← Daftar isi Stabil Tidak Subyektif terhadap Uang Beberapa Perkara Lain · bab 6/10

TERKENDALI DALAM BERBICARA SATU

Banyak orang dapat sangat berguna dalam tangan Allah; mereka dapat menjadi bejana yang berkuasa bagi Tuhan. Namun mereka tetap tidak berguna bagi Allah atau mereka hanya digunakan dengan terbatas oleh-Nya. Salah satu alasan utama kegagalan mereka adalah karena adanya kekurangan pengendalian dalam pembicaraan mereka. Kita harus ingat bahwa kata-kata yang ceroboh sering kali menjadi sumber kebocoran kuasa. Kata-kata kita seperti lubang-lubang; mereka dapat menjadi saluran kuasa Allah atau mereka dapat membocorkan kuasa-Nya. Mulut kita dapat menjadi saluran yang mengalirkan kuasa Allah atau ia dapat menjadi lubang yang membocorkan kuasa ilahi. Sayangnya, banyak orang membocorkan kuasa Allah melalui pembicaraan mereka.

Yakobus 3:11 mengatakan bahwa sebuah mata air tidak dapat "memancarkan air tawar dan air pahit" dalam waktu bersamaan. Seorang pekerja Tuhan seharusnya memancarkan air hidup yang manis; ia seharusnya menjadi seorang penyampai Firman Allah. Sebuah ember tidak dapat digunakan sekaligus untuk mengambil air minum dan membuang limbah. Jika ember untuk menampung limbah digunakan untuk menampung air minum, maka akan sangat berbahaya bagi kesehatan dan hidup. Demikian pula, jika bibir kita dipersembahkan untuk perkataan Firman Allah, maka kita memiliki kewajiban yang sangat serius untuk menjaga bibir kita bagi pelayanan-Nya saja. Jika kita menggunakan bibir kita untuk hal-hal selain Firman Allah, maka kita tidak dapat dipakai oleh Allah atau mereka hanya dapat digunakan Allah dengan terbatas, karena ternyata mata air mereka mengalirkan dua macam air, manis dan pahit. Mereka membicarakan Firman Allah dengan mulut mereka dan mereka juga mengucapkan banyak hal lain yang tidak berhubungan dengan Allah.

Saudara saudari, di hadapan Tuhan kita seharusnya menyadari bahwa begitu kita mempersembahkan mulut kita untuk menjadi bait Allah, kita memikul tanggung jawab yang berat di atas bahu kita. Ini adalah suatu tanggung jawab yang serius bagi Allah dalam mempercayakan Firman-Nya kepada kita. Dalam Bilangan 16 kita diberi tahu bagaimana Korah dan teman-temannya berkumpul bersama menentang Musa dan Harun. Mereka mengambil perbaraannya dan membubuhkan api ke atasnya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Mereka semua binasa karena dosa mereka namun perbaraannya tetap kudus dan ditempa tipis-tipis menjadi salut mezbah (ay. 16-18, 33, 38-39). Apapun yang dipersembahkan kepada Allah dan digunakan oleh-Nya akan disisihkan bagi-Nya dan seterusnya tidak dapat digunakan untuk orang awam. Beberapa saudara saudari memiliki konsep yang salah; mereka berpikir bahwa menit ini mereka dapat membicarakan Firman Allah dan menit berikutnya membicarakan perkataan Iblis (kebohongan berasal dari Iblis). Saudara saudari, ini bukan cara kita. Begitu seorang saudara membuka mulutnya bagi Tuhan maka mulutnya adalah milik Tuhan selama-lamanya. Banyak orang membocorkan kuasa mereka melalui perkataan yang mereka ucapkan. Beberapa saudara sebenarnya dapat berguna dalam tangan Tuhan namun karena mereka membicarakan banyak hal yang bukan bagi Allah maka kuasa batiniah mereka bocor melalui pembicaraan mereka. Kita harus ingat bahwa suatu mata air hanya dapat mengalirkan satu macam air. Jika mulut kita telah sekali saja membicarakan Firman Allah, kita harus menyadari bahwa kita tidak memiliki hak untuk membicarakan apa saja begitu kita membuka mulut lagi. Mulut kita telah dikuduskan; sudah disisihkan. Begitu sesuatu dipersembahkan bagi Allah, ia menjadi milik Allah selama-lamanya; kita tidak akan pernah bisa mengambil kembali apa yang telah diberikan kepada-Nya. Jika kita mengambilnya kembali, kita akan menjadi seperti keledai Bileam; kita bukan lagi seorang nabi Allah. Kita harus melihat hubungan yang kuat antara Firman Allah dengan perkataan kita. Mulut kita sudah disisihkan menjadi milik Allah dan hanya dapat membicarakan Firman Allah.

Sungguh disayangkan bahwa banyak orang lain yang berguna bagi manusia malahan tidak berguna dalam pandangan Tuhan hanya karena mulut mereka telah menjadi lubang menganga yang mempertaruhkan kuasa Allah. Begitu mulut kita membicarakan perkataan yang salah maka kuasa akan hilang dari mulut seperti itu. Kesulitan kebanyakan orang adalah mereka terlalu banyak bicara. Dalam banyak bicara terdapat kebodohan (Pkh. 5:3). Banyak orang kehilangan kuasa mereka melalui banyak bicara. Mereka suka mengatakan ini dan itu kepada si anu dan si anu. Mereka selalu mengomentari segala sesuatu. Bukan hanya merekabanyak bicara, mereka juga suka menyampaikan apa yang mereka dengar kepada orang lain. Saudara saudari, kita harus memperhatikan dan menjaga mulut kita. Kita harus menjaganya seperti kita menjaga hati kita. Ini khususnya berlaku bagi mereka yang melayani sebagai juru bicara Allah. Allah sedang menggunakan mereka menjadi juru bicara-Nya dan menyampaikan Firman-Nya. Mulut mereka sudah dikuduskan bagi pelayanan-Nya; mulut mereka kudus dan sudah seharusnya dijaga sama gigihnya seperti ia menjaga hatinya. Mulut ini tidak dapat kendor.

DUA

Ada beberapa poin yang berhubungan dengan perkara berbicara dan harus kita perhatikan.

Pertama, mari kita perhatikan di hadapan Tuhan pembicaraan macam apa yang kita dengar sepanjang waktu. Macam pembicaraan yang kita dengar menentukan orang macam apakah kita ini. Banyak orang tidak akan memberi tahu beberapa hal kepada Anda karena mereka tahu bahwa Anda tidak seperti mereka dan tidak ada gunanya mengatakan hal itu kepada Anda. Jika seseorang sudah bersedia menceritakan hal-hal tertentu kepada Anda, ia melakukannya karena ia tahu orang macam apakah Anda itu dan hal-hal sedemikian akan menghasilkan efek tertentu pada Anda. Anda dapat mengenal diri Anda sendiri dengan memperhatikan hal-hal yang disampaikan orang kepada Anda sepanjang waktu.

Kedua, mari kita amati perkataan macam apa yang paling kita percayai. Hal-hal yang sering mempengaruhi kita menyatakan watak kita sendiri. Orang-orang tertentu akan cenderung mempercayai perkataan tertentu pula. Kita salah mendengarkan dan mudah percaya karena kita buta; kita tidak berada dalam terang Allah. Begitu kita kekurangan terang atau menghindari terang, kita jatuh ke dalam kesalahan. Arah telinga kita dan seberapa banyak kita mudah tertipu sering kali menyingkapkan kondisi kita yang sakit. Banyak orang percaya pada perkataan orang lain bahkan sebelum mereka mendengar apapun. Kemudian ketika mereka mendengar sesuatu, mereka bersuka ria atas apa yang telah mereka dengar. Perkataan itu mungkin kedengarannya aneh dan konyol namun tetap saja ada orang yang percaya bahwa hal itu benar. Maka, perkataan macam apa yang kita percayai memperlihatkan orang macam apakah kita ini.

Ketiga, setelah mendengarkan dan mempercayainya, masih ada lagi perkara meneruskan perkataan itu kepada orang lain. Pada dasarnya ini sama dengan dua poin pertama. Seseorang mungkin mendengar dan mempercayai perkataan tertentu tetapi jika ia memutuskan untuk meneruskan hal itu kepada orang lain, ini menunjukkan bahwa ia bukan hanya orang yang digambarkan oleh perkataannya, yaitu orang yang berada dalam kegelapan, tetapi ia juga mau membuat orang lain sama seperti dirinya. Seluruh dirinya terkait dengan perkataan yang ia ucapkan. Dalam mendengarkan orang lain yang sedang berbicara; dalam mempercayainya, perkataan orang lain diterima; dan dalam meneruskan perkataan ini, seluruh diri seseorang ditaruh ke dalam perkataan itu. Banyak orang yang senang berbicara dan memberi tahu orang lain. Oleh karena itu, mereka kehilangan semua kuasa mereka dan tidak lagi mampu menjadi pelayan Firman Allah yang tepat.

Keempat, ada perkataan yang tidak akurat. Beberapa orang sangat tidak akurat dalam perkataan mereka. Semenit mereka mengatakan satu hal dan menit berikutnya mereka mengatakan hal lain lagi. Tipe orang seperti ini adalah "bercabang lidah"(1 Tim. 3:8); mereka tidak dapat melayani sebagai diaken-diaken. Mereka mengucapkan satu hal kepada orang yang satu dan hal yang lain lagi kepada orang lain. Mereka mengatakan sesuatu di hadapan seseorang dan begitu membalikkan badan ia mengatakan hal lain lagi di belakang punggung orang itu. Orang-orang seperti ini tidak berguna dalam pekerjaan Allah. Saudara saudari, jika kita tidak dapat menahan lidah kita, bagaimana kita dapat mengendalikan diri kita dan bagaimana kita dapat melayani Tuhan? Seseorang harus menahan dan melatih tubuhnya agar dapat melayani Tuhan dengan tepat. Kita memiliki anggota tubuh yang sangat buruk - lidah kita, yang selalu membawa kita ke dalam masalah. Ketidakakuratan dalam perkataan, bercabang lidah, dan kebimbangan dalam pernyataan kita adalah tanda-tanda kelemahan dalam karakter. Mereka yang memiliki kebiasaan demikian tidak memiliki pendirian dan mereka tidak berkuasa di hadapan Allah. Mereka bimbang karena mereka terlalu santai dan tidak pasti. Kelakuan seperti ini menunjukkan kelemahan yang sangat besar dalam karakter seseorang! Dalam pekerjaan Tuhan, perkataan yang tidak akurat adalah perkara yang sangat serius dan kita harus menanggulanginya.

Kelima, ada orang yang dengan sengaja bercabang lidah. Beberapa orang bercabang lidah lebih parah daripada orang lain; mereka lebih parah daripada orang yang bercabang lidah karena ketidakacuhan mereka; mereka dengan sengaja bercabang lidah. Beberapa orang bercabang lidah karena ketidakacuhan mereka. Mereka mengatakan hal ini saat ini dan hal lainpada kesempatan lain. Bagi mereka "ya" dan "tidak" kurang lebih sama saja. Mereka tidak memiliki perasaan benar dan salah dan mereka sepenuhnya berada dalam kegelapan. Jika Anda menanyakan apakah warna suatu obyek hitam, mereka mungkin menjawab ya. Jika Anda menanyakan apakah obyek yang sama bewarna putih, mereka mungkin menjawab ya kembali. Mereka tidak jelas tentang segala sesuatu. Bagi mereka hitam dan putih sama saja. Mereka hidup dengan ceroboh dan bodoh. Mereka tidak peduli telah bercabang lidah Namun ada orang-orang yang dengan sadar berusaha bercabang lidah. Mereka sengaja mengatakan sesuatu pada suatu kesempatan dan mengatakan hal lainnya di kesempatan lain. Ini bukan hanya kelemahan dalam karakter tapi juga kerusakan moral. Matius 21:23-27 mencatat bahwa imam-imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi mendatangi Tuhan dan bertanya dengan kuasa manakah Ia bertindak. Ia menjawab dengan pertanyaan ini: "Dari manakah baptisan Yohanes? Dari surga atau dari manusia?" Mereka memperbincangkannya di antara mereka dan berkata, "Jikalau kita katakan: dari surga, Ia akan berkata kepada kita: Kalau begitu, mengapakah kamu tidak percaya kepadanya? Tetapi jikalau kita katakan: Dari manusia, kita takut kepada orang banyak, sebab semua orang menganggap Yohanes ini nabi." Lalu mereka menjawab Yesus, "Kami tidak tahu." Jawaban mereka adalah kebohongan yang disengaja. Dalam Matius 5:37 Tuhan berkata, "Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak, Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat." Jika sesuatu adalah ya, kita katakan ya. Jika tidak, kita katakan tidak. Inilah berjalan dalam terang dan kejujuran. Namun jika kita tidak lagi memikirkan akibat apa yang mungin timbul akibat perkataan kita kepada orang lain dan menimbang-nimbang bagaimana kita dapat berdiplomasi, maka motif dan sikap kita tidak mencerminkan seorang pekerja Tuhan. Jika perkataan kita terangkai dalam tipu daya maka kita memakai perkataan sebagai alat penipuan! Lebih baik kita mengikuti teladan Tuhan. Ketika orang-orang mencari kesempatan untuk menjebaknya dengan pertanyaan-pertanyaan, Ia tidak menjawab sepatah katapun. Jika kita harus mengatakan sesuatu, kita lebih baik menjawab "Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak." Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. Tidak ada tempat bagi orang yang pintar di sini. Paulus menasihati orang-orang Korintus dengan mengatakan, "Jika ada di antara kamu yang menyangka dirinya berhikmat menurut dunia ini, biarlah ia menjadi bodoh, supaya ia berhikmat." (1 Kor. 3:18). Roma 16:19 mengatakan, "Tetapi aku ingin supaya kamu...bersih terhadap apa yang jahat." Menjadi berhikmat dalam hal-hal ini membuat kita tidak mendapatkan tempat dalam pandangan mata Allah. Tidak ada gunanya kita bersilat lidah. Hikmat kita terletak di tangan Tuhan. Kita tidak dapat bercabang lidah. Inilah masalah kebanyakan orang. Mereka yang perkataannya tidak dapat dipercayai hanya berguna sedikit bagi Allah. Jika mereka menyerahkan diri mereka bagi pekerjaan, cepat atau lambat mereka akan mendapatkan diri mereka dalam masalah. Jika seseorang mengatakan suatu hal pada suatu saat dan mengatakan hal lain pada kesempatan lain, ragu-ragu antara benar dan salah, ya atau tidak, dan bimbang antara apa yang dapat dikerjakan dan mana yang tidak, ia hanya berguna sedikit saja dalam pekerjaan Allah. Mereka yang perkataannya tak menentu dan tidak dapat diandalkan, tidak berguna dalam pekerjaan Allah.

Keenam, kita harus menanggulangi cara kita mendengarkan. Seseorang mungkin berkarunia dan bertalenta. Namun selama ia tidak akurat dalam perkataannya, maka karakternyamemiliki kekurangan. Satu cacat ini saja akan mempertaruhkan semua kuasanya. Betapa malangnya banyak pekerja Allah telah menjadi pusat informasi! Saudara saudari, sebagai pekerja Tuhan kita secara berkala berkontak dengan orang dan mempunyai kesempatan mendengarkan orang berbicara sebanyak kesempatan kita untuk berbicara kepada orang lain. Jika kita tidak berdisiplin dan membatasi perkataan kita, kemungkinan besar sewaktu kita membicarakan Firman Allah, saat itu juga kita juga sedang menyebarkan kabar burung dan gosip. Jika perkataan kita tidak didisiplin, kita mungkin sedang membangun pekerjaan Allah dengan tangan yang satu dan menghancurkannya dengan tangan yang lain. Maka kita harus menengadah kepada Allah untuk menerapkan disiplin yang ketat pada telinga kita. Saudara saudari sering kali ingin menceritakan perihal pribadi mereka. Kita seharusnya berusaha sebaik mungkin mendengarkan mereka. Kita seharusnya menjadi pendengar yang baik dan kita seharusnya memahami persoalan mereka dan memberikan bantuan yang tepat. Ketika orang lain berbicara kepada kita, kita seharusnya mendengarkan mereka untuk memperhatikan keperluan mereka dan memecahkan masalah mereka. Namun kita tidak boleh mendorong mereka bercerita dengan terperinci begitu batin kita sudah jelas akan keperluan mereka. Kita seharusnya menyuruh mereka berhenti. Kita dapat mengatakan, "Sudah cukup. Anda dapat berhenti sampai di sini." Mendengar dengan rasa ingin tahu dan memperlakukan perkataan mereka seperti cerita atau dongeng adalah salah. Kita tidak boleh bernafsu terhadap informasi. Manusia memiliki nafsu untuk mengetahui urusan orang lain; mereka memiliki nafsu dalam mendengarkan. Ada nafsu untuk pengetahuan, nafsu untuk mendengarkan. Namun kita harus mendengarkan dengan tindakan berjaga-jaga. Begitu kita mencapai batas, kita harus berhenti. Tujuan kita mendengarkan adalah untuk memperhatikan doa kita dan memecahkan masalah. Kita seharusnya mendengarkan dengan tujuan memperhatikan masalah saudara saudari. Pada titik tertentu kita harus berhenti mendengarkan.

Ketujuh, kita harus memperoleh dan mempertahankan kepercayaan orang. Jika seseorang membagikan masalah rohaninya dengan kita, itu adalah kepercayaan yang telah ia berikan kepada kita. Kita tidak boleh membicarakan rahasia ini dengan ceroboh. Kalau bukan karena kepentingan pekerjaan menuntut demikian, kita seharusnya tidak mengulangi hal-hal ini dengan seenaknya. Jika perkataan kita belum pernah didisiplin, kita tidak dapat berpartisipasi dalam pekerjaan Allah. Pelayan-pelayan Allah dipercayakan banyak hal. Mereka perlu memperlakukan rahasia demikian sebagai suatu kepercayaan yang suci dan menjaganya dengan setia. Perkataan-perkataan ini dipercayakan kepada kita; ini bukan untuk menjadi milik kita melainkan obyek yang dipercayakan kepada kita dalam ministri kita dan pelayanan ilahi kita. Kita tidak dapat membocorkannya dengan sengaja. Kita harus belajar mengamankan dan melindungi setiap rahasia rohani yang diberikan saudara saudari kepada kita. Kita tidak dapat menyebarkan hal-hal ini secara tidak bertanggung jawab. Jika tanggung jawab kita atau pekerjaan Allah atau kebutuhan manusia membutuhkan penyingkapan rahasia mereka, ini sudah merupakan masalah yang berbeda sama sekali. Dalam keadaan apapun, bicara banyak selalu mendatangkan kerugian, kerugian yang besar. Mereka yang selalu berkata-kata dan berbicara dengan mudahnya tidak dapat dipercayakan pekerjaan Tuhan. Kita seharusnya menerima peringatan dari Tuhan. Semoga Ia membatasi perkataan kita, dan semoga kita tidak membuka mulut sembarangan atau berbicara seenaknya. Entah seseorang adalah orang yang berdisiplin atau bukan, dapat dilihat dengan sangat mudah dari cara ia mengendalikan lidahnya. Jika seseorang berdisiplin, lidahnya akan selalu dibatasi. Kita seharusnya memperhatikan masalah ini secara khusus.

Kedelapan, kita harus memperhatikan perkara dusta. Orang yang bercabang lidah seperti yang telah kita sebut sebelumnya adalah sobat dekat pendusta. Semua perkataan yang diucapkan dengan maksud memberikan pengharapan yang salah atau kesan yang salah termasuk dalam kategori berdusta. Kadang-kadang sebuah dusta mungkin tidak mengandung pernyataan yang salah, tetapi dengan cerdiknya diungkapkan untuk memberikan kesan yang salah pada orang lain. Sebenarnya ini adalah dusta. Kita harus ingat bahwa kejujuran dalam perkataan kita adalah masalah motif; bukan sekadar ketepatan dalam kata-kata. Jika seorang saudara menanyakan suatu pertanyaan yang tidak ingin kita jawab atau tidak mampu kita jawab, kita harus dengan sopan menolak menjawabnya, tetapi kita seharusnya tidak menipu saudara itu. Pernyataan yang salah adalah dusta dan segala sesuatu yang memberikan kesan yang salah pada orang lain juga adalah dusta. Kita ingin orang mempercayai kebenaran; oleh karena itu, kita tidak berani menggunakan perkataan yang benar untuk memberikan kesan yang salah. Bagi anak-anak Allah, hendaknya "Jika ya, hendaklah kamu katakan ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak." Apa yang lebih daripada itu berasal dari si jahat. Tuhan pernah berbicara dengan sangat keras terhadap orang-orang Yahudi, "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta" (Yoh. 8:44). Iblis adalah sumber dusta. Ia adalah pendusta sejak mulanya. Bahkan hari ini ia masih dipenuhi dengan dusta. Ia adalah pendusta dan bapa segala dusta. Sungguh tak terbayangkan bila seorang anak Allah, dan bahkan, bila seorang pekerja Tuhan berdusta. Namun tetap saja ada yang berbohong. Ini sungguh mengenaskan. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada hal ini. Ini adalah masalah yang sangat serius, amat serius dan memprihatinkan! Kita harus menaruh perhatian pada perkara dusta. Jangan mengira bahwa segala sesuatu yang kita katakan adalah akurat. Semakin berhati-hati, kita akan semakin menyadari betapa sulitnya menjadi akurat dalam segala sesuatu yang kita katakan. Kadang-kadang kita ingin berbicara jujur, tetapi hanya dengan sedikit kecerobohan saja kita tahu bahwa kita sudah keluar dari jalur. Jika kita dapat dengan mudah berputar haluan ketika kita sedang mencoba menjadi akurat, betapa lebih seringnya kita keluar dari jalur jika tidak dengan sadar mencobanya. Membicarakan kebenaran melalui menjaga diri kita supaya berhati-hati sudah cukup sulit bagi kita. Lebih sulit lagi membicarakan kebenaran ketika kita tidak mengendalikan diri kita. Maka kita harus menjaga diri kita, memperhatikan perkataan kita dan tidak boleh kendor. Kalau tidak, kita tidak akan mampu melayani Allah kita. Allah tidak dapat menggunakan orang yang menit ini adalah juru bicara Allah dan menit berikutnya juru bicara Iblis. Tidak, Ia tidak dapat menggunakan orang sedemikian.

Kesembilan, kita seharusnya memberikan perhatian khusus pada butir lain, yaitu "tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak." Alkitab menubuatkan tentang Tuhan, "Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan" (Mat. 12:19; Yes. 42:2). Paulus berkata, "Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar" (2 Tim. 2:24). Ini berarti bahwa tidak ada seorang pelayan Tuhan yang boleh berteriak atau bersuara keras. Bersuara keras adalah ekspresi kekasaran. Pelayan Tuhan seharusnya berada di bawah kontrol sedemikian rupa sehingga ia tidak akan "berbantah atau berteriak". Ia seharusnya tidak bertengkar dengan siapapun. Suara yang keras biasanya menunjukkan kekurangan kuasa, setidaknya kuasa atas pengendalian diri. Tidak ada seorang pelayan Tuhan yang boleh begitu lantang sehingga tetangganya dapat mendengar suaranya. Ini adalah teladan yang Ia tinggalkan bagi kita. Ini berarti melebihi penolakan atas dusta. Banyak perkataan yang memang tepat dan benar, tetapi kita lebih baik tidak berteriak atau berbantahan. "Sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar." Kita dapat menjaga mulut kita bungkam terhadap banyak hal. Seorang saudara atau saudari pastilah sudah begitu kendornya sampai ia bisa berteriak kepada orang lain. Ia pasti telah menjalani hidup yang tidak berdisiplin selama bertahun-tahun sehingga ia dapat berteriak dalam keadaan kendor seperti itu. Kita seharusnya membatasi diri kita dan melatih disiplin atas suara kita, seperti Tuhan, yang suara-Nya tidak terdengar di jalan-jalan. Marilah kita mengatupkan mulut kita dari seruan, teriakan, jeritan, dan bentakan kita. Ini bukan berarti kita seharusnya berusaha bertindak dengan serius dan tenang. Kita harus spontan dan ketika kita bertemu dengan orang lain kita harus berbicara dengan cara yang tepat dan sewajarnya. Namun faktanya adalah mereka yang belum pernah berdisiplin dalam pembicaraan mereka akan menghadapi waktu-waktu yang sulit dalam pekerjaan. Kita berharap semua pekerja Tuhan akan belajar menjadi lebih halus dan lebih lembut dan tidak seorangpun yang menjadi kasar. Tuhan kita sangat halus dan lembut. Ia tidak berbantahan dan tidak berteriak, dan tidak seorangpun yang mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Pelayan Allah seharusnya memberikan kesan pada orang lain bahwa mereka halus dan lembut di hadapan Tuhan.

Kesepuluh, kita perlu memperhatikan perkara motif dan fakta. Apa yang kita katakan adalah satu hal tetapi motif kita adalah hal lain lagi. Anak-anak Allah seharusnya tidak memperhatikan keakuratan perkataan tetapi juga keakuratan dalam fakta. Kita seharusnya lebih akurat dalam fakta daripada akurat dalam perkataan saja. Banyak orang hanya memperhatikan keakuratan perkataan mereka; mereka tidak memperhatikan keakuratan fakta. Sebenarnya, bahkan ketika mereka sangat berhati-hati dan akurat dalam hal-hal yang mereka katakan, mereka mungkin masih bersalah. Di hadapan Tuhan kita harus memperhatikan keakuratan fakta. Jika kita tidak memperhatikan keakuratan fakta, kita akan berguna sedikit bagi Tuhan meskipun perkataan kita tepat. Beberapa saudara saudari sangat memperhatikan perkataan mereka namun kita tidak dapat mempercayai mereka karena meskipun kita belum pernah menemukan suatu kesalahan pun dalam perkataan mereka, kita tahu bahwa mereka hanya peduli pada ketepatan perkataan mereka; mereka tidak peduli pada ketepatan fakta mereka. Misalnya Anda membenci seorang saudara dalam hati Anda. Ini adalah fakta. Sejauh mengenai fakta, Anda membenci dia. Namun ketika Anda melihatnya di jalan, Anda menganggukkan kepala kepadanya dan memberi salam seperti biasanya. Ketika ia mengunjungi Anda, Anda melayaninya dengan makanan dan ketika ia sakit, Anda mengunjunginya. Ketika ia sedang memerlukan sesuatu, Anda memberinya uang dan pakaian. Saudara lain mungkin mendatangi Anda dan bertanya, "Bagaimana perasaanmu terhadap saudara ini?" Meskipun Anda tidak memiliki kasih terhadapnya dalam hati Anda, Anda masih menajwab, "Bukankah aku menganggukkan kepala padanya dan memberi salam? Bukanlah aku mengunjunginya ketika ia sakit? Bukankah aku merawatnya ketika ia miskin?" Memang benar argumen Anda. Hukum mungkin berada di sisi Anda dan semua perkataan Anda mungkin benar. Namun Anda masih berbohong karena apa yang Anda katakan tidak merefleksikan fakta. Beberapa saudara saudari sangat memperhatikan prosedur. Anda tidak dapat menemukan kesalahan apapun dalam prosedur mereka, namun hati mereka mengatakan hal yang sama sekali berbeda. Ini salah. Bila hanya tepat dalam perkataan namun tidak tepat dalam fakta adalah salah. Ketika kita berbicara kepada orang lain, kita seharusnya tidak memperhatikan ketepatan prosedur dan mengasumsikan bahwa kita sedang mengatakan kebenaran; kita seharusnya malah memperhatikan motif kita di hadapan Tuhan. Ini ada hubungannya dengan masalah dasar di balik perkataan kita. Jangan mengira menggunakan kata-kata yang tepat saja sudah cukup. Jangan mengira ramah dan tulus saja kepada orang lain sudah cukup. Anda tidak dapat berkata karena Anda memiliki hal-hal ini lalu Anda tidak membenci saudara Anda. Kita harus mempertimbangkan fakta. Bukti tidak terletak dalam perkataan Anda. Kita harus membicarakan fakta, hal-hal yang memang adalah fakta sebenarnya. Jika faktanya salah, kita masih berdusta meskipun kita menggunakan semua kata yang tepat. Sungguh disayangkan inilah cara hidup kebanyakan orang. Dalam berbicara, kita seharusnya bukan hanya memperhatikan perkataan mereka tetapi masuk lebih dalam ke dalam motif dan memperhatikan fakta.

Kesebelas, kita seharusnya tidak mengutarakan perkataan yang sia-sia. "Karena yang diucapkan dari mulut meluap dari hati....Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman" (Mat. 12:34-36). Setelah itu Tuhan mengatakan, "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum" (ay. 37). Ketika anak-anak Allah berkumpul bersama, mereka dianjurkan untuk menghapus perkataan yang sia-sia. Ini bukan berarti kita tidak perlu saling memberi salam atau bertegur sapa. Perkataan salam berhubungan dengan mempertahankan hubungan sesama manusia, dan tepat digunakan dalam percakapan kita. Namun perkataan yang sia-sia adalah gosip mengenai keluarga ini dan itu; ini tidak berhubungan langsung dengan kita. Ini tidak perlu. Tuhan Yesus mengatakan, "Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman." Perkataan yang sia-sia tidak akan dibicarakan sekali tetapi dua kali. Hari ini dibicarakan sekali dan pada hari penghakiman akan diucapkan sekali lagi. Semua perkataan yang sia-sia akan diulangi sekali lagi; seseorang harus mempertanggungjawabkannya pada hari penghakiman dan Allah akan menghakimi kita atau menghukum kita berdasarkan perkataan ini. Inilah sebabnya kita tidak dapat mengucapkan perkataan apapun dengan sembrono.

Banyak lelucon, percakapan ringan, dan banyolan yang harus dipangkas. Tentunya ini tidak berlaku bila beberapa saudara saudari suatu saat mengucapkan perkataan yang jenaka atau mengucapkan beberapa perkataan yang menarik anak-cucu mereka. Paulus dalam surat kirimannya kepada orang-orang Efesus menyebut hal ini, "perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono" (5:4). Ini adalah perkataan yang sembrono dan kita seharusnya menolaknya dan berpaling darinya.

Lebih-lebih lagi, di antara kita tidak boleh ada olok-olok. Waktu Tuhan di atas salib orang-orang mengolok-olok-Nya dengan mengatakan, "Baiklah kita tunggu dan melihat apakah Elia datang untuk menurunkan Dia" (Mrk. 15:36). Inilah olok-olok. Mereka yang tidak percaya pada kedatangan Tuhan kali kedua mengolok-olok, "Di manakah janji tentang kedatangan-Nya itu? Sebab sejak bapa-bapa leluhur kita meniggal, segala sesuatu tetap seperti semula, pada waktu dunia diciptakan" (2 Ptr. 3:4). Orang lain mungkin berolok-olok dan membanyol dengan segala cara tetapi anak-anak Allah seharusnya tidak mengizinkan hal-hal ini keluar dari mulut mereka.

Banyak lagi macam perkataan yang tidak cocok, seperti perkataan yang diucapkan di balik punggung orang lain atau kata-kata kritik. Terhadap perkataan bidah, ini adalah dosa dan harus ditolak (Titus 3:10); mereka tentunya tidak keluar dari mulut seorang Kristen. Kita harus memperhatikan segala macam perkataan ini dan menjauhinya.

TIGA

Seorang pekerja Tuhan harus berbicara dengan akurat; ia tidak boleh ceroboh dengan lidahnya. Ia hanya bisa menjadi penyampai Firman Allah. Jika ia berdisiplin terhadap lidahnya, ia akan terhindar dari kesulitan. Hati kita berduka ketika kita memikirkan kekurangan akan pengendalian demikian di antara pekerja Allah dalam perkataan yang mereka utarakan. Saudara saudari mungkin terhibur dengan gosip dan kisah-kisah yang menarik, tetapi kita akan gagal memperoleh respek mereka ketika kita berbicara bagi Tuhan. Jangan mengira boleh-boleh saja bercanda dan melucu dengan saudara saudari. Mungkin saja canda dan banyolan kita memang lucu sekali, tetapi ketika kita beralih membicarakan Firman Allah, mereka akan menganggap perkataan kita sama nilainya dengan kisah-kisah kita, dan perkataan kita akan kehilangan bobotnya. Beberapa saudara saudari dapat merebut perhatian orang lain ketika mereka mengatakan sesuatu, sementara orang lain yang mengatakan hal yang sama tidak mendapatkan perhatian sedikit pun. Kita harus mempertimbangkan alasan mengapa ada orang yang memiliki pendengar sementara yang lainnya tidak. Perkataan mereka mungkin sama saja. Tentunya Fiman Allah selalu sama, tetapi dalam keadaan normal cara menyampaikannya berbeda. Marilah kita perhatikan perkara ini. Kita mungkin sama saja dalam hal membicarakan Firman Allah, tetapi jika dalam perkataan kita yang lain sudah berbeda, maka kuasa di balik Firman Allah yang kita bicarakan pun berbeda pula. Jika kita terbiasa dengan perkataan yang kendor dan selalu terpikat dalam percakapan yang tidak terarah, maka dampak perkataan kita terhadap mereka yang mendengarkan kita akan sama saja baik ketika kita berbicara bagi Tuhan maupun ketika kita berbicara dengan kendor. Mungkin tidak ada dampaknya sama sekali. Saudara saudari, ingatlah bahwa satu mata air tidak dapat mengalirkan air yang manis dan pahit sekaligus. Ia tidak dapat menyalurkan air yang manis suatu waktu dan mengalirkan air yang pahit di waktu lain. Air yang pahit selalu pahit. Kepahitannya mungkin kadang-kadang tidak begitu terasa, tetapi tetap saja pahit. Ketika air yang bersih dan kotor dicampurkan, air yang bersih menjadi kotor. Banyak saudara yang pembicaraannya tidak memiliki kuasa sama sekali, bukan karena mereka salah menggunakan kata-kata untuk diberitakan, tetapi karena mereka salah dalam pembicaraan mereka yang lain, yaitu pembicaraan sehari-hari di luar podium. Ketika mereka memberitakan Firman Allah, tidak seorang pun mendengarkan mereka. Kita harus ingat bahwa perkataan yang kita utarakan di atas podium dikendalikan oleh perkataan yang kita utarakan di luar podium. Jika kita berbicara dengan sembrono di luar podium, perkataan kita di atas podium akan sama sekali rusak. Air yang manis akan menajdi pahit. Tidak perlu ada persiapan yang memeras tenaga sebelum kita memberitakan, tetapi perlu ada kewaspadaan yang konstan dalam percakapan kita sehari-hari. Jangan berharap akan mendapat kuasa apapun dalam pelayanan kita kepada Tuhan jika kita tidak dibatasi dalam penghidupan sehari-hari kita. Jika kita kendor dan tidak akurat dalam perkataan kita, mencampuradukkan kebenaran dan kesalahan, canda dan banyolan setiap saat, dan bahkan dengan dusta, kita tidak dapat memiliki kuasa apapun dalam pelayanan kita. Kita harus mulai dengan mengendalikan lidah kita sehingga kita dapat memberitakan Firman Allah.

Perkataan yang akurat sangat erat hubungannya dengan pembacaan Alkitab seseorang. Alkitab adalah buku yang paling akurat di seluruh dunia. Firman Allah adalah satu-satunya perkataan yang paling akurat di seluruh dunia. Jika kita tidak memiliki kebiasaan berbicara dengan akurat, kita tidak dapat membaca Alkitab, apalagi memberitakan isi Alkitab. Beberapa saudara saudari tidak dapat membca Alkitab dengan kondisi mereka yang sekarang ini. Dibutuhkan karakter tertentu untuk menjadi seorang pengabar Injil. Dibutuhkan karakter tertentu pula dalam membaca Alkitab. Orang yang ceroboh tidak dapat membaca Alkitab karena Firman Allah adalah akurat. Orang yang ceroboh akan melewatkan segala sesuatu dalam Firman Allah. Nyatanya, ia akan memahaminya dengan cara yang salah.

Mari kita gunakan sebuah contoh untuk memperlihatkan makna akurat. Menurut Matius 22, orang-orang Saduki tidak percaya kebangkitan. Suatu hari mereka mendatangi Tuhan dan mengajukan sebuah pertanyaan, katanya, "Guru, Musa mengatakan, bahwa jika seseorang mati dengan tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan istrinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Tetapi di antara kami ada tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin, tetapi kemudian mati. Dan karena ia tidak mempunyai keturunan, ia meninggalkan istrinya itu bagi saudaranya. Demikian juga yang kedua dan yang ketiga sampai dengan yang ketujuh. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristrikan dia" (ay. 24-28). Kebangkitan tidak terbayangkan oleh mereka. Mereka mengira lebih baik jika tidak ada hal seperti kebangkitan karena hal itu hanya menyulitkan saja. Mereka lebih suka percaya bahwa kebangkitan tidak ada. Mereka datang dan bertanya jawab dengan Tuhan, mengajukan masalah yang kelihatannya tidak dapat dipecahkan. Yesus menjawab, "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah! Karena pada waktu kebangkitan orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga. Tetapi tentang kebangkitan orang-orang mati, tidakkah kamu baca apa yang difirmankan Allah, ketika Ia bersabda: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub?Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup." Bagi orang-orang Saduki Abraham sudah mati, Ishak sudah mati, Yakub sudah mati; ketiganya telah mati. Bukankah ini menjadikan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub adalah Allah orang mati? Namun Allah bukanlah Allah orang mati. Bagaimana mungkin? Karena Allah bukanlah Allah orang mati, Abraham pastilah tidak selama-lamanya mati. Hal ini berlaku juga terhadap Ishak dan Yakub. Tetapi bagaimana orang mati dapat tidak lagi mati? Mereka pasti dibangkitkan. Abraham, Ishak, dan Yakub, semuanya akan dibangkitkan karena Allah bukanlah Allah orang mati tetapi orang hidup. Tuhan Yesus menjawab orang-orang Saduki demikian. Tuhan kita sangat akurat dalam hal-hal yang Ia utarakan. Ini mengekspos ketidakakuratan orang-orang Saduki dan ketidakpedulian mereka terhadap Alkitab.

Jika kita ceroboh dalam pembicaraan kita, kita tidak akan menghargai betapa akuratnya perkataan Allah itu. Karakter yang ceroboh tidak peduli kepada keakuratan dan tidak cakap dalam keakuratan; ia tidak cakap memegang dan menampung Firman Allah yang akurat. Alkitab adalah buku yang paling akurat; ia akurat sampai iota dan satu titikpun. Tuhan berkata, "Satu iota atau satu titikpun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi" (Mat. 5:18). Allah mempunyai maksud dalam setiap iota dan titik; Ia tidak pernah kendor. Karena Allah begitu akurat dalam iota dan titik, pelayan-pelayan-Nya juga seharusnya akurat dalam pembicaraan mereka. Saudara saudari, Allah tidak pernah bercabang dalam perkataan-Nya; Ia tidak pernah ceroboh. Perkataan-Nya selalu berdiri kukuh; setiap kata selalu pasti dan tidak tergoyahkan. Semakin membaca Firman-Nya, semakin kita menyadari bahwa tidak ada satu perkataanpun yang dapat ditambah atau dihapus. Kita harus memperhatikan hal ini; tidak ada seorangpun yang kendor dalam pembicaraannya yang dapat menjadi pelayan Allah. Seorang yang berbicara dengan kendor tidak akan memiliki dampak di antara para saudara dan bahkan dirinya sendiri tidak akan mampu menangani Firman Allah. Beberapa saudara menjadi penderitaan bagi orang lain ketika mereka berbicara di atas podium. Seseorang hanya perlu mendengarkan sebuah berita dari orang-orang seperti ini dan ia akan menyadari betapa sembrononya mereka. Orang yang sembrono hanya dapat membicarakan perkataan yang sembrono pula. Bahkan seandainya Firman Allah ada di hadapannya, ia akan membicarakannya dengan sembrono. Jika ia sembrono ketika ia tidak berada di podium, bagaimana ia bisa tidak sembrono ketika ia berada di atas podium? Tidak ada orang yang ceroboh yang dapat membaca Alkitab, dan tidak ada orang yang sembrono yang dapat berbicara bagi Tuhan. Semoga Allah membelaskasihani kita. Semoga kita menerima belas kasihan sehingga dapat memiliki mulut yang akurat. Kita seharusya mempersembahkan suatu doa kepada Tuhan: "Berikanlah aku lidah seorang murid sehingga aku tidak akan menjadi kendor, ceroboh, atau bercacat dalam perkataanku. Aku tidak ingin kehilangan banyak hal. Aku tidak ingin kehilangan kesaksianku." Jika kita ceroboh dalam pembicaraan kita, kita tdak dapat membaca dan memahami Firman Allah. Dalam mempelajari Alkitab, kita harus menggali fakta-fakta. Tetapi seorang yang sembrono tidak dapat menemukan fakta apapun. Kita harus belajar berbicara dengan hati-hati dan berjaga-jaga agar kita dapat menghargai keakuratan Firman Allah.

EMPAT

Setiap pekerja Tuhan memiliki kekhususan. Ia memiliki kekhususannya sendiri di hadapan Tuhan dan Allah memakainya melalui menggunakan kekhususannya. Namun ia seharusnya juga memiliki perkembangan yang seimbang dalam bidang-bidang lainnya. Perkembangan yang seimbang akan menghapus jurang pemisah atau cacat apapun dalam ministrinya. Jika seorang saudara sudah baik dalam kekhususannya, tetapi gagal dalam bidang-bidang lainnya, maka celah-celah ini akan merusak ministrinya. Pada bab-bab terdahulu kita sudah membahas berbagai karakter seperti mendengarkan orang lain, memiliki kasih terhadap manusia, memiliki pikiran untuk menderita, melatih tubuh, dan rajin. Ini adalah persyaratan dasar yang harus kita miliki. Tidak ada seorang pelayan Allah yang boleh kekurangan dalam karakter-karakter ini. Butir bab ini - terkendali dalam pembicaraan - adalah persyaratan lainnya. Seorang yang berbicara dengan kendor tidak dapat menyampaikan Firman Allah dengan akurat. Banyak saudara sebenarnya memiliki masa depan yang cerah dan penuh harapan namun ternyata tidak demikian karena suatu kenyataan bahwa lidah mereka terlalu kendor; mereka kehilangan semua kekuatan mereka di hadapan Allah.

Kita harus menjaga nilai rohani kita, bobot rohani kita, dan kegunaan rohani kita di hadapan Tuhan dengan segala cara. Kita tidak dapat membuang percuma kekhususan yang telah Allah berikan kepada kita. Kita tidak sepatutnya memotong sedikit di sini dan sedikit di sana. Untuk dapat memelihara ministri kita, kita harus menambal semua lubang. Pemeliharaan ministri pekerja Tuhan seharusnya menjadi perhatiannya yang paling utama. Jika kita tidak memelihara ministri kita, segala hal dan tanggung jawab yang telah Allah berikan kepada kita akan hilang sedikit demi sedikit, dan akhirnya semuanya akan hilang. Kita bahkan tidak dapat ceroboh dalam satu katapun yang kita ucapkan. Saudara saudari, hanya menerima hal-hal yang positif saja tidak cukup. Kita juga harus memperhatikan hal memelihara hal-hal positif, jangan sampai hilang. Jika kita tidak menanggulangi pembicaraan kita, kita pasti akan kehilangan hal-hal positif yang telah kita miliki.

Ketika kita berdiri di hadapan takhta penghakiman, kita mungkin menemukan bahwa kerusakan yang terjadi akibat pembicaraan yang tidak serius dan kendor melebihi banyak hal lainnya, karena kerusakan macam ini tidak berhenti di atas diri kita. Ia juga menyebabkan kekacauan yang besar atas diri orang lain. Perkataan tidak berhenti pada diri kita saja. Begitu perkataan diucapkan, ia terus menyebar. Andaikan ada beberapa saudara telah mengatakan sesuatu yang tidak pantas. Begitu perkataan itu keluar dari bibir mereka, sudah tidak dapat ditarik kembali. Kita dapat bertobat atas kebodohan kita dan kita dapat meminta pengampunan. Kita bahkan dapat menguburkan diri dalam debu dan bertobat dengan mengatakan, "Tuhan, aku telah mengatakan sesuatu yang salah." Darah Tuhan akan membersihkan kita tetapi tidak akan menghapuskan perkataan yang telah terlontar keluar. Perkataan itu akan terus ada di muka bumi. Kita dapat mengaku dosa-dosa kita kepada Tuhan dan saudara-saudara, dan baik Tuhan maupun saudara-saudara dapat memaafkan kita, tetapi perkataan yang telah kita ucapkan akan tetap ada dan terus menyebar. Beberapa pekerja mungkin kekurangan pikiran untuk menderita. Yang lain mungkin memiliki masalah dalam mendengarkan orang lain atau kelemahan dalam hal menjadi kendor. Namun masalah perkataan yang tidak terkendali bisa menjadi lebih serius daripada kekendoran, kegagalan untuk mendengarkan atau kekurangan dalam memiliki pikiran untuk menderita. Perkataan yang ceroboh membebaskan arus maut yang mengalir terus dan terus dan menyebarkan maut ke manapun ia pergi.

Saudara saudari, dalam menghadapi fakta yang demikian serius ini, kita perlu berhati-hati dalam pembicaraan kita. Kita seharusnya bertobat atas banyak perkataan yang telah keluar dari mulut kita. Perkataan ini tidak menghasilkan buah yang baik. Nyatanya, mereka jelas-jelas berbahaya. Banyak perkataan yang kita utarakan di masa lampau adalah "perkataan yang sia-sia", tetapi sekarang bukan lagi sekadar "sia-sia"; bahkan sedang menyebar di seluruh pelosok bumi. Saat kita mengutarakannya, ini menjadi perkataan yang sia-sia, tetapi setelah sejangka waktu perkataan ini telah menjadi begitu sibuk dan sedang mengerjakan kekacauan besar. Kita perlu mencari belas kasihan Allah supaya dibersihkan dari masa lalu, dan untuk masa kini kita perlu meminta-Nya menanggulangi kita dengan keras dan membakar kita dengan bara kayu arar (Mzm. 120:3-4). Jika Ia hendak menanggulangi kita dan membakar lidah kita sehingga kita tidak lagi membuka mulut kita sembarangan. Kita akan terhindar dari banyak penyesalan kelak pada masa yang akan datang. Banyak kesalahan tidak dapat diperbaiki lagi begitu hal itu terjadi. Lot dapat bertobat dan kembali ke posisinya semula, tetapi Moab dan Amon masih ada di tengah-tengah kita hari ini. Abraham dapat melahirkan Ishak setelah ia bertobat, tetapi setelah itu Ishak memiliki musuh. Abraham dapat mengusir Hagar, tetapi masalah yang ditimbulkannya terus berlangsung. Begitu perkataan kita terlontar keluar, maka tidak akan berhenti, dan masalah yang ditimbulkannya tidak akan berhenti. Kita harus berdoa kepada Tuhan untuk membakar lidah kita dengan api yang menyala-nyala sehingga tidak lagi mengutarakan perkataan apapun yang sia-sia atau dusta dan tidak lagi tidak terkekang. Kita harus berdoa supaya lidah kita menjadi lidah yang tunduk di bawah perintah. Bila Tuhan meletakkan mulut kita di bawah kendali yang ketat dan membuatnya undur mengucapkan perkataan yang ceroboh barulah kita dapat mengaharapkan Dia menggunakan kita sebagai corong-Nya. Jika tidak demikian, satu mata air tidak dapat menghasilkan dua macam air. Kita tidak dapat melayani orang lain dengan air yang manis juga air yang pahit. Kita mungkin mengatakan bahwa kita terbeban untuk melayani Allah dan berbagian dalam pekerjaan-Nya, tetapi kita tidak dapat membicarakan Firman Allah suatu waktu dan perkataan Iblis di waktu lain. Kita harus memandang kepada Tuhan supaya memberikan kita kasih karunia utuk mengakhiri sejarah mulut kita yang “meleter”. Kita seharusnya berkata kepada Tuhan, "Biarlah semua perkataanku diterima oleh-Mu, sebagaimana hatiku diterima oleh-Mu." Semoga Tuhan membelaskasihani kita!

Tuhan Yesus berkata, "Dan Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka" (Yoh. 17:19). Setiap pelayan Allah yang berhasrat melayani Dia harus belajar menguduskan dirinya sendiri, di manapun ia berada. Untuk dapat melayani orang lain, kita harus menguduskan diri dalam pembicaraan kita. Pembicaraan adalah godaan yang besar. Ketika tiga, lima, delapan, atau sepuluh orang sedang bercakap-cakap, ada godaan yang besar untuk ikut serta dan bergabung dengan mereka. Kita harus belajar menguduskan diri kita, memisahkan diri kita dari orang lain, dan tidak tercampur dengan mereka. Kita tidak boleh berbicara dengan ringan. Kita harus belajar memiliki perkataan yang tunduk di bawah perintah, lidah yang tunduk di bawah perintah. Lidah kita harus melewati api. Kita tidak boleh membiarkan diri kita jatuh ke dalam pencobaan. Ketika saudara saudari lain sedang terlibat dalam percakapan yang tidak pantas, hal pertama yang harus kita lakukan adalah memisahkan diri kita dari antara mereka. Begeitu kita berbaur dengan mereka dan menjadi satu dengan mereka, kita akan jatuh. Kita harus memisahkan diri kita dari mereka dan terpisah dari kerumunan mereka. Setiap kali hal seperti ini terjadi, kita tidak boleh menyerah ke dalam pencobaan dan kita tidak boleh menyamakan diri kita dengan orang lain. Kita harus selalu memisahkan diri kita. Saya percaya Allah akan memberikan belas kasihan kepada kita dan membangun kita dengan kasih karunia sedikit demi sedikit.