← Daftar isi Ibrani (2) · bab 11/17

IMAM BESAR MENURUT ATURAN MELKISEDEK DAN PANGKAL KESELAMATAN KEKAL

Dalam berita ini kita akan membahas Imam Besar menurut aturan Melkisedek adalah pangkal keselamatan kekal. Pernahkah Anda mendengar bahwa keselamatan kekal juga memiliki pangkal, asal, atau pencipta? Ya, Kristus, Imam Besar kita adalah pangkal keselamatan kekal. Sebentar akan kita lihat betapa Ia adalah Imam Besar yang bukan menurut aturan Harun, yakni sistem imamat yang usang, tetapi menurut aturan Melkisedek.

IMAM BESAR MENURUT ATURAN MELKISEDEK

I. LEBIH UNGGUL DARIPADA HARUN

Harun tidak mengambil kehormatan bagi dirinya sendiri untuk menjadi Imam Besar, melainkan berdasarkan panggilan dan ketetapan Allah (5:4, 1). Terlebih pula halnya dengan Kristus. Ia bukan memuliakan diri-Nya sendiri untuk menjadi Imam Besar, melainkan Ia dilantik oleh Allah menjadi Imam Besar menurut aturan Melkisedek dalam kebangkitan-Nya (5:5-6). Sebagai Imam Besar, Harun mengurus hal-hal yang berkaitan dengan Allah untuk umat Israel, (ayat 1). Kristus lebih unggul daripadanya dalam hal melayani segala urusan kita di hadapan Allah. Harun mempersembahkan kurban penghapus dosa bagi seluruh umat dan dirinya sendiri, yang merupakan lambang belaka (5:1, 3). Kristus dalam realitasnya mempersembahkan diriNya sendiri sebagai kurban penghapus dosa.

Dalam 5:2 dikatakan bahwa sebagai imam besar, “Ia harus dapat mengerti orang-orang yang tidak tahu apa-apa dan sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan.” Dalam bahasa Yunaninya menunjukkan suatu perasaan yang tidak terlalu keras ataupun terlalu toleran terhadap orang-orang yang tidak tahu dan yang sesat, bersikap dengan tepat dan lembut dalam menilai situasi mereka. Pemikiran dalam ayat ini merupakan suatu kelanjutan dari 4:15. Walaupun tidak dipengaruhi oleh kelemahan seperti Imam Besar yang dipilih dari antara manusia, Kristus sebagai Imam Besar kita, telah dicobai dalam segala hal seperti kita. Karena itu, Dia dapat bersimpati kepada kelemahan kita, membelaskasihani kita, orang-orang yang tidak tahu dan sesat ini.

II. DIMULIAKAN OLEH ALLAH

A. Melalui Kebangkitan

Sebagai Imam Besar, Kristus dimuliakan oleh Allah melalui kebangkitan. Ibrani 5:5 menerangkan, “Demikian pula Kristus tidak memuliakan diri-Nya sendiri dengan menjadi Imam Besar, tetapi dimuliakan oleh Dia yang berfirman kepada-Nya, ‘Engkaulah Anak-Ku! Engkau telah menjadi anak-Ku (Kulahirkan) pada hari ini.’” Istilah “memuliakan” menggantikan “kehormatan” yang digunakan dalam ayat sebelumnya. Pada Imam Besar yang dipilih dari antara manusia, hanya ada kehormatan, suatu perkara kedudukan. Tetapi pada Kristus sebagai Imam Besar, bukan hanya ada kehormatan, juga ada kemuliaan; bukan hanya ada kemustikaan kedudukan-Nya, juga ada kemegahan persona-Nya. Dalam ayat 5 ini terdapat sebuah kutipan dari Mazmur 2:7 “AnakKu Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini.” Ini mengacu kepada kebangkitan Kristus (Kis. 13:33), yang melayakkan Dia menjadi Imam Besar kita. Untuk menjadi Imam Besar kita, Kristus harus berbagian dalam keinsanian kita, seperti yang disinggung dalam 2:14-18, dan juga harus membawa keinsanian ini masuk ke dalam kebangkitan. Dikatakan dari segi keinsanian-Nya, Dia dapat bersimpati kepada kita, membelaskasihani kita (4:15; 2:17). Dikatakan dari segi keilahian-Nya, dalam kebangkitan, Dia dapat melakukan segala sesuatu bagi kita, dan setia terhadap kita (7:24-25; 2:17).

Dalam 5:7 dikatakan bahwa Kristus “dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan air mata kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut.” Kata “menyelamatkan dari maut” ini bukan berarti Kristus tidak masuk ke dalam maut dan tidak mengalami penderitaan maut, ini berarti Dia bangkit dan keluar dari maut. Sebelum Dia mati, Kristus berdoa untuk hal ini, dan Allah menjawab dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati.

B. Dalam Kenaikan

Dalam ayat 6 terdapat sebuah kalimat yang dikutip dari Mazmur 110 yang mengatakan, “Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut aturan Melkisedek.” Ini mengacu kepada kenaikan dan penobatan Kristus (Mzm. 110:1-4). Ini adalah syarat yang lebih maju di luar kebangkitan-Nya, yang melayakkan-Nya menjadi Imam Besar kita (7:26). Kristus tidak hanya bangkit dari antara orang mati, bahkan telah naik ke tempat tertinggi di alam semesta. Dalam berita terdahulu telah kita katakan bahwa Kristus telah mengalahkan gaya tarik bumi, mengalahkan gangguan serangan setan-setan di bumi ini. Ketika Ia naik ke angkasa, seperti diwahyukan dalam Kolose 2:15, Ia juga telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum. Kata “melucuti” dalam bahasa aslinya dapat diartikan “mengibas” atau “menyapu”, seperti halnya mengibas debu dengan bulu ayam. Ketika Kristus naik ke angkasa, penguasa-penguasa itu menyerbu-Nya laksana serangga untuk menghalang-halangi-Nya naik ke atas. Tuhan Yesus tidak bergumul dengan mereka, Ia hanya mengibas mereka dengan ringan, mereka sudah berjatuhan dan jadi tontonan umum. Setelah itu Ia naik ke surga dan kini duduk di sebelah kanan Allah. Bila kita menjamah-Nya, kita menjamah Dia, Tuhan yang mengungguli segala-galanya, dan kita pun akan mengungguli segala-galanya. Tarikan bumi, setan-setan, penguasa-penguasa, dan semua hal negatif telah ditaklukkan oleh Dia. Betapa perlunya kita mengalami Kristus yang diwahyukan dalam Kitab Ibrani ini!

C. Menurut Aturan Melkisedek

Kristus menjadi Imam Besar kita adalah menurut aturan Melkisedek (5:6). Aturan Melkisedek lebih tinggi daripada aturan Harun. Aturan Harun hanya untuk keimaman dalam keinsanian, sedangkan aturan Melkisedek adalah untuk keimaman dalam keinsanian dan keilahian. Perihal ini dijelaskan sepenuhnya dalam pasal 7.

D. Selamanya sebagai Imam Besar

Harun dilantik sebagai imam besar dengan kehormatan hanya selama ia hidup, dan ia tidak dapat meneruskan jabatan itu karena terhalang oleh kematian. Tetapi Kristus, Putra Allah, ditetapkan sebagai Imam Besar dengan kemuliaan untuk selama-lamanya (5:6). Bagi-Nya tidak ada halangan kematian. Ia dimuliakan untuk menjadi Imam Besar kita selama-lamanya.

III. IMAM YANG SERUPA DENGAN MELKISEDEK

Alkitab hanya mengenal dua aturan imamat: aturan Harun dan aturan Melkisedek. Aturan Melkisedek adalah mendahului aturan Harun. Imamat Melkisedek bukan dida-tangkan oleh keturunan Abraham, melainkan oleh Abraham sendiri. Kita pernah mengatakan bahwa Adam ialah pemimpin umat yang tercipta, sedang Abraham sebagai pe-mimpin umat yang terpanggil. Adam telah gagal, tidak dapat menggenapkan kehendak kekal Allah, maka umat yang tercipta di bawah pimpinan Adam telah gagal, akhirnya Allah melepas (meninggalkan) umat yang tercipta. Pada masa Babel, segenap umat yang tercipta telah menjadi Tanah Kasdim. Sejak masa Nimrod, Kasdim penuh dengan berhala, yang sangat bertentangan dengan Allah sendiri. Umat manusia yang dipimpin oleh Adam telah menjadi tanah berhala, sehingga Allah yang Mahakuasa pun tidak berdaya berbuat apa-apa atas diri manusia. Akan tetapi, walau Allah telah meninggalkan umat yang tercipta, Ia tidak dapat meninggalkan kehendak kekal-Nya, yang memerlukan manusia untuk mengenapkannya. Karena itu, sesuai dengan ekonomi-Nya, Allah memanggil Abraham keluar dari umat tercipta yang telah jatuh itu, dan menjadikannya sebagai pemimpin umat yang terpanggil.

Sebagai kaum pilihan Allah, kita pun termasuk umat yang terpanggil. Kalau dahulu kita adalah bagian dari umat yang tercipta milik Kasdim yang berada di bawah pimpinan Adam, maka sekarang kita telah keluar dari tanah berhala itu. Di manakah Anda berada sebelum Anda beroleh selamat? Anda berada di tempat berhala. Dalam pandangan Allah, setiap hal, baik bermoral maupun amoral, baik atau buruk, luhur atau rendah, semua adalah berhala. Terpuji-lah Tuhan, Ia telah memanggil kita keluar dari Ur-Kasdim! Roma 8:29-30 mengatakan bahwa kita telah dipilih-Nya dari semula, ditentukan dari semula, dan dipanggil-Nya. Panggilan Allah ini bukanlah hal yang sepele, melainkan hal yang tinggi dan surgawi; karena itu kita harus membawa diri kita berpadanan dengan hal ini. Panggilan Allah lebih tinggi, lebih kaya, dan lebih penting daripada penciptaan-Nya. Haleluya, kita adalah anggota-anggota dari umat yang terpanggil ini! Abraham, bapa kita, ialah pemimpin umat ini. Imamat yang datang menjumpai pemimpin umat yang terpanggil ini bukan menurut aturan Harun, melainkan menurut aturan Melkisedek. Melkisedek menyambut Abraham dengan roti dan anggur, sedang Abraham mempersembahkan persepuluhan kepadanya (Kej. 14:18-20). Kedatangan Melkisedek kepada Abraham sebetulnya bukan untuk menerima persembahan persepuluhannya, melainkan ingin menyuplaikan roti dan anggur kepadanya.

Semalam sebelum berpisah dengan murid-muridNya, Tuhan Yesus juga menyuplaikan roti dan anggur kepada mereka (Mat. 26:26-27). Kekonsistenan Alkitab sangat ajaib. Melkisedek menyuplaikan roti dan anggur kepada Abraham, Tuhan Yesus juga menyuplaikan roti dan anggur kepada murid-muridNya. Tidak banyak di antara kita yang mengetahui bahwa pemecahan roti berhubungan dengan imamat Kristus menurut aturan Melkisedek; walaupun kita telah menikmati perjamuan Tuhan bertahun-tahun lamanya. Kali pertama Alkitab mengatakan tentang imamat, tercatat adanya seorang imam yang berasal dari Allah yang Mahatinggi, dan yang menyuplaikan roti dan anggur kepada bapa umat yang terpanggil.

Kita tidak tahu dari mana datangnya Melkisedek. Alkitab mencatat bahwa ia tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan (Ibr. 7:1-3). Demikianlah ia datang, dan demikian pula ia pergi.

Melkisedek adalah Raja Salem, salem adalah situs kuno kota Yerusalem. “Salem” berarti “damai”, sedang “Yeru” berarti “fondasi” (dasar). Jadi, Yerusalem berarti “fondasi damai”. Pada masa Melkisedek, hanya ada salem, belum ada Yerusalem; hanya ada damai, belum ada fondasi damai. Kali pertama Alkitab membicarakan imamat, Alkitab menyinggung orang ajaib yang adalah raja damai. Gelarnya yang kedua ialah raja kebenaran. Jika kita tidak memiliki kebenaran, kita tidak dapat memiliki damai, karena damai selalu berasal dari kebenaran. Pada diri Melkisedek ada kebenaran juga ada damai. Berdasarkan kebenaran dan damai inilah Ia menyuplaikan roti dan anggur kepada Abraham. Berdasarkan apakah kita datang ke perjamuan Tuhan? Rasa simpati atau belas kasihan? Bukan, melainkan berdasarkan kebenaran dan damai. Menurut Roma 3, 4, dan 5, kita telah dihitung benar dan dibenarkan. Hasilnya, kita menikmati damai. Roma 3 dan 4 mengatakan bahwa kita telah dibenarkan, dan Roma 5 mengatakan bahwa kita telah beroleh damai setelah dibenarkan. Berdasarkan kebenaran dan damai inilah kita dapat menikmati roti dan anggur di hadapan meja Tuhan. Dia, yang membawakan kebenaran dan damai, juga menyuplaikan roti dan anggur kepada kita. Dialah Imam Besar kita menurut aturan Melkisedek.

Apakah makna roti dan anggur yang dipakai dalam perjamuan Tuhan? Tentang roti Tuhan sendiri berkata, “Inilah tubuh-Ku” (Mat. 26:26), dan tentang anggur, Tuhan berkata, “Inilah darah-Ku” (Mat. 26:28). Ini menunjukkan kepada kita, roti dan anggur yang dipakai dalam perjamuan Tuhan menandakan Allah yang telah melalui proses, menunjukkan bahwa sebagai perwujudan Allah, Kristus telah melalui proses sehingga kini Ia dapat disuplaikan ke dalam kita.

Bila kita ingin mengerti hal-hal dalam Alkitab, harus-lah kita meneliti asal usulnya, yaitu melihat di mana hal itu dikatakan dalam Alkitab untuk kali pertama. Sebab pada penampilannya yang pertama terkandung prinsip azasi hal tersebut. Walaupun Surat Ibrani mengatakan tentang Melkisedek, bila kita ingin mengenalnya, kita perlu memeriksa Kejadian 14, yakni tempat Melkisedek dan masalah imamat disebut untuk kali pertama. Bila orang Kristen berpikir tentang Kristus sebagai Imam Besar mereka, sedikit sekali yang mau menoleh ke belakang memeriksa Kejadian 14. Ibrani 7 mengembalikan kita ke Kejadian 14, yakni ketika Melkisedek, raja kebenaran dan raja damai bertemu dengan Abraham yang baru mengalahkan raja-raja. Meskipun Melkisedek adalah seorang raja, tetapi pada waktu itu ia tidak datang dengan status raja, melainkan sebagai imam Allah yang Mahatinggi dengan membawa roti dan anggur. Hal ini kelihatannya sederhana dan tidak menarik, namun maknanya sangat dalam. Dalam Alkitab roti menyatakan suplai hayat. Tuhan Yesus berkata, “Akulah roti hidup” (Yoh. 6:35), berarti Ia adalah roti yang turun dari surga untuk mengaruniakan hayat kepada kita. Dalam Alkitab anggur melambangkan darah yang menggenapkan penebusan, untuk meleraikan haus kita. Sebagai manusia yang jatuh, kita berada di bawah hukuman Allah. Api hukuman keadilan Allah membakar di dalam kita sehingga kita merasa haus. Karena kehausan kita berasal dari hukuman Allah, maka air dunia tidak mungkin meleraikannya. Kehausan kita hanya dapat dileraikan oleh air hayat. Anggur bukan air, melainkan cairan hayati, yang berasal dari buah anggur, yakni suatu benda berhayat. Maka Tuhan Yesus memilih anggur sebagai lambang darah penebusan-Nya, kata-Nya, “Minumlah, kamu semua, dari cawan ini. Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa-dosa” (Mat. 26:27-28). Kedatangan Melkisedek dengan menyuplaikan roti dan anggur kepada Abraham, bapa kaum terpanggil, melambangkan kedatangan Kristus sebagai Allah yang telah melalui proses, menyuplaikan diri-Nya ke dalam kita. Ia melalui proses di atas salib sehingga menjadi suplai hayat kita dan anggur penebusan untuk meleraikan kehausan kita di bawah hukuman Allah. Dialah Allah Penebus, yang menyalurkan diri-Nya ke dalam kita, menjadi suplai dan kepuasan kita.

Ketika Alkitab membicarakan imam yang menurut aturan Harun, dikatakan bahwa mereka hanya dipilih untuk mempersembahkan persembahan dan kurban karena dosa, bukan untuk menyuplaikan roti dan anggur kepada umat. Pelayanan mereka kepada Allah terutama berupa mempersembahkan persembahan dan kurban karena dosa. Imamat menurut aturan Harun hanya memperhatikan umat Allah secara negatif. Akan tetapi Imam Besar menurut aturan Melkisedek telah berbuat lebih banyak. Ia tidak datang kepada Allah dengan membawa kurban karena dosa, melainkan datang dari Allah dengan membawa roti dan anggur.

Pada hari Paskah, orang harus membubuhkan darah dan memakan roti tidak beragi. Roti dan anggur yang diberikan kepada kita berasal dari hari Paskah. Ini berarti Kristus, Imam Besar kita hari ini menyuplaikan hasil penebusan-Nya ke dalam kita. Ia mati bagi kita, mempersembahkan tubuh-Nya, dan mengalirkan darah-Nya. Semuanya itu telah dilakukan-Nya sebelum Ia kembali kepada Allah Bapa. Menurut Surat Ibrani, Kristus mempersembahkan diri-Nya hanya satu kali sebagai kurban penghapus dosa dan telah membereskan masalah dosa untuk selamanya. Kemudian Ia membawa darah-Nya sendiri ke dalam tempat yang maha kudus di surga dan memercikkannya di hadirat Allah, sehingga penebusan pun genaplah. Kini, ditinjau dari segi penebusan, Kristus tidak perlu berbuat apa-apa lagi. Kini Ia duduk di sebelah kanan Allah. Namun, Ia tetap perlu menjadi Imam Besar kita, bukan datang kepada Allah, melainkan datang kepada kita. Kedatangan-Nya bukan untuk menanggulangi dosa-dosa kita, tetapi menyuplaikan roti dan anggur, yakni diri-Nya sendiri yang telah melalui proses kematian dan kebangkitan, menjadi suplai dan kepuasan kita. Hal ini jauh melampaui penebusan.

Hari ini kebanyakan orang Kristen berhenti pada aspek Kristus sebagai Penebus dan Juruselamat yang berdarah bagi mereka, mempersembahkan diri-Nya bagi mereka dan menjadi kurban pendamaian bagi mereka, sehingga mereka dapat diperdamaikan dengan Allah. Namun Surat Ibrani jauh lebih maju daripada ini, ini merupakan kitab yang benar-benar telah menyeberang sungai. Kristus yang diwahyukan dalam kitab ini bukan lagi hanya sebagai Penebus yang mempersembahkan kurban penghapus dosa kepada Allah, dan mengalirkan darah-Nya bagi dosa-dosa kita, melainkan Dia, yang setelah merampungkan semuanya itu, kemudian datang kepada kita dengan cara yang misterius. Ketika datang ke dalam roh kita, Ia datang bukan sebagai Penebus kita, tetapi sebagai Imam Besar kita yang menurut aturan Melkisedek. Ia datang bukan untuk mempersembahkan kurban apa bagi kita, melainkan menyuplaikan diri-Nya kepada kita dalam bentuk roti dan anggur, sebagai keperluan kita dari hari ke hari, serta menjadi kepuasan kita. Banyak orang Kristen begitu lemah, karena mereka tidak menikmati suplai ini. Meskipun mereka memiliki Kitab Ibrani di tangan mereka, mereka juga mempunyai istilah “Imam Besar” dalam kosakata atau kamus mereka, namun mereka tidak memiliki banyak pengalaman atas Kristus sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek, yang menyuplaikan diri-Nya ke dalam mereka.

Surat Ibrani mewahyukan bahwa Kristus telah menggenapkan seluruh permintaan Allah. Karena itu, baik Allah maupun Tuhan Penebus, hari ini telah beroleh perhentian hari Sabat. Dalam kitab ini, Kristus bukan sedang melakukan pekerjaan penebusan, melainkan sedang duduk, sebab segala tuntutan keadilan, kekudusan, dan kemuliaan Allah telah dipenuhi-Nya. Hari ini Ia adalah Kristus yang berada dalam perhentian, Allah pun menikmati perhentian hari Sabat bersama-Nya di dalam Dia. Ketika kita masuk ke dalam hidup gereja, kita beroleh perhentian dan menikmati perhentian bersama dengan Kristus, dengan Allah.

Surat Ibrani juga mewahyukan, meskipun Kristus Sang Sabat ini telah menggenapkan pekerjaan penebusan, namun Ia sangat aktif sebagai Imam Besar kita, yaitu menyuplaikan diri-Nya yang telah melalui proses menjadi roti dan anggur, ke dalam kita bagi keperluan sehari-hari kita. Karena itu, Kristus menjadi Imam Besar bukan menurut aturan Harun, melainkan menurut aturan Melkisedek. Hari ini Ia bukan Imam Besar yang mempersembahkan kurban-kurban, melainkan yang menyuplaikan roti dan anggur. Haleluya! Kita memiliki kebenaran dan damai, namun kebenaran dan damai saja tidak dapat memuaskan kita, kita masih perlu sesuatu untuk makan dan minum. Kita perlu suplai untuk sehari-hari. Maka atas dasar kebenaran dan damai Allah, Melkisedek kita menyuplaikan roti dan anggur untuk kita makan dan minum. Ia telah menebus kita, kini Ia sedang merawat kita.

Pertama-tama, kita perlu imamat Kristus, seperti yang dilambangkan oleh Harun, untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa. Setelah itu kita perlu imamat-Nya yang menurut aturan Melkisedek untuk memberikan suplai hayat kepada kita, yaitu menyuplaikan Allah yang telah melalui proses menjadi suplai kita untuk menggenapkan kehendak kekal Allah. Namun, mempersembahkan kurban penghapus dosa hanyalah untuk menghadapi situasi negatif. Kehendak semula Allah bukanlah menebus kita, tetapi memberikan dan menggarapkan diri-Nya ke dalam kita. Karena kita telah jatuh, Ia harus menolong kita, menebus kita, dan mendamaikan kita dengan Allah. Ini semua adalah fungsi imamat-Nya yang dilambangkan oleh Harun. Imamat-Nya yang menurut aturan Melkisedek adalah untuk kehendak Allah yang semula. Andaikan kita tidak jatuh, kita tidak perlu imamat yang dilambangkan oleh Harun, namun kita tetap memerlukan imamat Kristus yang menurut aturan Melkisedek yang menyuplaikan Allah ke dalam kita. Kebanyakan orang Kristen hanya mengerti imamat Kristus seperti yang dilambangkan oleh Harun, yakni untuk pendamaian. Mereka tidak nampak Kristus sebagai Imam Besar menurut aturan Melkisedek yang menyuplaikan Allah ke dalam mereka. Tetapi menurut Surat Ibrani, Kristus sebagai Imam Besar kita terutama bukan mempersembahkan kurban penghapus dosa, melainkan menyuplaikan roti dan anggur.

Dalam pengalaman saya di masa-masa permulaan, hampir setiap kali saya berlutut, saya selalu berdoa, “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengalirkan darah-Mu bagiku! Terima kasih karena Engkau telah menjadi Penebusku!” Pada saat itu saya tidak pernah mengira saya masih dapat menghampiri takhta anugerah dan menikmati suplai roti dan anggur dari seorang Imam Besar yang demikian positif ini. Setiap pagi saya mengaku kegagalan saya yang kemarin, dan mengharap agar hari ini saya dapat berbuat lebih baik. Tetapi hari ini saya gagal lagi dan keesokan harinya saya akan mengaku dosa sekali lagi. Hal demikian berlangsung dari hari ke hari. Saya hanya tahu Kristus sebagai Imam Besar seperti yang dilambangkan oleh aturan Harun. Beberapa tahun kemudian saya baru mengetahui bahwa saya boleh datang menghampiri takhta anugerah untuk menjamah Imam Besar yang dapat menyuplaikan roti dan anggur kepada saya. Saya tidak perlu mencoba untuk berbuat baik, yang saya perlukan hanyalah datang ke takhta anugerah dan menikmati Imam Besar yang positif yang menyuplaikan roti dan anggur ini. Inilah sarapan yang terindah. Setiap kali menikmati sarapan yang demikian, sepanjang hari berlangsung dengan baik. Sebagaimana tiap hari kita memerlukan sarapan jasmani, maka setiap pagi kita perlu menikmati Kristus sebagai sarapan kita. Takhta anugerah adalah meja makan kita yang terindah, di mana kita dapat menikmati Kristus secara positif. Kristus adalah Melkisedek kita hari ini. Kita sangat perlu datang ke takhta anugerah di hadapan-Nya, yang menyuplai kita dengan roti dan anggur.

Dalam 4:14 dikatakan, “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah,” dan 4:16 menyambung, “Sebab itu, marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah, supaya kita menerima rahmat dan menemukan anugerah untuk mendapat pertolongan pada waktunya.” Ketika kita tiba di pasal 5, kita nampak Imam Besar yang kita jumpai di takhta anugerah itu bukanlah imam yang dilambangkan oleh imamat Harun, melainkan menurut aturan Melkisedek, yang menyuplaikan roti dan anggur kepada kita.

Kristus, Imam Besar kita, adalah Anak Allah, yang telah dikukuhkan menjadi Imam Besar kita, bukan menurut hukum perintah daging, melainkan menurut kuasa hayat yang tidak dapat binasa (7:16). Karena sifat ilahi dan hayat kebangkitan-Nya, Ia dapat menyuplaikan Allah yang telah melalui proses berikut berkat ilahi; bukan kepada orang berdosa, melainkan kepada mereka yang seperti Abraham, berperang bagi kepentingan Allah (Kej. 14:18-20).

PANGKAL KESELAMATAN YANG KEKAL

I. KESELAMATAN YANG KEKAL

Keselamatan kekal yang kita peroleh di dalam Kristus (5:9) adalah berdasar pada penebusan kekal yang digenapkan-Nya bagi kita (9:12), yang jauh lebih indah daripada penebusan sementara yang dilakukan imam-imam menurut aturan Harun. Penebusan sementara itu hanya dapat menutupi dosa, tidak dapat menghapusnya; sedangkan penebusan kekal Kristus telah menghapus dosa, membereskan masalah dosa untuk selama-lamanya. Tidak hanya demikian, keselamatan kekal Kristus bukan hanya suatu penebusan yang obyektif untuk membereskan masalah dosa kita di pihak negatifnya, tetapi juga keselamatan subyektif yang me-nyelamatkan kita ke dalam kesempurnaan dan pemuliaan-Nya di pihak positifnya. Keselamatan kekal yang demikian tidak saja tidak terbatas oleh waktu dan ruang, bahkan merangkum seluruh unsur dan sifat ilahi. Unsur maupun sifat ilahi Kristus itulah yang menjadi unsur pokok keselamatan kekal-Nya, yang tidak saja dapat menyelamatkan kita dari hal-hal yang paling negatif, juga menyelamatkan kita ke dalam segala hal yang paling positif, yaitu ke dalam Allah sendiri. Inilah keselamatan yang merangkum segala-galanya, tidak terbatas oleh waktu maupun ruang.

II. PANGKAL

A. Pribadi Kristus sebagai Imam Besar

Pribadi Kristus, yang menjadi Imam Besar kita menurut aturan Melkisedek, adalah pangkal keselamatan kekal kita (5:6-10). Asalkan Ia menyertai kita, tidak mungkin kita menjadi lemah. Dialah pangkal keselamatan kekal, maka Ia telah membuat pengaruh, faedah, dan hasil yang dicapai keselamatan tersebut menjadi kekal, jauh melampaui batasan waktu maupun ruang. Beberapa saudara berkata kepada saya bahwa mereka tidak berani pulang sebab istri mereka pemberang. Ada pula saudari yang mengatakan bahwa suami mereka juga demikian, bahkan mengatakan mereka sampai tidak tahan tinggal di rumah. Seolah-olah keselamatan mereka tidak kekal, dan tidak dapat menjangkau lingkungan keluarga mereka. Ada juga beberapa saudara yang mengatakan kepada saya bahwa mereka tidak mau kembali ke kota asal mereka, dengan alasan keadaan gereja di kota itu terlalu rumit. Saya lalu berkata, “Bila keselamatan kalian tidak berfaedah di kota kalian, itu berarti keselamatan kalian bukan keselamatan yang kekal.” Di mana saja dan kapan saja, kita selalu memiliki pangkal keselamatan yang kekal. Itulah sebabnya saya selalu menganjuri saudara saudari yang kecewa pulang ke rumah masing-masing. Saya pernah berkata kepada seorang saudari, “Pulanglah ke rumahmu! Buat apa takut kepada suamimu? Dia bukan seekor harimau. Dengan hayat Kristus, telan saja dia.” Saya dapat bersaksi kepada kalian, beberapa saudari setelah pulang, mereka dapat bersandar hayat Kristus menelan suami mereka, bahkan ada yang menawan suaminya ke dalam gereja. Maka janganlah takut kepada suami atau istri Anda, sebab sebagai Imam Besar, Kristus adalah pangkal keselamatan kekal kita.

Walaupun kita mempunyai Kristus sebagai Pemimpin keselamatan dalam Ibrani 2, namun sebelum kita datang kepada Kristus sebagai Imam Besar yang menurut aturan Melkisedek dalam Ibrani 5, kita belum memiliki pangkal keselamatan kekal. Kristus bukan hanya Yosua kita hari ini, tetapi juga Melkisedek kita yang kekal. Sebagai Yosua, Pemimpin keselamatan kita, Dia memimpin kita maju ke depan, dan kita mengikuti Dia. Sebagai Melkisedek, pangkal keselamatan kekal kita, Dia menyuplaikan diri-Nya sebagai roti dan anggur kepada kita, agar kita makan dan minum Dia. Ketika Melkisedek kita datang kepada kita, Ia bukan meminta apa-apa dari kita, melainkan datang dengan membawa roti dan anggur untuk kita. Anda merasa letih lesu? Dialah roti Anda. Anda merasa haus? Dialah anggur Anda. Makanlah Dia, minumlah Dia, dan nikmatilah Dia sebagai suplai kita. Tiap kali kita datang ke perjamuan Tuhan, kita mengumumkan kepada alam semesta bahwa hidup kita adalah demi memakan roti ilahi dan demi meminum anggur ilahi sebagai suplai kita sehari-hari. Inilah cara hidup kita. Tidak banyak orang yang menyadari hal ini ketika mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan. Kita semua wajib nampak bahwa meja perjamuan itu melambangkan Kristus hari ini adalah Melkisedek kita, yang menyuplai kita dengan roti dan anggur. Saya katakan sekali lagi, inilah pangkal keselamatan kekal kita.

B. Pengalaman atas Kristus dalam Penderitaan-Nya untuk Kesempurnaan-Nya

Kristus disempurnakan menjadi Imam Besar kita melalui penderitaan-Nya (5:8-10). Dalam keselamatan kekalNya, kita perlu mengalami Dia di dalam penderitaanNya. Bila kita mengalami Dia di dalam penderitaan-Nya kita pun akan diselamatkan ke dalam kesempurnaan-Nya. Pengalaman atas Kristus di dalam penderitaan-Nya untuk mencapai kesempurnaan ini adalah melalui menikmati Dia sebagai Imam Besar kita. Masalah ini akan kita bahas lebih rinci ketika kita sampai pada pasal 7.