← Daftar isi Kesimpulan Perjanjian Baru · bab 13/20

ALLAH—MANIFESTASI-NYA

Dalam berita sebelumnya kita telah melihat bahwa perkenan Allah, hasrat hati Allah, adalah memiliki banyak putra untuk ekspresi Putra-Nya agar Ia diekspresikan di dalam Putra melalui Roh itu. Untuk itulah Allah telah memanifestasikan (menyatakan) diri-Nya, pertama-tama di dalam Kristus sebagai ekspresi individu di dalam daging, kemudian di dalam gereja, Tubuh Kristus, sebagai ekspresi korporat yang diperbesar di dalam daging. Akhirnya, Allah akan dimanifestasikan dalam Yerusalem Baru sebagai perampungan ekspresi korporat dalam langit baru dan bumi baru. Dalam berita ini kita akan membahas manifestasi Allah dalam ketiga tahap tersebut.

A. DI DALAM KRISTUS SEBAGAI EKSPRESI INDIVIDU

DI DALAM DAGING

Manifestasi Allah pertama-tama ada di dalam Kristus sebagai ekspresi individu di dalam daging. Mengenai hal ini Kolose 2:9 berkata, "Sebab dalam Dialah berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan." Dalam ayat ini "kepenuhan" bukan mengacu kepada kekayaan Allah, melainkan mengacu kepada ekapresi kekayaan Allah. Apa yang berdiam di dalam Kristus adalah ekspresi kekayaan-kekayaan dari apa adanya Allah. Kita perlu melihat bahwa kepenuhan ke-Allahan adalah ekspresi ke-Allahan dan ekspresi ini ada di dalam Kristus secara individu.

Kristus adalah perwujudan (pengejawantahan) kepenuhan ke-Allahan. Ini berarti bahwa kepenuhan Allah Tritunggal berdiam di dalam Kristus secara jasmaniah. Fakta bahwa kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus secara jasmaniah berarti kepenuhan itu berdiam di dalam Dia baik secara riil maupun secara praktis. Hal ini menyiratkan tubuh fisik yang dikenakan Kristus dalam keinsanian-Nya. Ini mengindikasikan bahwa seluruh kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Kristus sebagai Persona yang memiliki tubuh insani. Sebelum inkarnasi-Nya, kepenuhan ke-Allahan berdiam di dalam Dia sebagai Firman yang kekal, tetapi tidak berdiam di dalam Dia secara jasmani. Setelah Ia berinkarnasi, kepenuhan ke-Allahan mulai berhuni di dalam Dia secara jasmani. Jadi, Ia adalah manifestasi Allah, ekspresi Allah secara individu dalam daging.

Ungkapan "kepenuhan ke-Allahan" mengacu kepada seluruh ke-Allahan, Allah yang lengkap, termasuk Bapa, Putra, dan Roh. Karena ke-Allahan terdiri atas Bapa, Putra, dan Roh, tidaklah benar jika kita mengatakan bahwa kepenuhan ke-Allahan hanya meliputi Allah Putra dan tidak meliputi Allah Bapa dan Allah Roh. Karena ke-Allahan terdiri atas Bapa, Putra, dan Roh, kepenuhan ke-Allahan pasti adalah kepenuhan Bapa, Putra, dan Roh. Sebagai perwujudan kepenuhan ke-Allahan, Kristus bukan hanya Putra Allah tetapi juga keseluruhan Allah.

Yohanes 1:1 dan 14 juga mewahyukan bahwa Allah dimanifestasikan di dalam Kristus sebagai ekspresi individu di dalam daging. Ayat 1 berkata, "Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah." Dalam ayat 14, Firman ini, yang adalah Allah, menjadi daging. Ini mengacu kepada Kristus yang berinkarnasi. Pada mulanya, Ia bukan hanya bersama Allah tetapi Ia adalah Allah itu sendiri. Kristus yang berinkarnasi adalah Allah dinyatakan dalam daging (1 Tim. 3:16).

Selanjutnya Yohanes pasal 1 berkata, "Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah; tetapi Anak Tunggal Allah, yang ada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakan-Nya" (ay. 18). Ini memberi tahu kita bahwa Kristus, sebagai Putra tunggal Allah, adalah ekspresi Allah. Tidak seorang pun yang pernah melihat Allah, namun Ia menyatakan Allah. Bapa adalah Allah yang tidak terlihat, Allah yang tersembunyi; Kristus adalah Allah yang dinyatakan.

Ketika kita mengatakan bahwa Kristus adalah Firman, kita mengatakan bahwa Ia adalah ekspresi Allah. Mungkin saja saya punya banyak perasaan di batin, tetapi jika saya tidak punya perkataan, perasaan-perasaan saya tidak dapat diekspresikan. Tetapi ketika perasaan-perasaan saya diekspresikan dalam kata-kata, maka Anda dapat memahaminya. Kristus adalah Firman Allah. Meski tidak ada seorang pun yang mengenal Allah, Kristus sebagai Firman berbicara bagi Allah, mendefinisikan Allah, dan bahkan memanifestasikan Allah.

Karena Allah adalah abstrak, misterius, dan tidak terlihat, maka perlu bagi Allah menjadi Firman guna menjelaskan diri-Nya, mendefinisikan diri-Nya, dan mewahyukan diri-Nya. Dalam Yohanes 1:1, Firman mengacu kepada Allah yang didefinisikan, Allah yang dijelaskan dan diekspresikan, Allah yang diwahyukan dan diperkenalkan kepada umat manusia. Firman ini adalah Tuhan kita Yesus Kristus, Firman Allah yang hidup. Firman adalah perwujudan Allah Tritunggal. Meskipun Allah Tritunggal itu misterius, namun Ia terwujud di dalam Firman. Firman adalah definisi, penjelasan, dan ekspresi dari Allah yang misterius dan tidak terlihat. Allah Tritunggal yang terwujud di dalam Firman itu dijelaskan, didefinisikan, dan diekspresikan.

Dalam Yohanes 1:14, Firman, perwujudan Allah Tritunggal, menjadi daging. Dalam Kristus yang berinkarnasi, Allah diekspresikan dalam seorang manusia di dalam daging. Ini sesuai dengan rencana Allah. Allah berencana untuk menyatakan diri-Nya di dalam manusia dan melalui manusia di dalam daging.

Yohanes 1:14 melanjutkan berkata bahwa Firman itu, setelah menjadi daging "diam (bertabernakel) di antara kita, (dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak tunggal Bapa), penuh kasih karunia dan kebenaran." Ini mengindikasikan bahwa Firman itu berinkarnasi untuk mendeklarasikan Allah. Sebagai deklarasi Allah, Kristus mendeklarasikan Allah sedemikian penuh kasih karunia dan realitas. Ia mendeklarasikan Allah melalui menyajikan diri-Nya sebagai kasih karunia dan realitas. Allah, Allah kenikmatan itu sendiri, menjadi kasih karunia dan realitas bagi kita di dalam Kristus untuk kenikmatan kita. Melalui menikmati Dia, kita mendapatkan Dia sebagai kasih karunia dan realitas. Ia mendeklarasikan Allah kepada manusia dengan cara kenikmatan.

Ketika kita menikmati Allah di dalam Kristus sebagai kasih karunia dan mengenal Dia di dalam Kristus sebagai realitas, kita akan mendapatkan kekayaan-kekayaan Kristus yang tidak terduga. Yohanes 1:16 berkata, "Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia." Di dalam Kristus yang berinkarnasi itulah berdiam seluruh kepenuhan, ekspresi dari kekayaan-kekayaan Allah (Kol. 29). Melalui inkarnasi-Nya di dalam Kristus, kita dapat menerima kekayaan-kekayaan dari kasih karunia dan realitas yang berasal dari kepenuhan ilahi-Nya.

Kristus sebagai Putra tunggal Bapa mendeklarasikan Allah melalui Firman, hayat, terang, kasih karunia, dan realitas (Yoh. 1:1, 4, 9, 14). Firman itu adalah Allah yang diekspresikan, hayat adalah Allah yang dibagikan, terang adalah Allah yang bersinar, kasih karunia adalah Allah yang dinikmati, dan realitas adalah Allah yang didapatkan. Melalui hal-hal inilah Allah dinyatakan di dalam Putra sebagai ekspresi individu-Nya. Kristus menjelaskan, mendefinisikan, mendeklarasikan, dan mengekspresikan Allah, melalui menjadi Firman yang berinkarnasi untuk menjadi hayat dan terang bagi manusia dengan kasih karunia dan realitas untuk kenikmatan manusia. Dengan cara inilah Allah dideklarasikan kepada manusia di dalam Putra.

B. DI DALAM GEREJA—TUBUH KRISTUS-

SEBAGAI EKSPRESI KORPORAT YANG DIPERBESAR

DI DALAM DAGING

Kami telah menunjukkan bahwa kepenuhan Allah adalah ekspresi Allah. Menurut Yohanes 1:16, kepenuhan Allah ada pada Kristus yang merupakan pengejewantahan kepenuhan Allah. Pada Kristus, ekspresi Allah adalah perkara individu. Ekspresi ini perlu diperbesar dari ekspresi individu kepada ekspresi korporat. Gereja adalah ekspresi korporat Allah yang diperbesar di dalam daging. Ini berarti bahwa gereja hendaknya menjadi kepenuhan, ekspresi Allah, secara korporat. Di dalam gereja, Allah diekspresikan bukan secara individu melainkan secara korporat melalui Tubuh Kristus. Karena kepenuhan Allah berejawantah di dalam gereja, gereja adalah ekspresi korporat dari Allah Tritunggal.

Satu Timotius 3:15 dan 16 menunjukkan bahwa Allah dimanifestasikan dalam gereja—Tubuh Kristus—sebagai ekspresi korporat yang diperbesar di dalam daging: "Keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran. Dan sesungguhnya agunglah rahasia ibadah kita: Dia yang telah menyatakan diri-Nya dalam rupa manusia, dibenarkan dalam Roh; yang menampakkan diri-Nya kepada malaikat-malaikat, diberitakan di antara bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah; yang dipercayai di dalam dunia, diangkat dalam kemuliaan." Dalam bahasa Yunani, kata sambung "yang" tidak ada, tetapi mudah diketahui bahwa kata "yang" itu adalah Kristus, yang adalah Allah dimanifestasikan di dalam daging sebagai rahasia ibadah. Kalimat "....rahasia ibadah kita: Dia yang...." menyiratkan bahwa Kristus sebagai manifestasi Allah di dalam daging adalah rahasia ibadah (Kol. 1:27; Gal. 2:20). Rahasia ibadah ini adalah kehidupan gereja yang tepat, dan kehidupan yang demikian juga adalah manifestasi Allah di dalam daging.

Ayat-ayat ini menyiratkan bahwa bukan hanya Kristus sebagai sang Kepala yang adalah manifestasi Allah di dalam daging tetapi gereja sebagai Tubuh juga adalah manifestasi Allah di dalam daging. Ketika gereja bertumbuh di dalam Kristus dengan pertumbuhan Allah (Kol.2:19), gereja akan berfungsi sebagai rumah dan sebagai keluarga dari Allah yang hidup untuk pergerakan-Nya di bumi dan sebagai tiang penopang dan dasar kebenaran, mengemban realitas ilahi Kristus dan Tubuh-Nya sebagai kesaksian terhadap dunia. Kemudian gereja menjadi kelanjutan manifestasi Kristus akan Allah di dalam tubuh daging. Inilah rahasia ibadah yang agung—Kristus diperhidupkan oleh gereja sebagai manifestasi Allah di dalam daging.

Dalam 1 Timotius 3:15, istilah Yunani untuk "keluarga" juga dapat diterjemahkan "rumah tangga". Rumah tangga Allah, keluarga Allah, adalah rumah Allah. Keluarga dan rumah tangga adalah satu hal—perhimpunan kaum beriman (Ef. 2:19; Ibr. 3:6). Realitas rumah ini sebagai tempat kediaman dari Allah yang hidup ada di dalam roh kita (Ef.2:22). Kita perlu hidup di dalam roh agar Allah dapat dimanifestasikan dalam rumah ini sebagai Allah yang hidup.

Gereja, sebagai keluarga dan rumah tangga dari Allah yang hidup, adalah tiang penopang dan dasar kebenaran. Tiang menopang bangunan dan dasar menopang tiang. Gereja adalah tiang penopang dan dasar kebenaran yang sedemikian. Kebenaran adalah realitas, mengacu kepada hal-hal riil yang diwahyukan dalam Perjanjian Baru mengenai Kristus dan gereja menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ekonomi ini terdiri atas Kristus sebagai misteri Allah (Kol. 2:2) dan gereja sebagai misteri Kristus (Ef. 3:4). Kristus dan gereja, Kepala dan Tubuh, adalah isi dari realitas ekonomi Perjanjian Baru Allah. Gereja sebagai keluarga dan rumah tangga dari Allah yang hidup adalah tiang yang menopang kebenaran, realitas ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan dasar yang menopang tiang.

Gereja sedemikian adalah kelanjutan, perbesaran, dan perluasan Allah yang dimanifestasikan di dalam daging. Manifestasi Allah ini adalah gereja sebagai keluarga Allah, tiang penopang, serta dasar kebenaran. Jadi gereja adalah pertambahan, perbesaran, dari manifestasi Allah di dalam daging. Ini adalah Allah dimanifestasikan di dalam daging secara lebih luas. Ini sesuai dengan prinsip inkarnasi Perjanjian Baru, yaitu Allah dimanifestasikan di dalam daging.

Satu Timotius 3:16 dimulai dengan kata, "Dan sesungguhnya, agunglah rahasia ibadah kita." Kata sambung "dan" di sini mengindikasikan bahwa pembicaraan mengenai gereja dalam ayat 15 belum selesai dan bahwa gereja adalah sesuatu yang lebih dari sekadar keluarga dari Allah yang hidup, tiang penopang, dan dasar kebenaran. Gereja juga adalah rahasia ibadah. Menurut konteksnya, ibadah mengacu kepada Allah yang hidup di dalam gereja, yaitu Allah sebagai hayat diperhidupkan dalam gereja untuk di ekspresikan. Kehidupan gereja adalah ekspresi Allah. Baik Kristus maupun gereja, Kepala dan Tubuh, adalah rahasia ibadah, mengekspresikan Allah di dalam daging.

C. DI DALAM YERUSALEM BARU

SEBAGAI PERAMPUNGAN EKSPRESI KORPORAT

DI DALAM CIPTAAN BARU

Tahap akhir dari manifestasi Allah akan ternyata dalam Yerusalem Baru sebagai perampungan ekspresi korporat dalam ciptaan Baru. Wahyu 21:1-3 berkata, "Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari surga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari takhta itu berkata: Lihatlah, tabernakel Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka." Dalam kekekalan lampau, Allah bermaksud untuk memiliki ekspresi yang korporat sehingga Ia dapat sepenuhnya diekspresikan dan dimuliakan (Ef. 3:9-11; 1:9-11). Untuk ini, Ia menciptakan langit, bumi, dan umat manusia. Akhirnya, langit lama dan bumi lama akan dihanguskan dan diperbarui menjadi langit baru dan bumi baru (2 Ptr. 3:10-13), di dalam langit baru dan bumi baru itulah Yerusalem Baru akan datang untuk ekapresi kekal Allah.

1. Kota Kudus

Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru akan menjadi kota kudus, "Kota Allah (kota kudus—Tl.) yang hidup, Yerusalem Surgawi" (Ibr. 12:22). Sebutan "kota Allah (kota kudus)" menandakan bahwa Yerusalem Baru adalah kota yang dikuduskan dan dipisahkan bagi Allah untuk menggenapkan tujuan-Nya. Secara kedudukan, Yerusalem Baru dikuduskan dan dipisahkan bagi Allah; secara watak, Yerusalem Baru dikuduskan dan dijenuhi oleh Allah. Yerusalem Baru itu kudus secara luaran dan secara hakiki. Yerusalem Baru itu adalah suatu entitas yang seluruhnya dan sepenuhnya kudus, yang cocok dengan dengan sifat kudus Allah untuk ekspresi Allah agar dapat memenuhi hasrat hati-Nya.

Hari ini gereja, sebagai manifestasi Allah dalam daging, adalah rumah Allah, sedangkan dalam langit baru dan bumi baru, Yerusalem Baru, sebagai manifestasi Allah dalam ciptaan baru, akan menjadi kota Allah. Kota lebih besar daripada rumah, melambangkan bahwa Yerusalem Baru, sebagai manifestasi Allah dalam ciptaan baru-Nya, akan menjadi perbesaran dan perampungan gereja untuk mengekspresikan Allah dalam kekekalan.

Yerusalem lama adalah pusat dan ibu kota kerajaan Allah dalam negara Israel, sedangkan Yerusalem Baru akan menjadi pusat administratif kerajaan kekal Allah dalam alam semesta yang baru bagi manifestasi Allah di zaman yang akan datang.

Pada permulaan Alkitab, dalam ciptaan lama Allah, ada sebuah taman, taman Eden (Kej. 2:8). Pada akhir Alkitab, dalam ciptaan baru Allah, ada sebuah kota, kota Yerusalem Baru. Taman dan kota sebagai dua ujung Alkitab itu saling memantulkan dan pohon hayat yang ada baik di dalam taman maupun di dalam kota sebagai penghubungnya (Kej. 2:9; Why. 22:2). Taman adalah hasil ciptaan Allah; sedangkan kota akan menjadi perampungan bangunan Allah, suatu bangunan yang telah dilaksanakan oleh Allah dari zaman ke zaman: zaman bapa-bapa leluhur, zaman hukum Taurat, zaman kasih karunia, dan zaman kerajaan dari ciptaan lama. Dari ciptaan lama di sepanjang zaman itu, Allah telah melakukan pekerjaan pembangunan dengan cara kelahiran kembali dan kebangkitan. Hasil akhir dan perampungan akhir dari pekerjaan pembangunan ini akan menjadi Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru sebagai manifestasi Allah dalam ciptaan baru-Nya sampai kekal. Ini bukanlah penciptaan yang dilakukan oleh kuasa ilahi Allah, yaitu dengan menjadikan sesuatu yang tidak ada menjadi ada; tetapi itu adalah bangunan dengan hayat ilahi Allah melalui melahirkan kembali segala yang ada dengan hayat kebangkitan agar mereka menjadi satu dengan Allah dalam hayat dan sifat ilahi-Nya untuk ekspresi-Nya.

2. Mempelai Perempuan Anak Domba

dan Tabernakel Allah

Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru adalah mempelai perempuan, istri (Why. 21:9) dari Anak Domba Kristus sebagai pasangan-Nya (Yoh. 3:29) dan tabernakel Allah sebagai tempat kediaman-Nya (Why. 21:3). Kristus dan Allah adalah Satu. Mereka adalah satu Allah, tetapi tritunggal. Dan tabernakel adalah satu entitas yang

memiliki dua aspek untuk memenuhi keperluan yang berbeda dari Allah Tritunggal. Bagi Kristus, Anak Domba, Penebus, Yerusalem Baru adalah mempelai perempuan-Nya, sebagai pasangan-Nya untuk kepuasan-Nya. Bagi Allah, sang Pemula, sang Pencipta, Yerusalem Baru adalah tabernakel-Nya sebagai tempat kediaman-Nya untuk perhentian-Nya. Sebagai mempelai Anak Domba, Yerusalem Baru berasal dari Kristus, suami-Nya, dan menjadi pasangan-Nya, sama seperti Hawa yang berasal dari Adam, suaminya, dan menjadi pasangannya (Kej. 2:21-24). Ia dipersiapkan melalui berpartisipasi dalam kekayaan hayat dan sifat Kristus sang Anak Domba. Sebagai tabernakel Allah. Yerusalem Baru dibangun oleh Allah dengan apa adanya Dia. Ia sepenuhnya tersusun oleh sifat Allah untuk menjadi tempat kediaman-Nya.

Baik dalam Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru, Allah mengumpamakan umat pilihan-Nya sebagai pasangan-Nya (Yes. 54:6; Yer 3:1; Yeh. 16:8; Hos. 2:19; 2 Kor. 11:2; Ef. 5:31-32) dan tempat kediaman bagi diri-Nya (Kel. 29:45-46; Bil. 5:3; Yeh. 43:7-9; Mzm. 68:19; 1 Kor. 3:16-17: 6:19; 2 Kor. 6:16; 1 Tim 3:15). Pasangan ini adalah untuk kepuasan kasih-Nya, dan tempat kediaman adalah untuk ekspresi perhentian-Nya. Kedua aspek itu pada akhirnya akan rampung dalam Yerusalem Baru. Dalam Yerusalem Baru, Allah akan memiliki kepuasan penuh dalam kasih dan perhentian puncak dalam ekspresi sampai kekal.

3. Komponennya

Wahyu 21:12 berkata bahwa pada kedua belas pintu gerbang Yerusalem Baru ada nama-nama kedua belas suku Israel dan Wahyu 21:14 memberi tahu kita bahwa pada kedua belas batu fondasi Yerusalem Baru tertulis nama dari kedua belas rasul Anak Domba itu. Kedua belas suku mewakili orang-orang kudus Perjanjian Lama dan kedua belas rasul mewakili orang-orang kudus Perjanjian Baru. Ini menunjukkan bahwa semua orang kudus, baik dalam Perjanjian lama maupun dalam Perjanjian Baru, adalah komponen, unsur pokok, dari Yerusalem Baru bagi ekspresi Allah. Semua orang kudus adalah anak-anak Allah yang telah dilahirkan kembali dan ditransformasi. Mereka adalah anak-anak Allah yang dibicarakan dalam kitab Wahyu 21:7, memiliki hayat dan sifat Allah, berbeda dengan umat yang dibicarakan dalam Wahyu 21:3, mereka adalah bangsa-bangsa di sekeliling Yerusalem Baru dalam Wahyu 21:24 dan 22:2. Yerusalem Baru dalam langit baru dan bumi baru akan menjadi kumpulan semua anak Allah yang telah ditebus, dilahirkan kembali, dikuduskan, ditransformasi, dan dimuliakan untuk pembangunan Yerusalem Baru sebagai perampungan manifestasi Allah sampai kekal.

4. Dasarnya

Wahyu 21:18 berkata, "Kota itu sendiri dari emas tulen, bagaikan kaca murni", dan Wahyu 21:21 mengatakan, "jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening." Karena jalan kota itu adalah emas, emas pasti adalah dasar kota tersebut, yang di atasnya adalah jalan. Dalam perlambangan, emas menandakan Allah dalam sifat ilahi-Nya. Sifat ilahi Allah adalah dasar kota itu. Ini mengindikasikan bahwa Yerusalem Baru sepenuhnya tersusun dari sifat Allah, murni dan bening seperti kaca yang murni dan bening tanpa campuran apa pun, yang dengannya tidak ada suatu pun yang dapat ditutupi. Ini memberi Allah ekspresi murni dan bening untuk perampungan manifestasi-Nya dalam Yerusalem Baru.

5. Pintu-pintu Gerbangnya

Wahyu 21:13 dan 21 memberi tahu kita bahwa Yerusalem Baru, "di sebelah Timur terdapat tiga pintu gerbang dan di sebelah Utara tiga pintu gerbang, dan di sebelah Selatan tiga pintu gerbang, dan di sebelah Barat tiga pintu gerbang.... Dan kedua belas pintu gerbang itu adalah dua belas mutiara: setiap pintu gerbang terdiri dari satu mutiara." Mutiara melambangkan Kristus beserta kematian-Nya yang melepaskan hayat dan kebangkitan-Nya yang mengalirkan hayat yang membuat orang-orang berdosa dilahirkan kembali dengan hayat ilahi-Nya sehingga mereka dapat menjadi bagian dari Yerusalem Baru sebagai jalan masuknya. Jalan masuk ini mendatangkan perbauran (dilambangkan oleh angka dua belas) antara Allah Tritunggal (dilambangkan oleh angka tiga) dengan manusia ciptaan (dilambangkan oleh angka empat, dinyatakan dalam empat kali tiga pintu gerbang) untuk manifestasi Allah Tritunggal.

6. Dindingnya dan Fondasi dari Dindingnya

Wahyu 21:18-20 memberi tahu kita bahwa bahan bangunan dindingnya adalah yaspis dan fondasi dari dinding kota itu dihiasi dengan dua belas batu permata, yang pertama-tama juga adalah permata yaspis. Yaspis, yang memiliki warna hijau gelap, adalah lambang dari menjadi kaya dalam hayat, melambangkan penampilan Allah yang kaya dalam hayat. Ini mengindikasikan bahwa Yerusalem Baru dibangun dari semua orang kudus yang telah ditebus, dan yang telah ditransformasi menjadi batu-batu permata (1 Kor. 3:12; 1 Ptr. 2:2-5), kategori utamanya adalah yaspis, mengandung penampilan Allah mereka yang kaya akan hayat, dan bersinar dengan cahaya seperti permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis, jernih seperti kristal, untuk ekspresi dari Allah yang mentransformasi dalam manifestasi-Nya, dalam ciptaan baru, sampai kekal.

Transformasi orang-orang kudus, dari diri alamiah mereka menjadi batu-batu permata, yang melambangkan kekayaan Kristus dalam berbagai kemegahannya dan yang memiliki kekayaan penampilan hayat Allah, dikerjakan oleh Roh itu. Yerusalem Baru tersusun dari tiga kategori bahan berharga: emas, melambangkan Allah dalam sifat ilahi-Nya; mutiara, melambangkan Kristus dalam kematian-Nya yang melepaskan hayat dan kebangkitan-Nya yang mengalirkan hayat; dan batu-batu permata, melambangkan Roh itu dalam pekerjaan tranformasi-Nya. Allah terejawantah di dalam Kristus (Kol. 2:9), dan Kristus dinyatakan sebagai Roh itu (Yoh. 14:16-20). Ketiganya adalah satu, terutama dalam pengalaman hayat kaum beriman. Sifat Allah adalah hayat ilahi-Nya yaitu hayat Kristus yang dilepaskan melalui kematian-Nya dan dialirkan dalam kebangkitan-Nya ke dalam kaum beriman-Nya. Dengan hayat ini, Roh itu mentransformasi kaum beriman, menjadikan mereka bahan-bahan berharga untuk pembangunan Yerusalem Baru guna mengekspresikan Allah Tritunggal yang telah melalui proses dalam apa adanya Mereka dalam ke-Allahan dan apa yang telah dikerjakan-Nya, dalam manifestasi-Nya yang menakjubkan dalam zaman akan datang dalam kekekalan.

7. Baitnya

Dalam Wahyu 21:22, Rasul Yohanes memberi tahu kita bahwa ia tidak melihat bait suci dalam Yerusalem Baru, karena baitnya adalah Tuhan Allah yang Mahakuasa dan Anak Domba itu. Karena Allah dan Anak Domba adalah baitnya, mereka tidak dapat berdiam di dalamnya, dan bait itu bukan tempat kediamannya. Bait itu adalah tempat kediaman semua orang kudus yang ditebus yang melayani Allah Tritunggal melalui berhuni di dalam-Nya. Di satu pihak, Yerusalem Baru, yang terdiri dari semua orang kudus yang tertebus sebagai tempat kediaman Allah adalah tabernakel; di lain pihak, Yerusalem Baru, yang tersusun dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses, sebagai tempat kediaman semua orang kudus yang tertebus, adalah baitnya. Jadi, Yerusalem Baru adalah tempat saling huni antara Allah yang menebus dengan umat tebusan-Nya. Ia adalah tabernakel sekaligus bait; tabernakel adalah umat tebusan dan bait adalah Allah yang menebus. Ini mengindikasikan dengan kuat bahwa Allah yang menebus berbaur dengan umat tebusan-Nya melalui proses-proses yang telah dilalui-Nya dan prosedur yang telah mereka alami untuk ekspresi-Nya dalam manifestasi kekal-Nya.

8. Kemuliaannya dan Cahayanya

Wahyu 21:11 dan 23 memberi tahu kita bahwa Yerusalem Baru memiliki kemuliaan Allah dan cahayanya seperti batu yang paling berharga, seperti permata yaspis, bening seperti kristal. Yerusalem Baru tidak memerlukan matahari atau bulan untuk menyinarinya, karena kemuliaan Allah meneranginya dan lampunya adalah Anak Domba itu, kemuliaan Allah, yaitu Allah yang terekspresi, menerangi Yerusalem Baru. Jadi kemuliaan Allah, dengan Allah sebagai substansi, esens, dan elemennya; adalah cahaya Yerusalem Baru, yang bersinar dalam Anak Domba itu sebagai lampunya. Ekspresi kemuliaan Allah atau Allah yang mulia diekspresikan, adalah terang yang bersinar di dalam Kristus sebagai lampunya melalui dinding permata yaspis Yerusalem Baru yang seperti permata yaspis yang paling berharga, yang memiliki penampilan Allah yang kaya dalam hayat. Penampilan Allah yang kaya dalam hayat beserta cahayanya adalah untuk ekspresi Allah dalam manifestasinya yang akhir dan rampung.

9. Takhtanya

Wahyu 22:1 dan 3 memberi tahu kita bahwa takhta Allah dan Anak Domba berada di Yerusalem Baru dan bahwa sebuah sungai air hayat mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba itu. Menurut konteks bagian Firman ini, takhta Allah dan Anak Domba adalah pusat dari Yerusalem Baru yang di atasnya Allah yang menebus, seperti yang ditunjukkan oleh ekspresi "Allah dan Anak Domba", melaksanakan administrasi-Nya, berdasarkan penebusan-Nya, dalam kerajaan kekal-Nya dalam langit baru dan bumi baru, untuk menjaga segala sesuatu dalam alam semesta teratur sesuai dengan tujuan untuk ekspresi-Nya dalam manifestasi kekal-Nya. Inilah tujuan penebusan-Nya.

10. Jalannya

Wahyu 21:21 mengatakan, "Jalan-jalan kota itu dari emas murni bagaikan kaca bening", dan Wahyu 22:1 berkata bahwa sebuah sungai air hayat, jernih bagaikan kristal, mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba di tengah-tengah jalan kota itu. Jalan menunjukkan jalur, dan jalan yang adalah emas murni itu menunjukkan bahwa sifat Allah adalah jalur dalam Yerusalem Baru. Segala sesuatu dalam Yerusalem Baru yang tersusun dari sifat Allah adalah menurut sifat ilahi dan cocok dengannya. Jadi sungai air hayat, yang adalah Roh itu sebagai perampungan Allah Tritunggal, mengalir keluar di tengah-tengah jalan itu dan jernih seperti kristal, tanpa keburaman dan kegelapan.

Karena hanya ada satu jalan yang keluar dari takhta itu untuk mencapai kedua belas pintu gerbang kota itu, maka jalan itu pasti berputar melalui seluruh kota. Dengan cara inilah jalan yang satu itu, yaitu jalan yang mengalir keluar dari satu takhta itu, dapat mencapai dan menjalani kedua belas pintu gerbang, hal ini menunjukkan bahwa keesaan yang sejati dipertahankan dalam kota kudus. Umat tebusan masuk ke dalam kota melalui kedua belas pintu gerbang dari keempat penjuru, tetapi mereka semua dikumpulkan ke dalam satu jalan yang sesuai dengan sifat Allah dan cocok dengannya.

11. Suplainya

Wahyu 22:1-2 berkata, "Sungai air kehidupan, yang jernih bagaikan kristal, dan mengalir keluar dari takhta Allah dan Anak Domba itu. Di tengah-tengah jalan kota itu, yaitu di seberang menyeberang sungai itu, ada pohon-pohon kehidupan yang berbuah dua belas kali, tiap-tiap bulan sekali." Sungai air hayat mengalir ke luar dari taktha Allah dan Anak Domba, menandakan Roh itu sebagai perampungan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses, mengalir keluar dari Allah dan Anak Domba. Dalam aliran sungai itu ada air hayat dengan pohon hayat sebagai pohon anggur di seberang menyeberang kedua sisi sungai itu. Air hayat melambangkan Roh hayat (Rm. 8:2) sebagai minuman rohani (Why. 21:6), dan pohon hayat melambangkan Kristus sebagai makanan rohani (Why. 22:14) untuk menyuplai seluruh Yerusalem Baru, yang terdiri dari semua orang kudus, anak-anak Allah, agar mereka dapat dirawat dan dipertahankan keberadaannya untuk selamanya. Suplai dengan roh itu sebagai minuman rohani dan Kristus sebagai makanan rohani yang sedemikian dimulai dalam manifestasi Allah secara individu dalam Yohanes 7:33-39 dan 6:35, 51. Suplai ini mengindikasikan bahwa Allah Tritunggal yang telah melalui proses adalah suplai dari Yerusalem Baru, dan bahwa suplai ini adalah dispensi dari Allah yang menebus ke dalam umat tebusan-Nya untuk ekspresi-Nya dalam manifestasi kekal-Nya.

Sungai air hayat dengan pohon hayat yang tumbuh di dalamnya keluar dari takhta administrasi Allah dan mengalir di tengah-tengah jalan emas itu. Ini mengindikasikan bahwa suplai ilahi untuk Yerusalem Baru berkaitan dengan otoritas (takhta) dan sifat (emas) Allah. Terlepas dari otoritas Allah dan sifat Allah, maka tidak mungkin bagi Allah untuk memiliki ekspresi dalam manifestasi-Nya.

12. Perbauran antara Allah dengan Manusia

Menurut makna intrinsik dari semua butir di atas, Yerusalem Baru benar-benar adalah perbauran yang menakjubkan dari Allah Tritunggal yang telah melalui proses dengan manusia tripartit yang telah dipilih, ditebus, dilahirkan kembali, dikuduskan, ditransformasi, diserupakan, dibangun, dan dimuliakan untuk ekspresi-Nya yang tertinggi dan mulia dalam perampungan manifestasi-Nya sampai kekal, dalam ciptaan baru dari kebangkitan, tidak lagi dalam daging alamiah, sebagai manifestasi-Nya secara individu dalam Kristus dan manifestasi-Nya secara korporat di masa lalu.