ALLAH—PEKERJAAN-NYA (5)
Dalam berita ini kita akan melanjutkan melihat pekerjaan Allah dalam pengaturan administratif-Nya yang baru, khususnya dalam kenaikan Kristus.
15. Mendudukkan Kristus di Surga,
Menaklukkan Segala Sesuatu di bawah Kaki-Nya,
dan Membuat Dia menjadi Kepala atas Segala Sesuatu bagi Gereja
Efesus 1:20-21 mengatakan, "Yang dikerjakan-Nya di dalam Kristus dengan membangkitkan Dia (Kristus) dari antara orang mati dan mendudukkan Dia di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang." Allah bukan hanya membangkitkan Kristus dari antara orang mati, tetapi juga mendudukkan Kristus "di sebelah kanan-Nya di surga, jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang" (Ef. 1:20b-21). Sebelah kanan Allah, tempat Kristus telah didudukkan oleh kekuatan Allah yang besar, adalah tempat yang paling terhormat, tempat dengan otoritas tertinggi. "Surga" bukan hanya mengacu kepada langit tingkat ketiga, tempat tertinggi dalam alam semesta, tempat Allah berhuni, tetapi juga kepada tempat dan atmosfir surga yang di dalamnya Kristus didudukkan oleh kekuatan Allah. "Pemerintah" mengacu kepada kedudukan tertinggi, "penguasa" mengacu kepada segala jenis kekuatan resmi, "kekuasaan" mengacu kepada kekuatan penguasa, dan "kerajaan" mengacu kepada keunggulan yang menetapkan keberadaan kekuasaan. Kekuasaan bukan hanya meliputi malaikat-malaikat, pemerintahan surgawi, baik atau jahat, tetapi juga insan, orang-orang bumiwi.
Efesus 1:22 melanjutkan berkata bahwa Allah telah menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus. Mendudukkan Kristus jauh lebih tinggi dari segala sesuatu adalah satu perkara; menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki Kristus adalah perkara yang lain. Yang pertama adalah keunggulan; yang kemudian adalah perkara penundukan segala sesuatu di bawah Kristus.
Bagian terakhir dari Efesus 1:22 mengatakan, "Dan Dia telah diberikan-Nya kepada jemaat sebagai Kepala dari segala yang ada." Kekepalaan Kristus atas segala sesuatu adalah hadiah dari Allah bagi-Nya. Melalui kekuatan Allah yang besar, Kristus telah menerima kekepalaan dalam alam semesta. Ini tidak berarti bahwa Allah telah memberikan Kristus kepada gereja sebagai karunia, ini berarti bahwa Allah telah memberi Kristus karunia—kekepalaan atas segala sesuatu. Sebuah karunia yang besar diberikan kepada Kristus oleh Allah, dan karunia ini adalah kekepalaan atas segala sesuatu.
Allah membuat Kristus menjadi Kepala atas segala sesuatu adalah untuk gereja. Frase "untuk gereja" menyatakan suatu transmisi. Kristus dijadikan apa oleh Allah adalah untuk gereja, dan hal ini ditransmisikan kepada gereja. Gereja berbagian dengannya. Melalui transmisi kepada gereja itu, gereja berbagian dengan Kristus dalam segala yang telah dicapai dan diperolehnya.
Kata "kepada" dalam Efesus 1:22 menunjukkan dispensi Allah. Dalam pekerjaan-Nya dalam zaman yang baru, Allah menempuh kematian di dalam Putra, menghakimi dosa di dalam daging, membelah tabir, menghapuskan surat hutang dan ketentuan-ketentuan hukum, melucuti para pemerintah dan penguasa, membangkitkan Kristus dari antara orang mati, mendudukkan Kristus di surga, menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan memberikan Dia kepada gereja sebagai Kepala atas segala sesuatu. Karena gereja adalah hasil dari kenaikan Kristus, gereja bebas dari dosa, dari ketentuan-ketentuan hukum Taurat, dan dari para pemerintah dan penguasa di udara. Secara organik, gereja disatukan dengan sang Kepala atas segala sesuatu. Sekarang, gereja adalah tempat di mana Allah dapat mendispensikan diri-Nya ke dalam umat-Nya. Gereja adalah organ yang secara langsung menerima segala sesuatu dari dispensi Allah.
16. Menjadikan Yesus sebagai Tuhan dan Kristus
Kisah Para Rasul 2:36 membicarakan pekerjaan Allah yang menjadikan Yesus menjadi Tuhan dan Kristus, "Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus." Sebagai Allah, Tuhan adalah Tuhan selama-lamanya (Luk. 1:43; Yoh. 11:21; 20:28). Tetapi sebagai manusia, Ia dijadikan Tuhan dalam kenaikan-Nya setelah Ia membawa keinsanian-Nya ke dalam Allah dalam kebangkitan-Nya.
Allah membuat Yesus menjadi Tuhan, sebagai Tuhan atas segala sesuatu (Kis. 10:36) untuk memiliki segala sesuatu. Allah membuat Dia menjadi Tuhan untuk memiliki seluruh alam semesta, umat pilihan Allah, dan semua hal positif, perkara, dan orang-orang. Allah telah membuat Kristus menjadi Tuhan bukan hanya atas umat pilihan Allah, tetapi juga atas malaikat-malaikat dan atas semua orang yang akan berada dalam milenium dan dalam langit baru dan bumi baru. Ini berarti bahwa Kristus telah dijadikan Tuhan atas langit, bumi, dan atas segala sesuatu, dan setiap orang yang telah Ia tebus.
Kisah Para Rasul 2:36 memberi tahu kita bahwa Allah juga telah membuat Yesus menjadi Kristus. Sebagai yang diutus Allah dan yang diurapi, Yesus adalah Kristus sejak Ia dilahirkan (Luk.2:11; Mat. 1:16; Yoh. 1:41; Mat. 16:16). Tetapi sebagai Seorang yang demikian, Ia juga secara resmi dibuat menjadi Mesias Allah dalam kenaikan-Nya. Allah membuat Dia menjadi Kristus untuk melaksanakan amanat-Nya.
17. Meninggikan Yesus untuk menjadi Pemimpin dan Juruselamat,
Memberikan Pertobatan dan Pengampunan Dosa-dosa bagi Umat Pilihan-Nya
Kisah Para Rasul 5:31 mengatakan, "Dialah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi Pemimpin dan Juruselamat, supaya Israel dapat bertobat dan menerima pengampunan dosa." Allah meninggikan Manusia Yesus, yang ditolak dan dibunuh oleh pemimpin-pemimpin Yahudi, sebagai pemimpin tertinggi, Raja, Penguasa atas raja-raja untuk memerintah bumi (Why. 1:5; 19:16), dan Juruselamat untuk menyelamatkan umat pilihan Allah. "Pemimpin" berkaitan dengan otoritas-Nya dan "Juruselamat" berkaitan dengan keselamatan-Nya. Karena Ia telah ditinggikan oleh Allah, Kristus dengan kedaulatan-Nya memerintah atas bumi dengan otoritas-Nya sehingga lingkungan dapat cocok bagi umat pilihan Allah untuk menerima keselamatan-Nya (Kis. 17:26-27; Yoh. 17:2). Agar umat pilihan Allah "supaya bertobat...dan menerima pengampunan dosa", perlu Kristus ditinggikan sebagai Pemimpin dan Juruselamat yang memerintah. Pemerintahan kedaulatan-Nya membuat dan memimpin umat pilihan Allah untuk bertobat, dan keselamatan-Nya yang berdasarkan penebusan-Nya memberikan mereka pengampunan atas dosa-dosa.
Pertobatan adalah untuk pengampunan dosa-dosa (Mrk. 1:4). Di satu pihak, pengampunan dosa-dosa adalah berdasarkan penebusan-Nya (Ef. 1:7). Di pihak manusia, pengampunan dosa-dosa adalah melalui pertobatan. Sekarang kita perlu bertobat dan menerima pengampunan. Pertobatan dan pengampunan adalah dua langkah yang olehnya kita dibuat menjadi siap untuk menerima pendispensian Allah Tritunggal sehingga kita dapat menjadi gereja.
Sasaran dari pekerjaan Allah dalam zaman yang baru adalah untuk pendispensian diri-Nya ke dalam kita. Allah melakukan segala sesuatu yang telah kita bahas dalam berita ini dengan tujuan untuk membuat segala sesuatu siap dan membuat umat pilihan-Nya tersedia untuk dispensi-Nya. Dispensi adalah sasaran Allah yang unik. Kita semua perlu berdoa, "Tuhan, dispensikan diri-Mu sendiri ke dalamku. O Tuhan, infuslah saya dengan Mu" Kebutuhan kita hari ini adalah menerima dispensi Allah lebih banyak dan lebih banyak lagi.
18. Membuat Kristus menjadi Imam Besar
Dosa menghalangi orang dari menikmati dispensi Allah. Ketika Allah menghakimi dosa di dalam daging melalui kematian Kristus di dalam daging (Rm. 8:3), Ia menanggulangi halangan ini demi dispensi-Nya. Ketika Kristus disalibkan, Allah juga menghapus surat hutang dan ketentuan-ketentuan hukum (Kol. 2:14) dan melucuti para pemerintah dan penguasa, menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangannya atas mereka di atas salib (Kol. 2:15). Setelah itu Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati, mendudukkan Dia di surga, menaklukkan segala sesuatu di bawah kaki-Nya, dan memberikan Dia kepada gereja sebagai Kepala atas segala sesuatu (Ef. 1:20-22). Allah juga telah membuat Yesus menjadi Tuhan dan Kristus (Kis. 2:36). Selain itu, Ia telah meninggikan Yesus untuk menjadi Pemimpin dan Juruselamat sehingga Ia dapat memberi umat pilihan-Nya pertobatan dan pengampunan atas dosa-dosa (Kis. 5:31). Sekarang, kita perlu melihat bahwa dalam pekerjaan-Nya, Allah telah menjadikan Kristus Imam Besar.
Ibrani 5:5 dan 6 menyatakan, "Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya: Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini, sebagaimana firman-Nya dalam suatu nas lain: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek." Ayat 5 mengandung kutipan dari Mazmur 2:7, "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini." Ini mengacu kepada kebangkitan Kristus (Kis. 13:33), yang melayakkan Dia untuk menjadi Imam Besar kita. Agar Kristus menjadi Imam besar kita, Ia harus mengambil bagian dalam keinsanian kita dan masuk dengan keinsanian ini ke dalam kebangkitan. Dengan keinsanian-Nya, Ia dapat bersimpati pada kita dan penuh rahmat kepada kita (Ibr. 4:15; 2:17). Dalam kebangkitan, dengan keilahian-Nya, Ia dapat melakukan segala sesuatu bagi kita dan menjadi setia kepada kita (Ibr. 7:24-25; 2:17).
Isi dari kutipan dalam Ibrani 5:6 yang berasal dari Mazmur 110 mengacu kepada Kristus dalam kenaikan dan penobatan-Nya (Mzm. 110:1-4). Kenaikan dan penobatan-Nya adalah kualifikasi selanjutnya bagi Kristus untuk menjadi Imam Besar kita (Ibr. 7:26). Kristus bukan hanya dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah, tetapi Ia juga naik sampai ketinggian alam semesta.
Allah telah menjadikan Kristus Imam Besar kita menurut peraturan Melkisedek. Peraturan Melkisedek itu lebih tinggi daripada peraturan Harun. Peraturan Harun hanya untuk keimaman dalam keinsanian, sedangkan peraturan Melkisedek adalah untuk keimaman baik dalam keinsanian maupun keilahian.
Melkisedek datang melayangkan roti dan anggur kepada Abraham setelah Abraham selesai berperang untuk menyelamatkan Lot. Ia adalah lambang dari Kristus sebagai Imam Besar Allah. Sekarang Kristus adalah Imam Besar menurut peraturan Melkisedek, dan pekerjaan-Nya adalah untuk datang kepada kita, Abraham-Abraham hari ini, dengan roti dan anggur. Ketika kita datang ke meja Tuhan, kita menikmati roti dan anggur yang disuplaikan oleh Imam Besar kita, Melkisedek kita. Roti dan anggur di atas meja menandakan tubuh dan darah Kristus, yang sebagai pengejawantahan Allah, telah melalui proses sehingga Ia dapat dilayakkan ke dalam kita. Roti dan anggur mengandung unsur-unsur Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, yang didispensikan ke dalam kita. Sebagai Abraham-Abraham hari ini, kita menikmati suplai dari Melkisedek kita, suplai dari kekayaan-kekayaan Kristus, yang adalah untuk pendispensian Allah akan diri-Nya ke dalam kita.
Menurut Alkitab, ada dua peraturan keimaman--peraturan Harun dan peraturan Melkisedek. Peraturan Melkisedek telah ada sebelum peraturan Harun. Keimaman Harun menanggulangi dosa di aspek negatif. Sebaliknya, ministri Melkisedek, berada di aspek positif. Melkisedek tidak menampakkan diri kepada Abraham dengan membawa korban untuk menghapus dosa, Ia datang dengan membawa roti dan anggur untuk merawat Abraham. Sebagai Imam Besar yang sedemikian, Kristus melayankan diri-Nya sendiri kepada kita dalam roti dan anggur, sebagai perwujudan dari Allah yang telah melalui proses untuk perawatan kita.
Kitab Ibrani mewahyukan bahwa meskipun Kristus telah menyelesaikan pekerjaan penebusan-Nya, namun Ia sangat aktif sebagai Imam Besar untuk melayankan diri-Nya ke dalam kita, dalam roti dan anggur yang telah melalui proses, untuk suplai sehari-hari kita. Itulah sebabnya Allah telah membuat Kristus menjadi Imam Besar bukan menurut peraturan Harun tetapi menurut peraturan Melkisedek. Hari ini Kristus bukanlah Imam Besar yang mempersembahkan kurban, Ia adalah Imam Besar yang melayankan roti dan anggur. Ia telah menebus kita dengan diri-Nya sendiri dalam keinsanian-Nya sebagai kurban di bumi dan sekarang Ia telah memberi kita makan dengan diri-Nya dalam keilahian-Nya sebagai suplai hayat di surga. Keimaman-Nya menurut peraturan Melkisedek adalah untuk tujuan semula, yakni untuk mendispensikan diri-Nya ke dalam kita demi menghasilkan ekspresi korporat bagi diri-Nya.
19. Menetapkan Kristus untuk menjadi
Hakim dari Orang-orang yang Hidup maupun yang Mati
Kisah Para Rasul 10:42 mengatakan, "Dan Ia telah menugaskan kami memberitakan kepada seluruh bangsa dan bersaksi, bahwa Dialah yang ditentukan Allah menjadi Hakim atas orang-orang hidup dan orang-orang mati." Kristus telah ditentukan oleh Allah menjadi Hakim atas umat manusia. Ia akan menghakimi baik yang hidup maupun yang mati. Pada kedatangan-Nya kembali, Kristus yang bangkit akan menjadi hakim atas orang-orang yang hidup sebelum milenium di atas takhta kemuliaan-Nya (Mat. 25:31-46). Ini berkaitan dengan kedatangan-Nya yang kedua (2 Tim. 4:1). Kristus juga akan menjadi hakim atas orang-orang mati setelah milenium di atas takhta putih yang besar (Why. 20:11-15). Jadi Roma 2:16 mengatakan, "Allah... akan menghakimi segala sesuatu yang tersembunyi dalam hati manusia oleh Kristus Yesus."
Kisah Para Rasul 17:31 mengatakan, "Karena Ia telah menetapkan suatu hari, pada waktu mana Ia dengan adil akan menghakimi dunia oleh seorang yang telah ditentukan-Nya, sesudah Ia memberikan kepada semua orang suatu bukti tentang hal itu dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati." Allah telah menetapkan Kristus untuk menghakimi bumi yang dihuni pada waktu yang telah ditentukan oleh-Nya. Ini mengacu kepada hari ketika Kristus menghakimi orang-orang yang hidup di atas takhta kemuliaan-Nya sebelum milenium. Karena pada hari itu Ia akan menghakimi bumi yang dihuni, ini pasti hanya mengacu kepada penghakiman-Nya atas orang-orang yang hidup. Allah telah menetapkan Dia untuk melaksanakan penghakiman ini karena Ia adalah seorang Manusia (Yoh. 5:27), dan Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati adalah suatu bukti yang kuat akan hal ini.
Allah telah memberi otoritas dari semua penghakiman kepada Kristus agar semua orang dapat memuliakan Dia seperti mereka memuliakan Allah (Yoh. 5:22-23), dan Ia akan menghakimi menurut kehendak Allah (Yoh. 5:30). Sebagai Anak Allah (Yoh. 5:25), Ia dapat memberikan hayat (Yoh. 5:21), dan sebagai Anak Manusia, Ia dapat melaksanakan penghakiman (Yoh. 5:27). Ia bersatu dengan Bapa dalam perkara menghidupkan dan Ia juga satu dengan Dia dalam perkara penghakiman.
20. Mencurahkan Roh-Nya secara Ekonomikal
ke atas Diri Hamba-hamba-Nya
Setelah Allah mendudukkan Kristus di surga, menjadikan Dia Tuhan dan Kristus, meninggikan Dia untuk menjadi Pemimpin dan Juruselamat, menjadikan Dia Imam Besar, dan menentukan Dia untuk menjadi Hakim atas yang hidup dan yang mati, Ia mencurahkan Roh-Nya ke atas hamba-hamba-Nya. Mengenai hal ini, Kisah Para Rasul 2:17 dan 18 mengatakan, "Akan terjadi pada hari-hari terakhir—demikianlah firman Allah—bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anakanakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan kucurahkan Rohku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat." Pencurahan Roh di sini berbeda dengan pengembusan Roh ke dalam murid-murid dari mulut Kristus pada hari kebangkitan-Nya (Yoh. 20:22). Pencurahan Roh Allah adalah dari surga setelah kenaikan Kristus. Yang pertama adalah aspek esensial dari Roh itu yang diembuskan ke dalam murid-murid sebagai hayat untuk kehidupan mereka, yang terakhir adalah aspek ekonomikal dari Roh yang dicurahkan ke atas mereka sebagai kekuatan untuk pekerjaan mereka. Roh yang sama ada di dalam kaum beriman secara esensial dan juga di atas mereka secara ekonomikal.
Roh yang dicurahkan adalah perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses. Allah Tritunggal berinkarnasi dan kemudian Ia hidup di bumi selama tiga pulu tiga setengah tahun, setelah itu Ia pergi ke atas salib dan menempuh kematian yang almuhit untuk menyelesaikan semua masalah. Kemudian Ia dikubur dan dibangkitkan dari antara orang mati, dan masuk ke dalam kebangkitan, dan menjadi Roh pemberi-hayat. Setelah kebangkitan-Nya, Ia naik ke surga untuk menjadi Tuhan, Kristus, Juruselamat, Pemimpin, Imam Besar, dan Kepala atas segala sesuatu. Setelah melewati proses yang demikian, Ia menjadi Roh itu, dan Roh itu adalah perampungan dari Allah Tritunggal.
Roh yang dicurahkan pada hari Pentakosta bukan sekadar apa yang disebut Roh kudus, seperti pemikiran orang pada umumnya. Sebaliknya, menurut keseluruhan wahyu dari Alkitab, Roh ini adalah Allah Tritunggal yang telah rampung, melalui proses inkarnasi sampai kenaikan, sebagai Roh itu. Karena itu, Roh yang dicurahkan pada hari Pentakosta adalah perampungan Allah Tritunggal. Ketika Roh ini dicurahkan, Allah Tritunggal yang telah melalui proses dicurahkan, dan pencurahan ini meliputi unsur-unsur inkarnasi, kehidupan insani, ketersaliban, kebangkitan, kenaikan, dan turunnya kembali.
Pencurahan Roh yang almuhit sebagai perampungan Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah berkat yang besar bagi umat pilihan Allah. Sekarang, umat Allah dapat sepenuhnya menerima pendispensian dari Allah yang telah rampung ini. Sejak hari Pentakosta sampai sekarang, umat pilihan Allah telah berada di bawah dispensi ini, kita dapat berada di bawah dispensi ilahi yang demikian dari hari ke hari bahkan dari saat ke saat. Berada di bawah dispensi ini adalah perkara yang besar, hasil dari pekerjaan Allah yang menakjubkan dalam Perjanjian Baru.
Dispensi ini tidak dapat terjadi di zaman Yohanes Pembaptis, atau ketika Petrus sedang bepergian dengan Tuhan Yesus. Dispensi ilahi tidak dapat dialami pada waktu itu adalah karena Allah Tritunggal belum ‘rampung’. Tetapi pada waktu Kristus datang kepada para murid-Nya setelah kebangkitan-Nya dan menyuruh mereka untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya, membaptis mereka ke dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh kudus (Mat. 28:19), Allah Tritunggal telah rampung. Tentu saja ini adalah kabar gembira, kabar sukacita, mendengar bahwa Allah Tritunggal telah rampung sebagai Roh yang almuhit untuk mendispensikan diri-Nya sendiri ke dalam kita.
Allah telah mencurahkan Roh almuhit sebagai perampungan-Nya ke atas seluruh Tubuh Kristus termasuk kita semua. Pencurahan ini adalah Allah mendispensikan diri-Nya sendiri ke dalam umat pilihan-Nya secara sepenuhnya. Hari ini kita berada di bawah pencurahan ini, dispensi ini. Semoga kita semua melihat visi ini yaitu bahwa Allah telah mencurahkan Roh almuhit yang telah rampung dan bahwa kita semua berada di bawah dispensi yang menakjubkan ini.
21. Mengutus Kristus yang bangkit
kepada umat Pilihan-Nya
Setelah Allah mencurahkan Roh yang telah rampung ke atas Tubuh Kristus, Ia mengutus Kristus yang bangkit untuk kembali kepada umat pilihan-Nya. Kisah Para Rasul 3:26 membicarakan tentang hal ini, "Dan bagi kamulah pertama-tama Allah membangkitkan Hamba-Nya dan mengutus-Nya kepada kamu, supaya Ia memberkati kamu dengan memimpin kamu masing-masing kembali dari segala kejahatanmu." Allah telah mengutus Kristus yang bangkit dan naik untuk pertama-tama kembali kepada orang-orang Yahudi dengan mencurahan Roh-Nya pada hari Pentakosta. Karena itu, Roh yang telah rampung yang dicurahkan oleh Allah adalah Kristus yang Allah bangkitkan dan tinggikan ke surga. Ketika murid-murid memberitakan dan melayankan Kristus ini, Roh yang telah rampung ini dilayankan kepada orang-orang.
Pada waktu Petrus mengucapkan kata-kata yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 3:26, Kristus sebagai Hamba Allah telah naik ke surga dan tetap berada di sana. Namun Petrus memberi tahu orang-orang bahwa Allah telah mengutus Kristus untuk memberkati mereka. Sesungguhnya, Allah telah menerima Kristus ke dalam surga. Tetapi di sini Petrus mengatakan bahwa Allah telah mengutus Dia yang naik ini kepada orang-orang. Dengan cara apakah Allah mengutus Kristus yang naik kepada orang-orang Yahudi? Allah mengutus Dia dengan mencurahkan Roh yang telah rampung. Demikianlah cara Allah mengutus Kristus yang naik kepada orang-orang. Ini menyiratkan bahwa Roh yang dicurahkan itu sesungguhnya adalah Kristus yang naik itu sendiri. Ketika Roh yang dicurahkan datang kepada orang-orang itu adalah Kristus, Dia yang naik, yang diutus oleh Allah kepada mereka. Dari sini kita melihat bahwa Roh yang tercurah itu identik dengan Kristus yang naik. Dalam ekonomi Allah untuk pengalaman umat-Nya, Kristus yang naik dan Roh yang tercurah adalah satu. Dalam ekonomi Allah, Kristus dan Roh itu adalah satu untuk pendispensian dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses ke dalam kita dan untuk kenikmatan kita akan dispensi ini.
Kita telah banyak mendengar bahwa Allah akan mengutus Kristus kembali di zaman yang akan datang, pada saat kedatangan-Nya yang kedua. Tetapi menurut Kisah Para Rasul 3:26, Allah telah mengutus kembali Kristus yang naik. Pertama-tama Ia diutus kepada orang-orang Yahudi dan kemudian kepada orang-orang kafir di seluruh bumi.
Kali pertama Kristus diutus oleh Allah, Ia diutus dalam daging. Setelah kenaikan-Nya, Ia diutus kembali oleh Allah sebagai Roh itu. Hari ini Kristus adalah Roh itu. Ketika Roh yang almuhit dicurahkan pada hari Pentakosta, itu adalah pengutusan Allah akan Kristus. Pencurahan Roh itu adalah turunnya Kristus kembali. Dalam pasal dua kitab Kisah Para Rasul, Roh itu dicurahkan, dan Petrus menerima pencurahan Roh itu. Kemudian dalam pasal tiga, Petrus mengatakan bahwa Allah telah mengutus Kristus kembali kepada murid-murid-Nya. Allah menjunjung tinggi Kristus, memuliakan Kristus, dan mengutus Dia kembali. Bahkan ketika Petrus sedang berbicara kepada orang-orang, Kristus berada di sana. Ia disajikan bukan sebagai Kristus di dalam daging tetapi sebagai Kristus yang pneumatik, yang adalah Roh itu. Karena itu, sebagai bagian dari pekerjaan-Nya, Allah telah mengutus Kristus yang bangkit kepada umat pilihan-Nya sebagai Roh itu.