ALLAH—PEKERJAAN-NYA (4)
Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai pekerjaan Allah dalam zaman yang baru, dalam pengaturan administratif-Nya yang baru.
7. Menempuh Kematian di dalam Putra
Pekerjaan Allah dalam zaman yang baru meliputi Ia menempuh kematian di dalam Putra. Frase "darah Yesus, Anak-Nya itu" dalam 1 Yohanes 1:7 menunjukkan hal ini. Darah yang tercurah di atas salib untuk penebusan kita bukan hanya darah Yesus, tetapi juga darah Putra Allah. Ini menyiratkan bahwa ketika Yesus sedang mati di atas salib, Allah menempuh kematian di dalam-Nya.
Sangat bermakna bahwa 1 Yohanes 1:7 membicarakan "darah Yesus, Anak-Nya itu." Nama "Yesus" mengacu kepada keinsanian Tuhan, yang diperlukan untuk menumpahkan darah penebusan bagi manusia, dan sebutan "Anak-Nya" mengacu kepada keilahian Tuhan, yang diperlukan untuk khasiat kekal darah penebusan. Jadi, darah Yesus Anak-Nya mengindikasikan bahwa darah ini adalah darah yang tepat dari manusia yang sejati untuk menebus manusia yang jatuh dengan jaminan ilahi terhadap khasiat kekalnya, khasiat yang berlaku di mana saja dan kapan saja (selama-lamanya). Jadi, penebusan yang dirampungkan oleh Manusia-Allah itu kekal (Ibr. 9:12).
Ayat yang lain menunjukkan bahwa Allah menempuh kematian di dalam Putra adalah Kisah Para Rasul 20:28, "...untuk mengggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri." Allah memperoleh gereja dengan membayar harga "darah-Nya sendiri." "Darah-Nya sendiri," sebagai darah Allah, membuktikan fakta bahwa Allah mati di atas salib.
Lebih dari dua abad yang lalu, Charles Wesley menulis sebuah kidung yang mengatakan bahwa Allah mati bagi kita. Dalam kidung ini Wesley mengatakan:
Kasih yang ajaib! Bagaimana mungkin Engkau, Allahku, harus mati untukku?
Dalam kidung ini Wesley melanjutkan berkata, "Misterius semuanya! Dia yang tidak fana mati!" Di sini Wesley menyatakan bahwa Allah mati bagi kita. Charles Wesley melihat visi mengenai hal ini dan menyatakannya dalam kidungnya bahwa Allah mati bagi kita.
Allah yang mati bagi kita bukanlah Allah sebelum inkarnasi. Sebelum inkarnasi, tentu saja Allah tidak memiliki darah dan Ia tidak dapat mati bagi kita. Setelah inkarnasi, yang di dalamnya Allah berbaur dengan keinsanian, barulah Ia mati bagi kita. Melalui inkarnasi, Allah kita, sang Pencipta, sang Kekal, Yehovah, berbaur dengan manusia. Sebagai hasilnya, Ia bukan lagi sekadar Allah—Ia menjadi seorang Manusia-Allah. Sebagai Manusia-Allah, tentu Ia memiliki darah dan dapat mati bagi kita.
8. Secara Ekonomikal, Meninggalkan Kristus
ketika Ia Menghakimi Kristus sebagai Pengganti
yang Dijadikan Dosa karena Kita
dan yang Menanggung Dosa-dosa Kita
Ketika Allah sedang menghakimi Kristus sebagai Pengganti yang dijadikan dosa karena kita dan yang menanggung dosa-dosa kita, Allah meninggalkan Kristus secara ekonomikal. Mengenai hal ini, Matius 27:45 dan 46 berkata, "Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga. Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: Eli, Eli, lama sabakhtani? Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Tuhan Yesus disalibkan pada jam sembilan pagi (Mrk. 15:25), dan Ia menderita di atas salib selama enam jam. Dalam tiga jam pertama, Ia dianiaya oleh manusia untuk melakukan kehendak Allah; dalam tiga jam yang terakhir, Ia dihakimi oleh Allah untuk perampungan penebusan kita. Selama waktu itu, Allah menganggap Dia sebagai pengganti kita yang menderita karena dosa (kurban penebus salah—Yes. 53:10). Karenanya, kegelapan meliputi seluruh tanah itu karena dosa dan dosa-dosa kita dan semua perkara negatif ditanggulangi di sana, dan Allah meninggalkan Dia karena dosa kita. Allah meninggalkan Kristus di atas salib karena Ia mengambil tempat orang berdosa (1 Ptr. 3:18), menanggung dosa-dosa kita (1 Ptr. 2:24; Yes. 53:6) dan dibuat menjadi dosa karena kita (2 Kor. 5:21). Ini berarti bahwa Allah menghakimi Dia sebagai Pengganti kita untuk dosa-dosa kita. Dalam pandangan Allah, Kristus menjadi seorang berdosa yang besar. Karena Kristus adalah Pengganti kita dan bahkan adalah dosa dalam pandangan Allah, Allah menghakimi Dia dan bahkan meninggalkan Dia.
Menurut keempat kitab Injil, Tuhan Yesus berada di atas salib selama enam jam. Selama tiga jam yang pertama, manusia melakukan banyak perkara yang tidak adil terhadap-Nya. Mereka menganiaya dan menghina Dia. Jadi, dalam tiga jam pertama Tuhan menderita perlakuan tidak adil dari manusia. Tetapi pada jam dua belas siang, Allah datang, dan kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga sore. Datangnya kegelapan adalah perbuatan Allah, dan di tengah-tengahnya Tuhan berseru seperti yang dikutip dalam Matius 27:46. Ketika Tuhan sedang menderita penganiayaan dari manusia, Allah menyertai Dia, dan Ia menikmati kehadiran Allah. Tetapi pada akhir dari tiga jam yang pertama, Allah meninggalkan Dia, dan kegelapan datang. Karena tidak dapat menanggung hal ini, Tuhan berseru dengan nyaring, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Seperti yang telah kami tunjukkan, Allah meninggalkan Dia karena Ia adalah Pengganti kita yang menanggung dosa-dosa kita. Yesaya 53 mewahyukan bahwa ini adalah saat Allah meletakkan dosa-dosa kita di atas diri-Nya. Dalam tiga jam dari jam dua belas siang sampai jam tiga sore, Allah yang adil-benar meletakkan dosa-dosa kita di atas sang Pengganti ini dan menghakimi Dia secara adil untuk dosa-dosa kita. Allah meninggalkan Dia karena selama jam-jam itu Ia adalah seorang berdosa di atas salib, Ia bahkan dibuat menjadi dosa. Di satu pihak, Tuhan memikul dosa-dosa kita; di lain pihak, Ia dibuat menjadi dosa karena kita. Karena itu, menurut keadil-benaran-Nya, Allah menghakimi Dia dan meninggalkan-Nya secara ekonomikal.
Tuhan dilahirkan dari Roh yang memperanakkan, yang adalah Allah mencapai manusia, sebagai esens ilahi, yang tidak pernah meninggalkan Dia secara esensial. Bahkan ketika Ia berada di atas salib, Ia berseru, "Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?" Ia masih tetap memiliki Roh yang memperanakkan (Allah dalam arti esensial) sebagai esens ilahi. Lalu siapa yang meninggalkan Dia? Itu adalah Roh yang mengurapi (Allah dalam arti ekonomikal), yang melaluinya Ia menyajikan diri-Nya sebagai Manusia-Allah untuk menjadi kurban almuhit bagi Allah (Ibr. 9:14), yang meninggalkan Dia secara ekonomikal. Setelah Allah menerima Kristus sebagai persembahan almuhit, Roh yang mengurapi meninggalkan Dia. Tetapi meskipun Roh yang mengurapi meninggalkan Dia secara ekonomikal, Tuhan masih memiliki Roh yang memperanakkan secara esensial.
Ketika Tuhan Yesus, Manusia-Allah, mati di atas salib di bawah penghakiman Allah, Ia memiliki Allah di dalam-Nya secara esensial sebagai diri ilahi-Nya. Namun Ia ditinggalkan oleh Allah yang adil dan yang menghakimi secara ekonomikal.
9. Menghakimi Dosa di dalam Daging
melalui Kematian Kristus di dalam Daging
Sebagai bagian dari pekerjaan-Nya dalam pengaturan administratif-Nya yang baru, atau ekonomi, Allah menghakimi dosa di dalam daging melalui kematian Kristus di dalam daging. Mengenai hal ini, Roma 8:3 mengatakan, "Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging." Di sini kita melihat bahwa Allah mengutus Anak-Nya dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa dan menghakimi dosa di dalam daging. Allah menyelesaikan masalah dosa dengan mengutus Anak-Nya sendiri "dalam rupa daging yang dikuasai dosa (daging dosa)". Kristus menjadi daging (Yoh. 1:14), tetapi Ia hanya memiliki rupa daging dosa. Tidak ada dosa dalam daging-Nya. Ia hanya memiliki rupa daging dosa, bukan sifat dosa dari daging dosa.
Frase "serupa dengan daging dosa" mengandung tiga kata penting: serupa, daging, dan dosa. Hanya mengatakan "daging dosa" akan mengindikasikan daging yang berdosa. Tetapi Paulus menambahkan "dalam rupa", mengindikasikan bahwa dalam sifat insani Kristus tidak ada dosa, meskipun sifat itu memiliki rupa, penampilan dari daging dosa. Selain itu, Paulus tidak mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya dalam rupa daging, dan berhenti di sana. Ia menambahkan "dosa". Kata "rupa" secara tegas menunjukkan bahwa keinsanian Kristus tidak memiliki dosa, tetapi keinsanian-Nya tersebut masih berkaitan dengan dosa.
Dalam melakukan pekerjaan menghakimi dosa di dalam daging melalui kematian Kristus di dalam daging, Allah bijaksana. Ia tahu bahwa Ia tidak boleh mengutus Putra-Nya untuk menjadi daging dosa, karena jika Ia telah melakukan hal itu, Putra-Nya akan terlibat dengan dosa. Karenanya, Allah mengutus Putra-Nya dalam rupa daging dosa, seperti yang dilambangkan oleh ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun (Bil. 21:9), seperti yang disebutkan oleh Tuhan sendiri dalam Yohanes 3:14. Perkataan Tuhan dalam Yohanes 3:14 menunjukkan bahwa ular tembaga adalah lambang dari diri-Nya sendiri di atas salib sebagai pengganti kita. Ketika Yesus di atas salib, dalam pandangan Allah Ia berbentuk ular. Satan adalah ular itu, dan dosa adalah sifat Satan, dosa itu telah diinjeksikan ke dalam tubuh manusia, mengubah tubuh tersebut menjadi daging dosa. Karena itu, daging dosa sesungguhnya berarti daging yang memiliki sifat Satan. Alkitab mengatakan bahwa Yesus, Anak Allah, menjadi daging. Tetapi, ini sama sekali tidak berarti bahwa Kristus menjadi daging yang memiliki sifat Satan, karena Roma 8:3 mengatakan bahwa Allah mengutus Dia dalam rupa daging dosa, dengan demikian mengindikasikan bahwa Kristus hanya mengambil rupa daging dosa, bukan sifat dosa dari daging dosa.
Dalam ayat yang lain, 2 Korintus 5:21, Paulus mengatakan bahwa Kristus "tidak mengenal dosa". Ini berarti bahwa Ia tidak memiliki dosa dan bahwa Ia tidak mengenal dosa secara pengalaman melalui kontak atau pengalaman pribadi (cf. Yoh. 8:46; 1 Ptr. 2:22; Ibr. 4:15; 7:26). Namun 2 Korintus 5:21 juga mengatakan bahwa Dia yang tidak memiliki dosa dibuat menjadi menjadi dosa karena kita oleh Allah. Meskipun ayat ini mengatakan bahwa Kristus dibuat menjadi dosa, ini tidak berarti bahwa Ia berdosa dalam sifat-Nya, karena Ia diutus hanya dalam rupa daging dosa. Ular tembaga memiliki bentuk ular, tetapi tidak memiliki racun ular. Kristus dibuat menjadi dosa dalam bentuknya. Di dalam Dia tidak ada dosa, Ia tidak ada hubungannya dengan sifat dosa. Ia dibuat hanya dalam rupa daging dosa untuk kita.
Roma 8:3 bukan hanya mengatakan bahwa Allah mengutus Anak-Nya dalam rupa daging yang dikuasai dosa, tetapi juga mengatakan bahwa Allah mengutus Dia "karena dosa". Beberapa versi menerjemahkan kata Yunani di sini sebagai "korban untuk dosa". Menurut pemikiran Paulus, dosa adalah masalah bagi kita dan membuat daging kita lemah di hadapan hukum Taurat (Rm. 8:3a). Bukan hanya daging kita tetapi dosa kita juga perlu ditanggulangi. Maka Allah mengutus Anak-Nya bukan hanya dalam rupa daging dosa tetapi juga karena dosa, yaitu untuk dosa, untuk masalah dosa. Dengan cara ini, Allah menghakimi dosa dan menanggulangi daging kita untuk menyelesaikan masalah.
Dosa dihakimi di dalam daging Kristus di kayu salib. Dosa adalah sifat Satan. Sifat Satan, yaitu dosa, ada di dalam daging, dan Kristus mengenakan daging yang serupa dengan dosa ini, rupa daging tempat dosa, sifat Satan, berhuni. Kemudian Kristus membawa daging ini ke salib dan menyalibkannya. Dengan cara ini, Allah menghakimi dosa di dalam daging melalui kematian Kristus di dalam daging.
Dosa di dalam daging yang dihakimi oleh Allah bisa di sebut dosa yang dipersonifikasikan. Dosa yang dipersonifikasikan ini digambarkan dalam Roma pasal 5 sampai 7, di sana kita diberi tahu bahwa dosa berkuasa (memerintah—Tl.) (5:21; 6:12), bahwa dosa dapat berkuasa atas kita (6:14), dosa menipu kita (7:11), dan bahwa dosa berdiam di dalam kita (7:17, 20). Dosa yang dipersonifikasikan dalam daging ini, yang dapat mendorong kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak kita, sebenarnya adalah Satan yang bergerak di dalam daging dosa kita. Karenanya, ketika Allah menghakimi dosa di dalam daging, Ia juga menghancurkan Satan, si Iblis (Ibr. 2:14).
10. Membelah Tabir untuk Membuka Jalan
ke Ruang Maha Kudus
Ketika Tuhan Yesus disalibkan, Allah membelah tabir untuk membuka jalan ke Ruang Maha Kudus. Matius 27:51 mengatakan, "Dan lihatlah, tabir Bait suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah." Ini mengindikasikan bahwa pemisahan antara Allah dengan manusia telah ditiadakan, karena rupa daging dosa (daging dilambangkan oleh tabir) yang dikenakan oleh Kristus (Rm. 8:3) telah disalibkan (Ibr. 10:20). Kata "dari atas sampai ke bawah" menunjukkan bahwa terbelahnya tabir adalah perbuatan Allah dari atas. Karena dosa telah dihakimi dan daging dosa telah disalibkan, pemisahan antara Allah dan manusia telah dihapus. Sekarang jalan untuk masuk ke dalam hadirat Allah terbuka bagi kita.
Ibrani 10:19 dan 20 juga membicarakan tentang Allah membelah tabir untuk membuka jalan bagi kita untuk masuk ke dalam ruang maha kudus, "Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus (ke dalam ruang Maha Kudus—T1.), karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya sendiri (daging-Nya—Tl.)". Hari ini ruang Maha Kudus berada di surga, tempat Yesus berada (Ibr. 9:12, 24). Lalu, bagaimana kita dapat memasukinya padahal kita masih berada di bumi? Kuncinya adalah roh kita (Ibr. 4:12). Kristus yang berada di surga sekarang juga berada di dalam roh kita (2 Tim. 4:22). Sebagai tangga surgawi (Kej. 28:12; Yoh. 1:51), Ia menyatukan roh kita dengan surga dan membawa surga ke dalam roh kita. Kapan kala kita berpaling ke dalam roh kita, kita masuk ke dalam ruang Maha Kudus, dan di sini kita berjumpa dengan Allah yang ada di atas takhta kasih karunia.
Menurut Ibrani 10:20, kita masuk ke dalam ruang Maha Kudus melalui jalan yang baru dan yang hidup, yang telah Kristus persembahkan bagi kita melalui tabir, yaitu daging-Nya. Jalan masuk ke dalam ruang Maha Kudus telah terbuka. Kata Yunani yang diterjemahkan "baru" dalam ayat ini berarti baru saja tersembelih. Melalui kematian Kristus di atas salib, jalannya baru saja tersembelih bagi kita. Apa yang telah tersembelih? Bukan hanya daging tetapi seluruh ciptaan lama. Dalam ayat ini, tabir yang adalah daging Kristus, melambangkan ciptaan lama, termasuk kita. Pada tabir ada kerub (Kel. 26:31), yang melambangkan makhluk-makhluk ciptaan (Yeh. 10:15). Ketika tabir terbelah, kerub juga terbelah, menandakan ketika daging Kristus, yang dilambangkan oleh tabir, disalibkan, semua makhluk ciptaan juga disalibkan bersama daging-Nya. Kita telah melihat bahwa ketika Tuhan Yesus mati, tabir dalam bait suci terbelah dari atas sampai ke bawah, hal ini berarti bahwa tabir itu dibelah oleh Allah di surga. Ciptaan lama telah tersembelih, dan jalan yang baru dan yang hidup untuk masuk ke dalam ruang Maha Kudus telah dibuka gleh Allah. Sekarang melalui tabir daging yang telah terbelah dan oleh darah Yesus, kita dapat masuk ke dalam ruang Maha Kudus.
Tabir dalam Ibrani 10:20 adalah tabir yang kedua (Ibr. 9:3) di dalam tabernakel seperti yang telah kita lihat menandakan daging Kristus. Ketika daging Kristus disalibkan, tabir ini terbelah, dengan demikian membuka jalan bagi kita, yang sebelumnya tersingkir dari Allah yang dilambangkan oleh pohon hayat (Kej. 3:22-24), untuk masuk ke dalam ruang Maha Kudus untuk mengontaki Dia dan menerima Dia sebagai Pohon hayat untuk kenikmatan kita.
11. Menghapus Surat Hutang dan Ketentuan-ketentuan Hukum
dengan Memakukannya di atas Salib
Ketika Kristus disalibkan, Allah menghapus surat hutang dan ketentuan-ketentuan hukum dengan memakukannya di atas salib. Membicarakan Allah, Kolose 2:14 mengatakan, "Dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib." Kata Yunani yang diterjemahkan "menghapuskan" dapat juga diterjemahkan memusnahkan, melenyapkan, atau membatalkan (ketetapan hukum). Kata Yunani untuk "surat hutang" mengacu kepada dokumen, surat tanggungan yang sah. Di sini surat hutang mengacu kepada hukum tertulis. Ketentuan-ketentuan atau dekrit mengacu kepada hukum upacara dengan ritual-ritualnya, bentuk atau cara-cara hidup dan penyembahan. Ketentuan-ketentuan ini telah disingkirkan oleh Allah dengan memakukannya di atas salib. Inilah membatalkan hukum Taurat dengan segala perintah dan ketentuannya (Ef. 2:15).
Ketentuan-ketentuan, ritual-ritual, dan upacara-upacara dari hukum Taurat telah disalibkan dalam kematian Kristus. Bukan hanya dosa, manusia alamiah, dunia, dan Satan telah disalibkan, hukum Taurat juga telah disalibkan. Pada saat orang-orang jahat memakukan Kristus di atas salib, Allah juga memakukan hukum Taurat di atas salib. Meskipun hukum Taurat diberikan oleh Allah melalui malaikat-malaikat, Allah sendiri memakukannya di atas salib Kristus. Sama seperti dosa telah dihukum (Rm. 8:31), demikian pula hukum Taurat telah disalibkan. Allah tidak menginginkan adanya hukum Taurat di antara Kristus dengan kita. Apa yang Ia inginkan adalah agar kita hidup bersama dengan Kristus yang dibangkitkan tanpa halangan apapun.
12. Melucuti Pemerintah-pemerintah dan Penguasa-penguasa,
Menjadikan Mereka Tontonan Umum
dan Kemenangan-Nya atas Mereka di atas Salib
Kolose 2:15 mengatakan, "Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka." Kata ganti "Ia" mengacu kepada Allah. Ketika Kristus berada di atas salib, Allah tidak hanya menghapus ketentuan-ketentuan hukum Taurat, tetapi juga melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka. Pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa adalah malaikat-malaikat jahat, malaikat-malaikat yang telah jatuh, adalah anak buah Satan, yang bekerja untuk dia. Ketika Tuhan Yesus sedang mati di atas salib, para pemerintah dan penguasa ini, malaikat-malaikat yang jatuh, sangat sibuk. Sesungguhnya, selama penyaliban Kristus, ada konflik rohani yang tidak kelihatan antara Allah dengan para pemerintah dan penguasa jahat ini. Allah memenangkan peperangan, melucuti para pemerintah dan penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum, dalam kemenangan-Nya atas mereka di atas salib.
Setelah Allah menciptakan langit, bumi, dan benda-benda lain dalam alam semesta, penghulu malaikat memberontak, dan banyak malaikat mengikuti dia. Penghulu malaikat ini menjadi Satan, dan para pengikutnya menjadi pemerintah-pemerintah, kekuatan, dan penguasa-penguasa jahat di langit. Setelah manusia diciptakan, Satan membujuk manusia sehingga jatuh dan manusia menjadi berdosa. Pemberotakan para malaikat dan kejatuhan manusia membuat Allah berada dalam keadaan yang sulit. Cara Allah membereskan kesulitan ini adalah salib. Pertama-tama, Allah menjadi manusia. Dengan demikian Ia mengenakan keinsanian di atas diri-Nya. Kemudian Kristus, Allah yang berinkarnasi, pergi ke atas salib dan disalibkan. Ketika Ia sedang mati di atas salib, banyak hal yang terjadi. Allah menghakimi dosa dan manusia lama yang berdosa. Pada saat yang sama, Ia memakukan hukum Taurat di atas salib, ketika Ia sedang memakukan hukum Taurat di atas salib, malaikat-malaikat yang jahat hadir dan sangat aktif. Tetapi Allah melucuti mereka melalui salib.
Ketika Kristus sedang berupaya di atas salib untuk merampungkan penebusan, Allah bekerja. Pada saat ketersaliban Tuhan, salib adalah pusat alam semesta. Juruselamat, dosa, Satan, kita, dan Allah, semuanya ada di sana. Allah sedang menghakimi dosa dan memakukan hukum Taurat di atas salib. Ketika Ia sedang melakukan hal ini, para pemerintah dan penguasa berkumpul mengitari Allah dan Kristus. Baik Allah maupun Kristus, keduanya sedang bekerja. Pekerjaan Kristus adalah ketersaliban-Nya, sedangkan pekerjaan Allah adalah menghakimi dosa dan semua perkara negatif dan memakukan hukum Taurat dengan segala ketentuannya di atas salib. Para pemerintah dan penguasa yang berkumpul mengitari Allah dan Kristus, juga sedang bekerja, sibuk berusaha, untuk menghalangi pekerjaan Allah dan Kristus; mereka sangat mendesak dirinya hingga dekat dengan Allah dan Kristus. Jika mereka tidak mendesak hingga sedemikian dekatnya, bagaimana mungkin Allah dapat melucuti mereka? Kata "melucuti" mengindikasikan bahwa mereka sangat dekat, dekat seperti pakaian kita dengan tubuh kita. Melalui melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, Allah menjadikan mereka sebagai tontonan umum. Ia mempermalukan mereka di depan umum dan menang atas mereka. Betapa besarnya perkara ini!
Kata "kemenangan" menyiratkan peperangan. Ini mengindikasikan bahwa peperangan sedang berkobar. Ketika Kristus sedang merampungkan penebusan, dan Allah sedang menanggulangi hukum Taurat dan perkara-perkara negatif, para pemerintah dan penguasa datang untuk mengganggu, mendesak, juga mendekati Allah dan Kristus. Pada saat itulah, Allah melucuti mereka, menang atas mereka, dan menjadikan mereka tontonan umum untuk mempermalukan mereka.
Sekarang, setelah hukum Taurat dan malaikat-malaikat jahat disingkirkan, Allah memiliki dasar yang jernih dan lingkungan yang damai sejahtera untuk menghidupkan umat pilihan-Nya. Ia memiliki atmosfir yang tepat untuk melaksanakan tugas yang menyenangkan, yaitu mendispensikan diri-Nya ke dalam orang-orang yang telah dipilih-Nya dalam kekekalan yang lampau. Setelah melucuti para pemerintah dan penguasa, sebagai Roh pemberi-hayat, Allah Tritunggal, memberikan hayat kepada kita melalui mendispensikan diri-Nya ke dalam kita.
13. Membangkitkan Kristus dari antara Orang Mati
Dalam pekerjaan-Nya, Allah juga membangkitkan Kristus dari antara orang mati. Kisah Para Rasul 2:24 mengatakan, "Tetapi Allah membangkitkan Dia dengan melepaskan Dia dari sengsara maut, karena tidak mungkin Ia tetap berada dalam kuasa maut itu." Di sini dan dalam ayat 32 Petrus mengatakan bahwa Allah membangkitkan Tuhan Yesus. Menganggap Kristus sebagai Allah, Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa Ia sendiri bangkit dari kematian (Rm. 14:9). Tetapi berkenaan dengan Tuhan sebagai manusia, Perjanjian Baru mengatakan bahwa Allah membangkitkan Dia dari kematian (Rm. 8:11). Allah membangkitkan Kristus dari antara orang mati menunjukkan bahwa Ia menyetujui bahwa Kristus adalah Mesias. Melalui kebangkitan Kristus, Allah menyatakan bahwa Kristus yang dibangkitkan adalah Mesias yang sejati, sang Terurap, dan yang diurapi oleh Allah untuk melaksanakan amanat kekal-Nya.
Dalam Kisah Para Rasul 3:15 Petrus sekali lagi membicarakan mengenai Kristus dibangkitkan oleh Allah dari antara orang mati, "Demikianlah Ia, Pemimpin kepada hidup, telah kamu bunuh, tetapi Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati; dan tentang hal itu kami adalah saksi." Meskipun Pemimpin kepada hidup, Kristus, sebagai Pemula hidup, telah dibunuh, Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati. Berkenaan dengan Tuhan Yesus sebagai manusia, Kisah Para Rasul 3:15 sekali lagi memberi tahu kita bahwa Ia telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh Allah.
14. Secara Esensial, Mengutus Roh-Nya
di dalam Nama Putra
Dalam Yohanes 14:26 Tuhan memberi tahu murid-murid bahwa Bapa akan mengutus Roh Kudus sebagai penghibur dalam nama-Nya. Ini terjadi dalam kebangkitan Kristus. Melalui kebangkitan Kristus, Allah mengutus Roh-Nya secara esensial di dalam nama Putra. Putra datang dalam nama Bapa (Yoh. 5:43), karena Putra dan Bapa adalah satu (10:30). Roh itu diutus dalam nama Putra, karena Roh itu dan Putra juga adalah satu (2 Kor. 3:17). Yohanes 14:16-20 membuktikan bahwa Roh itu, yang adalah Roh realitas, diutus oleh Bapa, adalah realitas, realisasi dari Putra. Yohanes 15:26 mengatakan bahwa Putra akan mengutus Roh itu dari dan dengan Bapa, dan Roh itu datang dari dan dengan Bapa. Ini dibandingkan dengan Yohanes 14:26, yang mengatakan bahwa Bapa akan mengutus Roh itu mengindikasikan bahwa Putra dan Bapa adalah satu, yakni sama-sama mengutus Roh itu; dan kedatangan Roh itu bukan hanya satu dengan Putra, seperti yang diindikasikan oleh kedatangan-Nya dalam nama Putra dalam Yohanes 14:26, tetapi juga satu dengan Bapa seperti yang diindikasikan oleh kedatangan-Nya dengan Bapa dalam Yohanes 15:26. Inilah Allah Tritunggal—Bapa, Anak, dan Roh itu—yang pada akhirnya mencapai manusia sebagai Roh itu.