RAJIN
Kehidupan sehari-hari seorang pekerja Kristen sering menentukan apakah ia bersyarat untuk pekerjaan Tuhan. Beberapa orang muda menyatakan kualitas yang memberikan pengharapan yang menjanjikan bahwa mereka akan berkembang menjadi pelayan Kristus yang berguna. Sejak semula, mereka memberikan kesan kepada orang lain bahwa mereka adalah benih-benih yang baik dan mereka akan bermekaran dan menghasilkan buah. Ada lagi orang yang sangat yakin akan dirinya sendiri dan menganggap diri mereka sangat tinggi, tetapi tak lama kemudian dalam perjalanan mereka berguguran. Mereka bukan hanya tidak berguna malah mempermalukan nama Tuhan. Mereka memilih jalan yang terlalu luas dan terlalu lebar. Lalu ada orang yang tidak terlalu mencolok pada awalnya, tetapi mereka membuktikan harga mereka di hadapan Tuhan bertahun-tahun kemudian. Anda mungkin bertanya bagaimana kita dapat memilah-milah ke dalam perbedaan-perbedaan besar ini. Dengan jujur kujawab bahwa ada penampilan mendasar tertentu dalam konstitusi dan karakter setiap orang yang menentukan kegunaannya yang tanpa hal ini tidak seorangpun yang dapat berguna dalam pelayanan terhadap Tuhan. Seorang muda mungkin sangat menjanjikan dalam banyak bidang, tetapi jika penampilan mendasarnya sudah kurang, ia tidak dapat bekerja bagi Tuhan, meskipun hasratnya untuk melayani Tuhan benar-benar murni dan meskipun ia sudah mempersiapkan diri untuk itu, ia tidak akan pernah melaksanakan pekerjaan yang tepat bagi Tuhan. Kita belum pernah bertemu dengan seseorang yang tidak bisa mengendalikan tubuhnya tetapi merupakan seorang pekerja Tuhan yang baik. Aku tidak tahu apa yang dilakukan orang-orang ini di ladang pekerjaan lain, tetapi aku belum pernah melihat seseorang yang tidak mampu mengendalikan dan menguasai tubuhnya terbukti adalah seorang pelayan Tuhan yang berguna, aku juga belum pernah melihat seseorang yang tidak memiliki pikiran untuk menderita yang dapat melayani Tuhan. Aku belum pernah bertemu dengan seseorang yang gagal mendengarkan orang lain tetapi bagus dalam pelayanan. Semua pelayan Tuhan harus memiliki macam karakter dasar tertentu. Dengan kata lain, mereka harus memiliki kualifikasi tertentu; mereka harus menerima belas kasihan dari Tuhan untuk memiliki sebelum mereka dapat melayani Tuhan dengan tepat. Melayani Tuhan tidaklah sederhana. Proses peremukan dan pembangunan diperlukan terhadap manusia luaran. Jika Anda bersalah, longgar, dan tidak berdisiplin dalam banyak hal, Anda tidak bersyarat untuk melakukan pekerjaan Tuhan. Banyak orang yang tidak bersyarat melakukan pekerjaan Tuhan karena cacat dalam karakter dan kepribadian mereka, bukan karena kekurangan teknik, pengetahuan, atau doktrin. Kekecewaan ini telah menghambat pekerjaan Tuhan dalam banyak hal. Kita harus belajar mendengarkan orang lain, merendahkan diri kita sendiri si hadapan Tuhan, mencari-Nya, dan berurusan dengan-Nya dalam banyak aspek. Kita seharusnya tidak pernah meremehkan latihan karakter kita. Jika karakter dan watak kita tidak melalui pekerjaan penyusunan Roh itu dengan keras, kita tidak dapat mengharapkan banyak hasil dari pekerjaan kita. Tidak ada hal yang boleh tertinggal dalam latihan dasar karakter kita. Jika kita tersusun dalam karakter kita, kita dapat bekerja bagi Tuhan. Tanpa karakter sedemikian, kita tidak dapat bekerja bagi-Nya. Marilah kita menggunakan sejangka waktu di hadapan-Nya untuk membahas karakter-karakter ini satu per satu.
SATU
Matius 25:18, 24-25, 30 mengatakan, "Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lubang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya....Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam. Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah itu: Ini, terimalah kepunyaan tuan! Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan kendor (TL), jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya. Sebab itu ambillah talenta itu daripadanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu....Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap." Bagian ini memperlihatkan kepada kita bahwa salah satu persyaratan dasar seorang pekerja Tuhan adalah kerajinan. Ini dengan jelas melukiskan masalah mendasar kehidupan seorang pelayan. Masalahnya besifat ganda: Selain "jahat", ia juga "kendor". Kejahatannya dinyatakan ketika ia memanggil tuannya, "Manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam." Kita tidak tetap dalam aspek karakternya ini, tetapi kita akan membicarakan yang lain yaitu kemalasannya. Ia menyembunyikan talentanya dalam tanah karena hatinya jahat dan kedua tangannya malas. Di dalam hatinya ia memiliki pikiran tertentu tentang tuannya. Pikiran-pikiran ini adalah pikiran yang jahat. Pada waktu yang bersamaan, ia tidak melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, malahan ia menyembunyikan talenta di dalam tanah. Inilah kemalasan. Kita ingin memperhatikan aspek dari karakter ini. Karakter yang kendor adalah kelemahan terbesar kebanyakan orang.
Orang-orang yang kendor tidak pernah berusaha melakukan sesuatu. Jika pekerjaan datang di hadapan mereka, mereka mencari kesempatan untuk menghindarinya. Banyak orang Kristen juga bersikap demikian; mereka melihat masalah yang besar sebagai masalah kecil dan masalah kecil menjadi tidak berarti apa-apa. Mereka mencoba mengurangi pekerjaan besar menjadi pekerjaan kecil dan mereka mencoba membuat pekerjaan kecil menjadi tidak ada sama sekali. Inilah sikap mereka sepanjang waktu. Berdasarkan pengalaman kita, kita dapat mengatakan bahwa hanya ada satu macam orang yang berguna - mereka yang rajin. Seorang pemalas dibenci. Seorang saudara pernah mengatakan bahwa Iblis pun tidak dapat berbuat apa-apa terhadap orang yang malas. Amsal 19:24 mengatakan, "Si pemalas mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi tidak juga mengembalikannya ke dalam mulut." Orang yang malas sulit melakukan hampir segala sesuatu. Sulit, karena ia takut menjadi lelah. Ia mencelupkan tangannya ke dalam pinggan, tetapi bahkan tidak dapat mengembalikannya ke dalam mulut. Ia harus makan, tapi ia berharap orang lain yang akan membawakan makanan dari dalam pinggan ke mulutnya. Jika ada orang yang tidak berguna di muka bumi, ia pastilah seorang yang malas. Allah tidak akan menggunakan seorang pemalas. Saudara saudari, pernahkah Anda mengenal seorang pekerja Kristen yang berdaya guna tetapi pemalas? Setiap orang yang digunakan Allah berjerih lelah dan bekerja dengan rajin dalam pelayanan-Nya. Ia selalu berwaspada jangan sampai ia memboroskan waktu atau tenaganya. Mereka yang selalu mencari kesempatan untuk beristirahat dan hiburan tidaklah layak disebut pelayan Allah. Pelayan Allah tidak dapat menempuh penghidupan yang malas. Mereka mencoba menawar setiap kesempatan yang tersedia bagi mereka.
Lihatlah para rasul dalam Perjanjian Baru, dari Petrus sampai Paulus. Dapatkah kita menemukan tanda pemalas pada mereka? Mereka tidak memiliki tanda-tanda kemalasan. Mereka tidak memilki pikiran untuk memboroskan waktu mereka. Mereka semua berjerih lelah dengan rajin dan mencari setiap kesempatan untuk melayani Tuhan. Paulus berkata, "Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran" (2 Tim. 4:2). Pemberitaan firman harus dilakukan baik atau tidak baik waktunya. Seorang pekerja Tuhan harus bekerja baik atau tidak baik waktunya. Ini berarti bahwa ia harus menjadi sangat rajin. Semua rasul sangat rajin. Bayangkan betapa banyaknya pekerjaan yang Paulus rampungkan. Kita mungkin sudah delapan puluh tahun lebih tua baru dapat mengerjakan sepersepuluh dari apa yang telah ia kerjakan. Kita harus menyadari bahwa semua pelayan Tuhan rajin. Dalam hal pekerjaan Paulus, ktia dapat melihat bahwa ia benar-benar rajin. Tidak ada kemalasan dalam dirinya dalam bentuk apapun. Selain berkeliling dari satu tempat ke tempat lainnya, ia juga mengabarkan Injil di manapun ia berada atau bersekutu secara pribadi dengan orang-orang dan mengajar mereka. Bahkan ketika ia berada di penjara ia masih menulis surat-surat kirimannya. Semua surat kirimannya yang menjamah puncak wahyu rohani ditulisnya di dalam selnya, Firman Allah tidak terikat. Paulus benar-benar seorang yang rajin. Ia seperti Tuannya yang tidak malas.
Dalam bahasa asli Perjanjian Baru, terdapat tiga kata untuk kemalasan. Pertama adalah argos, kedua adalah nothros, dan ketiga adalah okneros. Semua ketiga kata ini berarti kemalasan. Mereka diterjemahkan berbeda dalam Perjanjian Baru (1 Tim. 5:13; Rm. 12:11; Ibr. 5:11; 6:12; Mat. 12:36; 20:3, 6; 2 Ptr. 1:8; Flp. 3:1; Tit. 1:12). Entah diterjemahkan menjadi malas, kendor, lamban, berat, menganggur, semuanya berarti penolakan atau keengganan untuk bekerja atau melakukan sesuatu. Menajdi malas berarti mengabaikan pekerjaan atau mengurangi pekerjaan sampai tidak ada lagi pekerjaan. Ada sebuah lelucon tentang seorang penjaga pintu yang bertanggung jawab membuka pintu setiap kali pengunjung membunyikan bel. Suatu hari bel berbunyi tetapi ia tidak membuka pintu. ketika ditanyakan mengapa ia tidak membukanya, ia menjawab, "Saya berharap bel itu berhenti berdering!" Para pengunjung sedang menunggu untuk masuk sementara ia malah berharap belnya akan berhenti berdering. Saudara saudari, orang macam apakah ini? Sungguh disayangkan, inilah perilaku kebanyakan orang dalam pekerjaan Allah. Mereka berharap bahwa hal-hal itu akan berlalu. Bahkan ketika hal-hal itu tidak berlalu, mereka berharap hal itu tidak akan menjadi beban buat mereka. Dalam pikiran mereka berkata, "Betapa aku sungguh berterima kasih kepada Tuhan kalau hal-hal ini segera berlalu dan aku tidak perlu berurusan dengannya!" Apakah ini? Inilah kemalasan!
Apakah kemalasan itu? Berarti mengulur-ulur selama mungkin dan menghabiskan waktu dalam melakukan sesuatu. Mungkin sebuah pekerjaan dapat diselesaikan dalam sehari, namun orang itu mengulur-ulur waktu menjadi sepuluh hari. Yang semestinya dapat selesai dalam satu bulan, tapi diulurnya menjadi tiga bulan. Ia menghabiskan waktunya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Inilah kemalasan. Dalam beberapa bagian kata ini diterjemahkan menajadi "menganggur" (Mat. 20:3, 6). Seorang yang menganggur adalah orang yang berputar-putar tanpa tujuan. Ia bimbang antara bertindak atau tidak bertindak, dan pikirannya tidak pernah bulat pada apa yang seharusnya ia lakukan. Dalam Filipi 3:1, kata ini diterjemahkan menjadi "Menuliskan hal ini kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu." Begitu Anda meletakkan sesuatu ke atas bahu saudara saudari, mereka enggan mengangkatnya. Buat mereka terasa berat. Mereka berkeluh kesah dan menggerutu. Seolah-olah mereka diminta untuk melakukan tugas yang mustahil dan beban yang sangat berat telah diletakkan ke atas mereka. Namun bukan demikian cara Paulus bertindak. Ia berada di penjara ketika ia menulis surat-surat kirimannya. Pastilah suatu tantangan bagi seseorang untuk menulis dalam situasi yang seburuk ia alami. Namun dalam tulisannya kepada orang-orang Filipi, Paulus menasihati mereka untuk bersukacita. "Bersukacitalah senantiasa" (4:4). Sejauh mengenai lingkungannya, ia berada dalam kesulitan yang serius. Namun ia berkata, "Menuliskan hal ini kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu." Ia bukan pemalas. Ia tidak menganggap hal ini berat; malahan ia menganggapnya sebagai hal yang memberikan sukacita. Ia tidak mengenal kemalasan. Di dalamnya kita menemukan gairah yang sangat menonjol di antara semua pelayan Allah. Mereka tidak malas dan tidak menganggapnya berat dalam menerima tantangan terhadap diri mereka sendiri.
Banyak saudara saudari telah menjadi tidak berguna dalam pelayanan Allah karena mereka takut menerima tanggung jawab apapun. Mereka merasa diberatkan dengan segala sesuatu. Mereka terus-menerus mengharapkan pekerjaan yang lebih sedikit. Mereka merasa lebih baik memilih tanggung jawab yang lebih kecil daripada tanggung jawab yang lebih besar dan mereka akan merasa gembira kalau dapat tidak menerima tanggung jawab sama sekali. mereka tidak memiliki karakter rajin. Jika kita malas, kita tidak bersyarat bukan hanya untuk pelayanan Allah tapi juga dalam pelayanan manusia. Banyak saudara saudari tidak dapat menjadi pelayan Allah karena mereka malas. Beberapa orang yang disebut pelayan Allah duduk tinggi di atas podium. Kelihatannya tidak ada yang bisa menguasai mereka; tidak ada satu saudara saudari pun yang dapat menjamah mereka, dan tidak ada yang bisa berkata apapun tentang mereka. Mereka sendiri menganggap diri mereka sebagai pelayan Allah. Jika tuan mereka diganti sebentar saja, nampaklah kegagalan mereka. Tidak ada tuan manusia yang akan membiarkan mereka malas seperti itu. Watak dan langkah kita harus dilatih sehingga kita tidak akan pernah beringsut ke belakang dari masalah tetapi sebaliknya memilih melayani dan berkorban untuk umat Allah, baik secara materi maupun fisik. Kita seharusnya lebih suka berjerih lelah dan bekerja dengan kedua tangan kita sendiri. Jika ini bukan cara kita, kita tidak bersyarat untuk disebut pelayan Allah! Paulus berkata, "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku" (Kis. 20:34). Ia memiliki kedua tangan yang baik, yang tidak malas sama sekali. Tangannya bekerja selama siang dan malam hari. Orang seperti ini benar-benar pelayan Allah.
DUA
Apakah kerajinan itu? Ini merupakan kebalikan dari kemalasan. Ia tidak menghindari tanggung jawab. Orang yang rajin tidak mencoba mengurangi pekerjaannya sampai tidak ada apa-apa lagi. Sebaliknya, ia mencoba menciptakan pekerjaan dari yang tidak ada. Dalam pelayanan Tuhan, kita mungkin saja mengambil satu atau dua hari untuk beristirahat jika kita tidak mencari pekerjaan. Kita seharusnya tidak menjadi orang yang berdiri menganggur sambil menunggu sesuatu terjadi. Jika kita hanya bekerja ketika muncul pekerjaan, kita bukan orang yang rajin. Orang yang rajin tidak pernah menganggur; ia selalu mencoba melakukan sesuatu. Ia selalu berpikir masak-masak, berdoa, merenungkan, mempertimbangkan di hadapan Allah mengenai apa yang harus dilakukannya. Jika ia tidak melatih dirinya demikian, ia tidak akan menemukan apa-apa untuk dikerjakan. Jika kita hanya bertindak "sesuai buku pedoman", kita segera menemukan bahwa tidak banyak lagi buku pedoman yang tersedia. Kita seharusnya mengharapkan menemukan banyak pekerjaan dalam pelayanan kita terhadap Allah. Kita seharusnya menemukan banyak keperluan. Kita harus sering berdoa kepada Tuhan dan menengadah kepada-Nya sepanjang waktu. Kita seharunya membuka mata kita dan begitu kita menemukan sesuatu yang perlu dikerjakan, kita seharusnya melakukannya. Setelah kita selesai mengerjakan sesuatu, kita seharusnya menunggu di depan Tuhan dan menengadah kepada-Nya kembali. Begitu kita menemukan lebih banyak lagi, kita harus menanganinya. Dalam melakukan ini, kita harus mencari kehendak Allah lagi dan kemudian baru menerima tugas baru lagi. Inilah makna melayani Allah. Tuhan berkata, "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga" (Yoh. 5:17). Kita tidak boleh mengubah ayat ini menjadi, "Bapa-Ku beristirahat sampai sekarang, maka Aku pun beristirahat juga." Kemalasan bukan jalan kita; jalan kita seharusnya, "Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga."
Kita seharunya bertanya kepada Tuhan, "Pekerjaan apa yang Engkau sediakan bagiku?" Setelah percakapan Tuhan dengan perempuan Samaria, Ia menanyakan pertanyaan yang aneh kepada murid-murid-Nya: "Bukankah kamu mengatakan: Empat bulan lagi tibalah musim menuai? Tetapi Aku berkata kepadamu: Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai" (Yoh. 4:35). Menurut murid-murid-Nya, musim menuai baru tiba empat bulan yang akan datang. Namun menurut Tuhan, musim menuai telah tiba. Dalam pandangan manusia, seseorang harus menunggu empat bulan tetapi Tuhan berkata, "Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai." Kekurangan hari ini adalah orang-orang yang memandang sekelilingnya. Setiap orang ingin menunggu empat bulan dulu baru bekerja. Hari ini banyak orang yang bersembunyi di rumah daripada berkelana dalam jalan Allah. Mata mereka tidak tertuju pada apa yang sedang Allah lakukan hari ini. Dalam Yohanes 5:17 Tuhan berkata bahwa Ia selalu melakukan apa yang telah ditetapkan Bapa-Nya untuk dilakukan. Dalam Yohanes 4:35 Ia memberitahukan kita untuk membuka mata kita dan melihat. Jika kita tidak membuka mata kita, kita tidak akan melihat apapun. Perkara pekerjaan sekaligus juga berhubungan dengan perkara kerajinan. Ini menyangkut ketelitian kita. Ini bukan masalah memperhatikan apa yang ada di tangan kita, tetapi juga perkara membuka mata kita untuk mencari hal-hal apa yang harus kita lakukan. Allah sedang bergerak dan bertindak di belakang banyak hal dan kita harus membuka mata kita untuk mencarinya baru kita dapat menemukannya. Kita harus membuka mata kita untuk melihat musim menuai dan untuk melihat apakah ladang memang sudah menguning. Begitu kita melihat, kita akan menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Sungguh aneh jika banyak orang kelihatannya menganggur; mereka kelihatannya tidak mengerjakan apa-apa!
Mereka yang memiliki niat untuk bekerja akan selalu menemukan hal-hal yang harus dikerjakan. Mereka yang tidak berniat bekerja selalu takut pekerjaan akan mendatangi mereka. Orang yang rajin selalu menunggu di hadapan Allah. Begitu ia bebas, ia pergi kepada Tuhan dan mencari hal-hal untuk dikerjakan. Ia selalu mencari kesempatan untuk bekerja. Seorang saudara pernah berkata, "Saudara anu dan anu tidak melakukan tugasnya. Begitu banyak saudara dari luar kota di sini dan ia tidak mengatur waktu untuk bersekutu dengan mereka." Saudara yang lain bertanya, "Mengapa engkau tidak memberitahukan dia?" Saudara yang pertama menjawab, "Apakah hal-hal seperti itu perlu diberitahukan?" Ini benar. Seorang pelayan Tuhan seharusnya selalu menunggu di hadapan Allah untuk menemukan sesuatu untuk dikerjakan. tentunya, ini bukan berarti bahwa ia harus berkeliling dan sibuk ikut campur tangan ke sana ke mari. Namun bukan berarti bahwa pelayan Tuhan harus selalu mencari dan menengadah pada-Nya. Ia juga harus membangun kebiasaan membuka mata dan melihat. Jika ia benar-benar sibuk, Allah tidak akan membebaninya dengan pekerjaan lain. Namun begitu waktunya luang, ia harus bertanya, "Tuhan, apa yang Engkau ingin aku lakukan?" Selama kita membuka mata kita, kita akan menemukan bahwa banyak orang memerlukan pelayanan kita.
Bagi mereka yang tidak mengerjakan apa-apa hanya ada satu alasannya - mereka terbiasa malas. Mereka menjalani hidup yang bermalas-malasan. Sifat mereka sudah pemalas. Ketika sesuatu ditaruh dalam tangan mereka, mereka perlu sepuluh hari lebih lama untuk menyelesaikan apa yang dapat diselesaikan orang lain dalam waktu sehari. Mereka tidak memiliki motivasi untuk bekerja. Saudara saudari, kita harus dengan aktif mencari pekerjaan. Jika kita belum menengadah pada Allah untuk pekerjaan, berdoa bagi pekerjaan, dan menemukan pekerjaan, kita adalah pemalas, dan kita tidak akan mampu menyelesaikan banyak pekerjaan. Bahkan jika kita diberikan lima atau sepuluh tahun lagi, kita masih tidak mampu melangkah lebih jauh dengan pekerjaan kita.
Persyaratan dasar seorang pekerja Tuhan adalah matanya harus lincah. Begitu suatu keperluan timbul, ia seharusnya mengetahui apa yang harus dikerjakan dan bagaimana melakukannya. Tanpa sikap ini, ia tidak akan menemukan pekerjaan apapun. Roh kita harus peka terhadap Tuhan. Jika kita tidak sensitif, reaksi kita terhadap segala hal akan lambat. Kita harus memperhatikan hal membuka mata kita. Kita seharusnya tidak begitu saja mengikuti apa yang dikatakan orang lain. Kita seharusnya tidak beranggapan masih ada empat bulan lagi untuk musim menuai. Kita harus mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan, "Lihatlah sekelilingmu dan pandanglah ladang-ladang yang sudah menguning dan matang untuk dituai." Sungguh mengherankan, ada orang-orang yang berjalan melewati ladang setiap hari tapi tetap saja matanya tidak melihat. Mereka berpikir bahwa mereka masih harus menunggu empat bulan lagi! Mereka berjalan melewati berbagai keperluan setiap hari namun tidak menemukan apa-apa untuk dikerjakan! Tangan mereka telah menyentuh hal-hal yang seharusnya mereka kerjakan namun mereka tetap tidak tahu apa yang seharusnya dikerjakan. Sungguh aneh! Saudara saudari, kita belum pernah melihat Allah memakai orang yang malas. Mereka yang digunakan Allah adalah orang-orang yang mencurahkan tenaga mereka, yang selalu mencari hal-hal untuk dikerjakan dan tidak pernah longgar. Mereka dengan gigih menjaga setiap waktu yang berlalu dan tidak pernah menunda sampai besok hal-hal yang bisa dikerjakan hari ini. Mereka yang longgar dengan waktu mereka hanya memiliki sedikit kegunaan dalam tangan Tuhan. Beberapa orang tidak akan bergerak kecuali mereka didorong lebih dulu. Mereka seperti jam tua; orang lain harus memutar mereka dulu sebelum mereka melakukan apapun. Jika tidak ada yang mendorong mereka, mereka tidak akan bergerak sendiri. Orang-orang seperti ini hanya berguna sedikit dalam pekerjaan Tuhan. Tidak peduli ke manapun mereka pergi, selama kita menemukan saudara-saudara yang berjerih lelah dan dengan rajin berkerja, kita pasti melihat hasilnya. Allah telah melakukan pekerjaan-pekerjaan besar di banyak tempat karena banyak orang yang berjerih lelah di balik layar. Di beberapa tempat pekerjaan Allah menderita kemunduran karena ada orang-orang yang malas. Kita belum pernah melihat orang yang malas yang dipakai besar-besaran oleh Allah. Sering kali alasan di balik kegagalan dalam pekerjaan tidak lain daripada kemalasan.
Kata Yunani untuk kerajinan adalah spoude atau spoudazo. Kata ini juga diterjemahkan sebagai menyala-nyala, kesungguhan, berusaha, cepat-cepat (Rm. 12:8, 11; 2 Kor 7:11-12; 8:7-8, 16: Ibr. 4:11; 2 Ptr. 1:5, 10; 3:14; Gal. 2:10; 2 Tim. 2:15; 4:9, 21; Titus 3:12; Yudas 3; 1 Tes. 2:17; Ef. 4:3; 2 Ptr. 1:15; Mrk. 6:25; Luk. 1:39). Roma 12:11 meletakkan kata kerajinan (menyala-nyala) dan kendor bersamaan. "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor." Dengan kata lain, menjadi kendor berarti tidak rajin. Dalam pekerjaan rohani satu orang seharusnya dihitung untuk sepuluh bahkan seratus hal. Jika pelayan-pelayan Allah malas, tidak ada pekerjaan yang dapat dilakukan. Jika kita malas, dan diperlukan sepuluh orang di antara kita untuk mengerjakan pekerjaan satu orang, bagaimana kita dapat memenuhi keperluan pekerjaan? Saudara saudari, kita harus memperoleh karakter rajin. Entah apakah pekerjaan kita benar-benar tidak menghasilkan apa-apa, ini adalah masalah sekunder. Masalah yang utama adalah apakah kita memiliki karakter rajin atau tidak. Kita seharusnya menjadi orang yang dengan ngotot mencari pekerjaan di hadapan Tuhan. Tentunya, ini bukan berarti kita harus pura-pura sibuk. Tidak ada gunanya berpura-pura. Kita seharusnya menjadi rajin dan ini berarti kita tidak seharusnya takut akan tanggung jawab, yaitu bahwa kita harus melayani Tuhan dengan menyala-nyala dan bahwa kita harus menyala-nyala di dalam roh. Kita harus menemukan apa yang dapat kita lakukan dalam pelayan Allah. Ini mungkin tidak ternyata dalam aktivitas luaran kita tetapi ternyata dalam karakter dan watak kita. Jika sifat kita sudah pemalas, tidak ada gunanya walaupun kita sibuk dua belas jam sehari selama berhari-hari karena pada akhirnya kita akan kembali ke kebiasaan lama kita. Kita harus mempunyai karakter yang rajin dan teliti agar kita dapat berguna bagi Tuhan. Beberapa orang dapat memaksakan diri mereka untuk bekerja selama dua jam, tetapi pada dasarnya mereka masih orang yang malas; mereka masih sangat takut akan tanggung jawab. Mereka berdoa siang dan malam supaya tanggung jawab mereka dikurangi atau sekalian dihapuskan saja, dan mereka mendambakan datangnya hari saat mereka tidak memiliki tanggung jawab sama sekali. Ini bukan cara kerja Tuhan. Ia datang ke dunia untuk mencari manusia, untuk menerima tanggung jawab. Ia berkata bahwa Ia datang "untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang". Ia tidak datang hanya untuk berkontak dengan manusia; Ia datang untuk mencari mereka. Kita harus memiliki karakter seperti ini agar kita dapat maju bersama Tuhan.
Dua Petrus 1:5-7 mengatakan, "Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang." Inilah kerajinan. Petrus menggunakan frase dan kepada sebanyak enam kali. Ini memperlihatkan bahwa orang yang rajin selalu menambahkan pada apa yang telah ia miliki; ia tidak puas dengan apa yang ia miliki. Kita seharusnya menggarap karakter ini. Kita seharusnya selalu menambahkan apa yang kita miliki dan tidak pernah berhenti melakukan demikian. Harus ada "menambahkan kepada." Kita harus mendorong diri kita setiap waktu. Hanya ada satu jalan untuk melihat hasilnya. Jika kita menganggur dan malas, kita tidak akan berlanjut ke manapun. Beberapa orang tidak merasakan tanggung jawab apapun dalam pekerjaan Allah; mereka tidak merasa beban apapun di atas pundak mereka. Mereka belum pernah berpikir untuk memperbaiki atau memperluas pekerjaan mereka. Mereka belum pernah berpikir untuk mendapatkan lebih banyak orang kepada Tuhan atau menyebarkan Injil sampai ke seluruh pelosok bumi. Mereka dapat bertoleransi terhadap apapun. Bagaimana Allah dapat menggunakan orang-orang seperti ini? Jika mereka tidak melihat satu jiwapun diselamatkan hari ini, mereka menerimanya sebagai sesuatu yang seharusnya. Jika mereka tidak melihat satu jiwa diselamatkan besok, mereka juga tidak berwaspada. Bagaimana orang-orang seperti ini bekerja bagi Allah? Bagaimana tujuan Tuhan dapat dicapai melalui pekerja macam ini? Allah memerlukan pekerja yang tidak menyerah, yang selalu mencari untuk menambahkan pada apa yang mereka miliki. Hanya orang-orang seperti ini yang dapat berbagian dalam pekerjaan Tuhan. Bacalah perkataan 2 Petrus 1:5-8 kembali, "Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang. Sebab apabila semuanya itu ada padamu dengan berlimpah-limpah, kamu akan dibuatnya menjadi giat dan berhasil dalam pengenalanmu akan Yesus Kristus, Tuhan kita." Petrus berkata kita seharusnya menjadi lebih rajin. Bagaimana kita bisa menjadi lebih rajin? Kita harus menambahkan pada apa yang sudah kita miliki. Inilah jalan untuk dibebaskan dari pengangguran. Dengan kata lain, kemalasan hanya dapat disingkirkan dengan kerajinan. Bagaimana kita menjadi rajin? Kita menjadi rajin dengan selalu menambahkan pada apa yang kita miliki. Kita seharusnya selalu merasa tidak cukup memiliki, merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki, dan bahwa kita tidak lagi menganggur atau tidak berbuah sampai kepada pengenalan yang penuh akan Yesus Kristus, Tuhan kita. Saudara saudari, kita harus menghadapi kemalasan kita dengan, "menambahkan kepada". Kita seharusnya memperhatikan perkataan Petrus. Jika kita hanya memberitakan doktrin tentang kerajinan, kita hanya perlu menasihati orang lain untuk menjadi rajin dan kita hanya perlu mengatakannya sekali saja. Namun Petrus mengulangi pola yang sama dalam ayat 5 sampai 7. Ia sedang memperlihatkan kepada kita bahwa seseorang hanya bisa menjadi rajin ketika ia menambahkan pada apa yang telah ia miliki terus-menerus sampai ia memiliki hal-hal ini dengan berlimpah-limpah. Ini satu-satunya jalan untuk tidak menganggur atau tidak berbuah. Saudara saudari, kita perlu berdoa supaya Allah mengubah karakter kita. Kita tidak ingin menjadi kendor. Kita ingin menjadi mereka yang gembira dan rela bekerja dan yang dengan terus-menerus mencari kesempatan untuk melayani Tuhan.
Petrus tidak berhenti sampai di sini. Bacalah ayat 15: "Lebih-lebih lagi aku akan menjadi rajin setelah kepergianku supaya kamu dapat mengingat semuanya itu." (TL) Di sini kata rajin digunakan sekali lagi. Petrus meminta mereka dengan rajin mengingat hal-hal ini. Mungkin ia telah melihat terlalu banyak pemalas. Inilah sebabnya ia harus dengan rajin mengingatkan mereka hal-hal ini. Saudara saudari, kita harus belajar melayani Allah kita dengan rajin dan teliti. Kita seharusnya merebut setiap kesempatan untuk melayani-Nya. Kita seharusnya memiliki watak dan karakter yang rajin selama-lamanya. Seorang pekerja adalah orang yang bukan hanya bekerja dengan kedua tangan dan kakinya tetapi dengan pikiran dan hatinya juga. Jika kita tidak rajin kita tidak akan banyak berguna bagi pekerjaan Tuhan. Mereka yang cuma pintar dalam doktrin mungkin benar-benar tidak berguna bagi Tuhan jika sifat dasar mereka malas. Semua orang yang takut akan pekerjaan dan tanggung jawab dan yang tidak memiliki hasrat untuk melakukan apapun tidaklah bersyarat untuk melayani Allah. Mereka tidak cocok bagi pekerjaan-Nya.
Dua surat Timotius dan surat Titus adalah surat-surat mengenai pekerjaan Tuhan. Dua Timotius 4:9 mengatakan, "Berusahalah segera datang padaku." Jika seseorang rajin, ia akan segera datang. Namun jika seseorang kendor, ia akan berlambat-lambat. Paulus berkata, "Berusahalah segera datang padaku." Ayat 21 mengatakan, "Berusahalah kemari sebelum musim dingin." Titus 3:12 juga membicarakan kerajinan. Dalam surat-surat mengenai pekerjaan ini, kerajinan sangat ditekankan.
Yudas mengatakan hal yang sama dalam ayat 3: "Saudara-saudaraku yang kekasih, sementara aku bersungguh-sungguh berusaha menulis kepada kamu tentang keselamatan kita bersama...."
Paulus berbicara mengenai kerajinan dalam tempat-tempat lain pula. Dalam menunjukkan pertobatan orang-orang Korintus, ia berkata, "Sebab perhatikanlah betapa justru dukacita yang menurut kehendak Allah mengerjakan pada kamu kesungguhan yang besar" (2 Kor. 7:11). Kata kesungguhan dalam ayat ini sama dengan kata kerajinan dalam bahsa Yunaninya.
Saudara saudari, jika seseorang ingin belajar untuk melayani Tuhan, ia harus menyadari betapa berat tanggung jawabnya, bagaimana mendesaknya keperluan di sekeliling mereka, dan betapa cepatnya waktu berlalu! Hidup itu singkat. Jika seseorang dengan teliti menempuhnya, ia akan menjadi rajin dan tak kendor. Jika kita tidak merasakan betapa cepatnya waktu berlalu, betapa mendesaknya kepentingan di sekitar kita atau betapa beratnya tanggung jawab kita, kita tidak akan mampu menyelesaikan banyak dalam pekerjaan Allah. Jika ada beban yang menekan kita, kita tidak akan mempunyai pilihan lain selain bekerja, bahkan jika kita harus menahan diri dari makanan, tidur dan istirahat kita demi mencapai tujuan kita. Jika kita mengganggap istirahat sebagai hal yang terpenting dalam hidup kita, pekerjaan kita tidak akan maju banyak. Saudara saudari, waktu kita hampir habis; sedangkan keperluan yang ada begitu mendesak, dan tanggung jawab kita begitu besar. Marilah kita sebagai orang yang sedang sekarat dengan sisa-sisa nafas kita dan kesempatan yang semakin menipis, menyerahkan diri kita sepenuhnya untuk mengabarkan Injil kepada mereka yang sedang sekarat di sekitar kita. Jika kita menyeret kaki kita dan tidak melihat keperluan-keperluan di sekitar kita, tanggung jawab yang kita tanggung, dan singkatnya waktu yang kita miliki, maka kita tidak akan banyak mengerjakan pekerjaan Tuhan. Hari ini setiap pelayan Allah harus melayani dengan matian-matian. Siapa yang bisa menjadi kendor di bawah tekanan seperti ini? Saudara saudari, kita harus bangkit dan mendisiplin tubuh kita agar dapat menjadi rajin. Seperti yang dikatakan Paulus, kita harus melatih tubuh kita dan menjadikannya budak. Tidaklah cukup jika kita hanya mengatakan bahwa kita melayani dengan bersungguh-sungguh. Jika kita malas, kita tidak akan mampu menangani masalah apapun di hadapan kita. Jangan berpikir bahwa kekendoran adalah hal kecil. Dua Petrus 1:8 mengatakan bahwa kekendoran adalah kemalasan dan pengangguran. Kita tidak dapat mejadi malas, dan kita tidak dapat menganggur. Kita harus melatih tubuh kita lagi dan lagi sampai kita menyadari bahwa pengorbanan setiap hari dari hidup kita yang total dan murni adalah satu-satunya jalan untuk bekerja dan menjadi berguna. Kita tidak dapat menipu diri kita sendiri. Beberapa orang mengatakan bahwa mereka akan dengan gembira menyerahkan hidup mereka bagi Tuhan. Namun tetap saja mereka menjalani kehidupan yang malas. Mereka mencoba memisahkan diri mereka dari segala sesuatu. Jika mereka mencoba membawa karakter, kebiasaan, dan watak mereka ke dalam pekerjaan Tuhan, mereka akan mendapatkan bahwa mereka malah sedang menghambat pekerjaan Tuhan! Seandainya Paulus menunggu dulu panggilan orang Makedonia sebelum ia bekerja, Kisah Para Rasul mungkin hanya mencatat satu misi Paulus ke Makedonia. Panggilan orang Makedonia hanyalah satu di antara banyak pekerjaan Paulus. Mengenai istirahatnya dalam pekerjaan, Paulus melaksanakannya dengan beban yang ia tanggung di hadapan Tuhan. Jika kita harus menunggu saudara saudari mendatangi kita sebelum kita bekerja, kita mungkin menunggu seumur hidup kita dengan sia-sia. Kita bekerja karena kita memiliki beban, karena kita mengetahui bahwa waktunya singkat, keperluannya besar, dan serangan Iblis gencar. Kita dipaksa untuk menjadi rajin. Kekendoran dapat membuat seseorang yang berguna menjadi tidak berguna. Ia dapat mengubah seorang yang kaya menjadi orang yang bekerja bahkan hanya dengan sepertiga, seperlima, atau sekadar sepersepuluh dari kemampuan yang sebenarnya! Setiap orang yang mengenal Allah dan yang berguna di dalam tangan-Nya adalah orang yang rajin.
TIGA
Marilah kita melihat bagian dari Matius 25:18-30. Apa yang dikatakan bagian ini? Dalam perumpamaan ini kita melihat kemungkinan dua upah yang menunggu kita di takhta penghakiman - upah "jahat" dan upah "malas". Pelayan itu jahat karena ia menambahkan pikiran-pikiran yang jahat dalam dirinya tentang Tuhan. Mungkin tidak banyak orang yang sejahat ini. Namun sembilan dari sepuluh orang itu mungkin mengakui bahwa mereka adalah pelayan yang kendor ketika mereka berdiri di hadapan Tuhan. Pada waktu itu Tuhan sendiri akan mengumumkan penghakiman: "Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap" (ay. 30). Tuhan menganggap pelayan yang kendor sebagai orang yang "tidak berguna". Kadang-kadang kita bertanya mengapa Allah menggunakan saudara tertentu. Ia menggunakan dirinya karena ia memberikan dirinya sendiri pada apa yang sedang ia kerjakan siang dan malam. Bagi orang yang rajin ada jalan; tidak ada orang yang malas dapat menempuh jalan ini. Kita harus mengorbankan segala apa adanya diri kita sebelum kita dapat menempuh jalan ini. Saudara saudari, jika kita tidak menanggulangi masalah kekendoran, kita tidak dapat memiliki pekerjaan apapun. Begitu kita menjadi malas, kita terpotong separuh. Jika kita mengizinkan kita menempuh jalan ini, kita mungkin akhirnya akan bernilai sepersepuluh saja. Sudah terlalu banyak orang yang mengenal Tuhan hari ini. Jika kita menyeret-nyeret kaki kita dan berlambat-lambat dalam usaha kita, bagaimana pekerjaan kita dapat menyelesaikan sesuatu? Jangan anggap ringan perkara ini. Jangan berpikir bahwa kerajinan adalah hal kecil. Banyak orang di masa lampau telah menjadi tidak berguna dan telah jatuh ke pinggir jalan, menyia-nyiakan diri mereka dengan kekendoran mereka. Marilah kita menerima peringatan yang serius ini. Sejak hari ini marilah kita menengadah kepada Tuhan untuk memampukan kita membalikkan kebiasaan sekaligus karakter kita. Semoga Tuhan menghapuskan kekendoran dari kita. Kita tidak dapat menjadi malas dan menganggur. Jika kita demikian, pekerjaan kita tidak memiliki masa depan.
Kita seharusnya mendisiplinkan tubuh kita sedemikian ketatnya sehingga sepenuhnya menaati kita. Kita seharusnya menjadi rajin, tidak kendor. Penyakit umum dalam pekerjaan kita adalah kekendoran. Mungkin sembilan dari sepuluh orang yang kendor. Seorang pelayan Tuhan seharusnya memiliki stamina untuk selalu mendorong dirinya maju. Alkitab menggunakan kerbau, bukannya kuda, sebagai lambang pelayanan kita. Seekor kerbau dengan perlahan menggarap pekerjaan yang sama hari ini, keesokan harinya, dan lusanya; ia tidak pernah menyerah. Jika kita bekerja selama satu hari sewaktu kita sedang bersemangat dan beristirahat keesokan harinya ketika cuaca buruk, maka kita tidak akan pernah melihat hasil apapun dalam pekerjaan kita. Namun jika kita bergerak selangkah demi selangkah, hari demi hari, pantang menyerah dan stabil, kita akan melihat hasilnya cepat atau lambat. Semoga Allah membebaskan kita dari jalan kita yang kurang ajar dan bodoh sehingga kita dapat menjadi seperti kerbau yang memegang, menggenggam, bertekun, dan pantang menyerah dan dengan rajin bekerja sepanjang waktu. Jika kita melakukan hal ini, kita akan memiliki jalan untuk maju.
Kitab Amsal berbicara tentang kekendoran lebih banyak daripada kitab-kitab lain dalam Perjanjian Lama. Kata Ibrani atsel diterjemahkan empat belas kali sebagai kendor atau pemalas (6:6, 9; 10:26; 13:4; 15:19; 19:24; 20:4; 21:25; 22:13; 24:30; 26:13-16). Pernah juga diterjemahkan menjadi kekendoran (19:15). Kata Ibrani remiyah juga diterjemahkan menjadi kendor sebanyak dua kali (12:24, 27). Salomo membuat makna kekendoran menjadi jelas.
Karena kekendoran adalah kebiasaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun, kita tidak dapat berharap untuk mengoreksinya dalam satu-dua hari. Jika kita tidak menanggulanginya dengan serius, mungkin tidak akan berubah seumur hidup kita. Ini tidaklah sederhana. Kebiasaan ini telah terbangun selama bertahun-tahun dan telah menajdi bagian karakter kita. Jika kita tidak menanggulanginya dengan tegas di hadapan Tuhan, kita tidak dapat melepaskan diri kita darinya. Kita mengharapkan mereka yang terbiasa dalam kemalasan untuk dapat lebih banyak lagi menanggulangi kekendoran mereka. Jika mereka tidak menanggulanginya dengan serius, mereka tidak dapat berpartisipasi dalam pekerjaan Tuhan. Pekerjaan Allah tidak dapat bertoleransi terhadap orang-orang yang malas. Tidak ada seorangpun yang kendor yang dapat menghasilkan pekerjaan yang tepat, karena watak seorang pemalas selalu mencoba mengabaikan atau menanggalkan berbagai hal. Ketika ada hal-hal yang mendatanginya, ia berharap hal itu lekas hilang saja sekaligus. Mereka yang memiliki kebiasaan malas tidak memiliki pengharapan bila dihubungkan dengan pekerjaan Allah. Setiap pelayan Tuhan harus menjadi orang yang sibuk. Ia seharusnya selalu mencari sesuatu untuk menyibukkan dirinya. Ia seharusnya menaruh dirinya sendiri di bawah setiap beban dan memeriksa setiap masalah; ia seharusnya tidak menghindari masalah. Setiap pelayan Allah seharusnya menerima segala macam tanggung jawab ke atas dirinya; ia seharusnya tidak takut terhadap kesulitan-kesulitan. Saudara saudari, kita harus menanggulangi kebiasaan jahat kita yang suka menghindar dari pekerjaan, masalah dan tugas-tugas. Kita harus menanggulangi hal ini dengan tegas. Seseorang yang malas tidak pernah bisa melayani Allah.