← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 2/20

PERJANJIAN BARU DAN EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (2)

Pembacaan Alkitab:

Ibr. 10:7b; Mat. 1:22; Luk.24:25-27, 44-46; Rm. 1:2; 1 Kor. 15:3-4;

Kol. 1:25-27; Ef. 1:9-10, 3:9-11; Rm. 14:17; Why. 21:2, 10-11

Dalam berita ini, kita akan melanjutkan meninjau Perjanjian Baru dan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Kita telah melihat bahwa Perjanjian Baru berkaitan dengan Perjanjian Lama, yaitu penggenapan dari Perjanjian Lama, perkembangan dan penuaian dari benih yang ditaburkan dalam Perjanjian Lama, dan kelengkapan (perampungan) wahyu ilahi. Sekarang, kita akan melanjutkan melihat bahwa Perjanjian Baru adalah wahyu ekonomi Perjanjian Baru Allah (Kol. 1:26-27).

Wahyu Mengenai Ekonomi Perjanjian Baru Allah,

Menyingkapkan Tujuh Butir Utama

Perjanjian Baru adalah wahyu mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Wahyu ini menyingkapkan tujuh butir utama: Allah, Kristus, Roh itu, kaum beriman, gereja, kerajaan, dan Yerusalem Baru. Ketujuh butir ini adalah tujuh persona. Allah adalah persona, Kristus dan Roh itu juga adalah persona-persona. Kaum beriman bisa dipandang sebagai persona korporat, demikian pula dengan gereja. Mungkin ada beberapa orang yang mempermasalahkan kerajaan sebagai persona. Tetapi kami dengan tegas mengatakan bahwa kerajaan adalah persona.

Kita perlu meninjau lebih rinci mengenai kerajaan sebagai persona. Kita akan memakai kerajaan binatang sebagai suatu ilustrasi. Apakah kerajaan binatang? Kerajaan binatang adalah jumlah total dari semua binatang. Jadi kerajaan binatang adalah semua binatang. Jika tidak ada satu pun binatang, maka tidak akan ada kerajaan binatang. Prinsipnya sama dengan kerajaan tumbuhan. Kerajaan tumbuhan terdiri atas segala tumbuhan. Jika tidak ada tumbuh-tumbuhan, maka tidak akan ada kerajaan tumbuhan. Demikian pula kerajaan manusia terdiri atas seluruh umat manusia. Bila kita melihat kedalaman ajaran Alkitab mengenai kerajaan, kita akan menyadari bahwa kerajaan Allah sebenarnya adalah Kristus itu sendiri yang dikembangkan dan diperbesar menjadi satu kerajaan. Kerajaan Allah adalah sang Juruselamat, Tuhan Yesus, sebagai benih hayat yang ditaburkan ke dalam kaum beriman-Nya, umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang menjadi suatu alam tempat Allah dapat memerintah kerajaan-Nya dalam hayat ilahi. Karenanya, kerajaan sebenarnya adalah satu persona. Hal ini secara jelas dibuktikan dalam kitab Daniel 2:34-35 oleh sebuah batu yang terungkit lepas tanpa perbuatan tangan manusia, melambangkan Kristus yang dipersiapkan Allah, yang setelah menimpa patung itu tepat pada kakinya sehingga remuk, menghancurkan setiap bagian dari patung itu, semua kekuasaan duniawi, lalu menjadi sebuah gunung besar yang memenuhi seluruh bumi, melambangkan kerajaan Allah yang akan datang (Why. 11:15). Hal ini mengindikasikan bahwa Kristus dipersiapkan oleh Allah sebagai batu, pada saat kedatangan-Nya kembali, Ia akan berkembang menjadi kerajaan Allah, sebagai gunung besar yang memenuhi seluruh bumi.

Sebenarnya, kerajaan adalah aspek lain dari gereja. Kita jangan mengira bahwa gereja adalah satu hal dan kerajaan adalah hal lainnya, atau gereja adalah satu persona dan kerajaan adalah persona lainnya. Sebenarnya, gereja dan kerajaan adalah satu persona dalam dua aspek.

Roma 14:17 mengatakan, "Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita oleh Roh Kudus." Ayat ini adalah

bukti kuat bahwa gereja dalam zaman gereja adalah kerajaan Allah karena konteksnya di sini berkenaan dengan kehidupan gereja di zaman ini. Yohanes 3:3 dan 5 mewahyukan bahwa kelahiran kembali adalah pintu gerbang zaman ini untuk masuk ke dalam kerajaan Allah. Kisah Para Rasul adalah sebuah kitab tentang penyebaran Injil dan pendirian gereja, namun dalam Kisah Para Rasul 1:3 Tuhan Yesus berbicara kepada para murid-Nya selama empat puluh hari mengenai kerajaan Allah demi mempersiapkan mereka untuk pekerjaan ini. Selanjutnya, dalam Kisah Para Rasul 8:12, 20:25, 28:23-31, murid-murid memberitakan kerajaan Allah bersamaan dengan pemberitaan mereka mengenai Yesus Kristus untuk perwujudan gereja-gereja. Selanjutnya dalam 1 Korintus 6:9; Galatia 5:21; Efesus 5:5, menurut konteksnya, Paulus memandang kerajaan Allah sama dengan gereja. Ia dan rekan sekerjanya bekerja untuk gereja, namun dalam Kolose 4:11 ia berkata bahwa mereka berjerih lelah untuk kerajaan Allah. Perkataan Tuhan Yesus dalam Matius 16:18-19 juga mengungkapkan secara jelas bahwa kerajaan adalah gereja. Dalam Wahyu 1:9, Yohanes menunjukkan bahwa ia dan kaum beriman lainnya telah berada dalam kerajaan. Bila kita meninjau Roma 14:17 menurut konteks seluruh kitab Roma, kita akan melihat bahwa kerajaan Allah dalam ayat ini pasti mengacu kepada gereja.

Hari ini gereja adalah kerajaan Allah: Karena gereja adalah persona korporat dan gereja adalah kerajaan, tidaklah masuk akal jika kita mengatakan bahwa kerajaan bukan satu persona. Gereja adalah persona korporat dan kerajaan juga adalah persona korporat.

Seperti gereja dan kerajaan, Yerusalem Baru juga adalah satu persona. Ketika orang mendengar bahwa Yerusalem Baru adalah satu persona, mereka mungkin berkata, "Yerusalem Baru adalah kota. Bagaimana Anda bisa berkata bahwa kota adalah persona?" Wahyu 21 menunjukkan bahwa Yerusalem Baru adalah persona, karena pasal tersebut memberi tahu kita bahwa Yerusalem Baru "berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya" (ay. 2) dan juga adalah "pengantin perempuan, mempelai Anak Domba" (ay. 9). Bukankah istri adalah seorang persona? Karena Yerusalem Baru adalah istri Anak Domba dan istri adalah satu persona, maka Yerusalem Baru adalah persona, persona korporat.

Ketujuh butir utama yang diungkapkan dalam wahyu ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah persona. Allah, Kristus, dan Roh itu adalah persona-persona individu, sedangkan kaum beriman, gereja, kerajaan, dan Yerusalem Baru adalah persona-persona korporat.

EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH

Pengelolaan Rumah Tangga Allah,

Pengaturan Administratif Rumah Tangga Allah,

Dispensation (Administrasi) Ilahi

Apakah ekonomi Perjanjian Baru Allah? Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah pengelolaan rumah tangga Allah, pengaturan administratif rumah tangga Allah, dispensation (rencana) ilahi. Dispensation (administrasi) yang kita maksudkan di sini adalah pengaturan, yaitu rencana.

Ekonomi ini, dispensation ini, diwahyukan dalam Efesus 1:10 dan 3:9. Efesus 1:10 mengatakan, "Sebagai persiapan (dispensation) kegenapan waktu untuk mempersatukan di dalam Kristus sebagai Kepala segala sesuatu, baik yang di surga maupun yang di bumi." Istilah Yunani yang diterjemahkan menjadi "dispensation" di sini adalah oikonomia, dari istilah ini kita dapat memperoleh istilah "ekonomi". Allah berencana untuk memiliki suatu ekonomi. Semua kerajaan dalam alam semesta, kerajaan malaikat, kerajaan manusia, kerajaan binatang, dan kerajaan tumbuhan, adalah untuk ekonomi ini, dispensation ini, dan sedang bergerak menuju perampungannya.

Istilah Yunani yang diterjemahkan menjadi "dispensation" dalam Efesus 1:10 juga dapat diterjemahkan "kepengurusan (stewardship)" atau "pengaturan rumah tangga." Istilah "administrasi" bisa juga digunakan di sini karena pada akhirnya dispensation, kepengurusan (stewardship), dan pengaturan rumah tangga ini akan menjadi administrasi kekal. Seluruh alam semesta akan berada di bawah satu administrasi. Meskipun istilah administrasi bisa dipakai di sini, saya lebih suka memakai istilah dispensation, kepengurusan (stewardship), dan pengaturan rumah tangga.

Dalam kaitannya dengan tujuan Allah, istilah "ekonomi" tidak lazim bagi banyak orang Kristen. Istilah Yunani untuk ekonomi, oikonomia, dipakai dua kali dalam kitab Efesus. Kita telah melihat bahwa dalam Efesus 1:10 Paulus berbicara tentang dispensation, atau ekonomi kegenapan waktu, di mana segala sesuatu dipersatukan dalam Kristus sebagai Kepala. Kemudian dalam 3:2 beliau berbicara tentang tugas penyelenggaraan (kepengurusan/stewardship) kasih karunia Allah, dan dalam 3:9, tugas penyelenggaraan (dispensation) rahasia (misteri). Dalam 3:9 Paulus berkata, "Dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan (dispensation) rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi dalam Allah, yang menciptakan segala sesuatu." Misteri (rahasia) Allah adalah tujuan-Nya yang tersembunyi. Tujuan-Nya adalah mendispensikan (menyalurkan) diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Karenanya, di sini ada dispensation dari misteri Allah. Misteri ini tersembunyi dalam Allah selama berabad-abad, yaitu dari kekekalan dan melalui berabad-abad yang lampau, namun sekarang telah dinyatakan kepada kaum beriman Perjanjian Baru.

Dalam 1 Timotius 1:4 Paulus berbicara tentang, "Tertib hidup keselamatan (dispensation) yang diberikan Allah dalam iman." Sekali lagi istilah Yunani yang diterjemahkan "dispensation" di sini juga adalah oikonomia. Dalam bahasa Yunani, istilah "dispensation Allah" di sini juga berarti ekonomi rumah tangga Allah. Inilah administrasi rumah tangga Allah, yakni untuk mendispensikan diri-Nya dalam Kristus ke dalam umat pilihan-Nya agar Ia memiliki rumah, rumah tangga, untuk mengekspresikan diri-Nya; dan rumah tangga tersebut adalah gereja, Tubuh Kristus. Ministri Paulus terpusat pada ekonomi Allah (Kol. 1:25; 1 Kor.9:17).

Rencana yang Dibuat Allah

Menurut Perkenan-Nya

Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah rencana yang dibuat Allah menurut perkenan-Nya (rencana kerelaan-Nya). Mengenai hal ini, Efesus 1:9 mengatakan, "Sebab Ia telah menyatakan rahasia kehendak-Nya kepada kita, sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, yaitu rencana kerelaan yang dari semula telah ditetapkan-Nya di dalam Kristus." Rencana kerelaan Allah adalah hasrat hati-Nya. Rencana kerelaan ini adalah sesuatu yang Allah rancang di dalam diri-Nya untuk mewujudkan suatu dispensation (administrasi), suatu rencana (ay. 10). Rencana yang dibuat oleh Allah ini sesuai dengan rencana kerelaan-Nya, hasrat hati-Nya.

Rencana kerelaan Allah telah dirancang oleh Allah di dalam diri-Nya. Ini berarti bahwa Allah sendiri adalah pemula, asal, dan ruang lingkup dari tujuan kekal-Nya. Allah mempunyai rencana, keinginan, dan menurut rencana-Nya, Ia memiliki tujuan. Eksistensi alam semesta ini adalah menurut tujuan Allah. Surga, bumi, jutaan benda, dan umat manusia, semuanya seturut tujuan keinginan hati Allah. Jadi, dalam alam semesta ada satu keinginan, yaitu keinginan Allah. Karena keinginan ini telah dirancang oleh Allah, maka tidak ada seorang pun dan tidak ada satu hal pun yang dapat merobohkannya. Allah merencanakan hasrat ini di dalam diri-Nya; Ia tidak berembuk dengan siapa pun mengenai hal Ini.

Kita telah melihat bahwa Efesus 1:9 membicarakan tentang rencana kerelaan Allah. Setiap orang mendambakan kesenangan. Jika kita mendambakan kesenangan, maka Allah juga mendambakannya. Setiap makhluk hidup damba akan kesenangan. Faktanya, semakin hidup Anda, maka akan semakin banyak kesenangan yang Anda perlukan. Karena Allah adalah Yang paling hidup, tentunya Ia sangat memerlukan kesenangan. Jika sebagai orang berdosa yang jatuh kita memerlukan kesenangan, lebih-lebih Allah sang Hidup, betapa Ia memerlukannya.

Tidak seperti dalam kitab Roma, yang dimulai dari sudut pandang mengenai keadaan manusia yang jatuh, kitab Efesus ditulis dari sudut pandang rencana kerelaan Allah, hasrat hati-Nya. Lalu, apakah rencana kerelaan Allah itu? Rencana kerelaan Allah adalah mendispensikan diri-Nya ke dalam kita. Inilah hasrat Allah satu-satunya. Kita dapat berkata bahwa Allah sedang "bermimpi" mengenai pendispensian diri-Nya ke dalam kita. Kedambaan-Nya, aspirasi-Nya, adalah untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya.

Banyak orang Kristen mengabaikan hasrat Allah untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam kita. Mereka bukannya memperhatikan perkara ini, tetapi malah memperhatikan ajaran tentang bagaimana menjadi kudus, rohani, dan menang. Banyak yang belum pernah mendengar bahwa Allah ingin melakukan satu hal—mendispensikan diri-Nya ke dalam kita.

Sepertinya seorang beriman bisa menjadi "kudus" walaupun Allah tidak banyak disalurkan ke dalam dirinya. Namun kekudusan semacam itu tidak murni, jadi tidak stabil. Jika Allah didispensikan ke dalam diri kita, kita akan benar-benar kudus. Sebenarnya, kekudusan tak lain adalah Allah didispensikan ke dalam diri kita secara subjektif. Allah yang objektif itu kudus hanya terhadap dan oleh diri-Nya sendiri. Tetapi Allah yang subjektif—Allah yang didispensikan ke dalam kita—menjadi kekudusan subjektif kita. Karenanya, bagi kita, kekudusan yang sejati adalah Allah didispensikan ke dalam diri kita. Allah mendispensikan diri-Nya ke dalam kita untuk menjadi segala sesuatu kita adalah rencana kerelaan Allah, hasrat hati-Nya.

Rencana Kekal

yang Dibuat Allah Dalam Kristus

Ekonomi Allah adalah rencana kekal yang dibuat oleh Allah dalam Kristus. Mengenai hal ini, Efesus 3:11 mengatakan, "Sesuai dengan maksud abadi, yang telah dilaksanakannya dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." Maksud abadi adalah maksud kekekalan, tujuan kekal, rencana kekal Allah yang dibuat dalam kekekalan yang lampau.

Allah membuat ekonomi kekal-Nya dalam Kristus. Kristus yang diwahyukan dalam Alkitab adalah perwujudan Allah Tritunggal dan semua proses yang telah dilalui-Nya, termasuk inkarnasi, kehidupan insani, penyaliban, kebangkitan, naik, dan turun. Dalam Kristus yang sedemikian inilah, Allah membuat ekonomi kekal-Nya. Karenanya, Kristus adalah elemen, ruang lingkup, sarana, maksud, dan sasaran dari ekonomi kekal Allah. Kristus adalah segala-Nya dalam ekonomi Allah. Sesungguhnya, semua isi ekonomi kekal Allah tak lain adalah Kristus. Kristus adalah inti, lingkaran luar, elemen, ruang lingkup, sarana, tujuan, dan sasaran dari ekonomi ini. Menurut Efesus 3, ekonomi ini dibuat di dalam Kristus.

Mendispensikan Diri Allah

ke dalam Umat Pilihan-Nya dalam Trinitas-Nya

Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah rencana-Nya untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya dalam trinitas-Nya. Bagaimanakah caranya Allah mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya dalam trinitas-Nya? Dispensi ini ada tiga langkah. Pertama, dari Allah Bapa. Bapa adalah sumbernya, asalnya. Kedua, dispensi ini melalui Allah Putra, yang adalah jalannya. Ketiga, dispensi Allah berada dalam Allah Roh, yang adalah instrumen dan ruang lingkupnya. Melalui langkah-langkah ini, yaitu dari Allah Bapa, melalui Allah Putra, dan dalam Allah Roh, Allah mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya.

Untuk Menghasilkan Gereja sebagai Kerajaan Allah

Terampung dalam Yerusalem Baru

Ekonomi Perjanjian Baru Allah untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya adalah untuk menghasilkan gereja (Ef. 3:10). Pendispensian ini melahirkan gereja untuk menyatakan pelbagai ragam hikmat Allah menurut maksud kekal-Nya yang dibuat dalam Kristus (Ef. 3:9-11). Ini berarti bahwa melalui pendispensian Allah dalam trinitas-Nya, gereja dihasilkan untuk memamerkan pelbagai ragam hikmat Allah.

Kita telah menunjukkan bahwa hari ini gereja adalah kerajaan Allah. Karenanya, dispensi Allah ke dalam diri kita menghasilkan gereja sebagai kerajaan Allah. Satu Korintus 4:17 dan 20 menunjukkan bahwa kerajaan adalah kehidupan gereja hari ini. Dalam ayat 17 Paulus menunjukkan bagaimana ia hidup, yaitu "dalam Kristus Yesus, seperti yang kuajarkan di mana-mana dalam setiap jemaat." Kemudian dalam ayat 20 beliau berkata, "Kerajaan Allah bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa." Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kerajaan Allah adalah gereja, dan gereja adalah kerajaan. Kerajaan ada di sini karena gereja ada di sini.

Gereja sebagai kerajaan Allah akan ada perampungannya, dan perampungan ini adalah Yerusalem Baru untuk ekspresi kekal Allah Tritunggal. Wahyu 21:2 mengatakan, "Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem Baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan, yang berdandan untuk suaminya." Yerusalem Baru adalah susunan yang hidup dari semua orang kudus yang ditebus oleh Allah dari sepanjang generasi. Yerusalem Baru adalah pengantin perempuan Kristus sebagai pasangan-Nya (Yoh. 3:29); Yerusalem Baru juga adalah kota kudus Allah sebagai tempat kediaman-Nya. Sebagai mempelai perempuan Kristus, Yerusalem Baru berasal dari Kristus, "Suaminya", dan menjadi pasangan-Nya, sama seperti Hawa berasal dari Adam, suaminya, dan menjadi pasangan-Nya (Kej. 2:21-24). Yerusalem Baru dipersiapkan sebagai pengantin perempuan untuk suaminya melalui berpartisipasi dalam kekayaan hayat dan sifat Kristus. Sebagai kota kudus Allah, Yerusalem Baru dikuduskan sepenuhnya kepada Allah dan sepenuhnya dijenuhi dengan sifat kudus Allah untuk menjadi tempat kediaman-Nya.

Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, Allah menyamakan umat pilihan-Nya dengan seorang pendamping (Yes. 54:6; Yer. 3:1; Yeh. 16:8; Hos. 2:19; 2 Kor. 11:2; Ef. 5:31-32) dan tempat kediaman untuk diri-Nya sendiri (Kel. 29:45-46; Bil. 5:3; Yeh. 43:7, 9; Mzm. 68:19; 1 Kor. 3:16-17, 6:19; 2 Kor. 6:16; 1 Tim. 3:15). Pendamping (istri) adalah untuk kepuasan-Nya dalam kasih, dan tempat kediaman adalah untuk perhentian-Nya dalam ekspresi. Kedua aspek ini akan rampung sempurna dalam Yerusalem Baru. Dalam Yerusalem Baru, Allah akan memiliki kepuasan penuh dalam kasih dan perhentian puncak dalam ekspresi sampai selama-lamanya.

Wahyu 21:10 dan 11 mengatakan, "Lalu, di dalam roh ia membawa aku ke atas sebuah gunung yang besar lagi tinggi dan ia menunjukkan kepadaku kota yang kudus itu, Yerusalem, turun dari surga, dari Allah. Kota itu penuh dengan kemuliaan Allah dan cahayanya sama seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal." Kemuliaan Allah adalah ekspresi Allah, Allah diekspresikan. Kita telah ditakdirkan untuk kemuliaan ini dan dipanggil untuk itu (1 Kor. 2:7; 1 Ptr. 5:10; 1 Tes. 2:12). Kita sedang ditransformasi ke dalam kemuliaan ini (2 Kor. 3:18) dan akan dibawa masuk ke dalamnya (Ibr. 2:10). Akhirnya, kita akan dimuliakan bersama Kristus (Rm. 8:17, 30) untuk mengemban kemuliaan Allah bagi ekspresi Allah dalam Yerusalem Baru. Karenanya, pendispensian diri Allah ke dalam umat pilihan-Nya untuk menghasilkan gereja sebagai kerajaan Allah akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai ekspresi kekal-Nya.

PERLUNYA VLSI EKONOMI ALLAH

Selama bertahun-tahun kami telah menyampaikan banyak berita tentang ekonomi Perjanjian Baru Allah. Tetapi, menurut pengamatan saya, kebanyakan orang-orang kudus yang telah menerima berita-berita ini masih perlu visi yang jelas mengenai ekonomi Allah. Kita perlu visi mengenai perkara sentral dalam Alkitab—hasrat hati Allah untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya dalam trinitas-Nya demi menghasilkan gereja, yang adalah kerajaan Allah yang akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai ekspresi kekal Allah Tritunggal.

Kita perlu visi mengenai ekonomi Perjanjian Baru Allah. Hanya tahu mengenai hal ini tidak cukup. Anda dapat mengenal seseorang meski tidak pernah melihatnya. Melihat seseorang sangat berbeda dari sekadar mengetahuinya. Demikian pula melihat visi ekonomi Perjanjian Baru Allah berbeda dengan sekadar mendengarnya. Saya harap semua orang kudus mau meluangkan banyak waktu untuk berdoa mengenai hal ini, baik secara individu maupun secara korporat. Kita perlu berkata, "Tuhan, saya berseru pada-Mu untuk ekonomi Allah. Saya perlu visi ekonomi Perjanjian Baru. Tuhan, saya telah diselamatkan sekian lama, tetapi saya belum nampak visi bahwa Perjanjian Baru mewahyukan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Tuhan, buat saya melihat bahwa Allah Tritunggal ingin mendispensikan diri-Nya ke dalam diri kita agar gereja bisa dihasilkan sebagai kerajaan Allah hingga Allah bisa memiliki perampungan kekal untuk mengekspresikan diri-Nya secara korporat sampai selama-lamanya."

DISPENSATION DAN DISPENSI

Penting bagi kita untuk membedakan antara istilah "dispensation" dengan istilah "dispensi". Menurut kamus, dispensation adalah kata benda dari kata kerja "dispense". Tetapi menurut pemakaian Perjanjian Baru, istilah dispensation mengacu kepada pengaturan Allah, rencana Allah.

Kita telah melihat bahwa dispensation adalah terjemahan dari istilah Yunani oikonomia, yang terdiri atas dua kata: oikos, yang berarti rumah, dan nomos, yang berarti hukum. Oikonomia mengacu pada peraturan rumah tangga atau manajemen rumah tangga. Karena istilah ini mengacu kepada administrasi dan manajemen rumah tangga, maka dalam istilah ini tersirat arti rencana. Dalam Efesus 3, istilah dispensation berarti rencana, pengaturan. Karenanya, ketika kami menggunakan istilah dispensation, yang kami maksudkan adalah manajemen rumah tangga Allah, pengaturan Allah, rencana Allah. Ketika kami memakai istilah dispensation, yang kami maksudkan bukan dispensi (tindakan pendispensian diri Allah ke dalam kita). Meskipun demikian, dalam dispensation Allah, perkara yang penting adalah dispensi Allah Tritunggal ke dalam kita.

Jika kita jelas mengenai perbedaan antara dispensation dengan dispensi, kita tidak akan berkata bahwa kita berada di bawah dispensation Allah melainkan di bawah dispensi-Nya. Berada di bawah dispensation Allah berarti berada di bawah pemerintahan administratif-Nya. Berada di bawah dispensi Allah berarti berada di bawah tindakan dispensi-Nya, tindakan-Nya untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam kita. Bila kami menggunakan istilah dispensation untuk menunjukkan dispensi Allah, orang lain bisa salah mengerti dan mengira bahwa kami sedang membicarakan rencana yang dibuat oleh Allah. Karenanya, mari kita gunakan istilah dispensation dan dispensi menurut penggunaan Alkitab, sekali lagi, dispensation mengacu kepada pengaturan administratif Allah dan dispensi mengacu kepada tindakan-Nya untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam kita.