ALLAH—PEKERJAAN-NYA (2)
Dalam berita ini kita akan membahas lebih lanjut mengenai pekerjaan Allah dalam zaman yang lama, dalam pengaturan administratif-Nya yang lama.
4. Memanggil Abraham, Bapa Umat Pilihan,
Keluar dari Angkatan yang Menyembah Berhala
Dalam kesaksiannya di hadapan kaum agamawan Yahudi, Stefanus berbicara mengenai panggilan Allah terhadap Abraham, bapa umat pilihan, yang keluar dari generasi yang memuja berhala. Stefanus berkata, "Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapa leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu" (Kis. 7:2-3). Abraham dipanggil oleh Allah. Adam adalah bapa dan kepala dari umat ciptaan, tetapi Abraham adalah bapa dan kepala dari umat yang terpanggil. Seperti yang tercatat dalam kitab Kejadian, sejarah dari umat ciptaan mencapai titik puncaknya dalam pembangunan menara dan kota Babel. Nama-nama berhala tertulis pada menara itu mengindikasikan bahwa umat ciptaan telah meninggalkan Allah dan berpaling kepada berhala. Kemudian Allah datang memanggil Abraham untuk keluar dari angkatan yang menyembah berhala. Menurut Kisah Para Rasul 7:2-3, Allah memanggil Abraham keluar dari negerinya dan dari sanak saudaranya.
Pada saat Allah memanggil Abraham, manusia telah meninggalkan Allah. Bukti bahwa manusia telah meninggalkan Allah terlihat dari pembangunan kota untuk tempat perlindungan mereka. Selain itu, manusia telah membangun menara sebagai tanda untuk memegahkan diri. Selanjutnya, umat manusia telah berpaling dari Allah kepada berhala-berhala. Karena itulah Abraham dipanggil keluar dari angkatan yang menyembah berhala.
Panggilan terhadap Abraham dimulai oleh Allah sendiri. Panggilan itu bukan dimulai oleh orang yang terpanggil. Meskipun Abraham adalah bapa umat terpanggil, panggilan tersebut tidak dimulai olehnya. Suatu hari, ketika ia sedang menyembah allah-allah lain di Mesopotamia (Yos. 24:2), Allah menampakkan diri kepadanya dan memanggil dia. Allah itulah yang memulai pemanggilan terhadap Abraham.
Meskipun panggilan Allah terhadap Abraham terjadi dalam waktu, sesuatu sebelum itu—pemilihan Allah terjadi dalam kekekalan yang lampau. Sebelum dunia dijadikan, Allah telah memilih Abraham dan juga telah menentukan dia dari semula. Kemudian dalam waktu, ketika Abraham sedang menyembah allah-allah lain, ia tidak pernah mengira bahwa is akan dipanggil oleh Allah, Allah menampakkan diri kepadanya sebagai Allah yang Mahamulia dan memanggil dia.
Allah yang mulia itulah yang menampakkan diri kepada Abraham. Kemuliaan Allah adalah daya tarik yang besar bagi Abraham, dan kemuliaan itu telah memisahkan dia dari angkatan yang menyembah berhala kepada Allah. Penampakan ini menguatkan Abraham untuk menerima panggilan Allah. Menurut situasi Abraham di Mesopotamia, tanpa daya tarik dan dorongan dari kemuliaan Allah, tidak mungkin bagi Abraham untuk menerima panggilan Allah. Tetapi Allah yang mulia telah menampakkan diri kepadanya dan mentransfusikan diri-Nya ke dalam Abraham, dengan demikian Abraham menjawab panggilan Allah.
Allah tidak menampakkan diri kepada Abraham tanpa berbicara kepadanya. Ketika Ia datang kepada Abraham, Ia memanggil Abraham. Memanggil berarti berbicara. Menurut Kisah Para Rasul 7:3, Allah yang mulia berfirman kepada Abraham, "Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu." Inilah perkataan Allah kepada Abraham. Perkataan sedemikian itu pasti juga telah membuat dia mampu untuk menerima panggilan Allah.
Panggilan Allah mengindikasikan suatu permulaan yang baru. Ketika Allah menciptakan manusia, ada suatu permulaan. Tetapi manusia yang diciptakan Allah untuk diri-Nya sendiri telah jatuh dan meninggalkan Allah. Karenanya, Allah datang memanggil Abraham untuk keluar agar ia dapat memiliki permulaan baru. Pada saat Ia memanggil Abraham, Allah mulai memiliki permulaan yang baru.
Panggilan Allah juga menandakan peralihan bangsa. Permulaan baru Allah bersama manusia melalui panggilan-Nya adalah peralihan bangsa. Panggilan Allah terhadap Abraham menunjukkan bahwa Ia telah meninggalkan bangsa Adam dan telah memilih Abraham beserta keturunannya sebagai bangsa baru untuk menjadi umat-Nya demi memenuhi tujuan kekal-Nya. Inilah peralihan dari bangsa Adam yang tercipta kepada bangsa Abraham yang terpanggil (Gal. 3:7-9, 14; Rm. 4:16-17). Ketika kita mengatakan bahwa panggilan Allah adalah suatu permulaan baru, kita perlu memahami bahwa permulaan baru itu adalah peralihan bangsa.
Maksud Allah memanggil Abraham adalah membawa dia kembali kepada diri-Nya sendiri sebagai pohon hayat. Menurut Kejadian pasal 1, manusia bukan hanya diciptakan oleh Allah tetapi juga untuk Allah dan bagi Allah, yaitu agar manusia dapat mengekspresikan gambar Allah dan melaksanakan kekuasaan-Nya. Dalam Kejadian pasal 2, Allah diwakili oleh pohon hayat. Fakta bahwa manusia yang diciptakan oleh Allah diletakkan di depan pohon hayat mengindikasikan bahwa manusia diharapkan dapat makan dari pohon ini secara terus-menerus. Manusia perlu datang kepada Allah, berkontak dengan Allah, dan mendapatkan Allah yang ditransfusikan ke dalamnya. Tetapi manusia telah gagal melakukan hal itu dan malahan pergi ke sumber yang salah, pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Sebagai akibatnya, manusia yang dibuat untuk Allah berpaling dari pada-Nya. Inilah makna dari kejatuhan manusia.
Allah menampakkan diri untuk memanggil Abraham keluar dari keadaan yang jatuh sedemikian. Ini berarti bahwa Allah ingin membawa manusia kembali kepada diri-Nya. Ketika Allah memanggil Abraham keluar dari Mesopotamia, maksud-Nya adalah untuk membawa dia kembali kepada diri-Nya. Dalam panggilan itu, Allah membawa Abraham kembali kepada pohon hayat. Ketika Allah menampakkan diri kepadanya, itu berarti pemunculan pohon hayat. Ketika Abraham menikmati saat-saat berada dalam hadirat Allah, ia menikmati pohon hayat. Setiap kali hal ini terjadi, esens Allah ditransfusikan ke dalamnya. Dengan cara inilah Allah melatih Abraham agar sepenuhnya ditransfusi dan dijenuhi dengan Allah dan tidak lagi bertindak tanduk dengan dirinya sendiri sehingga Allah dapat menjadi segala sesuatu baginya.
5. Memberikan Janji kepada Abraham
bahwa Melalui Keturunannya, Kristus,
Berkat Injil akan Sampai kepada Semua Bangsa di Bumi
Sebagai bagian dari pekerjaan-Nya dalam zaman yang lama, Allah memberikan janji kepada Abraham bahwa melalui keturunannya, Kristus, berkat Injil akan sampai kepada semua bangsa di bumi. Galatia 3:8 mengatakan, "Dan Kitab Suci, yang sebelumnya mengetahui, bahwa Allah membenarkan orang-orang bukan Yahudi oleh karena iman, telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham: Olehmu segala bangsa akan diberkati." Dalam Galatia 3:14 Paulus melanjutkan berkata, "Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu." Kemudian dalam ayat 16 Paulus melanjutkan, "Adapun kepada Abraham diucapkan segala janji itu dan kepada keturunannya. Tidak dikatakan `kepada keturunan-keturunannya' seolah-olah dimaksud banyak orang tetapi hanya satu orang: 'dan kepada keturunanmu' yaitu Kristus" Karena ayat 14 menggabungkan janji Roh itu dengan berkat Abraham, ayat ini sangatlah penting. Berkat Abraham adalah berkat yang dijanjikan oleh Allah kepada Abraham (Kej. 12:3) untuk segala bangsa di bumi. Janji ini sudah digenapi, dan janji ini sudah sampai kepada bangsa-bangsa di dalam Kristus melalui penebusan-Nya oleh salib. Konteks dalam ayat 14 menunjukkan bahwa Roh itu adalah berkat Allah yang dijanjikan kepada Abraham untuk semua bangsa dan yang telah diterima oleh kaum beriman melalui iman dalam Kristus. Roh itu adalah Roh majemuk dan sebenarnya adalah diri Allah sendiri yang telah melalui proses dalam trinitas-Nya, yaitu melalui proses inkarnasi, penyaliban, kebangkitan, kenaikan, dan turun kembali bagi kita untuk kita terima sebagai hayat dan segala sesuatu kita.
Aspek fisik dari berkat yang dijanjikan Allah kepada Abraham adalah tanah permai (Kej. 12:7; 13:15; 17:8; 26:3-4), yaitu lambang dari Kristus yang almuhit (Kol. 1:12). Karena pada akhirnya Kristus dinyatakan sebagai Roh pemberi-hayat yang almuhit (1 Kor. 15:45; 2 Kor. 3:17), berkat Roh yang dijanjikan itu sesuai dengan berkat tanah yang dijanjikan. Sesungguhnya, dalam pengalaman kita, Roh itu sebagai perwujudan Kristus adalah tanah permai sebagai sumber suplai limpah Allah untuk kita nikmati. Roh yang bagaimanakah yang dapat menjadi berkat yang dijanjikan Allah kepada Abraham? Roh apakah yang dapat menjadi berkat yang almuhit, yaitu Kristus sebagai tanah itu? Ini pasti adalah Roh itu, Roh pemberi-hayat yang almuhit.
Perkataan Paulus mengenai Roh itu akan mengingatkan kita terhadap Yohanes 7:39, "Roh itu belum datang (belum ada–TL), karena Yesus belum dimuliakan." Dalam Galatia 3:13 dan dalam Yohanes 7:39, Roh itu adalah ekspresi akhir dari Allah Tritunggal. Roh itu mengacu kepada Allah yang telah melalui proses. Bapa adalah sumber. Putra Allah, sebagai jalan, telah berinkarnasi, hidup di bumi, disalibkan, dan dibangkitkan. Inkarnasi, ketersaliban, dan kebangkitan, semuanya adalah aspek-aspek dari satu proses. Dalam kebangkitan, Kristus, Adam yang akhir, menjadi Roh pemberi-hayat. Tidak diragukan, Roh pemberi-hayat adalah Roh Kudus yang memberikan hayat. Roh ini adalah perampungan akhir dari Allah yang telah melalui proses. Sama seperti tanah permai yang merupakan lambang almuhit dari Kristus, dan sama seperti Kristus yang adalah perwujudan Allah Tritunggal (Kol. 2:9) telah menjadi Roh itu, demikian juga Roh itu, Roh almuhit sebagai Allah yang telah melalui proses, pada akhirnya adalah tanah permai bagi kita, kaum beriman Perjanjian Baru, sebagai penggenapan janji Allah kepada Abraham agar di dalam Dia semua bangsa di bumi diberkati.
Dalam Galatia 3:14, berkat janji tersebut adalah Roh itu, dan dalam Galatia 3:16, janji itu dibuat kepada keturunan Abraham, yaitu Kristus. Di satu pihak, Roh itu adalah Kristus yang almuhit. Di lain pihak, Roh itu, sebagai berkat dari janji, diberikan kepada Kristus sebagai keturunan itu. Ketika percaya kepada Tuhan Yesus, kita menerima Dia sebagai keturunan itu sebagai hayat. Keturunan ini adalah Roh pemberi-hayat yang almuhit, realitas dari tanah permai. Kristus yang kita terima sebagai keturunan itu adalah Roh yang dilambangkan oleh tanah permai. Kristus datang kepada kita sebagai keturunan itu, tetapi ketika kita hidup oleh Dia, Ia menjadi tanah (Roh yang almuhit) yang merupakan bagian kita. Inilah penggenapan firman Allah saat Ia memberi janji kepada Abraham bahwa melalui keturunannya berkat Injil akan sampai kepada semua bangsa di bumi.
6. Menghakimi Sodom dan Gomora
Melalui Menghancurkannya dengan Api
Dua Petrus 2:6 mengatakan, "Dan jikalau Allah membinasakan kota Sodom dan Gomora dengan api, dan dengan demikian memusnahkannya dan menjadikannya suatu peringatan untuk mereka yang hidup fasik di masa-masa kemudian." Dalam zaman yang lama, Allah menghakimi Sodom dan Gomora melalui menghancurkannya dengan api. Hal ini dilakukannya sebagai peringatan untuk mereka yang hidup fasik. Hidup fasik adalah hidup di dalam daging menurut hawa nafsu manusia, bukan menurut kehendak Allah (1 Ptr. 4:2); melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah (1 Ptr. 4:3); dan menempuh cara hidup yang sia-sia, sikap hidup yang fasik (1 Ptr. 1:18). Orang yang menempuh kehidupan yang fasik seharusnya mendapatkan peringatan melalui contoh ini.
7. Memilih Bangsa Israel, Keturunan Abraham,
dan Membuat mereka menjadi
Umat-Nya sebagai Lambang dari Gereja
Dalam pengaturan administratif-Nya yang lama, Allah memilih bangsa Israel, keturunan Abraham, dan membuat mereka menjadi umat-Nya sebagai lambang dari gereja (Rm. 9:11-13; Kis. 7:38). Dalam Perjanjian Lama, gereja tidak disebut secara gamblang. Tetapi, ada lambang-lambang yang menggambarkan gereja. Bangsa Israel, sebagai umat pilihan Allah, adalah lambang terbesar dan kolektif mengenai gereja, yang melaluinya kita dapat melihat bahwa gereja dipilih dan ditebus oleh Allah, menikmati Kristus dan Roh itu sebagai suplai hayat, membangun tempat kediaman Allah, mewarisi Kristus sebagai bagiannya, merosot dan tertawan, dipulihkan, dan menantikan kedatangan Kristus. Sungguh luar biasa, bahwa dalam zaman yang lama, Allah menyiapkan lambang yang demikian almuhit mengenai gereja!
Paulus menerapkan sejarah bangsa Israel kepada kehidupan gereja Perjanjian Baru. Dalam kitab Ibrani dan 1 Korintus, ia menunjukkan dengan jelas bahwa apa yang terjadi pada bangsa Israel adalah lambang kita (1 Kor. 10:6). Seluruh sejarah Israel adalah sejarah gereja. Jadi, Alkitab mencakup dua sejarah—sejarah bangsa Israel dan sejarah gereja. Sejarah bangsa Israel adalah lambang, dan sejarah gereja adalah penggenapan dari lambang tersebut. Jadi, seluruh Alkitab memberi kita satu wahyu, wahyu ekonomi Allah mengenai gereja. Dalam Perjanjian Lama, kita memiliki lambang, gambar, dari ekonomi Allah mengenai gereja, sedangkan dalam Perjanjian Baru, ekonomi Allah mengenai gereja itu digenapi.
8. Memberikan Hukum Taurat
dan Membuat Perjanjian yang Baru
Bagian dari pekerjaan Allah dalam zaman yang lama adalah memberikan hukum Taurat dan membuat perjanjian yang baru. Yohanes 1:17 mengatakan, "Hukum Taurat diberikan oleh Musa." Hukum Taurat juga diberikan untuk menyingkapkan apa adanya manusia dan di mana manusia itu berada. Cara yang terbaik untuk menyingkapkan manusia adalah membuat situasinya terlihat dalam terang atribut Allah. Sepuluh Perintah Allah terutama tersusun dari empat atribut ilahi: kekudusan, keadil-benaran, terang, dan kasih. Allah itu kudus dan adil-benar; Ia juga terang dan kasih. Jika Anda melihat ke dalam Sepuluh Perintah Allah, Anda akan melihat bahwa semuanya itu menyatakan kekudusan, keadilbenaran, terang, dan kasih ilahi. Itulah sebabnya hukum Taurat menjadi kesaksian Allah. Dengan kata lain, sepuluh perintah Allah mempersaksikan bahwa Allah itu kudus dan adil-benar dan bahwa Allah itu terang dan kasih. Allah menggunakan kesaksian ini untuk menyingkapkan manusia. Begitu manusia berdiri di hadapan kesaksian ini, dirinya sebagai orang dosa akan tersingkap.
Ketika hukum Taurat diberikan, bangsa Israel berjanji untuk mematuhi perintah-perintah Allah (Kel. 19:8). Sebelum bangsa Israel menjawab seperti itu, suasana di sekitar gunung Sinai tidak menakutkan. Tetapi ketika mereka menyatakan bahwa mereka akan memelihara perintah-perintah Allah, situasi berubah menjadi mengerikan. Allah menunjukkan kekudusan-Nya dan mereka tidak diijinkan untuk datang lebih mendekat. Karena takut terhadap manifestasi kekudusan Allah, mereka menyuruh Musa untuk pergi kepada Allah mewakili mereka. Ini mengindikasikan bahwa fungsi hukum Taurat adalah menyingkapkan umat manusia yang jatuh.
Ketika Allah memberikan hukum Taurat, Ia tahu bahwa bangsa itu tidak akan mampu memeliharanya. Tetapi Ia tetap memberikannya untuk menyingkapkan bangsa itu. Karena hukum Taurat berfungsi menyingkapkan orang, hukum itu memelihara mereka. Hukum Taurat digunakan oleh Allah sebagai pengawal (penjaga) untuk memelihara umat-Nya, sama seperti kandang yang menjaga kawanan domba selama muslin dingin atau selama badai. Waktu sebelum kedatangan Kristus dapat disamakan dengan musim dingin. Allah memakai hukum Taurat sebagai pengawal untuk melindungi bangsa itu. Paulus membuat prinsip dasar ini jelas dalam Galatia 3:23, "Sebelum iman itu datang kita berada di bawah pengawalan hukum Taurat, dan dikurung sampai iman itu telah dinyatakan." Dalam ayat 24 ia melanjutkan, "Jadi hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang, supaya kita dibenarkan karena iman." Ayat-ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa hukum Taurat berfungsi sebagai pengawal (penjaga). Karena menyingkapkan pelanggaran-pelanggaran manusia, hukum Taurat menjaga umat Allah sampai Kristus datang.
Dalam zaman yang lama, Allah bukan hanya memberikan hukum Taurat kepada umat-Nya; Ia juga membuat perjanjian dengan mereka. Mengenai ini, Ibrani 9:18-20 berkata, "Itulah sebabnya, maka perjanjian yang pertama tidak disahkan tanpa darah. Sebab sesudah Musa memberitahukan semua perintah hukum Taurat kepada seluruh umat, ia mengambil darah anak lembu dan darah domba jantan serta air, dan bulu merah dan hisop, lalu memerciki kitab itu sendiri dan seluruh umat, sambil berkata: Inilah darah perjanjian yang ditetapkan Allah bagi kamu." Pemercikan darah kurban adalah pemeteraian perjanjian itu dan merupakan penggenapan ketetapan resmi mengenai perjanjian.
Suatu perjanjian melibatkan dua pihak atau lebih. Di sini, perjanjian itu adalah antara Allah dengan umat-Nya. Pembuatan perjanjian itu adalah perkara yang luar biasa besar. Memakai istilah hari ini, maka perjanjian itu adalah suatu persetujuan atau kontrak. Hari ini, cara yang tepat untuk mengesahkan kontrak adalah dengan membuat pihak yang terlibat menandatanganinya. Waktunya telah ditetapkan, dan dokumen resmi telah dipersiapkan. Kemudian, semua pihak yang terlibat menandatangani dokumen tersebut. Dalam beberapa kasus, pihak-pihak tersebut bersumpah atau berikrar. Tanpa ketetapan resmi tersebut, kontrak itu hanya akan berupa pernyataan tertulis, tetapi tidak akan mengikat pihak mana pun. Meski hukum Taurat telah diberikan kepada bangsa itu melalui Musa, tetapi perjanjian itu masih tetap perlu ditetapkan. Karenanya, setelah Allah memberikan hukum Taurat, Ia membuat perjanjian antara Dia dengan umat-Nya.
Perjanjian Allah dalam zaman yang lama ditetapkan atas janji-Nya. Janji adalah kata-kata umum, biasa, tanpa penegasan. Setelah Allah berjanji, Ia memeteraikannya dengan sumpah. Ia bersumpah dengan ke-Allahan-Nya bahwa janji-Nya itu telah ditetapkan. Begitu janji-Nya ditetapkan dengan sumpah, janji itu segera menjadi perjanjian yang dimeteraikan oleh Allah. Jika Anda membaca Perjanjian Lama dengan teliti, Anda akan melihat bahwa semua janji Allah dimeteraikan oleh sumpah-Nya. Janji-janji itu berubah menjadi perjanjian, hal ini berarti tidak mungkin lagi diubah. Begitu janji-janji itu ditetapkan oleh sumpah Allah, maka janji-janji itu sudah tidak dapat diubah, tidak ada kemungkinan untuk diganti. Janji itu telah dimeteraikan; karena itu janji itu bukan lagi janji tetapi perjanjian yang telah ditegaskan oleh sumpah Allah.
9. Memberikan Janji kepada Daud, Raja Umat Terpilih,
bahwa Keturunannya akan Menjadi Mesias yang akan Datang—Kristus
Allah berjanji kepada Daud, raja atas umat terpilih, bahwa keturunannya akan menjadi Mesias yang akan datang—Kristus. Mengenai hal ini, Kisah Para Rasu12:30 dan 31 berkata, "Tetapi ia adalah seorang nabi dan ia tahu, bahwa Allah telah berjanji kepadanya dengan mengangkat sumpah, bahwa Ia akan mendudukkan seorang dari keturunan (buah pinggang) Daud sendiri di atas takhtanya. Karena itu ia telah melihat ke depan dan telah berbicara tentang kebangkitan Mesias, ketika ia mengatakan, bahwa Dia tidak ditinggalkan di dalam dunia orang mati, dan bahwa daging-Nya tidak mengalami kebinasaan." Kata Yunani untuk "buah (keturunannya—LAI)" dalam ayat 30 adalah korpos. Kata ini hanya digunakan untuk Kristus dengan pengertian "keturunan" dalam ayat ini dan dalam Lukas 1:42. Kata itu juga digunakan. untuk buah pohon hayat dalam Wahyu 22:2. Kristus adalah tunas yang ditumbuhkan TUHAN (Yes. 4:2), tunas adil bagi Daud (Yer. 23:5), seta buah Maria dan Daud, agar kita dapat makan Dia sebagai pohon hayat. Menjanjikan bahwa Kristus yang sedemikian akan datang adalah perkara yang besar dan juga adalah kabar sukacita. Allah melakukan hal ini pada Raja Daud dalam zaman yang lama sebagai berkat yang besar bagi umat pilihan-Nya.
10. Menjanjikan Injil yang Akan datang dari Zaman yang Baru
melalui Nabi-Nabi di antara Umat Pilihan
Pekerjaan Allah dalam pengaturan administratif-Nya yang lama meliputi menjanjikan Injil yang akan datang dari zaman yang baru melalui nabi-nabi di antara umat pilihan. Kata "Injil" berarti kabar sukacita, kabar baik. Injil adalah kabar yang menggembirakan orang-orang yang mendengarnya. Injil adalah kabar baik dari Allah, dari surga.
Dalam Roma 1:2-4 Paulus berbicara tentang Injil yang, "telah dijanjikan-Nya sebelumnya dengan perantaraan nabi-nabi-Nya dalam kitab-kitab suci, tentang Anak-Nya, ...Yesus Kristus Tuhan kita." Injil Allah berkenaan dengan satu Persona, Kristus. Tentu saja perkara-perkara seperti pengampunan dan keselamatan termasuk di dalam Injil, tetapi semua itu bukan butir utamanya. Injil Allah berkenaan dengan persona Putra Allah, Yesus Kristus Tuhan kita. Injil bukan doktrin atau ajaran atau kepercayaan. Injil adalah seorang Persona.
Injil ini dijanjikan oleh Allah melalui nabi-nabi dalam kitab-kitab suci, Injil Allah bukan sesuatu yang kebetulan, tetapi sudah direncanakan dan dipersiapkan oleh Allah. Alkitab menunjukkan bahwa Injil ini direncanakan oleh Allah dalam kekekalan yang lampau. Sebelum dunia dijadikan, Allah berencana untuk memiliki Injil ini. Karenanya, berulang kali dalam kitab-kitab suci, dari Kejadian hingga Maleakhi, Allah berbicara dengan janji melalui nabi-nabi mengenai Injil. Ini mengindikasikan bahwa jika kita ingin memahami isi Injil sebagai kabar baik, kita perlu mengenal Perjanjian Lama. Perjanjian Lama bukan sekadar catatan penciptaan dan sejarah. Dalam Perjanjian Lama diwahyukan elemen-elemen penting mengenai Injil ini.
Kita telah melihat pekerjaan Allah pada kekekalan yang lampau. Allah membuat ekonomi ilahi-Nya, memilih kaum beriman sebelum dunia dijadikan, menentukan kaum beriman dari semula kepada keputraan, dan mungkin mengadakan rapat di antara Trinitas dari ke-Allahan mengenai penciptaan dan penebusan. Kita juga telah melihat pekerjaan Allah dalam zaman yang lama: pekerjaan menciptakan alam semesta, menciptakan manusia dan menentukan musim-musim dan batas-batas tempat kediaman umat manusia, menanggulangi umat manusia yang jatuh dari Adam sampai Nuh, memanggil Abraham, memberikan janji kepada Abraham bahwa melalui keturunannya berkat Injil akan sampai kepada semua bangsa di bumi, menghukum Sodom dan Gomora untuk menghancurkannya melalui api, memilih bangsa Israel dan menjadikan mereka umat-Nya, memberikan hukum Taurat dan membuat perjanjian yang lama, berjanji kepada Daud bahwa keturunannya akan menjadi Mesias yang akan datang, dan menjanjikan Injil yang akan datang dari zaman yang baru melalui nabi-nabi di antara umat pilihan.
Sekarang, kita perlu bertanya mengapa Allah melakukan semua pekerjaan tersebut dalam kekekalan yang lampau dan dalam zaman yang lama. Dengan tujuan apakah Ia bekerja secara demikian? Jawabannya adalah Allah melakukan semua itu dengan tujuan untuk mendispensikan (menyalurkan) diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya. Inilah pemikiran yang mendasar dalam Alkitab. Subjek utama, pemikiran yang mendasar dalam kitab suci, yaitu Allah ingin mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya sehingga Ia dapat memiliki ekspresi korporat yang terampung dalam Yerusalem Baru. Inilah tujuan Allah membuat ekonomi ilahi, rencana kekal-Nya. Inilah tujuan Allah memilih kaum beriman, menentukan mereka dari semula, dan mengadakan rapat di antara Trinitas dari ke-Allahan. Inilah tujuan Allah menciptakan alam semesta, menciptakan manusia dan menentukan musim-musim dan batas-batas tempat kediaman mereka, dan melakukan begitu banyak perkara lain dalam pengaturan administratif-Nya yang lama. Tujuan pekerjaan Allah dalam kekekalan yang lampau dan dalam zaman yang lama adalah mendispensikan diri-Nya ke dalam umat pilihan-Nya untuk menghasilkan gereja sebagai ekspresi korporat-Nya yang terampung dalam Yerusalem Baru sebagai ekspresi kekal Allah tritunggal.
Berita-berita pada kesimpulan Perjanjian Baru ini bukan hanya berkenaan dengan doktrin, teologi, atau ajaran. Fokus dari berita-berita ini adalah visi mengenai dispensi ilahi dari Allah Tritunggal ke dalam kita. Saya tidak bermaksud agar Anda sekadar mengetahui semua bukti mengenai persona Allah atau semua aspek dari atribut-Nya. Sebaliknya, maksud saya adalah agar kita melihat kekayaan kandungan dari makanan ilahi yang kita terima dari hari ke hari sehingga kita dapat berbagian dalam pendispensian Allah Tritunggal ke dalam kita.