STABIL SATU
Stabilitas adalah karakter lain yang harus ada dalam penghidupan setiap pekerja Kristen. Stabilitas dalam karakter dapat dipahami sebagai kestabilan dalam emosi seseorang. Ada orang yang solid dan tak tergoyahkan di hadapan Tuhan, tetapi yang lainnya kendor dan mudah goyah. Mereka tidak memiliki keyakinan terhadap apapun dan mereka selalu mengikuti setiap gerakan apapun dalam lingkungannya. Banyak orang yang secara alamiah tidak dapat diharapkan, bukan karena ingin menjadi tidak dapat diharapkan, tetapi karena karakter mereka yang tidak dapat diharapkan. Begitu sesuatu menjamah mereka, mereka berubah. Mereka tidak stabil dalam karakter mereka. Allah menuntut para pelayan-Nya memiliki karakter yang stabil, yang solid, dapat diharapkan, dan tidak tergoyahkan.
Dalam Alkitab ada seseorang yang mudah goyah, yang kita kenal sebagai Simon Petrus. Marilah kita membaca beberapa ayat. Matius 16:13-16 mengatakan, "Setelah Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: "Kata orang, siapakah Anak Manusia itu?" Jawab mereka: "Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi." Lalu Yesus bertanya kepada mereka: "Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?" Maka jawab Simon Petrus: "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!" Satu Yohanes 5:1 mengatakan, "Setiap orang yang percaya, bahwa Yesus adalah kristus, lahir dari Allah," kemudian ayat 13 mengatakan, "Semua itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal." Ketika Petrus mengatakan, "Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup," ia setidak-tidaknya pasti telah menjamah hayat Allah. Ia pasti telah menjamah hayat Allah, baru ia bisa mengenal hal ini. Bacalah kembali Matius 16:17: "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga." Saudara saudari, melalui bersama-sama dengan Tuhan Yesus, mengikuti-Nya, dan berada di sisi-Nya tidak menjamin seseorang akan memperoleh pengenalan akan Dia. Seseorang hanya mengenal-Nya melalui wahyu Bapa yang di surga. Perhatian kita sekarang beralih ke ayat 18, yang mengatakan, "Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus [Petros] dan di atas batu karang [petra] ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." Kita harus melihat bahwa dasar gereja tidak tergoyahkan, dan gereja itu sendiri tidak tergoyahkan. Kalau demikian halnya, maka semua pelayan Tuhan seharusnya tidak tergoyahkan pula. Tuhan berkata, "di atas batu karang [petra] ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku." Gereja dibangun di atas batu karang ini. Kita seharusnya memperhatikan perihal batu ini.
Dalam ayat 18 Tuhan kelihatannya membuat referensi terselubung dengan perkataan dalam Matius 7, ketika Ia berbicara mengenai mereka yang membangun rumah mereka di atas pasir dan ketika hujan, banjir, dan angin datang, rumah itu rubuh. Kemudian Ia berkata bahwa kita seharunya membangun rumah kita di atas batu karang, yang berarti bahwa gereja tidak akan pernah runtuh. Hujan mungkin turun, banjir boleh datang, dan angin boleh melakukan tugasnya, tetapi bangunan itu sendiri tidak akan rubuh. Bahkan jika gereja sampai menjadi tunduk pada hujan, air, dan angin, ia tidak akan pernah runtuh karena ia terbangun dengan kokoh di atas batu karang. Ia stabil, tidak tergoyahkan, dan tidak dapat bergeser sedikitpun. Ini adalah sifat mendasar dari gereja. Paulus memberi tahu Timotius bahwa rumah Allah, yaitu gereja, adalah pilar dan dasar kebenaran (1 Tim. 3:15). gereja sepeti pilar; tidak pernah dapat dipindahkan. Sebuah kursi dapat dipindahkan dan digoyangkan, tetapi sebuah rumah tidak dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lainnya. Sifat dasar gereja adalah bangunan yang terletak di atas batu karang. Batu karang seperti ini stabil dan tidak tergoyahkan. Anak-anak Allah adalah batu-batu kecil (lithos) di atas batu karang yang unik ini. Dalam tulisan pasal kedua dari surat kirimannya yang pertama, Petrus mengatakan bahwa kita adalah batu-batu Allah yang hidup, dan bahwa kita sedang dibangun menjadi rumah rohani (ay. 5). Setiap saudara dan saudari adalah batu hidup yang terbangun di atas batu karang. Puncak gereja memiliki substansi yang sama seperti pondasinya. Bahan untuk bagian superstruktural sama dengan bahan yang digunakan untuk pondasinya. Gereja tidak memiliki batu bata; yang ada hanya batu-batu. Menara Babel terbuat dari batu bata yang merupakan buatan manusia sebagai tiruan dari batu. Namun dalam gereja tidak ada batu bata, tidak ada kestabilan buatan manusia. Gereja terbangun di atas batu karang. Setiap orang dari kita adalah batu dan kita terbangun bersama sebongkah demi sebongkah menjadi rumah rohani. Mata kita harus terbuka terhadap sifat intrinsik gereja. Gereja Tuhan adalah sesuatu yang tidak tergoyahkan. Dalam Matius 16:18 Tuhan melanjutkan berkata, "Dan alam maut tidak akan menguasainya." Ini adalah sesuatu yang tidak tergoyahkan; inilah makna sesungguhnya dari gereja. Pondasi gereja adalah batu karang, sesuatu yang tidak tergoyahkan, dan gereja itu sendiri terbuat dari batu-batu yang juga tidak tergoyahkan. Dapatkah kita lalu mengatakan bahwa para minister dalam gereja juga tidak tergoyahkan? Inilah yang sedang kita bicarakan di sini. Kita di sini bukan membicarakan gereja. Kita di sini membicarakan pribadi para minister. Para minister harus tidak tergoyahkan, karena mereka adalah batu-batu. Tuhan berkata kepada Petrus, "Engkau adalah Petrus." Ini berarti, "Engkau adalah batu." "Dan di atas batu karang [petra] ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya." Petrus menampilkan semua pelayan gereja. Seorang minister dan pelayan Allah harus menjadi batu. meskipun batu itu tidak sebesar batu karang, ia tetap memiliki sifat batu karang, dan ini sama artinya dengan tidak tergoyahkan.
Dalam ayat 19 Tuhan berkata, "Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Surga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di surga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di surga." Janji Tuhan kepda Petrus juga adalah janji bagi gereja. Janji ini menjadi milik gereja dalam Matius 18. Namun Tuhan pertama-tama memberikannya dulu kepada Petrus. Ini memperlihatkan kepada kita dengan jelas bahwa Tuhan menganggap Petrus sebagai salah satu minister-Nya. Tuhan memberikannya kunci Kerajaan Surga sehingga ia dapat membuka pintunya. Pada hari Pentakosta, Petrus membuka salah satu pintu, dan di rumah Kornelius, ia membuka pintu lainnya. Ia membuka pintu kepada orang Yahudi dan ia membuka pintu kepada orang kafir. Inilah yang telah dikerjakan oleh sebutir batu. Sebelum Simon menjadi Petrus (sebuah batu), ia tidak dapat menggunakan kunci-kunci itu. Hari ini tidak semua orang yang disebut Petrus adalah Petrus-Petrus, sama halnya bahwa tidak semua orang yang disebut orang Israel adalah orang-orang yang perkasa. Seseorang dapat disebut sebagai orang Israel tetapi ia adalah orang yang lemah. Di sini ada seseorang yang bernama Petrus. Tuhan menaruh kunci-kunci ke dalam tangannya. Namun ia baru dapat menggunakan kunci-kunci ini setelah ia benar-benar menjadi Petrus, sebuah batu. Ketika harinya tiba, apapun yang ia ikat akan terikat, dan apapun yang ia lepas akan terlepas.
Keefektifan seorang minister sangat berhubungan dengan kestabilan karakternya. Ini adalah persyaratan mendasar. Jika seseorang mudah goyah di hadapan Allah, ia tidak dapat menjadi seorang minister, dan gereja tidak dapat mengikutinya. Masalah mendasar dalam saudara saudari adalah kurangnya karakter yang stabil. Mereka terus-menerus berubah. Mereka terombang-ambing maju-mundur dan tidak pernah menetap dan kokoh di hadapan Tuhan. Mereka tidak dapat melayani gereja, karena mereka tidak dapat berdiri kokoh dan tegak, dan pintu alam maut dengan mudah berkuasa atas mereka.
Syukur kepada Tuhan bahwa Petrus terpilih sebagai teladan. Allah sedang mencari seseorang yang sifatnya sama seperti sifat pondasi di bawahnya dan puncak bangunan di atasnya. Seorang minister harus menjadi batu yang stabil. Syukur kepada Allah bahwa Petrus terpilih sebagai teladan karena kasus dirinya memperlihatkan bahwa Allah dapat membuat orang menjadi stabil. Di sini ada seseorang yang bernama Petrus, namun ia tidak selalu menjadi seorang "Petrus". Namanya mempunyai makna sebuah batu, tetapi karakternya seperti air. Ia tidak dapat diandalkan. Suatu saat ia begini dan saat lain ia begitu. Menit ini Petrus gagah berani dan menit berikutnya ia sangat lemah. Dulunya ia adalah orang yang demikian. Tuhan menaruh orang yang sedemikian di hadapan kita untuk memperlihatkan kepada kita betapa tidak stabilnya sifat seseorang sebelum ia ditanggulangi oleh Tuhan. Sebelum orang yang demikian menjadi batu, ia tidak dapat menggunakan kunci dan tidak dapat berguna bagi Allah secara khusus. Allah hanya dapat menggunakan dia setelah sifatnya yang mudah goyah telah ditanggulangi oleh Tuhan. Kita bersyukur kepada Tuhan bahwa karakter manusia dapat berubah; bukannya tidak dapat berubah. Petrus adalah peragu, namun ia dapat diubah menjadi orang yang stabil. Ketika terang Tuhan membakar lidah kita, keaktifan kita dalam berbicara akan lenyap. ketika seorang yang malas ditegur, kemalasannya tersingkap. Tuhan mengutuk pohon ara, dan pohon ara itu mengering. Teguran Tuhan mendatangkan kutukan-Nya, di mana kutukan-Nya berada, di sana ada penyingkapan dan maut. Jika kita tidak pernah menjamah-Nya, kita dapat melenggang kangkung dengan riang gembira. Begitu kita menjamah-Nya, kekonyolan kita tersingkap. Begitu terang Allah menjamah kita, baik melalui berita atau melalui teguran langsung seorang saudara, sesuatu dalam diri kita akan tersingkap. Teguran Tuhan menghasilkan penyingkapan. Di sini kita membicarakan tentang konstitusi ulang atau penyusunan ulang karakter kita. Banyak orang yang memiliki karakter tidak bisa mendengarkan orang lain atau mereka memiliki karakter yang terlalu malas dan dingin. Namun begitu Allah menjamah mereka atau ada seorang saudara yang datang dan menunjukkan ketidakpekaannya dalam mendengarkan atau kelemahan mereka, mereka akan menerima terang dan sesuatu dalam diri mereka akan tersingkap. Hanya karena kasih karunia Allah saja Petrus dipilih. Jika bukannya Petrus, maka semua orang yang lemah dan tidak stabil tidak memiliki harapan. Tetapi Tuhan memilih seorang manusia dan memanggilnya Petrus dan setelah itu menjadikannya "Petrus", Ia memberinya kunci untuk membawa orang masuk ke dalam gereja.
DUA
Alkitab memberi tahu kita bahwa setelah Petrus mengenali Tuhan sebagai Kristus, Anak Allah yang hidup, Tuhan berkata, "Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga" (Mat. 16:17). Ini sepenuhnya adalah pekerjaan Allah. Petrus tidak layak mendapatkannya tetapi wahyu Bapa membuat dia mampu melihat Tuhan sebagai Kristus dan Anak Allah. Petrus menerima wahyu dari Bapa, sebuah wahyu dari Allah. Wahyu yang demikian tidak dikenal oleh darah dan daging, bahkan terhadap darah dan daging Petrus sendiri. Marilah kita teruskan, "Sejak waktu itu Yesus nulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, katanya: "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: "Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia." Dalam bagian terdahulu Petrus melihat visi, sementara dalam pasal ini Petrus menjadi alat Iblis. Dalam ayat sebelumnya Petrus menjamah Allah Bapa; di sini ia menjamah Iblis. Di bagian pertama ia mampu berkata, "Engkau adalah Kristus, Anak Allah yang hidup." Di bagian kedua ia berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu. Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Kedua pernyataan ini sangat jauh berbeda seperti kutub Utara dan kutub Selatan. Jika pemahaman kita tidak salah, kita dapat dengan aman mengatakan bahwa tidak ada wahyu dalam Injil yang setinggi wahyu Petrus. Ia mengenali Tuhan sebagai "Kristus, Anak Allah yang hidup." Kemudian Tuhan mengumandangkan bahwa gereja akan dibangun di atas pengenalan ini, batu ini. Petrus memang menerima wahyu yang besar, yang tidak dilihat oleh pengikut-pengikut dan teman-teman Tuhan lainnya. Mungkin wahyu yang diterima dan dilihat Petrus dapat dipandang sebagai wahyu tertinggi. Namun pada pasal yang sama, ia terpuruk ke lubang terdalam. Ia bukan hanya berbicara menurut daging, tetapi juga oleh Iblis. Menit ini ia berbicara menurut Bapa; menit berikutnya ia berbalik dan berbicara menurut Iblis. Perputaran yang sungguh ekstrim! Jika gereja dibangun di atas minister seperti ini, pintu alam maut pasti berkuasa atasnya. Tidak, gereja tidak dapat dibangun di atas orang yang goyah; ia perlu dibangun oleh manusia-manusia dari batu. Para minister gereja harus stabil seperti batu. Mereka tidak menjadi corong Allah saat ini dan saat berikutnya menjadi corong Iblis. Ini adalah masalah yang serius. Tidak lama setelah Petrus menerima wahyu tertinggi, ia jatuh ke dasar lautan. Ia mencegah Tuhan pergi ke salib. Ia tidak menetapkan pikirannya pada hal-hal yang dari Allah. Ia digunakan oleh Iblis. Setiap kali perkataan Iblis keluar, pintu alam maut terbuka. Jika Iblis merajalela dan pintu alam maut berkuasa, maka gereja dikalahkan. Seandainya saja Tuhan tidak mengubah Petrus menjadi batu yang stabil, gereja tidak memiliki harapan. Hari ini kita perlu para minister yang stabil seperti batu. Mereka harus kokoh dan tidak tergoyahkan. Merka tidak bisa berlaku begini hari ini dan berlaku begitu hari lainnya, berkata satu hal saat ini dan berkata lain lagi saat berikutnya. Jika kita solid dan kokoh di hadapan Tuhan, kita benar-benar akan melihat apakah gereja itu, dan kita akan melihat berkat dan kemenangan atas pintu alam maut. Namun jika kita lemah dan goyah, Iblis akan segera membuka mulutnya dan pintu alam maut akan terbuka. Dari diri Petrus kita melihat adanya kontras yang ekstrim; terdapat banyak ketidaksesuaian dalam karakternya. Ini adalah gambaran sifat Petrus yang lama dan tidak dapat berubah.
Setelah perjamuan malam terakhir Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid, "Malam ini kamu semua akan terguncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai." Petrus menjawab-Nya, "Biarpun mereka semua terguncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak" (26:31, 33). Perkataan Petrus ini berdasar pada wataknya. Ia memang berkata benar; ia tidak berbohong, tidak, tidak sama sekali. Namun kita harus ingat bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang banyak hal yang kita katakan kepada Tuhan pada waktu persembahan dan kebangunan diri kita. Petrus adalah orang yang kaya emosinya. Ia berkata, "Aku sekali-kali tidak." Tetapi kesadaran ini hanya berada di dalam emosinya; ia sama sekali bukan orang yang demikian. Banyak orang yang kaya emosinya harus belajar memisahkan emosi mereka dari diri mereka. Cepat atau lambat mereka akan menemukan bahwa emosi mereka tidak mewakili diri mereka. Beberapa orang hidup berdasarkan pikirannya. Mereka selalu berada di dalam pikirannya saja. Ketika mereka berdoa, dan orang lain berkata kepada mereka, "Engkau berdoa hanya dengan pikiranmu; hatimu tidak berada dalam doamu," mereka menjawab, "Apa maksudmu hatiku tidak berada dalam doaku?" Seseorang dapat terlampau berada di dalam pikirannya sehingga ketika hatinya tidak berada dalam apa yang sedang dilakukannya, ia dapat tertipu dengan mengira bahwa pikirannya sebenarnya adalah hatinya. Suatu hari ketika terang menyoroti dia, ia akan melihat bahwa pikirannya bukanlah hatinya. Beberapa orang merasakan hatinya menyala-nyala; mereka berpikir bahwa mereka mengasihi Tuhan. Mereka dengan bangga mengumandangkan, "Aku mengasihi Tuhan." Jika ada saudara lain yang berkata, "Engkau mungkin mengira engkau mengasihi Tuhan, tetapi sebenarnya tidak demikian," mereka akan membantah, "Jika aku tidak mengasihi Tuhan, lalu siapa?" Ketika emosi mereka ditanggulangi oleh Tuhan, mereka akan menyadari bahwa hati dan emosi mereka adalah dua hal yang berbeda. Diri mereka tidaklah sama dengan emosi mereka; ada perbedaan yang besar di antara keduanya. Demikian pula halnya antara pikiran dengan diri mereka. Petrus berbicara dari emosinya. Ia mengira bahwa dirinyalah yang sedang berbicara. Ia membanggakan dirinya bahwa meskipun semua orang terguncang imannya karena Tuhan, ia tidak akan pernah terguncang. Ia tidak menyadari bahwa "aku" yang sedang ia katakan bukanlah dirinya melainkan emosinya. Ia tidak menyadari berapa banyak manusia luarannya dalam pekerjaan. Ia tidak menyadari berapa banyak ia hidup dalam manusia luarannya. Ia tidak mengetahui apa yang sedang ia katakan, dan ia sama sekali tidak jelas tentang dirinya sendiri. Kemudian Tuhan berkata kepadanya, "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali" (ay. 34). Tetapi Petrus masih tidak mengenali dirinya. Ia memberi tahu Tuhan, "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau" (ay. 35). Di sini lagi-lagi terdapat dua hal yang ekstrim. Petrus berkata bahwa ia tidak akan pernah terguncang, tetapi ia menyangkal Tuhan tiga kali. Ia membanggakan dirinya bahwa ia mau mati bersama Tuhan, ia gagal dan menjadi takut ketika orang banyak menunjukkan bahwa ia adalah orang yang pernah bersama-sama dengan Yesus.
Kedua hal yang ekstrim ini memperlihatkan kepada kita bahwa Petrus adalah orang yang sangat tidak stabil. Meskipun namanya mengindikasikan bahwa ia adalah sebuah batu, karakternya seperti air; saat ini mengalir ke arah sini dan saat berikutnya mengalir ke arah lainnya. Bentuknya terus-menerus berubah, menit ini bisa berupa segiempat dan menit berikutnya menjadi lingkaran. Ia sepenuhnya dikendalikan oleh lingkungan. Ia menjadi macam orang tertentu ketika menghadapi lingkungan tertentu. Di Taman Getsemani, ia tertidur bersama para murid lainnya. Sewaktu ia sedang membanggakan dirinya ia menyatakan dirinya tidak akan terguncang, bahkan jika semua orang terguncang. Namun di Taman Getsemani ia jatuh tertidur sama seperti yang lainnya. Di sini ada seseorang yang begitu yakin akan perkataannya dan merasakan hal yang sama terhadap dirinya sendiri, tetapi ia justru melakukan segala sesuatu sebaliknya. Ia hidup berdasarkan perasaannya. Ia tidak hidup menurut dirinya yang sebenarnya. Seseorang dapat hidup dalam perasaannya begitu rupa sehingga ia tidak lagi mengenali dirinya yang sebenarnya. Ia mengira bahwa perasaannya adalah dirinya. Inilah Petrus. Ia berkata bahwa ia tidak akan pernah terguncang, dan menurut perasaannya, ia dengan tulus percaya bahwa ia tidak akan pernah terguncang.Namun bahkan sebelum ia menghadapi penentangan dari manusia, ia sudah jatuh tertidur di Taman Getsemani. Rohnya penurut, tetapi dagingnya lemah (26:41). Tidak lama kemudian, ia mengumpulkan segenap tenaganya, menghunus pedangnya dan menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya (ay. 51). Ia dengan gagah berani berbuat demikian. Ia sangat mengasihi Tuhan sehingga ia mengesampigkan pertimbangan pribadinya dan bertindak sejauh ini. Namun tidak lama kemudian ia tergelincir kembali. Inilah Petrus.
Markus 14 juga memberikan kita catatan tentang penyangkalan Petrus terhadap Tuhan. Pada mulanya, "Petrus mengikuti Dia dari jauh, sampai ke dalam halaman Imam Besar, dan di sana ia duduk di antara pengawal-pengawal sambil berdiang dekat api" (ay. 54). Seorang hamba perempuan Imam Besar datang dan berkata kepada Petrus, "Engkau juga yang selalu bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret itu" (ay. 67). Petrus menyangkalnya dan menjawab, "Aku tidak tahu dan tidak mengerti apa yang engkau maksud" (ay. 68). Di sini ada seseorang yang telah mengikuti Tuhan selama tiga setengah tahun. Tidakkah ia mengenal siapa Tuhan itu? Pada suatu saat ia dapat menghunus pedangnya dan melukai seseorang, namun di saat lainnya ia kehilangan keberaniannya sama sekali. Tuhan sedang diadili dan semua orang mencemooh Dia. Dalam keadaan demikian, keberanian Petrus hilang tak berbekas. Sesaat sebelumnya ia benar-benar sudah siap mati bagi Tuhan. Kini ia benar-benar mengasihi dirinya sendiri dan menyusut dari kematian. Ia berpaling dari ekstrim yang satu ke ekstrim lainnya. Kali kedua hamba perempuan itu berbicara, Markus memberi tahu kita bahwa perempuan itu tidak berkata kepada Petrus tetapi ia malahan berbicara kepada orang-orang yang berada di situ, dan berkata, "Orang ini adalah salah seorang dari mereka!" Setelah hamba perempuan itu berkata kepada Petrus bahwa ia bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret, Petrus menyangkalnya dan pergi keluar menuju serambi muka. Namun hamba perempuan itu melihatnya lagi dan ia memberi tahu orang-orang yang sedang berada di situ bahwa ia adalah salah seorang dari mereka. Kemudian Petrus menyangkal untuk kali kedua (ay. 69-70). Matius 26:72 mengatakan, "Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." " Tidak lama kemudian orang-orang yang ada di situ berkata juga kepada Petrus: "Engkau ini pasti salah seorang dari mereka, apalagi engkau seorang Galilea!" (Mrk. 14:70). Petrus mulai mengutuk dan bersumpah: "Aku tidak kenal orang yang yang kamu sebut-sebut itu!" (ay. 71). Ia mulai mengutuk dan bersumpah! Tidak lama sebelum itu ia menyangkal dengan bersumpah dan sekarang ia menyangkal dengan mengutuk dan bersumpah. Ketika seorang hamba perempuan berbicara dengannya, ia menyangkal Tuhan dan pindah ke serambi muka karena ia tidak dapat lagi tinggal di tempat yang sama. Di sana ia mendengar hamba perempuan itu memberi tahu orang-orang di sekitarnya bahwa ia adalah orang yang bersama-sama dengan Yesus, orang Nazaret. Ia menyangkal Tuhan kembali dengan bersumpah bahwa ia tidak mengenal-Nya. Pada waktu orang-orang yang berada di sana mengulangi lagi perkataan bahwa ia adalah orang yang bersama-sama dengan Yesus, ia bukan hanya bersumpah; ia mengutuk dan bersumpah. Aslinya dalam bahasa Yunani, ada tiga kata berbeda yang digunakan dalam menjelaskan penyangkalannya. Yang satu digunakan dalam penyangkalan kali kedua, dan yang dua lainnya digunakan dalam penyangkalan ketiga. Ia kehabisan kata-kata untuk bersumpah dan mengutuk. Dalam penyangkalan kedua ia bersumpah demi nama Allah dan demi langit dan bumi. Dalam penyangkalan ketiga, ia hanya mengutuk dan bersumpah. Ia bukan hanya menggunakan nama Allah untuk meyakinkan orang-orang bahwa ia tidak mengenal Yesus; ia bahkan mengutuk bahwa ia akan menjadi terkutuk jika ia mengenal Tuhan! Perbendaharaan katanya sangat vulgar. Petrus telah merosot dan jatuh sampai dasar. Di sini ada seorang yang merupakan kebalikan dari Seorang "Petrus", yaitu seorang yang seharusnya solid seperti batu karang. Ia malahan seperti ini menit ini dan berubah menit lainnya. Menit ini ia membubung tinggi di atas langit, menit berikutnya ia menjadi alat Iblis. Menit ini ia dapat membanggakan dirinya bahwa ia tidak akan pernah terguncang meskipun semua orang terguncang, menit berikutnya ia jatuh tertidur. Menit ini ia dengan gagah berani menghunus pedangnya untuk memotong telinga Malkus, menit berikutnya ia bahkan ketakutan terhadap seorang hamba perempuan. Ia menyangkal Tuhan dengan sumpah. Ia bahkan mengutuk dan bersumpah dalam penyangkalannya. Orang seperti ini tentunya memiliki cacat yang serius dalam karakternya.
TIGA
Mengapa Petrus begitu tidak stabil? Umumnya, seseorang tidak stabil karena tiga hal. Pertama, ia dikendalikan oleh emosinya. Kedua, ia takut menderita kerugian; yaitu dalam hal mencari kesenangannya sendiri, ia takut akan salib dan rasa sakitnya. Ketiga, pada umumnya ia takut kepada manusia; yaitu ia takut menyinggung orang. Ia ingin menyenangkan manusia dan menyenangkan lingkungan. Ini adalah alasan mendasar penyebab ketidakstabilan seseorang.
Petrus adalah orang macam ini. Ia dirusak oleh emosinya sendiri. Jika seseorang hidup menurut emosinya, sesekali ia akan terbawa menuju awang-awang, dan kali lain ia akan terbawa masuk ke dalam perangkap Iblis. Emosi sangat tidak stabil. Kita belum pernah melihat seseorang yang dapat tetap berada dalam emosi yang sama untuk waktu yang sangat lama. Jika seseorang hidup menurut emosinya, ia menjalani hidupnya berdasarkan dorongan emosinya, oleh apa yang dengan mudah membuatnya panas atau dingin. Orang-orang seperti ini dapat menerima belas kasihan dan wahyu Allah. Namun mereka juga dapat tergerak oleh dorongan hati mereka untuk berseru, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Petrus mencegah Tuhan. Kelihatannya seolah-olah ia lebih jelas daripada Tuhan tentang apa yang perlu dikerjakan. Ia "menarik Yesus ke samping dan menegur Dia." Semua orang yang emosional suka menjadi penasihat Tuhan; mereka suka mengajukan usul kepada Tuhan. Mereka memilki rencana untuk segala sesuatu. Orang yang emosional dapat bertindak oleh karena dorongan emosinya dan segera berbalik menegur Tuhan dan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu!" Ia cepat dalam merasakan, cepat dalam berbicara, cepat dalam bertindak. Namun dalam kenyataannya, pembicaraannya adalah pembicaraan Iblis!
Kita harus belajar menerima beberapa penanggulangan dasar. Secara alamiah kita adalah orang yang emosional. Kita seharusnya tidak mengira diri kita sangat berbeda dari Petrus. Kelemahan dalam karakter ini adalah penghambat terbesar dalam pekerjaan kita. Jika hambatan ini tidak dihapuskan, hari Pentakosta kita tidak akan pernah tiba. Kita tidak dapat menjalani hidup berdasarkan emosi atau oleh dorongan perasaan kita. Kita seharusnya tidak hidup berdasarkan ransangan; malahan kita seharusnya menyangkal perasaan kita sendiri. Perasaan kita akan mengarahkan kita ke kiri menit ini dan kemudian berbelok ke kanan menit berikutnya. Perasaan-perasaan ini tidak berasal dari Tuhan melainkan dari manusia yang telah rusak di dalam diri kita. Jika perasaan-perasaan ini mejadi pusat kehidupan kita, kita akan berguna sedikit saja bagi pekerjaan Allah. Hanya orang-orang terlemah saja yang dapat hidup menurut perasaannya. Hidup berdasarkan perasaan bukanlah tanda kekuatan, melainkan tanda kelemahan. Seorang yang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya sendiri, yang matanya terbuka, dan yang tidak mempercayai perasaannya sendiri. Hanya mereka yang tidak percaya pada perasaannya sendiri, dan yang malahan menyangkalnya, yang akan mampu belajar makna tidak hidup berdasakan perasaan. Jika tidak, mereka akan selalu memandang perasaannya sebagai diri mereka sendiri. Petrus memiliki karakter yang jujur dan terbuka. Ia mengatakan apa yang ia pikir benar. Ia mengatakan apa yang ia lihat dan rasakan. Terhadap orang lain ia terbuka, jujur, dan tidak berdiplomasi atau basa-basi. Tetapi ia sebenarnya hidup menurut perasaannya, dan ia tidak berguna dalam jalan rohani. Tidak ada pilihan lain baginya selain melewati penanggulangan. Saudara saudari, kita mungkin merasa bahwa kita mengasihi Tuhan, tetapi sebenarnya tidak ada kasih bagi Tuhan di dalam diri kita. Diri kita lebih dalam daripada perasaan kita; ia terkubur di dalam perasaan-perasaan kita, jauh, jauh di dalamnya. Kita mungkin merasa bahwa kita rela mati bagi Tuhan, tetapi apakah kita benar-benar mengenal orang macam apakah kita ini? Ketika kita mengatakan bahwa kita bagi Tuhan, kita tidak mengenal siapa sesungguhnya "kita" yang dimaksud. Kita tidak mengenali siapa "kita" yang sedang dibangga-banggakan hendak mati bagi Tuhan atau hidup bagi-Nya. Diri kita yang sesungguhnya berada jauh di atas dan lebih dalam daripada perasaan kita. Petrus mengira bahwa manusia luarannya adalah pribadinya. Namun orang yang membanggakan diri hendak mati bagi Tuhan sebenarnya sama saja dengan emosi manusia luaran Petrus. Dalam sejenak saja kondisinya yang sebenarnya tersingkap. Sebelum emosi seseorang diremukkan oleh Tuhan, ia tetap saja hidup oleh emosinya. Ia cenderung berfluktuasi naik-turun. Meskipun ia mungkin merasa bahwa ia sangat murni, nyatanya ia dikendalikan oleh emosinya. Kita mengetahui bahwa berdusta sangat dibenci, dan sungguh mengenaskan ketika seseorang tidak mengetahui bahwa ia sedang berdusta. Demikian pula, emosi kita yang mudah berubah juga dibenci, dan sungguh mengenaskan ketika kita tidak tahu bahwa emosi kita sebenarnya mudah berubah. Mereka yang yakin bahwa perasaan mereka adalah refleksi yang akurat dari apa adanya diri mereka, adalah orang yang paling bodoh. Mereka harus mengalami apa yang dialami Petrus, sepenuhnya gagal total, agar mereka mengenal bahwa perasaan mereka berbeda dengan diri mereka. Mereka merasa begini sewaktu "perjamuan malam terakhir," dan merasa begitu di "Taman Getsemani". Mereka merasa begini ketika mereka keluar dari "Getsemani", dan mereka merasa begitu ketika mereka memasuki "serambi muka". Diberkatilah ia yang dapat memisahkan perasaannya dari dirinya sendiri. Hanya orang yang bodoh yang menganggap perasaannya sebagai dirinya sendiri. Setiap orang yang diajar oleh Tuhan mengenal bahwa perasaannya bukanlah dirinya sendiri. Perasaan kita adalah sesuatu yang sama sekali berbeda dengan diri kita. Saudara saudari, paakah kita telah melihat hal ini? Ketika dorongan emosional kita mengarah ke satu titik, kita belum tentu adalah orang yang dilukiskan oleh dorongan ini. Mengenai dorongan Petrus, ia adalah orang yang surgawi, orang yang tidak akan pernah jatuh. Ia rela memotong telinga Malkus demi Tuhan. Tetapi secara rohani, perasaan Petrus tidak dapat dianggap sebagai pribadinya yang sesungguhnya. Ia berani menurut perasaannya, tetapi ia takut menurut dirinya sendiri. Ia mengasihi Tuhan sejauh perasaannya dilibatkan, tetapi ia mengasihi dirinya sendiri melebihi diri Tuhan ditinjau dari pribadinya. Ia rela mengesampingkan dirinya sendiri sejauh mengenai perasaannya tetapi ia ingin melindungi dirinya sendiri sejauh dirinya yang dilibatkan. Jika ini adalah jalan para minister gereja, dan jika gereja mengikuti jejak langkah mereka, tentunya gereja akan segoyah mereka, dan pintu alam maut pasti berkuasa atas gereja. Allah tidak pernah dapat menggunakan orang-orang yang demikian.
Bukan ini saja. Petrus sangat takut akan penderitaan. Salah satu penyebab seseorang tidak stabil adalah karena ia takut akan penderitaan. Banyak orang gagah berani sebelum mereka menghadapi salib atau sebelum mereka mengalami pengujian atau kesusahan. Tetapi ketika tiba harinya mereka menyerahkan diri dan segala sesuatu mereka, mereka berngsut ke belakang. Pada kesempatan lain mereka kelihatannya mengasihi Tuhan dan rela memikul salib. Namun ketika saat-saat penentuan tiba. mereka tidak dapat bertahan, karena mereka takut akan penderitaan dan karena mereka mengasihi diri mereka sendiri. Di sinilah letak masalah Petrus. Apa yang mendorong perbuatan Petrus di serambi muka adalah sama seperti apa yang telah ia lakukan di Kaisarea Filipi di ahdapan Tuhan. Ketakutannya terhadap penderitaan dan mengasihi dirinya sendiri tidak muncul dengan segera di serambi muka. Ketika Tuhan berbicara kepadanya muka dengan muka tentang salib, ia terpukul dengan mengatakan, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Ia mempercayai perkataannya, dan pernyataannya menyatakan orang macam apakah ia itu. Inilah sebabnya ia menegur Tuhan seperti itu. Ia takut akan kerugian dan kematian. Ia tidak ingin hal ini terjadi pada Tuhan. Ia begitu berkeras hati sehingga ia menarik Tuhan ke samping dan menegurnya. Saudara saudari, hanya satu macam orang yang stabil - mereka yang setia kepada Tuhan sampai mati. Iblis tidak dapat berbuat apa-apa terhadap mereka yang tidak mengasihi diri mereka sendiri. Orang-orang terlemah adalah orang yang mengasihi dirinya sendiri. Begitu seseorang mengasihi dirinya sendiri, ia akan tersandung begitu sesuatu menjamah dirinya. Inilah yang terjadi kepada Petrus. Ia menegur Tuhan dengan berkata, "Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau." Dengan kata lain, ia sedang mengatakan, "Tuhan, Engkau tidak boleh pergi ke salib!"Kemudian ia mencoba berbagai jalan untuk melarikan diri dari salib. Ia bahkan mengutuk dan bersumpah! Pikiran untuk menderita adalah sesuatu yang besar. Kemudian dalam hidupnya, ia berbicara mengenai pikiran untuk menderita. Ia mengenali bahwa dirinya kekurangan hal ini, dan ia telah mendapatkan pelajaran darinya. Ia mulai mempersenjatai dirinya dengan pikiran untuk menderita. Sikap ini tidak dikenal olehnya pada awal-awal perjalanan hidupnya. Tidak ada seorangpun yang takut akan sesuatu bisa kuat. Kita harus terbawa sampai pada titik kita dapat berkata, "Tuhan, aku gembira dan telah menderita kehilangan apapun, tidak mencari keuntunganku sendiri atau kesenanganku sendiri." Jika seseorang berdiri di atas posisi ini, Iblis tidak akan mampu melakukan apapun terhadap dirinya. Jika Anda tidak takut kehilangan dan kepedihan, jika Anda dapat menjadi seorang Ayub, yang berkata bahwa ia akan mempercayai Allah bahkan meskipun Allah hendak membunuhnya, atau Madame Guyon, yang berkata bahwa ia akan mengecup pecut yang mencambuknya, maka kemutlakan Anda akan menjadikan Anda seorang yang kuat. Jika salib tidak dapat menggoyang seseorang, tidak ada lagi yang dapat menggoyangnya, karena tidak ada persyaratan yang lebih besar daripada salib. Jika Anda dapat memuaskan tuntutan yang terbesar, Anda tidak akan menemui kesulitan memenuhi tuntutan-tuntuan yang lebih ringan. Jika Anda tidak dapat memenuhi tuntutan salib, dan sebaliknya malahan beringsut-ingsut menghindarinya, Anda akan gagal dalam menghadapi ujian apapun. Anda harus menerimanya dan tunduk kepada semua ujian, kesusahan, dan kepedihan yang Allah berikan. Jika Anda melakukannya, tidak ada ujian atau kesusahan dalam dunia ini yang nampak besar. Anda merasa terganggu karena Anda tidak mengenal salib. Jika Anda belum pernah menghadapi ujian yang besar, Anda akan tersandung karena hal yang kecil. Namun jika Anda telah melewati ujian yang besar, Anda tidak akan tergoyahkan oleh hal yang kecil. Petrus goyah karena ia takut akan penderitaan dan karena ia mengasihi dirinya sendiri.
Alasan lain ketidakstabilan Petrus adalah hasratnya untuk mengikuti lingkungan. Ia ingin menyenangkan mereka yang berada dalam lingkungan itu. Ia takut terhadap manusia. Kita mungkin belum menyadari betapa banyaknya kita terpengaruh oleh kasih sayang dan ketidaksenangan manusia. Begitu kita mencoba menyenangkan manusia dan menghindari ketidaksenangan mereka, jalan kita tidak lagi lurus. Kita harus mengatakan ini atau itu untuk memenuhi harapan orang lain. Kita memiliki terlalu banyak telinga untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan orang lain. Petrus takut terhadap hamba perempuan itu dan ia takut kepada banyak orang lagi. Ia terbelenggu oleh kelemahannya. Saudara saudari, Anda mencoba menyenangkan manusia atau menyenangkan Allah? Pertanyaan ini seharusnya dijawab pada hari pertama Anda mempersembahkan diri Anda kepada pelayanan Allah. Jika Anda di sini untuk menyenangkan manusia, apakah Anda akan tetap mengalami penyikasaan? Apakah Anda masih mengalami masalah? Jika Anda di sini untuk menyenangkan manusia, batu sandungan dari salib tidak akan berlaku lagi (Gal. 5:11). Saudara saudari, jika masalah ketakutan Anda terhadap manusia beum dipecahkan, Anda tidak dapat berlari dalam jalur perlombaan yang benar di hadapan Tuhan. Mereka yang memiliki rasa takut terhadap manusia mengubah jalur mereka begitu sesuatu mempengaruhi mereka dengan jalan apapun. Mereka tidak pernah dapat menjadi stabil dan kuat di hadapan Tuhan.
EMPAT
Saudara saudari, gereja Allah memiliki sifat seperti batu. Sifat para minister seharusnya juga seperti batu. Pondasi gereja adalah dari batu, pembangunan gereja adalah dari batu dan pelayanan gereja seharusnya berasal dari batu. Segala sesuatu seharusnya solid seperti batu, tidak goyah, dan tidak mungkin berubah. Allah tidak dapat menggunakan sesuatu yang kurang mantap, goyah, atau tidak stabil dalam pekerjaan ilahi-Nya di dalam gereja. Ketika sesuatu itu stabil, maka ia solid dan bernilai. Ketika sebuah batu diletakkan di atas yang lainnya, setiap batu yang tidak stabil akan membahayakan seluruh bangunan. Jika sebuah batu karang pada dinding batu tidak stabil, seluruh dindingnya akan terancam bahaya rubuh. Di dalam gereja Allah, kita bukanlah batu-batu yang terakhir; masih banyak lagi yang akan terbangun di atas kita. Gereja tidak tersusun dari ribuan batu yang terpisah, ia tersusun dari batu-batu yang terbangun satu sama lain. Banyak batu ini terbangun bersama untuk menjadi sebuah rumah rohani. Ketika batu-batu ini tidak tersusun di atas yang lainnya, maka tidak ada gereja. Ketika bait Allah dihancurkan, tidak ada batu yang tersusun satu sama lain. Supaya bait ini terbangun, setiap batu harus berada di atas batu-batu yang lain. Hari ini Allah masih membangun; Ia masih membangun banyak hal-hal rohani, sebongkah demi sebongkah. Jika ada satu bongkah yang goyah, maka seluruh bangunan akan terancam bahaya; banyak nyawa akan menjadi taruhannya, dan gereja Allah tidak akan mampu maju. Inilah sebabnya karakter kita harus sesolid batu; harus stabil. Jika karakter kita mudah goyah dan tidak dapat diandalkan, segala sesuatu yang dibangun di atas kita akan mudah goyah, dan cepat atau lambat segalanya akan runtuh. Satu Korintus 15:58 berkata, "Berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan!" Kita hanya dapat maju secara positif jika kita berdiri teguh dan tidak goyah. Jika karakter kita mudah goyah, sering naik turun, menit ini begini dan menit berikutnya begitu, maka pekerjaan Allah akan rusak.
Beberapa saudara saudari tidak dapat berbagian dalam pekerjaan Tuhan karena mereka terlalu tidak dapat diandalkan. Jika Anda membangun di atas sesuatu yang tidak dapat diandalkan, Anda mungkin baru membangun sedikit lalu menemukan bahwa pekerjaan ini harus diruntuhkan. Ini bukan saja pemborosan tenaga, juga pemborosan waktu. Jumlah pembangunan dan peruntuhan mungkin saling menetralkan satu sama lain, tetapi waktu yang telah dibuang tidak dapat diganti. Jika seseorang dapat diandalkan, apapun yang dibangun di atasnya akan dapat diandalkan pula, dan tidak ada waktu yang terbuang percuma. Setiap kejatuhan atau kerusakan dalam pekerjaan mungkin dapat diulang melalui pembangunan kembali, tetapi lima, sepuluh, atau dua puluh tahun sudah terbuang selama proses. Kerugian ini tidak dapat diulangi. Kita harus berdoa supaya Allah akan menjadikan kita dapat diandalkan. Kita mungkin tidak mendaki setinggi Petrus, karena untuk mencapai ketinggian seperti itu membutuhkan waktu. Namun setidak-tidaknya kita bernilai dan dapat diandalkan, tidak membangun sesuatu yang ternyata harus diruntuhkan. Tanpa karakter yang dapat diandalkan seperti ini, kita tidak dapat berbagian dalam pekerjaan Allah. Ketika stabil dan bernilai, kita dapat memenuhi tantangan tanggung jawab apapun yang jatuh ke bahu kita. Jika tidak, kita akan jatuh tertidur waktu kita disuruh berjaga-jaga. Jika seseorang tidak dapat diandalkan, selalu naik turun, ia akan gagal memenuhi panggilan Tuhan untuk berjaga-jaga dan malahan tertidur. Ketika ia lelah, ia akan jatuh tertidur, tidak peduli apakah ada keperluan untuk berjaga-jaga. Ia menghendaki delapan jam tidur dan tidak menghiraukan hal lainnya, tidak peduli berapa kali ia disuruh berjaga-jaga. Ia mungkin tidur juga, tetapi ia tidak akan menyadari kerugian yang dideritanya karena tidur. Seandainya Anda jatuh tertidur ketika Tuhan memanggil Anda untuk berjaga-jaga, apa yang akan Anda lakukan ketika Tuhan memanggil Anda bekerja? Anda tidak akan memiliki rasa tanggung jawab. Jika seseorang tidak stabil di hadapan Tuhan, ia tidak dapat diandalkan, dan jika ia tidak dapat diandalkan, ia tidak akan memiliki rasa tanggung jawab. Ketika ia merasa baik, ia akan lebih banyak bekerja. Ketika ia merasa buruk, ia akan tidur. Ia tidak akan memiliki rasa tanggung jawab. Maka, stabilitas dalam karakter kita adalah keperluan mendasar dalam pekerjaan; hanya orang-orang yang stabil yang dapat bekerja bagi Tuhan. Mereka bekerja ketika mereka merasa ingin, dan mereka tetap bekerja walaupun mereka tidak ingin melakukannya. Mereka bekerja ketika matahari bersinar, dan mereka bekerja ketika hujan turun. Mereka bekerja ketika mereka sangat gembira, dan mereka bekerja ketika mereka sangat sedih. Inilah orang-orang yang stabil. Orang-orang yang tidak stabil dipengaruhi oleh apa saja; bahkan cuaca mempengaruhi mereka. Jika pekerjaan kita dipengaruhi oleh lingkungan kita, kita telah gagal di hadapan Tuhan. Kita harus memiliki roh yang kuat di hadapan-Nya.
Saudara saudari, apakah Anda dapat diandalkan? Apakah Anda stabil? Apakah Anda tidak mudah goyah? Bila Anda telah belajar semua yang Allah inginkan untuk Anda pelajari, maka Anda akan memiliki kuncinya. Kunci-kunci ini pertama-tama membuka pintu bagi orang-orang Yahudi, dan kemudian membuka pintu bagi orang-orang kafir, lalu gereja terbangun dengan cara ini. Kita harus ingat prinsip yang Allah tekankan kepada para minister sebelum Ia membangun gereja. Allah pertama-tama mencari para minister dan kemudian Ia membangun gereja. Pintu-pintu di banyak tempat terbuka dan hanya dibuka ketika Allah mendapatkan minister-minister yang cocok dan dapat digunakan. Jika para minister dan pelayan-Nya tidak stabil dan dapat diandalkan, pintu-pintu ini tidak akan terbuka.
Syukur kepada Allah bahwa Petrus melihat kelemahannya melalui kegagalannya. Kejatuhannya benar-benar parah. Ia lalu pergi dan menangis. Ia mengetahui bahwa ia tidak bisa. Banyak saudara saudari juga demikian, sepenuhnya menyadari kelemahan, ketidakstabilan, dan kerapuhan mereka sendiri. Marilah kita berdoa kepada Tuhan, "Tuhan, aku tidak dapat melakukannya!" Banyak orang berdoa demi terang, namun sering kali kegagalan besar adalah sumber terang yang besar pula. Kegagalan-kegagalan ini dapat memberikan terang sebesar teguran keras atau berita tajam (seething) yang kita terima. Seseorang seharusnya rebah di hadapan Firman Allah. Ia seharusnya rebah di hadapan teguran keras. Demikian pula halnya, ia seharusnya rebah di hadapan kegagalan yang serius. Kegagalan seperti ini sebenarnya adalah terang. Melalui kegagalan, Allah memperlihatkan orang macam apakah orang itu. Petrus menangis dengan sedihnya. Namun belas kasihan Allah ada di atas dirinya, dan ia menjadi "Petrus" yang sejati. Ia diubah dari orang yang lemah dan mudah goyah menjadi orang yang solid dan stabil, dan pintu Pentakosta dibuka melalui dirinya. Semoga Tuhan bermurah hati kepada kita sehingga kita akan menyaksikan perubahan dalam karakter kita. Karakter kita harus diubah, dan Tuhan dapat mengubah karakter kita. Karakter kita harus diubah, dan Tuhan dapat mengubah karakter kita. Orang yang malas dapat dubah menjadi orang yang rajin; orang yang senang berbicara dapat diubah menjadi orang yang tidak banyak bicara; orang yang tidak peka dapat diubah menjadi orang yang mendengarkan; orang yang takut akan penderitaan dapat diubah menjadi orang yang tidak takut menghadapi penderitaan; orang yang tidak dapat mengendalikan tubuhnya dapat diubah menjadi tuan atas tubuhnya. Demikian pula halnya, orang yang lemah, goyah, dan rapuh dapat diubah menjadi orang yang kuat, stabil, dan kokoh. Semoga Tuhan berbelas kasihan kepada kita.