← Daftar isi Stabil Tidak Subyektif terhadap Uang Beberapa Perkara Lain · bab 9/10

TERHADAP UANG

Bagaimana seharusnya sikap seorang pekerja Kristen, pelayan Allah, terhadap uang? Pertanyaan ini sangat serius dan seandainya seorang pekerja tidak memiliki penanggulangan yang tuntas dalam perkara ini, dia tidak dapat bekerja bagi Tuhan. Kalau seorang pekerja memiliki persoalan dengan uang, dia tidak dapat melangkah lebih jauh. Seorang pekerja sering berada dalam peristiwa yang berhubungan dengan uang. Oleh karena itu apa yang dibahas di sini adalah hal yang sangat mendasar.

Mamon bertentangan dengan Allah dan kita sudah seharusnya menolak pengaruhnya. Ini adalah pandangan orang Kristen yang tepat terhadap uang. Kita harus waspada jangan sampai kita berada di bawah kuasanya. Tidak satupun pekerja yang sudah dibelenggu oleh kekuatan mamon dapat menganjurkan orang lain untuk bebas dari kuasa mamon. Ini mustahil. Kalau kita dibelenggu dan dikendalikan oleh mamon maka mustahil kita bisa membantu saudara saudari bebas dari kendali dan belenggunya. Seorang pekerja seharusnya membenci kemalasan dan seharusnya juga jijik akan kuasa mamon. Kalau tidak, ia tidak akan berguna di dalam pekerjaan Allah. Uang adalah masalah besar. Marilah kita meninjau beberapa masalah yang berhubungan dengan uang.

SATU

Pertama-tama, mari kita perhatikan hubungan antara uang dengan jalan dan ajaran seorang pekerja. Dalam Perjanjian Lama, ada sejarah tentang Bileam, dan di dalam Perjanjian Baru ada jalan dan ajaran Bileam. Bileam disebut dalam 2 Petrus, Yudas, dan Wahyu. Ini menunjukkan kepada kita betapa besarnya perhatian Allah kepada Bileam. Bileam adalah seorang yang bekerja demi keuntungan. Dengan kata lain, dia mengkomersilkan ministrinya sebagai nabi. Dia tidak mengabaikan posisinya. Dia sepenuhnya menyadari hal ini. Dia juga tdak mengabaikan kehendak Allah. Ketika Balak, raja Moab, berketetapan untuk menghancurkan umat Allah, Bileam sepenuhnya sadar bahwa umat Allah tidak boleh dikutuk; dia tahu bahwa mereka adalah umat yang diberkati Yehova. Tetapi karena dia menginginkan janji Balak, yaitu janji untuk memuaskan seluruh keinginannya, maka dia pergi kepada Allah berkali-kali untuk meminta izin. Akhirnya, Allah memberikan izin kepadanya. Banyak orang yang berpikir keliru bahwa potongan peristiwa ini adalah sebuah contoh dari menantikan Allah. Nyatanya, Bileam tidak akan pernah memohon kepada Allah kalau bukan karena janji Balak. Dia memahami sepenuhnya bahwa perjalanannya tidak sesuai dengan Tuhan. Maksud Allah adalah memberkati dan memberikan perhatian yang penuh kasih karunia. Maksud-Nya bukan mengutuk. Namun Bileam memohon kepada Allah berkali-kali karena ia telah menerima janji Balak. Kemudian Allah menyuruhnya pergi. Namun sebenarnya ini bukanlah kehendak Allah, melainkan semata-mata atas izin Allah. Bagi Allah, jika penawaran Balak dapat melahirkan begitu banyak doa dari Bileam, Ia tinggal menyuruh Bileam pergi saja. Tidak diragukan lagi bahwa Bileam adalah seorang nabi, tetapi ia membiarkan uang mempengaruhi jalannya dan membuatnya berjalan menyimpang.

Setiap pekerja Kristen yang masih belum menyelesaikan masalah uang di dalam dirinya dan masih terbelenggu oleh kuasa uang pasti menghubungkan lapangan pekerjaannya dengan uang. Ketika ia harus memutuskan di mana ia akan bekerja, keputusannya akan selalu dipengaruhi oleh tunjangan keuangan. Ia akan pergi jika di sana ada tunjangan keuangan. Tunjangannya menjadi penuntunnya. Kalau ia hanya pergi ke tempat yang ada tunjangannya, ia pasti tidak akan pergi ke tempat yang miskin, atau kalaupun ia pergi, ia akan meninggalkan tempat tersebut dalam waktu singkat. Kalau tempat lain kaya akan tunjangan, dengan spontan ia akan tertarik pada tunjangan mereka, dan ia akan berpikir bahwa Allah memimpin dia ke sana. Beberapa doa dan tuntunan timbul dari tunjangan keuangan. Tunjangan ini menjadi pusat perhatiannya. Keuntungan dan uang menggiring Bileam mengusik Allah terus-menerus. Ia terus mengusik Allah tentang apakah ia boleh pergi atau tidak. Sepuluh tahun yang lalu, seorang saudara dengan penuh penyesalan berkata, "Lihat betapa banyaknya pelayan Allah yang mengejar uang! Betapa banyaknya tempat miskin yang kekurangan perhatian, namun juga banyak pekerja yang sering mengunjungi tempat besar yang sudah dipenuhi orang. Apakah suatu tuntunan yang mereka terima itu salah? Ini adalah perkataan yang keras. Kalau seorang saudara belum menanggulangi masalah keuangan, tidak mengejutkan lagi jika langkah-langkah kakinya tanpa ragu akan mengikuti jejak Bileam. Jalannya akan ditentukan oleh jumlah tunjangannya. Jumlah tunjangannya akan menjadi arah jalan hidupnya. Kalau suatu tempat miskin, ia tidak akan mengunjunginya, atau jarang mengunjunginya. Kalaupun ia mengunjunginya, ia akan cepat-cepat meninggalkannya. Kalau suatu tempat kaya akan tunjangan, ia akan lebih sering berkunjung atau tinggal di sana secara permanen. Uang akan menjadi sumber tuntunannya. Terhadap orang-orang yang demikian Allah hanya dapat berkata, "Pergilah sesuka hatimu." Seorang pekerja yang tidak bebas dari pengaruh uang tidak berguna. Kalau seorang pekerja tidak dapat bermegah seperti halnya Paulus bermegah dalam hal keuangan, maka ia tidak berguna. Kalau seorang pekerja tidak dapat bebas dari uang dan pengaruhnya, ia tidak dapat menjadi minister Allah; jalannya pasti jalan Bileam. Beberapa orang mudah tersentuh oleh uang, jalannya mudah dipengaruhi uang. Hasilnya, jalan mereka adalah jalan Bileam. Jalan Bileam sebenarnya adalah jalan yang didikte oleh uang. Semoga Allah bermurah hati kepada kita supaya kita semua dibebaskan dari uang. Kita tidak berharap seorangpun di antara kita menjadi pengemis. Semoga tempat kita bekerja tidak menjadi tempat kita mengemis. Kalau itu terjadi, kita akan menjadi budak uang. Sungguh kasihan dan memalukan jika seorang pelayan Allah dituntun dan dikendalikan oleh uang. Sungguh memalukan bila ada yang mencari tuntunan-Nya bukan dengan bertelungkup di bawah kaki-Nya melainkan melalui mengikuti uang! Kalau seseorang tidak sepenuhnya dibebaskan dari uang, ia mungkin berada dalam belenggu uang yang serius ketika ia berkata bahwa ia berada dalam pimpinan Allah. Ini sungguh memalukan! Tentu saja, masalah uang adalah masalah yang sangat dangkal. Kalau Allah yang kita percayai adalah Allah yang hidup, kita seharusnya dapat pergi ke manapun. Namun kalau Dia tidak hidup, kita mungkin akan segera mundur dan tidak melakukan apapun. Sungguh suatu hal yang memalukan untuk memberitakan Allah yang hidup namun kita dikendalikan oleh uang. Sungguh memalukan.

Di dalam Perjanjian Baru, Petrus membicarakan jalan Bileam. Ia menunjukkan kepada kita apa yang disebut "Maka mereka penuh nafsu zinah dan mereka tidak pernah jemu berbuat dosa. Mereka memikat orang-orang yang lemah. Hati mereka telah terlatih dalam keserakahan. Mereka adalah orang-orang yang terkutuk" (2 Ptr. 2:14). Penekanannya di sini adalah perkara ketamakan yang telah menjadi suatu kebiasaan. Ketamakan adalah masalah hati, namun dapat menjadi suatu kebiasaan. Ketika seseorang dikuasai oleh ketamakan sekali, dua kali atau sering kali, ketamakannya akan menjadi kebiasaannya. "Oleh karena mereka telah meninggalkan jalan yang benar, maka tersesatlah mereka, lalu mengikuti jalan Bileam, anak Beor yang suka menerima upah untuk perbuatan-perbuatan yang jahat" (ay. 15). Apa yang terjadi ketika seseorang jatuh ke dalam kebiasaan yang tamak? Ia meninggalkan jalan yang benar, tersesat, dan mengikuti jejak Bileam, anak Beor! Saudara saudari, Allah telah menyiapkan "jalan yang benar" untuk kita. Jalan mana yang harus kita tempuh? Beberapa orang telah meninggalkan jalan yang benar, tersesat, dan mengikuti jejak Bileam. Apakah "jalan Bileam"? Ia adalah seorang nabi yang mencintai upah ketidakbenaran. Ini dengan jelas menunjukkan kepada kita jalan Bileam adalah jalan yang melibatkan penjualan ministrinya sebagai seorang nabi demi mendapatkan keuntungan. Namun Injil bukan untuk dijual, dan ministri sebagai nabi bukan untuk dijual. Kita tidak dapat menjual Injil Allah ataupun ministri para nabi. Namun di sini ada seseorang yang menjual ministrinya sebagai nabi. Jalannya salah. Hatinya dipenuhi dengan ketamakan. Inilah sebabnya ia tersesat begitu pencobaan datang. Bileam tidak menerima tawaran Balak sebagai hasil buah pikiran akan ketamakan; ini adalah hasil dari kebiasaan tamak. Saudara saudari, sudahkah Anda melihat pola ini? Ini adalah kebiasaan. Inilah alasannya mengapa ia tersesat begitu Balak menawarkan uang kepadanya. Jika kuasa mamon tidak dikikis dari kita, kaki kita akan segera berlari mengejarnya begitu kailnya menggelantung di hadapan kita, dan kita akan mengorbankan kegunaan kita. Kalau kita ingin berlari pada jalur yang benar, kita harus dengan mutlak menyangkal mamon. Kalau tidak, secara luaran kita mungkin sedang mencari pimpinan, berdoa untuk tuntunan, dan kehendak Allah sedangkan kaki kita masih tetap berada di jalan yang salah. Bileam berdoa, mencari kehendak Allah dan menantikan Allah. Namun dia masih mengambil jalan yang salah. Ingatlah selama uang menduduki hati kita dan ketamakan menjadi kebiasaan, kita dapat mendoakan semua yang kita kehendaki supaya Allah menghentikan kita untuk pergi ke suatu tempat; tetapi pada akhirnya uang menggerakkan langkah kita. Kita tidak akan mampu berlari di jalur yang lurus.

Yudas juga membicarakan Bileam. Ayat 11 berkata, "Karena mereka oleh sebab upah, terburu-buru menceburkan diri ke dalam kesesatan Bileam." Perkataan ini sangat keras. Beberapa orang telah terburu-buru untuk upah. Terburu-buru berarti berlari dengan cepat, kencang, tergesa-gesa. Beberapa orang telah terburu-buru dalam kesalahan Bileam. Anak-anak Allah harus sepenuhnya dibebaskan dari daya tarik upah. Kalau tidak, mereka tidak memiliki pilihan selain salah jalan. Sebagai tambahan referensi tentang Bileam, 2 Petrus 2:3 melukiskan suatu kondisi, "Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan cerita-cerita isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda." 2 Petrus 2 membahas tentang nabi-nabi palsu. Apa yang dilakukan oleh para nabi palsu? Dalam ketamakan, mereka menyampaikan cerita isapan jempol kepada umat yang percaya. Mereka tamak dan mencari keuntungan. Maka, mereka bercerita dusta. Kalau jalan seseorang diarahkan oleh uang, cepat atau lambat ajarannya juga akan diarahkan oleh uang. Kita dapat yakin akan hal ini. Orang seperti ini akan berkata suatu hal kepada orang miskin dan hal yang lain lagi kepada orang kaya. Ia akan berkata kepada orang miskin satu macam tuntutan Tuhan, dan ketika orang-orang kaya mengitarinya, ia akan mengatakan tuntutan Tuhan yang berbeda kepada mereka. Perkataannya dipengaruhi oleh hasratnya akan keuntungan. Dengan kata lain, ajarannya terarah ke mana uang berada. Firman Allah jujur dan kuat. Kita takut bahwa beberapa orang sudah mengejar contoh nabi dan guru-guru palsu. Kalau tindakan seseorang digoyahkan dan dibelokkan oleh kuasa uang, orang ini ialah nabi palsu dan guru palsu. Tidak ada nabi, instruktur, atau pengajar yang adalah pelayan Allah yang dapat diombang-ambingkan oleh kuasa uang. Kalau seseorang dapat dibeli oleh uang, kalau ia dapat dipengaruhi oleh uang, dan kalau uang dapat mengubah arah tujuannya, ia seharusnya mentupi dirinya dengan debu dan mengakui bahwa ia adalah nabi palsu dan guru palsu. Dia adalah pelayan palsu, bukan pelayan Allah yang murni. Ini sangat serius. Kita harus sepenuhya dibebaskan dari mamon. Mereka yang dikendalikan oleh uang dalam jalan mereka dan dalam perkataan mereka harus ditebus dari pekerjaan Allah.

Petrus dan Yudas bukan satu-sarunya orang yang membicarakan hal ini. Paulus mengatakan hal yang sama kepada Timotius ketika dia menekankan ancaman bahaya yang sama. Satu Timotius 6:3 mengatakan, "Jika seorang mengajarkan ajaran lain dan tidak menurut perkataan sehat, yakni perkataan Tuhan kita Yesus Kristus, yang tidak menurut ajaran yang sesuai dengan ibadah kita." Apakah makna menjadi orang yang mengajarkan ajaran lain, yang mengajarkan yang aneh, dan yang tidak menurut ajaran Tuhan kita Yesus Kristus? Ayat 4 dan 5 berkata, "Ia adalah seorang yang berlagak tahu padahal tidak tahu apa-apa. Penyakitnya ialah mencari-cari soal dan bersilat kata, dan menyebabkan dengki, cidera, fitnah, curiga, percekcokan antara orang-orang yang tidak lagi berpikiran sehat dan yang kehilangan kebenaran, yang mengira ibadah itu adalah suatu sumber keuntungan." Ada suatu hal yang menarik untuk diperhatikan, bahwa dalam sejarah gereja, semua yang sesat, yang mengajarkan ajaran lain, mengambil ibadah, sebagai sarana untuk mencapai tujuan. Tidak ada seorangpun dari mereka yang mengeluarkan harga sebanyak Paulus. Mereka menghitung berapa banyak yang dapat mereka peroleh dari apa yang mereka tanamkan. Semoga di antara kita tidak ada yang mencoba mendapatkan sesuatu dari siapapun melalui Injil! Tidak ada hal lain yang lebih dikecam Allah selain mengejar keuntungan melalui ibadah. Tidak ada yang lebih mendasar daripada terlibat dalan pekerjaan kekristenan dan menjadikannya sebagai sumber keuntungan. Hal ini adalah yang paling dibenci. Menggunakan ibadah sebagai sarana memperoleh keuntungan adalah paling dibenci. Setiap pekerja harus sepenuhnya bebas dari segala pemikiran akan keuntungan agar ia dapat mengikatkan dirinya dalam pekerjaan. Saudara saudari, jika Anda ingin bekerja bagi Tuhan, pikiran Anda harus sepenuhnya bebas dari pengaruh uang. Maut dan kelaparan seharusnya lebih disukai daripada bekerja demi keuntungan. Setiap pekerja Tuhan harus sangat kuat dalam masalah ini. Kalau seorang mengiming-imingi kita untuk berkompromi dalam masalah ini, kita tidak boleh memberinya tempat seinci pun. Kita harus mengikuti Tuhan dengan mutlak. Saudara saudari, kita dapat menjual pakaian dan kepunyaaan kita, tetapi kita tidak boleh menjual kebenaran dan ibadah kita. Kalau kita tidak mati terhadap mamon dan pikiran kita sepenuhnya bebas dari hal ini, lebih baik jangan menjamah pekerjaan Tuhan sama sekali. Ayat 6 berkata, "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." Di sinilah letak keuntungan yang sejati: Di mana ada ibadah, itu ada rasa cukup. Ketika kita ada ibadah, kita tidak meminta yang lain lagi, kita tidak mengharapkan yang lain, dan kita puas dengan apa yang kita miliki. Ini adalah keuntungan, keuntungan besar. Suatu ibadah menjadi memalukan jika ia menjadi sarana mencapai keuntungan. Tetapi ibadah dengan rasa cukup adalah keuntungan yang besar. Khususnya ayat 7 sampai 10 sangat penting bagi pekerja, "Sebab kita tidak membawa sesuatu apa dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa keluar. Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah. Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan. Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." Saudara saudari, kita tidak boleh menjadikan ibadah sebagai sarana mencari keuntungan. Kita harus sepenuhnya bebas dari pengaruh uang. Kalau kita memiliki masalah dalam mengatasi hal ini, lebih baik carilah profesi lain. Kita tidak boleh jatuh sedemikian rupa sampai mengharapkan uang dalam perkataan dan pekerjaan kita. Sebaiknya ambillah profesi lain dan layanilah Tuhan dengan cara itu. Tidak ada salahnya melayani Tuhan dengan profesi lain. Tidak ada seorangpun boleh ceroboh dalam masalah uang, dan tidak ada seorangpun yang boleh memalukan nama Tuhan melalui uang. Seorang pekerja harus bersih dari uang, hatinya harus sepenuhnya keluar dari ini. Ia harus mutlak karena Firman. Allah menghakimi dengan sangat keras setiap ketidakbersihan terhadap uang.

Yudas 16 berkata, "Mereka itu orang-orang yang menggerutu dan mengeluh tentang nasibnya, hidup menuruti hawa nafsunya, tetapi mulut mereka mengeluarkan perkataan-perkataan yang bukan-bukan dan mereka menjlat orang untuk mendapatkan keuntungan." Banyak orang membicarakan perkara-perkara secara berlebihan. Mereka membanggakan berapa kali doa mereka dijawab dan berapa kali mereka melakukan mujizat yang mengherankan dan berbagai keajaiban. Mereka mengatakan hal-hal ini untuk mendapat keuntungan. Banyak orang mengatakan apa yang suka didengarkan orang lain untuk merayu mereka demi mengambil keuntungan. Kita harus menanggulangi segala motivasi yang dikemudikan oleh perkara untuk memperoleh keuntungan. Ini adalah karakter dasar dari pekerja Tuhan. Seorang yang berkompromi dalam masalah uang akan berkompromi dalam segala hal. Terhadap uang kita harus tegas, sangat tegas dan tidak boleh membiarkan kompromi apapun. Sebagai pekerja-pekerja Tuhan, kita harus mutlak bersih dalam perkara uang.

DUA

Mari kita lihat bagaimana Tuhan Yesus melatih murid-murid-Nya. Lukas 9 mencatat Ia mengutus kedua belas murid-Nya dan pasal sepuluh mencatat Ia mengutus ketujuh puluh orang. Dalam mengutus kedua belas orang, Tuhan berkata, "Jangan membawa apa-apa dalam perjalanan, jangan membawa tongkat atau bekal, roti atau uang, atau dua helai baju" (9:3). Tuhan memberi tahu mereka untuk meninggalkan banyak hal. Ketika Ia memberikan amanat kepada tujuh puluh orang, Ia berkata, "Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan jannganlah memberi salam kepada siapapun selama dalam perjalanan" (10:4). Hal yang sama dalam kedua kasus ini adalah uang. Dengan kata lain, uang seharusnya tidak menjadi masalah bagi seorang pekerja yang telah berketetapan untuk pekerjaannya. Kemudian Tuhan bertanya, "Ketika Aku mengutus kamu dengan tiada membawa pundi-pundi, bekal dan kasut, adakah kamu kekurangan apa-apa?" (22:35). Setelah itu Tuhan berkata, "Tetapi sekarang ini, siapa yang mempunyai pundi-pundi, hendaklah ia membawanya, demikian juga yang mempunyai bekal; dan siapa yang tidak mempunyainya hendaklah ia menjual jubahnya dan membeli pedang" (ay. 36). Ini disebabkan karena dispensasi Allah telah berubah. Pada waktu itu Tuhan Yesus telah ditolak. Ketika masih ada kesempatan bagi orang Israel untuk menerima Tuhan, tidak perlu ada hal-hal ini. Hal yang hendak ditekankan di sini bahwa dalam melaksanakan amanatnya bagi Tuhan, seorang pekerja seharusnya tidak memperhatikan dompetnya. Kita pergi keluar untuk bersaksi bahwa Yesus dari Nazaret adalah Tuhan yang diperkenan oleh Allah. Diri kita berada di dalam berita itu, bukan di dalam dompet. Dengan kata lain, kita hanya bersyarat untuk bekerja jika kita sepenuhnya bebas dari uang. Jika kita pergi ke setiap kota dan desa untuk mengabarkan Injil, kita tidak boleh seperti unta. Kita tidak dapat seperti unta yang terhambat di lubang jarum dan tidak dapat memasuki kerajaan, sementara kita memberi tahu orang lain bahwa ia perlu memasuki kerajaan dengan paksa (Mat. 11:12). Ini mustahil.

Apakah makna jangan membawa? Ini memberi tahu kita bahwa prinsip Injil bertentangan dengan prinsip dompet dan dua jubah. Ketika seseorang berketetapan untuk mengabarkan Injil, ia tidak dapat meletakkan pikirannya dalam hal ini. Untuk perjalanan biasa, seseorang perlu sebuah tempat untuk menyimpan uangnya, tongkat untuk berjalan, dan dua jubah untuk bersalin. Semua hal ini diperlukan. Inilah sebabnya dalam Lukas 22 Tuhan menyuruh murid-murid-Nya membawa hal-hal ini. Mengapa Dia mengatakan hal-hal ini tidak diperlukan lagi ketika Ia mengutus dua belas murid dalam pasal sembilan dan ketika mengutus tujuh puluh murid dalam pasal sepuluh? Ia melarang hal-hal ini karena seorang pengabar Injil tidak seharusnya meletakkan pikirannya pada hal-hal ini. Ketika ia diutus, ia harus pergi. Ia harus pergi jika ada dua jubah dan ia harus pergi jika hanya ada satu jubah. Ia harus pergi dengan atau tanpa tongkat, dengan atau tanpa uang, dan dengan atau tanpa dompet untuk menyimpan uangnya. Inilah makna menjadi seorang pengabar Injil. Ini adalah latihan dasar yang Tuhan berikan kepada murid-murid ketika Ia mengutus dua belas dan tujuh puluh orang bagi pekerjaan mereka. Saudara saudari, kita harus jelas. Jika hati seseorang berada di Injil, hal-hal minoritas ini sama sekali tidak menjaadi masalah buatnya. Jika hal-hal ini menjadi masalah baginya, lebih baik ia tidak pergi sama sekali. Untuk mengabarkan Injil, pikiran, dompet, dan tongkat kita tidak boleh menjadi masalah bagi kita. Jika ini menjadi masalah maka kita tidak dapat mengabarkan Injil. Injil menuntut kita memusatkan diri dengan mutlak pada Injil; hal-hal seperti ini menjadi tidak penting bagi kita. Injil adalah satu-satunya hal yang harus menduduki hati kita. Ketika kita berketetapan untuk pekerjaan kita, kita seharusnya gembira dengan atau tanpa tersedianya sarana dan prasarana. Kita harus berdiri di pihak Allah dan kita seharusnya memikul kesaksian mulia bagi Tuhan. Inilah sebabnya Tuhan berkata, "Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini" (10:5). Betapa terhormatnya hal ini. Seorang pekerja adalah orang yang menyalurkan damai bagi orang lain. Ia seharusnya menghormati posisinya sendiri di hadapan Tuhan. Ia bisa jadi miskin, tetapi ia tidak akan pernah kehilangan martabatnya. Tidak ada pekerja yang akan begitu bodohnya menyerahkan martabatnya. Jika kita pergi ke suatu tempat dan orang-orang di sana tidak menerima kita, apa yang harus kita lakukan? Tuhan berkata, "Dan kalau ada orang yang tidak mau menerima kamu, keluarlah dari kota mereka dan kebaskanlah debunya dari kakimu sebagai peringatan terhadap mereka" (9:5). Apakah Anda melihat martabat pelayan Allah? Ketika mereka keluar, mereka tidak merasa malu dan tidak mengeluh, "Betapa sialnya, kita datang ke rumah yang salah", mereka malahan mengebaskan debu dari kaki mereka. Mereka bahkan tidak menerima sepercik debu dari kaki mereka. Pelayan-pelayan Allah harus mempertahankan martabat mereka. Mereka bisa saja msikin, tetapi mereka tidak boleh kehilangan martabat mereka. Jika pikiran mereka tidak sepenuhnya bulat terhadap hal ini, kita tidak dapat berbagian dalam pekerjaan Allah. Sebagai para pekerja, kita harus menanggulangi masalah uang dengan tepat bersama Tuhan. Kalau tidak, kita tidak dapat menjamah pekerjaan Allah karena mamon adalah perkara yang sangat penting dan menentukan.

Kita dapat menemukan lebih banyak tentang latihan Tuhan terhadap murid-murid-Nya dalam memberi makan lima ribu orang dan empat ribu orang. Pada salah satu kesempatan ini, Ia bersama-sama para murid-Nya memberitakan kepada sekumpulan orang banyak berjumlah lima ribu orang, tidak termasuk perempuan dan anak-anak. Menjelang malam para murid datang kepada-Nya dan berkata, "Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam. Suruhlah orang banyak itu pergi supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa. Tetapi Yesus berkata kepada mereka: "Tidak perlu mereka pergi, kamu harus memberi mereka makan" (Mat. 14:15-16). Murid-murid berharap bahwa Tuhan akan menyuruh orang banyak itu pergi mencari makanan sendiri. Tetapi Tuhan berkata, "Kamu harus memberi mereka makan." Ketika salah seorang murid mendengar hal ini, ia terkejut, dan berkata, "Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka ini, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja" (Yoh. 6:7). Selagi mereka menghitung dua ratus dinar, Tuhan berkata, "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" (Mrk. 6:38). Ketika mereka membawakan lima roti dan dua ikan, Tuhan membuat mujizat dan memberi mereka semua makan. Saudara saudari, semua orang yang sedang menghitung dua ratus dinarnya tidak bersyarat untuk bekerja bagi Tuhan. Jika uang berarti begitu banyak bagi kita, kita tidak dapat menjamah pekerjaan Allah. Tuhan memperlihatkan kepada kita dalam ayat-ayat ini bahwa setiap pekerja seharusnya dengan senang hati memberikan apa yang ia miliki. Jika uang sangat berarti bagi kita, kita akan selalu menghitung laba rugi. Seorang pekerja seharusnya dibebaskan dari kuasa mamon. Uang seharusnya tidak menjadi kuasa atau pengaruh atas diri pekerja Tuhan. Selama tiga setengah tahun Tuhan ada bersama dua belas murid, Ia memberikan diri-Nya kepada mereka. Inilah jalan bagaimana Ia melatih kedua belas murid-Nya. Ia memperlihatkan kepada mereka bahwa apa yang harus dikeluarkan harus dikeluarkan. Pekerjaan Allah tidak berhubungan dengan laba rugi. Memandang pekerjaan Allah dengan mata komersil adalah salah. Mereka yang selalu menghitung uang mereka bukanlah pelayan Allah; mereka adalah budak mamon. Kita harus belajar menolong diri kita dari kuasa mamon.

Murid-murid tidak belajar pelajaran ini dengan segera. Dalam Maitus 15, kita melihat peristiwa lain dengan empat ribu orang, belum termasuk perempuan dan anak-anak. Kali ini keadaannya lebih serius, Orang banyak itu telah berada di sana selama tiga hari. Apa yang dapat dilakukan murid-murid di bawah keadaan ini? Tuhan memberi tahu mereka, "hati-Ku tergerak oleh belas kasihan kepada orang banyak itu. Sudah tiga hari mereka mengikuti Aku dan mereka tidak mempunyai makanan" (ay.32). Kata "dan" berarti bahwa Tuhan sendiri juga tanpa makanan bagi mereka selama tiga hari. Ia meneruskan, "Aku tidak mau menyuruh mereka pulang dengan lapar, nanti mereka pingsan di jalan." Namun murid-murid belum juga mendapatkan pelajaran dari hal ini. Mereka bertanya-tanya bagaimana mereka bisa mendapatkan cukup makanan untuk diberikan kepada orang banyak. Perhatian manusia selalu terletak pada dari mana makanan akan datang. Namun Tuhan bertanya kepada mereka, "Berapa roti ada padamu? "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil" (ay.34). Mereka membawakan tujuh roti dan beberapa ikan kecil kepada-Nya dan Tuhan melakukan mujizat lainnya dan memberi makan empat ribu orang.

Tuhan mengulangi mujizat ini karena kedua belas murid perlu dilatih dua kali. Jika Tuhan tidak memberi makan lima ribu orang dan empat ribu orang, murid-murid mungkin tidak akan mampu menghadapi situasi pada hari Pentakosta. Jika seseorang belum pernah mengalami pengalaman memberi makan lima ribu dan empat ribu orang di dalam kitab-kitab Injil, ia tidak akan pernah tahu bagaimana memperhatikan tiga ribu dan lima ribu orang dalam Kisah Para Rasul. Mereka yang lari dari hadapan beruang dan singa pasti akan melarikan diri juga dari Goliat. Mereka yang tidak dapat menggembalakan domba pasti tidak akan mampu menggembalakan bangsa Israel. Di sini ada sekelompok orang yang mendapatkan pelajaran memberi makan lima ribu dan empat ribu orang. Sebagai hasilnya, mereka tidak memiliki masalah pada hari Pentakosta ketika mereka dipanggil untuk merawat orang-orang miskin. Saudara saudari, kita harus melalui latihan yang sama. Hati kita harus diperbesar. Kita dapat menahan apa yang kita belanjakan, tetapi Allah tidak ingin kita menahan mujizat-Nya. Banyak orang terlalu prihatin tentang uang. Mereka tidak memberi kesan pada orang lain bahwa mereka dilatih oleh Allah. Orang yang terlatih tidak akan membuat uang menjadi masalahnya; ia tidak akan terlalu prihatin dengan uang di dalam tangannya. Saudara saudari, semakin kita menghitung, semakin kita membias dari maksud Allah, dan kita menjadi semakin miskin. Prinsip Allah tentang uang tidak demikian. Kita perlu latihan seperti yang diterima dua belas dan tujuh puluh murid. Salah satu dari kedua belas murid pada akhirnya menjadi pencuri, perampok; ia mencuri uang. Ia tidak mendapatkan pelajaran, dan uang menjadi masalah besar baginya. Ketika ia melihat Maria menuangkan minyak narwastu murni dari buli-buli pualam ke atas Tuhan, ia menganggapnya sebagai pemborosan. Ia berkata, "Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan diberikan kepada orang-orang miskin?" (Yoh. 12:5). Bagi orang yang penuh perhitungan, satu buli-buli minyak urapan dapat dijual seharga tiga ratus dinar dan diberikan kepada orang-orang miskin. Namun Tuhan tidak setuju dengan perhitungan ini. Malahan Ia berkata, "Sesungguhnya di mana saja Injil ini diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat aku" (Mat. 26:13). Hasil akhir dari Injil adalah pecahnya buli-nuli pualam dan pengurapan Tuhan dengan minyak urapan seharga tiga ratus dinar. Dengan kata lain, ketika seseorang menerima Injil dan demi Kristus ia tidak memandang harga segala sesuatu yang diboroskan bagi-Nya, hal ini baik di pandangan Tuhan. Hal ini benar bahkan sampai saat ia "memboroskan" dirinya bagi Tuhan. Mereka yang tidak memahami Injil selalu menghitung uang mereka, tetapi mereka yang memahami Injil menyadari bahwa memboroskan diri mereka bagi-Nya itu benar dan tepat. Siapa yang menganggap hal ini suatu pemborosan? Yudas. Ia adalah orang yang tidak pernah belajar. Kata-katanya sangat beralasan. Bagi manusia, tidak ada untungnya menghabiskan tiga ratus dinar dengan cara ini! Bagi Yudas, tiga ratus dinar sudah cukup untuk mengkhianati seseorang - ia menjual Tuhan Yesus dengan harga tiga ratus dinar. Namun baginya pencurahan minyak urapan ini adalah suatu pemborosan, dan ia berduka atas hal ini. Ia ingin mendapatkan sesuatu dari hal ini; ia adalah orang yang penuh perhitungan. Namun mereka yang dengan murni menerima Injil dan mutlak bagi Tuhan akan mengorbankan segalanya. Bahkan jika pengorbanannya terlalu banyak di pandangan orang lain, pengorbanan ini dibuat untuk Injil Tuhan. Di mana Injil diberitakan, tidak ada seorangpun yang bisa menawar dengan Tuhan. Ia berkata, "Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu" (ay.11). Maksud Tuhan adalah bahwa tidak ada salahnya memperhatikan orang miskin, tetapi kita tidak dapat menahan apapun ketika tiba saatnya berkorban bagi Tuhan. Bahkan jika kita berlebihan dalam melakukannya dan sampai menjadi ekstrim, hal ini masih bukan suatu pemborosan bagi Tuhan. Seorang saudara pernah berkata, "Jika seorang yang baru percaya mencoba mengambil jalan tengah begitu ia percaya, ia tidak akan memiliki masa depan rohani sama sekali." Saudara saudari, pertimbangan akan jalan tengah dapat menunggu sepuluh atau dua puluh tahun lagi, tetapi ketika seorang untuk kali pertama percaya, ia seharusnya memboroskan dirinya bagi Tuhan. Jika Anda seorang yang baru percaya, Anda seharusnya menyuguhkan segala yang Anda miliki kepada Tuhan. Anda harus mencurahkan seluruh isi buli-buli pualam berisi minyak narwastu Anda bagi Tuhan. Anda harus mengorbankan segalanya dengan cara ini agar Anda memiliki jalan untuk maju. Ini adalah latihan yang diterima murid-murid. Kita harus belajar menerima lebih banyak lagi penderitaan dan memboroskan lebih banyak lagi bagi Tuhan dan bagi orang lain. Sebagai pelayan-pelayan Allah, kita seharusnya sangat murah hati terhadap uang. Kita seharusnya maju dengan atau tanpa uang. Mereka yang selalu menghitung uang mereka bukanlah orang yang tepat bagi pekerjaan.

Dalam Kisah Para Rasul 3:6 Petrus berkata kepada seorang laki-laki yang lumpuh, "Emas dan perak tidak ada padaku." Tuhan membawa Petrus dan Yohanes sampai kepada titik di mana mereka dapat berkata, "Emas dan perak tdak ada padaku." Meskipun kita melihat banyak orang yang dipegang dalam pasal dua, kita menemukan suatu kesaksian di dalam pasal tiga: "Emas dan perak tidak ada padaku." Apa yang dikatakan Petrus kepada orang lumpuh ini? "Tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Tuhan Yesus Kristus, seorang Nazaret itu, berjalanlah!" Mereka menjadi begitu terlatih sehingga meskipun banyak uang yang telah melewati tangan mereka, mereka masih dapat berkata, "Emas dan perak tidak ada padaku." Saudara saudari, jika kita melibatkan diri kita dalam pekerjaan sepenuhnya, kita harus teguh dalam hal uang. Begitu kita lemah dalam perkara ini, kita juga akan lemah terhadap hal-hal lain. Faktor yang melatarbelakangi pekerja-pekerja yang kuat dan stabil adalah penghargaan kita di hadapan Allah mengenai perkara uang. Allah dapat mempercayakan orang-orang seperti ini.

TIGA

Sampailah kita pada butir yang ketiga - sikap Paulus terhadap uang. Perkataannya sendiri tentang hal ini sangat jelas. Dalam Kisah Para Rasul 20 ia mengatakan kepada orang-orang Efesus, "Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga" (ay.33). Ini adalah perkara motivasi. Ia tidak mengingini apapun. Dalam pekerjaannya bagi Tuhan, ia mampu membanggakan bahwa ia tidak pernah mengingini milik siapapun. Ia tidak memiliki pikiran mengenai emas, perak, atau pakaian siapapun. Inilah pernyataan yang pertama. Kemudian ia berkata, "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku" (ay. 34). Ini seharusnya menjadi sikap yang umum pada semua pelayan Allah. Kita tidak boleh menginginkan emas atau perak atau pakaian siapapun. Kepunyaan orang lain adalah milik mereka sendiri, dan kita tidak memiliki hasrat atasnya. Mereka dapat menjaga apa yang mereka miliki. Pada waktu yang sama, kita bekerja untuk menyuplai keperluan kita sendiri sehingga seorang pekerja tidak memiliki hak untuk melaksanakan haknya dalam Injil (I Kor. 8:18). Namun ini bukan berarti seorang pekerja Tuhan harus memandang Injil sebagai tanggung jawab yang begitu serius dan besar sehingga ia merasa lebih baik menyerahkan tangan dan uangnya bagi pekerjaan. Ini seharusnya datang dari kedambaannya di hadapan Tuhan. Jika memungkinkan, tangannya seharusnya juga bekerja. Tentunya Paulus menerima pemberian dari orang lain, tetapi itu berhubungan dengan hal lain - tanggung jawab si pemberi. Kita akan membahasnya kemudian.

Perkataan Paulus kepada orang-orang Korintus sangat manis. Dalam 2 Korintus 11:7 ia berkata, "Apakah aku berbuat salah, jika aku merendahkan diri untuk meninggikan kamu, karena aku memberitakan Injil Allah kepada kamu dengan cuma-cuma?" Ia melanjutkan dalam ayat sembilan sampai dua belas, "Dan ketika aku dalam kekurangan di tengah-tengah kamu, aku tidak menyusahkan seorangpun, sebab apa yang kurang padaku, dicukupkan oleh saudara-saudara yang datang dari Makedonia. Dalam segala hal aku menjaga diriku, supaya jangan menjadi beban bagi kamu, dan aku akan tetap demikian. Demi kebenaran Kristus dalam diriku, aku tegaskan, bahwa kemegahanku itu tidak akan dirintangi oleh sipapun di daerah-daerah Akhaya. Mengapa tidak? Apakah aku tidak mengasihi kamu? Allah mengetahuinya. Tetapi apa yang kulakukan, akan tetap kulakukan untuk mencegah mereka yang mencari kesempatan guna menyatakan, bahwa mereka sama dengan kamu dalam hal yang dapat dimegahkan." Paulus tidak menyangkal setiap bentuk pemberian. Tetapi di Akhaya ini merupakan perkara kesaksian. Beberapa orang mengkritik, mencari kesempatan, dan memegahkan diri seolah-olah mereka berbeda dari yang lain. Paulus tidak memberi mereka kesempatan untuk mengkritik. Ia berkata bahwa ia memberitakan Injil Allah dengan cuma-cuma, bahwa ia tidak menjadi beban bagi mereka, bahkan ia tidak kekurangan. Ia menjaga dirinya supaya tidak menjadi beban bagi mereka, dan akan terus demikian. Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi beban bagi mereka. Ini bukan berarti ia tidak mengasihi mereka, karena apa yang ia lakukan akan terus ia lakukan. Namun ia bertindak demikian untuk memutus kesempatan dari mereka yang mencari kesempatan, dan menutup mulut mereka. Inilah sikap seorang pekerja terhadap uang. Ke manapun kita pergi, begitu kita merasakan suatu keengganan, kita harus memotong setiap kesempatan yang mengundang kritikan. Anak-anak Allah harus menjaga martabat mereka dalam pekerjaannya. Semakin seseorang mencintai uang, semakin kita harus memberikan Injil Allah kepadanya dengan cuma-cuma. Semakin seseorang menahan uangnya, semakin sedikit pula pemberian yang boleh kita terima darinya. Kita harus menyadari posisi kita sebagai pelayan Allah. Jika kita menemukan orang seperti orang Akhaya, yang enggan dan mencari-cari kesempatan untuk mengkritik, kita harus berkata kepada mereka seperti yang seolah-olah dikatakan Paulus, "Aku tidak akan menjadi beban bagi siapapun di antara kamu. Jika Anda ingin memberikan sesuatu kepada orang miskin di Yerusalem, saya dapat memberikannya kepada mereka. Jika Timotius datang, Anda dapat mengutusnya dalam sebuah perjalanan dengan damai. Namun bagi diri sendiri, aku harus menjaga martabatku sebagai seorang pekerja Tuhan." Jika kita dikritik karena menerima suatu pemberian dari siapapun, kita sekaligus sudah kehilangan martabat kita sebagai pelayan Tuhan. Kita harus menajga martabat kita sebagai pelayan-pelayan Allah. Dalam pelayanan kita bagi Tuhan, kita tidak dapat ceroboh terhadap uang. Kita harus sangat tegas dalam perkara ini, kalau tidak kita tidak akan mampu berbuat banyak bagi Allah.

Paulus memberi tahu kita bukan hanya bagaimana ia menjaga integritasnya, tetapi juga bagaimana ia bekerja dengan kedua tangannya untuk menyuplai keperluan para sekerjanya. Ini memperlihatkan kepada kita prinsip memberi. Paulus berkata, "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku" (Kis. 20:34). Tidak ada seorang pekerja pun yang dapat kekurangan karena memberi. Jika kita menyimpan semua yang kita terima dan hanya menyediakan bagi diri sendiri, kita tidak mengenal makna pekerjaan seorang minister. Jika hanya ada sedikit persembahan dari dompet-dompet para sekerja, berarti ada sesuatu yang tidak beres. Jika seorang pekerja hanya dapat menerima, yaitu jika imannya baru dilatih sampai pada tahap memberi, maka fungsinya terbatas. Saudara saudari, masa depan rohani kita sangat berhubungan dengan sikap kita terhadap uang. Sikap terburuk yang dapat terjadi adalah kita mengumpulkan hanya bagi diri kita sendiri dan melakukan segalanya bagi diri kita sendiri. Kelihatannya merupakan tugas berat untuk meminta orang lain mempersembahkan. Namun orang Lewi memiliki tanggung jawab yang sama beratnya untuk memberikan persepuluhan seperti yang lainnya. Memang benar bahwa orang Lewi tidak memiliki bagian warisan dari semua kota; mereka mengembara di antara kedua belas suku dan hidup berdasarkan mezbah. Beberapa orang Lewi mungkin tergoda untuk berkata, "Aku hidup oleh mezbah. Apa yang bisa kuberikan?" Namun Allah berkata bahwa semua orang Lewi harus memikul tanggung jawab ini dan harus menerima persembahan persepuluhan serta juga harus memberikan persepuluhan. Ini menghentikan semua pelayan Allah yang berkata, "Aku sudah menyerahkan segalanya. Apakah aku masih harus memberikan dari pendapatanku yang sudah sedikit ini?" Jika mata kita selalu tertuju pada keperluan kita, kita akan menemui masalah keuangan dan tidak akan mampu menyuplai keperluan para sekerja kita. Kita harus belajar memberi. Kita harus mampu menyuplai semua saudara saudari kita. Jika kita menyimpan uang di tangan kita, tidak peduli betapa kecil jumlahnya, dan jika pada saat yang sama kita mengharapkan Allah terus-menerus bekerja di atas saudara saudari lain, kita akan menemukan bahwa Allah melakukan hal yang sebaliknya. Ia tidak akan mempercayakan uang-Nya ke tangan kita.

Perkataan Paulus dalam 2 Kor. 6:10 sangat indah, "Sebagai orang miskin, namun memperkaya banyak orang." Di sini ada seseorang yang benar-benar mengenal Allah. Kelihatannya ia miskin, namun sungguh mengejutkan karena ternyata ia memperkaya banyak orang. Saudara saudari, inilah jalan kita. Ketika kita bekerja di suatu tempat dan saudara saudari di sana ingin mengatakan sesuatu kepada kita, atau jika mereka memilih sikap yang tidak salah terhadap kita, kita harus menjaga martabat kita sebagai pekerja. Kita tidak boleh menerima pemberian mereka. Malahan kita harus dengan lugas mengatakan, "Saya tidak dapat menerima uang Anda. Saya adalah pelayan Allah. Anda memiliki banyak perkataan mengnai diriku dan saya tidak menggunakan uang Anda. Sebagai seorang pelayan Tuhan, saya harus menjaga kemuliaan Allah. Saya tidak dapat menggunakan uang Anda." Bahkan ketika dalam keadaan yang sangat miskin pun kita harus belajar banyak memberi. Semakin banyak kita mampu memberi, semakin banyak kita mampu menerima. Ini adalah prinsip rohani. Sering kali ketika kita kekurangan, ktia harus memberi, karena begitu uang yang kita milki pergi, suplai Tuhan datang. Beberapa saudara saudari memiliki banyak pengalaman demikian. Mereka dapat bersaksi bahwa semakin mereka memberi, semakin mereka menerima. Kita seharusnya tidak menghitung berapa banyak yang tersisa di tangan kita. Tuhan berkata, "Berilah maka kamu akan diberi" (Luk. 6:38). Inilah hukum Allah. Jalan pelayanan orang Kisten berbeda dengan dunia. Dunia mendapat melalui menyimpan; kita mendapat melalui memberi. Kita mungkin saja miskin tetapi kita dapat memperkaya orang lain.

Dalam 2 Kor. 12:14 Paulus berkata, "Sesungguhnya sekarang sudah untuk ketiga kalinya aku siap untuk mengunjungi kamu, dan aku tidak akan merupakan suatu beban bagi kamu." Inilah sikap Paulus. Betapa ketatnya ia terhadap dirinya sendiri! Beberapa orang telah berkata-kata menentang Paulus dan bermasalah dengan Paulus. Oleh karena itu ketika ia siap pergi kepada mereka untuk ketiga kalinya, ia tidak menjadi beban bagi mereka. Dalam ayat 14 ia melanjutkan, "Sebab bukan hartamu yang kucari, melainkan kamu sendiri." Apakah ia berpikiran sempit dan kejam? Tidak. Ia melanjutkan dalam ayat yang sama, "Karena bukan anak-anak yang harus mengumpulkan harta untuk orang tuanya, melainkan orang tualah untuk anak-anaknya." Saudara saudari, apakah Anda melihat betapa manisnya sikap Paulus di hadapan Allah? Orang-orang Kristen mendengar banyak kabar burung dan mengatakan banyak hal tentang Paulus. Oleh karena itu Paulus terpaksa menolak pemberian mereka, teapi meskipun ia menolak pemberian mereka, ia tidak undur dari tanggung jawabnya untuk mengajarkan perkara uang kepada mereka. Dua Korintus mungkin adalah kitab yang paling banyak menjamah perkara uang. Jika Paulus tidak berbicara apapun tentang uang, beberapa orang mungkin salah sangka bahwa Paulus tersinggung karena masalah ini. Namun ia tidak tersinggung, karena hal ini sangat sedikit mempengaruhinya. Ia terus mengajar orang-orang Korintus tentang uang. Ia menyuruh mereka mengirim uang ke Yerusalem. Ia tidak menasihati mereka untuk tidak mengirmnya. Ia berada di atas uang; oleh karena itu ia berada di atas sikap orang-orang Korintus yang ditujukan kepada dia secara pribadi. Ia menolak pemberian mereka karena ingin menjaga martabatnya. Namun kepada orang-orang Makedonia ia memegahkan orang-orang Korintus yang sudah siap sedia. Pada saat yang bersamaan ia mendorong saudara-saudara supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah dijanjikan sebelumnya, supaya mereka tidak merasa malu karena ketidaksiapan mereka saat orang-orang Makedonia datang kepada mereka (9:2, 4-5). Perasaan pribadinya sepenuhnya dikesampingkan. Pelayan-pelayan Allah harus dibebaskan dari pengaruhnya. Jika Paulus tidak dibebaskan dari uang, orang-orang Korintus tidak akan pernah mendengar berita semacam ini. Paulus masih akan berbicara kepada orang-orang Efesus atau Filipi, tetapi ia tidak akan berbicara kepada orang-orang Korintus. Namun Paulus masih pergi mengajar orang-orang Korintus; ia tidak mau menyerah. Ia terus berbicara kepada orang-orang Korintus tentang uang. Ia memperlihatkan kepada mereka bahwa Allah dapat menggunakan uang mereka, tetapi ia sendiri tidak akan demikian; ia tidak ingin apapun dari mereka. Dalam hal ini, ia tidak datang menjadi beban bagi mereka. Namun ia masih mengharapkan mereka memiliki jalan dalam perkara ini.

Saudara saudari, dapatkah kita membedakan antara mereka dan milik mereka setiap kali kita bercakap-cakap dengan orang lain di dalam gereja? Ketika kita melihat saudara-saudara, apakah kita mengejar mereka atau milik mereka? Jika mereka memiliki masalah dengan kita dan kita tidak dapat mendapatkan hati mereka, apakah kita tetap mendukung mereka, membina mereka, dan mendoakan pertumbuhan mereka? Paulus memiliki banyak alasan untuk berpaling dari orang-orang Korintus, tetapi ia datang kepada mereka lagi dan lagi, dan bahkan sampai ketiga kalinya. Namun ia tidak mengejar milik mereka. Ini adalah cobaan yang besar bagi pelayan-pelayan Allah. Kita harus belajar melakukan apa yang dilakukan oleh saudara kita Paulus.

Dalam 2 Korintus 12:15-18 ia melanjutkan, "Karena itu aku suka mengorbankan milikku, bahkan mengorbankan diriku untuk kamu. Jadi jika aku sangat mengasihi kamu, masakan aku semakin kurang dikasihi? Baiklah, aku sendiri tidak merupakan suatu beban bagi kamu, tetapi - kamu katakan - dalam kelicikanku aku telah menjerat kamu dengan tipu daya. Jadi pernahkah aku mengambil untung dari pada kamu oleh seorang dari antara mereka, yang kuutus kepada kamu? Memang aku telah meminta Titus untuk pergi dan bersama-sama dengan dia aku mengutus saudara yang lain itu. Adakah Titus mengambil untung dari pada kamu? Tidakkah kami berdua hidup menurut roh yang sama dan tidakkah kamu berlaku menurut cara yang sama?" Saudara saudari, pikirkanlah sikap Paulus: ia suka mengorbankan miliknya dan bahkan mengorbankan dirinya demi diri mereka. Dalam mengabarkan Injil, tidak cukup diri kita dikorbankan. Kita harus mengorbankan; kita harus memberikan segala yang kita miliki. Merupakan suatu hal yang selalu salah jika kita menerima uang sebagai ganti Injil yang kita beritakan. Sebaliknya, kita harus siap sedia dengan rela mengorbankan uang kita bagi Injil. Jika uang kita tidak digunakan dalam pengabaran Injil, berarti ada sesuatu yang salah. Jika uang kita memang digunakan dalam pengabaran Injil maka kita sedang melakukan hal yng benar dan meletakkan uang kita dalam hal yang berharga. Inilah yang dilakukan Paulus. Ia rela mengorbankan dan dikorbankan demi jiwa orang-orang. Ketika ia berada di antara mereka ia tidak menjadi beban bagi siapapun. Ia tidak mengambil keuntungan dari siapapun. Injil itu benar - inilah sebabnya mengapa kita dapat mengorbankan uang kita di atas hal in. Saudara saudari, kita harus menjadi seperti saudara kita Paulus. Kita seharusnya tidak menjadi beban bagi siapapun. Sebaliknya, diri kita harus dikorbankan demi Injil. Karena Injil adalah benar, maka tepat pula jika kita mengorbankan dan dikorbankan. Injil kita harus menjadi sesuatu yang membawa uang kita bersamanya. Inilah jalan yang tepat untuk pergi.

Selain apa yang telah kita katakan, Paulus menerima pemberian orang-orang Makedonia dan Filipi. Di bawah keadaan normal, tindakan seorang pengabar Injil menerima pemberian adalah benar. Paulus menerima pemberian dari beberapa tempat dan menolak pemberian dari beberapa tempat lain. Ia tidak dibelenggu perkara menerima pemberian. Ia menerima pemberian dari orang-orang Makedonia. Tetapi ketika beberapa orang mengkritiknya dan mencari kesempatan untuk memfitnahnya di Akhaya dan Korintus, ia menolak pemberian mereka. Inilah jalan Paulus. Hari ini kita juga seharusnya demikian. Kita dapat menerima pemberian dari orang beberapa tempat seperti Makedonia dan kita seharusnya menolak pemberian dari tempat-tempat lain yang mengomentari sesuatu tentang kita. Saudara saudari, kita harus menjaga posisi kita di hadapan Tuhan. Kita seharusnya tidak berpikir bahwa kita dapat menerima uang macam apapun. Jika seseorang berbicara di belakang punggung kita atau jika seseorang mencari kesempatan untuk mengkritik kita, kita dengan sederhana tidak dapat menerima pemberian mereka. Di tempat-tempat lain kita mungkin menerima pemberian, tetapi tidak di tempat itu.

Marilah kita beralih ke surat Paulus kepada orang-orang Filipi untuk melihat sikapnya dalam menerma persembahan dari kaum saleh di sana. Filipi 4:15-17 mengatakan, "Kamu sendiri tahu juga, hai orang-orang Filipi; pada waktu aku baru mulai mengabarkan Injil, ketika aku berangkat dari Makedonia, tidak ada satu jemaatpun yang mengadakan perhitungan hutang dan piutang dengan aku selain dari kamu. Karena di Tesalonika pun kamu telah satu dua kali mengirimkan bantuan kepadaku. Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu." Inilah sikap Paulus. Kelihatannya seolah-olah orang-orang Filipi adalah satu-satunya pihak yang menyuplai dia. Ketika ia berada di Korintus dan Tesalonika, orang-orang Filipilah yang menyuplai dia. Namun kepada orang-orang Filipi ia berkata, "Tetapi yang kuutamakan bukanlah pemberian itu, melainkan buahnya, yang makin memperbesar keuntunganmu." Ia mengetahui bahwa Allah akan membuat pemasukan bagi keuntungan orang-orang Filipi atas uang yang telah mereka korbankan. Allah akan mencatat uang orang-orang Filipi. Inilah sebabnya ia tidak meminta uang mereka. Di sini ada seseorang yang memiliki sikap sedemikian rupa terhadap satu-satunya pihak yang menyuplai dia. Ia tidak mencari pemberian, tetapi buah yang makin memperbesar keuntungan mereka. Orang-orang Makedonia telah memberi berulang-ulang. Namun mata Paulus tidak berada di dalam uang. Kita mungkin menerima beberapa pemberian, namun bahkan ketika kita memang menerimanya, kita harus berbicara seperti Paulus kepada orang-orang Filipi. Kita harus berdoa bagi buah mereka untuk memperbesar keuntungan mereka. Merupakan suatu hal yang salah jika pelayan-pelayan Allah dibelenggu oleh uang. Kita harus dibebaskan dari uang.

Mari kita melanjutkan melihat apa yang dikatakan Paulus dalam ayat 18: "Kini aku telah menerima semua yang perlu darimu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan." Ini bukan laporan keuangan biasa. Sebuah laporan biasanya menyoroti kekurangan sehingga orang lain akan termotivasi untuk memberi. Namun kepada satu-satunya gereja yang menyuplai dia, saudara kita Paulus berkata, "Kini aku telah menerima semua yang perlu darimu, malahan lebih daripada itu. Aku berkelimpahan." Saudara saudari, perhatikanlah sikap saudara kita. Ia memberi tahu satu-satuya gereja yang menyuplai dia bahwa ia menerima semua, malahan lebih daripada itu, ia berkelimpahan. Ia berkecukupan; satu-satunya harapannya adalah agar pemberian mereka menjadi "suatu persembahan yang harum, suatu kurban yang disukai dan yang berkenan kepada Allah" (ay. 18). Di sini ada seseorang yang memiliki roh yang menawan. Ia sama sekali tidak memperhatikan uang. Uang tidak menjamah dirinya sama sekali.

Mari kita melanjutkan pada ayat 19, yang merupakan ayat yang sangat berharga, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." Ia bersyukur atas bantuan mereka tetapi ia tidak kehilangan martabatnya. Mereka mempersembahkan uang mereka sebagai kurban persembahan kepada Allah; bukan untuk pribadi Paulus dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Pada saat yang bersamaan, ia memberkati mereka, "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." Kita tidak dapat menolong selain mengatakan, "Bagi Allah dan Bapa segala kemuliaan untuk selama-lamanya. Amin."

EMPAT

Akhirnya, mari kita membahas sikap Paulus sehubungan dengan dana yang telah dikeluarkan gereja ke dalam tangannya dan yang dipercayakan orang lain untuk diaturnya. Dalam 2 Korintus 8:1-4 ia menulis, "Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selain dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus." Anak-anak Allah harus ketat dalam perkara ini. Ketika seorang pekerja pergi ke suatu tempat untuk bekerja bagi Tuhan, demikianlah sikapnya yang seharusnya ketika ia menjamah uang. Saudara-saudara di Makedonia menawarkan bantuan keuangan kepada saudara-saudara yang menderita kelaparan di Yerusalem. Pertama, Paulus memberi tahu kabar tentang musibah ini. Setelah mereka mendengarnya, mereka bertindak melampaui keadaan mereka yang berada dalam kemiskinan dan pelbagai penderitaan untuk memperhatikan saudara-saudara mereka di Yerusalem. Apakah yang mereka lakukan? Paulus berkata bahwa dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Inilah sikap orang-orang Makedonia dalam menawarkan bantuan keuangan untuk memperhatikan keperluan kaum saleh. Mereka ingin memiliki bagian dalam pekerjaan ini. Karena hal ini, mereka memaksa Paulus terus-menerus. Dengan kata lain, pada mulanya Paulus tidak mengizinkan mereka memberi. Ini memperlihatkan kepada kita sikap yang tepat. Seorang pekerja Tuhan seharusnya tidak menerima begitu saja uang yang datang kepadanya, bahkan ketika uang ini bukan untuk digunakan olehnya sendiri. Memang benar bahwa saudara-saudara dari Yerusalem sedang membutuhkan, tetapi ini bukan sekadar perkara mendapatkan uang dan meneruskannya kepada kaum saleh. Saudara-saudara Makedonia sendiri sedang berada dalam kesulitan besar, dan Paulus memberi tahu mereka untuk menarik kembali persembahan mereka. Namun mereka datang lagi dan lagi; mereka memohon kepada Paulus berkali-kali, dengan meminta dan memaksa supaya diizinkan berbagian dalam kasih karunia dari melayani kaum saleh. Kedua pihak bertindak begitu indahnya. Inilah jalan orang Kristen yang tepat. Di satu sisi, si pemberi berkata, "Meskipun aku miskin dan memiliki keperluan, aku masih memberi. Meskipun ini melampaui kekuatanku untuk memberi, aku masih memberi." Di sisi lain, si pekerja berkata, "Anda seharusnya tidak memberi." Ini sungguh indah! Akhirnya, si pekerja berkata, "Jika Anda benar-benar ingin memberi, saya tidak bisa mencegah Anda." Inilah sikap seorang pekerja yang tepat. Paulus menangani masalah gereja. Meskipun ia melihat keperluan di Yerusalem dan ingin merawat keperluan saudara-saudara, sikapnya berbeda dengan banyak pekerja hari ini. Ia mengizinkan gereja-gereja Makedonia untuk berpartisipasi dalam kasih karunia dari melayani kaum saleh hanya setelah mereka memohon-mohon kepadanya berkali-kali.

Dalam 2 Korintus 8:16-22 Paulus berkata, "Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu. Memang ia menymbut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang lebih besar lagi ia dengan sukarela pergi kepada kamu. Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil. Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia. Bersama-sama dengan mereka kami utus seorang lain lagi, yakni saudara kita...." Di sini kita melihat pengaturan Paulus. Dalam meneruskan uang orang lain ke Yerusalem, ia sangat lurus dalam hal prosedurnya. Tidak ada pelayan Allah dapat begitu ceroboh dalam perkara uang. Apa yang dikatakan Paulus? Ia berkata, "Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini." Paulus meminta satu, dua, bahkan tiga saudara untuk mengatur uang; ia tidak mengaturnya sendirian. Apa yang dilakukan ketiga saudara itu? Ia berkata, "Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia." Dalam administrasi dana, satu-satunya cara untuk menghindari masalah adalah dengan membiarkan dua atau tiga orang yang bertanggung jawab.

Karena uang adalah perkara yang sangat serius, Paulus, menulis baik kepada Timotius dan Titus, mengumandangkan bahwa tidak boleh ada orang yang serakah yang diizinkan untuk menduduki posisi sebagai penatua (1 Tim. 3:3; Titus 1:7). Dalam 1 Timotius 3:8 persyaratan yang sama juga dinyatakan mengenai posisi seorang diaken. Tidak ada orang yang bersyarat menjadi penatua atau diaken kalau ia belum menang atas uang. Persyaratan dasar untuk menjadi seorang penatua atau seorang diaken adalah tidak tamak uang. Kita harus menanggulangi dengan serius perkara uang. Petrus menulis batasan yang sama seperti Paulus. Ia berkta, "Gembalakanlah kawanan domba Allah yang ada padamu..dan jangan karena mau mencari keuntungan tetapi dengan pengabdian diri" (1 Ptr. 5:2). Tidak ada seorangpun yang tamak yang dapat menggembalakan kawanan domba Allah.

Semoga Tuhan bermurah hati kepada kita sehingga kita menanggulangi perkara uang dengan tuntas. Jika kita tidak menyelesaikan masalah ketamakan, cepat atau lambat kita akan mendapatkan kesulitan. Nyatanya, kita akan menjadi tidak berguna. Jika kita tidak menyelesaikan masalah ini, kita tidak dapat menanggulangi masalah-masalah lain, dan kita pasti akan menghadapi masalah dan kesukaran dalam perjalanan. Kita tidak boleh dipengaruhi uang dengan cara bagaimanapun. Setiap kali kita mendengar siapapun mengkritik kita, kita harus belajar menanggung beban orang lain. Kita seharusnya tidak hanya memperhatikan keperluan kita sendiri dan keperluan para sekerja kita, tetapi juga memperhatikan semua saudara saudari. Jika kita dapat menangani perkara uang dengan tepat, kita telah melakukan hal yang besar. Mereka yang belum menyelesaikan masalah uang yang mendasar ini tidak akan pernah bekerja dengan baik.