← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 10/20

ALLAH—ATRIBUT-ATRIBUT-NYA (3)

Dalam berita ini kita akan melanjutkan meninjau atribut Allah.

J. KESETIAAN

Satu Korintus 1:9 mengatakan, "Allah, yang memanggil kamu kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus, Tuhan kita, adalah setia." Perkataan ini adalah kelanjutan dari 1 Korintus 1:8 yang menguatkan pemikiran terhadap keyakinan kesetiaan Allah. Menurut kesetiaan-Nya, Ia akan meneguhkan kaum beriman sampai kepada kesudahannya, membuat mereka tak bercacat pada hari kedatangan Tuhan. Menurut kesetiaan-Nya, Ia telah memanggil kita ke dalam persekutuan, partisipasi dalam Putra-Nya, dan Ia akan menjaga kita dalam partisipasi dan kenikmatan ini dalam kepenuhan-Nya. Kepenuhan-Nya adalah jaminan bagi kita atas kenikmatan ini.

Satu Yohanes 1:9 juga mewahyukan kesetiaan Allah, "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Allah setia dalam firman-Nya (1 Yoh. 1:10), firman kebenaran Injil-Nya (Ef. 1:13), yang memberi tahu kita bahwa Ia akan mengampuni kita dari dosa-dosa kita karena Kristus (Kis. 10:43). Jika kita mengaku dosa, maka sesuai dengan firman-Nya, Ia akan mengampuni kita karena Ia harus setia dalam firman-Nya.

Dalam 1 Korintus 10:13 Paulus mengatakan, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu la tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai, Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." Di satu pihak, kita harus berhati-hati agar tidak dicobai supaya kita tidak jatuh. Di pihak lain, Allah dalam kesetiaan-Nya tidak akan membiarkan pencobaan apa pun yang menimpa kita melampaui kekuatan kita, tetapi Ia selalu memberikan jalan keluar kepada kita. Inilah perkataan janji dan hiburan.

Satu Tesalonika 5:23 dan 24 mengatakan, "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita. Ia yang memanggil kamu adalah setia, Ia juga akan menggenapinya." Di sini kita melihat bahwa Allah yang setia yang telah memanggil kita akan menguduskan kita seluruhnya dan memelihara seluruh diri kita dengan sempurna. Inilah perkataan Paulus yang meyakinkan kaum beriman mengenai kesetiaan Allah. Tentu saja kesetiaan ilahi ini adalah atribut Allah yang manis.

K. KEJUJURAN (TRUTHFULNESS)

Selain kesetiaan, Allah memiliki atribut kejujuran (truthfulness). Dalam Roma 3:7 dan 15:8 kata "kebenaran (truth)" sebenarnya mengacu pada kejujuran. Walaupun kejujuran sangat mirip dengan kesetiaan, tetapi kedua atribut Allah ini berbeda. Kesetiaan harus memiliki dasar, dan dasar kesetiaan adalah kejujuran. Kejujuran, kemurnian, dan dapat diandalkannya Allah adalah atribut ilahi Allah yang dipakai untuk menanggulangi kita.

L. KETULUSAN (KESEDERHANAAN)

Dalam 2 Korintus 1:12 Paulus membicarakan ketulusan atau kesederhanaan Allah. Pernahkah Anda menyadari bahwa Allah itu tulus? Ketulusan adalah salah satu dari atribut-atribut-Nya.

Allah itu bijaksana dan mahabesar, tetapi Ia juga tulus dan sangat sederhana. Ketika berbicara dengan saudara-saudara tertentu, kita akan tahu bahwa mereka sangat berbelit-belit. Tetapi Allah kita itu tulus/sederhana terhadap kita. Kapan kala kita berbicara kepada-Nya, kita tahu bahwa Ia tidak penuh dengan kerumitan. Bila Ia berkata "putih" atau "hitam", yang Ia maksudkan memang putih atau hitam, bukan abu-abu.

Tidak peduli bagaimana perasaan Allah terhadap kita pada saat tertentu, Ia selalu tulus/sederhana terhadap kita. Bayangkan apa yang akan terjadi terhadap kita jika Allah tidak tulus/sederhana dan jika Ia berpikir mengenai kita secara rumit. Sukakah Anda jika Allah meninjau situasi Anda dan menguji Anda secara berbelit-belit? Tidak ada seorang pun di antara kita yang akan diperkenan oleh Allah jika Ia menanggulangi kita secara demikian. Tetapi karena kesederhanaan Allah, ketulusan-Nya, maka kita telah menerima berkat tanpa syarat dari-Nya sepanjang waktu.

Sumber kekacauan dan perpecahan di antara orang-orang Kristen adalah kerumitan di antara kaum beriman. Jika semua orang Kristen menjadi sederhana/tulus, maka tidak akan ada masalah. Masalah-masalah yang ada dalam satu gereja lokal juga berasal dari kerumitan. Inilah keadaan orang-orang Korintus yang kepadanya Paulus menulis surat mengenai tindakannya yang dikuasai oleh ketulusan dari Allah. Ketulusan Allah adalah atribut ilahi, atribut dari apa adanya Allah dalam kesetiaan-Nya. Mengasihi dan menikmati Kristus dalam ketulusan berarti mengalami Allah dalam atribut ketulusan-Nya.

M. KEMURNIAN

Dalam 2 Korintus 1:12 Paulus bukan hanya membicarakan ketulusan Allah, tetapi juga kemurnian Allah. Kemurnian mengikuti ketulusan dan berasal dari ketulusan. Orang yang murni selalu tulus. Saya tidak percaya kepada orang yang rumit karena mereka terlalu pandai. Tetapi saya dapat mempercayai orang yang tulus/sederhana, karena saya tahu jika mereka itu tulus/sederhana maka mereka itu murni. Ketika kita memiliki ketulusan, kesederhanaan, kita juga memiliki kemurnian. Karena Paulus bertindak tanduk dalam ketulusan Allah, ia benar-benar murni, hidup dalam atribut ilahi kemurnian.

N. KEBAIKAN

Dalam Lukas 18:18 "Ada seorang pemimpin" bertanya kepada Tuhan Yesus, "Guru yang baik, apa yang harus aku perbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus, "Mengapa kaukatakan Aku baik? Tak seorang pun yang baik selain daripada Allah saja" (ay. 19). Ayat ini mewahyukan bahwa Allah, dan hanya Allah, yang baik. Kebaikan adalah atribut Allah yang lain.

Apa arti kata "baik" dalam kaitannya dengan Allah? Bahasa gerikanya adalah agathos, yang menjelaskan bahwa "sesuatu yang memiliki karakter dan bentuk yang baik, akan mempunyai pengaruh yang berguna" (Vine). Jadi, hal ini menunjukkan sesuatu yang benar-benar bermanfaat secara esensial (hakiki), mutlak, dan sempurna. Allah, yang baik, itu bermanfaat bagi manusia secara hakiki, mutlak, dan sempurna. Dalam hal ini, kebaikan-Nya adalah bagian yang indah dari atribut-Nya.

O. RAHMAT

Roma 9:16, "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati (rahmat) Allah." Kemurahan hati (rahmat) adalah atribut Allah yang menjangkau paling jauh. Rahmat menjangkau lebih jauh daripada kasih karunia. Kasih Allah tidak menjangkau sejauh kasih karunia-Nya dan kasih karunia-Nya tidak menjangkau sejauh rahmat-Nya. Jika saya dalam keadaan baik dan kedudukan saya sederajat dengan Anda, lalu Anda memberi saya hadiah, itulah kasih karunia. Tetapi jika saya dalam keadaan yang kasihan dan kedudukan saya jauh di bawah Anda, lalu Anda memberi saya sesuatu, itu adalah rahmat. Jika saya datang kepada Anda sebagai teman terkasih dan Anda memberi saya hadiah, itulah kasih karunia. Tetapi, jika saya miskin, pengemis kotor, tidak bisa berbuat apa-apa untuk diri sendiri, dan Anda memberi saya hadiah, itulah rahmat. Ini mengilustrasikan fakta bahwa rahmat Allah menjangkau lebih jauh daripada kasih karunia-Nya. Kasih karunia hanya menjangkau situasi yang sejajar dengannya. Tetapi rahmat menjangkau lebih jauh bahkan mencapai keadaan yang miskin dan tidak layak untuk menerima kasih karunia. Menurut keadaan alamiah kita, kita telah jauh terpisah dari Allah, sama sekali tidak layak untuk menerima kasih karunia-Nya. Kita hanya bersyarat untuk menerima rahmat-Nya.

Rahmat Allah tidak tergantung pada keadaan manusia yang baik. Sebaliknya, rahmat Allah ternyata dalam keadaan manusia yang kasihan. Rahmat-Nya menjangkau lebih jauh daripada kasih karunia-Nya.

Rahmat Allah itulah yang telah mencapai kita. Tidak seorang pun di antara kita yang sepadan dengan kasih karunia-Nya. Kita begitu miskin dan kasihan, karena itu perlu rahmat Allah menjangkau keadaan kita yang jatuh. Rahmat Allah telah membawa kita ke dalam kasih karunia-Nya. Betapa kita perlu menyadari hal ini dan menyembah Allah untuk rahmat-Nya! Bahkan kini, setelah diselamatkan dan telah berbagian dalam kekayaan-kekayaan hayat Allah, dalam beberapa hal kita masih berada dalam keadaan yang memerlukan rahmat Allah untuk mencapai kita. Itulah sebabnya kitab Ibrani 4:16 mengatakan bahwa pertama-tama kita akan menerima rahmat dan kemudian kita akan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan pada waktunya. Oh, betapa kita perlu rahmat Allah! Kita harus memustikakan rahmat-Nya seperti kita menjunjung tinggi kasih karunia-Nya. Rahmat Allah itulah yang selalu melayakkan kita untuk berbagian dalam kasih karunia-Nya.

Dalam Roma 9:16 Paulus mengatakan bahwa, "Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati (rahmat—TL) Allah."Konsep kita mengatakan bahwa barangsiapa memiliki kehendak maka ia akan memperoleh apa yang ingin didapatkannya dan barangsiapa berusaha maka ia akan mencapai apa yang dikejarnya. Jika demikian kasusnya, maka pemilihan Allah tergantung pada usaha dan jerih payah kita. Tetapi bukan demikian. Sebaliknya, pemilihan Allah tergantung kepada Allah yang menunjukkan rahmat. Kita tidak perlu berkehendak atau berusaha, karena Allah merahmati kita. Jika kita mengenal rahmat Allah, kita tidak akan mengandalkan daya upaya kita. Kita juga tidak akan kecewa karena kegagalan kita. Harapan bagi keadaan kita yang bobrok terletak dalam rahmat Allah.

Roma 11:32 mengatakan, "Sebab Allah telah mengurung semua orang dalam ketidaktaatan, supaya Ia dapat menunjukkan kemurahan-Nya (rahmat-T1.) atas mereka semua." Ketidaktaatan manusia memberi kesempatan bagi rahmat Allah dan rahmat Allah mendatangkan keselamatan bagi manusia. Betapa menakjubkannya rahmat Allah itu!

Rahmat Allah dan kasih karunia-Nya, keduanya adalah ekspresi kasih-Nya. Ketika kita berada dalam keadaan yang kasihan, rahmat-Nya mencapai dan membawa kita ke dalam suatu keadaan yang membuat Ia dapat memberi kita kasih karunia-Nya. Lukas 15:20-24 mengatakan ketika bapa itu melihat anaknya yang hilang telah kembali, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Inilah rahmat yang lebih dalam, ekspresi kasih mesra bapa. Kemudian sang bapa memakaikan jubah yang terbaik kepada anaknya dan memberinya makan dengan lembu tambun. Inilah kasih karunia Allah yang juga menyatakan kasih Allah. Rahmat Allah menjangkau lebih jauh daripada kasih karunia-Nya, menjembatani jurang antara kita dengan kasih karunia Allah.

Sering kali, karena keadaan kita yang kasihan, kita perlu menerima rahmat sebelum kita dapat menemukan kasih karunia. Kita datang kepada takhta kasih karunia (Ibr. 4:16) seperti pengemis, dalam keadaan yang kira-kira sama dengan anak yang hilang itu ketika ia datang kepada bapanya. Seorang pengemis, seperti juga anak yang hilang, memerlukan rahmat. Ketika kita datang kepada takhta kasih karunia, kita dapat merasakan bahwa kita ini sangat kasihan dan berkata, "Bapa, saya tidak layak untuk apa pun." Tetapi Bapa berkata, "Engkau tidak layak, tetapi Aku penuh rahmat. Rahmat-Ku mencapai kamu dan melayakkanmu untuk menerima pertolongan-Ku. Rahmat-Ku membawa Aku kepadamu agar Aku dapat memakaikan jubah yang terbaik kepadamu." Rahmat Allah selalu tersedia bagi kita.

Jika kita mau melayani Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya, kita perlu tahu bahwa ini sepenuhnya merupakan perkara kedaulatan rahmat Allah. Melalui pengalaman selama bertahun-tahun, saga telah diyakinkan secara kuat dan dalam bahwa segala sesuatu yang terjadi pada kita adalah rahmat Allah. Semuanya adalah perkara rahmat Allah. Semakin kita melihat hal ini, kita akan semakin bisa dengan spontan memikul tanggung jawab kita di hadapan Tuhan. Tetapi, bahkan memikul tanggung jawab pun tergantung pada rahmat Allah. Mengapa ada beberapa orang beriman yang bersedia memikul tanggung jawab mereka dan yang lain tidak? Jawabannya terletak pada rahmat Allah. Dalam Roma 9:15, Paulus mengutip perkataan Tuhan, "Aku akan bermurah hati (memberikan rahmat) kepada siapa Aku mau bermurah hati (memberikan rahmat)." Karena rahmat Allah, kita menerima Injil, sedangkan yang lain tidak, kita menerima firman tentang Kristus sebagai hayat sedangkan orang lain menolaknya, dan kita menempuh jalan pemulihan Tuhan sedangkan yang lain mundur dari jalan ini.

Mengenai pemulihan-Nya, Allah akan memberikan rahmat kepada siapa Ia mau memberikan rahmat. Kita berada dalam pemulihan Tuhan bukan karena kita lebih pintar daripada orang lain atau karena kita lebih menuntut Tuhan daripada orang lain. Keberadaan kita di sini sama sekali karena rahmat Allah. Bila Anda memikirkan bagaimana Tuhan membawa Anda ke dalam kehidupan gereja dalam pemulihan Tuhan, Anda akan menyembah Dia untuk rahmat-Nya. Mengenai Injil, ministri hayat, dan kehidupan gereja, Allah telah merahmati kita. Betapa kita perlu memuji Dia untuk kedaulatan rahmat-Nya dan menyembah Dia untuk rahmat-Nya!

Efesus 2:4 mengatakan, "Tetapi Allah yang kaya dengan rahmat, oleh karena kasih-Nya yang besar, yang dilimpahkan-Nya kepada kita." Di sini kita melihat bahwa Allah kaya dengan rahmat karena kasih-Nya yang besar kepada kita. Sasaran kasih tentu berada dalam keadaan yang patut dikasihi, tetapi sasaran rahmat selalu berada dalam keadaan yang kasihan. Rahmat Allah mencapai kita untuk kasih-Nya. Allah mengasihi kita karena kita adalah sasaran pilih-Nya. Tetapi kita menjadi kasihan karena kejatuhan kita, bahkan mati dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa kita. Karenanya, kita perlu rahmat Allah untuk mencapai kita. Karena kasih-Nya yang besar, Allah kaya dengan rahmat untuk menyelamatkan kita dari kedudukan kita yang celaka ke keadaan yang sesuai dengan kasih-Nya. Atribut Allah yang menjangkau lebih jauh ini harus membuat hati kita bereaksi terhadap kasih-Nya.

P. BELAS KASIH

Roma 9:15 menyebutkan kemurahan hati (rahmat) Allah dan juga belas kasih-Nya, "Sebab Ia berfirman kepada Musa: Aku akan menaruh belas kasihan, kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan, dan Aku akan bermurah hati (memberikan rahmat) kepada siapa Aku mau bermurah hati (memberikan rahmat)" Selanjutnya, 2 Korintus 1:3 berkata, "Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan." Apakah perbedaan antara rahmat dengan belas kasih? Agak sulit untuk membedakannya. Walaupun belas kasih itu dekat dengan rahmat, belas kasih itu lebih dalam, lebih halus, dan lebih kaya daripada rahmat. Rahmat adalah sesuatu yang di luar, tetapi belas kasih itu di dalam. Selain itu, belas kasih itu bertahan lebih lama daripada rahmat. Karenanya, belas kasih itu lebih dalam dan juga bertahan lebih lama daripada rahmat.

Kata Yunani untuk rahmat adalah, eleos, mengacu kepada reaksi yang timbul karena keadaan orang miskin yang celaka. Rahmat lebih mengacu kepada tindakan atau pernyataan dari reaksi terhadap keadaan yang menyedihkan. Kata Yunan untuk belas kasih dalam Roma 9:15 dan 2 Korintus 1:3 adalah Oiktirmos. Kata dasar dari istilah ini mengacu kepada organ batin manusia yang dipercayai sebagai inti dari kasih sayang yang lembut dalam diri manusia. Karenanya, kata Yunani untuk belas kasih mengacu kepada perasaan batin yang timbul dalam hati orang yang penuh kasih sayang. Perasaan ini bukan yang biasa-biasa tetapi penuh kasih sayang yang mendalam. Karenanya, belas kasih mengacu kepada perasaan batin yang bersumber dari dalam hati pihak yang mengasihi. Inilah kata-kata yang paling dalam yang menunjukkan kasih sayang Allah di batin terhadap manusia dalam keadaannya yang kasihan.

Dengan definisi sekilas ini, kita dapat meninjau lagi Roma 9:15 untuk perbandingan yang mencolok, menerjemahkan ayat tersebut demikian: "Aku akan menunjukkan perbuatan rahmat-Ku kepada siapa Aku akan menunjukkan perbuatan rahmat-Ku, dan Aku akan menaruh perasaan belas kasih yang terdalam kepada siapa Aku menaruh perasaan belas kasih yang terdalam." Yang di depan mengacu kepada perbuatan luaran Allah yang digerakkan oleh keadaan kita yang kasihan; yang belakangan mengacu kepada kasih sayang batin-Nya yang berasal dari esens kasih-Nya. Kita semua harus mengapresiasi kasih-Nya yang lebih manis itu sebagai atribut Allah.

Q. KASIH KARUNIA

Efesus 2:7 berkata, "Supaya pada masa yang akan datang Ia menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus." Dalam 1 Korintus 15:10 Paulus bersaksi, "Tetapi karena kasih karuna Allah Aku adalah sebagaimana aku ada sekarang dan kasih karunia yang dianugrahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras daripada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karuna Allah yang menyertai aku." Kasih karunia Allah adalah perkara yang mempunyai makna yang luar biasa. Penting bagi kita untuk menemukan makna yang sejati dan tepat dari kasih karunia Allah dalam Perjanjian Baru. Jika kita ingin memahami apakah kasih karunia Allah seperti yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru, kita perlu pandangan yang jelas dari keseluruhan Perjanjian Baru.

Ketika masih muda, saya diajar bahwa kasih karunia berarti kita tidak melakukan apa-apa dan Allah itulah yang melakukan segala sesuatu bagi kita. Menurut ajaran ini, apa saja yang kita lakukan adalah pekerjaan, bukan kasih karunia, tetapi apa pun yang dilakukan Allah bagi kita adalah kasih karunia. Tetapi menurut Perjanjian Baru, kasih karunia sebenarnya adalah apa adanya Allah bagi kita .untuk kenikmatan kita (Yoh. 1:16-17; 2 Kor. 12:9). Kasih karunia sebenarnya adalah Allah di dalam Kristus didispensikan ke dalam diri kita untuk kenikmatan kita dalam pengalaman kita. Kasih karunia terutama bukan pekerjaan yang Allah lakukan untuk kita; kasih karunia adalah Allah Tritunggal sendiri yang didispensikan ke dalam diri kita dan yang kita alami sebagai kenikmatan kita. Singkatnya, kasih karunia adalah Allah Tritunggal yang kita alami dan nikmati. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa kasih karunia tak lain adalah Allah di dalam Kristus didispensikan ke dalam diri kita untuk kenikmatan kita.

Yohanes 1:17 mengatakan bahwa kasih karunia datang melalui Yesus Kristus. Ini mengindikasikan bahwa kasih karunia adalah seperti persona. Personifikasi kasih karunia adalah Diri Allah sendiri. Paulus menyadari hal ini ketika beliau berkata, "Bukan aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku" (1 Kor. 15:10). Bagi Paulus, kasih karunia adalah persona yang hidup. Di dalam Paulus, persona ini menjadi kasih karunia yang olehnya beliau bekerja keras. Karenanya, kasih karunia adalah Diri Allah sendiri; kasih karunia adalah apa adanya Allah bagi kita untuk kenikmatan kita. Ketika Allah kita nikmati, itulah kasih karunia. Kasih karunia adalah Diri Allah sendiri di dalam Anak-Nya Yesus Kristus untuk menjadi bagian kita sehingga kita dapat menikmati segala adanya Dia.

Kita perlu menekankan fakta bahwa kasih karunia adalah Allah sebagai kenikmatan kita. Ketika Allah menjadi bagian kita untuk kita nikmati, itulah kasih karunia. Jangan menganggap kasih karunia sebagai sesuatu yang lebih rendah dari Allah. Kasih karunia tidak lain adalah Allah Tritunggal yang kita nikmati secara praktis sebagai bagian kita. Mengenai definisi kasih karunia ini, stanza pertama dari Hymns nomor #497 mengatakan:

Definisi kasih karunia yang tertinggi adalah

Allah di dalam Putra kita nikmati;

Bukan sesuatu yang dilakukan atau diberikan,

Tetapi Allah sendiri, bagian mulia kita.

Kasih karunia adalah Allah, bukan dalam doktrin tetapi dalam pengalaman kita, karena kasih karunia adalah Allah di dalam Kristus beserta segala ada-Nya Dia untuk kenikmatan kita. Ini meliputi hayat, kekuatan, penghiburan, perhentian, terang, keadil-benaran, kekudusan, kuasa, dan atribut-atribut ilahi lainnya. Ketika kita menikmati Allah dan berbagian di dalam Dia, itulah kasih karunia.

Kita telah menunjukkan bahwa dalam Efesus 2:7 Paulus mengindikasikan bahwa Allah akan "menunjukkan kepada kita kekayaan kasih karunia-Nya yang melimpah-limpah sesuai dengan kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus." Menunjukkan kekayaan kasih karunia Allah adalah memamerkannya kepada seluruh alam semesta. Kekayaan kasih karunia Allah melampaui segala batas, karena kekayaan itu adalah kekayaan Allah sendiri untuk kenikmatan kita. Kekayaan kasih karunia Allah akan dipamerkan secara terbuka sampai selamanya.

Dalam Efesus 2:8, Paulus melanjutkan berkata bahwa kita diselamatkan oleh kasih karunia. Dalam kitab Efesus, kasih karunia adalah Allah didispensikan ke dalam kita. Karenanya, diselamatkan oleh kasih karunia berarti diselamatkan oleh Allah yang didispensikan ke dalam kita dalam Kristus. Namun banyak orang Kristen menganggap kasih karunia sebagai benda, bukan orang (persona). Bagi mereka, kasih karunia itu sekadar hadiah yang diberikan secara gratis. Menurut konsep yang demikian, kita adalah orang-orang berdosa yang tidak layak bagi penyelamatan Allah, tetapi Allah menyelamatkan kita secara gratis dengan memberikan kepada kita kebaikan yang tidak patut kita terima. Tetapi, ini adalah pemahaman yang dangkal terhadap makna diselamatkan oleh kasih karunia. Kitab Efesus mewahyukan bahwa ‘kasih karunia yang menyelamatkan (saving grace)’ adalah Allah sendiri dalam Kristus ditempa ke dalam diri kita. Karenanya, diselamatkan oleh kasih karunia sebenarnya berarti diselamatkan oleh pendispensian Allah Tritunggal ke dalam kita.

Menurut kitab Efesus, keselamatan adalah transmisi Allah ke dalam kita sebagai kasih karunia. Bukanlah perkara yang gampang bagi Allah untuk didispensikan ke dalam kita sebagai kasih karunia. Ia perlu melalui proses inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, dan kenaikan (keterangkatan). Dengan melalui proses-proses itu, sekarang Ia dapat mentransmisikan diri-Nya ke dalam kita. Ketika Allah yang telah melalui proses itu ditransmisikan ke dalam kita, Ia menjadi kasih karunia yang menyelamatkan (saving grace) bagi kita dalam pengalaman kita. Kasih karunia ini bukan hanya kasih karunia yang menakjubkan; kasih karunia ini adalah kasih karunia yang berlimpah-limpah. Kasih karunia adalah Allah yang telah melalui proses ditransmisikan ke dalam diri kita.

Jika Anda membaca Efesus pasal 1 dan 2 dengan banyak berdoa, Anda akan melihat bahwa Allah yang telah melalui proses dan ditransmisikan ke dalam diri kita adalah kasih karunia yang menyelamatkan dan yang berlimpah-limpah. Kita telah diselamatkan oleh transmisi Allah yang telah melalui proses ini. Dalam kebaikan-Nya terhadap kita dalam Kristus Yesus, Allah telah menyelamatkan kita oleh kasih karunia-Nya. Dalam zaman yang akan datang—dalam milenium dan kekekalan—Allah akan memamerkan kasih karunia ini secara terbuka kepada seluruh alam semesta.

Dalam 1 Korintus 15:10, Paulus tiga kali berbicara mengenai kasih karunia. Dua kali beliau berbicara tentang kasih karunia Allah dan satu kali tentang "kasih karunia-Nya". Dalam ayat ini, kasih karunia adalah Allah Tritunggal menjadi hayat dan segala sesuatu kita. Dengan kasih karunia inilah Saulus dari Tarsus, orang yang paling berdosa (1 Tim. 1:15-16), menjadi rasul yang terkemuka, berjerih lelah lebih banyak daripada semua rasul.

Satu Petrus 4:10 berbicara tentang kasih karunia Allah yang berbeda-beda, "Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah." Kasih karunia Allah yang berbeda-beda adalah suplai hayat yang kaya, yang adalah Allah Tritunggal dilayankan (ministered) kepada kita dalam banyak aspek. Sebagai pengurus rumah tangga (steward) yang baik, dengan karunia yang telah kita terima, kita hendaknya melayankan kepada gereja dan kepada orang-orang kudus kasih karunia yang sedemikian ini, bukan sekadar doktrin.

Dalam 1 Petrus 5:10, ada perkataan mengenai "Allah, sumber segala kasih karunia."Dalam ayat ini "segala kasih karunia" mengacu kepada kekayaan-kekayaan suplai hayat ilahi yang limpah dalam berbagai aspek yang dilayankan kepada kita melalui langkah-langkah pekerjaan ilahi dalam ekonomi Allah. Istilah "Allah, sumber segala kasih karunia" itu unik; perkataan ini hanya ditemukan dalam Perjanjian Baru dalam 1 Petrus 5:10. Petrus bukan hanya mengatakan bahwa Allah adalah Allah kasih karunia; beliau berkata bahwa Allah adalah Allah sumber segala kasih karunia. Sebagai kaum beriman, kita hendaknya terhibur oleh fakta bahwa Allah kita adalah Allah sumber segala kasih karunia. Kasih karunia ilahi ini adalah atribut Allah kita yang menonjol yang telah memberi kita kasih karunia di dalam Kristus.

R. DAMAI SEJAHTERA

Atribut Allah yang lain adalah damai sejahtera. Perjanjian Baru membicarakan damai sejahtera Allah dan juga Allah sumber damai sejahtera. Mengenai Allah sumber damai sejahtera, Roma 16:20 berkata, "Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis dibawah kakimu." Mengenai damai sejahtera Allah, Filipi 4:7 berkata, "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Damai sejahtera Allah sesungguhnya adalah Allah sebagai damai sejahtera, diinfuskan ke dalam kita melalui persekutuan kita dengan-Nya dalam doa, sebagai pereda kesulitan dan penangkal kekuatiran (Yoh. 16:33). Allah sumber damai sejahtera menjaga hati dan pikiran kita di dalam Kristus Yesus. Allah berpatroli di depan hati dan pikiran kita dalam Kristus.

Damai sejahtera Allah dan Allah sumber damai sejahtera adalah satu. Ketika Allah beserta kita, damai sejahtera juga beserta kita. Damai sejahtera sejati yang kita nikmati adalah Allah sendiri. Cara menikmati Allah sumber damai sejahtera adalah melalui berdoa untuk bersekutu dengan Dia.

Dalam 1 Tesalonika 5:23 Paulus berkata, "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya." Di sini kita melihat bahwa Allah sumber damai sejahtera adalah sang Pengudus. Pengudusan-Nya mendatangkan damai sejahtera. Ketika kita dikuduskan sepenuhnya oleh Dia dari dalam, kita menikmati damai sejahtera-Nya dalam segala hal.

Dalam pengalaman kita, damai sejahtera adalah suatu keadaan yang dihasilkan dari kasih karunia, yang dihasilkan dari kenikmatan akan Allah Bapa kita. Ketika kita menikmati Allah sebagai kasih karunia, kita berada dalam keadaan yang penuh dengan perhentian dan kepuasan. Inilah damai sejahtera. Kasih karunia adalah substansi, sedangkan damai sejahtera adalah keadaan. Substansi kasih karunia adalah Allah sendiri, dan keadaan damai sejahtera adalah yang dihasilkan dari kenikmatan kita akan Allah sebagai kasih karunia. Kita semua dapat mempersaksikan damai sejahtera yang kita miliki ketika kita menikmati Allah sebagai kasih karunia. Kita memiliki substansi ilahi sebagai kenikmatan kita dan kita memiliki keadaan surgawi. Inilah damai sejahtera yang kita nikmati.

Fakta bahwa damai sejahtera adalah hasil dari kasih karunia diindikasikan oleh cara Paulus memberi salam kepada orang-orang kudus dalam Efesus 1:2 dan dalam surat rasuli lainnya, "Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus" Damai sejahtera ini adalah hasil dari kenikmatan akan Allah sebagai kasih karunia yang juga adalah atribut Allah yang kita nikmati di dalam Kristus.

S. SUKACITA

Roma 15:13 berkata, "Semoga Allah, sumber pengharapan, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera," hal ini mengindikasikan bahwa sukacita adalah salah satu dari atribut Allah. Allah adalah Allah kenikmatan. Dalam pengalaman kita, jika kita menikmati Allah sebagai kasih karunia, kita akan memiliki damai sejahtera, dan jika kita memiliki damai sejahtera, kita akan memiliki sukacita.

T. PENGHARAPAN

Roma 15:13 berbicara dua kali tentang pengharapan yang juga adalah salah satu dari atribut Allah, "Semoga Allah, sumber pengharapan memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan." Allah adalah Allah sumber pengharapan. Ketika Ia memenuhi kita dengan sukacita dan damai sejahtera, kita berlimpah-limpah dalam pengharapan. Orang-orang yang tidak memiliki sukacita dan damai sejahtera tidak dapat memiliki pengharapan. Tetapi jika kita menikmati Allah sebagai kasih karunia dan karenanya memiliki damai sejahtera dan sukacita, kita akan penuh pengharapan.