ALLAH—PEKERJAAN-NYA (6)
Dalam berita ini kita akan meninjau lebih banyak aspek mengenai pekerjaan Allah dalam zaman yang baru.
22. Mengambil, Mengampuni, Membenarkan, Mendamaikan, Menerima, Melahirkan kembali, Membasuh, Menguduskan, dan Memuliakan Kaum Beriman
Pekerjaan Allah meliputi mengambil, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, menerima, melahirkan kembali, membasuh, menguduskan, dan memuliakan kaum beriman. Marilah kita membahas perkara-perkara ini satu per satu secara singkat.
a. Memanggil Kaum Beriman
Berbicara mengenai Allah, Roma 8:30 mengatakan, "Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkannya. Dan mereka yang dibenarkannya, mereka itu juga dimuliakannya." Di sini kita melihat bahwa kita telah dipanggil oleh Allah. Menurut 1 Korintus 1:9, Allah telah memanggil kita "kepada persekutuan dengan Anak-Nya Yesus Kristus Tuhan kita." Dipanggil ke dalam persekutuan Putra Allah adalah dipanggil ke dalam pengambilan bagian, berpartisipasi dalam Putra-Nya. Ini adalah dipanggil untuk berbagian dalam dan berpartisipasi dalam Kristus yang almuhit. Allah telah memanggil kita ke dalam persekutuan yang sedemikian sehingga kita dapat berbagian dalam dan berpartisipasi dalam Kristus dan menikmati Dia sebagai bagian yang ditetapkan Allah bagi kita.
Satu Tesalonika 2:12 berkata bahwa Allah telah memanggil kita "ke dalam kerajaan dan kemuliaan-Nya." Kerajaan di sini adalah ruang lingkup yang di dalamnya kaum beriman menyembah dan menikmati Allah di bawah pemerintahan ilahi dengan pandangan untuk masuk ke dalam kemuliaan-Nya.
Paulus membicarakan panggilan Allah dalam 2 Tesalonika 2:13 dan 14, "Sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai. Untuk itulah Ia telah memanggil kamu oleh Injil yang kami beritakan, sehingga kamu boleh memperoleh kemuliaan Yesus Kristus, Tuhan kita." Kata ganti "untuk itulah" dalam ayat 14 mengacu kepada keselamatan dan kepercayaan dalam ayat sebelumnya. Allah memilih kita untuk keselamatan dan kepercayaan dalam kekekalan, dan kemudian dalam waktu Ia memanggil kita untuk keselamatan dan kepercayaan untuk memperoleh kemuliaan Tuhan kita. Keselamatan dalam pengudusan Roh itu dan kebenaran yang dipercaya adalah prosedur, sedangkan .memperoleh kemuliaan Tuhan kita adalah sasarannya.
Dalam 2 Timotius 1:9 Paulus mengatakan bahwa Allah "menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud kasih karunia-Nya sendiri." Allah bukan hanya menyelamatkan kita untuk menikmati berkat-Nya, tetapi juga memanggil kita dengan panggilan kudus, panggilan untuk sebab khusus untuk menggenapkan tujuan-Nya. Tujuan di sini adalah rencana Allah menurut kehendak-Nya untuk menempatkan kita ke dalam Kristus, membuat kita menjadi satu dengan Dia untuk berbagian dalam hayat dan kedudukan-Nya sehingga kita menjadi kesaksian-Nya.
Dalam surat kiriman yang kedua, Petrus memberi kita perkataan mengenai panggilan Allah yang mengatakan bahwa Allah, "telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib (telah memanggil kita kepada kemuliaan dan kebajikan-Nya sendiri—TI.)" (2 Ptr. 1:3). Kemuliaan adalah ekspresi Allah, Allah diekpresikan dalam kemegahannya. Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan "kebajikan" berarti keunggulan. Kebajikan mengacu kepada energi hayat untuk menang atas semua halangan dan untuk melaksanakan semua atribut yang unggul, kemuliaan adalah sasaran ilahi dan kebajikan adalah tenaga dan kekuatan hayat untuk mencapai sasaran.
Dalam 1 Petrus 2:9 kita diberi tahu bahwa Allah telah memanggil kita keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib. Kegelapan adalah ekspresi dan ruang lingkup Satan dalam kematian; terang adalah ekspresi dan ruang lingkup Allah dalam hayat. Allah telah memanggil kita, melepaskan kita, dari wilayah kegelapan kematian Satan ke dalam wilayah terang hayat-Nya (Kis. 26:18; Kol. 1:13).
b. Mengampuni Kaum Beriman
Selain memanggil kita, Allah telah mengampuni kita. Efesus 4:32 memberi tahu bahwa Allah di dalam Kristus telah mengampuni kita, dan Kolose 2:13 mengatakan bahwa Allah telah mengampuni segala pelanggaran kita. Menurut Ibrani 8:12, Allah tidak akan lagi mengingat dosa-dosa kita. Ini berarti Allah akan melupakan dosa-dosa kita. Mengampuni berarti melupakan, karena melupakan dosa-dosa adalah pengampunan yang sejati akan dosa-dosa. Tanpa melupakan, pengampunan tersebut tidak riil. Karenanya, Allah tidak hanya mengampuni dosa-dosa kita tetapi juga melupakannya.
Satu Yohanes 1:9 memberi tahu kita bahwa Allah adalah setia dan adil untuk mengampuni kita dari dosa-dosa kita. Mengampuni kita adalah membebaskan kita dari pelanggaran dosa-dosa kita. Pengampunan dosa-dosa adalah elemen dasar dari Injil Allah (Luk. 24:47; Kis. 5:31; 10:43; 13:38). Melalui ini, kaunn beriman yang menerima Kristus menjadi anak-anak Allah (1 Yoh. 2:12; Yoh. 1:12-13).
c. Membenarkan Kaum Beriman
Banyak ayat-ayat dalam kitab Roma menyatakan bahwa Allah membenarkan kaum beriman. Roma 8:30 mengatakan bahwa "mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya." Kemudian 8:33b menyatakan, "Allah, yang membenarkan mereka." Menurut Roma 3:24, "oleh kasih karunia (kita) telah dibenarkan secara cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus," karena Allah adalah adil dan membenarkan orang yang percaya kepada Yesus (ay. 26). Pembenaran Allah adalah tindakan Allah dalam memperkenan orang-orang menurut standar keadilbenaran-Nya. Keadilbenaran Allah adalah standar, bukan keadilbenaran kita. Tidak perduli betapa adil-benarnya kita, kita tidak dapat diperkenan oleh Allah menurut keadilbenaran kita. Walaupun kita mungkin benar terhadap setiap orang-orang tua kita, anak-anak kita, tetangga-tetangga, dan teman-teman kita—keadilbenaran kita tidak akan pernah membenarkan kita di hadapan Allah. Kita mungkin bisa membenarkan diri kita sendiri menurut standar keadilbenaran kita, tetapi ini tidak akan membuat kita dibenarkan oleh Allah menurut standar-Nya. Tetapi ketika Allah membenarkan kita, kita diperkenan oleh-Nya menurut standar keadilbenaran-Nya.
Bagaimana Allah dapat membenarkan kita, memperkenan kita menurut standar keadilbenaran-Nya? Ia dapat melakukan hal ini karena pekerjaan pembenaran adalah berdasarkan penebusan Kristus. Ketika penebusan Kristus diterapkan di atas diri kita, kita dibenarkan. Jika tidak ada penebusan yang demikian, tidak mungkin bagi kita dibenarkan oleh Allah. Penebusan Kristus adalah dasar pembenaran Allah.
Dalam Roma 3:30 Paulus mengatakan, "Artinya, kalau ada satu Allah yang akan membenarkan baik orang-orang bersunat karena iman maupun orang-orang tak bersunat juga karena iman." Allah adalah satu. Allah yang satu ini membenarkan baik orang-orang Yahudi maupun orangorang bukan Yahudi. Entah kita adalah orang Yahudi atau bukan, Allah yang satu itulah yang membenarkan kita semua sehingga kita dapat menjadi satu sebagai Tubuh Kristus.
d. Mendamaikan Kaum Beriman
Allah juga telah mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri. Roma 5:10 mengatakan, "Sebab jikalau kita, ketika kita masih seteru, diperdamaikan dengan Allah oleh kematian Anak-Nya." Kolose 1:21 dan 22 juga mengindikasikan bahwa sebagai seteru, kita telah didamaikan dengan Allah. Pada mulanya, kita bukan hanya orang-orang dosa tetapi juga seteru-seteru Allah. Melalui kematian Kristus yang menebus, Allah telah membenarkan kita, orang-orang berdosa, dan telah mendamaikan kita, seteru-seteru-Nya, dengan diri-Nya. Karena kita adalah orang-orang berdosa, kita memerlukan penebusan. Karena kita juga adalah seteru-seteru Allah, kita memerlukan pendamaian dengan Dia. Hal ini terjadi ketika kita percaya kepada Tuhan Yesus. Kita telah menerima pembenaran dan pendamaian Allah melalui iman.
Kolose 1:20 dan 22 memberi tahu kita bahwa melalui Kristus sebagai instrumen aktif itulah pekerjaan pendamaian Allah diproses, ayat-ayat itu juga memberi tahu kita bahwa mendamaikan kita dengan Allah berarti membuat kita damai dengan Allah, dan hal ini dirampungkan melalui darah Kristus. Melalui kematian Kristus, Allah telah mendamaikan kita dengan diri-Nya sendiri supaya kita dapat dipersembahkan di hadapan-Nya sebagai yang kudus, tak bercela, dan tanpa cacat.
e. Menerima Kaum Beriman
Roma 14:3 mengindikasikan bahwa Allah menerima kaum beriman. Allah menerima kita menurut Putra-Nya. Asalkan seseorang menerima Putra-Nya, Tuhan kita Yesus Kristus, sebagai Juruselamatnya, Allah segera menerima dia. Penerimaan Allah adalah berdasarkan penerimaan Kristus, dan penerimaan Kristus sesuai dengan iman kita dalam Dia. Begitu kita percaya kepada Kristus, kita diterima oleh Allah. Penerimaan Allah memimpin kita ke dalam kenikmatan terhadap Allah Tritunggal dan segala sesuatu yang telah Ia persiapkan dan rampungkan dalam Kristus bagi kita sebagai bagian kekal kita.
f. Melahirkan kembali Kaum Beriman
Satu Petrus 1:3 mengatakan, "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati." Seperti penebusan dan pembenaran, kelahiran kembali adalah aspek dari keselamatan lengkap Allah. Penebusan dan pembenaran menyelesaikan masalah kita dengan Allah dan mendamaikan kita dengan Allah. Kelahiran kembali menghidupkan kita dengan hayat Allah dan membawa kita ke dalam hubungan hayat, keesaan organik dengan Allah. Karena itu, kelahiran kembali menghasilkan dan mendatangkan pengharapan yang hidup. Kelahiran kembali yang sedemikian terjadi melalui kebangkitan Kristus dari antara orang mati. Ketika Kristus dibangkitkan, kita, kaum beriman-Nya, semuanya tercakup di dalam Dia. Dengan demikianlah, kita dibangkitkan bersama Dia (Ef. 2:6). Dalam kebangkitan-Nya, hayat ilahi dibagikan ke dalam kita dan membuat kita menjadi sama seperti Kristus dalam hayat dan sifat. Ini adalah faktor dasar dari kelahiran kembali kita.
Dilahirkan kembali adalah menerima hayat yang lain, hayat ilahi Allah, selain hayat insani kita. Melalui kelahiran kembali, Allah membagikan hayat ilahi-Nya ke dalam kita. Kita semua telah dilahirkan dari hayat ilahi-Nya. Inilah dilahirkan kembali oleh Allah.
Yakobus 1:18 juga membicarakan pekerjaan Allah dalam melahirkan kembali kaum beriman, "Atas kehendak-Nya sendiri Ia telah menjadikan kita oleh firman kebenaran, supaya kita pada tingkat yang tertentu menjadi anak sulung di antara semua ciptaan-Nya." Allah melahirkan kita, melahirkan kita kembali, atas kehendak-Nya sendiri, oleh maksud-Nya, untuk melaksanakan tujuan-Nya agar kita bisa menjadi buah sulung di antara semua ciptaan-Nya. Menjadi buah sulung di antara semua ciptaan Allah adalah menjadi hayat yang penuh semangat yang lebih dulu matang. Hal ini terjadi melalui kelahiran ilahi, kelahiran kita kembali (Yoh. 3:5-6), yang dilaksanakan menurut tujuan kekal Allah.
Allah melahirkan kita, melahirkan kita kembali melalui firman kebenaran. Firman kebenaran adalah firman dari realitas ilahi, firman dari apa adanya Allah Tritunggal (Yoh. 1:14, 17). Firman ini adalah benih hayat yang melaluinya kita dilahirkan kembali (1 Ptr. 1:23).
g. Membasuh Kaum Beriman
Satu Yohanes 1:9 membicarakan pencucian atau pembasuhan kaum beriman: "Jika kita mengaku dosa kita, maka la adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." Diampuni adalah dibebaskan dari pelangaran karena dosa-dosa kita, sedangkan dibasuh adalah dicuci dari noda kefasikan. Dalam ayat ini, "kefasikan" dan "dosa-dosa" adalah sinonim. Segala kefasikan (kejahatan) adalah dosa (1 Yoh. 5:17). Keduanya mengacu kepada pelanggaran-pelanggaran kita. "Dosa" mengindikasikan kesalahan pelanggaran-pelanggaran kita terhadap Allah dan manusia; "kejahatan" mengindikasikan noda pelanggaran-pelanggaran kita, bahwa kita tidak benar baik terhadap Allah maupun manusia. Pelanggaran memerlukan pengampunan Allah, dan noda memerlukan pembasuhan. Baik pengampunan maupun pembasuhan Allah, keduanya diperlukan untuk memulihkan persekutuan kita yang terputus dengan Dia agar kita dapat menikmati Dia dalam persekutuan yang berkesinambungan dengan hati nurani yang baik yang bebas dari pelanggaran (1 Tim. 1:5; Kis. 24:16).
h. Menguduskan Kaum Beriman
Dalam pekerjaan-Nya dalam zaman yang baru, Allah juga menguduskan kaum beriman, "Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa, dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita." (1 Tes. 5:23). Allah damai sejahtera adalah sang Pengudus. Pengudusan-Nya mendatangkan damai sejahtera. Ketika kita sepenuhnya dikuduskan oleh-Nya dari dalam, kita memiliki damai sejahtera dengan Dia dalam segala hal.
Kata Yunani untuk "dikuduskan" berarti dipisahkan, disisihkan bagi Allah, dari hal-hal yang umum atau cemar. Tetapi, dikuduskan melibatkan lebih dari sekadar dipisahkan dari kedudukan yang umum, duniawi, kepada kedudukan untuk Allah, seperti yang diilustrasikan dalam Matius 23:17 dan 19, yaitu emas dikuduskan oleh bait suci dan persembahan dikuduskan oleh mezbah dengan mengubah posisi mereka, dan dalam 1 Timotius 4:3-5, yaitu makanan dikuduskan oleh doa orang-orang kudus. Dikuduskan juga adalah perkara watak, yaitu perkara ditransformasi dari watak alamiah kepada yang rohani, seperti yang diindikasikan dalam Roma 12:2 dan 2 Korintus 3:18. Ini mencakup proses yang panjang, dimulai dari kelahiran kembali, melalui seluruh kehidupan kristiani (1 Tea. 4:3; Ibr. 12:14; Ef. 5:26), hingga menjadi sempurna pada saat terangkat, pada saat kematangan hayat.
Menurut 1 Tesalonika 5:23, Allah sedang menguduskan kaum beriman sepenuhnya. Ini berarti bahwa Ia sedang menguduskan kita seluruhnya, sepenuhnya, hingga rampung. Allah menguduskan kita seluruhnya sehingga tidak ada bagian dari diri kita yang tetap umum atau cemar, baik roh kita, jiwa, maupun tubuh kita.
i. Memuliakan Kaum Beriman
Dalam pekerjaan-Nya dalam zaman yang baru, Allah juga memuliakan kaum beriman. Roma 8:30 mengatakan, "Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya." Kalau pemuliaan akan terjadi di masa yang akan datang, mengapa Paulus menggunakan kale lampau dan mengatakan "dimuliakan"? Apakah kamu sudah dimuliakan? Meskipun dalam pengalaman kita, kita belum dimuliakan, Alkitab mengatakan bahwa kita telah dimuliakan. Segala sesuatu yang disebutkan dalam ayat 30 adalah fakta yang telah rampung--ditentukan dari semula, dipanggil, dibenarkan, dan dimuliakan. Alasan Paulus berbicara seperti ini di sini adalah menunjukkan bahwa meskipun kita tunduk kepada waktu, Allah tidak. Ia adalah Allah kekekalan. Pada-Nya, sebagai Allah yang kekal, tidak ada unsur waktu. Karenanya, dalam pandangan Allah, kita telah dimuliakan. Menurut konsep-Nya, hal ini telah rampung. Pemuliaan kita dijamin dan dipastikan dalam diri Allah yang kekal sendiri. Menurut pengalaman kita, pemuliaan akan terjadi dalam masa yang akan datang. Tetapi menurut pandangan Allah, hal itu telah terjadi. Pada Allah, segala sesuatu tidak terikat oleh waktu. Dalam pandangan-Nya, penentuan kita dari semula, panggilan kita, pembenaran kita, dan pemuliaan kita adalah perkara kekal.
Menurut Roma 5:2 kata "bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah." Roma 9:23 mengatakan bahwa kita adalah "benda-benda belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan". Kemuliaan ini akan ada dalam pernyataan kerajaan yang akan datang, yang di dalamnya kita, sebagai anak-anak Allah, akan berpartisipasi (Rm. 8:21). Allah telah memanggil kita ke dalam kemuliaan ini (1 Tes. 2:12; 2 Tes. 2:14; 1 Ptr. 5:10), dan Kristus sendiri adalah pengharapan akan kemuliaan ini (Kol. 1:27) yang kita harapkan dan yang kita nantikan. Kita akan berbagian dalam kemuliaan ini pada hari pemuliaan kita.
Roma 8:30 tidak mengatakan bahwa kita akan diletakkan ke dalam kemuliaan; sebaliknya ayat ini mengindikasikan bahwa kita akan dimuliakan. Seperti yang telah kita tunjukkan, kemuliaan adalah ekspresi Allah. Kristus, pengharapan akan kemuliaan, telah ditaburkan ke dalam kita sebagai benih kemuliaan, dan benih ini akan bertumbuh hingga mencapai tingkat berbunga, yaitu sampai saat kemuliaan itu terpancar. Bagi Allah memuliakan kita berarti bahwa kemuliaan yang telah ditaburkan di dalam kita, meresapi seluruh diri kita dan diekspresikan melalui kita. Ketika seluruh diri kita dijenuhi dan diresapi dengan elemen kemuliaan, kemuliaan itu akan terpancar dari diri kita. Inilah yang dimaksud dengan Allah memuliakan kita. Ketika kita mengalami pemuliaan ini, kita akan berada dalam ekspresi Allah.
Kita telah membahas sembilan aspek dari pekerjaan Allah dalam hubungannya dengan kaum beriman: memanggil, mengampuni, membenarkan, mendamaikan, menerima, melahirkan kembali, membasuh, menguduskan, dan memuliakan. Kita telah dipanggil, diampuni, dibenarkan, didamaikan, diterima, dilahirkan kembali, dan dibasuh. Kita sedang dikuduskan, dan kita akan dimuliakan. Semua perkara ini berkaitan dengan dispensi Allah. Panggilan, pengampunan, pembenaran, pendamaian, penerimaan, kelahiran kembali, pembasuhan, dan pengudusan Allah adalah untuk pendispensian diri-Nya sendiri ke dalam kita. Langkah terakhir—pemuliaan—adalah untuk pendispensian Allah sepenuhnya. Kita perlu melihat bahwa semua aspek dari pekerjaan Allah ini yang berkaitan dengan kaum beriman adalah untuk sasaran dari pendispensian diri-Nya sendiri ke dalam kita.
23. Mengutus Roh Putra-Nya masuk ke dalam
Hati Kaum Beriman
Galatia 4:6 mengatakan, "Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: ya Abba, ya Bapa!" Anak Allah adalah pengejawantahan hayat ilahi (1 Yoh. 5:12). Karena itu Roh Anak Allah adalah Roh hayat (Rm. 8:2). Allah memberi kita roh hayat-Nya bukan karena kita adalah orang-orang yang memelihara hukum Taurat tetapi karena kita adalah anak-anak-Nya. Sebagai pemelihara hukum Taurat, kita tidak memiliki hak untuk menikmati Roh hayat Allah. Sebagai anak-anak Allah, kita memiliki kedudukan dengan hak penuh untuk berbagian dalam Roh Allah, yang memiliki suplai hayat yang limpah. Roh yang sedemikian, Roh Anak Allah, adalah pusat dari berkat janji Allah kepada Abraham (Gal. 3:14).
Dalam ayat 4 sampai 6 dari Galatia pasal 4, Allah Tritunggal sedang menghasilkan banyak putra untuk penggenapan tujuan kekal-Nya. Allah Bapa mengutus Allah Putra untuk menebus kita dari hukum Taurat supaya kita dapat menerima keputraan. Ia juga mengutus Allah Roh untuk membagikan hayat-Nya ke dalam kita agar kita dapat menjadi anak-anak-Nya dalam realitas.
Galatia 4:4 dan 6 membicarakan dua jenis pengutusan. Ayat 4 mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya dan ayat 6 mengatakan bahwa Allah mengutus Roh Anak-Nya. Menurut janji dalam kejadian 3:15, Kristus datang di bawah hukum Taurat sebagai benih perempuan untuk menebus orang-orang yang berada di bawah hukum Taurat, sehingga mereka dapat menerima keputraan. Karena itu, sasaran penebusan Kristus adalah keputraan. Melalui penebusan-Nya, Kristus telah membuka jalan bagi kita untuk memiliki keputraan Allah. Tetapi, jika Allah tidak mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, keputraan kita akan kosong. Itu hanya menjadi kedudukan atau bentuk keputraan, tetapi bukan keputraan dengan realitas. Realitas keputraan, yang tergantung pada hayat dan kematangan, hanya datang oleh Roh Anak Allah. Itulah sebabnya Galatia 4:6 mendeklarasikan bahwa Allah telah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita.
Kita tidak seharusnya mengira bahwa Roh Anak adalah persona yang terpisah dari Anak. Sesungguhnya, Roh Anak adalah bentuk lain dari Anak. Dia yang telah disalibkan adalah Kristus, tetapi Dia yang masuk ke dalam kaum beriman adalah Roh itu. Dalam ketersaliban untuk penebusan kita, Dia adalah Kristus, tetapi untuk berdiam di dalam kita menjadi hayat kita, Ia adalah Roh itu. Ketika anak mati di atas salib, Ia adalah Kristus, tetapi ketika Ia masuk ke dalam kita, Ia adalah Roh itu. Pertama Ia datang sebagai Anak di bawah hukum Taurat untuk melayakkan kita bagi keputraan dan untuk membuka jalan bagi kita agar dapat berbagian dalam keputraan ini. Setelah Ia menyelesaikan pekerjaan ini, dalam kebangkitan, Ia menjadi Roh pemberi-hayat dan datang kepada kita sebagai Roh Anak. Jadi, pertama-tama Allah Bapa mengutus Putra untuk merampungkan penebusan dan untuk melayakkan kita bagi keputraan. Kemudian Ia mengutus Roh Anak untuk memvitalkan keputraan dan menjadikannya riil dalam pengalaman kita. Hari ini keputraan sesungguhnya tergantung pada Roh Anak Allah.
Galatia 4:6 mengatakan bahwa Allah mengutus Roh Anak-Nya ke dalam hati kita. Sesungguhnya Roh Allah masuk ke dalam roh kita pada saat kelahiran kita kembali (Yoh. 3:6; Rm. 8:16). Karena Roh kita tersembunyi dalam hati kita (1 Ptr. 3:4) dan karena firman dalam Galatia 4:6 mengacu kepada perkara yang berhubungan dengan perasaan dan pemahaman kita, yang keduanya termasuk hati kita, ayat ini mengatakan bahwa Roh Anak Allah diutus ke dalam hati kita.
24. Memberikan Hayat Kepada Kaum Beriman
Roma 8:11 mengatakan, "Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu." Allah kebangkitan yang membangkitkan Kristus dari antara orang mati memberikan hayat, hayat ilahi, ke dalam tubuh kaum beriman yang fana untuk menguatkan tubuh mereka dan bahkan membuat tubuh mereka yang sekarat hidup melalui Roh-Nya yang berhuni di dalam roh kita. Melalui inilah kaum beriman dapat memberikan hayat kepada saudara yang berdosa seperti yang disebutkan dalam 1 Yohanes 5:16. Saudara ini tidak memberikan hayat kepada orang lain dengan dirinya, ia memberikan hayat kepada orang lain melalui menjadi satu roh dengan Tuhan (1 Kor. 6:17), dengan demikian ia dapat membagikan hayat Tuhan kepada orang lain dalam persekutuan hayat ilahi Tuhan melalui Roh pemberi-hayat.
25. Membuat Kaum Beriman Bertumbuh dalam Hayat
Dalam 1 Korintus 3:6-7 Rasul Paulus, seorang ahli menanam dalam ladang Allah, memberi tahu kita bahwa hanya Allah yang memberikan pertumbuhan kepada kaum beriman, tanaman rohani di ladang Allah. Tidak peduli seberapa banyak Paulus dapat menanam dan Apolos dapat menyiram, mereka tidak dapat memberikan pertumbuhan kepada tanaman tersebut. Allah adalah satu-satunya yang dapat membuat kita bertumbuh, karena Ia adalah sumber hayat satu-satunya yang memiliki suplai hayat satu-satunya. Pertumbuhan diberikan Allah kepada kita adalah pertumbuhan dalam hayat, yang amat sangat diperlukan bagi kita untuk ditransformasi menjadi bahan-bahan berharga, batu-batu permata, bagi bangunan Allah ( 1 Kor. 3:9-12a).
26. Bekerja di dalam Kaum Beriman
dalam Hayat
Filipi 2:13 mengatakan, "Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." Filipi adalah sebuah kitab yang menunjukkan kepada kita jalan untuk mengalami Kristus. Dalam ayat ini kita diberi tahu bahwa agar kita dapat mengalami Kristus, Allah mengerjakan di dalam kita baik kemauan secara batin maupun pekerjaan secara lahir, sehingga kita dapat memperhidupkan Kristus sebagai hayat kita untuk kerelaan kehendak Allah (perkenan Allah), seperti yang dilakukan Kristus dalam keinsanian-Nya ketika Ia berada di bumi. Pekerjaan Allah di dalam kita adalah untuk melaksanakan keselamatan kita dalam hidup kita sehari-hari seperti diindikasikan oleh ayat sebelumnya, bahkan saat bersungut-sungut dan berbantah-bantahan seperti yang ditunjukkan dalam ayat berikutnya.
27. Mengerjakan Segala Sesuatu
di dalam Kaum Beriman
Berbicara mengenai karunia-karunia rohani, mengenai pembagian pekerjaan, rasul Paulus mengatakan dalam 1 Korintus 12:6, bahwa Allah "mengerjakan semuanya dalam semua orang". Dalam pekerjaan Allah di zaman yang baru, Ia juga mengerjakan segala sesuatu, khususnya menurut konteks dari 1 Korintus 12:6, perkara-perkara yang berkaitan dengan pelaksanaan karunia-karunia Roh untuk ministri Tuhan. Untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya di dalam dan melalui semua kaum beriman, Allah mengerjakan segala sesuatu dalam kaum beriman menurut hasrat-Nya. Hal ini terutama dikerjakan dalam sidangsidang gereja melalui fungsi kaum beriman dalam melaksanakan karunia-karunia Roh untuk ministri Tuhan di bawah berbagai pekerjaan Allah. Inilah cara Allah dalam Trinitas ilahi-Nya bekerja di dalam kaum beriman sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru-Nya, untuk merampungkan tujuan kekal-Nya demi ekspresi diri-Nya sendiri dalam manifestasi-Nya.