← Daftar isi Ibrani (2) · bab 10/17

IMAM BESAR AGUNG DAN TAKHTA ANUGERAH IMAM BESAR AGUNG

Kitab Ibrani adalah sebuah kitab perbandingan. Kita telah melihat tiga perbandingan dalam beberapa berita yang di depan: perbandingan antara Allah kita dengan Allah orang Yahudi, antara Kristus dengan malaikat, dan antara Kristus dengan Musa. Sekarang kita sampai pada perbandingan antara Kristus dengan Harun, yang tercantum pada bagian kecil mulai 4:14-7:28. Allah kita jauh lebih unggul daripada Allah yang disembah orang Yahudi, dan Kristus kita jauh lebih unggul daripada malaikat-malaikat, Musa, dan Harun. Seperti telah kita lihat, dalam tiap bagian Surat Ibrani terdapat satu peringatan. Peringatan pertama tercantum dalam 2:1-4, peringatan kedua tercantum dalam 3:7-4:13, dan yang ketiga ialah dalam bagian kecil ini, yakni dalam 5:11-6:20.

Dalam beberapa pasal di depan kita telah nampak bahwa Kristus adalah Putra Allah, Anak Manusia, Pemimpin keselamatan, dan Rasul. Semuanya ini membuat Dia memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar kita. Dalam Alkitab, tidak ada seorang pun yang lebih ajaib dan lebih unggul daripada Kristus sebagai Imam Besar kita. Ia datang dari Allah dan menyuplaikan Allah kepada kita. Sebelum Ia datang, kita tidak bersangkut-paut dengan Allah. Allah itu Allah, dan kita hanyalah manusia. Setelah Ia datang, Ia tidak saja menjadi Juruselamat dan Penebus kita, juga menjadi Imam Besar kita. Sebutan Juruselamat dan Penebus telah diketahui banyak orang secara dangkal. Jika kita hanya mengenal Kristus sebagai Juruselamat dan Penebus, pengenalan kita juga sangat dangkal. Kita harus maju selangkah untuk mengenal Dia sebagai Pemimpin keselamatan, Rasul, dan Imam Besar kita. Walaupun banyak juga orang Kristen mengetahui Kristus sebagai Imam Besar, namun tidak banyak yang memahami makna sebutan tersebut secara tepat. Bila kita ingin memahami makna Kristus sebagai Imam Besar, perlulah kita membaca Surat Ibrani secara menyeluruh.

Ibrani 4:14 mengatakan, “Jadi, karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita berpegang teguh pada pengakuan iman kita.” Tuhan Yesus pertama-tama diutus dari Allah kepada kita melalui inkarnasi (2:14), untuk menjadi Rasul kita (3:1), Perintis, Pemimpin (2:10), yang lebih unggul daripada Musa (3:3), dan Yosua kita yang sejati (4:8) untuk membawa kita, teman-teman sekutu-Nya (1:9; 3:14), masuk ke dalam kemuliaan dan perhentian (2:10; 4:11). Kemudian Dia pergi kembali dari kita kepada Allah melalui kebangkitan dan kenaikan (5:5-6) menjadi Imam Besar kita, untuk memikul kita di hadirat Allah dan untuk memenuhi semua keperluan kita (2:17-18; 4:15).

Kristus yang kita perlukan dan yang kita miliki hari ini dalam perhentian hari Sabat hidup gereja ialah Imam Besar kita. Seorang imam besar sepatutnya tidak berada di jalan-jalan atau di padang gurun, melainkan di tempat maha kudus. Di manakah Kristus hari ini? Ia senantiasa berada di tempat maha kudus. Imam Besar kita tidak berada di mezbah untuk mempersembahkan kurban, tidak pula berada di tempat kudus, menyediakan roti sajian, menyalakan pelita, dan membakar ukupan. Ia berada di tempat maha kudus. Kebanyakan orang Kristen hanya memiliki Kristus yang berada di mezbah, yakni Kristus yang di atas salib. Banyak lagu menyinggung Kristus yang tersalib. Sebagian orang Kristen hanya memiliki Kristus yang berada di tempat kudus. Puncak tuntutan rohani mereka hanyalah Kristus yang menyediakan roti sajian, menyalakan pelita, dan membakar ukupan di tempat kudus. Mereka telah mengabaikan Imam Besar di tempat maha kudus. Fungsi utama Imam Besar kita hari ini bukan di mezbah dan tempat kudus, melainkan di tempat maha kudus, yaitu tempat penyertaan dan kemuliaan Allah. Memang benar, Kristus pernah berada di atas salib, tetapi dalam Ibrani 1:3 diwahyukan bahwa pekerjaan-Nya di atas salib itu telah selesai. Jangan meminta Dia kembali melakukan pekerjaan-Nya di sana. Pekerjaan-Nya telah selesai, dan kini Ia sedang duduk di sebelah kanan Allah di surga. Selain tempat ini tidak ada tempat yang lebih dekat kepada Allah. Surat Ibrani ditulis untuk membantu kita datang kepada Kristus yang kini berada di hadirat Allah.

Kristus yang berada di tempat maha kudus ini bukan hanya Juruselamat, Penebus, Rasul, atau Pemimpin keselamatan kita, Ia pun Imam Besar kita. Apakah yang sedang Ia kerjakan di tempat yang maha kudus? Ia sedang menyuplaikan Allah ke dalam kita. Seperti telah kita lihat dalam berita sebelumnya, fungsi utama Imam Besar ialah menyuplaikan Allah ke dalam umat pilihan-Nya. Oh, kita perlu memiliki Imam Besar di tempat maha kudus yang senantiasa menyuplaikan Allah ke dalam kita! Lupakanlah segala lingkungan, kelemahan, kesulitan, bahkan diri kita sendiri, dan ingatlah satu hal ini saja: Yesus Kristus hari ini berada di tempat yang maha kudus sebagai Imam Besar kita. Asalkan kita memiliki Imam Besar yang demikian, kita memiliki segala sesuatu yang kita perlukan.

Menurut Perjanjian Lama, setiap kali Imam Besar masuk ke hadirat Allah, dalam tempat maha kudus, ia harus mengenakan dua buah batu permata di atas bahunya, dan di atas batu itu terukir nama-nama dari kedua belas suku Israel (Kel. 28:9-12). Ia juga harus mengenakan penutup dada, yang di atasnya tercantum dua belas batu permata yang juga berukirkan nama kedua belas suku Israel (Kel. 28:15-30). Hal itu menunjukkan bahwa seluruh umat Israel berada di atas bahu dan dada Imam Besar. Karena bahu melambangkan kekuatan dan dada melambangkan kasih sayang, hal itu melambangkan umat Allah berada di atas kekuatan Imam Besar dan dalam kasih sayang Imam Besar. Ketika Imam Besar masuk ke tempat maha kudus, ia membawa seluruh umat Allah bersamanya. Dalam pandangan Allah, ketika Imam Besar berada di tempat maha kudus, segenap umat-Nya juga berada di sana. Demikian pula, ketika Allah memandang Kristus, Imam Besar kita, di tempat yang maha kudus, Ia pun memandang kita berada di atas bahu dan dada-Nya. Kita benar-benar perlu nampak visi ini! Kini Imam Besar kita berada di tempat maha kudus di surga dan senantiasa memikul dan mengenakan kita di hadapan Allah. Sekarang ini juga kita berada di atas bahu dan dada-Nya di tempat maha kudus, dan bersama-sama Dia di dalam kemuliaan Allah.

Ketika Kristus memikul kita di hadapan Allah di tempat maha kudus, Ia juga menyuplaikan Allah ke dalam diri kita. Rasul Paulus pernah berdoa agar Tuhan berkenan membuang durinya (2Kor. 12:7-8), tetapi Tuhan berkata kepadanya, “Cukuplah anugerah-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor. 12:9). Tuhan seolah-olah berkata kepadanya, “Paulus, Aku tidak akan menyingkirkan duri itu, namun Aku akan menyuplaikan diri-Ku sebagai anugerah ke dalammu. Dengan demikian, kamu akan tahu betapa indah dan kayanya Aku, bahkan Aku akan menambahkan diri-Ku ke dalammu.” Pengalaman atas Kristus sebagai Imam Besar yang memikul kita di atas bahu dan dada-Nya serta yang menyuplaikan Allah ke dalam kita terjadi di tempat maha kudus, tempat kita menikmati Allah dan segala kelimpahan-Nya. Ketika kita memasuki pengalaman semacam ini, kita sulit menyatakan di mana kita berada atau apakah yang sedang terjadi. Kita hanya dapat berkata bahwa kita sedang berada di atas bahu dan dada Imam Besar kita, dan Ia sedang menyuplaikan sesuatu ke dalam kita, sehingga kita beroleh penghiburan dan kekuatan. Mungkin kita hanya bisa mengatakan, “Aku telah menerima sesuatu dari Tuhan, tetapi aku tidak dapat menggambarkannya atau memberikan suatu nama kepada hal ini.” Pengalaman atas Kristus sebagai Imam Besar adalah pengalaman dan kenikmatan yang paling tinggi. Kita semua perlu belajar tinggal di bahu dan dada-Nya di tempat maha kudus. Inilah pengalaman tahap ketiga dari keselamatan yang berkaitan dengan pengalaman di tempat maha kudus. Kita tidak boleh merasa puas menjadi orang Kristen yang berada di pelataran luar, atau yang hanya berputar-putar di tempat kudus. Kita harus maju terus ke depan, dan memasuki tempat maha kudus, di mana terdapat pe-nyertaan dan kemuliaan Allah.

Pengalaman atas Kristus sebagai Imam Besar kita tidak usah diragukan, berada di surga. Namun hal ini juga terdapat dalam roh kita dan dalam gereja, karena hari ini gereja adalah tempat kediaman Allah di dalam roh. Kristus sebagai tangga surgawi yang menghubungkan bumi dengan surga dan membawakan surga ke bumi ada di dalam roh kita. Melalui tempat kediaman Allah dan tangga surgawi ini, tempat maha kudus yang di surga telah bersatu dengan roh kita. Hal ini boleh kita umpamakan seperti listrik. Demi arus listrik, rumah kita telah berhubungan dengan pusat pembangkit listrik. Listrik berada di pusat pembangkitnya, tetapi juga berada di rumah kita. Kalau listrik tidak mengalir, pusat pembangkitnya jauh dengan rumah kita. Tetapi melalui arus listrik, keduanya telah dihubungkan menjadi satu. Demikian pula, walau surga itu jauh sekali dengan roh kita, tetapi Kristus yang ajaib di surga juga berada dalam roh kita. Roma 8:34 mengatakan, “Kristus duduk di sebelah kanan Allah . . . menjadi Pembela bagi kita . . .”, Roma 8:10 mengatakan, “Kristus ada di dalam kamu . . .” Ini bukan berarti ada dua Kristus, yang satu di surga, dan yang satunya lagi di dalam kita. Bukan pula berarti satu Kristus berada dalam dua masa. Tidak, melainkan sama seperti listrik berada di pusat pembangkitnya juga berhubungan dengan rumah kita; Kristus berada di surga tingkat ketiga, juga berada di dalam roh kita. Ia jauh lebih ajaib daripada arus listrik. Kalau arus listrik dapat menghubungkan dua tempat menjadi satu, bukankah Kristus kita yang ajaib lebih-lebih bisa berada di surga juga berada di dalam roh kita.

I. AGUNG

Ibrani 4:14 memberi tahu kita bahwa Yesus, Putra Allah adalah Imam Besar Agung. Menurut pengalaman kita, kata agung di sini berarti sempurna, menakjubkan, mulia, dan sangat terhormat. Hari ini Kristus adalah Imam Besar yang sempurna, menakjubkan, mulia, dan sangat terhormat. Perkataan manusia tidak dapat menggambarkan-Nya dengan sepenuhnya. Walau kita tidak dapat menemukan perkataan yang tepat untuk melukiskan-Nya, tetapi dari pengalaman berada di atas bahu dan dada-Nya di tempat maha kudus itu, kita mengetahui bahwa Ia adalah Imam Besar ajaib yang agung.

A. Atas Persona-Nya

Keagungan Kristus, Imam Besar kita, pertama terletak pada persona-Nya. Ia adalah Putra Allah, Allah sendiri (1:5, 8), Ia juga Anak Manusia, manusia sendiri (2:6). Sebagai Allah dan Manusia, Ia memiliki sifat ilahi dan sifat insani. Ia tidak hanya mengetahui perkara Allah dan manusia, Ia pun berada dalam perkara Allah dan manusia. Tidak pernah ada seorang imam besar yang seperti Dia.

B. Atas Pekerjaan-Nya

Kedua, keagungan Kristus, Imam Besar kita, terletak pada pekerjaan-Nya. Ia telah menjadi kurban pendamaian dan menyucikan dosa manusia (1:3; 2:17). Ia telah menghapus dosa dan membereskan problem dosa. Ia telah mengecap rasa maut tidak saja untuk manusia, tetapi juga untuk segala sesuatu (2:9). Demi kematian-Nya, Ia telah menaklukkan maut itu sendiri. Maut tidak berdaya menahan-Nya (Kis. 2:24, 27). Ia pun telah memusnahkan Iblis, yang berkuasa atas maut itu (2:14). Demi kematian-Nya di salib, Kristus telah memusnahkan Iblis, kuasa maut. Dengan mengalahkan Iblis dan maut, Ia telah membebaskan kita dari perhambaan maut (2:15). Kita tidak saja telah dilepaskan dari perhambaan dosa, juga dari perhambaan maut. Penderitaan-Nya telah menyempurnakan-Nya menjadi Pemimpin keselamatan kita (2:10). Setelah menyelesaikan peperangan, Ia lalu masuk ke dalam kemuliaan. Sebagai Perintis, Ia membawa kita di jalan yang sama menuju kemuliaan. Ia kini sedang melayani rumah Allah seperti yang dilakukan oleh Musa (3:5-6). Sebagai Pembangun rumah Allah, tentu Ia tahu bagaimana mengatur rumah Allah itu. Sama dengan Yosua, Ia pun sedang memimpin kita memasuki perhentian (4:8-9). Ia telah mengaruniakan kepada kita perhentian hari Sabat zaman gereja, dan Ia akan membawa kita memasuki perhentian hari Sabat zaman kerajaan kelak. Sebagai Imam Besar kita, Ia sungguh agung dalam segala pekerjaan-Nya yang ajaib dan unggul, yang tidak pernah dilakukan oleh Imam-imam Besar Perjanjian Lama yang mana pun.

C. Atas Pencapaian-Nya

Keagungan Kristus, Imam Besar kita, juga terletak pada pencapaian-Nya. Karena tingginya pencapaian-Nya itu, Ia telah memasuki tempat maha kudus di surga dan dimahkotai dengan kemuliaan dan kehormatan (6:20; 9:24; 2:9). Ia tidak lagi berada di bumi memakai mahkota duri; kini Ia telah berada di surga tertinggi dan mengenakan mahkota mulia. Tidak ada seorang Imam Besar yang pencapaiannya dapat mengungguli Dia. Dalam hal ini tidak ada seorang pun yang dapat menandingi-Nya.

II. TELAH MELINTASI SEMUA LANGIT

Kristus, Imam Besar kita yang agung atas persona-Nya, pekerjaan-Nya, dan pencapaian-Nya kini telah melintasi semua langit (4:14). Setelah Ia disalibkan dan sebelum dibangkitkan, Kristus pernah berjalan-jalan meninjau alam maut. Walau saat itu Iblis dengan seluruh kuasa mautnya berusaha menawan-Nya, ketika Ia bangkit, Ia keluar dari liang kubur (Kis. 2:24, 27). Kemudian, ketika Ia naik ke surga, Ia menaklukkan gaya tarik bumi. Walau setan dengan sekuat tenaga menghalangi-Nya meninggalkan bumi, namun Ia dengan ajaib “lepas landas” meninggalkan bumi, naik ke surga. Ketika Ia melintasi angkasa, roh-roh jahat, penguasa dan pemerintah di angkasa berusaha menangkap-Nya, agar Ia tidak dapat naik ke atas, namun mereka justru ditawan atau dilucuti oleh-Nya, bahkan dijadikan tontonan umum, yaitu dipertontonkan kepada alam semesta. Itulah yang dimaksud oleh Kolose 2:15 yang mengatakan, “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.” Ayat ini menyatakan tiga hal penting: Kristus telah menawan (melucuti) pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, menjadikan mereka tontonan umum, dan menaklukkan mereka. Setelah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa, setelah bangkit dari dunia orang mati, dan setelah melintasi semua langit, Yesus, Imam Besar kita, sekarang duduk di atas takhta di sebelah kanan Allah, menikmati perhentian. Namun Ia pun mengharapkan agar segenap anggota Tubuh-Nya juga memasuki perhentian-Nya. Jalan untuk memasuki perhentian-Nya ialah mengalami Kristus sebagai Imam Besar. Nanti akan kita lihat, kita hanya perlu datang ke takhta anugerah tempat Dia duduk, dan menerima rahmat serta menemukan anugerah. Bila kita mau berbuat demikian, kita akan segera berada dalam perhentian hidup gereja, dan bersama-sama Dia me-nantikan perhentian yang lebih indah. Puji Tuhan!

III. TELAH DICOBAI DALAM SEGALA HAL

Sebagai Imam Besar kita, Kristus telah dicobai dalam segala hal, seperti kita, hanya saja Ia tidak berbuat dosa (4:15). Karena Ia sendiri telah dicobai, maka Ia bersyarat dan berkekuatan untuk menolong mereka yang sedang dicobai (2:18). Sewaktu Ia menderita segala pencobaan, Ia tidak tercemar oleh dosa. Ia benar-benar telah diperlengkapi untuk menolong kita melewati pencobaan dan melindungi kita dari setiap gangguan dosa.

IV. TURUT MERASAKAN KELEMAHAN KITA

Sebagai yang telah menderita pencobaan dalam segala hal, seperti kita, Imam Besar kita, Kristus, dapat bersimpati atau turut merasakan kelemahan-kelemahan kita (4:15). Ia dengan mudah menjamah perasaan kelemahan kita, dan memasuki kelemahan kita untuk menderita bersama kita. Maka atas setiap peristiwa dan setiap penderitaan yang kita alami, Ia dapat turut merasakannya dan bersimpati kepada kita.

TAKHTA ANUGERAH

I. TAKHTA ALLAH — DILAMBANGKAN OLEH TUTUP PENDAMAIAN

Sesudah mengungkapkan masalah Imam Besar, penulis menganjuri kita untuk “dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya” (4:16). Tidak diragukan, takhta anugerah adalah takhta Allah yang ada di surga (Why. 4:2). Terhadap alam semesta, takhta Allah adalah takhta otoritas (Dan. 7:9; Why. 5:1), Allah duduk di atasnya dan menguasai serta mengatur alam semesta itu. Takhta ini adalah takhta otoritas Allah. Namun terhadap kita, kaum beriman, Takhta ini adalah takhta anugerah, yang dilambangkan oleh tutup pendamaian di atas tabut kesaksian (Kel. 25:17-21; Rm. 3:25) yang dipercik darah adi Kristus (Im. 16:15; Ibr. 9:12) di dalam tempat maha kudus (Ibr. 9:3, 5). Di tempat inilah Allah bertemu dan berkomunikasi dengan umat-Nya (Kel. 25:21-22).

Ketika kita demi darah Kristus datang ke takhta anugerah, kita berjumpa dan bersekutu dengan Allah.

II. TAKHTA ALLAH DAN ANAK DOMBA

Takhta anugerah dalam Ibrani 4 adalah takhta otoritas dalam Wahyu 4 yang dalam Wahyu 22:1-2 menjadi takhta Allah dan Anak Domba, yang dari dalamnya mengalir sebatang sungai air hayat yang jernih bagaikan kristal. Sungai ini mengalir mengelilingi seluruh kota Yerusalem Baru. Di kedua sisi sungai tumbuh pohon hayat, yang mewahyukan bahwa Kristus yang kaya, dalam Roh yang hidup terpancar keluar melalui takhta anugerah. Apakah anugerah? Yaitu sungai yang mengalir, yang di dalamnya tumbuh pohon hayat. Terhadap orang yang tidak beriman dan setan-setan, takhta Allah dan Anak Domba adalah takhta otoritas, tetapi terhadap kita, kaum beriman, takhta ini adalah takhta anugerah. Setiap kali kita datang ke takhta ini, kita merasa ada sesuatu yang mengalir dari dalamnya, membasahi dan menyuplai kita. Inilah anugerah. Kita benar-benar dapat meminum dan memakan suplai tersebut.

III. TEMPAT KEDIAMAN ALLAH

DI DALAM ROH KITA

Ibrani 4:16 mengatakan kepada kita, “Dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah.” Kalau takhta anugerah ada di surga, bagaimanakah kita bisa menghampirinya? Menurut ajaran golongan fundamental, kita harus mati dulu, baru dapat naik ke surga. Bagaimana kita dapat menghampiri takhta Allah dan Anak Domba (Kristus) di surga, sedangkan kita masih hidup di bumi? Rahasianya adalah roh kita, yang disinggung dalam ayat 12. Kristus yang duduk di atas takhta di surga (Rm. 8:34) sekarang ada di dalam kita juga (Rm. 8:10), yaitu di dalam roh kita (2Tim. 4:22); roh ini adalah tempat tinggal Allah (Ef. 2:22). Kalau Kristus ada dalam roh kita, tentulah Bapa dan Roh Kudus juga ada dalam roh kita (Yoh. 14:20, 23; Rm. 8:16). Maka, Allah Tritunggal berada dalam roh kita. Betel adalah rumah Allah, tempat tinggal Allah, juga adalah pintu gerbang surga; di sana Kristus adalah tangga yang menghubungkan bumi dengan surga dan membawa surga ke bumi (Kej. 28:12-17; Yoh. 1:51). Walaupun takhta anugerah ada di surga, Kristus yang ajaib telah membawakan surga tingkat ketiga itu ke dalam roh kita, yaitu tempat di mana kediaman Allah di bumi ini berada. Roh kita boleh kita sebut Betel hari ini. Menurut Kejadian 28, Betel, pertama ialah sebuah tempat, kedua ialah tempat kediaman Allah. Baik tempat maupun batu-batunya disebut Betel. Berdasarkan prinsip ini, di mana ada tempat kediaman Allah, di situ ada tangga surgawi dan pintu surga. Kristus yang ajaib yang datang dari Allah, yang telah merampungkan dan mencapai banyak hal dan yang adalah Pemimpin, Rasul, dan Imam Besar kita, telah masuk ke dalam roh kita dan menjadikan roh kita sebagai pintu surga. Sekarang dengan mudah kita dapat menghampiri takhta anugerah, sebab takhta anugerah justru ada di dalam pintu. Meskipun takhta anugerah berada di surga, namun berdasarkan dan melalui Kristus, takhta ini sudah dihubungkan dengan roh kita.

Menghampiri takhta anugerah mutlak merupakan masalah di dalam roh kita. Bila kita berada dalam pikiran kita, kita sulit memasuki tempat yang maha kudus. Jika kita orang yang jiwani, yang selalu mengembara di padang gurun jiwa, kita akan jauh terpisah dari tempat maha kudus. Karena roh kita hari ini telah menjadi tempat kediaman Allah, maka roh ini juga adalah pintu surga, di sini Kristus adalah tangga surgawi, yang menghubungkan kita yang di bumi dengan surga dan membawakan surga kepada kita. Asalkan kita kembali ke dalam roh, kita segera masuk ke dalam pintu surga dan menjamah takhta anugerah di surga melalui Kristus sebagai tangga surgawi. Untuk inilah kita perlu firman Allah yang hidup yang dapat menusuk ke dalam batin kita, dan memisahkan pikiran yang berkeliaran dengan roh kita. Asalkan kita berada dalam roh, kita memiliki pintu surga. Di dalam pintu itu ada takhta anugerah. Memasuki tempat maha kudus tidak perlu waktu yang lama, sebab di antara tempat maha kudus dengan roh kita tidak terdapat jarak. Setiap kali kita dari batin berseru, “O, Tuhan Yesus!” kita segera berada dalam tempat maha kudus, menjamah takhta anugerah. Kita benar-benar perlu menjamah takhta anugerah.

IV. MENERIMA RAHMAT

DAN MENEMUKAN ANUGERAH

Bila kita menghampiri takhta anugerah, kita akan “menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Rahmat Allah dan anugerah Allah adalah ekspresi kasih-Nya. Ketika kita berada dalam suatu keadaan yang kasihan, pertama-tama rahmat Allah menjangkau kita dan membawa kita ke dalam suatu situasi, sehingga Allah bisa memperlakukan kita dengan anugerah-Nya. Lukas 15:20-24 memberi tahu kita, ketika bapa melihat anak yang hilang itu kembali, dia membelas kasihaninya; inilah rahmat yang mengekspresikan kasih bapa. Kemudian, bapa mengenakan kepadanya jubah yang terbaik dan memberi dia makan anak lembu tambun. Inilah anugerah, yang juga menyatakan kasih bapa. Rahmat Allah menjangkau lebih jauh daripada anugerah Allah, sepertilah sebuah jembatan yang menjembatani kita dengan anugerah Allah. Sering kali, karena keadaan kita sangat kasihan, kita perlu menerima rahmat dulu, kemudian baru menemukan anugerah. Kita datang ke takhta anugerah seperti pengemis, dan agak mirip dengan anak hilang yang pulang ke rumah bapanya. Seorang pengemis, seperti seorang anak hilang, perlu belas kasihan. Kalau kita dalam keadaan kasihan dan seseorang memberi sesuatu kepada kita, itu berarti belas kasihan. Tetapi bila kita dalam keadaan lumayan baik, lalu seseorang memberi sesuatu kepada kita, itu berarti anugerah. Sering kali, ketika kita datang ke hadapan takhta anugerah, kita merasa keadaan diri kita sangat kasihan, dan kita berkata, “Bapa, hamba tidak layak meminta apa-apa.” Namun Bapa menjawab, “Tidak mengapa, meskipun kamu tidak layak, tetapi Aku berbelaskasihan. Rahmat-Ku akan mendatangimu, membuatmu layak dan pantas, sehingga kamu dapat mengenakan jubah yang terindah.” Setelah menerima belas kasihan Bapa, kita segera merasa diri kita seperti orang yang sangat penting. Lalu kita menjadi layak duduk sambil menikmati anak lembu tambun. Inilah anugerah. Ini bukan hanya suatu ajaran, melainkan yang sudah terbukti dalam pengalaman kita.

Siapakah yang duduk di atas takhta anugerah? Bukan hanya Allah, tetapi juga Anak Domba, Penebus kita. Allah sedang duduk di takhta anugerah ajaib, dan di sebelah kanan-Nya ialah Penebus, Imam Besar kita. Takhta itu bukan hanya takhta Allah, juga takhta Allah dan Anak Domba, berarti Allah di dalam Anak Domba mengalirkan diri-Nya sebagai anugerah untuk kenikmatan kita. Kita tidak perlu berbuat apa-apa, cukup menghampirinya, membuka diri dan menerima rahmat dan menemukan anugerah, untuk pertolongan kita pada waktunya. Setiap hari pertolongan yang datang dari anugerah ini selalu sangat tepat pada waktunya; selalu baru, dan cocok dengan keadaan dan kebutuhan kita. Kehidupan orang Kristen yang sejati menurut kitab Ibrani adalah suatu kehidupan yang bukan hanya menghampiri takhta anugerah, terlebih pula tinggal di dalam tempat yang maha kudus, di hadapan takhta, senantiasa menerima rahmat dan menemukan anugerah. Inilah kehidupan yang kita perlukan hari ini. Jika demi rahmat Tuhan, butir-butir penting ini tergarap di dalam kita, keadaan kita pasti akan berbeda dari yang dulu-dulu.

Rahmat dan anugerah Allah memang selalu tersedia bagi kita. Namun, kita perlu menggunakan roh kita untuk menghampiri takhta anugerah dan menjamah Imam Besar kita yang bersimpati terhadap segala kelemahan kita, demikian baru kita bisa menerima rahmat dan mendapatkan anugerah. Dengan perkataan ini penulis kitab ini mendorong kaum beriman Ibrani yang lelah guna menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapatkan pertolongan pada waktunya, sehingga mereka dapat berdiri teguh (Ibr. 12:12).