← Daftar isi Ibrani (2) · bab 8/17

MURTAD DARI ALLAH YANG HIDUP KARENA HATI JAHAT DAN TIDAK PERCAYA, FIRMAN HIDUP

ALLAH, DAN BAGIAN-BAGIAN MANUSIA

MURTAD DARI ALLAH YANG HIDUP KARENA HATI JAHAT DAN KETIDAKPERCAYAAN

Dalam berita ini kita perlu membahas tiga hal: murtad dari Allah yang hidup karena hati jahat dan tidak percaya, firman hidup Allah, dan bagian-bagian manusia. Ibrani 3:12 mengatakan, “Waspadalah, Saudara-saudara, supaya di antara kamu jangan terdapat seorang pun yang hatinya jahat dan tidak percaya sehingga murtad dari Allah yang hidup.” Hati yang tidak percaya adalah hati yang paling jahat, yang paling berdosa terhadap Allah. Daud pernah melakukan satu dosa besar, yaitu membunuh orang dan merampas istrinya. Namun menurut pemerintahan Allah, dosanya itu tidak terlalu berat, karena itu Allah tidak membuang dia. Akan tetapi, ketidakpercayaan bani Israel di padang gurun menyebabkan Allah membuang mereka. “Ketidak percayaan” menghina dan menentang diri Allah. Setiap dosa pasti melanggar hukum Allah yang adil, tetapi belum tentu menghina diri Allah sendiri. Namun “ketidak percayaan” adalah dosa yang paling berat, karena langsung menentang dan menghina Allah sendiri.

I. ALLAH YANG HIDUP

Allah kita adalah Allah yang hidup. Ketidakpercayaan begitu jahat, karena menghina Allah yang hidup, yang setia, dan yang Mahakuasa. Bila kita tidak percaya kepada Allah, kepada pekerjaan-Nya, dan kepada cara-Nya, itu sudah menghina Dia. Karena itu, kita harus waspada terhadap hati yang tidak percaya ini. Ayat 10 mengatakan, “Itulah sebabnya Aku murka kepada orang-orang itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku.” Jalan Allah berbeda dengan pekerjaan-Nya. Pekerjaan-Nya adalah perbuatan-Nya, sedang jalan-Nya adalah prinsip perbuatan-Nya. Bani Israel hanya mengetahui per-buatan Allah, namun Musa mengerti jalan Allah (Mzm. 103:7). Ketika bani Israel berada di padang gurun, hampir tiap pagi mereka melihat mukjizat, yaitu manna. Andai kata mukjizat itu terjadi pada hari ini, pasti dimuat dalam koran-koran di seluruh dunia. Walaupun bani Israel mengalami mukjizat itu, mereka hanya mengetahui perbuatan Allah, mereka tidak seperti Musa mengenal jalan dan kesetiaan Allah. Janganlah kita seperti bani Israel itu; kita harus mempelajari dan mengenal jalan dan prinsip Allah. Tiap kali bani Israel kekurangan makanan dan air minum, mereka bersungut-sungut kepada Allah. Setiap kali Allah mengabulkan keinginan mereka, mereka segera bersukacita. Tetapi tidak lama berselang, mereka berdosa lagi kepada Allah. Kalau kita menilik keadaan diri kita sendiri, kita tidak akan mencela mereka, sebab keadaan kita serupa dengan orang bebal. Mungkin dalam sidang tadi malam kita berteriak, “Puji Tuhan!” Tetapi esok paginya kita bersungut-sungut kepada Tuhan. Kita semua harus mengenal jalan Allah. Allah itu hidup, dan Ia melakukan sesuatu menurut jalan dan prinsip-Nya, Ia selamanya tidak pernah memungkiri diri-Nya sendiri. Ia Mahakuasa dan setia janji, apa yang telah dijanjikan-Nya pasti digenapi-Nya, dan apa yang dikatakan pasti akan dilakukan-Nya.

II. HATI JAHAT

Walau Allah itu hidup dan setia janji, namun hati jahat itu keras terhadap-Nya (3:8). Di satu aspek, hati jahat itu mempunyai banyak dalih, banyak alasan; di aspek lain, hati jahat itu juga degil, tanpa aturan, sebab telah membeku, te-lah meninggalkan jalan benar, tanpa mengerti prinsip Allah atau jalan Allah, bahkan mencobai Allah (3:9). Pada akhirnya, hati yang demikian selain menipu dirinya sendiri juga akan tertipu (3:13). Itulah keadaaan hati yang jahat. Hati jahat ini selalu berawal dari mengeraskan hati. Jika hati kita menjadi keras, sangatlah berbahaya! Kita perlu senantiasa memohon Allah untuk melunakkan hati kita, dengan berkata, “Tuhan, belas kasihanilah aku. Lunakkan hatiku dan jangan biarkan hatiku menjadi keras.”

III. TIDAK PERCAYA

Hati yang jahat melahirkan ketidak percayaan, dan ketidak percayaan berdalih menurut konsepsi alamiah, bukan menurut prinsip Allah. Perhatikan alasan yang dipakai bani Israel dalam Bilangan 13:31-33. Alasan mereka mengandung unsur-unsur dusta. Karena mereka berkata, “Negeri yang telah kami lalui untuk diintai adalah suatu negeri yang memakan penduduknya.” Ini adalah dusta. Yosua dan Kaleb sebaliknya berkata, “Janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka” (Bil. 14:9). Perkataan Yosua dan Kaleb barulah yang benar. Namun, bani Israel tidak berdalih berdasarkan kebenaran, melainkan berdasarkan dusta, tanpa mengindahkan jalan Allah.

Pada mulanya, Allah berjanji kepada Musa bahwa Ia akan membawa bani Israel ke dalam tanah permai. Perkataan Allah ini seharusnya cukup menjamin mereka. Misalkan seorang jutawan memberi Anda selembar cek bernilai US $10,000.00 yang telah ditanda tangani. Kalau Anda tidak mempercayai cek itu, berarti Anda menghina dia. Anda tidak seharusnya berkata, “Aku tidak percaya bahwa aku telah mendapatkan US $10,000.00 sebab untuk membeli sepasang sepatu saja aku tidak punya uang.” Perkataan demikian merupakan penghinaan bagi jutawan itu. Allah telah berkata kepada Musa, “Pergilah, kumpulkanlah para tua-tua Israel dan katakanlah kepada mereka: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak dan Yakub, telah menampakkan diri kepadaku, serta berfirman: Aku sudah mengindahkan kamu, juga apa yang dilakukan kepadamu di Mesir. Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir menuju ke negeri orang Kanaan . . . ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya” (Kel. 3:16-17). Perkataan ini lebih dapat dipercaya daripada selembar cek yang telah ditanda tangani seorang jutawan. Bani Israel seharusnya mempercayai perkataan ini dan memahami jalan Allah; mereka seharusnya berkata, “Ya Allah, Engkau pasti tidak membiarkan kami mati di padang gurun. Bila Engkau tidak membawa kami menuju Tanah Kanaan, bagaimanakah perkataanMu dapat dipertahankan? Kami tidak peduli berapa banyak raksasa di sana, sekalipun negeri itu penuh dengan setan, kami akan menelan mereka, sebab Engkau telah berjanji untuk membawa kami memasuki negeri itu!” Ini barulah pemikiran yang tepat, yaitu pemikiran yang sesuai dengan jalan, prinsip, kesetiaan, dan kuat kuasa Allah. Sayang sekali mereka tidak berkata demikian, sebaliknya berkata, “Semua orang yang kami lihat di sana adalah orang-orang yang tinggi-tinggi perawakannya, . . . dan kami lihat diri kami seperti belalang.” Itulah logika ketidak percayaan, logika berdalih berdasarkan konsepsi alamiah, tanpa mengindahkan jalan Allah, dan tidak bersandar pada kesetiaan Allah. Yosua dan Kaleb bangkit membantah dalih semacam itu, mereka mengumumkan kepada segenap umat bahwa mereka pasti dapat memperoleh tanah itu. Yosua dan Kaleb menghormati Allah, karena itu Allah pun menghormati mereka. Percaya kepada Allah berarti sangat menghormati Allah, tidak percaya kepada Allah berarti sangat tidak menghormati Allah, bahkan sangat menghina Allah.

Ketidakpercayaan mendatangkan ketidaktaatan, ketegaran, dan pemberontakan (Ibr. 3:18), dan membangkitkan amarah Allah (3:8, 16). Karena tidak percaya, bani Israel akhirnya murtad terhadap Allah yang hidup. “Murtad” di sini dapat juga diartikan berpaling melepaskan, meninggalkan, menjauhi. Walaupun Allah itu hidup dan setia janji, namun ketidakpercayaan menyebabkan kita meninggalkan Allah. Bila kita meninggalkan Allah, bagaimana Ia bisa berbuat apa-apa lagi untuk kita? Karena bani Israel tidak percaya, mereka tidak dapat memasuki perhentian, bahkan jatuh dan mati di padang gurun (3:18-19). Allah bersumpah bahwa mereka tidak akan masuk ke dalam perhentian-Nya, “mayatnya bergelimpangan di padang gurun” (3:17). Betapa seriusnya akibat hati jahat yang tidak percaya itu! Allah dipaksa sedemikian rupa sehingga tidak dapat berbuat apa-apa lagi bagi bani Israel, sebab Ia tidak dapat mengingkari prinsip-Nya sendiri, Ia pun tidak dapat menentang diri-Nya sendiri. Jangan sekali-kali kita melanggar Allah hingga Ia tidak dapat berbuat apa-apa di atas diri kita. Hal ini sangat mengerikan!

IV. PADA HARI INI

Setelah beberapa waktu, penulis Mazmur demi ilham Allah menubuatkan, “Pada hari ini, sekiranya kamu mendengar suara-Nya! Janganlah keraskan hatimu . . . seperti pada hari . . . di padang gurun, pada waktu nenek moyang-mu mencobai Aku” (Mzm. 95:7-9). Dalam ilham Roh Kudus penulis Surat Ibrani memahami sepenuhnya apa yang dimaksud oleh Mazmur 95 itu. Istilah kecil “pada hari ini” telah membuka jendela surgawi. Karena dulu di padang gurun orang Israel membangkitkan amarah Allah, maka jendela berkat surgawi tertutup. Bani Israel telah membangkitkan amarah Allah sedemikian rupa sehingga Dia tidak dapat berbuat apa-apa bagi mereka. Selang beberapa waktu lamanya, demi belas kasihan-Nya, Ia bernubuat melalui pemazmur, yaitu menasihati umat-Nya agar mendengar suara-Nya dan jangan mengeraskan hati, bahkan menubuatkan pada suatu hari kelak, jendela surga akan dibuka lagi. Hari itu tiba ketika gereja muncul. Berkat hari Sabat yang hilang karena kekerasan hati mereka akan diperoleh kembali ketika gereja muncul. Ibrani 4:7 mengatakan, “Karena itu, Ia menetapkan lagi suatu hari, yaitu ‘hari ini’, ketika Ia berfirman dengan perantaraan Daud jauh di kemudian hari, seperti dikatakan di atas, ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!’” Perkataan ini ditulis untuk kaum beriman Ibrani, yakni keturunan mereka yang dulu membangkitkan amarah Allah di padang gurun dengan jalan mengeraskan hati mereka. Penulis seolah-olah berkata kepada mereka, “Saudara-saudara, janganlah mengeraskan hati seperti nenek moyang kalian. Sekarang kita hidup pada hari yang lain, yaitu pada ‘hari ini’, seperti yang tertulis dalam Mazmur 95. Maka gunakanlah hari ini untuk melembutkan hati dan mendengarkan suara-Nya. Suara-Nya mengatakan bahwa Kristus lebih indah daripada malaikat, Musa, dan Harun; Perjanjian Baru yang didirikan Kristus jauh lebih indah daripada Perjanjian Lama yang disampaikan melalui Musa. Karena itu kita harus berusaha keras untuk memasuki hari yang dijanjikan itu, yaitu hari Sabat dalam hidup gereja.” Jika pada zaman gereja kita mendengarkan suara-Nya dan tidak mengeraskan hati, kita tidak akan membangkitkan amarah Allah, dan tidak mungkin pula meninggalkan Allah yang hidup. Kita akan percaya kepada-Nya dan memasuki perhentian itu.

FIRMAN ALLAH YANG HIDUP

Setelah berbicara banyak tentang Mazmur 95, penulis Surat Ibrani tiba-tiba berkata dalam 4:12, “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk sangat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup menilai pikiran dan niat hati kita.” Kata “sebab” pada awal ayat ini mengaitkannya dengan ayat yang di depannya. Mengapa di sini penulis tiba-tiba menyinggung firman Allah? Karena janji dalam Mazmur 95 adalah firman Allah. Tiap kali kita membaca Alkitab, bagi kita itu seharusnya hidup, kuat, bahkan cukup tajam untuk memisahkan dan membedakan apa yang terkandung dalam hati kita. Jika tidak demikian, berarti kita belum menjamah firman Allah sesungguhnya, hanya melihat huruf-huruf hitam di atas kertas putih saja. Huruf hitam yang tercetak di atas kertas putih tidaklah mengandung kehidupan dan kekuatan. Setiap kata dalam Alkitab harus merupakan firman Allah yang hidup dan berkhasiat. Bagaimana kita mengetahui bahwa firman Allah yang kita jamah bukan hanya huruf cetakan belaka? Kita mengetahuinya karena firman yang kita jamah itu hidup dan kuat, bahkan memisahkan jiwa dengan roh kita. Inilah suatu prinsip yang penting.

Penulis seolah-olah mengatakan, “Saudara-saudara Ibrani, kalian mengindahkan Perjanjian Lama, khususnya Kitab Mazmur. Salah sebuah ayat dari Mazmur mengatakan, ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya.’ Entah ayat tersebut telah kalian baca berapa kali, namun mengapa ia tidak berkhasiat bagi diri kalian? Sekarang aku ingin memakai mazmur ini untuk berbincang-bincang dengan kalian. Firman Allah ini pasti hidup dan berkhasiat, ia dapat memisahkan jiwa dan roh kita. Saudara-saudara, mengapa kini kalian bimbang dan ragu? Itu karena roh dan jiwa kalian masih belum terpisah. Kadang-kadang, ketika kalian dalam keadaan tenang, roh yang ada dalam lubuk kalian selalu menyuruh kalian bangkit dan maju mengikuti Kristus, yaitu Mesias hari ini. Walaupun dalam roh kalian merasakannya sangat jelas, namun kalian beralih dari roh ke dalam jiwa, sehingga pikiran jiwa kalian bimbang dan ini membuat jiwa kalian mengembara tak menentu. Karena roh kalian bercampur dengan jiwa, maka aku menggunakan firman Allah yang hidup, yang lebih tajam daripada pedang bermata dua, yang dapat menusuk ke dalam kekacauan kalian, memisahkan roh dan jiwa, agar kalian nampak kebodohan diri sendiri. Janganlah kalian mengembara lagi dalam jiwa kalian. Beralihlah dari jiwa ke dalam roh. Jangan banyak berpikir, berbincang-bincang, ragu-ragu atau bimbang. Semakin kalian berbincang-bincang dan meragukan, kalian akan semakin terjerumus ke dalam pikiran kalian yang bimbang.”

Banyak di antara kita yang pernah mengalami hal yang demikian. Sebelum kita menempuh hidup gereja, keadaan kita selalu terkatung-katung. Pada suatu hari kita terpikat oleh hidup gereja, lalu timbullah suara dalam roh kita yang terdalam: “Inilah dia!” Akan tetapi pikiran kita mulai bimbang dan bertanya-tanya, “Apakah ini benar? Jika benar, mengapa tokoh-tokoh rohani tidak mempraktekkannya?” Karena pengaruh latar belakang kita, kita mulai mengembara di padang gurun. Namun, dalam keheningan malam, ada sesuatu yang lebih dalam daripada pikiran kita mengganggu kita, mengatakan, “Hidup gereja itulah yang benar.” Saat-saat demikian, kita dibuatnya sukar tidur, bekerja pun tidak enak. Suatu hari, ketika firman Allah yang hidup masuk ke dalam kita, memisahkan kita, dan memperlihatkan mana yang berasal dari roh, mana yang berasal dari jiwa, saat itu barulah kita beroleh perhentian.

Firman Allah yang hidup harus menusuk ke dalam kita, dan memisahkan roh dan jiwa kita. Hidup gereja mutlak berada dalam roh. Kita mudah sekali merosot ke dalam agama. Tetapi untuk memasuki hidup gereja perlulah kita tertusuk dan terpisah oleh firman Allah yang hidup. Hanya firman Allah yang dapat memisahkan jiwa dengan roh kita. Jiwa kita seperti kertas perekat lalat yang lengket, ia sangat mudah melekat pada roh kita. Karena itu, kita perlu firman Allah yang hidup untuk menusuk dan memisahkan. Bukan hanya ketika kita baru memasuki hidup gereja kita perlu pengalaman demikian, setelah itu kita pun harus sering mengalaminya. Sering kali ketika Allah datang kepada kita, roh kita bereaksi. Namun, jiwa kita juga bereaksi, terutama di dalam pikiran kita. Tuhan mungkin berkata di dalam roh kita, “Serahkanlah dirimu kepada gereja!” Tetapi jiwa yang lengket itu akan berkata melalui pikiran, “Hati-hati. Jangan terlalu percaya kepada gereja. Bukankah para saudara yang memimpin juga melakukan kesalahan seperti orang lain. Lihat Saudara A. Ia memang baik, tetapi ia tidak sempurna.” Bila pikiran kita bergerak demikian, kita segera mulai terkatung-katung. Hanya Allah yang berbelas kasih dan setiawan, yang dengan firman hidup menusuk ke dalam lubuk kita, barulah kita dapat dibebaskan dari pikiran yang terkatung-katung itu. Itulah sebabnya kita perlu Alkitab. Ketika kita membaca Alkitab, kalau Alkitab tidak hidup dan tidak mengandung kuat kuasa, pasti ada yang salah. Meskipun banyak orang Kristen menganggap Alkitab sebagai buku cetakan belaka, namun dari hari ke hari kita memanfaatkannya sebagai firman Allah yang hidup.

I. PENGALIRAN ALLAH YANG HIDUP

Firman Allah yang hidup adalah pengaliran Allah yang hidup. Pengaliran ini mendatangkan hayat Allah (Yoh. 1:4), terang Allah (Mzm. 119:105, 130), bahkan Allah sendiri (Yoh. 1:1). Karena Alkitab adalah hembusan Allah (2Tim. 3:16), maka firman Allah dalam Alkitab juga adalah pengaliran Allah. Aliran ini membawakan hayat Allah, terang Allah, bahkan Allah sendiri ke dalam kita.

II. HIDUP

Karena firman Allah itu pengaliran Allah, adalah roh dan hayat (Yoh. 6:63), maka firman Allah juga hidup. Dalam pengalaman kita, seluruh Alkitab seharusnya tidak menjadi huruf-huruf yang mati, melainkan yang hidup, yaitu sebagai roh dan hayat.

III. KUAT

Firman Allah juga kuat adanya. “Kuat” di sini boleh juga diartikan berkhasiat atau berenergi. Firman hidup Allah memberikan kekuatan di batin kita, untuk melakukan sesuatu bagi Allah.

IV. LEBIH TAJAM DARIPADA

PEDANG BERMATA DUA

Firman hidup Allah lebih tajam daripada pedang bermata dua yang mana pun (Ef. 6:17), dapat menusuk ke dalam batin dan memisahkan jiwa dari roh kita, bahkan sanggup membedakan pikiran dan niat hati kita. Sering kali firman Allah membedakan pikiran kita yang kacau. Pikiran kita tidak semuanya berasal dari neraka, dan tidak semua niat kita berasal dari ego. Adakalanya ada beberapa pikiran berasal dari surga, dan ada beberapa niat tertuju pada Allah. Namun sering kali pikiran dan niat kita bercampur aduk, karena itu perlu firman Allah yang hidup, yang berkhasiat, dan tajam itu menusuk ke dalamnya dan membedakan pikiran dan niat itu, sehingga kita tahu mana yang berasal dari diri sendiri dan untuk diri sendiri, serta mana yang berasal dari Allah dan untuk Allah. Bersandar diri kita sendiri, kita tidak dapat membedakannya. Namun bila firman Allah yang hidup itu masuk ke dalam kita, mudahlah kita membedakan mana pikiran yang bukan berasal dari Allah dan mana niat yang berasal dari Iblis.

BAGIAN-BAGIAN MANUSIA

Sekarang mari kita melihat bagian-bagian manusia. Hal ini telah kita bahas secara memadai dalam buku Ekonomi Allah dan “Bagian-bagian Manusia”.

I. TUBUH

Tubuh adalah organ kita yang di luar, yang berguna untuk menghubungi dunia lahiriah dan material. Tubuh tersusun dari banyak anggota dan dinyatakan dengan sendi-sendi dan sumsum dalam Ibrani 4:12.

II. JIWA

Jiwa adalah diri kita sendiri. Hal ini dapat kita buktikan melalui membandingkan Matius 16:26 dengan Lukas 9:25. Matius 16:26 mengatakan, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya (jiwanya)? Apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya (jiwanya)?” Lukas 9:25 mengatakan, “Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” Ini membuktikan bahwa jiwa atau nyawa kita adalah diri kita sendiri, yaitu manusia kita ini dan personalitas kita. Bila kita ingin mengikuti Tuhan, kita harus menyangkal jiwa kita, yakni diri kita sendiri (Mat. 16:24; Luk. 9:23).

Jiwa kita tersusun dari pikiran, tekad, dan emosi. Amsal 2:10 mengatakan, “Pengetahuan akan menyenangkan jiwamu.” Karena pengetahuan merupakan fungsi pikiran, maka ayat ini membuktikan pikiran adalah bagian dari jiwa. Mazmur 139:14 mengatakan, “Dan jiwaku benar-benar menyadarinya (mengetahuinya).” Sadar atau tahu juga adalah fungsi pikiran, ini juga membuktikan bahwa pikiran adalah sebagian dari jiwa. Mazmur 13:3 mengatakan, “Menaruh kekuatiran dalam diriku (Tl.: jiwaku).” Kekuatiran juga ditujukan kepada pikiran. Ratapan 3:20 mengatakan bahwa jiwa juga dapat mengingat. Dari ayat-ayat di atas kita mengetahui bahwa jiwa mempunyai satu bagian yang dapat mengetahui, khawatir, dan mengingat. Bagian itu adalah pikiran.

Bagian kedua dari jiwa ialah tekad atau kemauan. Ayub 7:15 mengatakan bahwa jiwa dapat memilih. Memilih adalah suatu keputusan yang dilakukan oleh tekad; ini membuktikan tekad adalah bagian dari jiwa. Ayub 6:7 mengatakan, “Jiwaku (aku, LAI) tidak sudi” yaitu menolak. Baik memilih maupun menolak adalah fungsi tekad. Satu Tawarikh 22:19 mengatakan, “Arahkanlah hati dan jiwamu untuk mencari TUHAN.” Kita menggunakan pikiran untuk berpikir; kita menggunakan jiwa untuk mencari. Ini jelas menerangkan bahwa jiwa adalah untuk memutuskan, dan membuktikan bahwa tekad juga merupakan bagian dari jiwa. Mazmur 27:12, 41:3, dan Yehezkiel 16:27 menerjemahkan jiwa (Ibrani) menjadi tekad (nafsu, nyawa, kesewenang-wenangan, LAI) dalam bahasa Ibrani semua adalah jiwa. Pemazmur berdoa, “Janganlah menyerahkan aku kepada nafsu lawanku.” Arti sebenarnya ialah “Janganlah serahkan aku kepada jiwa musuhku.” Ini pun merupakan bukti jelas bahwa kehendak atau tekad adalah bagian dari jiwa.

Emosi adalah bagian ketiga dari jiwa. Emosi mempunyai banyak aspek: kasih, benci, senang, duka, dan lain sebagainya. Tentang kasih dapat kita lihat dalam 1Samuel 18:1, Kidung Agung 1:7, dan Mazmur 42:2 (merindukan, Tl.) bahwa kasih terdapat dalam jiwa. Ayat-ayat itu membuktikan adanya satu organ atau satu fungsi di dalam jiwa, yakni emosi. Tentang benci, dapat kita lihat dalam 2Samuel 5:8, Mazmur 107:18 (muak, LAI) dan Yehezkiel 36:5 (cemburu, LAI). Sukacita juga termasuk emosi, dapat kita lihat dalam Yesaya 61:10 (bersukaria, LAI) dan Mazmur 86:4. Lalu ada duka, yang juga merupakan ekspresi lain dari jiwa kita, tercantum dalam 1Samuel 30:6 (pedih hati, LAI) dan Hakim-hakim 10:16 (tidak dapat lagi menahan hati, LAI). Ayat-ayat tersebut membuktikan bahwa jiwa mempunyai tiga bagian: Pikiran adalah bagian yang utama diikuti dengan tekad dan emosi.

III. ROH

Kalau tubuh adalah organ lahiriah kita untuk menghubungi dunia materi, maka roh adalah organ batiniah untuk menghubungi Allah (Za. 12:1; Ayb. 32:8; Ams. 20:27; Yoh. 4:24; Rm. 1:9; Yeh. 36:26). Kita adalah seorang manusia, yakni satu jiwa yang mengandung dua organ tubuh yang di luar dan roh yang di dalam. Roh merupakan satu unit lengkap yang tersusun dari tiga bagian yang mengandung tiga fungsi, yaitu hati nurani, persekutuan (komunikasi) dan intuisi (perasaan langsung). Kita semua tidak asing dengan fungsi hati nurani, yang dapat membedakan benar atau salahnya suatu hal, menuduh atau membenarkan. Persekutuan adalah komunikasi kita dengan Allah, ini juga tidak sukar dimengerti. Dalam roh kita ada suatu fungsi yang membuat kita dapat berkontak dengan Allah. Namun terhadap intuisi, kita tidak begitu mudah memahaminya. Intuisi adalah semacam perasaan atau pengetahuan langsung. Dalam roh kita terdapat suatu perasaan langsung yang datangnya bukan karena pengaruh lingkungan dan latar belakang atau alasan apa saja. Jadi intuisi adalah perasaan langsung yang berasal dari Allah, atau suatu pengetahuan yang langsung datang dari Allah. Maka kita dapat mengenal roh melalui hati nurani, persekutuan, dan intuisi.

Dengan membandingkan Roma 9:1 dengan Roma 8:16 kita dapat membuktikan bahwa hati nurani adalah bagian dari roh. Di satu pihak, Roh Kudus bersaksi bersama roh kita. Di pihak lain, hati nurani kita juga bersaksi bersama Roh Kudus. Ini membuktikan hati nurani adalah satu fungsi dari roh kita. Mazmur 51:12 mengatakan, “Perbaruilah batinku dengan roh yang lurus” (Tl.). Ini berarti roh adalah lurus, benar. Karena pengetahuan tentang benar dan salah merupakan fungsi hati nurani, maka ayat ini juga membuktikan hati nurani berada dalam roh.

Ayat Alkitab manakah yang mengatakan persekutuan berada dalam roh? Yohanes 4:24 mengatakan kita harus menyembah Allah di dalam roh. Menyembah Allah berarti berkontak dengan Allah, juga berarti bersekutu dengan Allah. Ini membuktikan bahwa fungsi roh ialah untuk menyembah atau bersekutu. Dalam Roma 1:9 Rasul Paulus mengatakan, “Allah, yang kulayani dalam rohku” (Tl.). Melayani Allah juga adalah semacam persekutuan dengan Allah. Ini juga membuktikan bahwa organ untuk bersekutu ada di dalam roh kita. Lukas 1:47 mengatakan, “Rohku bergembira di dalam Allah” (Tl.), yang menunjukkan bahwa roh manusia telah berkontak dengan Allah. Sekali lagi, persekutuan dengan Allah adalah fungsi roh. Satu Korintus 6:17 mengatakan, “Siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Persekutuan yang sejati adalah menjadi satu roh dengan Tuhan, dan persekutuan ini berada di dalam roh.

Tentang intuisi, dalam Alkitab dapat kita baca 1 Korintus 2:11, yang mengatakan bahwa roh manusia bisa mengetahui hal-hal yang tidak diketahui oleh jiwa. Ini membuktikan pengetahuan roh manusia lebih banyak daripada jiwa. Kalau jiwa kita mengetahui sesuatu berdasarkan alasan, suasana sekeliling, dan pengalaman, namun roh kita tidaklah demikian. Perasaan langsung yang demikian menyatakan bahwa intuisi kita terdapat di dalam roh kita. Markus 2:8 mengatakan bahwa Tuhan mengetahui di dalam roh-Nya (hati-Nya, LAI). Pengetahuan yang datangnya secara langsung, tanpa berdasarkan alasan apa pun, adalah intuisi, yakni fungsi yang ketiga dari roh. Karena itu, berdasarkan Alkitab, dapat kita katakan bahwa hati nurani, persekutuan, dan intuisi adalah ketiga fungsi dari roh manusia.

Roh adalah bagian manusia yang terdalam, yakni organ rohani yang dapat berhubungan dengan Allah. Kita dilahirkan kembali di dalam roh (Yoh. 3:6). Roh Kudus tinggal dan bekerja di dalam roh kita (Rm. 8:16). Menikmati Kristus di dalam anugerah juga terjadi di dalam roh (2Tim. 4:22; Gal. 6:18). Karena itu, penulis Ibrani menasihati kaum beriman Ibrani agar jangan lagi berkeliaran atau mengembara di dalam jiwa, tetapi berusaha keras untuk masuk ke dalam roh, mengambil bagian dan menikmati Kristus yang surgawi.

IV. HATI

Roh kita adalah organ untuk menghubungi Allah, sedang hati kita adalah organ untuk mengasihi Allah (Mrk. 12:30). Kalau roh kita ingin dapat menghubungi, menerima, menampung, dan mengalami Allah, haruslah kita terlebih dahulu memiliki sebuah hati yang mengasihi Allah.

Hati bukanlah bagian terpisah yang berada di luar roh dan jiwa, melainkan yang tersusun dari semua bagian jiwa ditambah dengan hati nurani (yakni bagian pertama dari roh). Maka hati ini tersusun dari hati nurani, pikiran untuk berpikir, tekad untuk berkemauan, dan emosi. Seorang manusia tersusun dari tiga bagian utama, yaitu roh, jiwa, dan tubuh, sedangkan hati bukanlah bagian yang keempat.

Apa dasar Alkitab bagi pendapat yang mengatakan bahwa hati tersusun dari pikiran, tekad, emosi, dan hati nurani? Ibrani 4:12 dan Kejadian 6:5 mengatakan tentang kecenderungan atau pikiran hati. Karena kecenderungan berada dalam pikiran, maka pikiran pasti adalah bagian dari hati. Kisah Para Rasul 11:23 mengatakan bahwa tekad juga merupakan bagian dari hati; di sana dikatakan tentang “kesungguhan (kehendak) hati”. Kehendak adalah fungsi tekad, ini membuktikan bahwa tekad juga merupakan bagian dari hati. Ibrani 4:12 mengatakan tentang niat hati. Niat berkaitan dengan tekad, sebab itu tekad adalah bagian dari hati. Yohanes 16:22 mengatakan bahwa hati kita bergembira. Bergembira adalah unsur emosi di dalam jiwa kita, tetapi di sini dikatakan hati bergembira. Sebab itu, emosi juga bagian dari hati. Dalam Yohanes 16:6 Tuhan mengatakan bahwa hati murid-murid akan berdukacita, ini juga membuktikan bahwa emosi berada di dalam hati. Mengenai hati nurani, Ibrani 10:22 mengatakan hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat. Ayat ini memperlihatkan betapa eratnya hubungan hati nurani dengan hati. Bila kita menginginkan sebuah hati yang bersih, haruslah kita terlebih dulu memiliki sebuah hati nurani yang tidak berhutang atau tercela. Hati nurani kita harus dipercik atau dibasuh agar kita memiliki hati yang bersih. Satu Yohanes 3:20 mengatakan bahwa hati kita bisa menuduh kita, juga membuktikan hal ini. Karena menegur adalah fungsi hati nurani, 1 Yohanes 3:20 membuktikan bahwa hati nurani adalah bagian dari hati. Jadi, kita memiliki cukup banyak ayat Alkitab sebagai dasar untuk membuktikan bahwa hati kita tersusun dari ketiga bagian jiwa ditambah dengan bagian utama dari roh.

V. KETIGA BAGIAN MANUSIA BERKAITAN DENGAN KETIGA BAGIAN BAIT ALLAH

Ketiga bagian manusia berkaitan dengan ketiga bagian Bait Allah. Baik Bait Allah maupun Kemah Pertemuan, semua tersusun dari tiga bagian: pelataran luar, tempat kudus, dan tempat maha kudus. Satu Korintus 3:16 mengatakan bahwa kita adalah bait Allah. Tubuh kita berkaitan dengan pelataran luar, jiwa kita berkaitan dengan tempat kudus, dan roh kita, bagian terdalam dari diri kita, berkaitan dengan tempat yang maha kudus yang berada di tempat terdalam.

Dalam hati kita terdapat pikiran untuk berpikir dan tekad untuk memilih. Pikiran dapat mempengaruhi tekad, sedang tekad menyatakan pikiran. Firman Allah yang hidup dapat membedakan angan-angan dari pikiran dan kehendak dari tekad. Penulis Surat Ibrani dalam pasal 3 dan 4 telah mengatakan tentang firman Allah yang dapat menyingkapkan pikiran dan niat hati kaum beriman Ibrani, dan menerangkan mengapa mereka bimbang, tidak dapat maju ke depan, yaitu tidak mau memasuki keselamatan yang sempurna.

Sekarang kita mengerti mengapa dalam Ibrani 4:12 penulis Surat Ibrani tiba-tiba mengatakan firman Allah yang hidup menusuk sangat dalam, memisahkan jiwa dan roh kita serta membedakan pikiran dan niat hati kita. Ia tahu bahwa kaum beriman Ibrani bimbang tidak menentu, terkatung-katung di dalam jiwa dan mengabaikan roh. Namun, Perjanjian Baru seluruhnya perihal dalam roh, bukan dalam jiwa. Perjanjian Baru sepenuhnya bersifat surgawi, sedikitpun tidak bersifat bumiah. Setiap hal yang bumiah berhubungan dengan tubuh dan pikiran. Agama Yahudi bersifat bumiah. Sebagai agama yang bumiah, agama Yahudi sesuai dengan konsepsi alamiah manusia. Sebaliknya, Perjanjian Baru bersifat surgawi, juga rohani. Bila kita ingin menjamah hal-hal surgawi, kita harus berada di dalam roh. Efesus 2:6 mengatakan bahwa kita duduk bersama Kristus di surga. Namun jika kita berada dalam pikiran, kita tidak mungkin berada di surga. Dalam pikiran, kita hanya dapat mengunjungi berbagai tempat di bumi secara mental, tetapi tidak mungkin menjamah hal-hal surgawi. Hanya dalam roh barulah kita dapat menjamah hal-hal surgawi.

Ada orang mengkritik kita karena kita berseru di dalam sidang, namun kita yang berpengalaman mengetahui mengapa kita berseru. Bila kita tidak berseru, kita akan tertambat di dalam pikiran. Setelah berseru beberapa kali kita sudah berada di surga, sebab kita telah beralih dari pikiran ke dalam roh. Walaupun saya bukan seorang yang mudah terangsang, kadang-kadang saya juga perlu berseru. Kalau saya tidak berseru, saya akan terikat dalam penjara ego dan dalih. Bagaimanakah kita dapat mencegah dalih-dalih yang berasal dari si jahat itu? Pujilah Tuhan dengan suara lantang, yakni dengan membebaskan roh kita! Ada kalanya, malam hari saya tidak bisa tidur. Lalu saya lalu berseru dengan suara kecil, hingga terlepas dari pikiran, dan segera tertidur. Cara terbaik untuk menjamah surga ialah dengan berseru.

Kitab Ibrani mengatakan tentang pintu surga. Gereja dikatakan seperti Betel, yaitu rumah Allah dengan Kristus sebagai tangga surgawi. Di mana ada Betel, di situ ada pintu surga dan Kristus yang menjadi tangga surgawi. Ia telah menghubungkan bumi dengan surga, Ia pun telah membawa surga ke bumi. Di manakah kita dapat menikmati pemandangan yang indah ini? Di dalam roh kita. Karena hari ini pintu surga bersatu dengan roh kita. Efesus 2:22 mengatakan bahwa roh kita adalah tempat kediaman Allah di bumi hari ini. Dua Timotius 4:22 juga mengatakan, Kristus yang sebagai tangga surgawi ini menyertai roh kita. Maka roh kita bersatu dengan tangga surgawi. Janganlah kita berputar-putar lagi di dalam pikiran, melainkan beralihlah ke dalam roh, karena di sini ada rumah Allah, ada Kristus yang surgawi, juga ada pintu surga.

Di dunia hari ini, siapa pun sukar menghindari penularan kuman-kuman. Tetapi kita mempunyai satu tempat untuk menghindarkan diri dari kuman-kuman dunia, yaitu roh kita. Di satu pihak, roh kita adalah tempat perlindungan kita hari ini, menara tinggi kita. Dalam berita yang lalu telah kita katakan bahwa hidup gereja adalah tempat perlindungan kita, karena gereja adalah tempat kediaman Allah di dalam roh. Kita seolah-olah berada di atas laut yang berbadai; banyak pikiran yang menyerang. Bagaimanakah kita dapat menghindarkan diri dari badai topan dan memasuki tempat perlindungan? Hanya dengan beralih ke dalam roh! Bagaimanakah kita dapat bertahan menghadapi desas-desus dan fitnah? Hanya dengan beralih ke dalam roh, di mana ada gereja, rumah Allah, dan tangga surga. Gereja seumpama sebuah rumah sakit. Di rumah sakit, semua kuman dibasmi dan semua benda dibersihkan atau disterilkan. Begitu pula di dalam gereja, semua kuman Iblis ter-bunuh habis. Gereja-gereja dalam pemulihan Tuhan semuanya sangat sehat. Untuk memelihara kesehatan, kita harus senantiasa melatih roh. Kalau Anda terkena pikiran negatif dan pikiran itu dibiarkan tinggal dalam diri Anda, Anda pasti sakit. Tetapi jika Anda kembali ke dalam roh, kuman-kuman itu akan terbasmi, dan hidup gereja Anda akan menjadi sehat dan kuat perkasa. Penulis Ibrani seolah-olah berkata, “Saudara-saudara Ibraniku yang terkasih, hendaklah kalian beralih dari jiwa ke dalam roh demi firman Allah yang hidup. Bila kalian demi firman Allah yang hidup beralih dari jiwa ke dalam roh, kalian pasti akan menjadi sehat, dan segala persoalan kalian akan beres. Saudara-saudaraku, segeralah beralih dari jiwa kalian yang mengembara ke dalam roh kalian! Begitu kalian masuk ke dalam roh, kalian akan masuk ke dalam rumah Allah, dan kalian akan menikmati segala kekayaan surgawi.”

Untuk memahami bagian firman Allah ini agak sulit, sebab memerlukan pengalaman yang cukup banyak. Saya sendiri bertahun-tahun lamanya tidak mengerti mengapa penulis di sini dengan tiba-tiba menyinggung firman Allah yang hidup dan pemisahan jiwa dengan roh. Saya tidak mengerti makna yang terkandung di dalamnya. Pada akhirnya, dari pengalaman saya menyadari bahwa setiap kali kita bermasalah dengan gereja, penyebabnya selalu timbul dari pikiran kita. Jadi, kita perlu firman Allah yang hidup untuk menusuk ke dalam batin kita, dan memisahkan jiwa kita dari roh kita. Dengan demikian, kita tidak akan berdiri di pihak jiwa yang dipengaruhi oleh Iblis, melainkan berdiri di pihak roh yang surgawi. Jika kita mau bertindak demikian, kita akan segera berada dalam hidup gereja.

Setiap orang yang menempuh hidup gereja sedikit banyak menghadapi kesulitan dengan gereja. Adakalanya kita tidak suka kepada salah seorang penatua, atau saudara atau saudari tertentu, yaitu merasa ia tidak layak, entah terlalu angkuh, atau terlalu keras suaranya. Begitu mempunyai pikiran itu, bagaimanakah caranya untuk melepaskannya? Firman Allah yang hidup akan menusuk ke dalam batin kita, yaitu memisahkan roh kita dari pikiran yang demikian. Begitu pikiran kita yang seperti setan itu terbongkar, kita akan mengumumkan bahwa kita mengasihi setiap saudara saudari, karena di dalam roh mereka semua patut disayangi. Bila kita memandang saudara saudari di dalam pikiran, kita akan merasa tidak ada satu pun yang patut dikasihi, hanya kita sendirilah yang paling baik. Betapa kita memerlukan firman Allah yang hidup untuk memisahkan jiwa kita dari roh kita, agar kita bisa menempuh hidup gereja. Inilah jalan kita untuk memasuki perhentian hari Sabat hari ini. Ini juga jalan untuk senantiasa hidup dalam hari Sabat dan tidak melanggarnya. Melanggar hari Sabat adalah meninggalkan hidup gereja. Orang-orang yang meninggalkan hidup gereja, yaitu yang meninggalkan perhentian hari Sabat hari ini, dapat bersaksi bahwa di luar gereja tidak ada perhentian. Hanya di dalam rohlah baru kita bisa menikmati perhentian hari Sabat gereja. Inilah sebabnya Ibrani 4:12 diletakkan di sini.

Tidak ada sesuatu yang lain kecuali firman Allah yang hidup yang dapat memisahkan dan membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Sebelum firman hidup ini masuk, kita masih mengira diri kita benar, dan untuk Tuhan sepenuhnya. Tetapi begitu firman hidup masuk dan menusuk batin kita, kita nampak bahwa pertimbangan dan pikiran hati kita sebenarnya egoistis dan kita akan menghakimi diri sendiri. Tanpa firman hidup yang memisahkan pertimbangan dan pikiran hati kita, kita sulit tinggal di dalam perhentian gereja. Perhentian gereja tergantung pada penusukan, pemisahan, dan pembedaan firman Allah yang hidup itu. Dengan itu barulah kita dapat memasuki, tinggal, dan memelihara perhentian hidup gereja.