← Daftar isi Stabil Tidak Subyektif terhadap Uang Beberapa Perkara Lain · bab 4/10

MELATIH TUBUH DAN MENJADIKANNYA BUDAK SATU

Satu Korintus 9:23-27 mengatakan, "Segala sesuatu ini kulakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian di dalamnya. Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya! Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak."

Ayat 23 mengatakan, "Segala sesuatu ini kulakukan karena Injil." Ini memperlihatkan kepada kita bahwa pasal ini membahas jalan seorang pemberita Injil, seorang pelayan Tuhan. Ayat 27 mengatakan, "Tetapi aku melatih tubuhku dan menjadikannya budak" (TL). Ini adalah persyaratan dasar yang dikenakan seorang pelayan Allah atas dirinya sendiri. Ayat 24 sampai 26 memperlihatkan kepada kita bahwa Paulus melatih tubuhnya dan menjadikannya budak.

Kita ingin tahu bahwa Paulus bukan sedang membicarakan tentang ajaran pertapaan ketika ia mengatakan bahwa ia melatih tubuhnya dan menjadikannya budak. Ia tidak setuju dengan mereka yang berada di bawah pengaruh ajaran pertapaan, yang mengajarkan bahwa tubuh adalah halangan yang harus kita usahakan untuk terlepas darinya. Para pertapa percaya bahwa tubuh mereka adalah sumber dosa dan seseorang harus memperlakukannya dengan kejam agar masalah dosa ini dapat dipecahkan. Namun Alkitab tidak mengajarkan bahwa tubuh adalah halangan, apalagi sumber dosa. Alkitab memberitahukan bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus (I Kor. 6:19) dan akan tiba harinya ketika tubuh ini akan ditebus dan dimuliakan. Dalam pikiran kita seharunya tidak terlintas tentang pertapaan ketika kita berbicara tentang "melatih tubuh". Jika kita memperkenalkan pemikiran seperti ini dalam kekristenan, kita sedang membuat agama lain. Ini bukanlah hal yang kita beritakan. Kita menolak pemikiran bahwa tubuh adalah sumber dosa. Kita sudah mengetahui bahwa tubuh kita dapat membuat kita berbuat dosa, tetapi tubuh bukanlah sumber dosa. Kita masih dapat berdosa tidak peduli betapa drastisnya kita menanggulangi tubuh.

Dalam 1 Korintus 9, Paulus menghadapi para pekerja Kristen yang bermasalah dengan tubuh mereka. Ayat 23 mengatakan, "Segala sesuatu ini kulakukan karena Injil." Ini berarti bahwa ia sedang berdiri di atas posisi sebagai pengabar Injil ketika ia berbicara demikian. Apa yang dilakukannya demi Injil? Ayat 24 sampai 26 memperlihatkan kepada kita apa yang ia lakukan. Dalam ayat 27 Paulus menunjukkan bahwa apa yang ia lakukan adalah melatih tubuhnya. Menurut teks bahasa Yunaninya, kata melatih berarti memukul wajah berulang-ulang sampai memar-memar. Melatih tubuh seseorang dan menjadikannya budak berarti menjadikan tubuhnya tunduk dan "memukulnya" berulang-ulang sampai ia dengan patuh menjadi budak, patuh kepada kehendak pemberita Injil. (Ini tentunya bukan berarti secara harfiah melatih tubuh seperti "menyiksa diri" dalam Kolose 2:23). Paulus mengatakan bahwa ia melakukan "supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak". Ini memperlihatkan kepada kita bahwa bagi setiap pelayan Allah, melatih tubuh dan menjadikannya budak adalah cara hidup yang dasar. Setiap pelayan Allah seharusnya berjalan menurut satu peraturan dasar - tubuhnya harus ditundukkan. Jika tubuhnya tidak dibawa untuk tunduk, ia tidak dapat melayani Allah. Bagaimana Paulus memecahkan masalah tubuhnya? Ia melatih tubuhnya dan menjadikannya budak. Ayat 27 adalah pokok pembicaraan sementara ayat 24 sampai 26 adalah penjelasan atas pokok pembicaraan ini. Dalam ayat 24 sampai 26 kita melihat bagaimana Paulus melatih tubuhnya, dan dalam ayat 27 ia menyatakan pokok pembicaraannya. Marilah kita membahasnya satu per satu.

DUA

Ayat 24 mengatakan, "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari?" Paulus mengilustrasikan maksudnya dengan contoh seorang pelari dalam perlombaan. Pelayanan seorang Kristen kepada Tuhan dan jerih lelahnya kepada Majikannya dapat dibandingkan dengan sebuah perlombaan. Setiap orang sedang berlari dalam perlombaan ini; ini adalah suatu kewajiban. Tidak ada seorangpun yang dapat mengecualikan dirinya dari hal ini. "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" Hanya satu dari antara para pelari dalam perlombaan itu yang memperoleh hadiah. Namun jika kita semua berlari, setiap orang dapat menerima hadiah. Inilah perbedaan antara perlombaan lari mereka dengan perlombaan lari kita. Paulus menggunakan ilustrasi perlombaan lari. Ilustrasi ini mengacu pada ayat 25.

Ayat 25 mengatakan, "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal." Inilah penekanan Paulus: Agar seseorang dapat berpartisipasi, ia menjalani latihan. Ia harus melatih pengendalian diri dalam segala sesuatu. Ia tidak dapat makan sesuka hatinya atau tidak makan sesuka hatinya. Ia tidak dapat tidur sesuka hatinya atau tidak tidur sesuka hatinya. Semua olahragawan yang bertanding dalam pertandingan sangat berdisiplin selama latihan mereka. Mereka sangat terikat dengan peraturan dalam hal apa yang boleh mereka makan dan apa yang tidak boleh mereka makan, kapan mereka boleh tidur dan kapan mereka harus bangun. Sebelum pertandingan dimulai, mereka harus dengan ketat mengikuti peraturan-peraturan seperti tidak minum-minuman keras atau merokok. Begitu pertandingan dimulai, ada peraturan-peraturan yang lebih ketat yang harus dipatuhi. Inilah sebabnya ayat 25 mengatakan bahwa setiap orang yang mengambil bagian menguasai dirinya dalam segala hal. Beberapa orang mungkin berpikir bahwa mereka pasti sulit melepaskan kebiasaan merokok, minum-minuman keras, atau kegemaran-kegemaran masa lampau. Namun ketika seseorang bersiap-siap untuk suatu perlombaan, ia harus dengan ketat mengontrol tubuhnya. "Setiap orang yang mengambil bagian menguasai tubuhnya dalam segala sesuatu." Hal-hal apakah yang harus ia latih untuk dikuasainya? Ia harus melatih pengendalian dirinya dalam tuntutan-tuntutan tubuhnya. Ia tidak boleh mengizinkan tubuhnya memiliki terlalu banyak tuntutan atau memiliki terlalu banyak kebebasan. Dalam menempuh perlombaan lari tubuh ini hanya dipakai untuk satu hal - perlombaan itu sendiri, bukan untuk makanan, pakaian, merokok, minum-minuman keras, atau tidur, tetapi untuk lari semata. Banyak pelari harus menghindari makan yang manis-manis dan yang mengandung zat tepung. Ini bukan berarti bahwa makanan ini berbahaya atau tidak berguna; sebaliknya, makanan ini tidak menolong seorang pelari dalam perlombaan. Agar dapat menjadi seorang pelari, seseorang harus melatih pengendalian dirinya dalam segala sesuatu. Ayat 27 berbicara tentang melatih tubuh, ini adalah pokok. Tubuh ini harus berada di bawah kendali; harus patuh. Semua bagian tubuh digunakan hanya untuk satu hal - berlari, lari yang bisa memenangkan hadiah.

Ayat 25 meneruskan, "Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." Para pelari banyak melatih penguasaan dirinya demi mahkota yang fana. Tidakkah seharusnya kita yang mengejar mahkota yang abadi lebih-lebih lagi berlatih menguasai diri kita? Mahkota yang abadi dalam bahasa Yunaninya mengacu kepada rangkaian bunga yang bertahan hanya tiga sampai lima hari. Seorang pelari harus melalui periode latihan yang lama ia dapat memiliki kesempatan untuk memenangkan mahkota fana seperti itu. Paulus mengatakan, "Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." Kita seharunya memperhatikan perbandingan Paulus. Pelari Yunani berlari di jalur perlombaannya sementara kita berlari di dalam dunia. Aktivitas lari mereka adalah latihan bagi tubuh, sementara aktivitas lari kita adalah pelayanan bagi Allah. Sewaktu mereka berlari, hanya satu orang yang menerima hadiah, tetapi sewaktu kita berlari setiap orang dapat menerima hadiah. Hadiah mereka adalah mahkota yang fana, tetapi hadiah kita adalah mahkota yang abadi. Ini adalah perbedaan yang sangat besar. Namun, ada satu hal yang sama dari kedua perlombaan ini - melatih pengendalian diri dalam segala sesuatu. Pengendalian diri diperlukan dalam kedua kasus ini. Mereka melatih pengendalian diri untuk memenangkan perlombaan, sementara kita melatih pengendalian diri untuk mengabarkan Injil. Tujuannya mungkin berbeda, tetapi disiplin yang diterapkan pada tubuh adalah sama. Seseorang harus melatih pengendalian diri dalam menempuh perlombaan lari, dan sebagai orang Kristen kita juga harus melatih pengendalian diri dalam penghidupan orang Kristen .

Ayat 26 mengatakan, "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul." Ini berarti bahwa Paulus tidak berlari tanpa tujuan; ia mengetahui ke mana ia pergi. Ia berkata bahwa ia melatih tubuhnya. Ini berarti pukulannya tidak memukul ke udara; ia memukul tubuhnya sendiri. Kita harus melihat ayat 26 bersama ayat 27. Ayat 26 memberi tahu kita bahwa Paulus bukannya tanpa tujuan yang jelas. Ia tidak berlari ke arah mana saja yang diberitahukan orang lain; ia memiliki tujuan yang jelas sewaktu berlari. Begitu pula tinjunya bukan pukulan kosong ke udara saja. Kemudian dalam ayat 27, ia segera menunjukkan bahwa ia melatih tubuhnya. Sebelumnya kita telah menunjukkan bahwa melatih berarti semacam tindakan memukul yang menghasilkan memar-memar di sekujur tubuh seseorang. Ini bukan pukulan biasa tetapi pukulan yang membuat menderita. Pukulan yang biasa tidak menghasilkan memar-memar. Paulus menanggulangi tubuhnya dengan keras sehingga tubuhnya berada di bawah pengendaliannya. Ia melakukannya untuk menjadikan tubuhnya budak. Ini berarti ia tidak akan mengizinkan tubuhnya menjadi kendor. Ia membawanya ke dalam pengendalian diri.

Tujuan latihan semacam ini adalah untuk membuat tubuhnya sebagai budak, sementara sarananya adalah melatih tubuh. Kita melatih tubuh kita sehingga menjadikannya budak. Saudara saudari, jika kita tidak menang atas perkara ini, lebih baik kita menunggu tiga atau lima tahun dan belajar perkara ini sebelum kita mencoba menjamah pekerjaan Allah. Setiap pelayan harus belajar meletakkan tubuhnya di bawah pengendaliannya. Alkitab memperlihatkan kepada kita bahwa seorang pekerja Tuhan adalah seperti pelari. Ia mungkin menerima kesenangan besar dalam pekerjaan, tetapi ini hanya akan bernilai kecil jika tubuhnya tidak berada di bawah pengendaliannya. Pelayanan kepada Tuhan bukanlah hal yang sederhana; bukan sekadar masalah memberikan khotbah dari atas mimbar. Bukan hal seperti ini. Paulus memperlihatkan kepada kita di sini bahwa hanya mereka yang mau melatih tubuh mereka dan membuatnya budak yang dapat melayani Tuhan. Jika tubuh Anda tidak mau patuh, Anda perlu lebih banyak dilatih oleh Tuhan. Jangan berpikir bahwa sedikit aspirasi akan membuat Anda bersyarat untuk melayani Tuhan. Para pekerja Allah harus melatih tubuh mereka dan menjadikannya budak. Jika tubuh mereka tidak mau mematuhi mereka, mereka hanya berguna sedikit saja dalam pekerjaan.

TIGA

Apakah maknanya menjadikan tubuh kita budak? Untuk dapat memahami hal ini, pertama kita harus memahami apa saja tuntutan-tuntutan tubuh ini. Kita hanya akan menyebut beberapa contoh praktis - makanan, pakaian, istirahat, tidur, kenyamanan, dan perawatan khusus tatkala sakit. Semua ini adalah tuntutan-tuntutan tubuh. Menjadikan tubuh sebagai budak berarti bahwa dengan melatih tubuh melalui jangka waktu panjang dalam kehidupan biasa, maka kita mampu meletakkannya di bawah pengendalian kita selama waktu perlombaan. Jika kita bersikap gampang dengan tubuh kita dalam keadaan biasa, maka kaki, paru-paru dan setiap organ lainnya tidak akan berada di bawah pengendalian kita sewaktu perlombaan, dan kita tidak akan mampu memenuhi tuntutan perlombaan. Agar tubuh kita dapat patuh, diperlukan latihan dalam jangka waktu lama. Jika tidak ada latihan sedemikian, tidaklah mungkin menggerakkan tubuh ini dalam waktu sekejap. Jika kita kekurangan latihan seperti ini secara teratur dan jika kita belum pernah melatih tubuh kita atau menanggulanginya, maka ia tidak akan mematuhi kita sewaktu diperlukan. Ketika kita berketetapan untuk melakukan pekerjaan kita, ternyata tubuh tidak mematuhi kita. Kita tidak akan mampu memenuhi tuntutan-tuntutan tubuh ini dan kita tidak memiliki kendali atas tubuh kita.

Kita seharusnya tidak berpikir bahwa hanya ukuran kerohanian tertentu yang diperlukan untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan. Masih ada perkara tubuh. Paulus memperlihatkan kepada kita betapa riilnya masalah ini. Aku bukan bertanya apakah kita memiliki tubuh yang sehat. Yang aku tanyakan adalah apakah kita adalah tuan atas tubuh kita. Apakah tubuh kita mematuhi kita? Jika tubuh kita tidak patuh, kita tidak dapat melayani Allah dalam Injil. Latihan seperti ini tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Beberapa masalah rohani dapat dipecahkan dalam waktu singkat, tetapi melatih tubuh menuntut tiga, lima atau bahkan sepuluh tahun. Mereka yang telah membangun kebiasaan hidup yang longgar perlu lebih banyak lagi menerapkan disiplin yang ketat atas diri mereka sendiri.

Sebagai contoh, dalam keadaan biasa tubuh kita memerlukan tidur. Tidur tidak salah; ini bukan dosa dan tuntutan ini tentunya sah. Allah telah membagi siang dan malam untuk memberikan manusia kesempatan untuk beristirahat. Jika seseorang tidak tidur, bagaimana ia dapat bekerja? Namun untuk dapat melatih tubuh dan menjadikannya budak, kita seharusnya tidak bersikeras untuk tidur sewaktu kita seharusnya terjaga. Inilah maksudnya menjadikan tubuh kita budak. Seandainya saya telah merencanakan tidur delapan jam setiap hari, dengan cara ini saya sudah dengan tepat merawat tubuh saya. Namun untuk melatih tubuh saya dan menjadikannya budak, saya akan bertindak sedemikian rupa seolah-olah saya memukul tubuh saya dan memaksa tubuh saya untuk mengikuti instruksi saya. Saya akan melatih diri saya sedemikian rupa sampai-sampai jika saya memutuskan untuk tidak tidur hari ini, saya dapat saja melakukannya. Ketika Tuhan berada di Taman Getsemani, Ia membawa ketiga murid-Nya dan berkata kepada mereka, "Berjaga-jagalah dengan Aku." Ketika Ia mendapatkan mereka sedang tertidur sewaktu Ia kembali, Ia berkata kepada Petrus, "Tidakkah kamu sanggup berjaga-jaga satu jam dengan Aku?" (Mat. 26:38, 40). Tuhan menginginkan mereka berjaga-jaga dengan-Nya, tetapi mereka jatuh tertidur. Mereka tidak dapat berjaga-jaga dengan Tuhan kita bahkan hanya untuk satu jam. Apakah tidur suatu hal yang salah? Tidak, tidur itu sah dan perlu. Namun jika Tuhan menuntut kita untuk berjaga-jaga dengan-Nya dan kita tidak dapat menang atas keperluan yang "sah" ini, kita akan menghambat pekerjaan-Nya. Jika ada di antara kita yang tidak dapat melepaskan tuntutan kita untuk tidur, kita tidak dapat melayani Allah. Ini bukan berarti bahwa seorang pelayan Allah harus melalui malam demi malam tanpa tidur. Hanya malaikat yang hidup demikian. Kita bukan malaikat, dan kita perlu memiliki tidur malam yang baik setiap hari. Namun demi belajar mengikuti Tuhan dan melatih tubuh kita, kita seharusnya belajar mengabaikan tidur kita untuk satu atau dua malam jika diperlukan. Inilah maknanya menjadikan tubuh kita budak.

Apakah maknanya berlari dalam perlombaan? Apakah seseorang berlari terus setiap hari dan setiap menit? Berjalan itu hal yang biasa tetapi berlari adalah sesuatu yang luar biasa. Berjalan adalah tuntutan sehari-hari. Normalnya, kita berjalan selangkah demi selangkah. Namun berlari bukanlah hal yang dilakukan setiap hari. Dalam jalur perlombaan kita harus mempercepat langkah kita. Tubuh dengan kapasitas normal dapat menunjang langkah kita, tetapi untuk berlari tubuh diminta memberikan usaha ekstra. Tubuh dengan kapasitas normal ini harus direntangkan untuk dapat memenuhi keperluan ekstra ini. Dalam waktu-waktu seperti ini tubuh perlu patuh. Dalam berlari, tubuh diminta menambahkan tenaga ekstra pada fungsi normalnya. Dalam keadaan normal, tubuh kita tidak membutuhkan banyak usaha sewaktu kita berjalan; ketika harus berlari barulah tubuh membutuhkan banyak usaha. Dengan prinsip yang sama, kita mungkin hanya perlu tidur delapan jam dalam keadaan biasa. Namun jika suatu hari pekerjaan menuntut kita bekerja empat jam lebih lama, kita seharusnya puas dengan hanya tidur empat atau lima jam sehari. Inilah maknanya berlari dalam perlombaan. Berlari dalam perlombaan berarti memenuhi tuntutan-tuntutan ekstra. Ketika ketiga murid itu gagal berjaga-jaga dengan Tuhan, Ia menunjukkan masalahnya kepada mereka, "Roh memang penurut, tetapi daging lemah" (ay. 41). Apakah gunanya memiliki roh yang penurut jika daging lemah? Roh yang penurut dan daging yang mengantuk sama dengan roh yang tidak penurut dan daging yang mengantuk; keduanya sama-sama tidak berarti. Tidaklah cukup roh itu penurut; tubuh harus penurut juga. Jika tubuh kita tidak penurut dan bersikeras untuk tidur, maka ia bukan lagi budak. Jika tubuh bukan lagi budak, percuma saja mengatakan bahwa roh penurut. Ini bukan berarti bahwa tubuh adalah sumber dosa atau bahwa ia adalah halangan. Maksudnya adalah bahwa demi melayani Tuhan, kadangkala diperlukan tuntutan-tuntutan ekstra dan tubuh seharusnya terjaga untuk memenuhi tuntutan-tuntutan ini. Inilah maknanya menjadikan tubuh kita budak. Kita harus melatih tubuh kita bukan hanya untuk memenuhi tuntutan-tuntutan yang biasa tetapi agar dapat memiliki persediaan ekstra ketika ada tuntutan-tuntutan ekstra.

Ketika Tuhan berada di bumi, Nikodemus datang kepada-Nya di malam hari. Tuhan tetap saja menerimanya tanpa menghiraukan keletihan. Beberapa kali Ia menggunakan sepanjang malam untuk berdoa. Semua aktivitas ini menganggu tidur-Nya. Kita tidak menyarankan anak-anak Allah mempunyai kebiasaan menghabiskan sepanjang malam untuk berdoa. Namun jika seseorang ingin melayani Tuhan, betapa memalukannya jika ia tidak pernah menggunakan semalaman-malaman berdoa. Terus-menerus menggunakan waktu malam untuk berdoa itu salah. Jika Anda melakukan hal ini, Anda sedang menuju ke arah yang salah. Namun jika selama sepuluh atau dua puluh tahun melayani Allah belum pernah sekalipun berdoa sepanjang malam, ini baru aneh. Kita tidak menganjurkan jalan yang ekstrim. Kita tidak bermaksud supaya orang-orang berdoa sepanjang malam sepanjang waktu. Mempunyai kebiasaan berdoa sepanjang malam bisa merusak tubuh bahkan pikiran kita. Kita tidak setuju dengan mereka yang tidak berdoa selama siang hari tetapi malahan melewatkan waktu tidur mereka di malam hari untuk berdoa; ini tidak normal. Namun jika seorang pekerja Tuhan tidak pernah melewatkan waktu tidurnya untuk berdoa, pasti ada sesuatu yang salah dengan dirinya juga.

Berlari dalam perlombaan bukanlah sesuatu yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, tetapi latihan adalah hal yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus berlatih sampai kepada titik tubuh kita tidak lagi memberontak terhadap kita tetapi tunduk pada kita. Jika belum pernah berlatih dengan cara ini dan tubuh kita tidak pernah dikendalikan, tidur akan menjadi prioritas pertama kita ketika kita berketetapan untuk bekerja. Tidur kita akan menjadi majikan kita. Jika orang lain tidak menjamah tidur kita, kita dapat melakukan apapun. Namun begitu orang lain menjamah tidur kita, kita tidak dapat berbuat apapun. Ini adalah suatu perintah, yaitu seorang pelayan Allah harus melatih dirinya sendiri untuk menjadikannya budak. Menjadikan tubuhnya budak berarti ketika Tuhan memiliki keperluan dan tuntutan dan ketika lingkungan mengharapkan demikian, kita dapat mengesampingkan tuntutan-tuntutan tubuh kita untuk sementara. Kita dapat mengarahkan tubuh kita untuk menyediakan tenaga ekstra, mengabaikan keperluannya, dan berada di bawah pengendalian dan peraturan kita. Jika kita tidak dapat melakukan ini, kita terlalu mengasihi diri sendiri dan tidak berguna dalam pekerjaan Tuhan.

Prinsip yang sama berlaku juga dalam hal makan. Seringkali Tuhan pergi tanpa makanan demi pekerjaan-Nya. Ia tidak menjadikan hal makan sebagai prioritas-Nya. Namun ini bukan berarti Tuhan kita tidak pernah makan. Dalam keadaan biasa Ia dapat makan dengan teratur. Namun ketika ada keperluan di hadapan-Nya, Ia dapat mengabaikan hal makan. Inilah menundukkan tubuh. Kita tidak tergantung pada makanan sehingga pekerjaan kita harus berhenti jika kita lapar. Sayangnya, dalam pekerjaan Tuhan, banyak orang yang tidak dapat berfungsi tanpa makanan. Tidak diragukan lagi kita memang memerlukan makanan dan kita harus memperhatikan kebutuhan tubuh fisik kita, tetapi tubuh ini harus dilatih untuk pergi tanpa makanan ketika ada keadaan-keadaan istimewa yang mengharapkan demikian. Ingatlah peristiwa ketika Tuhan duduk di tengah hari di samping sumur Yakub untuk beristirahat sementara para murid pergi untuk membeli makanan ke kota. Perempuan Samaria datang menimba air dan Tuhan meminta minum kepada-Nya. Pada saat yang bersamaan Ia membukakan masalah air hidup kepadanya. Akhirnya perempuan itu tidak memberikan minum kepada-Nya. Waktu itu siang bolong, saatnya untuk makan dan minum, tetapi Tuhan dengan sabar menerangkan firman hayat dan makna air kehidupan kepada perempuan Samaria yang kehausan dan kelaparan rohani (Yoh. 4:5-26). Ini memperlihatkan kepada kita bagaimana seseorang dapat melaksanakan pekerjaan Allah tanpa gangguan makanan. Jika kita tiba di tempat tertentu dan tidak dapat melakukan apapun sebelum kita mendapatkan makanan, tubuh kita tidak melayani kita dengan seharusnya. Kita seharusnya tidak menjadi seorang yang ekstrim, dan kita seharusnya tidak mengabaikan makanan kita terus-menerus. Namun ketika ada tuntutan-tuntutan istimewa, seharusnya kita mampu meninggalkan makanan kita. Roti bukanlah makanan yang terpenting. Kita seharusnya menjadi majikan atas tubuh kita. Ketika kita perlu pergi tanpa makanan, tubuh kita seharusnya mematuhi kita. Kita tidak boleh dikuasai oleh jeritan desakan untuk makanan. Inilah maknanya menjadikan tubuh kita budak.

Dalam Markus 3 Tuhan dikelilingi oleh orang banyak sehingga Ia tidak memiliki waktu untuk makan. Keluarganya bereaksi dengan mencoba menarik-Nya dari keramaian, karena mereka menganggap-Nya lupa diri (ay. 21-22). Namun Tuhan meneruskan pekerjaan-Nya. Ia tidak bagi diri-Nya sendiri melainkan bagi orang banyak yang memiliki kebutuhan yang mendesak. Ia mampu meninggalkan makanan dan minuman-Nya demi pekerjaan. Jika kita tidak pernah meninggalkan kebutuhan-kebutuhan kita sendiri pada saat pekerjaan menuntut perhatian kita dengan segera, kita akan menghasilkan sedikit pekerjaan yang efektif. Pada saat-saat yang kritis kita harus mendorong diri kita sedikit ke arah ekstrim; kita harus mengesampingkan diri kita sendiri. Ketika ada keperluan yang timbul, kita seharusnya mampu mengekang tubuh kita dan mengabaikan tuntutan atas makanan dan minuman. Kita seharusnya tidak menganggap kebutuhan-kebutuhan ini sebagai yang utama.

Alkitab dengan lugas mengatakan bahwa orang Kristen harus berpuasa bila diperlukan. Makna berpuasa adalah untuk sementara waktu mengesampingkan tuntutan tubuh yang sah. Kadang-kadang sebuah kebutuhan yang istimewa membutuhkan doa yang serius. Pada waktu-waktu ini kita seharusnya berpuasa di hadapan Tuhan. Kita tidak menganjurkan berpuasa selama tiga atau lima kali dalam seminggu. Namun jika seseorang telah menjadi Kristen selama delapan atau sepuluh tahun dan belum pernah berpuasa sekalipun, berarti ada sesuatu yang tidak tepat. Tuhan berbicara tentang hal berpuasa dalam pengajaran-Nya di gunung. Jika kita tidak pernah berpuasa, kita kekurangan sesuatu dalam pengalaman kita. Tujuan berpuasa adalah menjadikan tubuh kita budak.

Tuntutan tubuh yang lain adalah kenyamanan. Kita tidak bisa menyalahkan seorang pekerja yang menikmati sejumlah kenyamanan tertentu dalam kehidupannya. Namun ketika pekerjaannya meminta pengorbanannya, tubuhnya seharusnya tidak mengabaikan panggilan pekerjaan bila kenyamanan yang biasa ia terima tidak tersedia. Jika tubuh kita tidak mematuhi panggilan kita, kita tidak dapat bekerja bagi Tuhan. Beberapa saudara saudari sering berkeliling, bukan karena perintah Tuhan tetapi karena mereka tidak gembira dan tidak nyaman dengan tempat mereka tinggal. Kita dapat mengatakan bahwa kenyamanan telah menjadi cara hidup mereka; kenyamanan membuat mereka terbuai. Orang-orang demikian tidak dapat banyak berguna dalam tangan Tuhan. Pelayan-pelayan Allah seharusnya belajar berterima kasih kepada-Nya untuk kondisi-kondisi yang mudah ketika pendisiplinan Roh itu mengatur demikian dan ketika Tuhan menyediakan bagi mereka. Namun ketika penyediaan Tuhan berbalik arah, dan kemudahan dan kenyamanan mereka dilucuti, mereka harus menjadi majikan atas tubuh mereka dan melanjutkan pekerjaan mereka. Kita tidak hidup dengan ekstrim. Dalam keadaan biasa, kita mungkin menikmati kondisi yang lebih baik. Namun ketika keperluan Tuhan memanggil, kita harus mampu menanggung apa yang normalnya tidak dapat ditanggung orang lain. Beberapa saudara saudari hanya dapat menjalani hidup yang nyaman. Begitu standar hidup mereka diturunkan sedikit saja, tamat sudah riwayatnya. Orang-orang seperti ini berguna sedikit saja bagi Tuhan. Sewaktu berlari dalam perlombaan, kita harus menjadikan tubuh kita budak. Kita harus mampu hidup dalam keadaan apapun. Menjadikan tubuh kita budak berarti kita tidak akan terpengaruh oleh lingkungan kita ketika suatu pekerjaan membutuhkan perhatian kita. Berarti kita dapat melaksanakan pekerjaan kita bahkan walaupun kita harus hidup di bawah standar. Jika kita tidak mampu melakukan ini, kita akan mundur begitu kondisi kita jatuh di bawah standar kebiasaan kita. Ini bukan berarti bahwa mereka yang memiliki sedikit akan bertahan lebih baik dalam lingkungan yang lebih keras. Banyak saudara yang lebih miskin secara fisik jatuh begitu mereka diberikan porsi yang lebih sedikit daripada yang biasa mereka terima. Mereka terlalu mengasihi dirinya, dan mereka belum pernah menjadikan tubuhnya budak.

Contoh lain adalah pakaian. Sementara kita harus makan teratur dan berpakaian, kita seharusnya tidak memberikan perhatian yang berlebihan terhadap masalah berpakaian. Yohanes Pembaptis adalah orang yang hanya sedikit memperhatikan penampilannya. Tuhan Yesus berkata tentang dia bahwa jika seseorang ingin melihat orang yang berpakaian halus tidak perlu melihat dia; carilah di istana. Sangat disayangkan, orang-orang Kristen telah menetapkan standar yang terlalu tinggi dalam hal berpakaian. Mereka tidak dapat melanjutkan hidupnya tanpa mempertahankan standar demikian. Kita berpegangan pada pokoknya bahwa berpakaian compang-camping tidak memuliakan Tuhan; pakaian seperti ini bukan kemuliaan bagi Tuhan. Jika memungkinkan, kita seharusnya berpakaian bersih, rapi, dan sesuai. Bagaimanapun juga, bila timbul keperluan, kita seharusnya menjadi seperti Paulus yang meskipun lapar, haus, dan telanjang, terus melayani Tuhan (1 Kor. 4:11). Jika pelayan Allah hendak melatih diri mereka dengan teratur, maka tubuh mereka akan berada di bawah pengendaliannya dan pekerjaan mereka dalam Tuhan tidak akan terpengaruh oleh masalah seperti hal berpakaian.

Contoh lainnya adalah penyakit. Sewaktu penyakit atau kelemahan datang, tubuh menuntut lebih banyak daripada biasanya. Banyak pekerja Tuhan sangat mengasihi diri sendiri sehingga mereka mengecualikan diri mereka dari pekerjaan begitu mereka baru sedikit saja sakit. Bagaimana Paulus bisa menulis surat-surat kirimannya bila ia selalu berhenti begitu matanya pedih? Setidak-tidaknya ia pasti tidak akan menulis kitab Galatia, karena kitab itu ditulis pada waktu matanya sangat lemah. Inilah sebabnya ia berkta, "Lihatlah, bagaimana besar-besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri" (Gal. 6:11). Jika Paulus harus menunggu matanya membaik agar ia dapat membuat tendanya, ia tidak akan pernah membuat satu tendapun karena membuat tenda memerlukan penglihatan yang baik. Namun ia tetap bekerja selama siang hari dan membuat tenda di malam hari. Ia tidak berhenti karena matanya. Jika Timotius harus menunggu sampai lambungnya membaik agar ia dapat melanjutkan pekerjaannya, maka tidak ada seorangpun yang akan melanjutkan ministri Paulus karena lambung Timotius tidak akan pernah sembuh. Di segi lain, kita perlu merawat tubuh kita selayaknya. Namun di segi lain, ketika pekerjaan menuntut kita berkorban sedikit, kita tidak boleh memanjakan diri sendiri. Ketika pekerjaan kita memanggil, kita harus mengesampingkan tuntutan penyakit kita dan memperhatikan tuntutan pekerjaan. Memang benar penyakit membutuhkan istirahat tetapi ketika pekerjaan membutuhkan pengorbanan, bahkan tubuh yang sakitpun harus memperhatikan panggilan ini. Jika kita tidak dapat mengarahkan tubuh kita, dengan sarana apa lagi kita dapat terlibat dalam pekerjaan Tuhan? Jika seorang pelayan Tuhan sakit berat dan Tuhan tidak menekankan beban yang khusus padanya, memang benar bahwa ia harus memperhatikan penyakitnya; gereja seharusnya juga tahu apa yang harus dilakukan padanya. Namun jika sebuah keperluan timbul dalam pekerjaan dan perintah Tuhan jelas, ia tidak dapat dibatasi oleh penyakitnya. Kadangkala, tidak ada waktu untuk sakit, untuk sementara kita harus mengesampingkan perawatan penyakit kita. Inilah pelajaran yang harus kita semua pelajari.

Prinsip ini berlaku bukan hanya terhadap penyakit tapi juga pada rasa sakit pada umumnya. Kadang-kadang tubuh kita merasa begitu tersiksa sehingga kita tidak dapat lagi menahan rasa sakitnya. Dalam keadaan biasa, kita seharusnya menyediakan istirahat dan terapi yang layak untuk tubuh dan memperhatikan keperluannya. Namun ketika pekerjaan Tuhan menuntut dan memerintahkan kita untuk melakukan sesuatu, kita harus melakukannya, bahkan sekalipun tubuh kita masih terasa sakit. Tubuh kita seharusnya mematuhi kita. Kadang-kadang kita harus menengadahkan mata kita kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, tubuhku harus mematuhiku sekali lagi. Aku tidak dapat memuaskan keperluannya sekali ini lagi!"

Prinsip ini harus sama berlakunya pada kebutuhan seksual. Kita tidak wajib memenuhi keperluan kita akan sex. Kita seharusnya belajar memprioritaskan pelayanan-Nya di atas segala sesuatu.

Marilah kita mempertimbangkan riwayat Paulus. Dalam 1 Korintus 4:11-13 ia berkata, "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini." Perhatikanlah perkataan dalam ayat 11: "sampai pada saat ini". Ini berarti bahwa kondisi-kondisi seperti ini masih ada sewaktu ia berbicara. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa tubuh Paulus berada di bawah pengendaliannya sepanjang waktu. Tidak ada yang diizinkannya menghambat pelayanannya kepada Tuhan. Dalam pasal enam dari surat kiriman yang sama, dari ayat 12 sampai selesai, ia menunjuk dua perkara - perkara makan dan perkara sex - dan ia mengatakan dengan jelas bahwa kita bukan pelayan tubuh. Entah dalam perkara makan atau sex, kita tidak perlu menjadi budak tubuh kita. Dalam pasal tujuh ia dengan jelas memperlihatkan bahwa seseorang tidak perlu menjadi budak tubuhnya dalam perkara sex, dan dalam pasal delapan ia memperlihatkan kepada kita bahwa seseorang tidak perlu menjadi budak dalam perkara makan. Lalu apakah maknanya melatih tubuh kita dan menjadikannya budak? Berarti kita melatih tubuh kita dan "memukulnya" begitu rupa sampai ia sepenuhnya berada di bawah pengendalian kita. Saudara saudari, dalam bekerja bagi Tuhan dan dalam pelayanan kita bagi-Nya, kita harus sering membatasi tuntutan-tuntutan tubuh. Ketika sebuah keperluan timbul dalam pekerjaan dan tubuh terpanggil untuk menyangkal hasratnya, apakah kita dapat cukup kuat untuk menangkalnya? Memang semua hasrat manusia diciptakan oleh Allah dan diberikan kepada kita oleh-Nya. Tidak ada yang salah dengan tuntutan-tuntutan sah dari tubuh. Namun apakah ada di antara hal-hal ini yang mencegah kita melayani Tuhan?

EMPAT

Saudara saudari, jangan sekalipun berpikir bahwa Anda dapat melonggarkan tali kekang pada tuntutan-tuntutan tubuh. Anda harus menyadari bahwa kecerobohan dan kebijakan adalah dua hal yang sepenuhnya berbeda. Anda harus melatih kebijakan dalam memperhatikan tubuh Anda, tetapi dalam waktu yang bersamaan, Anda harus sepenuhnya mengendalikan tubuh Anda. Melatih tubuh bukan berarti Anda kelaparan sepanjang waktu. Maksudnya adalah Anda dapat maju terus tanpa makanan walaupun perut Anda kosong. Pada waktu yang bersamaan, Anda masih harus memperhatikan tubuh Anda. Namun jika Anda terlibat dalam pekerjaan Allah dan tidak fleksibel dalam makanan Anda, Anda tidak akan mampu maju terus begitu makanan yang tersedia jatuh di bawah standar kebiasaan Anda. Kita bukan untuk pertapaan dan kita tidak setuju bahwa tubuh adalah sumber dosa. Kita mengenal bahwa Allah adalah Dia yang telah menciptakan kita dengan kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Kita sudah setuju bahwa tubuh adalah bait Roh Kudus. Tetapi kita tidak wajib mengikuti segala keperluan tubuh. Ini bukan berarti kita tidak usah ada pakaian, makanan, dan tidur sepanjang waktu. Jika memungkinkan, kita seharusnya berpakaian dan makan selayaknya dan beristirahat secukupnya. Makanan kita dapat menjadi hasil melatih tubuh kita atau bisa menjadi hasil tidak melatih tubuh; kedua hal ini sepenuhnya berbeda. Masalahnya hari ini adalah banyak saudara saudari sangat longgar dengan tubuh mereka. Jika kita tidak dapat menaruh tubuh kita di bawah kendali yang ketat, begitu kita menghadapi ujian dalam pekerjaan kita, kita akan menggerutu, mengeluh, atau memperhatikan diri. Kita harus melatih ketekunan di hadapan Tuhan. Kita seharusnya berkata, "Tuhan, kesulitan-kesulitanku tidak pernah bisa menyamai kesulitan-kesulitan yang Engkau hadapi ketika Engkau berjalan di muka bumi." Tuhan merendahkan diri-Nya dari tempat yang teragung dan turun ke tempat yang terendah. Hari ini kita belum merendahkan diri kita dari tempat teragung ke tempat terendah. Kita seharusnya berkata, "Tuhan, kami tidak akan pernah dapat mencapai apa yang Engkau lakukan." Kita harus belajar menerima semua pembatasan yang diterapkan atas tubuh kita.

Beberapa orang membiarkan tubuh mereka tak terlatih untuk waktu yang lama. Mereka perlu menggunakan waktu yang lebih lama untuk mendapatkan pelajaran yang tepat. Kita berharap bahwa mereka dapat berguna dalam pekerjaan dalam kurun waktu singkat. Namun jika mereka menanggulangi masalah mereka dan tidak menang atasnya, mereka tidak dapat berpartisipasi dalam pekerjaan Allah. Mereka yang belum pernah melatih tubuhnya atau menjadikannya budak akan jatuh terpental begitu mereka diletakkan dalam perlombaan. Kita harus ingat bahwa pekerjaan Injil adalah seperti sebuah perlombaan. Jika kita belum pernah melatih diri dan tubuh kita belum pernah berada dalam kendali kita, kita akan gagal dan tidak mampu berlari ketika Allah menaruh tuntutan-tuntutan ekstra atas kita. Berlari adalah tuntutan yang luar biasa yang dikenakan atas tubuh seseorang. Kita tidak boleh bersikap longgar terhadap tubuh kita sendiri. Semua pelayan Tuhan yang besar berada di bawah peraturan-Nya yang ketat; mereka semua melatih kendali yang ketat atas tubuh mereka sendiri. Jika kita tidak memerintah atas tubuh kita, kita akan gagal begitu kita ditantang oleh keperluan-keperluan tambahan. Jika kita tidak dapat bekerja di bawah tuntutan-tuntutan yang luar biasa, bagaimana kita bisa berguna sama sekali? Kita seharusnya tidak menjadi longgar. Kita seharusnya tidak mengizinkan tubuh kita santai. Kita harus dengan erat memegang tali kekang dan meletakkan tubuh kita di dalam kendali yang ketat. Kita harus mampu melepaskan tidur kita, melepaskan makanan kita, dan melepaskan kenyamanan kita dan memaksa tubuh kita menjadi budak. Hari ini kita bekerja dengan tubuh kita dan bahkan ketika tubuh kita sakit atau pedih, ia masih harus mematuhi kita.

Paulus berkata, "Lihatlah, bagaimana besar-besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri" (Gal. 6:11). Ia sedang melakukan lebih dari apa yang diizinkan kapasitasnya. Kita dapat merasakan perasaan saudara kita di sini; ia sedang memaksakan dirinya sendiri untuk melakukan apa yang tidak dapat dilakukannya. Selama berabad-abad, inilah caranya Roh itu diekspresikan. Jika seorang pelayan Allah dalam keadaan biasa sehat-sehat saja dan tidak mengalami kesukaran apapun dalam lingkungannya, tidur dengan cukup dan makan teratur, namun malahan menemukan tubuhnya tidak mau bekerja sama ketika muncul keperluan-keperluan, ia bukanlah seorang pelayan Tuhan. Paulus berkata, "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." Dengan kata lain, ia takut bahwa orang lain akan menerima Injil sementara ia malah kehilangan upah dan pujian Tuhan: "Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba-Ku." Ingatlah bahwa seseorang yang mengasihi dirinya sendiri tidak dapat melayani Allah. Mereka yang longgar dalam kehidupan mereka dan tidak dapat mendisiplinkan diri mereka dengan ketat tidak dapat melayani Allah. Jika kita ingin belajar melayani Tuhan, kita harus melatih diri kita sendiri, mengendalikan diri kita sendiri, dan memerintah atas diri kita sendiri setiap hari. Jika kasih kita terhadap Tuhan cukup kuat, kita tidak akan terbawa oleh tuntutan tubuh kita. Jika roh kita cukup kuat, kita tidak akan mengizinkan daging kita tetap dalam kelemahan. Ketika hayat kebangkitan dalam kita berkembang biak, ia akan memberikan hayat kepada tubuh fana kita. Kita harus berusaha sampai tubuh kita mematuhi kita dan hanya tunduk kepada kita saja, sampai ia tidak mengecewakan kita lagi. Ketika hal ini terjadi, kita akan mampu melayani Tuhan dengan baik.