← Daftar isi Ibrani (2) · bab 9/17

TIGA TAHAP KARUNIA KESELAMATAN

Menurut keseluruhan wahyu Alkitab, karunia keselamatan Allah terbagi dalam tiga tahap, dan hal itu merupakan proses yang berkembang tingkat demi tingkat.

I. TERHADAP BANI ISRAEL

Karunia keselamatan yang hendak Allah berikan kepa-da bani Israel berkaitan dengan tiga tempat: Mesir, yang darinya mereka diselamatkan; padang gurun, tempat mereka mengembara; dan Kanaan, tempat yang mereka masuki. Sejarah mereka di ketiga tempat tersebut menandakan tiga tahap dari karunia keselamatan Allah yang sepenuhnya yang mereka miliki. Bani Israel tidak dapat menikmati seluruh karunia keselamatan Allah bila mereka hanya tinggal di satu tempat.

A. Beroleh Selamat Keluar dari Mesir

Di Mesir, bani Israel menikmati karunia keselamatan Allah tahap pertama. Pada hari Paskah, mereka mengalami darah penebusan dosa dari anak domba (Kel. 12:7) dan daging anak domba yang bergizi (Kel. 12:8), dan diselamatkan dari hukuman keadilan Allah. Ketika mereka keluar dari Mesir dan menyeberang Laut Merah, mereka terlepas dari perhambaan dan kekejaman Mesir. Setelah menyeberang Laut Merah, mereka menjadi bangsa yang bebas dan merdeka. Di satu pihak, mereka semuanya telah beroleh selamat. Tidak ada seorang pun yang menyangkal bahwa mereka telah diselamatkan dari hukuman Allah dan dari belenggu, perhambaan, serta kekejaman Mesir. Walaupun demikian, dalam karunia keselamatan Allah yang kaya, yang mereka nikmati hanya sepertiganya. Walaupun mereka telah diselamatkan dari hukuman Allah dari perhambaan Firaun, namun bagaimana dengan kehendak Allah yang kekal? Bagaimana dengan ekspresi dan kekuasaan Allah? Pada waktu itu, bani Israel belum menjadi ekspresi dan wakil kekuasaan Allah. Kemah pertemuan belum di-bangun; pemerintahan ilahi Allah belum didirikan di bumi ini. Karena itu, walau bani Israel telah diselamatkan dari Mesir, mereka masih harus mengalami kedua tahap lainnya dari karunia keselamatan Allah untuk dapat menggenapkan kehendak kekal Allah.

B. Beroleh Selamat Melalui Padang Gurun

Setelah umat Israel diselamatkan dari Mesir, di mana mereka memakan domba Paskah dan roti tidak beragi, mereka lalu mengalami keselamatan melalui padang gurun. Walaupun mereka telah memakan anak domba, yang melambangkan Kristus, namun itu hanya merupakan tahap pertama, yakni permulaan. Mereka masih perlu menikmati, mengambil bagian dalam, dan mengalami Kristus lebih banyak, seperti dilambangkan oleh manna dan batu karang yang mengalirkan air hidup. Setelah mengeluarkan mereka dari Mesir, Allah lalu membawa mereka memasuki tahap kedua, itulah yang dilambangkan oleh padang gurun. Di padang gurun barulah mereka bisa menikmati manna sebagai makanan (Kel. 16:31-32), dan air yang meleraikan dahaga (Kel. 17:6).

Karena pengaruh ajaran-ajaran yang lampau, begitu kita mendengar istilah “padang gurun”, kita selalu mengira istilah itu tidak baik. Walaupun itu bukan istilah yang baik, tetapi juga tidak sepenuhnya buruk. Kalau Anda melihat peta, Anda akan mengetahui bahwa setelah umat Israel keluar dari Mesir, mereka harus melalui padang gurun baru dapat memasuki tanah permai. Padang gurun terkesan buruk karena bani Israel tidak langsung melaluinya untuk memasuki Tanah Kanaan, melainkan mengembara di sana selama lebih dari tiga puluh delapan tahun. Pemborosan waktu sebanyak itulah yang membuat padang gurun menjadi suatu istilah yang buruk. Jika bani Israel setelah menyeberangi Laut Merah, melalui padang gurun langsung menuju tanah permai, padang gurun akan menjadi istilah yang baik. Apalagi di padang gurun umat Israel menikmati manna dan air yang mengalir dari batu karang yang terbelah, dan keduanya melambangkan Kristus.

C. Beroleh Selamat Memasuki Kanaan

Sesudah mengembara di padang gurun, bani Israel menyeberang Sungai Yordan dan memasuki Tanah Permai Kanaan. Itulah tahap ketiga dalam keselamatan mereka. Dalam tahap ketiga, di dalam tanah permai, yang mereka nikmati lebih tinggi daripada apa yang mereka nikmati sebelumnya, yakni anak domba, roti tidak beragi, manna, dan air hidup; kini mereka menikmati hasil bumi Tanah Kanaan. Walaupun mereka tiap hari makan manna di padang gurun selama 40 tahun, namun segera setelah memasuki tanah permai, manna terhenti dan mulailah mereka menikmati hasil bumi tanah yang almuhit itu (Yos. 5:11-12). Anak domba Paskah, manna surgawi, air hidup, dan hasil tanah permai Kanaan, semuanya merupakan lambang kekayaan Kristus dalam pelbagai aspeknya. Seandainya bani Israel hanya beroleh selamat di Mesir saja, mereka tidak mungkin mengecap manna. Seandainya mereka tidak memasuki Tanah Kanaan, mereka tidak mungkin menikmati kekayaan produksi tanah permai. Haleluya atas kenikmatan yang kaya atas Kristus, dalam berbagai tahap karunia keselamatan.

Dalam keselamatan tahap ketiga, keselamatan memasuki Kanaan, bani Israel telah masuk ke dalam perhentian (Ul. 12:9). Semua kenikmatan yang kaya atas Kristus dalam ketiga tahap keselamatan ini ialah untuk memperoleh tanah permai agar di sana dapat dibangun Bait Allah, sehingga Allah beroleh ekspresi dan pemerintahan. Keselamatan Allah yang sempurna dan kenikmatan yang kaya atas Kristus adalah untuk ekspresi dan Kerajaan Allah. Keselamatan dari Mesir, melalui padang gurun, dan memasuki tanah permai mutlak untuk ekspresi dan Kerajaan Allah. Seperti telah kita nampak, di mana ada ekspresi dan Kerajaan Allah, di situ ada perhentian hari Sabat. Bila kemuliaan Allah memenuhi rumah-Nya, yaitu Bait Suci, seluruh umat-Nya pun menikmati perhentian dalam hadirat-Nya. Allah dan umat-Nya yang beroleh selamat menikmati perhentian. Jadi, kita nampak jelas bahwa ketiga tahap dalam karunia keselamatan Allah adalah untuk ekspresi dan kerajaan-Nya, agar Ia beserta umat-Nya yang beroleh selamat bersama-sama mendapatkan perhentian.

Sebagaimana telah kita tunjukkan, keselamatan sempurna Allah bagi bani Israel seluruhnya mencakup penebusan anak domba Paskah, keluar dari Mesir, mendapat makanan dari manna surgawi, mendapat minuman dari air hidup yang mengalir dari batu karang yang terbelah, serta berbagian dalam kekayaan tanah permai Kanaan. Semua orang Israel sudah pernah menikmati anak domba Paskah, manna surgawi dan air hidup, namun dari antara mereka yang keluar dari Mesir, hanya Yosua dan Kaleb berdua yang dapat masuk ke dalam tanah permai dan menikmati-nya, yang lainnya semua mati bergelimpangan di padang gurun (Bil. 14:30; 1Kor. 10:1-11). Walaupun seluruh umat Israel telah beroleh penebusan, tetapi hanya kedua pemenang itu, Yosua dan Kaleb, yang menerima tanah permai sebagai pahala.

Anak domba Paskah, manna surgawi, air hidup, dan tanah permai Kanaan adalah lambang pelbagai aspek Kristus. Menurut gambaran pengalaman bani Israel, tidak semua kaum beriman yang ditebus oleh Kristus dapat menikmati Kristus sebagai pahala, yaitu perhentian dan kepuasan mereka, baik dalam zaman gereja maupun dalam kerajaan kelak. Hanya mereka yang tetap tekun mencari Kristus setelah tertebus itulah yang bisa memperolehnya. Itulah sebabnya Paulus, walau telah tertebus sepenuhnya, tetap berusaha keras berlari-lari menuju ke sasaran, agar Dia dapat memperoleh Kristus sebagai pahala (Flp. 3:10-14). Dalam Filipi 3, Paulus mengatakan kepada kita betapa dahulu ia menganut agama Yahudi, namun kemudian, karena Kristus ia membuangnya (ayat 4-9). Konsepsi yang serupa telah dipegang penulis Surat Ibrani ini dalam mendorong kaum beriman Ibrani untuk meninggalkan agama Yahudi dan berusaha keras mengarah kepada Kristus, supaya tidak kehilangan pahala.

II. TERHADAP KAUM BERIMAN

PERJANJIAN BARU

A. Beroleh Selamat Keluar dari Dunia

Menurut lambang keselamatan umat Israel, keselamat-an kaum beriman Perjanjian Baru juga terbagi dalam tiga tahap. Pertama, kita mengalami keselamatan keluar dari dunia. Kita telah dibenarkan demi darah Yesus (Rm. 3:22-25) dan telah dipisahkan dari dunia (Gal. 1:4; 6:14). Bila seseorang belum keluar dari dunia, ia masih belum mengalami keselamatan tahap pertama. Keselamatan yang diberitakan kekristenan hanya mengutamakan keselamatan demi darah Yesus yang menghasilkan pembenaran oleh iman, tanpa keluar dari dunia. Hari ini ada jutaan orang Kristen sejati yang telah dibenarkan demi iman melalui darah Yesus, akan tetapi mereka masih tertinggal di dalam dunia. Mereka perlu suatu keluaran. Kita memuji Tuhan, karena kita telah keluar dari dunia, yang di dalamnya termasuk agama. Kita telah keluar dari agama Yahudi, juga keluar dari sekadar “agama Kristen”.

B. Beroleh Selamat Melalui Jiwa

Tahap kedua dari keselamatan kita adalah keselamatan melalui jiwa, yang mana mencakup pengudusan (Rm. 6:19, 22) dan pengubahan (Rm. 12:2). Banyak orang mengira “jiwa” bukan suatu istilah yang baik. Kita tidak boleh mengatakan demikian. Jiwa mungkin sangat baik mungkin pula sangat jelek. Perjanjian Baru mewahyukan kepada kita bahwa setelah kita dibenarkan dan dilahirkan kembali, kita masih harus mengalami pengudusan dan pengubahan. Pada tahun-tahun yang lampau kita sangat jelas mengetahui bahwa pengubahan, termasuk pengudusan, adalah masalah dalam jiwa kita. Jiwa kita, yaitu manusia kita, perlu dikuduskan dan diubah, diresapi oleh segala adanya Kristus. Esens, unsur, dan hakiki Kristus dalam roh kita perlu meluas ke dalam jiwa kita. Tidak dapat disangkal bahwa esens ilahi Kristus telah tertanam dalam roh kita. Kini esens ilahi-Nya harus meresapi dan menjenuhi jiwa kita, hingga jiwa kita terubah sepenuhnya oleh unsur ilahi-Nya. Pengubahan bukan sekadar suatu penggantian, terlebih pula berarti esens ilahi Kristus tergarap di dalam batin kita. Andrew Murray memakai istilah “menenun” untuk melukiskan betapa unsur Kristus “tertenun” bagaikan tekstil di dalam kita. Selama tahun-tahun awal dalam ministri istilah tersebut juga sering kita gunakan dalam khotbah kita. Walau itu tidak salah, tetapi kita tidak dapat menemukan istilah demikian dalam Alkitab. Dalam Alkitab kita hanya menemukan istilah “berbaur” atau “dibaurkan”.

Dalam kitab Imamat 2:4 dikatakan bahwa kurban sajian terbuat dari tepung halus yang dicampur (dibaurkan) dengan minyak. Istilah “dibaurkan” jauh lebih baik daripada “ditenun”. Coba pikirkan lukisan tentang kurban sajian dalam Imamat 2 itu: tepung yang terbaik dibaurkan dengan minyak, yakni diresapi atau dijenuhi dengan minyak. Akhirnya tepung halus itu berubah, namun bukan ia sendiri yang berubah, melainkan karena adanya pembauran minyak. Tepung halus melambangkan sifat insani, dan minyak melambangkan sifat ilahi. Dalam ekonomi-Nya, Allah menghendaki sifat insani kita berbaur dengan sifat ilahi-Nya. Kita, tepung halus, dan Ia, minyak, akan dibaurkan. Ketika tepung halus berbaur dengan minyak, keduanya tetap mempertahankan sifatnya masing-masing. Demikian pula, ketika sifat ilahi berbaur dengan sifat insani, unsur masing-masing tetap dipertahankan. Namun kedua hakiki telah berbaur menjadi satu, yaitu menjadi satu wujud. Itulah sebuah lukisan ajaib dan jelas mengenai pembauran antara kita dengan Allah. Pembauran ini merupakan transformasi (pengubahan) yang kita maksudkan di sini.

Apakah artinya transformasi? Transformasi bukan perbaikan akhlak atau perbaikan kelakuan melainkan berarti sifat insani kita lebih dulu dibasuh oleh darah Tuhan, lalu dibaurkan dengan Roh Kudus, minyak urapan itu, sehingga kita dikuduskan dan diubah baik dalam kedudukan maupun dalam sifat. Dalam keselamatan tahap kedua kita menikmati Kristus sebagai manna surgawi dan air hidup, sebagai Roh pemberi hayat yang memancar dari batu karang yang terbelah, yakni Kristus sendiri. Dalam tahap transformasi ini, kenikmatan kita atas diri Kristus lebih kaya dan lebih subyektif. Kita memuji Tuhan, karena pada tahun-tahun yang lampau, dalam pemulihan Tuhan, banyak orang saleh telah dibawa ke dalam transformasi ini secara riil. Walau adakalanya perlu sedikit perbaikan atau koreksi dari luar, namun kita tidak mengandalkan yang luaran itu, melainkan mengandalkan pekerjaan transformasi Tuhan yang ajaib. Dua Korintus 3:18 mengatakan, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah (ditransformasi) menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Transformasi yang sedemikianlah yang kita perlukan. Haleluya, kita semua kini sedang berada dalam proses keselamatan tahap kedua ini.

Hidup gereja yang sejati penuh dengan transformasi yang demikian. Tiap kali saya melihat banyak remaja di gereja-gereja lokal yang mengalami transformasi, saya merasa terdorong. Gereja sedang maju ke depan. Kita tidak perlu terlalu banyak mengoreksi kaum saleh, tetapi kita harus membantu kaum remaja untuk bertekun di dalam jalan hayat. Alangkah indahnya di dalam gereja kita nampak kaum remaja setiap hari ditransformasi oleh hayat ilahi.

C. Beroleh Selamat Masuk ke Dalam Roh

Tahap ketiga dari keselamatan kita adalah masuk ke dalam roh. Kita harus meninggalkan padang gurun, menyeberang sungai dan masuk ke dalam roh kita, di mana kita menikmati Kristus sebagai hayat kita (Rm. 8:10; 2 Tim. 4:22), dan di mana kita seharusnya hidup dan bertindak (Rm. 8:4; Gal. 5:16, 25). Di dalam roh, kita memiliki tempat kediaman Allah, tangga surgawi, dan pintu surga. Ka-rena itu, di dalam roh kita ada ekspresi Allah dan Kerajaan Allah, dan di sanalah kita menikmati perhentian hari Sabat surgawi.

III. BERKAITAN DENGAN PENGALAMAN DALAM

KEMAH PERTEMUAN (BAIT SUCI)

A. Di Pelataran Luar

Karena Kemah Pertemuan dan Bait Suci terbagi men-jadi tiga bagian, maka ketiga tahap dari keselamatan Allah berkaitan dengan pengalaman dalam Kemah Pertemuan dan bait tersebut. Pertama, kita memiliki pengalaman di pelataran luar. Di sana kita mengalami penebusan pada mezbah (Im. 4:7) dan pembasuhan pada bejana pembasuhan (Kel. 30:18-21). Pembasuhan bejana pembasuhan ialah penyeberangan sungai yang sejati. Hal ini berkaitan dengan keselamatan yang menyelamatkan kita dari dunia.

B. Di Tempat Kudus

Kedua, adalah pengalaman di tempat kudus, di mana kita makan roti sajian (Kel. 25:30), diterangi oleh kaki pelita (Kel. 25:37), bahkan beroleh perkenan melalui mezbah pembakaran ukupan (Kel. 30:7). Pengalaman-pengalaman ini berkaitan dengan transformasi di dalam jiwa kita.

C. Di Dalam Tempat Maha Kudus

Ketiga, kita memiliki pengalaman di tempat maha kudus di mana kita menikmati penyertaan Allah (Kel. 25:22) dan beroleh bagian dalam kemuliaan Allah. Di tempat maha kudus berarti di tempat kediaman Allah. Di sini kita berada dalam perhentian hari Sabat. Ini berhubungan dengan keselamatan dalam roh kita.

IV. SITUASI KAUM BERIMAN IBRANI

Kaum beriman Ibrani telah mengalami keselamatan tahap pertama, namun mereka bimbang dalam tahap kedua. Karena kebimbangan pikiran, mereka lalu terombang-ambing dalam jiwa, dan berada dalam bahaya hanyut kembali ke tahap pertama. Surat Ibrani ditulis dengan maksud mengingatkan serta mendorong mereka supaya maju terus ke depan memasuki tahap ketiga, yakni perhentian tanah permai (Ibr. 4:11) dan tempat yang maha kudus di dalam roh (Ibr. 10:19-20). Memasuki perhentian tanah permai adalah memasuki hidup gereja, yang memungkinkan kita untuk memasuki kerajaan yang akan datang. Memasuki tempat yang maha kudus berarti berada di dalam roh. Memasuki perhentian hari Sabat maupun memasuki hidup gereja yang tepat adalah masalah di dalam roh kita. Hari ini takhta dan tempat maha kudus berada di surga dan berhubungan dengan roh kita. Karena itu, roh kita adalah suatu tempat yang paling penting. Di dalam roh kita ini terdapat tempat kediaman Allah, tangga surgawi, pintu surga, takhta Allah, dan tempat maha kudus. Di dalam roh kita ini, kita menikmati hidup gereja serta perhentian hari sabat masa kini, dan yang akan memasukkan kita ke dalam perhentian hari sabat kerajaan akan datang.

Dalam 4:11 Penulis mengatakan, “Karena itu, baiklah kita berusaha masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan yang sama.” Karena perhentian yang dibicarakan dalam potongan firman ini adalah Kristus yang almuhit, maka “jatuh” di sini berarti jatuh dari Kristus, lepas dari Kristus (Gal. 5:4). Dalam Kitab Galatia, bahaya yang timbul adalah kaum beriman Galatia menyimpang dari kemerdekaan anugerah hanyut ke dalam belenggu hukum Taurat (Gal. 5:1-4). Paulus menasihati mereka untuk berdiri teguh dalam kemerdekaan anugerah, yaitu tidak terlepas dari Kristus. Di sini, dalam kitab ini, yang menjadi bahaya adalah kaum beriman Ibrani tidak mau meninggalkan agama lama mereka yang berdasarkan hukum Taurat, juga tidak mau maju kepada kenikmatan atas Kristus sebagai perhentian mereka. Jika mereka terus tinggal dalam agama lama mereka, yaitu dalam Yudaisme, mereka tidak akan mencapai Kristus, yang adalah perhentian mereka. Penulis kitab ini dengan sungguh-sungguh mendorong mereka untuk menjadi teman-teman sekutu Kristus, maju bersama Kristus dan masuk ke dalam perhentian, agar mereka sebagai orang-orang yang berbagian dalam-Nya, dapat menikmati Kristus sebagai perhentian mereka. Ibrani 3:7-4:11 mengisahkan betapa dahulu umat Israel karena jatuh tidak bisa masuk ke dalam perhentian tanah permai. Kita telah melihat adanya tiga tempat yang berkaitan dengan mereka: Mesir, padang gurun, dan Tanah Kanaan. Sejarah mereka dalam ketiga tempat ini melambangkan tiga tahap partisipasi mereka dalam keselamatan sempurna Allah. Ini melambangkan partisipasi kita, kaum beriman Perjanjian Baru, dalam keselamatan sempurna Allah. Dalam tahap pertama, kita menerima Kristus, ditebus, dan dilepaskan dari dunia. Dalam tahap kedua, kita menjadi pengembara-pengembara dalam mengikuti Tuhan; pengembaraan ini selalu terjadi di dalam jiwa kita. Dalam tahap ketiga, kita berbagian dan menikmati Kristus sepenuhnya; hal ini kita alami di dalam roh kita. Ketika kita mengejar kenikmatan benda-benda material dan kesenangan dosa, kita berada di dalam dunia, yang dilambangkan oleh Mesir. Ketika kita mengembara di dalam jiwa kita, kita berada di padang gurun. Ketika kita menikmati Kristus di dalam roh kita, kita berada di Kanaan. Ketika bangsa Israel mengembara di padang gurun, mereka selalu bersungut-sungut, bertengkar dan menyalahkan orang; hal ini pasti terjadi di dalam jiwa mereka, bukan di dalam roh mereka. Tetapi Kaleb dan Yosua percaya kepada firman Allah, taat kepada Tuhan, dan maju menuju sasaran; hal ini pasti tidak terjadi di dalam jiwa mereka, melainkan di dalam roh mereka. Pada saat itu, para penerima kitab ini, kaum beriman Ibrani, sedang kebingungan, tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap agama Ibrani mereka yang lama. Kebingungan di dalam pikiran mereka ini adalah suatu pengembaraan di dalam jiwa mereka, bukan suatu pengalaman akan Kristus di dalam roh mereka. Karena itu, penulis kitab ini mengatakan bahwa firman Allah, yaitu apa yang dikutip dari Perjanjian Lama, dapat menusuk ke dalam kebingungan mereka seperti sebuah pedang tajam bermata dua, dan memisahkan jiwa mereka dari roh mereka. Sama seperti sumsum itu tersembunyi di dalam sendi-sendi, begitu juga roh tersembunyi di dalam jiwa. Pemisahan sumsum dari sendi-sendi terutama memerlukan peremukan sendi-sendi. Dalam prinsip yang sama, pemisahan roh dari jiwa memerlukan peremukan jiwa. Jiwa kaum beriman Ibrani beserta pikirannya yang kebingungan, keraguannya terhadap jalan keselamatan Allah, dan pertimbangannya akan kepentingannya sendiri, harus diremukkan oleh firman Allah yang hidup, berkhasiat, dan menusuk, sehingga roh mereka dapat dipisahkan dari jiwa mereka.

Jiwa kita adalah diri kita sendiri (Mat. 16:25; cf. Luk. 9:25). Dalam mengikuti Tuhan, kita harus menyangkal jiwa kita, yaitu diri kita sendiri (Mat. 16:24; Luk. 9:23). Roh kita adalah bagian yang paling dalam dari diri kita, suatu organ rohani yang dengannya kita mengontak Allah (Yoh. 4:24; Rm. 1:9). Di dalam roh kita, kita dilahirkan kembali (Yoh. 3:6). Di dalam roh kita, Roh Kudus berhuni dan bekerja (Rm. 8:16). Di dalam roh kita, kita menikmati Kristus dan anugerah-Nya (2Tim. 4:22; Gal. 6:18). Karena itu, penulis kitab ini menasihati kaum beriman Ibrani agar jangan tinggal di dalam pengembaraan jiwa mereka, jiwa ini harus mereka sangkal. Mereka harus sekuatnya maju ke dalam roh mereka untuk berbagian dan menikmati Kristus yang surgawi, agar mereka dapat mengambil bagian dalam perhentian kerajaan dari pemerintahan-Nya di dalam milenium. Jika mereka masih mengembara dalam jiwa mereka, mereka akan menyimpang dari sasaran Allah, dan kehilangan kenikmatan sempurna akan Kristus dan perhentian kerajaan.