← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 20/20

ALLAH—PEKERJAAN-NYA (7)

Dalam berita ini kita akan membahas lebih banyak butir mengenai pekerjaan Allah dalam zaman-Nya yang baru dan kemudian kita akan melanjutkan meninjau pekerjaan Allah dalam kekekalan di masa yang akan datang.

28. Memelihara dan Menjaga Kaum Beriman

dan Memberi Mereka Jalan Keluar dari Pencobaan

Allah memelihara kaum beriman dan menjaga mereka, Ia juga memberi mereka jalan keluar dari pencobaan. Mengenai pemeliharaan Allah terhadap kaum beriman, 1 Petrus 5:7 mengatakan, "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." Kata "serahkan" di sini berarti lemparkan pada, yaitu memasukkan, membuang. Kata kerja tersebut mengacu kepada tindakan sekali untuk semuanya. Kata "segala kekuatiranmu" ditujukan kepada seluruh kumpulan kekuatiran kita di sepanjang hidup kita, seluruh hidup kita dengan segala kekuatirannya, harus diserahkan kepada Allah. Kita perlu belajar bagaimana membuang beban kekuatiran kita kepada Allah. Meskipun kata kerja "serahkan" mengindikasikan suatu tindakan sekali untuk selamanya, tetapi karena kita lemah, kita perlu menyerahkan kekuatiran kita kepada Allah berulang-ulang.

Kita boleh menyerahkan segala kekuatiran kita kepada Allah karena "Ia itulah yang memelihara kita". Kata "Ia itulah memelihara kita" dapat juga diterjemahkan, "Ia merawat kita." Allah memiliki perhatian yang penuh kasih terhadap kaum beriman khususnya terhadap orang-orang yang dianiaya. Karena Ia memelihara mereka dengan setia, mereka dapat menyerahkan kekuatiran mereka kepada-Nya, khususnya saat penganiayaan.

Dalam Filipi 4:7 Paulus berkata, "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Kata Yunani yang diterjemahkan "memelihara (guard)" di sini dapat juga diterjemahkan "mengadakan penjagaan atas." Allah damai sejahtera meronda, atau berjaga-jaga, di depan hati dan pikiran kita dalam Kristus. Hati adalah sumbernya dan pikiran kita adalah hasilnya. Damai sejahtera Allah menjaga baik hati maupun pikiran kita. Ini berarti bahwa dalam Kristus Yesus damai sejahtera Allah meronda sebagai seorang penjaga yang mondar-mandir di depan hati dan pikiran kita. Damai sejahtera Allah yang meronda dalam insan batin kita secara demikian menjaga kita tenang dan sentosa. Meskipun kita mungkin dapat memiliki banyak masalah dan kekuatiran, tidak ada satupun yang akan mengganggu kita. Damai sejahtera Allah yang diinfuskan ke dalam kita menjaga kita tenang bahkan ketika damai sejahtera itu menjaga kita.

Yudas 24 mengatakan Allah sebagai Dia "yang berkuasa menjaga supaya jangan kamu tersandung dan yang membawa kamu dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya." Di sini penulis menunjukkan dengan jelas bahwa meskipun ia telah menyuruh kaum beriman untuk berjerih lelah dalam perkara-perkara yang disebutkan dalam ayat 20 sampai 23, namun hanya Allah Juruselamat kita yang dapat menjaga agar mereka tidak tersandung dan yang membawa mereka dengan tak bernoda dan penuh kegembiraan di hadapan kemuliaan-Nya.

Satu Korintus 10:13 memberi tahu kita bahwa Allah menyediakan jalan keluar bagi kaum beriman dari pencobaan, "Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya." Allah dalam kesetiaan-Nya tidak akan membiarkan pencobaan apapun menimpa melampaui apa yang dapat kita tanggung, tetapi akan selalu membuat jalan keluar bagi kita. Perkataan Paulus menghibur sekaligus mengkoreksi. Kita mengira bahwa pencobaan-pencobaan itu terlalu berat bagi kita untuk bertahan. Tetapi Paulus mengatakan bahwa tidak ada satu pencobaanpun yang telah menimpa kita kecuali pencobaan-pencobaan biasa. Ia juga meyakinkan kita bahwa Allah itu setia dan tidak akan mengijinkan kita untuk dicobai melampaui apa yang dapat kita tanggung, tetapi pada waktu dicobai, Ia akan memberikan jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Ini adalah kata-kata janji dan dorongan.

29. Mendorong Kaum Beriman

Dalam 2 Korintus 1:3-4, Rasul Paulus memuji Allah sebagai Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur dia dan kawan sekerjanya dalam penderitaan mereka, sehingga mereka sanggup menghibur orang-orang yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang mereka terima sendiri dari Allah. Selanjutnya, dalam 2 Korintus 7:6, ia menganggap Allah sebagai Allah yang menghiburkan orang yang rendah hati (dicampakkan—Tl.), dan Allah ini telah menghibur dia dan sekerjanya dengan kedatangan Titus. Secara sepintas dorongan berbeda dengan hiburan dan pelipur lara, yang mengandung arti mengasuh. Ini mengindikasikan bahwa Allah bukan hanya menghibur dan melipur kita, tetapi juga menggembirakan kita, membuat kita bahagia dengan kebaikan-Nya. Ini juga adalah salah satu memperlengkapi pekerjaan Allah di dalam kita.

30. Melengkapi, Meneguhkan, Menguatkan,

dan Mengokohkan Kaum Beriman

Satu Petrus 5:10 mengatakan, "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kamu". Menurut apa yang dikatakan Petrus di sini, penderitaan kita hanya untuk seketika lamanya, tetapi kemuliaan Allah itu kekal. Setelah kita menderita seketika lamanya, Allah sumber segala kasih karunia sendiri akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan kita.

Ayat di atas menunjukkan bahwa Allah sendirilah yang melakukan pekerjaan kasih karunia-Nya. Kata Yunani yang diterjemahkan "menyempurnakan" secara hurufiah berarti memulihkan. Ini menyiratkan, memperbaiki, menyesuaikan, mengatur kembali, membetulkan, mempersatukan dengan sempurna, melengkapi secara menyeluruh, diperlengkapi dengan baik, dan dengan demikian berarti menyempurnakan, melengkapi, dan mendidik. Kata Yunani "meneguhkan" secara harfiah berarti mengencangkan, menegaskan. Kata yang sama digunakan oleh Tuhan dalam perintah-Nya kepada Petrus dalam Lukas 22:32. Arti "menguatkan" hampir sama dengan meneguhkan. Secara harfiah, kata Yunani yang diterjemahkan "mengokohkan" berarti meletakkan dasar untuk. Ini adalah kata dasar yang berarti fondasi. Karena itu meneguhkan dengan kokoh seperti dalam Matius 7:25, Efesus 3:17, dan Ibrani 1:10.

Ada suatu kemajuan dalam keempat tindakan kasih karunia ilahi. Melengkapi memimpin kepada meneguhan, meneguhkan memimpin kepada menguatkan, dan menguatkan memimpin kepada mengokohkan dalam Allah sumber segala kasih karunia—Allah Tritunggal dalam dispensi-Nya sebagai fondasi kokoh. Pertama-tama Allah melengkapi kita. Melalui penderitaan dari penganiayaan kita dilengkapi. Kemudian setelah melengkapi kita, Allah meneguhkan kita, ketika kita diteguhkan, kita tidak lagi berkelana, dan kita tidak lagi mudah berubah. Setelah Allah meneguhkan kita, Ia menguatkan kita, dan pada akhirnya mengokohkan diri-Nya sendiri sebagai Allah Tritunggal.

Roma 16:25 memberi tahu kita bahwa menurut Injil dan pemberitaan Tuhan Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia yang didiamkan berabad-abad lamanya itulah Allah yang berkuasa meneguhkan kita. Ini mengindikasikan bahwa peneguhan Allah atas diri kita adalah perkara besar. Ini adalah menurut Injil yang diberitakan oleh Kristus sesuai dengan pernyataan rahasia yang didiamkan selama berabad-abad lamanya. Efesus 3:16 adalah penguatan Allah terhadap kaum beriman, "Aku berdoa supaya Ia menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan (dengan kekuatan) dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu."

Kata "menguatkan" dimodifikasi dengan empat frase: "Menurut kekayaan kemuliaan-Nya," "dengan kekuatan," "oleh Roh-Nya" dan "di dalam batinmu." Pertama-tama kita dikuatkan menurut kekayaan kemuliaan Bapa, kemudian kita dikuatkan dengan kekuatan, kekuatan kebangkitan yang disebutkan dalam Efesus 1:19-20. Selanjutnya, Bapa menguatkan kita melalui Roh yang menghuni. Ini tidak berarti bahwa Roh itu tidak menyertai kita, atau Roh itu akan turun dari surga untuk menguatkan kita. Penguatan Roh itu telah menyertai kita sejak Allah melahirkan kita kembali. Sekarang Ia tetap berada di dalam kita. Melalui Roh yang menghuni Bapa menguatkan kita dari dalam. Menurut ayat 16, kita dikuatkan ke dalam insan batin. Insan batin adalah roh kelahiran kembali kita yang memiliki hayat Allah sebagai hayatnya. Roh kita itulah yang dilahirkan kembali oleh Roh Allah (Yoh. 3:6), di huni oleh Roh Allah (Rm. 8:11, 16), dan dibaurkan dengan Roh Allah (1 Kor. 6:17). Untuk mengalami Kristus sampai kepada seluruh kepenuhan Allah, kita perlu dikuatkan oleh Allah ke dalam insan batin.

31. Mendisiplin Kaum Beriman

Menyebutkan mengenai penderitaan kaum beriman Ibrani karena penganiayaan, Ibrani 12:5-11 menganggap penganiayaan sebagai pendisiplinan Allah Bapa terhadap kaum beriman yang adalah anak-anak Allah yang sejati (ay. 7). Di sini dikatakan, "Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak" (ay. 6), dan semua kaum beriman sebagai anak-anak Allah telah menjadi orang-orang yang berbagian dalam pendisiplinan Bapa (ay. 8). Ia menyuruh agar kita sebagai anak-anak Allah tidak menganggap remeh pendisiplinan Allah (ay. 5), tetapi sebaliknya menghormati Bapa sebagai orang yang mendisiplin dan lebih taat kepada Dia yang adalah Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup (ay. 9). Bapa mendisiplin kita demi kebaikan kita agar kita dapat berbagian dalam kekudusan-Nya (ay. 10) yang merupakan ciri khas dari sifat kudus-Nya. Ini adalah pekerjaan yang lebih baik dari Allah Bapa kita dalam menanggulangi kita sebagai anak-anak-Nya. Pekerjaan-Nya untuk membuat kita menjadi kudus berkaitan dengan pekerjaan transformasi Roh itu ( 2 Kor. 3:18), yang dilaksanakan melalui dispensi ilahi di dalam batin dan penanggulangan melalui lingkungan secara luaran.

Ibrani pasal 12 melanjutkan memberi tahu kita bahwa "memang tiap-tiap ganjaran pada waktu Ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih oleh-Nya" (Ay. 11). Pendisiplinan Allah bukan hanya membuat kita berbagian dalam kekudusan-Nya tetapi juga menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai sejahtera. Damai sejahtera adalah buah dari keadilbenaran (Yes. 32:17). Kekudusan mengacu kepada sifat batin, sedangkan keadilbenaran mengacu kepada tindak tanduk diluar, yaitu untuk membuat kita benar secara lahir baik terhadap Allah maupun manusia, sehingga dalam situasi keadilbenaran yang sedemikian, kita dapat menikmati damai sejahtera sebagai buah yang manis, buah keadilbenaran yang mendatangkan damai sejahtera.

32. Membuat Segala Sesuatu Bekerja Bersama

untuk Mendatangkan Kebaikan bagi Mereka yang Mengasihi Allah

dan yang Dipanggil sesuai dengan Rencana Allah

Roma 8:28 mengatakan, "kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." Dalam bahasa Yunani kata yang diterjemahkan "segala sesuatu" mengacu kepada segala perkara, semua orang, dan segala benda. Allah Bapa itu berdaulat dan Ia mengatur segala sesuatu. Ia mengetahui apa yang kita perlukan. Dalam kedaulatan-Nya, Ia membuat segala hal, segala perkara, dan semua orang untuk bekerja bersama demi kebaikan orang-orang yang mengasihi Dia dan yang telah dipanggil oleh-Nya sampai pada akhirnya sehingga mereka dapat menggenapkan tujuan-Nya.

Allah telah menetapkan tujuan kita sebelumnya, dan tujuan ini tidak dapat digenapkan tanpa pengaturan ilahi yang membuat segala sesuatu bekerja bersama bagi kita. Tujuan kita adalah diserupakan dengan gambar Putra sulung Allah (Rm. 8:29). Kita belum sepenuhnya menurut gambar Putra sulung Allah, tetapi Allah Bapa sedang membuat segala sesuatu bekerja bersama demi mendatangkan kebaikan sehingga tujuan-Nya yang ingin memiliki banyak putra untuk diserupakan dengan gambaran Putra sulung dapat digenapkan.

Allah bermaksud untuk membawa kita ke dalam keputraan yang penuh, karena itu kita perlu bertumbuh. Tidak diragukan, pertumbuhan berasal dari perawatan batin, tetapi perawatan ini memerlukan koordinasi dengan lingkungan luar. Di sinilah diperlukan adanya kedaulatan Allah untuk mengatur lingkungan kita sehingga segala sesuatu dapat bekerja bersama untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sesuai dengan tujuan-Nya.

33. Menjawab Dos-doe Kaum Beriman

Yohanes 16:23b; Matius 6:6; Lukas 18: 7-8, Yakobus 5:14-16; Filipi 4:6-7; dan Wahyu 6:10-11 dan 8:3-5, dengan jelas mengindikasikan bahwa Allah menjawab doa-doa kaum beriman. Menjawab doa-doa kita memerlukan banyak sekali tindakan dalam pekerjaan Allah untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Karena itu, ini juga adalah butir dari pekerjaan Allah di dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya.

34. Menghancurkan Satan

di bawah Kaki Kaum Beriman

Roma 16:20 mengatakan, "Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu." Janji ini mengindikasikan bahwa Allah sedang bekerja untuk menghancurkan musuh kita Satan di bawah kaki kita. Meskipun ini adalah sesuatu yang bersifat negatif, tetapi tetap merupakan butir dari pekerjaan Allah bagi kita dalam zaman-Nya yang baru untuk perampungan rencana kekal-Nya sehingga Ia dapat memiliki manifestasi yang lengkap demi ekspresi kekal-Nya.

35. Membangun Yerusalem Baru

Ibrani 11:10 memberi tahu bahwa Allah adalah Perencana dan Pembangun kota kudus, Yerusalem Baru (Ibr. 12:22a; Why. 21:2). Ini mengindikasikan bahwa Allah adalah Pembangun Yerusalem Baru. Pekerjaan pembangunan Allah dimulai dengan melengkapi orang-orang kudus Perjanjian Lama, dan dimulai dari bapa-bapa leluhur dalam zaman yang lama. Ini berlanjut secara lebih intensif dalam menghasilkan kaum beriman yang matang dalam zaman yang baru. Sesungguhnya, seluruh Alkitab penuh dengan catatan mengenai pekerjaan Allah dalam membangun Yerusalem Baru sebagai manifestasi-Nya yang lengkap demi ekspresi sempurna-Nya dalam kekekalan, sepanjang zaman dalam ciptaan lama: zaman bapa-bapa leluhur, zaman hukum Taurat, zaman kasih karunia, dan zaman kerajaan. Yerusalem Baru adalah suatu susunan dari semua orangorang kudus Perjanjian Lama yang telah dilengkapi dan semua orang beriman Perjanjian Baru yang telah matang. Ini adalah yang terbesar di antara pekerjaan Allah untuk perampungan ekonomi kekal-Nya, bagian terbesar yang dilaksanakan dalam zaman Perjanjian Baru.

36. Memberi Kristus Wahyu Mengenai

Perkara-perkara yang akan Datang,

yaitu Gereja, Israel, dan Dunia

Wahyu 1:1 membicarakan, "Inilah wahyu Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kepada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi." Sebagai kesimpulan dari wahyu ilahi dalam kitab suci, Allah memberi Kristus wahyu akhir ini, yaitu wahyu mengenai tiga kategori orang dalam alam semesta: gereja, Israel, dan dunia. Gereja berada di bawah pendisiplinan dan penyempurnaan surgawi Kristus sehingga ia dapat dibawa masuk ke dalam kerajaan Allah dan Kristus yang terampung dalam Yerusalem Baru untuk ekspresi Allah dalam kekekalan. Israel berada di bawah pemeliharaan kedaulatan Allah sehingga ia juga dapat terampung dalam Yerusalem Baru demi manifestasi kekal Allah. Dunia mutlak berada di bawah penghakiman Allah sehingga ia dapat dibawa kepada tujuan akhirnya—binasa kekal dalam danau api.

37. Membawa Banyak Orang Beriman

Masuk ke dalam Kemuliaan

Ibrani 2:10 mengatakan bahwa Allah "membawa banyak orang (anak—T1.) ke dalam kemuliaan." Banyak anak ini adalah banyak saudara dalam Roma 8:29 dan banyak butir dalam Yohanes 12:24. Langkah terakhir dari keselamatan Allah yang besar adalah membawa banyak anak-Nya ke dalam kemuliaan, ke dalam ekspresi Allah. Roma 8:29-30 memberi tahu kita bahwa pekerjaan kasih karunia Allah atas diri kita dimulai dengan kemampuan-Nya untuk mengetahui sebelumnya, dilanjutkan melalui penentuan-Nya dari semula, panggilan-Nya, dan pembenaran-Nya, dan hal ini akan berakhir dengan pemuliaan-Nya. Ini akan dirampungkan oleh kedatangan Tuhan kembali (Flp. 3:21), pada saat itu kita akan menyatakan diri bersama Dia dalam kemuliaan (Kol. 3:4). Pemuliaan anak-anak Allah ini, sebagai sasaran keselamatan Allah, akan dimanifestasikan dalam kepenuhan dalam Yerusalem Baru untuk selamanya (Why. 21:11, 23).

Dalam doa-Nya kepada Bapa, Tuhan Yesus berkata, "Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan yang Engkau berikan kepada-Ku" (Yoh. 17:22). Kemuliaan yang ke dalamnya Allah memimpin kita adalah kemuliaan yang telah Ia berikan kepada kita. Meskipun kemuliaan telah diberikan kepada kita, kita masih perlu masuk ke dalamnya.

Kita telah dipanggil ke dalam kemuliaan dan kemuliaan ini ditetapkan menurut hikmat Allah dalam kekekalan yang lampau (1 Tes. 2:12; 1 Ptr. 5:10; 1 Kor. 2:7). Ketika Kristus menyatakan diri, kita akan menyatakan diri bersama diri bersama Dia dalam kemuliaan-Nya (Kol. 3:4). Kemuliaan yang di dalamnya kita akan menyatakan diri bersama Kristus bukanlah sekadar kemilau yang objektif atau kecemerlangan; tetapi ini adalah penyinaran hayat ilahi dari dalam kita seperti mekarnya bunga-bunga tertentu.

Melalui kelahiran kembali, hayat kemuliaan telah masuk ke dalam kita, dan sekarang kita memiliki benih kemuliaan di dalam kita. Hayat yang kita miliki di dalam kita sebagai benih adalah hayat kemuliaan. Inilah Kristus di dalam kita, harapan akan kemuliaan (Kol. 1:27). Pada akhirnya benih ini akan memekar, dan dengan demikian kita akan dibawa masuk ke dalam kemuliaan. Ini akan seperti transfigurasi Tuhan Yesus (Mat. 17:1-2). Ketika Tuhan ditransfigurasi di atas gunung bukanlah kemuliaan shekinah - Shechinah: the presence of God in the world as conceived in Jewish theology (Merriam Webster's Collegiate Dictionary, 10th ed., 1994, hal. 1078) yang tiba-tiba turun atas Dia dari surga, itu adalah kemuliaan ilahi yang bersinar dari dalam-Nya. Demikian juga kemuliaan yang ke dalamnya kita akan dibawa adalah pancaran kemuliaan itu sendiri yang sekarang berada di dalam kita.

38. Mengutus Kristus yang telah Ditetapkan

kepada Umat Pilihan-Nya pada saat Pemulihan

Pada waktu pemulihan, Allah akan mengutus Kristus yang telah ditetapkan kepada umat pilihan-Nya, kepada Israel. Mengenai hal ini Kisah Para Rasul 3:20 dan 21 mengatakan, "Agar Tuhan mendatangkan waktu kelegaan, dan mengutus Yesus, yang dari semula diuntukkan bagimu sebagai Kristus, Kristus itu harus tinggal di surga sampai waktu pemulihan segala sesuatu, seperti yang difirmankan Allah dengan perantaraan nabi-nabi-Nya yang kudus di zaman dahulu." Waktu pemulihan segala sesuatu adalah waktu pemulihan dalam milenium, seperti yang dinubuatkan dalam Yesaya 11:1-10 dan 65:18-25 dan yang disebutkan oleh Kristus dalam Matius 17:11 dan 19:28. Waktu pemulihan segala sesuatu akan dibawa masuk melalui kedatangan Kristus kembali, ketika Allah mengutus Dia kepada Israel untuk memulihkan umat pilihan-Nya.

39. Kembali untuk Membangun Pondok Daud yang Roboh

—untuk Memulihkan Bangsa Israel

Kisah Para Rasul 15:16 mengatakan, "Kemudian aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan". Pondok Daud adalah kerajaan Israel, dan membangun kembali pondok Daud adalah memulihkan bangsa Israel (Kis. 1:6). Dalam Perjanjian Lama, Tuhan memberikan janji kepada orang-orang Yahudi bahwa Mesias, Dia yang diurapi, akan datang untuk mewarisi Takhta Daud dan memulihkan orang-orang Yahudi, bangsa Israel (Kej. 49:10; 2 Sam. 7:13, 16; Mzm. 2:8-9; 72:1-20; 89:4; 110:2-3; Yes. 9:6-7; 11:1-5, 10; Yer. 23:5-6; 30:9: 33:14-17; Yeh. 21:27; 34:23-24; 37:24, 28; Dan. 2:35,44; 7:14; Hos. 3:5; Am. 9:11-12; Za. 3:8; 6:12-13; 9:9-10). Ketika Tuhan Yesus datang untuk kali pertama, orang-orang Yahudi mengharapkan Mesias untuk memulihkan kerajaan-Nya (Luk. 2:25; 3:15; 7:19; Yoh. 1:41; 7:27, 41). Baru sampai kedatangan-Nya yang kedua kali itulah Ia akan memulihkan kerajaan Mesias (Mat. 23:39). Kerajaan yang akan dip»lihkan Mesias—kerajaan Mesias atau kerajaan Israel yang dipulihkan di masa yang akan datang—akan menjadi bagian bumiwi dari milenium, pondok Daud yang akan dibangun kembali oleh Allah, dan yang akan menjadi kerajaan Anak Manusia (Mat. 13:41; Why. 11:15). Kemudian Kristus sebagai Anak Manusia, keturunan raja Daud, akan duduk di atas takhta Daud dan memerintah sebagai Raja atas rumah Yakub (kaum keturunan Yakub), orang-orang Yahudi (Luk. 1:32-33), pemerintah atas bangsa-bangsa di bumi selama milenium (Mzm. 2:8; 72:8; Dan. 7:14; 2:35, 44).

40. Mendirikan Kerajaan-Nya dalam Milenium

Allah akan mendirikan kerajaan-Nya dalam milenium. Matius 13:43 menyebutkan hal ini, "Pada waktu itulah orang-orang benar akan bercahaya seperti matahari dalam kerajaan Bapa mereka. Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar." Kerajaan Bapa adalah bagian surgawi dari milenium. Manifestasi dari kerajaan surga sebagai pahala kepada para pemenang. "Orang-orang benar" dalam ayat ini adalah para pemenang, yang akan bersinar di dalam kerajaan Bapa mereka. Dalam bagian surgawi dari milenium, yang akan menjadi manifestasi dari kerajaan surga dan kerajaan Bapa, orang-orang kudus pemenang akan memerintah bersama-sama Kristus sebagai sesama raja.

Wahyu 20:6 mengindikasikan bahwa para pemenang "akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya." Memerintah seribu tahun ini mengacu kepada kerajaan Bapa, yang akan didirikan Allah dalam milenium. Dalam bagian milenium ini Kristus dan para pemenang akan memerintah demi ekspresi dan kepuasan Bapa.

41. Meletakkan Semua Musuh-Nya di bawah Kaki Kristus pada Akhir Milenium

Pada akhir milenium, Allah akan meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki Kristus. Satu Korintus 15:25 berkata, "Karena Ia harus memegang pemerintahan sebagai Raja sampai Allah meletakkan semua musuh-Nya di bawah kaki-Nya." Semakin lama Kristus memerintah, semakin banyak musuh-Nya diletakkan di bawah kaki-Nya. Pada akhir milenium, jaman terakhir dari ciptaan lama, setiap musuh sudah diletakkan di bawah kaki Kristus. Kata "sampai" mengindikasikan hal ini dan mengacu kepada akhir masa seribu tahun. Itulah saatnya Allah meletakkan setiap musuh di bawah kaki Kristus.

42. Meniadakan Musuh yang Terakhir, Maut

Aspek terakhir dari pekerjaan Allah dalam zaman yang baru adalah meniadakan musuh yang terakhir, yakni maut. Satu Korintus 15:26 mengatakan, "Musuh yang terakhir, yang dibinasakan, ialah maut." Segera setelah kejatuhan manusia, Allah memulai pekerjaan-Nya untuk meniadakan dosa dan maut. Pekerjaan ini telah berlangsung melalui jaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dan hari ini masih dalam proses. Ketika dosa telah disingkirkan pada akhir ciptaan Lama dan ketika sumbernya, Satan, dicampakkan ke dalam lautan api (Why. 20:7-10), kematian akan ditiadakan. Kematian juga akan dicampakkan ke dalam lautan api beserta alam maut, kekuasaannya, setelah penghakiman yang terakhir dan final pada takhta putih (Why. 20:11-15). Lautan api adalah "tong sampah" untuk seluruh alam semesta, yang ke dalamnya semua perkara negatif termasuk kematian dan alam maut ( Why. 20:14) akan dicampakkan. Maut akan menjadi musuh terakhir yang akan dihancurkan oleh Allah.

Semua yang telah Allah kerjakan dan semua yang akan Ia kerjakan adalah untuk tujuan pendispensian diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya. Allah sedang bekerja untuk menyingkirkan semua halangan dan menyiapkan jalan untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya demi merampungkan ekonomi kekal-Nya. Tidaklah cukup bagi kita hanya jika mengetahui mengenai hal inikita perlu melihat hal ini. Jika kita melihat apa yang sedang dikerjakan oleh Allah dan tujuan-Nya, maka kita akan tahu di mana kita perlu berada—terus menerus berada di bawah pendispensian-Nya. Karena itu, marilah kita tinggal dalam hadirat Allah sehingga Ia dapat memiliki kesempatan untuk menginfuskan diri-Nya ke dalam kita segala apa adanya Dia dan segala yang Dia miliki. Inilah beban kita dalam berita-berita ini.

D. DALAM KEKEKALAN YANG AKAN DATANG

1. Sebagai Allah yang Menebus,

Ia Mengatur dalam Yerusalem Baru dalam Langit Baru dan Bumi Baru

Dalam kekekalan yang akan datang, setelah milenium, Allah sebagai Allah yang menebus akan mengatur dalam Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru. Wahyu 22:1 membicarakan takhta Allah dan Anak Domba. Satu takhta untuk Allah dan Anak Domba menandakan bahwa Allah dan Anak Domba adalah satu—Anak Domba-Allah, Allah yang menebus, Allah sang Penebus. Dalam kekekalan, Allah yang duduk di atas takhta akan menjadi Allah kita yang menebus, yang dari takhtanya mengalir keluar sungai air hayat untuk suplai dan kepuasan kita. Ini menggambarkan bagaimana Allah Tritunggal—Allah, Anak Domba, dan Roh itu (dilambangkan oleh air hayat)—mendispensikan diri-Nya ke dalam umat tebusan-Nya di bawah kekepalaan-Nya (tersirat dalam otoritas takhta) sampai kekal. Karenanya, dalam Wahyu 22:1 Allah yang menebus itulah yang mengatur dalam Yerusalem Baru. Pengaturan ini adalah untuk pelaksanaan dispensi Allah sepenuhnya.

Baik Allah maupun Anak Domba duduk di atas takhta. Mereka bukan duduk berdampingan. Sebaliknya, Allah berada dalam Anak Domba. Allah adalah terang dan Anak Domba adalah lampu (Why. 21:23). Kemuliaan terang dan lampu bukanlah berdampingan. Terang berada dalam lampu. Anak Domba sebagai lampu bersinar bersama Allah sebagai terang. Ini mengindikasikan bahwa Allah berada dalam Anak Domba duduk di atas takhta. Keduanya sesungguhnya adalah satu, sama seperti terang dan lampu adalah satu kesatuan, satu entitas. Allah dalam Anak Domba adalah Allah yang menebus. Sampai selama-lamanya, dalam Yerusalem Baru, kita akan melihat Allah yang menebus, Allah dalam anak Domba.

Sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba. Air hayat mengalir keluar dari takhta berarti air hayat mengalir keluar dari diri Allah. Dalam Yerusalem Baru, kita memiliki Allah dalam Anak Domba, dan dari Allah yang menebus ini mengalirlah sungai hayat, Roh pemberi-hayat. Inilah pendispensian Allah Tritunggal. Sebelum Allah dapat mendispensikan diri-Nya ke dalam kita, Ia harus menebus kita. Jadi, gambaran dalam Wahyu pasal 22 mewahyukan bahwa Allah yang menebus adalah Allah yang mendispensikan hayat. Anak Domba menandakan penebusan, dan sungai hayat menandakan pendispensian hayat. Sampai selamanya, Allah kita akan menjadi Allah yang menebus dan yang mendispensikan hayat. Dalam Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru, Allah kita akan berada dalam Anak Domba yang menebus, mengalir keluar sebagai sungai hayat (Roh pemberi-hayat) untuk mendispensikan hayat-Nya ke dalam setiap pelosok kota.

Pohon hayat bertumbuh dalam sungai hayat, dan sungai hayat yang mengalir keluar dari takhta mencapai setiap pelosok kota. Ini mengindikasikan bahwa aliran Allah Tritunggal mengairi atau membasahi seluruh kota. Setiap pelosok kota menerima suplai hayat karena pohon hayat bertumbuh dalam sungai dan sungai mencapai setiap pelosok kota. Pohon hayat, sebagai pohon anggur, bertumbuh di kedua sisi sungai, mengikuti aliran sungai. Di mana saja sungai mengalir, pohon hayat bertumbuh. Suplai hayat berada dalam aliran hayat. Inilah gambaran dari pendispensian Allah. Kristus sebagai pohon hayat adalah suplai hayat yang tersedia di sepanjang aliran Roh itu sebagai air hayat. Di mana Roh itu mengalir, di sana suplai hayat Kristus ditemukan. Seluruh kota Yerusalem Baru, yang akan tersusun dari semua umat tebusan Allah, akan diairi oleh sungai air hayat dan diberi makan oleh pohon hayat. Inilah dispensi sepenuhnya dari Allah Tritunggal sampai kekal.

Dalam berita-berita ini, kita akan membahas banyak aspek pekerjaan Allah dalam kekekalan yang lampau, dalam zaman yang lama, dan dalam zaman yang baru. Pada akhirnya, Allah akan meletakkan semua musuh di bawah kaki Kristus, dan Ia akan meniadakan maut, musuh terakhir. Dengan kemudian segala sesuatu akan menjadi baru. Akan ada langit baru dan bumi baru dengan Yerusalem Baru sebagai pusat. Sampai selamanya, Allah yang menebus akan duduk di atas takhta dalam pusat Yerusalem Baru, dan dari takhta itu, yaitu dari diri Allah sendiri, akan mengalir air hayat untuk meresapi kota. Selain itu, pohon hayat akan tumbuh dalam air hayat untuk memberi makan seisi kota itu. Peresapan dan pemberian makan ini adalah dispensi ilahi yang sempurna. Kita akan berada di sana makan pohon hayat dan minum air hayat. Sampai selamanya, kita akan makan, minum, dan menyembah Allah. Ini adalah kenikmatan kekal terhadap pendispensian Allah. Ketika kita menikmati pendispensian Allah Tritunggal melalui makan dan minum, kita akan menyembah Dia.

2. Mengekspresikan Diri Sendiri—Allah Tritunggal—

melalui Yerusalem Baru

dalam Langit Baru dan Bumi Baru

Mengekspresikan diri-Nya melalui Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru juga akan menjadi pekerjaan Allah dalam kekekalan yang akan datang. Wahyu 21:11 mengatakan bahwa Yerusalem Baru memiliki kemuliaan Allah. Ini mengindikasikan bahwa Yerusalem Baru memiliki ekspresi Allah. Allah Tritunggal mengekspresikan diri-Nya melalui Yerusalem Baru dengan cara tritunggal: dalam pohon hayat, dalam sungai hayat, dan dalam terang hayat. Ekspresi tritunggal dari Allah yang telah melalui proses ini adalah ekspresi-Nya yang sempurna dalam manifestasi kekal-Nya sesuai dengan ekonomi kekal-Nya untuk dispensi ilahi-Nya.

PRAKTEK BERNUBUAT

BAB

1 2 3 4

PRAKATA

Buku ini disusun dari berita-berita yang disampaikan oleh Sdr. Witness Lee pada bulan Mei dan Juni 1990 di full-time training di Anaheim, California.