TIDAK SUBYEKTIF SATU
Subyektivitas adalah cacat lain dalam karakter beberapa anak-anak Allah, khususnya dalam beberapa pekerja Tuhan. Jika seseorang subyektif, ia tidak dapat melakukan pekerjaan yang baik.
Apakah makna subyektif? Menjadi subyektif berarti memaksakan pendapat sendiri dan menolak pendapat orang lain. Ini berarti telah memiliki konsep dahulu sebelum mendengarkan orang lain dan berpegang pada buah pikiran itu bahkan setelah mendengarkan orang lain. Subyektivitas berarti keengganan untuk menerima atau dikoreksi. Ini berarti telah memiliki konsep sendiri sejak semula dan selalu memaksakan pendapat ini. Orang yang subyektif telah menghakimi sebelum ia mendengarkan sesuatu dari Tuhan, sebelum fakta-faktanya disingkapkan dan sebelum orang lain memberikan pendapatnya. Ia memaksakan penilaiannya sendiri bahkan setelah mendengarkan sesuatu dari Tuhan, setelah fakta-faktanya disingkapkan dan setelah orang lain memberikan penjelasan. Inilah makna menjadi subyektif. Akar penyebab subyektivitas adalah diri yang tidak pernah diremukkan. Ketika diri seseorang belum diremukkan, ia keras kepala dalam melihat segala sesuatu, dan pendapat-pendapat ini sulit diremukkan dan dikoreksi.
DUA
Apakah masalah yang ditimbulkan oleh subyektivitas? Kerugian-kerugian apakah yang ditimbulkannya bagi seseorang? Jika seorang saudara atau saudari subyektif, ia tidak akan mampu mendengarkan orang lain. Kita harus mengosongkan diri sebelum kita menerima perkataan Tuhan atau perkataan orang lain. Jika kita subyektif, sulitlah untuk menerima apapun. Ini adalah hal dasar bagi setiap pekerja Kristen untuk menggarap kemampuan mendengarkan apa yang ingin dikatakan orang; ia harus mengetahui urusan-urusan orang lain dan memahami masalah-masalah orang lain. Sebelumnya kita mengatakan bahwa masalah besar dalam pekerja Allah adalah mereka tidak dapat mendengarkan orang lain. Penyebab utama di belakang ketidakmampuan mendengarkan orang lain adalah subyektivitas. Ketika seseorang subyektif, ia dipenuhi dengan berbagai macam hal. Pendapatnya menjadi benteng yang tak tertaklukkan dan buah pikirannya tidak dapat diubah. Ia selalu dipenuhi dengan argumennya dan dugaannya sendiri. Ketika seorang saudara atau saudari mendatanginya dan mencoba menceritakan rasa frustrasinya kepadanya atau melepaskan bebannya kepada dia, ia tidak dapat memahami apa yang sedang mereka katakan, bahkan setelah ia mendengarkan selama setengah hari. Ia tidak dapat mendengarkan orang lain. Inilah masalah yang berhubungan dengan subyektivitas.
TIGA
Kerusakan lain yang diakibatkan oleh subyektivitas adalah tidak adanya kemampuan untuk belajar. Orang yang subyektif sangat percaya diri dan jelas akan segala sesuatu. Ia telah menetapkan pikirannya mengenai segala sesuatu. Ia telah membentuk pendapatnya sendiri tentang segala sesuatu dan ia yakin akan segala sesuatu. Sulitlah baginya untuk belajar apapun. Ketika beberapa orang muda pertama-tama menggabungkan diri dalam pekerjaan, lebih sulit lagi untuk mengajar mereka daripada menyuapkan obat kepada anak kecil. Kelihatannya ada beberapa hal yang hampir harus dipaksakan masuk ke kerongkongan mereka. Mereka penuh dengan ide, gagasan, dan cara-cara. Mereka senang bahwa mereka sudah tahu apa yang harus diketahui. Meskipun tidak berani menyatakan bahwa mereka serba tahu, mereka bertindak seolah-olah mereka serba tahu. Lebih sulit lagi mengajar mereka sesuatu daripada memberi mereka makan obat yang pahit. Jika seseorang perlu disuapi setiap kali makan, sampai berapa lama ia dapat bertahan? Ketika kita bertemu dengan beberapa saudara, kita tidak dapat berbuat apa-apa selain hanya mendesah di dalam hati kita, "Saudaraku, berapa banyak hal yang dapat dipelajari dari Tuhan oleh orang seperti Anda?" Masalah terbesar dalam orang yang subyektif adalah ketidakmampuannya untuk belajar. Satu hal ini saja dapat berakibat fatal baginya. Setiap kali Anda ingin orang seperti ini mempelajari sesuatu, seolah-olah Anda harus berkelahi dulu dengannya. Anda mungkin memukulnya sampai jatuh, dan ia mungkin belajar sedikit. Tetapi apabila Anda menghendaki dia belajar sesuatu, Anda harus bergumul dengannya sekali lagi. Ini benar-benar mengesalkan. Persyaratan mendasar bagi pekerja Tuhan adalah tetap bersikap obyektif; ia harus menjadi begitu obyektif sehingga ia akan siap menerima bantuan dari orang lain. Saudara saudari, bantuan kita datang dari mana saja. Ada banyak hal yang harus kita pelajari. Andaikan kita hanya belajar satu pelajaran dalam satu bulan, atau satu pelajaran dalam setengah tahun, atau satu pelajaran dalam satu tahun. Berapa lama kita dapat hidup? Berapa banyak yang dapat kita pelajari seumur hidup kita? Orang yang subyektif lebih sulit belajar sementara tahun-tahun terus berlalu. Subyektivitasnya meningkat seiring berjalannya waktu. Subyektivitas memang masalah yang besar di antara kita.
Memang benar bahwa pekerja Allah harus stabil; jalannya seharusnya lurus dan tidak tergoyahkan. Namun jika opini, pandangan, dan penilaiannya juga telah tersusun dan tidak dapat dibengkokkan, ia akan memiliki sedikit sekali kesempatan untuk mempelajari sesuatu, dan kegunaannya akan sangat terbatas. Di satu segi, kita perlu stabil dan tidak tergoyahkan di hadapan Tuhan. Di segi lain lagi kita tidak boleh subyektif; kita seharusnya belajar fleksibel bagi pergerakan Allah. Jika tidak, mustahil kita mempelajari sesuatu. Untuk dapat mengetahui apakah seseorang subyektif atau tidak, orang hanya perlu mengetahui apakah ia belajar dengan cepat atau lambat atau apakah ia sesungguhnya dapat belajar sama sekali atau tidak. Orang dapat mengatakan apakah seseorang subyektif berdasarkan jumlah hal rohani yang ia pelajari dan berapa sering ia mempelajarinya. Subyektivitas mempengaruhi kemampuan seseorang untuk belajar; bahkan menghentikannya belajar apapun.
Persyaratan mendasar bagi kemajuan rohani adalah keterbukaan terhadap Allah. Hati, pikiran, dan roh kita harus terbuka lebar terhadap-Nya. Terbuka kepada-Nya berarti kita tidak subyektif. Makna utama terbuka berarti menjadi tidak subyektif. Tentunya agar roh kita dapat terbuka kepada Allah, dibutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada tidak subyektif. Namun tidak subyektif adalah persyaratan pertama. Begitu kita subyektif, pintu kita tertutup. Tidak menjadi subyektif berarti kita peka terhadap Allah, sehingga kita dapat belajar dan kita dapat menerima kesan. Banyak orang sulit menerima kesan dari Allah. Allah sampai harus menggunakan pecut atau cambuk atau bahkan palu untuk memukul orang-orang seperti ini agar mereka menerima kesan dari-Nya. Kita seharusnya beajar untuk memahami kehandak Allah dari gerakan mata-Nya. Banyak orang seperti kuda dan bagal, yang tidak memahami apapun apabila mereka tidak diarahkan dengan pukulan dan kekang kuda. Inilah makna menjadi subyektif. Orang yang subyektif tidak dapat mengambil tanda apapun dari Allah. Allah mungkin harus bergumul dengannya dan mengizinkankannya sampai ke jalan sempit yang buntu atau pintu yang tertutup, namun ia masih berbantahan dengan Allah. Ia tidak dapat menenangkan dirinya sendiri untuk belajar apa yang harus ia pelajari. Banyak orang yang tidak cukup panjang sabar dan tidak mudah dibentuk di hadapan Allah. Mereka terlalu keras dan keras kepala. Mereka menjadi batu sandungan dalam pekerjaan karena mereka belum belajar banyak atau menerima banyak suplaian dari Tuhan sepanjang hidup mereka. Mereka menjadi masalah dan kerugian bagi pekerjaan.
EMPAT
Masalah besar lainnya dari orang yang subyektif adalah bahwa ia tidak dapat menerima bimbingan apapun dari Allah. Ia tidak bisa mengenal bimbingan Allah, dan ia sepenuhnya tidak peduli akan pimpinan-Nya. Setiap orang yang subyektif berada jauh dari kehendak Allah seperti Kutub Utara dan Kutub Selatan. Mustahil ia dapat mengenal kehendak Allah karena ia tidak sesuai dengan persyaratan bagi mereka yang mengikuti Allah. Dibutuhkan orang yang luwes dan rajin dengan telinga yang mendengar untuk menerima bimbingan dari Allah. Ketika Firman Allah mendatangi orang yang demikian, dengan segera ia menurutinya dan tanpa pandangan subyektifnya sendiri. Hati Bileam berbuat salah karena terkait pada kekayaan. Ia menjadi subyektif dalam penilaiannya, dan ia memaksakan penilaiannya. Inilah sebabnya Bileam berdoa kepada Allah berkali-kali sampai Allah memberitahukannya untuk pergi. Ketika pikiran seseorang sudah terbentuk, sulitlah baginya untuk memahami kehendak Allah. Kita harus belajar berjalan dalam kehendak Allah. Kita harus menyadari bahwa kehendak Allah menuntut kita segera berhenti atau mungkin menuntut kita segera berjalan cepat. Kita sering telah merencanakan seluruh perjalanan hanya untuk menemukan bahwa Tuhan menginginkan kita segera berhenti. Apa yang seharusnya kita lakukan? Jika Roh Tuhan menyuruh kita berhenti, apakah kita rela berhenti? Orang yang subyektif tidak mau berhenti. Seseorang yang telah belajar mendengarkan Allah tidak subyektif dalam segala hal; Ia akan terus maju ketika Allah memerintahkannya berhenti. Jangan mengira ini adalah hal yang sederhana. Seorang yang subyektif tidak bisa bersiap-siap pergi ketika Allah memberitahukannya untuk maju terus. Namun begitu ia telah mengumpulkan kekuatannya, Allah sulit menghentikannya. Di sinilah letak masalah kita. Diperlukan usaha keras untuk mendorong mereka yang subyektif, dan begitu mereka mulai bergerak, tidak ada seorangpun yang dpat menghentikan mereka. Ini bukan jalan orang yang menuruti perintah, orang yang luwes di dalam tangan Allah. Ketika Allah menyuruh mereka bergerak, mereka bergerak. Ketika Allah menyuruh mereka berhenti, mereka berhenti. Hanya orang-orang seperti inilah yang akan menerima bimbingan dari Allah. Banyak orang tidak akan bergerak sampai mereka menerima cambukan yang keras, dan begitu mereka bergerak, mereka tidak pernah berhenti. Mereka terus-menerus maju ke arah yang sama. Allah harus menghentikan mereka dengan sekuat tenaga dengan tangan-Nya yang kuat agar mereka bisa berhenti. Subyektivitas mereka mencegah mereka mengenali kehendak Allah, apalagi melaksanakan kehendak-Nya.
Sewaktu Abraham mempersembahkan Ishak kita mendapatkan sebuah gambaran yang indah tentang seorang manusia yang tidak subyektif. Jika Abraham adalah orang yang subyektif ketika Allah memintanya mempersembahkan Ishak, maka sulitlah baginya untuk patuh. Ia akan memiliki banyak hal untuk dikatakan. Ia mungkin akan beralasan seperti ini: "Sebelumnya aku tidak memiliki putra. Kemungkinan untuk memiliki seorang saja tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Aku mengira Eliezer sudah cukup. Allahlah yang menghendaki aku memiliki putra. Aku tidak pernah berpikir akan memiliki anak, demikian pula Sara. Ini semua usul Allah. Sekarang Ia telah memberi aku seorang putra, mengapa Ia menghendaki aku mepersembahkannya sebagai kurban bakaran?" Saudara saudari, orang yang subyektif akan memiliki bermacam alasan untuk menolak tuntutan ini! Namun Abraham begitu sederhana. Bahkan tuntutan sedemikian tidak masalah baginya. Ia percaya bahwa Allah dapat membangkitkan anaknya dari kematian. Ketika ia berdiri di atas mezbah dan menghunus pisau untuk menyembelih putranya (Kej. 22:10, 13). Jika Abraham subyektif, tuntutan demikian akan menjadi masalah yang baru baginya. Ia pasti ragu-ragu dan kebingungan dan pasti bertanya-tanya bagaimana mungkin ia diminta melakukan suatu hal saat ini dan melakukan yang sebaliknya di saat berikutnya. Namun Abraham tidak berpikir demikian. Ia tidak subyektif. Pada beberapa orang, mereka sulit naik ke atas mezbah, dan begitu mereka berada di atasnya, mereka bersikeras tetap tinggal di sana sampai mereka mati. Orang yang subyektif akan bertindak menurut keinginannya sendiri bahkan ketika ia berusaha mematuhi Allah. Bahkan Allah tidak dapat menghentikannya. Orang yang subyektif dipaksa untuk patuh dan kepatuhannya sering kali merupakan hasil usahanya sendiri. Ia tidak dapat diputar tidak peduli betapa kerasnya orang lain mencoba. Kehendak dan perintah Allah mungkin mengarahkannya untuk mengembalikan apa yang telah ia ambil, tetapi ia tidak dapat memenuhinya.
Menarik untuk diperhatikan, ketika kita menyesuaikan kehendak kita dengan kehendak Allah, sering kali kehendak Allah berubah. Jika kehendak kita tidak dapat berubah seturut dengannya, kita sulit bertindak dengan sederhana mengikuti saja perkataan-Nya. Di sinilah letak masalah terbesar kita. Tahukah Anda bagaimana manusia menjinakkan kuda? Seekor kuda liar akan menolak setiap penunggang di atas punggungnya. Menjinakkan kuda memang sulit. Untuk dapat menjinakkannya, seorang penunggang yang terlatih harus melompat ke atas punggungnya dan membiarkan kuda itu menendang dan meronta-ronta sampai ia letih sendiri. Penunggang itu harus menggunakan keahliannya utuk tetap berada di punggung kuda. Ia harus membiarkan kuda itu berlari, mungkin sampai bermil-mil atau beratus-ratus mil. Ketika kuda itu menyadari bahwa ia tidak dapat menyingkirkan majikannya, ia akan patuh kepada perintahnya. Pelatih-pelatih kuda yang demikian dpat mengubah seekor kuda liar menjadi seekor kuda pertunjukan yang indah. Kuda itu dapat berlari melingkar dengan sebuah tambang diikatkan pada satu tiang di tengah. Ia dapat dengan baik sekali menyeimbangkan dirinya sehingga ia tidak akan berlari jauh sampai memutuskan talinya atau jaraknya terlalu pendek sehingga talinya kendor. Ia dapat berputar ratusan kali dalam radius yang selalu sama. Pelatihnya melatih kuda itu sampai ia dapat melakukan gerakan ini. Ketika ia selesai melatihnya, kuda itu dapat diarahkan ke manapun. Ia dapat melewati lubang kecil atau besar. Ia akan selalu patuh. Saudara saudari, kita sama seperti kuda liar dan tidak mudah Tuhan melatih kita. Ia perlu melakukan banyak pekerjaan sampai kita dapat dijinakkan. Setelah kuda itu terlatih, ia tidak akan subyektif lagi. Ia akan menjadi begitu terlatih sehingga begitu penunggangnya menghentak kekang perlahan saja, ia tahu apakah tuannya menghendakinya berlari atau berjalan. Ia akan pergi sesuai arahan tuannya, bukan hanya sekali atau sepuluh kali mengelilingi pacuan tetapi sampai ratusan kali.
Mazmur 32:8-9 mengatakan, "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu. Janganlah seperti kuda atau bagal yang tidak berakal, yang kegarangannya harus dikendalikan dengan tali les dan kekang, kalau tidak, ia tidak akan mendekati engkau." Hal ini sangat bermakna. Kita seharusnya lebih dari kuda dan bagal. Seekor bagal yang dungu dapat menjadi begitu terlatih sehingga ia dapat pergi ke manapun tuannya mengarahkannya. Seharusnya lebih mudah mengajarkan bimbingan rohani kepada anak-anak Allah daripada menjinakkan kuda. Seekor kuda yang walaupun terlatih, ia dipandang Allah sebagai makhluk "yang tidak berakal". Ini disebabkan karena ia hanya mengetahui kehendak tuannya ketika ia disepak, didorong, atau dikekang. Pada diri kita, kita seharusnya memandang bimbingan mata Tuhan. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dilakukan kuda dan bagal. Daud berkata dalam Mazmur ini, "Aku hendak mengajar dan menunjukkan kepadamu jalan yang harus kautempuh; Aku hendak memberi nasihat, mata-Ku tertuju kepadamu" (ay. 8). Begitu mata Tuhan beralih, kita seharusnya tahu apa yang sedang Ia katakan. Kita seharusnya tahu bahkan sebelum tangan-Nya bergerak; kita seharusnya tahu bahkan ketika mata-Nya hanya melirik sedikit saja.
Marilah kita khusus memperhatikan mata yang disebutkan dalam ayat ini. Orang yang subyektif tidak berbagian di sini. Saudara saudari, jangan mengira bahwa pribadi kita dan karakter kita adalah perkara kecil. Ingatlah, jika kita subyektif, kita tidak dapat menjadi obyektif terhadap Allah. Tanpa latihan kita akan menjadi subyektif sepanjang hidup kita. Kita tidak bisa berharap mengetahui apa yang Allah ingin kita lakukan secara tiba-tiba. Kita mungkin puas menjadi seekor kuda yang dijinakkan, tetapi Allah berkata bahwa kuda dan bagal meskipun sudah dijinakkan namun tidak berakal. Ini berarti dijinakkan saja belum cukup. Kita harus bergerak secepat gerakan mata Tuhan. Begitu kita mengetahui keinginan Tuan kita, kita harus bertindak menurutinya. Kapanpun Ia memberi tanda, kita harus berhenti. Jika kita dipenuhi dengan ide, pandangan, dan pendapat subyektif kita sendiri, mustahil kita bisa menunggu Roh Tuhan, bergerak ketika Ia bergerak dan berhenti ketika Ia berhenti. Tuhan sering menghendaki kita berhenti tetapi kita tidak berhenti. Kita tidak dapat berhenti karena diri kita sendiri yang berusaha. Mereka yang mencari kehendak Allah harus mengesampingkan diri mereka. Kita seharusnya bergerak ketika Tuhan menginginkan kita bergerak dan berhenti ketika Ia menginginkan kita berhenti. Diri kita harus dikesampingkan. Begitu kita subyektif, diri ini menjadi terlibat dan kita tidak mampu berhenti ketika Tuhan menginginkan kita berhenti. Masalah kebanyakan orang bersifat ganda: pada mulanya mereka tidak dapat bergerak dan begitu mereka mulai mereka tidak dapat berhenti. Ini adalah masalah yang serius. Kesulitan terbesar yang kita miliki asalah subyektivitas kita. Ini mencegah kehendak Allah diwujudkan melalui kita.
LIMA
Sehubungan dengan subyektivitas, butir lebih lanjut yang harus diperhatikan: Subyektivitas kita harus ditanggulangi oleh Allah sebelum kita layak menanggulangi orang lain. Allah hanya akan memimpin kita menanggulangi orang lain ketika diri kita sendiri lebih dahulu ditanggulangi. Ia tidak akan melakukan sesuatu terhadap orang yang subyektif. Allah tidak dapat mempercayai orang yang seperti itu. Orang yang subyektif tidak dapat melakukan kehendak Allah dan ia tidak memiliki jalan untuk memimpin orang lain melakukan kehendak-Nya. Jika orang yang subyektif diletakkan ke dalam pekerjaan Allah untuk menginstruksi orang lain menurut jalan Allah, kehendaknya sendiri yang akan muncul sepuluh kali lebih kuat daripada kehendak Tuhan. Orang yang subyektif ingin semua orang mendengarkannya. Sampai seseorang dibawa sampai pada titik di mana ia kehilangan semua kepentingan untuk mendapatkan pengikut, ia tidak dapat digunakan oleh Tuhan. Kita seharusnya membiarkan diri kita diremukkan dan dipecahkan sampai tingkat kita tidak lagi mencari kepatuhan dari orang lain. Kita seharusnya tidak mencampuri kebebasan, kehidupan pribadi, atau penilaian pribadi orang lain. Kita tidak memiliki kepentingan dalam hidup atau urusan orang lain. Sebagai pelayan Tuhan, kita harus ditanggulangi oleh Tuhan seluas mungkin. Hanya dengan cara inilah kita dapat digunakan oleh-Nya untuk berbicara sebagai utusan otoritas-Nya. Jika tidak, kita bisa merusak otoritas Allah dalam melaksanakan kehendak Allah dengan melaksanakan kehendak kita sendiri, di mana kita menjadi pemimpin, pengajar atau bapa anak-anak Allah. Tuhan berkata, "....Kamu tahu, bahwa pemerintah-pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya....Tidaklah demikian di antara kamu" (Mat. 20:25-26). Jika seseorang belum pernah diremukkan oleh Tuhan, ia diam-diam menyenangi ide, tuntutan, dan hobinya sendiri, Allah tidak dapat menggunakannya karena ia tidak bernilai. Jika Allah mempercayakan kawanan-Nya kepada orang yang demikian, ia akan memimpin kawanan itu masuk ke rumahnya sendiri. Banyak orang yang tidak layak mendapat kepercayaan Allah; Allah tidak dapat mempercayakan siapapun ke tangan mereka. Jika seseorang hanya tertarik pada jalannya sendiri, ia tidak dapat memimpin orang lain ke dalam jalan Allah. Saudara kita Paulus sangat luwes. Ia seorang bujangan, dan ia tahu bahwa lebih baik tetap menjadi bujangan daripada menikah. Namun ia tidak pernah mengkritik pernikahan. Saudara saudari, betapa terlatihnya saudara kita di hadapan Tuhan. Jika seseorang subyektif dan jika subyektivitasnya tidak pernah diremukkan, ia pasti memaksa setiap orang tetap perawan dan tidak menikah. Ia pasti menghakimi setiap pernikahan. Orang yang subyektif dapat melakukan hal ini dengan mudah. Namun di sini ada seseorang yang berbeda. Ia dapat bertahan pada apa yang diyakininya; ia mengetahui nilai apa yang sedang dikerjakannya. Namun pada saat yang sama, ia memberi kebebasan kepada orang lain untuk menentukan pilihannya. Ia berharap orang lain akan terhindar dari segala penderitaan daging, namun ia setuju bahwa orang lain seharusnya menikah. Di sini ada seorang yang teguh di hadapan Tuhan, namun pada saat yang sama, ia halus dan lembut. Sewaktu membicarakan masalah pernikahan, ia masih mampu mengumandangkan bahwa ajaran yang melarang orang kawin adalah ajaran si jahat, meskipun ia sendiri adalah seorang yang melajang.
Saudara saudari, kita harus belajar mengambil kedudukan ini. Kita tidak pernah menekankan kebenaran berlebih-lebihan hanya karena kita merasa begitu, kita juga tidak dapat bungkam terhadap kebenaran hanya karena kita merasa berbeda. Begitu kita menyerah mencoba mempengaruhi kebenaran Allah menurut perasaan kita, kita baru bersyarat bekerja dan memimpin orang lain menurut pimpinan Tuhan. Persyaratan mendasar bagi kita untuk dapat berada dalam pekerjaan adalah diremukkan dan subyektivitas kita ditanggulangi. Jika subyektivitas kita masih mendominasi kita, kita akan membawa pekerjaan Allah menuju kehancuran begitu ia sampai ke tangan kita. Ini sungguh buruk. Sungguh buruk bila seseorang bertindak buru-buru dan berbicara dengan ceroboh. Kita seharusnya belajar berhenti mencampuri urusan orang lain. Kita seharusnya tidak pernah mendiktekan hidup atau urusan orang lain dengan subyektivitas kita. Allah tidak campur tangan dalam kehendak bebas manusia. Pohon pengetahuan baik dan jahat ditempatkan di Taman Eden. Allah memberi tahu manusia untuk tidak memakannya, tetapi Ia tidak menjauhkan manusia darinya dengan pedang yang menyambar-nyambar. Jika pedang yang menyambar-nyambar dalam pasal tiga digunakan dalam pasal dua untuk menjaga pohon pengetahuan baik dan jahat, manusia tidak akan pernah berdosa. Allah dapat dengan mudah melakukan hal ini. Namun Ia tidak melakukannya. Malahan Ia berkata, "Tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati" (Kej. 2:17). Jika manusia bersikeras memakannya, itu adalah urusannya.
Kita harus belajar tidak mendominasi orang lain dengan pikiran kita sendiri. Ketika orang lain tidak ingin mendengar perkataan kita, kita seharusnya berpaling; jangan memaksa mereka mendengarkannya. Jika kita memiliki beban di hadapan Tuhan, kita seharusnya mengungkapkannya kepada saudara saudari. Kalau mereka menerima perkataan kita, itu baik. Namun jika mereka tidak menerimanya, kita seharusnya dengan gembira berpaling. Jangan sekali-kali menekankan pikiran kita kepada orang lain. Allah tidak pernah melakukan hal ini, demikian pula kita. Jika seseorang memilih untuk memberontak melawan Allah, Ia membiarkannya menempuh jalan ini. Jika orang lain tidak ingin menempuh jalan kita, mengapa kita harus memaksanya? Kita harus belajar tidak memaksa. Kita harus mengijinkan orang lain berpaling dari pelayanan kita. Kita seharusnya tidak memaksa orang lain menerima bantuan kita. Kita mungkin jelas mengenai fungsi kita, tetapi kita tidak seharusnya memaksa orang lain menerima fungsi kita. Allah tidak memaksa siapapun dan kita seharusnya juga tidak memaksa siapapun. Tidak ada seorangpun di antara kita yang boleh subyektif dalam pekerjaan Allah. Marilah kita belajar menjadi penuh perhatian di hadapan-Nya. Semakin banyak orang mendengarkan kita, semakin besar tanggung jawab kita di hadapan Tuhan. Betapa besarnya tanggung jawab yang harus kita pikul jika kita mengatakan perkataan yang salah kepada orang lain! Jangan bersuka cita jika orang lain menerima perkataan kita. Kita harus ingat betapa hebatnya tanggung jawab yang terletak di atas bahu kita. Jika orang lain mau mendengarkan kita, ini adalah hal yang terlalu besar. Jika orang lain mendengarkan kita ketika jalan kita bengkok dan kita tidak jelas terhadap kehendak Allah, kita benar-benar menjadi orang buta yang menuntun orang buta. Bukan hanya orang buta yang mengikuti kita akan jatuh ke lubang, tetapi kedua-duanya yang buta, yaitu diri kita dan para pengikut kita, akan jatuh ke dalam lubang (Luk. 6:39). Jangan mengira bahwa hanya para pengikut saja yang jatuh sementara para pemimpinnya mungkin dapat dengan mudah menghindar jangan sampai terjatuh. Ketika orang buta menuntun orang buta, keduanya jatuh ke dalam lubang. Jangan mengira mudah saja mengatakan, "Anda harus melakukan ini," atau, "Anda harus melakukan itu." Jika kita menjadi pengajar bagi banyak orang, menyuruh mereka melakukan ini dan itu, ada bahaya bagi keduanya, kita dan mereka, akan berakhir di dalam lubang. Maka, kita harus belajar takut akan Allah. Kita seharusnya menyadari bahwa semakin banyak orang yang mendengarkan kita, seharusnya kita semakin banyak mendengarkan perkataan Allah dengan takut dan gentar. Bahkan ketika kita benar-benar seratus dua puluh persen meyakini sesuatu, kita seharusnya hanya mengatakannya dengan keyakinan hanya tujuh puluh sampai delapan puluh persen. Kita seharusnya takut berbuat kesalahan. Semakin mudah seseorang menyampaikan perkataan yang berbobot, semakin kuranglah bobotnya di hadapan Tuhan. Semakin besar kepercayaan diri seseorang, semakin kecillah nilainya. Jangan mengira, selama orang lain mendengarkan kita, segala sesuatunya akan baik-baik saja. Segala sesuatunya tidak baik ketika orang lain mau mendengarkan kita. Apa yang akan kita lakukan kepada orang-orang yang penurut ini? Ke manakah kita akan memimpin mereka? Kita harus menyadari betapa seriusnya tanggung jawab kita. Inilah sebabnya kita harus belajar tidak subyektif. Satu masalah subyektivitas menjadi cacat bagi telinga orang lain. Orang yang subyektif senang jika orang lain mendengarkannya. Ia ingin idenya menjadi sumber bimbingan bagi orang lain dan pendapatnya menjadi sumber terang bagi orang lain. Namun kita harus menyadari bahwa pendapat kita bukanlah sumber terang dan ide kita bukanlah sumber bimbingan. Kita harus belajar tidak memimpin orang lain, belajar tidak memaksa orang lain menempuh jalan kita, dan belajar tidak menekan orang lain untuk patuh kepada Allah. Jika saudara saudari gembira kita berada bersama mereka, kita seharusnya bersyukur kepada Tuhan. Jika mereka ingin memilih jalan mereka sendiri, biarkanlah mereka menerukan piihannya sendiri. Kita seharusnya tidak mencoba menyeret orang lain mengikuti kita. Kita seharusnya mengizinkan orang lain datang dan pergi sekehendak hati mereka. Satu karakteristik dari orang yang mengenal Allah adalah keengganan memaksa siapapun untuk mendengarkannya.
Orang yang subyektif tidak pernah dapat melakukan ini. Ia tidak dapat mendengarkan apa yang ingin dikatakan orang lain, dan ia tidak dapat menerima bimbingan dari Tuhan. Ia tidak merasakan bahwa ia harus belajar sesuatu dari siapapun; oleh karena itu, Allah tidak mempercayakannya pekerjaan apapun. Jika kita telah membuat semua keputusan sebelum kita datang kepada Allah, kita tidk akan menemukan keputusan Allah. Hanya orang yang luwes yang dapat menemukan keputusan Allah. Kita harus membuang banyak hal agar kita dapat merasakan kehendak Allah. Jika seseorang belum pernah belajar menyangkal subyektivitasnya, dan jika ia penuh dengan pendapat, jalan, ide, dan alasannya sendiri, gereja akan terpecah begitu pekerjaan Allah ditempatkan ke dalam tangannya. Perpecahan dalam gereja merupakan hasil subyektivitas manusia. Banyak orang hanya dapat bekerja secara individual; mereka tidak dapat berbagian dalam pekerjaan gereja. Mereka hanya dapat memiliki pelayanan individual, bukan pelayanan Tubuh. Banyak orang belum pernah menjamah masalah otoritas. Hasilnya mereka tidak akan pernah menjadi otoritas. Sejak hari pertama banyak orang mulai bekerja, mereka belum penah tunduk kepada siapapun. Tentunya Allah tidak dapat membuat mereka menjadi otoritas atas orang lain. Saudara saudari, kita seharusnya secara khsusus memperhatikan masalah ini. Ketika seorang saudara muda bergabung dalam pekerjaan, pertama-tama kita harus mengujinya. Orang yang subyektif selalu menganggap dirinya sebagai kepala, dan ia selalu ingin menjadi pemimpin orang lain. Ia selalu mencoba menekankan idenya terhadap orang lain. Seorang yang ditanggulangi oleh Tuhan selalu setia dan selalu rela berbicara, namun ia tidak akan pernah memaksakan kehendaknya kepada orang lain. Ia tidak akan pernah mencoba menundukkan orang lain sesuai kehendaknya. Di sisi lain, ia menjadi stabil melalui Allah. Di sisi lain, ia tidak subyektif dan tidak menekankan kehendaknya pada orang lain. Setiap orang bebas mematuhi Allah atau tidak mematuhi Allah. Kita tidak dapat memaksa siapapun melakukan sesuatu. Seseorang memikul tanggung jawabnya sendiri di hadapan Allah. Kita seharusnya selalu mengizinkan orang lain memiliki kesempatan untuk memilih bagi diri mereka sendiri. Semoga kita semua menjadi luwes, selalu memberi orang lain kebebasan untuk memilih dan selalu bertanya kepada orang lain apa yang mereka inginkan. Pekerjaan kita hanyalah membukakan jalan kepada manusia. Apa yang mereka pilih adalah tanggung jawab mereka. Dalam segala sesuatu kita seharusnya memberi kebebasan bagi orang lain untuk menentukan pilihannya. Kita seharusnya mencoba sebaik mungkin untuk tidak memilih bagi mereka.
ENAM
Subyektivitas dapat diekspresikan melalui hal-hal terkecil dalam hidup kita. Ini sudah menjadi sifat dan kebiasaan kita. Jika subyektivitas seseorang ditanggulangi oleh Tuhan, ia akan memperlihatkan perbedaan yang menonjol yang tercermin melalui banyak tindakan kecil dalam hidup sehari-harinya. Orang yang subyektif, subyektif dalam segala hal. Ia suka mengontrol orang lain. Ia suka memberikan pendapatnya, memberikan perintah, dan menyuruh orang lain melakukan ini dan itu. Orang yang subyektif memiliki solusi untuk setiap masalah. Ketika seorang pekerja Tuhan yang masih muda diletakkan bersama beberapa saudara lain, Anda akan segera mengetahui apakah dia orang yang subyektif atau tidak. Jika dia sendirian, Anda tidak dapat mengetahuinya. Namun begitu ada dua orang, Anda akan melihat bahwa orang yang subyektif akan selalu mencoba berada di atas yang lain. Ia akan ingin berkata apa yang akan dimakan dan tidak, apa yang akan dipakai, di mana mau tidur dan di mana tidak boleh tidur. Ia akan selalu memaksakan ini dan itu. Ia serba tahu dan serba bisa. Ketika dua saudari diletakkan bersama dalam satu ruangan, kita dapat segera mengetahui salah seorang dari mereka subyektif. Jika salah seorang subyektif, mungkin mereka masih bisa akur satu sama lain. Jika kedua-duanya subyektif, mereka tidak akan akur satu sama lain. Ini bukan berarti kita seharusnya bungkam mulai hari ini. Jika timbul kesulitan dalam pekerjaan kita atau timbul masalah dengan para pekerja, kita harus setia. Maksud saya adalah setelah kita berbicara dan orang lain memilih mengabaikan perkataan kita, kita seharusnya tidak memaksakan apapun ke atas mereka. Kita seharusnya tidak merasa terluka ketika orang lain tidak menerima perkataan kita. Banyak orang sangat memustikakan ide mereka sendiri. Ketika orang lain tidak mau menerima perkataan mereka, mereka terluka. Ini adalah reaksi orang yang subyektif. Untuk menjadi setia, kita harus mengatakan banyak hal. Namun kita tidak mengatakannya karena kita tertarik mencampuri urusan orang lain. Kita tidak mengatakannya karena temperamen atau kebiasaan kita menyuruh kita berbicara. Kita tidak perlu berbicara setiap kali ada kesempatan. Kita dapat berbicara ketika ada keperluan tetapi kita tidak perlu menetapkan aturan bahwa kita harus berbicara sepanjang waktu, juga kita tidak perlu menjadikannya kebiasaan untuk berbicara. Salah apabila kita berbicara dengan lidah yang tidak berdisplin. Allah sama sekali belum menunjuk kita menjadi pengajar. Beberapa orang terbiasa berbicara dan mengajar orang lain. Ini jelas menunjukkan bahwa mereka sangat subyektif. Jika subyektivitas seseorang tidak diremukkan, sulit baginya bekerja bagi Tuhan.
Orang yang subyektif belum tentu setia. Seorang yang setia berbicara karena ia harus berbicara. Ia tidak berbicara karena ia suka berbicara atau karena ia memiliki nafsu berbicara. Seorang yang setia berbicara karena ia tidak ingin orang lain jatuh ke dalam kesalahan. Ia tidak berbicara dengan nafsu berbicara. Jika seorang yang setia mendapatkan perkataannya ditolak, ia tidak merasa murung; ia dapat berpaling. Namun seorang yang subyektif berbeda. Ia memiliki nafsu berbicara dan jika ia tidak berbicara, ia merasa tidak gembira. Ia memiliki kebiasaan membuka mulutnya setiap kali ia melihat sesuatu. Apakah Anda melihat perbedaannya? Seorang yang subyektif berbicara karena ia suka berbicara; ia suka menekankan kehendaknya kepada orang lain. Ia suka mendominasi orang lain dengan idenya dan menyuruh orang lain mendengarkan perkataannya. Seorang yang subyektif sulit menerima bila kehendaknya ditolak. Saudara saudari, seorang yang subyektif sepenuhnya berbeda dengan orang yang setia. Kita harus setia. Sering kali, justru salah bila kita tidak membuka mulut kita. Namun kita harus membedakan kesetiaan dengan subyektivitas. Seorang yang subyektif suka mencampuri urusan orang lain. Ia suka orang lain mendengarkan perkataannya. Ia suka mengontrol orang lain dalam segala sesuatu. Ia memberikan perintah dan arahan kepada orang itu. Ia menganggap metodenya adalah yang utama dan terbaik, dan caranya adalah yang paling sempurna. Ia ingin seiap rang menerima caranya. Banyak orang yang subyektif tidak tahan dengan perbedaan orang lain. Saudara saudari, seorang yang subyektif adalah orang yang paling picik di dunia ini. Seseorang hanya dapat menjadi lapanga dan baik hati setelah ia ditanggulangi oleh Tuhan dan subyektivitasnya telah dihapuskan. Hanya orang yang lapang yang dapat bertoleransi dengan orang yang berbeda dari diri mereka sendiri. Subyektivitas menuntut keseragaman; menuntut kesamaan. Ia tidak dapat bertoleransi dengan perbedaan dalam diri orang lain. Jika dua orang yang subyektif diletakkan dalam satu ruangan, tidak akan ada kedamaian dalam ruangan itu. Yang satu ingin melakukan satu hal dan yang lainnya ingin melakukan hal lain, dan ruangan itu akan dipenuhi dengan argumen. Yang satu akan berpikir bahwa ia sedang memikul salib dan yang lainnya juga akan berpikir ia sedang memikul salib. Keduanya memiliki masalah satu sama lain, dan keduanya berpikir bahwa mereka sedang memikul salib. Inilah yang terjadi ketika dua kepala yang subyektif diletakkan bersama. Seorang yang subyektif selalu mencoba mengambil sesuatu ke dalam tangannya; ia ingin menjadikan dirinya pemimpin di antara umat Allah. Ia membuat keputusan instan mengenai bagaimana seharusnya melakukan banyak hal. Orang yang subyektif suka mencampuri urusan-urusan terkecil. Ia suka ikut campur dan mengendalikan. Ini adalah masalah dasar dalam diri orang yang subyektif. Kita tahu bahwa Allah tidak akan mempercayakan sesuatu ke dalam tangan orang seperti ini. Saya belum pernah melihat Allah mempercayakan sesuatu kepada orang yang subyektif. Allah tidak dapat memakai orang-orang seperti ini. Saya belum pernah melihat orang yang subyektif dapat menempuh jarak rohani tertentu dalam waktu yang memadai. Wataknya menghambatnya menerima instruksi apapun. Suatu watak yang menolak instruksi tidak bisa diajar dan tidak berguna.
Seorang yang subyektif suka mengambil alih dan mengajukan usulan. Jika seseorang subyektif, ia menciptakan masalah dalam pekerjaan Allah. Bukan hanya ia lamban belajar dan tidak cocok bagi amanat Allah, seluruh tenaganya dihabiskan untuk subyektivitasnya. Hasilnya, ia tidak memiliki tenaga lagi bagi pekerjaan Allah. Ketika seseorang mencampuri urusan orang lain, ia lalai dengan pekerjaannya, karena ada hal-hal lain yang sepenuhnya mendudukinya. Jika seseorang mengawasi kebun anggur orang lain, kebun anggurnya sendiri tentu akan terbengkalai. Saudara saudari, kita tidak memiliki waktu untuk sibuk dalam subyektivitas kita. Allah telah mempercayakan ministri, tanggung jawab, dan pekerjaan yang cukup bagi kita. Kita tidak memiliki waktu untuk mencampuri urusan orang lain. Kita harus memusatkan waktu dan tenaga kita pada pekerjaan yang seharusnya kita lakukan. Kita sudah cukup sibuk. Hanya mereka yang lalai dalam pekerjaan Allah dan yang tidak mau memikul tanggung jawab mereka di hadapan Allah yang memiliki tenaga untuk berurusan dengan macam-macam urusan saudara-saudari lain. Jelas sudah bahwa semua orang yang subyektif telah mengabaikan pekerjaan yang Allah tugaskan kepada mereka. Mereka membiarkan pekerjaan mereka sendiri tidak terurus sementara mereka sibuk dengan urusan orang lain. Jika seorang pekerja selalu tidak mau melakukan pekerjaannya untuk mengurus pekerjaan orang lain, pekerjaannya sendiri pasti akan kasihan. Orang yang subyektif tidak pernah dapat menjadi efektif dalam pekerjaan Tuhan. Allah tidak dapat mempercayainya, dan bahkan jika Ia mempercayakan sesuatu kepadanya, ia tidak akan melaksanakannya dengan baik. Subyektivitas seseorang sulit dihapuskan, karena subyektivitasnya adalah masalah watak. Ia subyektif dalam segala sesuatu, bukan hanya dalam pekerjaan Allah tetapi dalam kehidupan pribadinya juga. Ia subyektif terhadap urusan orang lain. Seorang yang subyektif adalah orang yang sngat sibuk di dunia ini. Ia ingin terlibat dalam segala sesuatu. Hasilnya, ia tidak dapat berlari dalam jalur yang lurus di hadapan Tuhan. Ia memiliki pendapat, pandangan, dan caranya sendiri dalam segala sesuatu. Ini menimbulkan masalah rohani yang nyata dan penghalang rohani yang nyata. Kita harus berdoa, " Tuhan, berikanlah kasih karunia-Mu kepadaku. Buatlah aku menjadi orang yang luwes di hadapan-Mu. Aku ingin menjadi luwes dan lembut, bukan hanya di hadapan-Mu, tetapi di hadapan semua saudara saudari." Paulus adalah orang yang demikian. Surat-suratnya "berbobot dan kuat". Ketika timbul masalah kesaksiannya di hadapan Allah, ia berbobot dan kuat. Namun ketika ia berhadapan muka dengan orang-orang Korintus, ia "lemah dan perkatannya tidak berarti". Paulus tidak berompromi dalam kesaksian yang ia pikul. Inilah alasan perkataannya "berbobot dan kuat". Namun ketika ia berbicara dengan orang lain ia panjang sabar, tidak keras. Saudara saudari, kita harus belajar membedakan kedua hal ini. Dalam ministri kita, kita harus kuat dan berbobot, tetap dalam diri kita sendiri kita seharusnya tidak subyektif. "Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap besukacita" (Flp. 1:15-18). Apakah Anda melihat keseimbangan di sini? Ketika orang lain menerima jalan yang kita lakukan, kta bersyukur kepada Tuhan karenanya. Jika orang lain tidak menerima jalan yang sama, tetapi mengambil jalan yang berbeda, kita masih saudara saudari mereka. Kita tidak terganggu olehnya. Kita harus mempertahankan keseimbangan ini. Di satu sisi, kita harus setia pada kesaksian kita. Di sisi lain, kita seharusnya tidak subyektif dalam diri kita sendiri. Seorang yang setia tidak pernah subyektif dan orang yang subyektif tidak selalu setia. Kita harus menarik garis yang jelas di antara kedua hal ini.
Sebagai kesimpulannya, subyektivitas sebenarnya adalah diri yang belum diremukkan. Saudara saudari, kita harus berdoa bagi pekerjaan peremukan Allah, berdoa supaya kita tidak menjadi subyektif dalam segala hal, baik terhadap orang lain maupun terhadap urusan kita sendiri. Tuhan harus sepenuhnya menghancurkan diri kita agar kita menjadi lembut dan panjang sabar. Tanpa penghancuran ini, bagaimanapun kita akan selalu subyektif. Beberapa orang mungkin lebih tajam daripada orang lain, tetapi orang yang subyektif selalu beropini penuh dengan metode, dan siap mengendalikan orang lain. Kita harus membiarkan Tuhan menanggulangi kita dengan keras setidaknya sekali, sehingga kita dapat dihancurkan sampai lumat dan tidak pernah bangkit lagi. Ketika ada ujian datang lagi, kita kemudian akan setia pada kesaksian kita. Kita akan membiarkan orang lain dengan bebas memilih untuk mengikuti atau tidak mengikuti kia. Kita tidak akan memiliki kewajiban untuk berbicara. Kita ada di sini bukan untuk menjadi pengajar banyak orang. Kita seharusnya tidak bersemangat berbicara, mengusulkan, memutuskan, mengajar, atau mengontrol pekerjaan. Saudara saudari, kita seharusnya kuat di dalam ministri kita, tetapi pada saat yang bersamaan juga belajar lembut dan tidak subyektif di hadapan Tuhan.