ALLAH—PEKERJAAN-NYA (1)
Dalam berita ini, kita akan mulai membahas pekerjaan Allah seperti yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru. Allah kita adalah Allah yang bekerja. Perkataan Tuhan dalam Yohanes 5:17 mengindikasikan hal ini, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang maka Akupun bekerja juga." Dalam Perjanjian Baru, kita melihat pekerjaan Allah dalam kekekalan yang lampau, dalam zaman-Nya yang lama, dalam zaman-Nya yang baru, dan dalam zaman kekekalan yang akan datang, dengan banyak aspek.
A. DALAM KEKEKALAN YANG LAMPAU
1. Membuat Ekonomi Ilahi
Dalam kekekalan yang lampau, Allah membuat ekonomi ilahi, rencana kekal-Nya (Ef. 1:9-11; 3:9-11; 1 Tim. 1:4b). Kata Yunani yang diterjemahkan menjadi "kegenapan waktu" dalam Efesus 1:10; "tugas penyelenggaraan" dalam Efesus 3:9; dan "tertib hidup keselamatan" dalam 1 Timotius 1:4 adalah oikonomia, dan yang diinggriskan menjadi "economy." Kata Yunaninya berarti hukum rumah tangga atau administrasi rumah tangga. Ini mengacu kepada administrasi rumah tangga Allah untuk mendispensikan diri-Nya dalam Kristus ke dalam umat pilihan-Nya agar Ia dapat memiliki gereja sebagai ekspresi korporat-Nya. Ekonomi sama dengan administrasi (dispensation), pengaturan, rencana. Singkatnya, kita dapat mengatakan bahwa dalam kekekalan yang lampau Allah membuat satu rencana, rencana yang ilahi dan kekal.
2. Memilih Kaum Beriman Sebelum Dunia Dijadikan
Setelah Allah membuat rencana kekal-Nya, Ia memilih kaum beriman, "Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya" (Ef. 1:4). Pemilihan Allah adalah seleksi-Nya. Dari antara manusia yang tak terhitung jumlahnya, Ia menyeleksi kita, dan hal ini dilakukan oleh-Nya di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Kristus adalah ruang lingkup yang di dalamnya kita diseleksi oleh Allah. Di luar Kristus, kita bukan pilihan Allah.
Frase "sebelum dunia dijadikan" berarti dalam kekekalan yang lampau. Allah memilih kita menurut kemampuan-Nya yang tidak terbatas untuk mengetahui sebelumnya (foresight) sebelum Ia menciptakan kita. Ini menyiratkan bahwa dunia, yaitu alam semesta, diciptakan untuk keberadaan manusia demi memenuhi tujuan kekal Allah. Allah memilih kita bukan hanya sebelum kita diciptakan, tetapi bahkan sebelum dunia dijadikan. Tidak satu pun dari ciptaan-Nya yang telah ada ketika Ia memilih kita.
Allah memilih kita dalam kekekalan yang lampau. Fakta bahwa kita telah dipilih dalam kekekalan yang lampau berarti bahwa keselamatan kita dimulai sebelum dunia dijadikan dan sebelum waktu. Kata "dipilih" menyiratkan bahwa ada yang dipilih dan ada yang tidak dipilih. Kita memuji Tuhan bahwa kita berada di antara orang-orang yang terpilih. Jika kita berpaling ke dalam roh kita dan berkontak dengan Tuhan mengenai perkara ini, kita akan menyadari bahwa sama seperti Allah yang adalah kekal, maka pemilihan-Nya terhadap kita juga adalah kekal.
3. Menentukan Kaum Beriman
Sebelum Dunia Dijadikan
Pekerjaan Allah dalam kekekalan yang lampau juga meliputi penentuan-Nya—menandai—kaum beriman sebelum dunia dijadikan. Mengenai hal ini, Efesus 1:5 mengatakan, "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya (sampai kepada keputraan—Tl.), sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya." Kata Yunani yang diterjemahkan "menentukan dari semula" juga dapat diterjemahkan "menandai sebelumnya". Menandai sebelumnya adalah proses, sedangkan menentukan dari semula adalah sasaran untuk menetapkan tujuan (nasib). Pertama-tama, Allah menyeleksi kita dan kemudian menandai kita sebelumnya, yaitu sebelum dunia dijadikan, untuk mencapai tujuan (nasib) tertentu. Nasib yang telah ditentukan Allah untuk kita dengan menandai kita sebelumnya adalah keputraan. Kita telah ditentukan dari semula untuk menjadi anak-anak Allah bahkan sebelum kita diciptakan. Jadi, sebagai ciptaan Allah, kita perlu dilahirkan kembali oleh-Nya sehingga kita dapat berbagian dalam hayat-Nya untuk menjadi anak-anak-Nya. Keputraan bukan hanya menyiratkan hayat putra tetapi juga kedudukan putra. Orang-orang yang ditandai Allah sebelumnya telah memiliki hayat untuk menjadi anak-anak-Nya dan juga kedudukan sebagai seorang anak.
Allah telah menentukan kita dari semula sesuai dengan kemampuan-Nya untuk mengetahui sebelumnya (1 Ptr. 1:2). Ini mengindikasikan bahwa hubungan kita dengan Allah dimulai oleh-Nya menurut kemampuan-Nya untuk mengetahui lebih dulu.
Selanjutnya Allah menentukan kita dari semula kepada keputraan oleh Yesus Kristus. "Oleh Yesus Kristus" berarti oleh sang Penebus, yang adalah Anak Allah. Melalui Dia, kita telah ditebus untuk menjadi anak-anak Allah dengan hayat dan kedudukan sebagai anak-anak Allah.
Efesus 1:5 mengatakan bahwa Allah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya (kepada keputraan—Tl.) sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, yang adalah tujuan-Nya. Allah punya kehendak, dan dalam kehendak itulah terletak kerelaan kehendak-Nya (perkenan-Nya). Allah menentukan kita dari semula untuk menjadi anak-anak-Nya sesuai dengan perkenan ini, sesuai dengan hasrat hati-Nya.
Efesus 1:4 mengatakan bahwa Allah telah memilih kita untuk menjadi kudus, dan ayat 5 mengatakan bahwa Ia telah menentukan kita dari semula kepada keputraan. "Menjadi kudus" adalah prosedur sedangkan "kepada keputraan" adalah sasarannya. Kita telah ditentukan dari semula kepada keputraan. Dengan kata lain, Allah telah memilih kita supaya kita kudus agar kita dapat menjadi anak-anak-Nya. Jadi, menjadi kudus adalah proses, prosedur, sedangkan menjadi anak-anak Allah adalah sasaran-Nya. Allah tidak hanya menginginkan sekelompok orang kudus; Ia menginginkan banyak anak. Menurut pandangan kita, kelihatannya sudah cukup jika Allah memilih kita supaya kudus. Kita sudah sangat puas dengan hal itu. Namun Allah telah memilih kita supaya kudus dengan satu tujuan, yaitu agar kita dapat menjadi anak-anak Allah.
Ketika muda, saya menyenangi Efesus 1:4 dan 5. Namun pada mulanya saya mengira bahwa Allah telah menentukan saya dari semula kepada surga. Kemudian saya mengira bahwa saya telah ditentukan dari semula kepada keselamatan. Banyak di antara kita yang mungkin memiliki pemikiran yang sama, membawa masuk konsep kita saat membaca Alkitab. Tetapi Efesus 1:5 tidak mengatakan bahwa Allah telah menentukan kita dari semula kepada surga atau kepada keselamatan. Ayat itu mengatakan bahwa kita telah ditentukan dari semula kepada keputraan. Allah membuat keputusan teguh sebelum dunia dijadikan agar kita bisa menjadi anak-anak-Nya. Dalam kekekalan yang lampau. Allah, melalui kemampuan-Nya untuk mengetahui sebelumnya, menandai kita dari antara sejumlah besar orang untuk menjadi anak-anak-Nya. Ini bukan dimulai oleh kita dalam waktu; ini dimulai oleh Allah dalam kekekalan.
4. Mungkin di antara Trinitas dari Ke-Allahan
Mengadakan Rapat Mengenai Penciptaan dan Penebusan yang Akan Datang
Dalam kekekalan yang lampau, Allah juga mengadakan rapat di antara Trinitas ke-Alahan mengenai penciptaan dan penebusan yang akan datang seperti yang ditunjukkan, atau tersirat dalam Kisah Para Rasul 2:23, yang mengatakan, "Dia (Manusia Yesus) yang diserahkan Allah menurut maksud dan rencana-Nya (menurut keputusan rapat dan kemampuan Allah untuk mengetahui sebelumnya—Tl.), telah kamu salibkan dan kamu bunuh oleh tangan bangsa-bangsa fasik." Dalam terjemahan Wuest, pada Kisah Para Rasul 2:23, ada sisipan dalam kurung yang mengatakan bahwa "keputusan rapat..." diputuskan "dalam rapat yang diadakan oleh Trinitas". Dalam kekekalan yang lampau, Allah tentu sudah membuat rencana menurut kerelaan kehendak-Nya (perkenan-Nya). Kemudian, menurut rencana itu, Ia memilih kita dan menandai kita. Dengan kemampuan-Nya untuk mengetahui sebelumnya, Allah tahu bahwa umat ciptaan akan jatuh. Karenanya di antara Trinitas ke-Allahan mungkin ada konferensi mengenai penciptaan dan penebusan yang akan datang. Keputusan yang dibuat berkenaan dengan bagaimana menciptakan alam semesta dan bagaimana menebusnya setelah kejatuhannya. Ini menunjukkan bahwa ketersaliban Tuhan bukan sesuatu yang kebetulan terjadi dalam sejarah manusia, tetapi sengaja dilakukan sebagai penggenapan rapat ilahi yang telah diputuskan oleh Allah Tritunggal.
Kematian Kristus juga menurut kemampuan Allah untuk mengetahui sebelumnya. Kristus telah ditetapkan dari semula, dipersiapkan, oleh Allah untuk menjadi Anak Domba penebus-Nya (Yoh. 1:29) bagi umat pilihan-Nya sesuai dengan kemampuan-Nya untuk mengetahui sebelumnya sebelum dunia dijadikan (1 Ptr. 1:20). Ini dilakukan sesuai dengan tujuan dan rencana kekal Allah, bukan secara kebetulan. Karenanya, dalam pandangan kekal Allah, sejak dunia dijadikan, yaitu sejak kejatuhan manusia sebagai bagian dari dunia, Kristus telah tersembelih (Why. 13:8).
Menurut wahyu yang telah kita dapat dari Kisah Para Rasul 2:23, 1 Petrus 1:20, dan Wahyu 13:8, penebusan yang dirampungkan oleh Kristus melalui ketersaliban-Nya adalah perkara besar dalam hati Allah untuk melaksanakan rencana kekal-Nya sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya (perkenan-Nya).
B. DALAM ZAMAN YANG LAMA
Pekerjaan Allah dalam zaman yang lama adalah pekerjaan-Nya dalam Perjanjian Lama. Zaman yang lama adalah pengaturan administratif atau ekonomi Allah yang lama. Dalam Perjanjian Lama, sama seperti dalam Perjanjian Baru, Allah memiliki ekonomi, administrasi, pengaturan administratif.
1. Menciptakan Alam Semesta
Dalam Kisah Para Rasul 17:24, Paulus menyebut Allah sebagai "Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya". Inilah suntikan yang kuat untuk melawan golongan atheis Epikuros yang tidak mengakui sang Pencipta dan golongan Penthius Stoa (ay. 18). Dalam pemberitaannya dalam Kisah Para Rasul 14:15, Paulus juga menyebutkan "Allah yang hidup, yang telah menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya."
Menurut Efesus 1:5 dan 9, motivasi penciptaan Allah adalah hasrat dan perkenan-Nya (kerelaan kehendak-Nya). Allah melaksanakan pekerjaan penciptaan-Nya untuk memenuhi hasrat hati-Nya dan untuk memuaskan perkenan-Nya.
Penciptaan Allah menggenapkan hasrat-Nya dan merampungkan tujuan-Nya, selain itu juga mewahyukan hasrat-Nya dalam alam semesta dan memanifestasikan tujuan-Nya dalam kekekalan. Segala sesuatu yang kita buat adalah mengekpresikan hasrat kita. Walaupun kita tidak berbicara banyak, barang yang kita buat memanifestasikan tujuan kita. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, tentu saja Ia memiliki tujuan. Melalui penciptaan-Nya, kita dapat melihat bahwa Allah memiliki hasrat dan tujuan. Pertama, tujuan Allah dalam penciptaan-Nya adalah untuk memuliakan Putra Allah (Kol. 1:15-19). Kedua, ciptaan Allah memanifestasikan Allah. Meskipun kuasa ilahi Allah dan karakteristik ilahi-Nya tidak terlihat, manusia dapat memahaminya melalui hal-hal yang dibuat oleh Allah (Rm. 1:20).
Mengapa Allah menciptakan langit dan bumi? Menurut Alkitab, langit adalah untuk bumi dan bumi adalah untuk manusia. Zakharia 12:1 berkata bahwa Allah membentangkan langit, meletakkan dasar bumi, dan menciptakan roh dalam diri manusia. Langit adalah untuk bumi, bumi adalah untuk manusia, dan manusia yang memiliki roh adalah untuk Allah.
Dasar pekerjaan Allah dalam penciptaan adalah kehendak dan rencana Allah (Ef. 1:10). Wahyu 4:11 mengatakan bahwa segala sesuatu diciptakan menurut kehendak Allah. Allah adalah Allah yang bertujuan, memiliki kehendak yang berasal dari perkenan-Nya. Ia menciptakan segala sesuatu untuk kehendak-Nya sehingga Ia dapat merampungkan dan menggenapkan tujuan-Nya. Allah memiliki kehendak, dan menurut kehendak itu Ia membuat rencana-Nya. Menurut kehendak dan rencana itu, Ia menciptakan segala sesuatu.
Meskipun penciptaan adalah pekerjaan Allah, sarana penciptaan-Nya adalah Putra Allah (Kol. 1:15-16; Ibr. 1:2b) dan Firman Allah (Ibr. 11:3; Yoh. 1:1-3). Perjanjian Baru memberi tahu kita dengan jelas bahwa Allah menciptakan alam semesta melalui Kristus sebagai Putra Allah dan Firman Allah. Dalam membicarakan tentang Kristus sebagai sarana penciptaan, Kolose 1:16 berkata, "karena di dalam Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di surga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, balk singgasana maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia." Mengenai Kristus sebagai Firman, Yohanes 1:3 berkata, "Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan."
Hanya Allah yang dapat menciptakan. Menciptakan berarti menjadikan sesuatu ada dari yang tidak ada. Allah adalah Pencipta satu-satunya.
2. Menciptakan Manusia dan
Menentukan Musim-musim bagi Mereka dan Batas-batas Kediaman Mereka
Setelah menciptakan alam semesta, Allah menciptakan manusia dan menentukan musim-musim dan batas-batas kediaman umat manusia. Mengenai hal ini, Kisah Para Rasul 17:26 mengatakan, "Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh muka bumi dan Ia telah menentukan musim-musim bagi mereka dan batas-batas kediaman mereka." "Satu orang" di sini mengacu kepada Adam. Allah bukan hanya menciptakan umat manusia tetapi juga menentukan musim-musim dan batas-batas kediaman umat manusia. Migrasi ke Amerika pada waktunya dan pada batas-batas yang telah ditetapkan adalah bukti yang kuat terhadap firman ini. Setelah menciptakan manusia, Allah menjaga Amerika. Setelah Amerika ditemukan oleh orang-orang Eropa, banyak orang migrasi ke sana. Ini sesuai dengan kedaulatan Allah. Allah menentukan musim-musim dan batas-batas kediaman Amerika Serikat demi tujuan-Nya yang berkenaan dengan pelaksanaan pemulihan-Nya.
3. Menanggulangi Umat Manusia yang Jatuh dari Adam sampai Nuh
Sebagai bagian dari pekerjaan-Nya, Allah menanggulangi umat manusia yang jatuh, dari Adam sampai Nuh. Sejarahnya tercatat dalam Perjanjian Lama, namun disinggung dalam Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Baru, kita melihat hal-hal tertentu yang Allah lakukan dalam zaman Perjanjian Lama.
a. Menolak Kain dan Membenarkan Habel
Dalam menanggulangi umat manusia yang jatuh, Allah menolak Kain dan membenarkan Habel. "Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah kurban yang lebih baik daripada kurban Kain. Dengan jalan itu ia memperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu (Ibr. 11:4). Menurut perlambangan, persembahan Habel yang lebih baik adalah lambang Kristus, yaitu "persembahan-persembahan yang lebih baik" yang sejati (Ibr. 9:23).
Kain mempersembahkan kepada Allah buah dari hasil jerih lelahnya. Ia membawa buah-buahan dari hasil tanah tanpa darah yang tercurah. Ini berarti bahwa ia telah menolak cara penebusan Allah, yang tentunya telah ia dengar dari orang tuanya. Cara penebusan Allah adalah melalui kurban dengan penumpahan darah, karena tanpa penumpahan darah tidak ada pengampunan dosa (Ibr. 9:22). Bukannya memperhatikan cara Allah, Kain menciptakan caranya sendiri untuk menyembah Allah menurut konsepnya. Namun, Allah tidak menerima persembahan Kain. Walaupun Kain tentunya sudah tahu bahwa yang Allah inginkan adalah kurban dengan penumpahan darah, ia tidak mempersembahkan kurban yang demikian. Malahan Kain menyembah Allah seturut konsepnya sendiri, tanpa penumpahan darah. Persembahannya adalah penghinaan terhadap Allah, kekejian dalam pandangan Allah, karenanya Allah menolak persembahan tersebut.
Berkebalikan dengan Kain, Habel mempersembahan bukan menurut konsepnya sendiri, tetapi menurut cara keselamatan Allah. Ia menyembah Allah seturut wahyu-Nya. Habel menyadari bahwa Ia memerlukan persembahan yang disertai dengan penumpahan darah. Karena Habel tahu bahwa ia telah dilahirkan dari orang tua yang telah jatuh dan ia adalah orang dosa, ia mempersembahkan anak sulung dari kambing dombanya dengan penumpahan darah untuk penebusan. Karenanya Habel dibenarkan oleh Allah.
B. Menyelamatkan Henokh dari Kematian
Ibrani 11:5 mengatakan, "Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah." Pekerjaan Allah dalam zaman yang lama meliputi menyelamatkan Henokh dari kematian. Alasan Allah menyelamatkan Henokh adalah agar ia tidak mengalami kematian. Dijauhkannya Henokh dari kematian adalah keselamatan sempurna Allah. Henokh menikmati dan berbagian dalam keselamatan Allah sampai pada puncaknya.
Henokh adalah orang pertama yang diangkat. Karena yang pertama kali disebutkan dalam Alkitab akan menjadi prinsip untuk hal tersebut, maka kasus Henokh, hal terangkat yang pertama kali disebut, menjadi prinsip keterangkatan. Prinsip keterangkatan adalah matang dalam hayat melalui berjalan bersama Allah. Henokh berjalan bersama Allah selama tiga ratus tahun, dan kemudian Allah mengangkatnya (Kej. 5:22-24).
Sebelum Henokh diangkat oleh Allah, "ia memperoleh kesaksian bahwa ia berkenan kepada Allah." Ibrani 11:6 melanjutkan, "tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia." Karena meneruskan ayat 5, ayat ini mengindikasikan bahwa Henokh bukan hanya berjalan bersama Allah tetapi juga percaya. Henokh percaya bahwa Allah itu ada, dan ia mencari Allah melalui percaya bahwa Ia adalah sang Pemberi pahala. Pasti karena percaya kepada Allah dan mencari Allah itulah maka perkara itu memotivasi Henokh untuk berjalan bersama Allah. Pada akhirnya, Henokh diberi pahala oleh Allah. Allah memberinya upah dengan mengangkatnya agar ia tidak mengalami kematian.
C. Menghakimi Generasi Fasik dengan Air Bah
serta Membebaskan Nuh bersama Keluarganya
dari Generasi yang Bobrok
Dalam pengaturan administratif-Nya yang lama, Allah menghakimi generasi yang fasik dengan air bah dan membebaskan Nuh beserta keluarganya dari generasi yang bobrok. Dua Petrus 2:5 memberi tahu kita bahwa Allah "tidak menyayangkan dunia purba, tetapi hanya menyelamatkan Nuh, pemberita kebenaran itu, dengan tujuh orang lain, ketika Ia mendatangkan air bah atas dunia orang-orang fasik." Satu Petrus 3:20 mengatakan bahwa hanya sedikit, yaitu delapan orang, yang diselamatkan oleh air bah itu, jadi Nuh termasuk salah satu dari kedelapan orang itu. Nuh adalah pemberita kebenaran. Menjadi seorang yang benar dan beribadah atau menjadi seorang yang tidak benar dan fasik itu bersangkut paut dengan pemerintahan keadilan Allah (2 Ptr. 2:5-9). Benar berarti benar terhadap manusia di hadapan Allah, dan beribadah adalah mengekspresikan Allah di hadapan manusia. Inilah sikap hidup Nuh yang menyelamatkannya dari pemerintahan keadilan Allah menurut keadil-benaran-Nya.
Nuh tidak memberitakan Injil; ia memberitakan keadil-benaran Allah terhadap kebobrokan generasinya. Di sini, Petrus membicarakan keadil-benaran karena penekanannya adalah pada pemerintahan Allah. Pemberitaan Nuh mengenai keadilbenaran berkaitan dengan pemerintahan Allah. Allah memberi tahu Nuh bahwa Ia akan memusnahkan bumi dan bahwa Nuh hendaknya memberitakan keadilbenaran kepada generasinya. Allah melaksanakan penghakiman-Nya terhadap generasi yang bobrok dengan mendatangkan air bah di bumi orang-orang fasik.
Mengenai Nuh, Ibrani 11:7 mengatakan, "Karena iman, maka Nuh—dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan—dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya." Nuh memberitakan keadilbenaran kepada generasinya sambil membangun bahtera. Nuh membangun bahtera dengan iman menurut wahyu Allah, bukan menurut konsepnya sendiri. Ia membangun bahtera berarti ia mutlak bertentangan dengan arus generasinya. Melalui mempersiapkan bahtera "ia menghakimi dunia". Selain keluarga Nuh, tidak ada seorang pun yang menghargai pekerjaan itu. Setelah Nuh masuk ke dalam bahtera, Allah menutup pintu bahtera itu di belakang Nuh (Kej. 7:16). Ketika air bah melanda generasi fasik, Nuh dan keluarganya berada dalam bahtera, dilindungi, diamankan, dan diselamatkan.