← Daftar isi Stabil Tidak Subyektif terhadap Uang Beberapa Perkara Lain · bab 3/10

MEMILIKI PIKIRAN UNTUK MENDERITA SATU

Sebagai tambahan dari karakter yang sudah disebutkan sebelumnya, setiap pekerja Kristen seharusnya memiliki pikiran untuk menderita (1Ptr. 4:1). Ini sangat penting. Sebelum kita mempertimbangkan pokok pembicaraan ini dari segi positif, marilah kita melihat konsep umum orang Kristen mengenai penderitaan.

Pengajaran kitab suci sangat jelas: Allah tidak mempunyai maksud supaya umat-Nya menderita. Ada sebuah filosofi tertentu yang mengajarkan penderitaan fisik sebagai sarana mengesampingkan semua kenikmatan tubuh. Mereka yang menganut filosofi ini menetapkan bahwa semua bentuk kesenangan adalah salah. Sebagai pekerja Tuhan dan yang mewakili Dia, kita harus jelas bahwa filosofi ini sama sekali tidak boleh ada dalam pikiran seorang Kristen. Firman Allah sendiri menyatakan Allah tidak mempunyai maksud supaya anak-anak-Nya menderita. Alkitab mengatakan bahwa Allah tidak menahan apa yang baik untuk kita. Mazmur 23:1 mengatakan, "Yehova adalah Gembalaku; Aku tidak akan kekurangan apapun" (TL). Kata-kata tidak akan kekurangan apapun bukan berarti kita tidak memiliki keperluan lainnya. Malahan, ini berarti kita tidak perlu meminta segala sesuatu lagi karena Tuhan adalah Gembala kita. Mazmur 23 memberitahukan bahwa kita tidak akan kekurangan apapun selama kita memiliki Tuhan sebagai Gembala kita. Dengan kata lain, Allah tidak bermaksud agar kita kekurangan sesuatu pun. Maksud-Nya adalah supaya kita dipenuhi. Ia tidak menahan setiap hal yang baik bagi kita. Seluruh Alkitab melukiskan kasih sayang dan perhatian Tuhan. Ia mengawasi milik-Nya dengan setia, melegakan beban dan kepedihan, dan menarik garis perbedaan yang jelas antara umat-Nya dengan bangsa-bangsa. Tanah Gosyen selalu berbeda dengan bagian lain tanah Mesir; berkat Allah selalu ada di sana. Kita tidak boleh memperkenalkan pengajaran pertapaan ke dalam kekristenan. Begitu kita memperkenalkan elemen-elemen non-Kristen ke dalam kekristenan, kita akan mencampuradukkan hal lainnya. Kita harus memperhatikan hal ini.

Selain ini, kita juga harus menyadari bahwa Allah tidak membebaskan anak-anak-Nya dari ujian atau penghukuman; Allah memang memberikan anak-anak-Nya ujian dan penghukuman. Namun kita harus membuat perbedaan yang jelas antara hal ini dengan bentuk-bentuk pertapaan. Dalam keadaan biasa, Allah selalu memberkati, memperhatikan, mendukung, dan menyediakan keperluan anak-anak-Nya. Namun apabila diperlukan bagi-Nya untuk menghukum dan menguji anak-anak-Nya, Ia tidak akan ragu melakukannya. Ini bukan berarti Ia menguji mereka setiap hari. Ia menghukum anak-anak-Nya hanya apabila diperlukan; Ia tidak melakukannya setiap hari dan setiap menit. Allah tidak mengirimkan ujian dan penghukuman pada anak-anak-Nya terus-menerus. Kadang-kadang Ia menggunakan metode-metode tertentu, tetapi Ia tidak berdiam sepanjang waktu. Sebaliknya, dalam keadaan biasa, Ia selalu memperhatikan kita dan menyediakan kebutuhan kita. Tentunya, ketika kita keras kepala, Ia akan mengizinkan ujian-ujian dan penghukuman menimpa kita. Namun di bawah penyediaan-Nya, Ia melaksanakan apa yang biasanya Ia lakukan. Ia tidak ingin melihat kita menderita. Kita harus jelas terhadap hal ini. Kita dapat menikmati semua penyediaan yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Apa yang kemudian diberitahukan kitab suci tentang penderitaan? Dalam Alkitab, penderitaan mengacu pada pilihan yang sengaja dibuat seseorang di hadapan Allah. Tuhan telah mengatur agar hari-hari kita dipenuhi dengan karunia berkat-Nya, tetapi untuk melayani Dia dan menjadi seorang pelayan-Nya, kita malahan memilih jalan penderitaan. Maka, jalan penderitaan adalah sebuah pilihan. Tiga teman Daud yang perkasa dapat hidup dengan tentram di sisi Daud, tetapi ketika mereka mendengar betapa Daud rindu minum dari sumur Betlehem, mereka mempertaruhkan nyawanya dan menerobos pasukan Filistin untuk menimba airnya (2 Sam. 23:14-17). Penderitaan adalah perkara pilihan, bukan perkara penetapan. Kita memilih jalan untuk menderita. Kita menderita dengan rela demi melayani Dia. Menurut rencana Allah, kita dapat menghindari banyak penderitaan. Namun demi melayani Allah, kita malah dengan gembira memilih jalan yang berbeda dari kebanyakan orang. Inilah yang dimaksudkan dengan memiliki pikiran untuk menderita. Memiliki pikiran untuk menderita adalah keperluan dasar dalam karakter seorang pelayan Allah. Tanpa pikiran sedemikian, pekerjaan kita akan menghasilkan sedikit saja, dan kualitas pekerjaan yang kita lakukan akan sangat dangkal. Jika seorang pekerja Tuhan tidak memiliki pikiran untuk menderita, ia tidak dapat bekerja sama sekali di pandangan Allah. Marilah kita membicarakan beberapa hal yang berhubungan dengan pokok pembicaraan ini.

DUA

Kita harus menyadari bahwa menderita dan memiliki pikiran untuk menderita adalah dua hal yang berbeda. Memiliki pikiran untuk menderita menyiratkan bahwa kita memiliki hasrat untuk dengan rela menderita demi Kristus; berarti kita memiliki hati dan kerelaan untuk bertekun dalam kesulitan demi-Nya. Inilah makna memiliki pikiran untuk menderita. Mereka yang memiliki pikiran untuk menderita mungkin tidak perlu menderita. Namun pikiran mereka siap untuk berhadapan dengan segala penderitaan. Sebagai contoh, Tuhan mungkin menaruh Anda dalam suatu lingkungan di mana Anda disediakan dengan makanan dan pakaian dan rumah yang indah. Ini bukan berarti bahwa Anda tidak dapat terus menikmati semua penyediaan yang telah Ia berikan bagimu. Jika Tuhan telah menyediakan demikian, Anda dapat menerimanya dari Tuhan. Namun dalam batin Anda masih memiliki pikiran untuk menderita bagi-Nya. Meskipun Anda mungkin tidak menderita secara fisik, Anda harus memiliki pikiran untuk menderita. Ini bukan menyangkut apakah Anda telah menghadapi sesuatu secara luaran, tetapi apakah Anda masih memiliki pikiran untuk menderita di dalam. Apakah Anda memiliki pikiran untuk menderita bahkan ketika lingkungan lancar dan mudah? Tuhan mungkin tidak mengatur supaya Anda menderita setiap hari, tetapi setiap pekerja Tuhan harus tidak boleh kekurangan pikiran untuk menderita, bahkan untuk sehari pun. Penderitaan mungkin tidak datang setiap hari, tetapi pikiran untuk menderita harus ada dalam kita setiap hari.

Masalahnya, banyak saudara saudari dan banyak keluarga pekerja Kristen juga, yang kelihatannya langsung menyusut ketika kesulitan mendatangi mereka. Mereka tidak memiliki pikiran untuk menderita. Ketika Tuhan menyediakan lingkungan yang lancar, suplai materi yang limpah, dan kesehatan yang baik untuk mereka, mereka dapat melayani dengan gembira. Namun begitu mereka mengalami sedikit kemunduran atau kesulitan, seluruh diri mereka jatuh. Ini berarti mereka tidak memiliki pikiran untuk menderita. Tanpa pikiran untuk menderita, Anda tidak dapat bertahan dalam ujian apapun.

Memiliki pikiran untuk menderita berarti kita dipersiapkan di hadapan Tuhan untuk menderita. Berarti kita siap menderita dan memilih jalan penderitaan. Jika Tuhan tidak mengizinkan penderitaan datang kepada kita, itu adalah urusan-Nya. Namun di pihak kita, kita selalu siap menderita. Ketika Tuhan mengubah arah-Nya dalam keadaan tertentu dan ujian-ujian-Nya datang menimpa kita, kita akan menerimanya begitu saja, tidak mengangapnya sebagai keanehan. Jika kita hanya menerima penyediaan Tuhan yang baik, tetapi tidak dapat menerima ujian apapun, malahan tiba-tiba berbalik dan mundur dari pekerjaan kita, berarti kita tidak memiliki pikiran untuk menderita. Kita harus ingat bahwa pekerjaan kita tidak menduduki dan menunggu kita. Kita harus bekerja ketika ada makanan dan kita harus bekerja ketika tidak ada makanan. Kita harus bekerja ketika kita berpakaian layak, dan kita harus bekerja ketika kita berpakaian tidak layak. Kita harus bekerja ketika merasa gembira, dan kita harus bekerja ketika kita merasa tidak nyaman. Kita harus bekerja entah kita dalam keadaan sehat atau sakit. Kitab suci memperlihatkan kepada kita bahwa kita seharusnya mempersenjatai diri kita dengan pikiran untuk menderita, yaitu pikiran kita seharusnya menjadi benteng, senjata, bagi kita. Inilah senjata yang tajam, sesuatu yang tak dapat dikuasai Iblis. Tanpa pikiran semacam ini, pekerjaan kita akan terhenti begitu kita mengalami kemunduran dan kesulitan.

Ada beberapa saudara saudari yang bertekun dalam penderitaan tetapi mereka tidak memiliki konsep tentang betapa mustikanya penderitaan. Mereka melaluinya tanpa rasa terima kasih kepada Tuhan. Mereka bahkan menggerutu dan mengeluh terus-menerus, berharap suatu hari mereka akan dibebaskan dari penderitaan mereka. Mereka berdoa, tetapi mereka tidak pernah memuji. Mereka tidak dengan sepenuh hati menerima pendisiplinan Roh itu yang datang ke atas mereka. Sebagai gantinya, mereka berdoa supaya hari-hari ini dapat berlalu dengan cepat. Sikap mereka menyingkapkan kurangnya pikiran untuk menderita. Saudara saudari, jika kita tidak memiliki pikiran untuk menderita selama waktu yang damai, kita hanya akan cocok menyusuri jalan yang rata. Begitu jalannya berlumpur, kita akan berhenti melayani Tuhan. Ini tidak akan membuat kita bertahan lama. Saya ulangi : Pikiran untuk menderita berbeda dengan penderitaan itu sendiri. Jika kita memilki pikiran untuk menderita, Tuhan mungkin tidak perlu memberikan kita penderitaan, tetapi ketika kita menghadapi penderitaan, secara batin kita akan siap sedia, dan kita tidak akan mundur. Mereka yang menderita tidak perlu memiliki pikiran untuk menderita. Banyak orang menderita, tetapi mereka tidak memiliki pikiran untuk menderita. Di antara mereka yang menderita, beberapa orang mungkin memiliki pikiran untuk menderita, sementara yang lainnya mungkin tidak memiliki pikiran untuk menderita. Ketika banyak saudara saudari menghadapi penderitaan dan kesulitan, mereka mengeluh dan berteriak minta tolong hari demi hari. Setiap hari mereka berdoa mohon pembebasan dari kesulitan mereka. Orang-orang seperti ini sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menderita. Saudara saudari yang sedang mengalami penderitaan fisik, kesulitan keuangan, atau perkara-perkara lainnya seharusnya menyadari bahwa Tuhan hanya menghitung pikiran untuk menderita sebagai yang mustika. Ia tidak memperhatikan apakah kita sedang menderita. Kita seharusnya tidak berpikir bahwa kita sedang menderita bagi Tuhan hanya karena kita ditaruh dalam situasi pengujian. Mungkin memang benar bahwa situasi kita tidak menyenangkan, tetapi berapa banyak pikiran menderita bagi Tuhan yang kita miliki? Berapa banyak yang merupakan pilihan? Atau kita hanya menggerutu, tidak rela, mengasihani diri sendiri, dan membenarkan diri sendiri? Kita mungkin saja menderita sakit hati dan kesulitan yang amat sangat tanpa memiliki tekad untuk menderita. Tekad untuk menderita lebih dalam daripada penderitaan itu sendiri. Mereka yang memiliki hati untuk menderita mungkin tidak mengalami penderitaan secara luaran sama sekali, dan mereka yang secara luaran menderita mungkin tidak memiliki pikiran untuk menderita. Saudara saudari, apakah Anda melihat perbedaannya? Ini sama halnya dengan mengatakan bahwa mereka yang miskin dalam harta materi belum tentu miskin pula dalam rohnya. Banyak orang yang miskin secara materi, tetapi mereka tidak miskin secara rohani. Seprinsip dengan itu, banyak saudara saudari memang menderita tetapi mereka sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menderita. Jika Tuhan hendak menawarkan mereka kesempatan untuk memilih, mereka pasti memilih untuk tidak menderita, bukan sekadar satu bulan atau sehari, bahkan mungkin untuk semenit saja dari waktu mereka. Mereka sama sekali tidak memiliki pikiran untuk menderita. Jika seseorang tidak memilki pikiran untuk menderita, ia tidak dapat melanjutkan pekerjaannya lagi. Ketika tuntutan yang luaran melebihi kemampuan yang di dalam, ia akan beringsut ke belakang. Ketika sebuah situasi menuntutnya melakukan usaha ekstra, ia akan tidak memiliki kekuatan untuk memenuhi keperluan ini. Ia tidak dapat menyerahkan kepunyaannya dan hanya dapat melakukan pekerjaan yang mudah di bawah lingkungan yang mudah saja. Ia memerlukan Tuhan menyingkirkan semua rintangan agar ia dapat bekerja dengan damai. Sungguh mengejutkan bahwa banyak pelayan Tuhan memiliki tuntutan sedemikian.

Kita harus jelas apa maknanya memiliki pikiran untuk menderita. Seorang saudara yang hidup dengan damai mungkin memiliki pikiran untuk menderita yang lebih besar daripada seorang saudara yang hidup dalam kekacauan. Yang pertama mungkin hanya memiliki pikiran untuk menderita; ia bersiap-sedia menderita bagi Tuhan. Yang kedua mungkin sedang menderita, tetapi ia tidak memiliki hati untuk menderita bagi Tuhan. Bagi orang macam pertama mungkin hanya ada sedikit tanda-tanda kesulitan dalam lingkungannya, sementara bagi orang yang lainnya mungkin sudah jelas-jelas berada dalam tekanan berat. Secara manusiawi, orang yang sedang berada dalam tekanan berat adalah orang yang sedang menderita. Namun dalam pandangan Tuhan, Ia lebih menghargai orang yang meskipun memiliki sedikit kesulitan tetapi memiliki pikiran untuk menderita. Kita seharusnya tidak berpikir bahwa hanya penderitaan yang membuat kita bersyarat untuk segala sesuatu. Kita harus ingat bahwa Allah memiliki tuntutan bagi kita, dan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan itu, perlulah kita memiliki pikiran untuk menderita. Kita harus mempersenjatai diri kita dengan pikiran ini. Tanpa pikiran sedemikian, tidaklah mungkin kita berjuang dalam peperangan rohani. Begitu kita menghadapi masalah-masalah, kita akan mengundurkan diri, dan begitu kita dipanggil untuk membayar harga, kita akan menyerah. Ketika Tuhan mengizinkan sedikit kesulitan mendatangi kita, kita mengundurkan diri. Kita tidak menaruh perhatian pada berapa banyak penderitaan yang dialami seseorang; kita menaruh perhatian pada berapa banyak pikiran untuk menderita yang dimiliki seseorang. Menurut konsep alamiah kita, kita akan menyimpulkan seorang saudara yang menderita banyak adalah orang yang lebih mengenal kasih karunia Allah. Namun sering kali kita tidak menerima bantuan apapun dari saudara yang menderita itu ketika kita bertemu dengannya. Kita mungkin segera menemukan bahwa ia kekurangan pikiran untuk menderita; ia hanya dengan terpaksa menderita. Jika ia diberikan pilihan maka ia akan segera lari tunggang langgang dari pengujiannya pada kesempatan pertama yang memungkinkan. Ia mungkin memang menderita, tetapi ia tidak membiarkan dirinya menderita, dan ia sedang melalui penderitaannya dengan terpaksa. Ia belum belajar pelajaran apapun dari Tuhan, dan ia dipenuhi dengan pemberontakan. Ini memperlihatkan kepada kita bahwa pikiran untuk menderita sangat berbeda dengan penderitaan itu sendiri. Apa yang Tuhan mustikakan adalah pikiran untuk menderita - dengan sadar siap menderita, bukan untuk pengalaman penderitaan itu sendiri. Kita tidak dapat menggantikan pikiran untuk menderita dengan penderitaan itu sendiri.

TIGA

Sekarang kita harus mempertimbangkan beberapa masalah yang umumnya ditemui dalam pekerjaanTuhan. Seandainya pekerjaan kita kelihatannya menghadapi kesulitan keuangan. Apa yang seharusnya kita lakukan ketika Allah menaruh kita melalui ujian kekurangan materi? Jika kekurangan dalam persediaan menghambat pekerjaan kita, Tuhan tentunya akan menaruh tanda tanya besar pada apa yang sedang kita lakukan. Ia mungkin akan bertanya, "Untuk apa engkau melayani Aku?" Saudara saudari, apakah kita akan bekerja dengan baik sangat tergantung pada apakah kita memiliki pikiran untuk menderita. Kita tidak dapat mundur hanya karena sedikit masalah mendatangi kita atau sedikit kesulitan mengganggu kita.Tidak ada seorang pelayan Kristus yang dapat menetapkan bahwa ia akan bekerja dalam cuaca cerah tetapi tinggal di rumah kalau hari hujan. Jika kita memiliki pikiran untuk menderita, kita akan menolak kesulitan-kesulitan; kita akan menolak kesukaran; kita akan menolak kelemahan fisik; dan kita bahkan menolak maut. Pikiran untuk menderita menantang setan dan mengumandangkan, "Aku akan pergi tidak peduli apa yang mungkin terjadi padaku!" Jika di dalam batin kita sudah takut segala sesuatu, Iblis akan mengancam kita dengan hal yang itu juga, dan kita akan dikalahkan. Jika kita berkata, "Aku tidak takut akan kelaparan!", Iblis tidak akan mampu melakukan apa-apa pada kita ketika ia mengirimkan cuaca yang dingin; ia harus melarikan diri sekali lagi. Tetapi jika kita berkata, "Aku takut akan penyakit", Iblis sudah tentu akan mengirimkan penyakit kepada kita, karena ia tahu bahwa penyakit akan membuat kita jatuh. Jika kita berkata, "Aku tidak takut penyakit!", Iblis tidak akan mampu berbuat apapun pada kita. Jika kita tidak memiliki pikiran untuk menderita, Iblis akan menggunakan apapun yang kita takuti untuk menyerang kita, dan kita akan dikalahkan. Setiap pelayan Allah harus siap sedia dan tidak takut akan apapun juga. Kita harus bertahan sewaktu hal ini atau itu terjadi pada kita. Kita harus bertahan ketika pencobaan datang ke atas keluarga kita atau penyakit datang ke atas tubuh kita. Kita harus bertahan bahkan bila kelaparan atau dingin mendatangi kita. Jika kita memiliki sikap ini di dalam kita, Iblis tidak akan mampu melakukan apapun pada kita karena kita akan memiliki pikiran untuk menderita. Tanpa pikiran untuk menderita demikian, kita akan jatuh begitu Iblis menyerang kita dengan segala hal yang kita takuti. Kita kan beringsut mundur dari pekerjaan Allah dan menjadi tidak berguna.

Saudara saudari, kita seharusnya mengumandangkan kepada Tuhan "Karena kasih-Mu dan kuat kuasa kasih karunia-Mu, aku berkomitmen untuk tetap melakukan apa yag sedang kulakukan ini dengan resiko apapun, entah itu surga atau neraka. Inilah posisiku, tidak peduli apakah aku sendiri berpikir untuk menyerah atau tidak!" Jika kita tidak memiliki pikiran sedemikian, Iblis akan mempergunakan kelemahan kita, dan riwayat kita akan tamat dan kita terbukti tidak berguna untuk apapun. Kita harus berdoa mohon belas kasihan untuk mengenal apakah pikiran untuk menderita itu. Pikiran untuk menderita adalah sebuah keputusan yang matang dalam diri seseorang untuk berada di sisi Tuhan, tidak peduli apa yang dijanjikan oleh masa depan dan tidak peduli pada lingkungan yang mungkin akan dihadapinya. Pikiran untuk menderita belum tentu mengarah pada penderitaan. Mungkin saja ia tidak akan menderita. Namun kesadaran batiniahnya selalu ada. Tanpa kesadaran dan ketetapan demikian, sedikit saja kesulitan akan menghantam seseorang sampai ia terjungkal. Namun jika kesadaran batiniahnya ada, ada atau tidak adanya masalah tidak begitu berarti. Apakah Anda memahami apa yang sedang saya katakan? Jalan melayani bagi seorang Kristen bukanlah jalan penderitaan melainkan memiliki pikiran untuk menderita. Anda dapat berterimakasih kepada Tuhan jika Ia menyediakan sandang dan pangan dan Anda juga dapat berterimakasih kepada-Nya jika Ia tidak menyediakan hal-hal ini. Hal-hal ini tidak begitu berarti bagi Anda - mereka boleh tersedia dengan limpah atau kekurangan. Ingatlah bahwa seorang Kristen tidak perlu mencari-cari sendiri penderitaan. Namun, ia seharusnya memiliki pikiran untuk menderita. Seorang Kristen adalah orang yang siap sedia menyelesaikan tugasnya tidak peduli apakah kesulitan menghadangnya di tengah jalan. Ia tidak mundur dalam menghadapi kesulitan. Jika pikirannya belum tersusun demikian, maka semua masalah lainnya juga tidak akan beres. Ambillah contoh contoh bila hendak bepergian. Jika secara fisik Anda sudah lemah, secara alamiah Anda perlu tempat tidur yang lebih nyaman daripada orang yang lebih kuat. tetapi jika Anda berkata, "Aku harus memiliki tempat tidur yang lebih nyaman karena aku tidak kuat", Anda akan menjadi rentan terhadap musuh pada titik ini; ia akan memberikan Anda tempat tidur yang tidak nyaman. Pikiran untuk menderita mengabaikan masalah tempat tidur dan meneruskan pekerjaannya. Jika Anda disediakan tempat tidur yang nyaman, bukanlah suatu kebajikan bila Anda memilih tidur di lantai. Jika Tuhan memberikan tempat tidur yang baik kepada Anda, terimalah, dan jika Ia memberikan tempat tidur yang buruk, terimalah juga. Anda harus meneruskan pekerjaan Anda tidak peduli betapa buruknya tempat tidur Anda. Anda tidak boleh mundur hanya karena tempat tidur. Pikiran yang tersusun demikianlah yang disebut Alkitab sebagai pikiran untuk menderita. Beberapa saudara memiliki lebih sedikit persediaan materi dalam hidup mereka. Namun ini bukan berarti mereka memiliki pikiran untuk menderita. Jangan bayangkan bahwa orang-orang Kristen yang hidup dalam lingkungan yang tidak menguntungkan akan memiliki, seperti yang seharusnya demikian, lebih banyak pikiran untuk menderita daripada mereka yang hidup dalam lingkungan yang lebih menguntungkan. Hanya mereka yang telah mempersembahkan diri mereka kepada Tuhan baru akan memiliki pikiran untuk menderita. Pikiran untuk menderita tidak dibatasi oleh apapun; ia tidak memiliki garis batas. Anda mungkin harus tidur di lantai yang keras jika Anda pergi ke satu tempat. Anda bahkan mungkin tidak mendapatkan lantai yang keras di tempat lain. Tempat tidur Anda mungkin hanya berupa jerami di atas tanah berlumpur. Apa yang akan Anda lakukan? Beberapa orang mungkin memaksakan diri untuk menerima tempat tidur seperti itu. Mereka tentunya menderita, tetapi ada batas bagi penderitaan mereka. Mereka dapat bertoleransi dengan lantai yang keras tapi tidak lebih dari itu. Mereka kelihatannya memberitahukan orang lain bahwa mereka telah cukup merendahkan dirinya dan tidak dapat lagi merendahkan dirinya. Inilah yang dimaksud memiliki pengalaman menderita tanpa memiliki pikiran untuk menderita. Beberapa saudara mungkin menjalani hidupnya dengan mudah dan nikmat, namun mereka dapat selalu menyesuaikan diri mereka dengan gembira untuk merendahkan standar hidup mereka. Mereka dapat tidur di lantai yang keras juga di jerami. Mereka tidak mengeluh, dan mereka gembira untuk menerima apapun yang terjadi di hadapannya. Inilah yang dimaksud memiliki pikiran untuk menderita. Allah sedang memanggil manusia untuk memiliki pikiran untuk menderita. Kita harus ingat bahwa ini bukan perkara menderita melainkan perkara pikiran untuk menderita. Untuk dapat melayani Tuhan, kita harus memiliki pikiran untuk menderita, kalau tidak, Allah tidak dapat menggunakan kita. Mereka yang tidak memiliki pikiran untuk menderita akan berjatuhan pada ujian yang teringan sekalipun. Mereka akan mengundurkan diri dari pekerjaan mereka begitu Iblis meletakkan sesuatu ke dalam jalan setapak mereka. Saudara saudari, apakah Anda melihat hal ini? Pikiran untuk menderita adalah suatu kemampuan untuk merendahkan standar hidup seseorang tanpa syarat.

Ini bukanlah perkara berapa banyak kita menderita, tetapi sampai sejauh mana kita dapat bertekun dalam penderitaan. Keperluan kita bukan penderitaan tetapi pikiran untuk menderita. Maksud Tuhan bukan menaruh kita terus dalam penderitaan-penderitaan melainkan menggarapkan pikiran sedemikian ke dalam kita. Tidak ada saudara atau saudari yang sedang belajar melayani Tuhan dapat menjadi kuat bila ia tidak memiliki pikiran untuk menderita. Jika kita tidak memiliki pikiran untuk menderita, kita akan menjadi yang terlemah di antara semua orang. Begitu kita menjamah kesulitan apapun, kita akan memberi kesempatan untuk mengasihani diri sendiri. Kita akan menangisi diri sendiri dan mengeluh, "Bagaimana aku bisa begini?" Pada suatu kesempatan, seorang saudari yang telah melayani Tuhan selama bertahun-tahun, datang kepada saudari lain dengan berurai air mata, dan saudari lain ini bertanya kepadanya, "Untuk siapa engkau berurai air mata seperti ini?" Banyak orang berurai air mata untuk diri mereka sendiri. Mereka menganggap diri mereka baik dan mustika, dan mereka menyesal atas kejatuhan mereka sendiri. Air mata mereka berjatuhan demi diri mereka sendiri. Orang-orang seperti ini adalah yang terlemah di antara semua orang; mereka berguguran begitu mereka menghadapi tantangan-tantangan.

Pertanyaan penting ketika ujian-ujian dan kepedihan datang adalah di manakah hati kita berada. Di satu segi, masalahnya adalah kepedihan kita. Di segi lain, masalahnya adalah pekerjaan Tuhan. Jika kita tidak memiliki pikiran untuk menderita, kita akan segera mengorbankan pekerjaan Tuhan. Kita akan terlalu sibuk menyesali diri sendiri dan mengasihi diri sendiri, dan tidak akan ada lagi tenaga untuk mengurusi pekerjaan Tuhan! Saudara saudari, kita harus belajar memiliki pikiran untuk menderita. Memang benar bahwa penderitaan kita akan berlalu bila kita mengabaikan pekerjaan kita, tetapi pekerjaan kita akan menderita kerugian yang besar. Jika pikiran untuk menderita tidak ada atau kurang kuat, Iblis dapat memaksa kita mengabaikan dan mengorbankan pekerjaan kita sewaktu-waktu. Kita harus ingat di hadapan Tuhan bahwa kita berada di sini untuk mengagungkan kemuliaan Allah. Allah dapat memerintahkan hidup atau mati bagi kita, tetapi di pihak kita, kita harus setia terhadap tanggung jawab kita. Kita tidak dapat mengabaikan pekerjaan kita. Kita harus bertahan sampai akhir. Kita tidak ingin melihat saudara saudari melalui penderitaan-penderitaan. Jika memungkinkan, bila mereka dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka secukupnya maka itu baik. Kita tidak meminta mereka mencari jalan sendiri untuk menderita. Kita tidak menekankan penderitaan ke atas orang lain. Harapan kita adalah agar Allah dapat mensuplai segala keperluan kita. Namun kita harus menyadari bahwa pikiran untuk menderita sangatlah diperlukan. Di satu segi, kita harus percaya bahwa Allah tidak menahan satu hal yang baik pun dari kita. Di segi yang lainnya, kita harus memiliki pikiran untuk menderita. Jika kita tidak demikian, kita akan terjatuh begitu kita menghadapi kesulitan atau kemunduran dalam hidup kita.

EMPAT

Sebuah pertanyaan yang biasanya timbul : Sampai sejauh mana kita seharusnya bersiap sedia untuk menderita? Standar Alkitab adalah, "Hendaklah engkau setia sampai mati" (Why. 2:10). Dengan kata lain, kita harus bersiap sedia untuk penderitaan apapun, bahkan penderitaan sampai mati. Tentunya kita bukan ingin menjadi seorang yang ekstrim. Namun pikiran untuk menderita tidak mengenal kompromi. Sekalipun ada kompromi, kita lebih baik membiarkan Tuhan yang berkompromi; kita lebih baik membiarkan gereja atau saudara-saudara yang lebih matang yang menyeimbangkan kita. Bagi diri kita sendiri, kita harus memberikan segalanya. Jika kita berkompromi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita dapat efektif dalam pekerjaan? Kita tidak akan memiliki jalan untuk maju. Jika kita menganggap hidup kita begitu mustika, dan menjaga diri sendiri dengan hati-hati sepanjang waktu, kita tidak akan merampungkan banyak dalam pekerjaan Allah. Kita semua harus setia sampai mati. Inilah jalan kita. Tuhan tidak akan mengorbankan hidup kita hanya karena kita telah berjanji untuk setia. Namun, Tuhan bertanggung jawab untuk merawat kita; kita tidak merawat diri kita sendiri. Urusan Tuhanlah untuk mengatur segala sesuatunya bagi kita. Di pihak kita, kita harus siap sedia untuk mengorbankan diri kita. Kita harus bersiap sedia untuk menghadapi setiap macam penderitaan. Saudara-saudari, jika Anda mengasihi hidup Anda, Anda tidak akan setia sampai mati. Mereka yang setia sampai mati tidak mengasihi hidup mereka sendiri. Inilah persyaratan dasar Tuhan. Pikiran kita untuk menderita seharusnya menjadi begitu kuatnya sehingga kita mampu berkata, "Tuhan, aku akan mati bagi-Mu! Aku tidak peduli lingkungan yang berada di sekitarku. Aku rela menyerahkan hdupku bagi-Mu!" Saudarasaudari, tanpa ketetapan sedemikian, kita akan berhenti begitu kita menghadapi kesulitan. Setiap pekerja Tuhan harus belajar tidak mengasihi dirinya sendiri. Mereka yang mengasihi diri sendiri menjadi terbatas dalam pekerjaannya. Ketika mereka sampai pada titik tertentu, mereka akan berhenti. Allah menginginkan orang-orang yang mutlak melayani-Nya. Ia menginginkan mereka yang rela menyisihkan hidup mereka untuk melyani-Nya. Jangan khawatir akan menjadi seorang yang ekstrim. Ini benar-benar hal yang berbeda. Di pihak kita, kita tidak membuat penyediaan bagi diri kita sendiri. Kita semua seharusnya mutlak memiliki pikiran untuk menderita. Saya ulangi: Kita tidak perlu menderita, tetapi kita semua harus memiliki pikiran untuk menderita. Kita harus selalu siap sedia membuang setiap kekhawatiran. Kita harus membuang bukan hanya kesulitan-kesulitan luaran tetapi juga seharusnya mengorbankan kesehatan kita sendiri. Jika kita mengasihi diri sendiri dan terlalu takut untuk menyerahkan diri kita, kita tidak akan merampungkan banyak. Kita harus memberi tahu Tuhan, "Aku rela mempersembahkan segala sesuatu. Sejak saat ini, tidak ada penderitaan apapun yang dapat menghentikan aku melayani-Mu. Inilah pilihanku, tidak peduli hasilnya bagaimana, entah itu mati, hidup, penderitaan atau sukacita!"

Saudara saudari, hanya satu hal yang efektif - pelayanan yang setia bahkan sampai ke dalam maut. Semakin banyak kita berdiri di atas posisi ini, semakin sedikit yang dapat dilakukan Iblis pada kita. Ia tidak akan memiliki tempat untuk melarikan diri. Mereka yang mengasihi diri sendiri benar-benar terikat dengan diri sendiri. Sedikit kepedihan akan membuat mereka langsung berurai air mata dan berkeluh kesah. Mereka terlalu mengasihi diri sendiri! Jika kita tidak mengasihi diri sendiri, air mata dan keluh kesah kita akan lenyap. Saudara saudari, kita yang mengambil jalan ini harus menyerahkan diri kita. Jika kita ingin mengambil jalan ini, kita harus berkata kepada Tuhan, "Jalan yang Engkau tetapkan bagiku mungkin adalah jalan penderitaan atau bukan, tetapi aku siap menemui penderitaan apapun." Maafkan bila saya mengulangi hal ini terus. Namun kita harus menyadari bahwa meskipun penderitaan kita terbatas, pikiran kita untuk menderita tidak terbatas. Jumlah sebenarnya dari penderitaan yang telah Tuhan ukurkan bagi kita mungkin terbatas, tetapi kesiapan kita untuk menderita tidak terbatas. Jika kesiapan kita untuk menderita terbatas, berarti kita tidak memiliki pikiran untuk menderita. Begitu kita membatasi pikiran kita untuk menderita, kita tidak akan mampu melangkah lebih jauh lagi. Ini adalah tuntutan yang tinggi, tetapi inilah yang dicari Tuhan. Kekurangan hal ini akan membuat kita tidak bersyarat melayani Tuhan. Kita seharusnya tidak berpikir bahwa pikiran untuk menderita itu terbatas untuk sedikit penderitaan saja. Tidak, pikiran untuk menderita tidak terbatas; bahkan tidak dibatasi oleh maut. Apapun yang kekurangan hal ini tidak akan mampu bertahan terhadap pencobaan dari Iblis." Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut" (Why. 12:11). Jika hati nurani kita tidak menghakimi kita, jika kita mengumandangkan kesaksian kemenangan kita di hadapan Iblis, dan jika kita tidak mengasihi hayat jiwa kita bahkan sampai ke dalam maut, penyiksaan-penyiksaannya terhadap kita akan menjadi sia-sia. Ia tidak dapat berurusan dengan orang yang tidak berusaha melindungi hidupnya sendiri. Kita sudah mengetahui kisah Ayub. Iblis menyerang Ayub karena ia meremehkan ide bahwa Ayub mungkin tidak mau memiliki keinginan untuk melindungi dirinya sendiri. Ia berkata kepada Yehova, "Kulit ganti kulit! Orang akan memberikan segala yang dipunyainya ganti nyawanya. Tetapi ulurkanlah tangan-Mu dan jamahlah tulang dan dagingnya, ia pasti mengutuki Engkau di hadapan-Mu"(Ayub 2:4-5). Iblis mengetahui bahwa ia dapat saja memiliki jalan atas Ayub jika Ayub memiliki sedikit saja kasih terhadap dirinya sendiri. Sebuah pasal di dalam Wahyu juga memperlihatkan bahwa Iblis tidak dapat berbuat apapun terhadap mereka yang tidak mengasihi hayat jiwa mereka bahkan sampai ke dalam maut.

Di sinilah letak kegagalan pelayan-pelayan Allah. Mereka mengasihi diri sendiri. Izinkan saya bertanya : Apakah perlindungan terhadap hidup kita lebih penting daripada perlindungan terhadap pekerjaan Tuhan? Apakah hidup kita lebih penting daripada tanggung jawab kita? Apakah menyelamatkan jiwa-jiwa yang berarti ataukah menyelamatkan hidup kita sendiri? Manakah yang lebih penting, hidup kita sendiri ataukah gereja Allah? Apakah kesaksian Allah di bumi lebih penting atau hidup kita sendirikah? Tidak ada seorangpun yang bergelut dalam cinta akan diri sendiri yang dapat melayani Allah. Mereka yang menderita mungkin saja tidak bersyarat melayani Allah. Hanya mereka yang memiliki pikiran untuk menderita, yang memiliki kapasitas tak terbatas untuk menderita, yang bahkan tidak mengasihi hidupnya sendiri sampai ke dalam maut, baru dapat melayani-Nya. Hari ini kita mempersembahkan diri kita bagi penderitaan, tetapi kita siap untuk mengorbankan segala sesuatunya. Tuhan mungkin tidak menginginkan kita menyerahkan hidup kita, tetapi kita seharusnya memilki kesadaran bahwa kita akan tidak mengasihi hayat jiwa kita bahkan sampai ke dalam maut. Saudara saudari, terlalu banyak kegagalan dalam pekerjaan telah berasal dari kemalasan manusia sendiri, perlindungan diri sendiri, dan mepertahankan diri sendiri. Kita tidak boleh berpikir bahwa mata dunia buta atau mata saudara saudari buta. Ketika kita ditetapkan untuk pekerjaan kita, orang lain akan melihat apakah kita benar-benar sudah mempersembahkan diri. Jika kita menahan sesuatu bagi diri kita sendiri dan jika kita mengambil jalan yang berkompromi, orang lain akan melihatnya. Saudara saudari, ketika Tuhan memanggil kita, Ia ingin kita menyerahkan segala sesuatunya. Semoga Tuhan berbelaskasihan kepada kita, dan semoga tidak ada seorangpun di antara kita memustikakan diri sendiri atau mengasihi hayat jiwa kita. Kita harus belajar tidak mengasihi atau mengasihani diri sendiri. Inilah jalan kita. Jika kita tidak menempuh jalan ini, pekerjaan kita akan sangat terbatas. Derajat kerelaan kita untuk menderita menentukan jumlah pekerjaan rohani yang akan kita hasilkan. Jika pikiran kita untuk menderita terbatas, pekerjaan rohani kita juga akan terbatas, berkat kita bagi orang lain akan terbatas, dan hasil pekerjaan kita akan terbatas juga. Tidak ada ukuran berkat Allah yang begitu tepat selain sebanyak apa kerelaan kita untuk menerima penderitaan. Jika pikiran kita memiliki kapasitas yang tak terbatas untuk menderita, kita akan mengenal keagungan berkat-Nya yang tak terbatas.