

Secara gamblang, paling sedikit ada dua puluh sembilan hal sebagai berikut:

1. Bapa, Putra, dan Roh Kudus

Allah yang mendispensikan diri-Nya ke dalam kita adalah Allah Tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Bapa, Putra, dan Roh Kudus tentunya bukan tiga Allah. Allah itu esa, namun Ia adalah tritunggal.

Dibaptis ke dalam Allah Tritunggal

Kita melihat Allah Tritunggal dalam Matius 28:19, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus." Dalam ayat ini, ada satu nama untuk trinitas ilahi—nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Nama adalah keseluruhan Diri ilahi, sama dengan persona-Nya. Membaptis orang ke dalam nama dari Trinitas berarti mencelupkannya ke dalam segala adanya Allah Tritunggal.

Matius dan Yohanes adalah dua kitab yang lebih banyak mewahyukan Trinitas Ilahi untuk partisipasi dan kenikmatan umat pilihan Allah daripada semua kitab dalam Alkitab. Yohanes mengungkapkan misteri ke-Allahan mengenai Bapa, Putra, dan Roh, terutama dalam pasal empat belas hingga pasal enam belas, untuk pengalaman hayat kita. Matius memperlihatkan realitas dari Trinitas ilahi melalui menunjukkan adanya satu nama untuk Ketiganya, untuk penyusunan kerajaan. Dalam pasal pembukaan kitab Matius, Roh Kudus (ay. 18), Kristus sang Putra (ay. 18), dan Allah Bapa (ay. 23) adalah untuk menghasilkan manusia Yesus (ay. 21), yang sebagai Yehova Penyelamat dan Allah yang menyertai kita; Dialah perwujudan Allah Tritunggal. Dalam pasal tiga, Matius menceritakan mengenai Putra yang berdiri di dalam air baptisan di bawah langit yang terbuka, Roh sebagai burung merpati turun ke atas sang Putra, dan Bapa berbicara dari surga mengenai sang Putra (ay. 16-17). Dalam pasal dua belas, sang Putra dalam persona manusia mengusir setan-setan dengan Roh untuk mendatangkan kerajaan Allah Bapa (ay. 28). Dalam pasal enam belas, sang Putra diwahyukan oleh Bapa kepada para rasul untuk pembangunan gereja (ay. 16-19). Dalam pasal tujuh belas, sang Putra mengalami transfigurasi (ay. 2) dan ditegaskan oleh perkataan perkenan Bapa (ay. 5) untuk menyajikan manifestasi kerajaan secara miniatur (16:28). Akhirnya dalam pasal penutupan, setelah Kristus sebagai Adam yang akhir melalui proses penyaliban, masuk ke dalam lingkungain kebangkitan, dan menjadi Roh pemberihayat, Ia datang lagi kepada murid-murid-Nya dalam suasana dan realitas kebangkitan-Nya, menugaskan mereka untuk membuat orang-orang kafir menjadi umat kerajaan melalui membaptis mereka ke dalam nama, persona, dan realitas dari Trinitas. Menurut kitab Matius, baptisan ke dalam realitas Bapa, Putra, dan Roh adalah untuk menyusun kerajaan surga. Kerajaan surgawi tidak tersusun atas manusia berdarah daging (1 Kor. 15:50) sebagai masyarakat duniawi; kerajaan surga hanya dapat tersusun atas orang-orang yang telah dicelup ke dalam keesaan dengan Allah Tritunggal dan yang terbentuk serta terbangun dengan Allah Tritunggal yang ditempa ke dalam mereka.

Kasih Karunia Kristus, Kasih Allah,

dan Persekutuan Roh Kudus

Ayat lain yang mewahyukan Allah Tritunggal adalah 2 Korintus 13:13, "Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan kasih Allah, dan persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian." Kasih karunia Tuhan adalah Tuhan sendiri sebagai hayat bagi kita untuk kenikmatan kita (Yoh. 1:17; 1 Kor. 15:10), kasih Allah adalah Allah sendiri (1 Yoh. 4:8, 16) sebagai sumber kasih karunia Tuhan, dan persekutuan Roh adalah Roh itu sendiri sebagai transmisi kasih karunia Tuhan beserta kasih Allah untuk partisipasi kita. Ini bukan tiga perkara yang terpisah melainkan tiga aspek dari satu perkara, sama seperti Tuhan, Allah, dan Roh Kudus bukanlah tiga Allah yang terpisah melainkan tiga "hypostases…dari satu Allah yang sama yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak dapat dipecah-belah" (Philip Schaff). Kasih Allah adalah sumbernya, karena Allah adalah asal usulnya. Kasih karunia Tuhan adalah saluran kasih Allah, karena Tuhan adalah ekspresi Allah. Persekutuan Roh adalah pembagian kasih karunia Tuhan beserta kasih Allah, karena Roh adalah transmisi dari Tuhan dan Allah untuk pengalaman dan kenikmatan kita terhadap Allah Tritunggal dengan semua atribut-Nya. Di sini kasih karunia Tuhan disebutkan untuk kali pertama karena 2 Korintus adalah kitab yang membicarakan kasih karunia Kristus (1:12; 4:15; 6:1; 8:1, 9; 9:8, 14; 12:9).

Dua Korintus 13:13 adalah bukti kuat bahwa Trinitas dari ke-Allahan bukan untuk pemahaman terhadap doktrin teologi sistematis, melainkan untuk pendispensian diri Allah dalam Trinitas-Nya ke dalam umat pilihan dan tebusan-Nya. Dalam Alkitab, Trinitas ilahi tidak pernah diwahyukan hanya sebagai doktrin. Sebaliknya, Trinitas Ilahi selalu diwahyukan atau disebutkan berkenaan dengan hubungan antara Allah dengan ciptaan-Nya, terutama dengan manusia yang diciptakan oleh-Nya dan terlebih lagi dengan umat pilihan dan tebusan-Nya. Dalam wahyu ilahi Allah mengenai ciptaan-Nya, sebutan ilahi yang pertama kali digunakan adalah Elohim (bahasa Ibrani), kata ini berbentuk jamak (Kej. 1:1). Ini menyiratkan bahwa Allah sang Pencipta langit dan bumi untuk manusia adalah Tritunggal, dan Ia menciptakan alam semesta dalam Trinitas-Nya. Berkenaan dengan penciptaan manusia menurut rupa dan gambar-Nya, Ia juga memakai kata ganti jamak "Kita". Hal ini mengacu pada Trinitas-Nya (Kej. 1:26) dan menyiratkan bahwa Ia akan menjadi satu dengan manusia dan mengekpresikan diri-Nya melalui manusia dalam Trinitas-Nya. Kemudian dalam Kejadian 3:22 dan 11:7 juga dalam Yesaya 6:8, sekali lagi Ia menyebut diri-Nya dengan "Kita" saat menyinggung hubungan-Nya dengan manusia dan dengan umat pilihan-Nya.

Untuk menebus manusia agar Ia masih bisa menjadi satu dengan manusia, maka Allah berinkarnasi menjadi seorang manusia (Yoh. 1:1, 14) di dalam Putra dan melalui Roh (Luk. 1:31-35), dan Ia menempuh kehidupan seorang insan di bumi juga di dalam Putra (Luk. 2:49) dan oleh Roh (Luk. 4:1; Mat. 12:28). Pada awal ministri Tuhan di bumi, Bapa mengurapi sang Putra dengan Roh (Mat. 3:16-17; Luk 4:18) untuk mencapai manusia dan membawa mereka kembali kepada-Nya. Sesaat sebelum Ia disalib dalam daging dan bangkit menjadi Roh pemberi-hayat (1 Kor. 15:45), Tuhan menyingkapkan Trinitas-Nya yang misterius kepada murid-murid dengan kata-kata yang gamblang (Yoh. 14-17), yang menyatakan bahwa Putra berada dalam Bapa dan Bapa berada dalam Putra (14:16-20), Ketiganya serentak ada dan saling huni secara berkesinambungan, tinggal bersama kaum beriman untuk menjadi kenikmatan mereka (14:23; 16:7-10; 17:21-23), dan semua yang dimiliki Bapa adalah milik Putra, semua yang dimiliki Putra diterima oleh Roh untuk disingkapkan, diwahyukan, kepada kaum beriman (16:13-15). Trinitas yang demikian sepenuhnya berkenaan dengan pendispensian Allah yang telah melalui proses ke dalam kaum beriman-Nya (14:17, 20; 15:4-5), dengan demikian mereka dapat menjadi satu di dalam dan dengan Allah Tritunggal (17:21-23).

Setelah kebangkitan-Nya, Tuhan memerintahkan murid-murid-Nya untuk memuridkan semua bangsa, membaptis mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus (Mat. 28:19). Seperti yang telah kami tunjukkan, ini berarti membawa kaum beriman ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam keesaan organik dengan Allah yang telah melalui proses, yang telah melalui inkarnasi, kehidupan manusia, dan ketersaliban, dan telah masuk ke dalam kebangkitan. Berdasarkan keesaan organik yang sedemikian itulah, maka pada penutupan 2 Korintus Paulus memberkati orang-orang Korintus dengan Trinitas yang terpuji melalui berbagian dalam kasih karunia Putra dan kasih Bapa melalui persekutuan Roh. Dalam Trinitas ini, Allah Bapa mengerjakan segala sesuatu di dalam semua anggota dalam gereja, yang adalah Tubuh Kristus, melalui ministri-ministri Tuhan, Allah Putra, dengan karunia-karunia dari Allah Roh (1 Kor. 12:4-6).

Allah Tritunggal yang Diwahyukan

dalam Kitab Efesus

Seluruh wahyu ilahi dalam kitab Efesus yang berkenaan dengan produksi, keberadaan, pertumbuhan, pembangunan, dan peperangan gereja sebagai Tubuh Kristus tersusun atas ekonomi ilahi—pendispensian Allah Tritunggal ke dalam anggota-anggota Tubuh Kristus. Pasal satu menyingkapkan bagaimana Allah Bapa memilih dan menentukan anggota-anggota tersebut dalam kekekalan (ay. 4-5), Allah Putra menebus mereka (ay. 6-12), dan Allah Roh memeteraikan mereka sebagai jaminan (ay. 13-14), lalu membagikan diri-Nya ke dalam kaum beriunan untuk pembentukan gereja, yang adalah Tubuh Kristus, kepenuhan Dia yang memenuhi semua dan di dalam segala sesuatu (ay. 18-23). Pasal dua menunjukkan kepada kita bahwa di dalam Trinitas ilahi, semua orang beriman, baik Yahudi maupun bukan Yahudi, telah beroleh jalan masuk kepada Allah Bapa melalui Allah Putra, di dalam Allah Roh (ay. 18). Ini juga mengindikasikan bahwa Ketiganya serentak ada dan saling huni secara berkesinambungan, bahkan setelah melalui semua proses: inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, dan kebangkitan. Dalam pasal tiga, rasul berdoa agar Allah Bapa menguatkan kaum beriman melalui Allah Roh ke dalam manusia batin mereka agar Kristus, Allah Putra, dapat berumah di dalam hati mereka, yakni menduduki seluruh diri mereka supaya mereka dapat dipenuhi hingga mencapai kepenuhan Allah Tritunggal yang telah melalui proses (ay. 14-19). Inilah puncak pengalaman dan partisipasi kaum beriman dalam Kristus terhadap Allah dalam Trinitas-Nya demi ekspresi-Nya yang sempurna. Pasal empat menggambarkan bagaimana Allah yang telah melalui proses sebagai Roh, Tuhan, dan Bapa, berbaur dengan Tubuh Kristus (ay. 4-6) agar semua anggotanya dapat mengalami Trinitas ilahi. Pasal lima mendorong kaum beriman untuk memuji Tuhan, Allah Putra, dengan kidung-kidung dari Allah Roh dan bersyukur dalam nama Tuhan Yesus Kristus, Allah Putra, kepada Allah Bapa (ay. 19-20). Ini adalah memuji dan bersyukur kepada Allah yang telah melalui proses dalam Trinitas ilahi-Nya agar kita dapat menikmati Dia sebagai Allah Tritunggal. Pasal enam mengajar kita untuk memperjuangkan peperangan rohani melalui diperkuat dalam Tuhan, Allah Putra, mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah Bapa, dan memegang pedang Allah Roh (ay. 10-11, 17). Inilah pengalaman dan kenikmatan kaum beriman terhadap Allah Tritunggal bahkan dalam peperangan rohani.

Allah Tritunggal

dalam Kitab Satu Petrus dan dalam Kitab Wahyu

Dalam tulisan-tulisannya, rasul Petrus menegaskan bahwa Allah Tritunggal ini adalah untuk kenikmatan kaum beriman melalui menunjukkan kepada mereka adanya pemilihan Allah Bapa, pengudusan Allah Roh, penebusan Yesus Kristus,.Allah Putra, melalui darah-Nya (1 Ptr. 1:2).

Rasul Yohanes juga memperkuat wahyu mengenai Trinitas ilahi untuk partisipasi kaum beriman dalam Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Dalam kitab Wahyu, beliau memberi salam kepada gereja-gereja di berbagai lokal dengan kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa, Dia yang ada, dan yang sudah ada, dan yang akan datang, dan dari Allah Roh, ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Allah Putra, Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati, dan yang berkuasa atas raja-raja di bumi (1:4-5). Salam Yohanes kepada gereja-gereja tersebut juga mengindikasikan bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses, dalam segala adanya Dia sebagai Bapa yang kekal, dalam segala hal yang bisa diperbuat-Nya sebagai Roh yang diintensifkan tujuh ganda, dan dalam segala yang telah diperoleh dan dicapai-Nya sebagai Putra yang diurapi, adalah untuk kenikmatan kaum beriman agar mereka bisa menjadi kesaksian korporat-Nya sebagai kaki dian emas (1:9-11, 20).

Karenanya, dalam Firman kudus, dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, nyata bahwa wahyu ilahi mengenai Trinitas dari ke-Allahan bukanlah untuk bahan pengkajian teologi, tetapi untuk memahami bagaimana Allah di dalam Trinitas-Nya yang misterius dan menakjubkan mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya agar kita, sebagai umat pilihan dan tebusan-Nya, bisa berpartisipasi, mengalami, menikmati, dan memiliki Allah Tritunggal yang telah melalui proses, sekarang dan untuk selama-lamanya, seperti yang diindikasikan dalam salam Paulus kepada kaum beriman Korintus dalam 2 Korintus 13:13.

Mengenai Allah Tritunggal, Wahyu 1:4 dan 5 mengatakan, "Kasih karunia dan damai sejahtera menyertai kamu, dari Dia, yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang, dan dari ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta-Nya, dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini." Dia "yang ada dan yang sudah ada dan yang akan datang" adalah Allah Bapa yang kekal. Ketujuh Roh yang ada di hadapan takhta Allah adalah Roh Allah yang sedang bekerja, Allah Roh. Yesus Kristus yang bagi Allah adalah Saksi yang setia, bagi gereja adalah Yang pertama bangkit dari antara orang mati, dan bagi dunia adalah Penguasa raja-raja di bumi, adalah Allah Putra. Inilah Allah Tritunggal. Sebagai Allah Bapa yang kekal, Dia ada di masa lampau, Dia ada di masa sekarang, dan Dia akan datang di masa yang akan datang. Sebagai Allah Roh, Dia adalah Roh yang diintensifkan tujuh ganda untuk pekerjaan Allah. Sebagai Allah Putra, Dia adalah Saksi Allah, kesaksian Allah, dan ekspresi Allah; Yang pertama bangkit dari antara orang mati bagi gereja, ciptaan baru; dan Penguasa raja-raja di bumi bagi dunia. Dari Allah Tritunggal yang sedemikian itulah kasih karunia dan damai sejahtera dibagikan kepada gereja-gereja.

Tidak diragukan lagi, ketujuh Roh dalam Wahyu 1:4 adalah Roh Allah karena digolongkan di antara Allah Tritunggal dalam ayat 4 dan 5. Karena angka tujuh adalah angka untuk penggenapan dalam pekerjaan Allah, dalam gerakan Allah, maka ketujuh Roh itu pasti adalah untuk pergerakan Allah di bumi. Dalam substansi dan keberadaannya, Roh Allah itu satu; dalam fungsi dan pekerjaan yang diintensifkan dari operasi Allah, Roh Allah itu tujuh ganda. Ini sama dengan kaki dian dalam Zakaria 4:2: dalam keberadaannya, itu adalah satu kaki than, tetapi dalam fungsi adalah tujuh lampu yang bersinar.

Dalam Matins 28:19, urut-urutan Allah Tritunggal adalah Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Dalam kitab Wahyu, urutannya berubah. Ketujuh Roh Allah disebut di urutan kedua, bukan di urutan ketiga. Ini mewahyukan pentingnya fungsi Roh Allah yang diintensifkan tujuh ganda dalam situasi gelap dari gereja-gereja yang merosot. Butir ini dipertegas dengan tekanan yang berulang-ulang pada perkataan Roh dalam 2:7-11, 17, 29; 3:6, 13, 22; 14:13; dan 22:17.

Pada pembukaan hampir semua surat rasuli, hanya Bapa dan Putra yang disebut, yang dari pada-Nya kasih karunia dan damai sejahtera diberikan kepada orang-orang yang menerimanya. Tetapi, dalam Wahyu 1:4 dan 5, Roh juga termasuk, dan dari Roh itulah kasih karunia dan damai sejahtera dibagikan kepada gereja-gereja. Ini juga menandakan pentingnya Roh Allah bagi pergerakan Allah dalam kemerosotan gereja-gereja.

Modalisme, Triteisme,

dan Wahyu Murni Mengenai Allah Tritunggal

Menurut Alkitab

Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Allah kita adalah Tritunggal. Selama berabad-abad, tiga aliran utama dari ajaran mengenai Trinitas telah muncul: modalisme, triteisme, dan wahyu murni menurut Alkitab. Modalisme mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh tidak semuanya kekal dan tidak serentak ada (ada pada saat yang bersamaan), tetapi ketiganya hanyalah tiga manifestasi sementara dari satu Allah. Triteisme mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga Allah. Kita tidak ada sangkut pautnya dengan modalisme, karena pandangan ekstrim mengenai Trinitas itu adalah bidah. Yang mengajarkan bahwa ada tiga Allah juga merupakan bidah besar.

Ada hukum keseimbangan menurut hukum alam dalam penciptaan Allah. Segala sesuatu bisa ada karena memiliki dua sisi. Contohnya, bumi ada karena dua kekuatan: gaya sentrifugal yang mendorong bumi (kekuatan menarik keluar), dan gaya sentripetal yang menariknya (kekuatan menarik ke dalam). Inilah dua kekuatan yang seimbang. Semua kebenaran dalam Alkitab juga memiliki dua sisi. Untuk memegang kebenaran dalam Alkitab secara tepat, kita harus berpegang pada kedua sisinya. Wahyu murni mengenai Allah Tritunggal dalam Alkitab berada di antara aliran modalisme dan triteisme yang ekstrim.

Karena kebenaran-kebenaran dalam Alkitab memiliki dua sisi, maka pada Trinitas pun ada dua aspek: aspek satu-di dalam-tiga (one-in-three) dan aspek tiga-di dalam-satu (three-in-one). Aliran modalisme terlalu ekstrim pada aspek tiga-di dalam-satu. Tentu saja, dalam Alkitab ada aspek tiga-di dalam-satu, tetapi modalisme terlalu ekstrim, jauh melampaui batasan-batasan Alkitab karena mengabaikan bahkan meniadakan aspek satu-di dalam-tiga. Karena aliran modalisme melampaui batasan-batasan Alkitab terhadap aspek "satu", maka aliran modalisme itu adalah bidah yang ekstrim pada aspek "satu". Triteisme ekstrim di sisi yang berbeda, ekstrim pada aspek "tiga", Triteisme menekankan sisi "tiga", melampaui batasan Alkitab terhadap aspek tiga, dan mengabaikan aspek "satu". Aspek "tiga" ini juga ada dasar Alkitabnya karena Bapa, Putra, dan Roh adalah tiga. Tetapi Triteisme, sama seperti Modalisme, juga melampaui batasan-batasan Alkitab dan menjadi bidah. Karenanya, baik Modalisme maupun Triteisme adalah bidah karena terlalu ekstrim di satu aspek.

Alkitab tidaklah sedemikian ekstrim; Alkitab berada di tengah-tengah untuk mempersaksikan dua sisi kebenaran Trinitas. Dalam hal ini Alkitab itu seimbang. Seperti prinsip keseimbangan dalam penciptaan Allah, Alkitab itu seimbang dan berada di tengah, tidak ekstrim. Mengenai kebenaran Allah Tritungal, kita juga harus seimbang dan menghindari ekstrim bidah dari modalisme maupun triteisme.

Selama bertahun-tahun, saya telah menyampaikan banyak berita tentang Allah Tritunggal. Bila kalimat-kalimat tertentu dalam berita-berita tersebut dikeluarkan dari konteksnya, kelihatannya saya juga mengajarkan modalisme. Tetapi saya tidak mengajarkan modalisme maupun triteisme.

Agustinus, seorang pemimpin ajaran Trinitas ilahi, kadang-kadang dituduh sebagai penganut aliran modalisme dan di waktu yang lain dituduh sebagai penganut aliran triteisme. Karena mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh adalah satu Allah, bukan tiga Allah yang terpisah, beliau lalu dituduh mengajarkan modalisme. Tetapi karena beliau dengan tegas menekankan bahwa Allah itu tiga—Bapa, Putra, dan Roh Kudus—beliau kemudian juga dituduh mengajarkan triteisme. Demikian juga ketika kami menunjukkan bahwa Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa Allah itu mutlak satu, karena bahkan Putra itu pun disebut Bapa (Yes. 9:5), dan Putra adalah Roh (1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:17), kami difitnah dengan tuduhan bahwa kami mengajarkan modalisme. Tetapi, ketika tulisan-tulisan kami ditinjau secara wajar dan lengkap, akan jelas bahwa kami tidak mengajarkan modalisme maupun triteisme melainkan wahyu murni mengenai Allah Tritunggal yang sesuai dengan Alkitab.

Apakah yang salah dengan ajaran dalam aliran modalisme? Modalisme mengajarkan bahwa Bapa, Putra, dan Roh. tidak semuanya kekal dan tidak semuanya ada secara bersamaan (serentak ada). Sebaliknya, modalisme menyatakan bahwa Bapa berakhir dengan datangnya Putra dan Putra diakhiri dengan kedatangan Roh. Kaum modalisme menyatakan bahwa Ketiganya dari ke-Allahan ada secara berurutan dalam tiga tingkatan. Mereka tidak percaya bahwa Bapa, Putra, dan Roh itu serentak ada dan saling huni. Tidak seperti mereka, kami percaya bahwa Ketiganya dari ke-Allahan itu serentak ada dan saling huni; kami percaya bahwa secara esensial Bapa, Putra, dan Roh semuanya ada pada saat yang bersamaan dan dalam keadaan yang sama. Tetapi dalam ekonomi ilahi, Ketiganya bekerja dan dinyatakan secara berurutan dalam tiga tahap. Namun, bahkan dalam pekerjaan dan manifestasi-Nya secara ekonomikal, Ketiganya secara esensial masih tetap berada dalam keadaan Mereka yang serentak ada dan saling huni. Bapa memilih kita di dalam Putra dan oleh Roh (Ef. 1:4; 1 Ptr. 1:2a). Putra merampungkan penebusan bagi kita bersama Bapa dan oleh Roh (Yoh. 8:29; Ibr. 9:14). Roh bekerja di dalam kita sebagai Putra (Yoh. 14:26; 2 Kor. 3:17) bersama Bapa (Yoh. 15:26). Pekerjaan dan manifestasi Mereka bersifat ekonomikal, tetapi keadaan yang serentak ada dan saling huni bersifat kekal. Secara esensial, Ketiganya adalah kekal. Yesaya 9:5 mengatakan bahwa Bapa itu kekal, Ibrani 1:12 dan 7:3 mengindikasikan bahwa Putra itu kekal, dan Ibrani 9:14 membicarakan Roh yang kekal. Karenanya, keberadaan, Diri, dari Bapa, Putra, dan Roh bukanlah muncul secara bergantian tetapi Ketiganya kekal.

Allah itu satu tetapi tritunggal—Bapa, Putra, dan Roh (Mat. 3:16-17; 28:19; 2 Kor.13:13; Ef. 2:18; 3:14-16; Why. 1:4-5). Ke-Allahan itu jelas adalah tiga, tetapi Bapa, Putra, dan Roh tentunya bukan tiga Allah yang terpisah. Perjanjian Baru dengan tegas memberi tahu kita bahwa Allah itu satu (1 Kor. 8:4; 1 Tim. 2:5).

Beberapa orang Kristen percaya bahwa Bapa adalah satu Pesona dan Putra adalah Persona lainnya, tetapi Roh hanyalah suatu kuasa. Yang lain percaya bahwa Ketiganya dari ke-Allahan—Bapa, Putra, dan Roh—adalah tiga Allah yang terpisah. Konsep-konsep ini adalah bidah. Menurut wahyu ilahi Firman kudus, kita percaya bahwa Allah kita itu satu. Kita hanya memiliki satu Allah yang tritunggal.

Karena pemikiran kita terbatas, kita tidak mampu menjelaskan Allah Tritunggal secara menyeluruh. Sebenarnya, kita tidak bisa mendefinisikan diri kita secara baik. Lalu, bagaimana kita bisa mendefinisikan Allah Tritunggal secara memadai dan menyeluruh? Ini tidak mungkin. Kita hanya dapat mempercayai apa yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru dengan jelas: Allah itu satu tetapi tritunggal.

Berbeda tetapi Tidak Terpisah

Sebenarnya, mungkin tanpa mereka sadari, guru-guru tertentu yang mengajarkan Alkitab fundamental adalah penganut aliran triteisme. Para guru ini tidak hanya berkata bahwa Bapa, Putra, dan Roh itu berbeda tetapi juga terpisah. Kita dapat mengatakan bahwa Bapa, Putra, dan Roh itu berbeda, tetapi kita tidak dapat mengatakan bahwa Ketiganya terpisah. Kita tidak dapat memisahkan Putra dari Bapa, atau memisahkan Bapa dan Putra dari Roh, karena ketiganya serentak ada dan saling huni. Dalam Injil Yohanes, Putra berkata bahwa Ia ada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Dia (10:38; 14:10-11). Kalau Putra ada di dalam Bapa dan Bapa di dalam Putra, lalu bagaimana Mereka bisa dipisahkan? Tuhan Yesus juga mengatakan bahwa Dia dan Bapa adalah satu (Yoh. 10:30). Inilah bukti selanjutnya bahwa Bapa dan Putra, walaupun berbeda, tidak dapat dipisahkan. Bapa, Putra, dan Roh itu berbeda tetapi tidak terpisah, karena Mereka tiga namun satu.

Allah Tritunggal di dalam Kita

Kita perlu melihat bahwa Allah yang mendispensikan diri-Nya ke dalam kita adalah Tritunggal. Apakah Anda menyadari bahwa Allah Tritunggal berada di dalam Anda? Menurut Perjanjian Baru, Bapa, Putra, dan Roh, semuanya berada di dalam kita (Ef. 4:6; Kol. 1:27; Yoh. 14:17). Walaupun Bapa, Putra, dan Roh, semuanya berada di dalam kita, di dalam pengalaman, kita merasa bahwa yang ada di dalam kita hanya ada satu. "Satu" yang berhuni di dalam kita ini adalah Allah Tritunggal. Martin Luther memperingatkan agar kita jangan menjamah perkara Trinitas ilahi karena pertimbangan sebagai berikut:

Kita harus hidup dalam kesederhanaan ini dan jangan menjelajahi kedalaman dan kedahsyatan lautan perbantahan mengenai pertanyaan-pertanyaan sedemikian. Karena judul ini (Trinitas) sangatlah rumit, pertama karena ketelitiannya, kemudian juga karena kelemahan kita. Karenanya, berharap untuk menelusuri hal-hal ini dengan lebih teliti adalah perkara yang sama sekali tidak masuk akal dan membahayakan. Karena jika kita bisa melakukan hal ini, kita tidak lagi memerlukan tuntunan Kitab Suci. Ya, kita bahkan tidak memerlukan sang Guru maupun sang Raja. Selain itu, mereka yang mengabaikan Kitab Suci dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan sedemikian dengan rasa percaya diri terhadap kemampuan pikirannya adalah guru-guru Allah, bukan murid-Nya....Jika ada pemikiran-pemikiran yang mengganggu Anda di sini sehingga timbul pertanyaan-pertanyaan seperti... Lalu, apakah ada dua Allah? Jawab: Hanya ada satu Allah, dan juga tetap ada Bapa dan Putra. Bagaimana mungkin? Jawaban dengan segala kerendahan hati: saya tidak tahu....

Tentu saja saya tidak dapat menjelaskan Trinitas ilahi secara memadai. Saya hanya menyajikan fakta-fakta dari Perjanjian Baru mengenai kebenaran besar ini agar Anda semua terkesan dengan fakta ilahi ini bahwa Allah Tritunggal sedang mendispensikan diri-Nya ke dalam diri kita dalam Trinitas-Nya. Jangan terlalu banyak menggunakan pikiran Anda untuk menjelajahinya. Sebaliknya, latihlah roh Anda untuk mengalami dan menikmati pendispensian yang menakjubkan dari Allah Tritunggal sebagai Bapa, Putra, dan Roh.