← Daftar isi Stabil Tidak Subyektif terhadap Uang Beberapa Perkara Lain · bab 10/10

BEBERAPA PERKARA LAIN

Dalam bab ini kita akan membicarakan beberapa perkara lain, seperti (1) Menjunjung kemutlakan kebenaran, (2) Merawat tubuh fisik kita, (3) Kebiasaan sehari-hari, (4) Pernikahan dan kesucian.

SATU

Setiap pekerja Tuhan harus menjunjung tinggi kemutlakan kebenaran. Ini hanya mungkin jika seorang dibebaskan dari dirinya sendiri. Banyak saudara saudari tidak mutlak bagi kebenaran; mereka dipengaruhi oleh orang, benda dan perasaan pribadi. Jika seseorang tidak mutlak bagi kebenaran maka dalam pekerjaannya, ia akan mengorbankan kebenaran Allah bagi manusia, dirinya sendiri, atau hasratnya sendiri. Persyaratan dasar untuk menjadi pelayan Tuhan adalah dengan tidak mengorbankan kebenaran. Kita dapat mengorbankan diri dan hasrat kita sendiri tetapi kita tidak boleh mengorbankan kebenaran. Masalah di antara banyak pekerja dimulai dari hubungan dengan teman, sobat akrab, dan keluarga. Kebenaran ini dikompromikan dengan teman-teman, keluarga dekat, atau kerabat mereka. Allah tidak dapat menggunakan orang-orang yang demikian. Jika kebenaran adalah kebenaran, maka ia tidak seharusnya dikompromikan, entah dengan saudara-saudara, kerabat, atau teman intim kita sendiri. Misalnya saja putra seorang pekeja Kristen menyatakan hasrat untuk dibaptis. Jika ayahnya menyadari bahwa perkara ini berhubungan dengan kebenaran, ia akan meneruskan perkara ini kepada saudara-saudara yang memimpin di dalam gereja dan menyerahkannya kepada mereka untuk menentukan apakah ia siap atau tidak untuk dibaptis. Namun masalahnya adalah sekerja itu sudah menyimpulkan bahwa putranya sudah layak untuk dibaptis, dan dengan demikian ia mengorbankan kemutlakan dari kebenaran. Ia telah dipengaruhi oleh hubungan ayah dan anak, dan ia tidak lagi mutlak bagi kebenaran. Jika ia mutlak bagi kebenaran, ia akan seturut dengan arah kebenaran yang telah diletakkan di dalam gereja; ia tidak akan membawa hubungan pribadinya ke dalam situasi. Perhatikanlah ilustrasi lain: di suatu tempat timbul kontroversi. Sejumlah kaum saleh mungkin senang dengan sekelompok orang tertentu dan berpihak kepada mereka, sedangkan sejumlah orang lainnya memilih sekelompok orang tertentu dan memihak mereka. Bukannya duduk dan menghitung harga kemutlakan kebenaran dan mengikuti kebenaran, mereka malahan dipengaruhi, diarahkan oleh emosi mereka sendiri. Ini bukan berarti saudara-saudara itu tidak membicarakan kebenaran. Ini hanya berarti mereka tidak mutlak bagi kebenaran. Mereka tidak menyapu kebenaran; mereka masih memiliki sedikit perhatian terhadap kebenaran. Namun mereka tidak mutlak bagi kebenaran. Mutlak bagi kebenaran berarti tidak ada perasaan pribadi atau hubungan keluarga yang diizinkan menghalangi kebenaran. Dalam perkara-perkara rohani, kebenaran dikompromikan begitu hubungan manusia dilibatkan, Firman Allah dan perintah-Nya terpotong melalui faktor manusia dan kebenaran dikompromikan.

Alkitab memuat banyak peraturan dan perintah. Peraturan-peraturan dan perintah-perintah ini berasal dari Allah dan pelayan-pelayan Allah perlu memberitahukan dan mengumandangkannya. Di satu sisi, sungguh meletihkan jika melihat orang yang hanya pandai berbicara tetapi tidak melakukannya. Di sisi lain, kita tidak dapat menjadi pelayan Allah jika kita tidak memberitakan melebihi apa yang dapat kita lakukan. Ini disebabkan kebenaran adalah hal yng mutlak. Standar Firman Allah tidak boleh diturunkan sesuai level pencapaian pribadi kita. Kita tidak dapat dengan sewenang-wenang mengubah kebenaran dengan cara apapun hanya untuk membenarkan kekurangan kita sendiri. Inilah maknanya mutlak bagi kebenaran. Kita harus melampaui diri kita, perasaan, dan kepentingan pribadi kita sendiri dalam pembicaraan kita. Ini adalah persyaratan yang tinggi bagi pelayan-pelayan Tuhan. Kita harus berhati-hati tidak bertindak menurut cara tertentu karena hal itu mempengaruhi saudara saudari dan bertindak menurut cara yang berbeda dalam pelaksanaannya terhadap pasangan atau anak-anak kita. Kebenaran selalu mutlak. Allah ingin kita menjunjung kemutlakan dari kebenaran. Jika Firman Allah mengatakan sesuatu, maka memang demikianlah halnya, tidak peduli siapa yang terlibat di dalamnya, kita tidak dapat membuat pengecualian hanya karena beberapa hubungan khusus. Jika kita berbuat seperti itu, kita merendahkan standar kebenaran Allah. Maksud saya bukan perihal membicarakan non-kebenaran. Kita harus belajar menjunjung kemutlakan kebenaran. Kita tidak dapat kehilangan kemutlakannya hanya karena seseorang itu adalah kerabat kita. Kita di sini untuk mengikuti kebenaran, bukan manusia dan kita di sini untuk menjaga kemutlakan kebenaran.

Banyak kesulitan muncul di dalam gereja hari ini karena anak-anak Allah mengorbankan kebenaran. Sebuah gereja lokal menjadi terpecah-belah setelash seorang saudara berkata, "Saya tidak bermaksud terpecah dari Anda, tetapi sesuatu terjadi semalam dan saya tidak diberi tahu. Sejak hari ini saya tidak akan lagi menermui Anda." Kebenaran adalah mutlak. Jika tindakan memisahkan diri saudara itu benar, ia harus tetap melakukannya meskipun ia sudah diberi tahu masalahnya. Sama halnya jika tindakan memisahkan diri saudara itu salah, ia seharusnya tidak melakukannya meskipun ia tidak diberi tahu masalahnya. Jika ia mutlak bagi kebenaran, tindakan memberi tahu dia tidak berarti apa-apa. Jika tindakannya memisahkan diri didasarkan pada kurangnya pemberitahuan, maka manusia telah diletakkkan di atas kebenaran. Tempat lain ingin memiliki meja yang terpisah dan memecahkan roti terpisah karena seorang saudara tersinggung ketika ia bertanya di dalam sidang dan tidak menerima jawaban. Jika tindakan memisahkan dirinya itu benar, ia seharusnya lebih awal lagi memulai meja yang lain lagi. Jika tindakan memisahkan dirinya salah, ia seharusnya tidak membuat alasan karena tidak menerima jawaban atas pertanyaannya. Inilah maknanya mutlak bagi kebenaran. Jika memiliki meja yang terpisah tidak sesuai dengan kebenaran, seharusnya tidak boleh ada meja yang terpisah, bahkan jika terjadi pelanggaran-pelanggaran. Saudara saudari, sudahkah Anda melihat hal ini? Kita harus menyangkal semua bentuk diri agar dapat melayani Tuhan. Jika terdapat kesombongan, keegoisan, atau pikiran untuk menerima perlakuan hormat sebagai syarat untuk menjunjung Firman Allah, kita sedang meletakkan diri kita di atas kebenaran Allah. Ini mendiskualifikasikan kita dari pelayanan-Nya. Dalam pelayanan bagi Tuhan, kita harus dengan mutlak menyangkal diri kita. Entah kita suka atau tidak apa yang sedang terjadi dan entah kita merasa terluka atau tidak karena suatu hal yang tidak berhubungan dengan pokok permasalahan. Jika sesuatu harus dilakukan dengan cara tertentu, ia harus dilakukan demikian, tidak peduli perasaan kita bagaimana. Bahkan jika kita sangat menderita karena melakukannya, kita masih harus melakukannya. Bahkan jika orang lain salah memperlakukan kita, meremehkan kita, atau memandang kita tidak berharga, kita masih harus melakukannya. Kita tidak dapat memakai kebenaran Allah seturut kehendak kita hanya karena kita ingin bertindak demikian. Manusia terlalu berani; ia selalu memaksakan kebenaran Allah mengikuti dia.

Kita harus melihat kemuliaan kebenaran Allah. Kita tidak dapat memasukkan perasaan kita ke dalam kebenaran-Nya. Ketika kita berdiri di pihak kebenaran Allah, kita seharusnya tidak hanya sekadar memandang diri kita lebih kecil daripadanya; kita seharusnya memandang diri kita tidak ada. Jika kita melibatkan diri kita sedikit saja, kita akan segera berakhir dengan kesulitan. Seorang saudara yang telah dikritik di beberapa tempat, datang ke gereja dan merasa sangat gembira akan kontak yang telah ia buat. Ia merasa bahwa di tempat dari mana ia berasal, ia telah dikritik dengan tidak adil, tetapi ia tidak benar-benar menjamah kebenaran di hadapan Tuhan. Ia hanya sekadar terkesan dengan beberapa saudara. Saudara seperti ini sangat tidak disiplin dalamtindakannya. Beberapa waktu kemudian saudara lain berkata kepadanya, "Saudara, Anda terlalu kendor," dan ia kemudian menunjukkan hal-hal yang telah dilakukan saudara baru ini. Ini adalah pembicaraan kebenaran dalam kasih. Namun ketika saudara baru ini mendengarnya, ia pergi dengan penuh amarah, "Tidak heran banyak orang menentang gereja ini. Memang sudah seharusnya dikritk." Saudara saudari, saudara ini tidak mutlak bagi kebenaran. Jika ia mutlak bagi kebenaran, ia tidak akan berkata demikian ketika ia ditegur orang lain. Karena ia tidak mutlak bagi kebenaran, ia mengubah nada suaranya begitu ia ditegur.

Apakah makna mutlak bagi kebenaran? Berarti mengenyampingkan perasaan, mengabaikan hubungan pribadi, dan tidak berdiri di atas diri sendiri. Kebenaran adalah mutlak. Perasaan, hubungan, pengalaman dan pendapat kita seharusnya tidak dicampuradukkan. Karena kebenaran adalah mutlak, apa yang benar adalah benar dan apa yang tidak benar adalah salah. Ada seorang saudara yang merupakan pemimpin di banyak tempat. Ia telah menerima jalan kita dan telah memutuskan untuk berdiri bagi kesaksian gereja. Jika jalan yang kita tempuh benar, maka ia selalu benar; ia tidak menjadi benar karena saudara ini menerima jalan ini. Jika jalan yang kita tempuh salah, ia tidak bisa dibenarkan hanya karena saudara ini menerima jalan ini. Entah jalan ini benar atau tidak, tidak berhubungan dengan saudara ini. Meskipun jika saudara ini jatuh, jalannya tetap benar karena kebenaran adalah mutlak. Namun, banyak orang yang matanya tertuju kepada saudara ini. Mereka berpikir bahwa jika saudara ini benar, jalan yang ia pilih tentu benar juga, dan jika saudara ini salah, jalan yang ia pilih tentunya salah juga. Mata mereka berada pada kebenaran atau pada orangnya? Ini bukan berarti kita boleh ceroboh. Kita seharusnya tidak boleh ceroboh; kita seharusnya menjunjung kesaksian Allah. Inilah faktanya. Namun pada saat yang bersamaan, entah jalan ini adalah jalan yang benar adalah berdasarkan kebenaran, bukan manusia. Apakah ini berarti ketika orang Kristen lain berdosa maka kita bukan lagi orang Kristen? Apakah ini berarti ketika anak-anak Allah yang lain jatuh maka kita bukan lagi anak-anak Allah? Apakah ini berarti bahwa ketika banyak anak Allah kehilangan kesaksian mereka maka kita bukan lagi kaum beriman? Tidak. Saudara saudari, kebenaran adalah mutlak. Bahkan jika banyak orang Kristen telah gagal, Tuhan masih layak kita percayai, dan kita masih harus percaya dalam-Nya. Bahkan jika banyak anak Allah telah berdosa, kita tetap anak-anak Allah; tidak ada perubahan. Ini bukan berarti bahwa anak-anak Allah memiliki izin untuk berbuat dosa atau bahwa orang-orang Kristen memiliki izin untuk gagal. Bagaimanapun juga ini berarti bahwa kebenaran adalah mutlak. Jika percaya dalam Tuhan itu benar, kita seharusnya menjadi orang Kristen meskipun semua orang telah jatuh. Masalahnya bukan apa yang dilakukan orang lain. Masalahnya adalah apakah sesuatu itu adalah kebenaran. Banyak perpecahan dalam gereja, banyak masalah dalam pekerjaan dan banyak sengketa di antara para pekerja akan hilang bila hubungan, perasaan, dan masalah pribadi dikesampingkan.

Perkara mutlak bagi kebenaran bukanlah hal kecil. Kita tidak dapat acuh tak acuh terhadap hal ini. Jika kita kendor dalam hal ini, kita akan kendor dalam segala sesuatu. Untuk menjunjung kebenaran, kita harus dengan mutlak mengabaikan diri sendiri. Jika kita memiliki hati dan kebiasaan yang demikian terhadap kebenaran, cepat atau lambat kita akan menghadapi masalah. Beberapa saudara berkata, "Saya berterima kasih kepada Allah yang telah membawa saya ke sidang ini. Saya telah menerima banyak bantuan." Ini tidak berarti bahwa saudara ini mutlak bagi kebenaran. Ia mungkin hanya secara emosional terpikat pada tempat ini. Namu kebenaran adalah mutlak. Jika tempat ini benar, maka ia benar. Jika salah, berarti salah. Ia tidak dapat menjadi hanya karena hal ini baik untuknya, dan salah karena hal ini tidak baik untuknya. Jika pembenaran tempat ini tergantung pada perlakuan yang diterimanya, ia pastilah merupakan hal yang terpenting di seluruh dunia ini! Kebenaran tidak penting buatnya; dirinyalah yang terpenting! Ia tidak mutlak bagi kebenaran. Di sinilah penyebab timbulnya banyak masalah. Allah menuntut supaya kita ditanggulangi sedemikian rupa sehingga kita mengesampingkan diri dan perasaan kita sendiri dalam segala sesuatu. Tidak terlalu bermasalah apakah kita merasa gembira atau terluka. Tujuan kita seharusnya tidak pernah dipengaruhi oleh perasaan pribadi kita sendiri. Jika Allah berkata itu benar, maka itu benar. Jika Allah berkata itu salah, maka itu salah. Jika Allah berkata bahwa jalan ini benar, kita harus menempuh jalan ini bahkan jika setiap orang menolak menerimanya. Kebenaran itu mutlak dan tidak ada manusia yang dapat mempengaruhi kita dengan cara apapun. Jika kita membawa elemen pertimbangan manusia, kita telah membuat manusia lebih besar daripada kebenaran.

Semua penghakiman berdasarkan kebenaran, bukan individual. Setiap kali dasar penghakiman didasarkan atas individu, maka kita telah berkompromi dengan jalan Allah dan kebenaran-Nya. Dasar penghakiman adalah Firman Allah; pondasinya adalah kebenaran. Kita seharusnya bertindak dengan cara yang sama, entah orang lain memperlakukan kita dengan baik atau tidak. Ketika kita menghadapi sebuah situasi, kita harus bertanya bagaimanakah kebenaran Allah, bukan perasaan kita. Penghakiman dan perasaan pribadi seharusnya tidak pernah masuk ke dalam pekerjaan Allah. Jika kebenaran memberi tahu kita bahwa kita seharusnya sepenuhnya memisahkan diri kita, kita seharusnya memutuskan tali persaudaraan dengan teman-teman terakrab kita. Kita mungkin telah makan bersama dan hidup bersama setiap hari di masa lampau. Namun ketika kemutlakan dari kebenaran memanggil untuk pemisahan, kita seharusnya patuh. Kasih sayang manusia seharusnya tidak memiliki tempat. Jika kebenaran mendikte bahwa kita seharusnya tidak memisahkan diri, kita tidak dapat memisahkan diri bahkan jika kita berdebat satu sama lain dan menjengkelkan satu sama lain setiap hari. Jika kita bersama-sama hanya sekadar alasan pribadi, kita tidak mengenal apakah kebenaran itu, dan kita tidak dapat maju.

Saudara saudari, ini adalah masalah yang sangat mendasar. Jalan di depan kita sangat berhubungan dengan penanggulangan yang kita terima dari Tuhan. Jika kita memusatkan diri kepada betapa besar dan pentingnya diri kita, kebenaran akan dikorbankan. Agar dapat menjunjung kebenaran Allah, diri kita harus pergi; kita harus mengesampingkan diri sendiri. Kita semua memiliki temperamen dan perasaan sendiri. Kita tidak dapat mengubah kebenaran Allah karena temperamen dan perasaan kita. Tidak ada pelayan Allah yang dapat berkompromi atau mengorbankan kebenaran Allah demi kenyamanannya sendiri. Jika kita menganggap kebenaran Allah begitu rendahnya, kita tidak memiliki masa depan rohani dengan Allah. Ketika seorang hakim memimpin sidang di pengadilan, ia harus mutlak bagi hukum. Suatu kejahatan harus dinyatakan sebagai kejahatan, dan orang yang tidak bersalah harus dinyatakan tidak bersalah. Hakim tidak dapat menyatakan seorang penjahat tidak bersalah hanya karena ia adalah saudara atau temannya. Jika demikian, maka akan terjadi kekacauan. Hukum itu mutlak, dan perasaan pribadi tidak dapat dimasukkan sebagai bahan pertimbangan. Sungguh buruk jika seorang terdakwa diputuskan bersalah hanya karena seorang hakim kebetulan adalah musuhnya. Seorang hakim harus menjunjung hukum. Kita harus percaya dalam Allah, melayani-Nya, dan menjunjung kebenaran-Nya. Perasaan pribadi kita tidak bisa masuk. Saya berharap kita akan mengingat bahwa segala perasaan pribadi kita semua harus disangkal. Kita semua harus ditanggulangi oleh Tuhan. Kita semua harus berkata kepada-Nya, "Tuhan, aku bukan siapa-siapa, tetapi kebenaran-Mu adalah mutlak." Jika kita demikian, maka tidak ada lagi sengketa atau masalah di dalam pekerjaan. Satu keuntungan besar bagi para sekerja karena meninggikan kemutlakan kebenaran Allah adalah kebebasan besar yang akan mereka peroleh di antara mereka sendiri untuk berbicara dan bekerja. Segala hal akan dikerjakan sebagaimana mestinya dan tidak perlu lagi khawatir tentang reaksi orang lain. Jika kita semua melihat kemutlakan dari kebenaran Allah, kita hanya peduli pada satu hal, yaitu apakah sesuatu itu menurut kehendak dan keputusan Allah atau bukan. Jika ini menurut kehendak dan keputusan Allah, kita tidak akan takut. Tapi jika kita tidak mutlak bagi kebenaran, sulitlah bagi kita untuk maju. Ketika sesuatu terjadi, kita akan mempertimbangkan reaksi Saudara Wang, pikiran Saudara Chow, tindakan Saudara Liu. Karena ketiga orang ini memiliki temperamen yang berbeda, kita harus berkompromi sedikit di sini dan sedikit di sana. Ini buruk sekali. Kebenaran akan dikorbankan. Jika ini adalah jalan kita dalam melakukan segala hal, kita tidak akan mampu berkata banyak atau membuat keputusan, karena takut menyinggung manusia. Maslah akan berkembang di antara kita. Jika sekelompok orang hanya peduli pada kebenaran Allah dan juga menolak metode manusia, ini pasti akan menjadi berkat bagi sekelompok orang ini. Jika mereka mau dengan tegas menolak manipulasi dan diplomasi manusia, tidak berkompromi atau mengurangi ajaran melalui campur tangan manusia tetapi malahan melakukan hal-hal dengan ketat menurut kehendak Allah, kita dapat yakin bahwa sekelompok orang ini akan penuh dengan berkat Allah. Jika kita mampu menempuh jalan kebenaran yang mutlak di antara para sekerja, kita akan mampu mengatakan apa yang seharusnya kita katakan dan melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Jika tidak, maka akan terdapat banyak pertimbangan, diplomasi, dan perubahan, dan gereja akan berhenti sebagai gereja.

Mari kita tanggulangi perkara ini dengan teliti di hadapan Tuhan. Ini adalah perkara yang sangat penting dan serius. Ingatlah bahwa kita tidak memiliki tempat macam apapun bagi perasaan dan sentimen pribadi di dalam pekerjaan Tuhan. Bahkan jika sentimen pribadi kita dapat dengan positif mempengaruhi seseorang untuk menerima kebenaran, kita masih menjauhkan hal ini dari pekerjaan. Kita mungkin memperngaruhi seseorang untuk menerima kebenaran dengan mengundangnya makan malam, tetapi ini salah. Kebenaran itu mutlak. Dari dalam kebaikan hati kita mungkin ingin melakukan sesuatu untuk menjunjung kebenaran, tetapi kebenaran menuntut tidak adanya campur tangan manusia untuk menjunjungnya. Ia memiliki kedudukannya sendiri, otoritasnya sendiri, dan kuasanya sendiri, dan tidak perlu ada campur tangan manusia utnuk menjunjungnya. Kita tidak perlu mengulurkan tangan kepada kebenaran. Kita hanya perlu belajar menghormati kebenaran Allah, menempuh jalan kebenaran, dan tidak berkompromi dengan kebenaran dengan cara apapun.

DUA

Seorang pekerja Tuhan juga harus memperhatikan tubuhnya. Kita tahu bahwa Paulus adalah seorang saudara yang sangat berkarunia, dan ia berulang kali berdoa bagi kesembuhan orang lain. namun ia berbicara tentang tiga orang yang tidak pernah disembuhkan - Trofimus, Timotius, dan dirinya sendiri. Ketika Trofimus sakit, Paulus tidak ebdoa abgi kesembuhannya juga tidak melakukan karunia penyembuhan. Ia malahan berkata, "Erastus tinggal di Korintus dan Trifomus kutinggalkan dalam keadaan sakit di Miletus." Sedangkan pada Timotius, yang menderita sakit lambung dan sering sakit (1 Tim. 5:23). Paulus tidak mempraktekkan karunianya atau berdoa bagi kesembuhan Timotius. Ia menyembuhkan banyak orang. Tentunya sangat beralasan bila kita menyimpulkan bahwa karena banyak orang sudah disembuhkan, ia juga seharusnya menyembuhkan Timotius. Timotius adalah penerus pekerjaan Paulus, dan ia sungguh luar biasa. Namun Paulus tidak menyembuhkan Timotius. Penyakitnya ada di tangan Allah; bukan di tangan Paulus. Apa yang ia katakan? Ia berkata, "Janganlah lagi minum air saja, melainkan tambahkanlah anggur sedikit, berhubung pencernaanmu terganggu dan tubuhmu sering lemah" (1 Tim. 5:23). Dengan kata lain, Timotius perlu merawat kesehatannya. Ia perlu melakukan perawatan - makan apa yang baik untuknya dan tidak makan apa yang tidak baik baginya, menerima apa saja yang dapat meredakan sakit lambungnya dan menghindari hal-hal yang dapat memicu penyakitnya. Inilah perkataan Paulus kepada Timotius. Sedangkan terhadap diri Paulus sendiri, ia berbicara tentang diri dalam dagingnya, yang sudah didoakannya kepada Tuhan selama tiga kali. Namun Tuhan tidak menyembuhkan dia. Ia malahan berkata, "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu" (2 Kor. 12:9). Penyakit Trofimus tidak berlalu, penyakit Timotius tidak berlalu, dan duri dalam daging Paulus tetap ada; penyakit mereka tidak disembuhkan. Atas diri Paulus, kita tidak melihat "batu karang yang meremukkan" dipindahkan. Namun kita melihat perahunya masih berlayar. Meskipun batu karang - penyakitnya - masih ada, Allah menaikkan tinggi airnya, dan perahunya mampu meluncur di atas batu karang yang menghambatnya tanpa menderita kerusakan sedikit pun. Inilah kesaksian Paulus.

Saudara saudari, dibutuhkan latihan sepuluh atau dua puluh tahun di tangan Allah agar seseorang dapat berguna di tangan-Nya. Jika kita ingin berlari di jalur yang benar dan menjadi matang di dalam Tuhan, paling sedikit kita perlu sepuluh atau dua puluh tahun latihan. namun beberapa orang yang tidak merawat kesehatan tubuh mereka dengan tepat mungkin meninggal sebelum mereka mencapai tujuan. Ini sungguh amat disayangkan. Beberapa orang tidak mulai berlari sampai mereka berada di dalam Tuhan selama dua puluh atau tiga puluh tahun. kemudian mereka menjamah jalan yang tepat, dan kegunaan mereka mulai bermekaran. Gereja seharusnya tidak hanya memiliki anak-anak dan para pemuda, tetapi juga para ayah. Semua orang berhasrat melayani Tuhan seharusnya memandang hal ini sebagai suatu pemborosan besar jika seorang saudara atau saudari meninggal terlalu dini setelah menghabiskan bertahun-tahun dan banyak usaha untuk mempelajari sesuatu! Kita tahu bahwa beberapa bejana sudah pecah dan rusak di tengah perjalanan selama proses. Ini sungguh malang. Ini seperti pembicaraan Yeremia mengenai bejana di tangan tukang periuk yang rusak. Ketika tukang periuk memutar roda dan membentuk bejananya, beberapa bejana mungkin rusak bahkan sebelum dibakar. Mereka bahkan tidak melampaui tahap pembentukan. Ini adalah suatu kerugian. Gereja sudah mengalami kerugian dari mereka yang gagal melewati ujian dan pencobaan. Jika Tuhan membelaskasihani kita, kita dapat dihindarkan dari kerusakan, pecah, dan remuk sedemikian. Tuhan mungkin meletakkan lebih banyak salib untuk kita, dan maksud-Nya mungkin supaya kita lebih berguna di tahun-tahun mendatang. Dibutuhkan banyak waktu bagi Tuhan untuk melengkapi pencobaan di dalam kita. Beberapa pencobaan membutuhkan setahun atau bahkan beberapa tahun baru rampung. Seorang anak Allah mungkin tidak memiliki banyak kesempatan untuk melalui banyak pencobaan sepanjang hidupnya. Kita hanya dapat mengalami beberapa pencobaan saja. Banyak orang remuk begitu sebuah pencobaan datang. Sungguh menyedihkan juga merugikan, bila sebuah pencobaan tidak menghasilkan sesuatu sesuai yang diinginkan. Dengan berlalunya waktu, tahun demi tahun dan dekade demi dekade, berapa banyak anak-anak Allah terpelihara dengan selamat sampai ke tepian pencobaan mereka? Kita terpaksa berkata bahwa tidak banyak yang terpelihara. Jangan mengira ini adalah hal yang sederhana. Terlalu banyak orang yang telah jatuh ke pinggir jalan! Dari enam ratus ribu jiwa dari orang Israel, hanya dua yang memasuki Kanaan hidup-hidup (Yosua dan Kaleb), dan dua orang mati yang memasuki Kanaan (Yakub dan Yusuf). Jadi hanya ada sedikit yang selamat dan berhasil. Sungguh mengenaskan bahwa pada waktu pencobaan hampir selesai, mereka satu demi satu mati! Jika ini merupakan kehendak Tuhan supaya kita meninggal lebih awal, kita tidak bisa berkata apa-apa. Namun jika kita meninggal karena kita mengabaikan kesehatan kita, kita merugikan pekerjaan Allah. Jika gereja hendak kaya, ia harus memiliki saudara-saudara yang berada di usia tujuh puluhan, delapan puluhan, dan bahkan sembilan puluh tahun. Jika Tuhan menetapkan satu atau dua orang dari antara mereka menghadap-Nya lebih awal, kita tidak bisa mengatakan apa-apa. Namun jika kita ingin berguna dalam pekerjaan, kita harus menggunakan waktu merawat tubuh kita. Kita tidak boleh ceroboh. Sangat disayangkan jika seorang pekerja telah mencapai akhir hari-harinya pada saat ia baru saja selesai dilatih dengan baik! Sungguh disayangkan bila seseorang jatuh justru pada saat ia ampir menyelesaikan latihannya. Jika semua pekerja Tuhan bertindak demikian, pekerjaannya tidak dapat maju. Sungguh kasihan bila tubuh ini rusak sebelum pekerjaannya sempat dimulai, atau ketika seseorang meninggal sebelum dia sempat digunakan!

Saudara saudari, kita seharusya tidak memiliki konsep bahwa kita boleh mengabaikan tubuh kita. Memang benar kita perlu memiliki pikiran untuk menderita dan kita perlu menguasai tubuh kita dan meletakkannya di bawah penguasaan kita. Namun kita juga harus merawat kesehatan kita jika memungkinkan. Memang mudah untuk menjadi kendor, dan sulit untuk melakukan perawatan. Kita harus belajar memakan makanan yang sehat dan merawat tubuh kita dengan segala cara yang memungkinkan. Ketika Tuhan memiliki amanat dan terdapat keperluan akan pekerjaan, kita harus mengorbankan diri kita. Tidak ada sesuatu yang dapat kita katakan mengenai hal ini. Namun pada saat yang bersamaan, kita harus menggunakan segala sarana yang tersedia bagi kita untuk merawat tubuh kita. Kita harus ingat bahwa kerugian satu orang adalah kerugian sepuluh atau dua puluh tahun dari latihan Tuhan. Tidak terdapat banyak periode sepuluh atau dua puluh tahun di sepanjang hidup kita. Banyak orang kelihatannya berguna dan berkarunia ketika memulai pelayanan mereka bagi Tuhan, namun juga sulit mengatakan bahwa mereka akan memiliki kegunaan dalam ministri. Dibutuhkan paling tidak sepuluh atau dua puluh tahun lagi agar seseorang dapat menjadi berguna di dalam ministri. Seseorang sering kali harus mengunggu sepuluh atau dua puluh tahun agar bisa berguna di dalam ministri. Seseorang sering kali harus menunggu sepuluh atau dua puluh tahun agar ia dapat bernilai dan berharga. Menjadi benar-benar berharga adalah sesuatu yang terjadi sepuluh atau dua puluh tahun kemudian, dan kita hanya membicarakan mereka yang berlari pada jalur yang benar. Jika jalurnya tidak lurus, bahkan sepuluh atau dua puluh tahun kemudian mungkin tidak menghasilkan buah apapun. Bukanlah hal yang sederhana untuk membangkitkan seseorang dalam dua puluh tahun. Allah harus memukul dia dan mengukirnya beberapa kali agar ia dapat melampaui ujian. Ia harus menempuh penderitaan tahun demi tahun, bukan hanya beberapa tahun, tetapi dua puluh tahun, memikul salib selama dua puluh tahun, agar ia dapat berguna bagi Allah. Betapa sulitnya tugas ini! Namun jika seseorang tidak merawat tubuhnya dengan baik, ia mungkin sudah meninggal ketika ia baru saja mulai berguna. Hal ini sungguh disayangkan dan merupakan kerugian besar.

Sekali waktu seorang saudara tua pernah ditanya, "Menurut Anda, kapankah masa paling produktif dari hidup Anda?" Ia berpikir sebentar dan kemudan menjawab, "Antara tujuh puluh dan delapan puluh tahun." Memang, kegunaan rohani bertumbuh seiring bertambahnya umur. Semakin dalam kita berada di jalan pelayanan Allah, semakin berguna pula kita. Kita telah melihat banyak orang yang telah hancur, remuk, rusak, atau terbukti hanya sedikit sekali berguna di jalan ini. Kita telah melihat beberapa orang yang fungsinya bermekaran hanya sedikit saja. Beberapa orang akan terbukti berguna setelah dua puluh atau tiga puluh tahun kemudian. Namun pada waktu itu mereka mungkin sudah siap-siap berangkat dari dunia! Sungguh mengenaskan bila seseorang meninggal justru pada saat ia baru mulai menjadi berguna! Semakin banyak pelajaran yang diterima oleh seseorang di hadapan Tuhan, semakin bergunalah ia. Sungguh merupakan kerugian besar kalau orang-orang demikian wafat. Dalam merawat kesehatan kita, ada banyak pantangan yang harus kita terima, banyak hal-hal yang perlu kita perhatikan. Kita setuju bahwa kita perlu pikiran untuk menderita, dan pikiran seperti ini tidak bisa ditawar-tawar. Sering kali ketika kita berada di dalam situasi yang sulit, kita harus belajar luwes. Namun, jika memungkinkan, kita harus belajar merawat tubuh kita dan seharusnya tidak kendor atau ceroboh terhadap kesehatan kita sendiri.

Pekerja-pekerja Tuhan seharusnya tidak makan demi selera tetapi demi gizi. Kita seharusnya makan makanan yang memiliki nilai gizi tinggi dan seharusnya makan sedikit atau bahkan tidak sama sekali makanan yang hanya memiliki nilai nutrisi rendah. Ketika tiba waktunya beristirahat, kita seharusnya belajar beristirahat. Kita sudah memiliki cukup tekanan atas diri kita. Jika kita tidak tahu bagaimana beristirahat, tubuh kita tidak akan diredakan dari ketegangan. Jika stress kita tidak dapat diredakan ketika kita berbaring di tempat tidur, apa gunanya tidur? Tidak ada artinya. Namun banyak orang tidak beristirahat ketika mereka duduk, karena mereka terus tertekan dan dan tegang. Seorang pekerja Tuhan seharusnya cukup kuat memikul tekanan ketika keadaan menentukan demikian. Sering kali tekanan dapat menjadi begitu kuat seperti api. Namun ketika kita menemukan waktu senggang, kita seharusnya beristirahat. Siapapun mustahil bisa tegang sepanjang waktu. Kita harus belajar santai.

Saudara saudari, ketika kita senggang, kita harus belajar melemaskan otot-otot kita. Sewaktu kita tidur, kita harus belajar melemaskan otot-otot kita, semua keseimbangan tubuh kita seharusnya santai. Kita seharusnya mampu memperbesar kapasitas kita bila terdapat keperluan untuk itu, dan bila kita melakukannya, kita seharusnya mampu menangani lebih banyak stress daripada orang terkuat manapun. Tubuh kita harus mematuhi kita. Namun kita tidak dapat berada di bawah stress terus menerus. Otot-otot dan saraf kita sering kali perlu relaksasi dan istirahat; kita harus mencari kesempatan untuk membiarkan tubuh kita beristirahat. Ini adalah cara tubuh menyeimbangkan dirinya. Jika kita tidak mendapatkan waktu untuk beristirahat, kita akan memaksa diri kita melampaui batas dan menjadi ekstrim. Kita bukanlah orang-orang yang ekstrim. Saudara saudari, kita harus belajar mempercayai Tuhan atas tubuh kita, namun pada saat yang bersamaan kita harus mengizinkan hukum alam dan beristrihat. Ini adalah pelajaran yang sangat dasar. Kita harus belajar merelakan. Jika kita belajar merelakan, kita akan menemukan diri kita lebih cepat beristirahat dan tidur. Orang-orang yang berpengalaman telah mengatakan bahwa menghitung nafas dapat membantu seseorang tidur. Ketika kita terlelap, nafas kita dalam. Mungkin tidak mudah mengontrol tidur kita, tetapi mengontrol nafas kita itu mudah. Kita dapat menghitung berapa kali kita bernafas, dan jangan bernafas dengan cepat, perlahan-lahan saja. Kita dapat belajar menyesuaikan nafas kita dengan irama nafas sewaktu tidur. Pikiran kita seharusnya tidak tertuju pada tidur itu tetapi pada pernafasan, menghitung jumlah nafasnya. Pertama, kita mengendalikan pernafasan kita sesuai kecepatan pada waktu kita tidur. Sejenak kemudian, kita akan jatuh tertidur. Banyak orang bisa tidur dengan metode ini. Dalam tidur kita bernafas dengan pelan dan dalam. Dengan mengontrol nafas kita, membuatnya pelan dan dalam, kita dapat membuat diri kita tertidur. Kita sering kali hanya perlu menghitung sampai beberapa ratus kali dan kemudian kita terlelap. Kita harus percaya bahwa tubuh yang Allah ciptakan bagi kita cukup baik untuk bisa tidur. Kita harus percaya dalam Allah, dan kita juga harus percaya hukum Allah dalam ciptaan-Nya. Allah telah menciptakan tubuh bagi kita supaya kita bisa tidur dan kita harus mampu tidur. Kita harus mencoba membuat seluruh tubuh kita santai. Ini akan membuat kita beristirahat. Jika kita tidak mampu beristirahat, kita akan terus berada di bawah tekanan siang dan malam. Keadaan seperti ini tidak bisa mendukung kita menyelesaikan banyak hal. Kita mungkin sakit; kita mungkin dibelenggu sedikit oleh penyakit, tetapi jika kita merawat tubuh kita lebih telaten lagi, kita akan menyelamatkan diri kita dari banyak kekhawatiran.

Hal yang sama juga dapat berlaku dalam hal makan. Kita seharusnya tidak makan berlebihan, dan seharusnya tidak terlalu terbatas dalam ragam makanan yang kita makan. Kita seharusnya belajar memakan segala jenis makanan. Beberapa saudara saudari tidak dapat makan ini dan itu dan banyak hal lain lagi. Tidak terlalu banyak makanan yang bisa mereka makan; ini bukanlah kebiasaan yang sehat. Kita harus belajar memakan beraneka ragam makanan. Banyak makanan yang dapat menyediakan zat yang diperlukan tubuh kita. Jika kita hanya makan beberapa jenis makanan saja, kita tidak merawat tubuh kita dengan baik. Kita mungkin merasa sekarang kita tidak kekurangan gizii, tetapi ketika memasuki usia tiga puluh atau empat puluh tahun, barulah kekurangan akan gizi tertentu menjadi nyata. Kesehatan kita rusak dan hidup kita menjadi pendek. Hidup kita ditentukan oleh apa yang kita makan. Inilah sebabnya kita harus belajar makan beraneka ragam makanan. Keuntungan lain memakan beraneka ragam makanan adalah bahwa kita tidak akan merasa tidak nyaman ketika kita diutus keluar dalam rangka pekerjaan. Mereka yang tidak dapat menyesuaikan diri dengan aneka ragam makanan tidak akan dapat bertoleransi dengan banyak hal ketika mereka berada di lapangan. Mereka tidak dapat makan makanan yang terlalu dingin atau terlalu panas. Mereka akan menghadapi banyak kesulitan. Lain halnya jika kita sakit, kita harus merawat kesehatan kita. Namun dalam keadaan biasa, kita sebisa mungkin harus belajar makan aneka ragam makanan. Tuhan Yesus berkata, "Makanlah apa yang dihidangkan kepadamu" (Lukas 10:8). Ini adalah pedoman yang baik. Sekali waktu seorang kaum beriman pernah bertanya kepada kaum beriman lainnya di atas kapal, "Mengapa Tuhan Yesus memberikan roti dan ikan kepada orang banyak?" Yang lainnya menjawab, "Kekayaan laut plus kekayaan darat." Ini adalah jawaban yang sangat baik. Anak-anak Allah seharusnya belajar menerima semua kekayaan laut dan kekayaan darat. Cakupan makanan yng kita makan seharusnya luas: jenisnya harus sangat beraneka ragam. Saudara saudari, jangan menganggap ini adalah perkara kecil. Jika kita tidak mengendalikan diri dan mendisiplin diri kita sendiri dalam perkara ini, tubuh kita akan menderita. Kita harus menjadikan tubuh kita budak. Pada mulanya kita mungkin menemukan kesulitan; kita mungkin menemukan makanan tertentu ternyata tidak sesuai dengan selera ktia. Namun kita harus berdisplin dengan memaksa diri memakannya. Di satu sisi, kita harus memiliki pikiran untuk menderita. Di sisi lain, kita harus belajar merawat tubuh kita. Kita harus mampu menderita kesukaran. Ketika kesukaran datang, kita harus siap mengorbankan seluruh diri kita. Beberapa saudara takut akan kesukaran; mereka tidak dapat menerima ini dan itu dan banyak hal lain lagi. Orang-orang seperti ini tidak berguna di tangan Allah. Demikian pula kita tidak bersimpati terhadap saudara saudari yang tidak merawat tubuh mereka sendiri. Saudara saudari, sadar akan kesehatan lebih sulit daripada tidak sadar akan kesehatan. Jangan mengira membicarakan kesehatan itu mudah. Untuk dapat merawat tubuh kita, kita harus belajar mengontrol diri. Seseorang harus melatih pengendalian diri agar ia bisa sehat. Kita harus belajar makan makanan yang bermanfaat bagi tubuh kita. Makanan kita tidak dapat ditentukan oleh selera tetapi ditentukan oleh apa yang diperlukan tubuh. Kita harus belajar merawat tubuh kita dengan baik dan menggunakannya dengan tepat. Kita tidak dapat membiarkan tubuh kita cepat rusak. Tuhan telah menghabiskan banyak tahun bekerja di atas diri kita; kita tidak dapat mengurus tubuh kita dengan sembarangan. Kita harus menjaga semua pantangan yang menimbulkan penyakit. Jika memungkinkan, dan jika Tuhan memang mengatur demikian, kita harus berusaha sebaik mungkin memenuhi tuntutan kesehatan yang baik dan makan makanan yang bermanfaat bagi tubuh kita. Kita seharusnya tidak mengekspos tubuh kita dengan resiko yang tidak perlu. Timotius dinasihati untuk minum sedikit anggur, karena ini berguna bagi kesehatannya. Jangan minum sesuatu yang merusak tubuh. Makanlah selalu apa yang bermanfaat bagi tubuh. Ini adalah masalah prinsip. Di satu sisi, kita harus menyangkal sayang diri dan setia sampai ke dalam maut. Di sisi lain, ketika kita tidak memikul tanggung jawab khusus dari Tuhan, kita seharusnya merawat tubuh kita dengan baik. Ketika kita pergi ke suatu tempat untuk bekerja, kita seharusnya menjaga kebersihan. Namun kita seharusnya tidak menjadi beban bagi saudara saudari lokal. Ketika lingkungan tidak sesuai dengan standar kebersihan yang selayaknya, kita harus bekerja memeprcayai Allah. Namun ketika lingkungan mengizinkan, kita harus mencoba sebaik mungkin merawat kebersihan. Ini akan menghindarkan tubuh kita dari kerusakan yang tidak perlu.

TIGA

Seorang pekerja Tuhan harus memperhatikan hal lain lagi - luwes dalam kehidupan sehari-hari. Pelayan-pelayan Allah tidak dapat menetapkan standar bagi diri mereka sendiri, memaksakan cara dan pandangan mereka sendiri. Jika kita ingin melayani Tuhan dengan tepat, kita harus menjaga satu prinsip; kita melakukan segala sesuatu menurut kitab suci dan dengan tidak menyandung siapapun. Dalam 1 Korintus 9:19-22, Paulus berkata, "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup dibawah hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup diluar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menajdi seperti orang yang lemah supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka." Demi Injil, Paulus menjadi segala-galanya bagi semua orang. Ini adalah karakter orang yang melayani Tuhan.

Filipi 4:12 berkata, "Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan." Manusia cenderung berputar dari satu ekstrim ke ekstrim lainya; ia cenderung menjadi ekstrim. Beberapa orang Kristen mengira satu-satunya hal yang benar adalah berkelimpahan dan dipenuhi. Orang lain justru sebaliknya; mereka mengira seseorang harus menderita kekurangan, papa, dan kelaparan. Namun Paulus berkata bahwa ia telah belajar apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Ia telah belajar dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Ia telah belajar segala sesuatu. Ia berkata, "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (ay. 13). Paulus luwes dalam hal-hal luaran dari hidup sehari-harinya. Entah perkara ini satu itu, ia dapat menerima segalanya.

Sayangnya, banyak saudara saudari sangat keras kepala. Kebiasaan hidup sehari-hari mereka tidak tersentuh dan tidak berubah. Beberapa orang harus bercukur setiap hari. Jika mereka berada dalam situasi yang tidak sesuai dengan kebiasaan mereka, mereka tidak akan mampu berfungsi. Ini mungkin hal-hal kecil, tetapi dapat menjadi hambatan bagi pekerjaan Tuhan. Mereka yang tetap tinggal dalam kebiasaan sehari-hari tidak dapat menjadi pelayan-pelayan Allah. Seorang pekerja Tuhan tidak boleh tidak seimbang. Ia dapat hidup dengan atau tanpa air panas, dengan atau tanpa bercukur selama beberapa hari, dengan atau tanpa kesempatan untuk mengganti kausnya selama beberapa hari. Ia dapat tidur di atas tempat tidur yang keras atau lunak. Ia seharusnya nyaman dalam setiap lingkungan di mana ia berada.

Bukan hanya kebiasaan sehari-hari yang seharusnya menjadi masalah bagi seorang pekerja, tetapi hal-hal lain seperti kepribadian dan usia juga tidak boleh menjadi rintangan baginya. Seandainya saja di suatu tempat orang-orangnya sangat hangat sementara di tempat lain orang-orangnya sangat dingin. Pelayan Allah seharusnya berfungsi sama baiknya di kedua tempat ini. Jika ia adalah orang yang dingin dan hanya dapat bekerja di antara orang-orang yang dingin, alih-alih di antara orang-orang yang hangat, ia didiskualifikasi dari pekerjaan. Beberapa orang hanya dapat bekerja dengan orang-orang yang hangat; mereka tidak dapat bekerja di antara orang-orang yang ceria. Semua restriksi ini menunjukkkan keterbatasan dalam pekerjaan Allah. Beberapa saudara hanya dapat melayani orang-orang yang tua; mereka tidak bisa berkata apa-apa ketika berada di antara anak-anak atau orang-orang yang lebih muda. Kepribadian yang tidak seimbang ini menghambat pekerjaan Allah. Tuhan kita menerima yang tua dan memberkati yang muda. Allah ingin kita menjadi seperti Tuhan, menerima yang tua dan memberkati yang muda. Madame Guyon pernah berkata bahwa seseorang yang berada dalam kesatuan total dengan Allah mampu menjadi penasihat bagi yang tua dan teman bagi yang muda. Ini adalah pelajaran yang harus kita terima.

Saudara saudari, hal ini kembali berkaitan dengan penanggulangan diri kita. Diri ini harus digosok sedemikian rupa sehingga kita dapat mengizinkan Allah menaruh kita dalam situasi apapun. Dengan cara ini kita tidak lagi tidak luwes dan tidak lagi pilih kasih terhadap siapapun. Paulus mampu menjadi segala sesuatu terhadap semua orang karena ia sepenuhnya terlatih oleh Tuhan. Semoga kita belajar ditanggulangi oleh Tuhan sehingga kebiasaan hidup sehari-hari dan kepribadian kita tidak menjadi kaku dan tidak bisa diubah. Semoga kita tidak menjadi ekstrim dan semoga kita tidak menghambat atau merusak pekerjaan Tuhan dengan cara apapun.

EMPAT

Seorang pekerja Tuhan juga harus memiliki pandangan yang tepat dan pemecahan yang pantas terhadap masalah kesucian dan pernikahan. Banyak orang menghindari pembicaraan ini. Namun ini adalah masalah penting bagi pekerja Tuhan dan kita harus membahasnya berdasarkan ajaran Alkitab.

Paulus menulis perkataan yang jelas mengenai perkara kesucian dalam 1 Korintus 7:25-35, "Sekarang tentang para gadis. Untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan, Tetap aku memberikan pendapatku sebagai seorang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah. Aku berpendapat, bahwa, mengingat waktu darurat sekarang, adalah baik bagi manusia untuk tetap dalam keadaannya. Adakah engkau terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mengusahakan perceraian! Adakah engkau tidak terikat pada seorang perempuan? Janganlah engkau mencari seorang! Tetapi, kalau engkau kawin, engkau tidak berdosa. Dan kalau seorang gadis kawin, ia tidak berbuat dosa. Tetapi orang-orang yang demikian akan ditimpa kesusahan badani dan aku mau menghindarkan kamu dari kesusahan itu. Saudara-saudara, inilah yang kumaksudkan, yaitu: waktu telah singkat! Karena itu dalam waktu yang masih sisa ini orang-orang yang beristri harus berlaku seolah-olah mereka tidak beristri; dan orang-orang yang menangis seolah-olah tidak menangis; dan orang-orang yang bergembira seolah-olah tidak bergembira; dan orang-orang yang membeli seolah-olah tidak memiliki apa yang mereka beli; pendeknya orang-orang yang mempergunakan barang-barang duniawi seolah-olah sama sekali tidak mempergunakannya. Sebab dunia seperti yang kita kenal sekarang akan berlalu. Aku ingin, supaya kamu hidup tanpa kekuatiran. Orang yang tidak beristri memusatkan perhatiannya pada perkara Tuhan, bagaimana Tuhan berkenan kepadanya. Orang yang beristri memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi bagaimana ia dapat menyenangkan istrinya, dan dengan demikian perhatiannya terbagi-bagi. Perempuan yang tidak bersuami dan anak-anak gadis memusatkan perhatian mereka pada perkara Tuhan, supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Tetapi perempuan yang bersuami memusatkan perhatiannya pada perkara duniawi, bagaimana ia dapat menyenangkan suaminya. Semuanya ini kukatakan untuk kepentingan kamu sendiri, bukan untuk menghalangi-halangi kamu dalam kebebasan kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu melakukan apa yang benar dan yang baik, dan melayani Tuhan tanpa gangguan." Ini memperlihatkan kepada kita keuntungan melajang. Seseorang dapat melayani Tuhan lebih rajin, sedikit gangguan, dan konsentrasi yang lebih besar dalam pekerjaan. Dalam hal ini, seseorang yang sudah menikah tidak dapat menyamai orang yang tidak menikah.

Namun tidak setiap orang mampu menerima perkataan ini. Kita harus memperhatikan ayat 36 sampai 40, "Tetapi jikalau seorang menyangka, bahwa ia tidak berlaku wajar terhadap gadisnya, jika gadisnya itu telah bertambah tua dan ia benar-benar merasa, bahwa mereka harus kawin, baiklah mereka kawin, kalau ia menghendakinya. Hal itu bukan dosa. Tetapi kalau ada seorang, yang tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya, telah mengambil keputusan untuk tidak kawin dengan gadisnya, ia berbuat baik. Jadi orang yang kawin dengan gadisnya berbuat baik, dan orang yang tidak kawin dengan gadisnya berbuat lebih baik, isteri terikat selama suaminya hidup. Kalau suaminya telah meniggal, ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya. Tetapi menurut pendapatku, ia lebih berbahagia, kalau ia tetap tinggal dalam keadaannya. Dan aku berpendapat, bahwa aku juga mempunyai Roh Allah." Ini cukup jelas. Jika seseorang berpikir bahwa tetap melajang itu salah dan kejayaan masa mudanya sudah lewat, dan memang sudah seharusnya bertindak demikian, ia boleh saja bertindak seperti yang dikehendakinya. Ini sepenuhnya merupakan hak seseorang entah ia mau tetap melajang atau tidak; orang lain tidak dapat membuat keputusan untuknya. Tentunya, untuk dapat tetap melajang dan semakin memiliki ketetapan dalam hatinya, ia harus "tidak dipaksa untuk berbuat demikian, benar-benar yakin dalam hatinya dan benar-benar menguasai kemauannya." Yang terutama adalah apa yang ditetapkannya berasal dari dasar hatinya sendiri.

Bacalah kembali Matius 19:10-12, "Murid-murid itu berkata kepada-Nya: "Jika demikian halnya hubungan antara suami dan istri, lebih baik jangan kawin." Akan tetapi Ia berkata kepada mereka: "Tidak semua orang dapat mengerti perkataan itu, hanya mereka yang dikaruniai saja. Ada orang yang tidak dapat kawin karena ia memang lahir demikian oleh orang lain, dan ada orang yang membuat dirinya demikian karena kemauannya sendiri oleh karena Kerajaan Surga. Siapa yang dapat mengerti hendaklah ia mengerti." Jika kita menggabungkan bagian akhir ayat 11 dengan bagian akhir ayat 12, "Hanya mereka yang dikaruniai saja...siapa yang dapat menerima hendaklah ia menerimanya (TL)." Jelaslah bagi kita bahwa keadaan tetap melajang diberikan kepada mereka yang dapat menerimanya.

Untuk dapat menghindari gangguan dan memiliki waktu yang layak untuk melayani Tuhan dengan rajin, memang sebaiknya Anda tetap melajang. Di antara murid-murid Tuhan, Yohanes tetap melajang. Kemudian Paulus juga tetap melajang. Namun jika seseorang perlu menikah, ia dapat melakukannya. Menikah bukanlah dosa. Perbedaan antara yang melajang dengan yang menikah tidak berhubungan dengan dosa. Ini adalah perkara waktu, kerajinan, dan gangguan.

Pernikahan itu kudus, karena tubuh diciptakan Allah, begitu pula semua kebutuhan tubuh. Inilah sebabnya pernikahan itu kudus. Namun setiap tuntutan yang dimiliki manusia di luar pernikahan adalah dosa. Mengapa manusia harus menikah? Ini adalah untuk menghindari hubungan luar nikah. Maka, pernikahan bukanlah dosa. Sebaliknya, ia mencegah dosa. Pernikahan bukanlah kejatuhan. Sebaliknya, ia dibentuk untuk mencegah kejatuhan.

Paulus menjelaskannya dalam 1 Korintus 7:1-9, "Dan sekarang tentang hal-hal yang kamu tuliskan kepadaku. Adalah baik bagi laki-laki, kalau ia tidak kawin, tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai istrinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap istrinya, demikian pula istrinya terhadap suaminya. Istri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi istrinya. Janganlah kamu saling menjauhi, kecuali dengan persetujuan bersama untuk sementara waktu, supaya kamu mendapat kesempatan untuk berdoa. Sesudah itu hendaklah kamu kembali hidup bersama-sama, supaya Iblis jangan menggodai kamu, karena kamu tidak tahan bertarak. Hal ini kukatakan kepadamu sebagai kelonggaran, bukan sebagai perintah. Namun demikian alangkah baiknya, kalau semua orang seperti aku; tetapi setiap orang menerima dari Allah karunianya yang khas, yang seorang karunia ini, yang lain karunia itu. Tetapi kepada orang-orang yang tidak kawin dan kepada janda-janda aku anjurkan, supaya baiklah mereka tinggal dalam keadaan seperti aku. Tetapi kalau mereka tidak dapat menguasai diri, baiklah mereka kawin. Sebab lebih baik kawin daripada hangus karena hawa nafsu." Bagian ini memperlihatkan kepada kita bahwa salah satu alasan bagi pernikahan adalah untuk mencegah perzinahan. Pada saat yang bersamaan, ini menunjukkan bahwa Allah telah memberikan karunia khusus untuk tetap melajang. Namun bagi mereka yang tidak menerima karunia ini lebih baik menikah, untuk mencegahnya jatuh ke dalam perzinahan.

Kita tidak perlu berpanjang lebar membahas kesucian. Kita tahu bahwa Paulus adalah seorang yang melajang. Namun ia memberi tahu Timotius bahwa di waktu-waktu kemudian ajaran roh-roh penyesat dan ajaran setan-setan datang dan melarang orang kawin. Ia berkata bahwa ini adalah ajaran setan-setan (1 Tim. 4:1,3). Di satu sisi, kita percaya bahwa melajang itu baik. Di sisi lain, kita harus menjaga keseimbangan Firman Allah; kita tidak dapat mengatakan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang wajar. Kita harus jelas bahwa pernikahan itu kudus; ini adalah sesuatu yang ditetapkan Allah dalam ciptaan-Nya. Larangan menikah adalah ajaran setan-setan.

Jika seorang pekerja Tuhan menikah, ia seharusnya berusaha sebaik mungkin memelihara urusan keluarganya sehingga ia akan memiliki sedikit sekali gangguan. Dengan demikian ia akan mampu memberikan dirinya labih baik bagi pekerjan Tuhan. Namun ia harus memperhatikan garis pemisah yang jelas antara pekerjaan dan keluarganya. Ia seharusnya tidak pernah mengizinkan anggota keluarganya menjamah pekerjaannya. Tentunya jika beberapa di antara mereka juga adalah para sekerja, ini adalah hal yang berbeda. Ia seharusnya tidak pernah membawa pulang kesulitan dalam pekerjaan. Seorang pekerja tidak dapat dipengaruhi oleh anggota-anggota keluarganya berkenaan dengan pekerjaan yang ia geluti. Seorang saudara pernah berkata bahwa ia pergi ke tempat tertentu untuk bekerja karena istrinya telah berjanji bahwa ia boleh pergi. Ini sungguh mengherankan! Bagaimana mungkin seorang istri menjanjikan suaminya sesuatu, dan bagaimana mungkin sang suami pergi berdasarkan janji istrinya? Kita tidak dapat bertindak berdasarkan janji anggota keluarga kita, dan sebenarnya kita bahkan tidak dapat bertindak berdasarkan janji sekerja kita. Keluarga kita harus dengan jelas dipisahkan dari pekerjaan kita. Seorang pekerja Tuhan tidak dapat begitu saja menceritakan kepada keluarganya masalah rohani saudara saudari lain. Jika anggota keluarganya ingin mengetahui sesuatu, mereka seharusnya mengetahuinya dengan cara yang sama seperti saudara saudari lain. Banyak masalah di dalam pekerjaan timbul melalui permbicaraan pekerja yang kendor di dalam keluarga mereka.

Poin lain yang harus kita perhatikan adalah hal menjaga hubungan yang tepat dalam kontak antara saudara saudari. Jika seorang saudara mempunyai kecenderungan suka bekerja di antara para saudari, ia harus dijauhkan dari pekerjaan. Kita harus sangat tegas dengan prinsip ini. Dalam keadaan biasa, para saudara seharusnya selalu bekerja dengan para saudara, dan saudari dengan para saudari. Sang Putra Allah sendiri meninggalkan teladan ketika Ia bekerja di bumi. Yohanes 3-4 memperlihatkan kepada kita garis pemisah yang jelas dalam perkara ini. Dalam pasal tiga Tuhan menerima Nikodemus di malam hari, sementara di pasal empat ia bertemu dengan perempuan Samaria di tengah hari. Dalam pasal tiga Tuhan menerima Nikodemus di dalam rumah dan di pasal empat Ia menemui perempuan Samaria di sumur umum. Jika situasi pasal tiga dengan pasal empat ditukar, situasinya akan sangat tidak cocok. Jelas Tuhan berbicara dengan Nikodemus dalam keadaan yang sangat berbeda dari keadaan ketika Ia berbicara kepada perempuan Samaria. Ini memberikan teladan yang baik kepada kita.

Kita tidak bermaksud melarang saudara saudari berkontak satu sama lain atau saling bersekutu. Maksud kita adalah seorang saudara atau saudari yang memiliki kecenderungan dan berhasrat berada di antara lawan jenis seharusnya dianjurkan tidak berbuat demikian. Tentunya di dalam Kristus tidak ada perbedaan antara lelaki dengan perempuan, dan di tengah anak-anak Allah tidak ada dinding pemisah antara para saudara dengan saudari. Di antara kedua pihak ini seharusnya ada persekutuan yang baik. Namun jika seorang saudara memiliki kebiasaan atau kecenderungan suka berbicara kepada saudari-saudari, atau sebaliknya, kita harus segera menanggulangi situasi ini. Saya harap saudara saudari dapat dengan spontan melatih pengekangan dan pembatasan ini ketika mereka saling berkontak. Jika ada yang melampaui batasan yang tepat dan terlibat dalam persekutuan yang tidak normal, kita harus menanggulangi situasi ini dengan tegas. Semoga Tuhan bermurah hati kepada kita sehingga kita akan tetap menjaga kesaksian yang baik dalam perkara ini.