← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 1/20

PERJANJIAN BARU DAN EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH (1)

Pembacaan Alkitab:

Ibr. 10:7b; Mat. 1:22; Luk.24:25-27, 44-46; Rm. 1:2; 1 Kor. 15:3-4;

Kol. 1:25-27; Ef. 1:9-10, 3:9-11; Rm. 14:17; Why. 21:2, 10-11

Dalam rangkaian berita ini kita akan membahas kesimpulan Perjanjian Baru. Karena Perjanjian Baru terdiri atas dua puluh tujuh kitab, maka tidaklah mudah untuk membicarakan kesimpulan dari Perjanjian Baru. Dalam berita ini kita akan meninjau Perjanjian Baru dan Ekonomi Perjanjian Baru Allah.

PERJANJIAN BARU

Berkaitan dengan Perjanjian lama

Perjanjian Baru berkaitan dengan Perjanjian Lama. Hal ini terlihat dalam Ibrani 10:7, "Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku." Ini mengacu kepada Perjanjian Lama yang memberi kita gambaran lengkap tentang Kristus, baik melalui kalimat gamblang maupun melalui lambang-lambang (Luk. 24:27, 44, 46; Yoh. 5:39, 46).

Agustinus pernah mengatakan bahwa Perjanjian Baru terkandung dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama dijabarkan dalam Perjanjian Baru. Kita bisa mengatakan demikian: Perjanjian Baru ada dalam isi Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama ada dalam penjelasan Perjanjian Baru. Ini berarti bahwa Perjanjian Baru berada dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Lama dijelaskan oleh Perjanjian Baru.

Garis Sentral mengenai Kristus

Apa artinya Perjanjian Baru terkandung dalam Perjanjian Lama? Apa isi Perjanjian Baru yang terkandung dalam Perjanjian Lama? Ada yang mengatakan bahwa dalam Perjanjian Lama kita memiliki banyak janji, nubuat, lambang, dan bayang-bayang mengenai Kristus. Tentu saja hal ini benar. Adapun titik fokus dari semua janji, nubuat, lambang, dan bayang-bayang dalam Perjanjian Lama adalah Kristus. Namun kita harus bertanya lebih jauh lagi: Kristus yang bagaimanakah yang telah dijanjikan, dinubuatkan, dilambangkan, dan digambarkan dalam Perjanjian Lama? Dapatkah Anda memberi penjelasan secara singkat tentang Kristus tersebut?

Mudah terlihat, walaupun tanpa wahyu, bahwa Perjanjian Lama menyajikan Kristus sebagai Raja. Menurut Kejadian 3:15, Kristuslah yang meremukkan kepala ular. Namun ayat ini tidak berbicara tentang perkara sentral mengenai apa adanya Kristus. Dalam Perjanjian Lama, garis sentral mengenai Kristus, yaitu Kristus adalah Allah yang kekal yang berinkarnasi menjadi manusia yang hidup di bumi, mati di atas salib, bangkit, naik, dan turun. Ketujuh butir utama ini adalah garis sentral mengenai Kristus yang dijanjikan, dinubuatkan, dilambangkan, dan digambarkan dalam Perjanjian Lama. Mengenai Kristus sebagai Allah yang kekal, Mikha 5:1 mengatakan bahwa permulaan-Nya sudah sejak purbakala (sejak kekekalan—T1.). Selanjutnya Yesaya 9:5 membicarakan Dia sebagai Allah yang Perkasa.

Untuk tujuan apa Kristus, Allah yang kekal, berinkarnasi, hidup di bumi, mati di atas salib, bangkit dari kematian, naik ke surga, dan turun? Orang-orang yang mengenal Alkitab secara dangkal akan mengatakan bahwa "Kristus menjadi manusia, hidup di bumi, disalibkan, bangkit, naik surga, dan turun adalah untuk menyelamatkan kita dari neraka dan membawa kita ke surga." Dalam terang Perjanjian Baru, kita dengan tegas dapat mengatakan bahwa Kristus, Allah yang kekal, berinkarnasi, hidup di bumi, mati di atas salib, bangkit dari antara orang mati, naik ke surga, dan turun untuk mendispensikan Allah Tritunggal ke dalam umat pilihan-Nya demi menghasilkan gereja. Walaupun istilah "gereja" tidak ada dalam Perjanjian Lama, tetapi orang-orang tertentu dalam Perjanjian Lama melambangkan gereja, misalnya Hawa dan Ribka. Karenanya, baik Kristus maupun gereja terkandung dalam Perjanjian Lama.

Dispensi Allah

Dalam Perjanjian Lama, kita juga bisa melihat perkara dispensi (penyaluran) Allah. Kejadian 1:27 mengatakan, "Maka Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya (gambar-Nya), menurut citra Allah diciptakan-Nya dia." Mengapa Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita bisa memakai ilustrasi tangan dan sarung tangan. Sarung tangan dibuat menurut gambar tangan dengan tujuan untuk diisi dengan tangan. Demikian pula halnya dengan Allah menciptakan manusia menurut citra-Nya agar manusia dapat menampung Allah. Bila kita menerima sedikit saja hikmat dari Allah, kita akan menyadari bahwa Ia menciptakan manusia menurut citra-Nya dengan maksud untuk masuk ke dalam manusia dan berhuni di dalamnya.

Pengertian ini ditegaskan lagi oleh Roma 9:23 yang membicarakan tentang Allah "menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas benda-benda (bejana-bejana—T1.) belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan." Di sini kita melihat bahwa manusia dibuat menjadi bejana untuk menampung kemuliaan Allah. Karena manusia diciptakan untuk menampung kemuliaan Allah dan kemuliaan Allah sebenarnya adalah Diri Allah sendiri yang diekspresikan, maka manusia diciptakan menurut citra Allah dengan maksud untuk menampung Allah. Maksud Allah menciptakan manusia sedemikian adalah untuk masuk ke dalam manusia. Kata "citra" dalam Kejadian 1:27 mengindikasikan bahwa maksud Allah adalah untuk masuk ke dalam manusia yang diciptakan oleh-Nya.

Dengan cara apa Allah masuk ke dalam manusia? Bukan dengan cara seperti memasukkan buah apel ke dalam kotak. Untuk menjawab pertanyaan ini, kita perlu meninjau Kejadian pasal dua. Menurut pasal ini, setelah menciptakan manusia, Allah lalu meletakkan manusia di depan pohon hayat dengan maksud agar manusia dapat memakan buah pohon ini; dengan demikian manusia bisa menerima Allah untuk masuk ke dalamnya. Seperti yang kita lihat, ini melibatkan perbauran antara Allah dengan manusia.

Ada orang yang menentang kebenaran Alkitab mengenai perbauran antara Allah dengan manusia. Menentang kebenaran ini berarti berada dalam kegelapan.

Dalam Yohanes 6, Tuhan Yesus berkata bahwa Ia adalah roti yang turun dari surga untuk kita makan (ay. 32, 53-54, 56-58). Dalam pasal yang sama, Tuhan dua kali berkata, "Akulah roti hidup" (ay. 35, 48). Roti hidup adalah suplai hayat dalam bentuk makanan, seperti pohon hayat (Kej. 2:9) yang juga adalah suplai hayat "yang baik untuk dimakan". Makanan yang kita makan pada akhirnya akan berbaur dengan diri kita. Kalau makanan yang kita makan tidak berbaur dengan diri kita, maka pastilah pencernaan kita itu buruk. Makanan yang telah kita makan dan kita cerna akan diasimilasikan ke dalam diri kita sehingga makanan tersebut menjadi jaringan, tulang, daging, dan kulit kita. Ini berarti bahwa makanan yang kita makan, cerna, dan asimilasi, sebenarnya menjadi diri kita. Tentunya ini adalah perkara pembauran. Karenanya, tidaklah benar mengatakan bahwa makanan yang kita makan tidak berbaur dengan kita.

Pemikiran mengenai pembauran ini tersirat dalam Kejadian 2. Allah masuk ke dalam manusia bukan seperti memasukkan apel ke dalam kotak. Sebaliknya, Allah masuk ke dalam kita seperti makanan yang masuk ke dalam diri kita dan menjadi satu dengan kita. Dalam Kejadian 1, kita melihat bahwa manusia diciptakan oleh Allah menurut gambar-Nya. Kemudian dalam Kejadian 2, manusia yang diciptakan oleh Allah ditempatkan di depan pohon hayat. Ini mengindikasikan bahwa Allah ingin agar manusia menerima Dia sebagai makanan. Dalam pasal ini, ada dispensi Allah ke dalam manusia.

Makan menyiratkan dispensi maupun perbauran. Ketika seorang ibu menyiapkan makanan untuk keluarganya, ia mendispensikan makanan kepada mereka. Ketika anggota keluarga ibu itu makan, makanan tersebut didispensikan ke dalam mereka. Setelah didispensikan, makanan tersebut berbaur dengan orang-orang yang memakannya. Dalam Kejadian 1 dan 2, kita pun melihat pendispensian diri Allah ke dalam manusia dan perbauran diri-Nya dengan manusia.

Bagaimana Allah dapat didispensikan ke dalam manusia dan berbaur dengan manusia? Ini bisa terwujud hanya melalui Allah Tritunggal berinkarnasi, hidup di bumi, mati di atas salib, bangkit, naik ke surga, dan turun. Melalui cara ini, Allah mendispensikan diri-Nya ke dalam kita dan berbaur dengan kita.

Alkitab sangatlah dalam. Karena Alkitab adalah kitab yang sangat dalam, kita tidak seharusnya hanya melihat permukaannya saja. Sebaliknya kita perlu melihat apa yang diwahyukan di kedalaman Alkitab. Kita bukan hanya perlu melihat bahwa Kristus dijanjikan, dinubuatkan, dilambangkan, dan digambarkan dalam Perjanjian Lama; kita juga perlu melihat Kristus yang bagaimanakah yang dijanjikan, dinubuatkan, dilambangkan, dan digambarkan dalam Perjanjian Lama. Seperti yang telah kami tunjukkan, Kristus inilah Allah yang kekal yang berinkarnasi, hidup di bumi, mati, bangkit, naik, dan turun. Kita juga perlu melihat tujuan Allah agar Kristus menjadi Persona yang sedemikian itu.

Isi Perjanjian Baru adalah ekonomi Perjanjian Baru Allah. Seperti yang kita lihat, ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah dispensi Allah ke dalam umat pilihan-Nya untuk menghasilkan gereja. Ekonomi kekal Allah ini, yang merupakan isi Perjanjian Baru, terkandung dalam Perjanjian Lama.

Penggenapan Perjanjian Lama

Perjanjian Baru adalah penggenapan dari Perjanjian Lama. Matius 1:22 dan 23 menunjukkan hal ini, "Hal itu terjadi supaya genaplah yang difirmankan Tuhan oleh nabi: 'Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel' — yang berarti: Allah menyertai kita." Anak laki-laki yang telah dilahirkan oleh anak dara itu adalah benih perempuan yang dinubuatkan dalam Kejadian 3:15. Karenanya, kelahiran Kristus adalah penggenapan yang besar dari nubuat-nubuat dalam Perjanjian Lama.

Nubuat pertama dalam Perjanjian Lama adalah Kejadian 3:15. Setelah kejatuhan manusia, setelah si ular menggarapkan dirinya ke dalam manusia, Allah berjanji bahwa benih perempuan akan meremukkan si ular. Janji mengenai benih perempuan ini adalah janji pertama dalam Alkitab. Nubuat ini terpenuhi dalam Matius 1:22 dan 23. Dalam Galatia 4:4, Paulus mengatakan bahwa Kristus lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat. Karenanya Kristus datang bukan hanya menggenapkan hukum Taurat, tetapi juga menggenapkan janji bahwa benih perempuan akan meremukkan kepala si ular.

Dalam Yesaya 7:14 ada nubuat lain tentang Kristus, "Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki." Menurut Matius 1:23, nama Anak ini disebut Imanuel, yang berarti "Allah menyertai kita". Karenanya penggenapan janji ini membawa Allah ke dalam manusia.

Lukas 24:25-27 dan 44-46 juga menunjukkan bahwa Perjanjian Baru merupakan penggenapan dari Perjanjian Lama. Ayat 25 hingga 27 mengatakan, "Lalu Ia berkata kepada mereka, 'Hai kamu orang bodoh, betapa lambannya hatimu, sehingga kamu tidak percaya segala sesuatu, yang telah dikatakan para nabi! Bukankah Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya?' Lalu Ia menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia dalam seluruh Kitab Suci, mulai dari kitabkitab Musa dan segala kitab nabi-nabi." Seperti yang diindikasikan oleh ayat 44, Alkitab meliputi kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur.

Lukas 24:44-46 melanjutkan, "Ia berkata kepada mereka, 'Inilah perkataan-Ku, yang telah Kukatakan kepadamu ketika Aku masih bersama-sama dengan kamu, yakni bahwa harus digenapi semua yang ada tertulis tentang Aku dalam kitab Taurat Musa dan kitab nabi-nabi dan kitab Mazmur.' Lalu la membuka pikiran mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci. Kata-Nya kepada mereka, 'Ada tertulis demikian: Mesias harus menderita dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga."' Kitab Taurat Musa, kitab nabi-nabi, dan kitab Mazmur, adalah ketiga bagian dari keseluruhan Perjanjian Lama, yaitu "seluruh Kitab Suci" (ay. 27). Perkataan Juruselamat di sini mengungkapkan bahwa seluruh Perjanjian Lama adalah wahyu mengenai Dia dan bahwa Ia itulah pusat dan isinya. Fakta bahwa Tuhan membuka pikiran murid-murid-Nya untuk memahami Kitab Suci mengindikasikan bahwa agar dapat mengerti Kitab Suci, maka diperlukan Tuhan Roh untuk membuka pikiran kita melalui penerangan-Nya (Ef. 1:18).

Roma 1:2 berbicara tentang Injil Allah yang "telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab Suci." Injil ini, yang berkenaan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus Tuhan kita (Rm. 1:3), dijanjikan Allah melalui nabi-nabi dalam Kitab-kitab Suci. Ini mengindikasikan bahwa Injil Allah bukanlah sesuatu yang terjadi secara mendadak tetapi telah direncanakan dan dipersiapkan oleh Allah. Sebelum dunia diciptakan, Allah telah berencana untuk memiliki Injil ini. Karenanya, dalam kitab-kitab Suci, dari kitab Kejadian hingga kitab Maleakhi, berkali-kali Allah menjanjikan Injil Allah melalui nabi-nabi. Karena itu Roma 1:2 adalah petunjuk selanjutnya akan fakta bahwa Perjanjian Baru adalah penggenapan dari Perjanjian Lama.

Dalam 1 Korintus 15:3 dan 4 Paulus berkata, "Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci." Sekali lagi Kitab Suci mengacu pada Perjanjian Lama. Kematian Kristus untuk dosa-dosa kita, penguburan-Nya untuk pengakhiran kita, dan kebangkitan-Nya untuk penunasan kita melalui hayat, terjadi sesuai dengan nubuat-nubuat Perjanjian Lama (Yes. 53:5-8, 10-12; Mzm. 22:14-18; Dan. 9:26; Yes. 53:9; Mzm. 16:9-10; Hos. 6:2). Ketiga perkara ini adalah perkara dasar di antara perkara-perkara pertama dalam Injil. Fakta bahwa Paulus mengatakan kematian, penguburan, dan kebangkitan Kristus sesuai dengan kitab-kitab Suci, adalah bukti selanjutnya bahwa Perjanjian Lama digenapi dalam Perjanjian Baru.

Siswa sekolah Alkitab sering mengatakan bahwa nubuat-nubuat mengenai Kristus dalam Perjanjian Lama tergenapi dalam Perjanjian Baru. Contohnya, Mikha 5:1 mengatakan, "Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala." Nubuat ini tergenapi dalam Matius 2:4-6 dan Lukas 2:4-7. Ya, di sini kita memiliki contoh dari penggenapan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru. Namun kita perlu melanjutkan untuk melihat sesuatu yang lebih dalam mengenai Perjanjian Baru sebagai penggenapan dari Perjanjian Lama.

Jika kita memiliki pemahaman yang lebih mendalam tentang penggenapan Perjanjian Lama dalam Perjanjian Baru, kita akan melihat bahwa Kristus datang bukan hanya menggenapi nubuat-nubuat, melainkan juga menggenapi administrasi kekal Allah, yaitu Allah mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya untuk menghasilkan gereja. Dispensi diri Allah ke dalam umat pilihan-Nya dijanjikan, dinubuatkan, dilambangkan, dan digambarkan dalam Perjagjian Lama, dan semua itu digenapi melalui kedatangan Kristus dalam Perjanjian Baru. Karenanya, Kristus datang bukan hanya menggenapi nubuat-nubuat mengenai kelahiran, kematian, dan kebangkitan-Nya; Ia datang, khususnya, untuk menggenapi janji, nubuat-nubuat, lambang-lambang, dan bayang-bayang mengenai dispensi diri Allah ke dalam umat pilihan-Nya untuk menghasilkan gereja.

Perkembangan dan Penuaian Benih

yang Ditaburkan dalam Perjanjian Lama

Perjanjian Baru adalah perkembangan dan penuaian benih yang ditaburkan dalam Perjanjian Lama. Guru-guru Alkitab biasa mengatakan bahwa wahyu ilahi dalam Alkitab itu progresif. Saya pun pernah berkata demikian. Namun cara memandang wahyu ilahi dalam Kitab Suci yang demikian ini agak dangkal. Sebenarnya bukan hanya bergerak maju, tetapi wahyu ilahi dalam Alkitab itu juga terus berkembang.

Guru-guru Alkitab tertentu berkata bahwa hampir semua benih kebenaran telah ditaburkan dalam kitab Kejadian. Setelah bertahun-tahun mempelajari Alkitab, saya lalu setuju akan perkataan Ini. Hampir semua benih kebenaran telah ditaburkan dalam kitab Kejadian dan kemudian bertumbuh di sepanjang Kitab Suci.

Pertumbuhan adalah perkara perkembangan. Pertama, sebutir benih telah ditaburkan ke dalam tanah dan kemudian benih tersebut bertumbuh. Ketika bertumbuh, ia lalu berkembang. Setelah sebutir gandum, ditaburkan ke dalam tanah, ia bertumbuh dan berkembang hingga akhirnya menghasilkan banyak butir gandum. Ketika gandum telah matang, tiba saatnya untuk menuai hasil panen. Demikian pula halnya dengan kebenaran ilahi dalam Alkitab yang ditaburkan sebagai benih, terutama dalam kitab Kejadian. Benih-benih ini berkembang sepanjang Perjanjian Lama dan terutama dalam Perjanjian Baru, hingga mencapai waktu "panen" dalam kitab Wahyu. Dalam Wahyu 14 ada visi mengenai penuaian hasil panen yang masak. Kita perlu melihat bahwa apa saja yang ditaburkan sebagai benih dalam Perjanjian Lama berkembang dalam Perjanjian Baru dan akhirnya dituai sebagai hasil panen dalam kitab Wahyu.

Sekarang kita perlu mengajukan satu pertanyaan yang penting: Apa yang ditaburkan sebagai benih dalam Perjanjian Lama? Kristus adalah benih yang ditaburkan dalam Perjanjian Lama dan berkembang di seluruh Kitab Suci. Dalam Kejadian 3:15 Allah berjanji kepada umat manusia yang jatuh bahwa sebagai benih perempuan, Kristus, akan datang meremukkan kepala ular. Alkitab terus mewahyukan bahwa benih ini berkembang menjadi benih Abraham, benih Ishak, dan benih Yakub. Dalam kitab Yesaya, kita melihat perkembangan lebih lanjut dari benih ini, yaitu menjadi Seorang yang dilahirkan oleh seorang dara dan disebut Imanuel, Allah sang Mahakuasa dan bahkan Bapa yang kekal (Yes. 7:14, 9:5). Akhirnya, dalam Perjanjian Baru, benih yang ditaburkan dalam Perjanjian Lama akan menghasilkan banyak gandum dan gandum-gandum ini akan menjadi hasil panen yang dituai dalam kitab Wahyu. Dari sini kita melihat bahwa Perjanjian Baru adalah perkembangan dan penuaian diri Kristus yang ditaburkan dalam Perjanjian Lama, yang kemudian berkembang di selurub kitab dalam Alkitab, dan dituai sebagai hasil panen dalam kitab terakhir Perjanjian Baru.

Kelengkapan Wahyu Ilahi

Perjanjian Baru adalah kelengkapan wahyu ilahi. Dalam Kolose 1:25 Paulus berkata, "Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu." Firman Allah adalah wahyu ilahi. Tetapi sebelum tiba dalam Perjanjian Baru, wahyu ini belum lengkap. Dalam Perjanjian Baru, para rasul, khususnya Paulus, telah melengkapi firman Allah terutama mengenai ministri Allah, yang adalah Kristus, dan mengenai ministri Kristus, yang adalah gereja, untuk memberi kita wahyu yang lengkap mengenai ekonomi Allah. Pada masa Paulus, firman Allah meliputi Perjanjian Lama dan firman yang diajarkan oleh para rasul terdahulu. Walaupun firman Allah diajarkan oleh murid-murid terdahulu tersebar dan makin banyak didengar orang (Kis. 12:24), tetapi masih belum lengkap sesuai dengan ekonomi Allah. Untuk kelengkapan inilah diperlukan adanya wahyu Allah kepada Paulus. Menurut tugas penyelenggaraan (stewardship) Allah, Paulus menjadi minister gereja untuk melengkapi firman Allah. Bayangkan, betapa kurangnya bila kita tidak memiliki surat-surat kiriman Paulus. Tanpa surat-surat itu, tidak akan ada kelengkapan firman Allah.

Paulus menerima wahyu mengenai Kristus sebagai misteri Allah. Dalam Kolose 2:2 beliau berkata, "Sehingga mereka memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pengertian, dan mengenal rahasia Allah, yaitu Kristus." Dalam Efesus 3:4, Paulus berbicara tentang misteri Kristus. Misteri Allah dalam Kolose 2:2 adalah Kristus, sedangkan misteri Kristus dalam Efesus 3:4 adalah gereja. Paulus juga memberikan wahyu mengenai administrasi Allah (2 Kor. 13:14; Ef. 3:14-19). Karenanya, kelengkapan firman Allah meliputi misteri yang besar tentang Kristus dan gereja (E£ 5:32), wahyu penuh mengenai Kristus, sang Kepala (Kol. 1:26-27, 2:19, 3:11), dan wahyu penuh mengenai gereja, Tubuh Kristus (Ef. 3:3-6).

Dalam Kolose 1:26 dan 27 Paulus berkata, "Yaitu rahasia yang tersembunyi dari abad ke abad dan dari turunan ke turunan, tetapi yang sekarang dinyatakan kepada orang-orang kudus-Nya. Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!" Misteri ini adalah Kristus sendiri di dalam kita sebagai hayat kita hari ini dan kemuliaan kita di masa mendatang. Saat ini, kemuliaan ini adalah harapan kita. Dari ayat-ayat ini, kita melihat bahwa kelengkapan wahyu ilahi berkenaan dengan kedatangan Kristus untuk mendispensikan Allah ke dalam kita sebagai misteri dan sebagai harapan kemuliaan.