PERHENTIAN HARI SABAT YANG TERSEDIA (7)
Alkitab, khususnya Perjanjian Baru, adalah wahyu yang lengkap. Dalam Perjanjian Baru kita melihat bagaimana Juruselamat datang, bagaimana diwahyukan kepada kita, dan bagaimana menggenapkan penebusan bagi kita; juga memperlihatkan kepada kita bagaimana kita dapat percaya kepadaNya, menerima keselamatan, serta dilahirkan kembali. Perjanjian Baru juga memberi tahu kita bahwa orang-orang yang beroleh selamat menjadi gereja, dan kita hari ini dapat menempuh hidup gereja di bumi. Selain dari semuanya itu, Perjanjian Baru masih memberi kita suatu peringatan, yaitu setelah kita beroleh selamat dan dilahirkan kembali, kita harus memelihara (menjaga) anugerah Allah dan menikmati segala sesuatu yang Allah sediakan dalam anugerah-Nya itu. Jika kita tidak berbuat demikian, tidak memelihara anugerah-Nya dan menikmati kekayaan-Nya, kita akan menderita kerugian dan menerima hukuman.
Perjanjian Baru tidak saja memberi kita peringatan yang demikian jelas dan pasti, juga mendorong kita untuk mendapatkan pahala. Untuk itu kita harus membayar harga. Maka di hadapan kita ada hukuman atau pahala. Baik hukuman maupun pahala tidak bersangkut paut dengan keselamatan kita, melainkan tergantung pada bagaimana kehidupan dan pekerjaan kita setelah kita beroleh selamat. Bila kehidupan dan pekerjaan kita sesuai dengan cara yang ditetapkan Allah, kita akan memperoleh pahala. Tetapi jika kita mengabaikan anugerah Allah, kita akan menderita kerugian, bahkan akan menerima suatu hukuman. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita-berita yang lalu, Injil Matius mengatakan bahwa ketika Tuhan Yesus kembali, Ia akan memberi balasan kepada kita sesuai dengan pekerjaan kita (Mat. 16:27). Hal itu juga sangat jelas ditunjukkan oleh perumpamaan dalam Matius 25.
XXVII. LIMA PERINGATAN DALAM SURAT IBRANI
Dalam Surat Ibrani terdapat lima peringatan yang sifatnya serupa. Dalam Wahyu 2 dan 3 juga tercantum tujuh peringatan dalam tujuh surat. Ketujuh peringatan itu sesifat dengan kelima peringatan dalam Surat Ibrani. Maka kita dapat mengatakan bahwa seluruhnya ada dua belas peringatan, lima dalam Kitab Ibrani, dan tujuh dalam Wahyu 2 dan 3. Tentu saja dalam peringatan-peringatan itu ada beberapa janji tertentu, karena bila kita memperhatikan peringatan-peringatan itu, kita akan menerima pahala. Peringatan pertama dalam Surat Ibrani tercantum dalam 2:1-4, “Karena itu kita harus lebih teliti memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus”, dan janganlah kita “menyia-nyiakan keselamatan yang sebesar itu.” Peringatan kedua tercantum dalam 3:7 sampai dengan 4:13, menyuruh kita jangan sampai tidak mencapai perhentian hari Sabat yang dijanjikan itu, melainkan harus “berusaha masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidak taatan yang sama.” Dalam makna tertentu, dapat dikatakan bahwa berita-berita tentang perhentian hari Sabat yang tersedia ini semua berkaitan dengan peringatan yang kedua. Peringatan ketiga mengatakan perlunya berusaha terus maju, mencapai kematangan (5:11-6:20), mengatakan bahwa kita tidak boleh seperti ladang yang menghasilkan “semak duri dan rumput duri”, jika demikian pasti “tidak berguna dan sudah dekat pada kutuk yang berakhir dengan pembakaran”. Peringatan keempat menyuruh kita maju ke tempat mahakudus, jangan mundur dan kembali ke dalam agama Yahudi (10:19-39). Dan pada peringatan kelima kita didorong untuk berlari pada jalur perlombaan, dan jangan kehilangan anugerah Allah (12:1-29). Golongan Armenian berdasarkan kelima peringatan ini mengatakan bahwa orang yang telah beroleh selamat masih mungkin binasa lagi. Tetapi jika kita mempelajari ayat-ayat ini dengan tepat, kita akan mengetahui bahwa ayat-ayat ini tidak membicarakan masalah binasa lagi, melainkan masalah balasan; entah balasan positif yaitu beroleh pahala, atau balasan negatif yaitu menerima hukuman.
XXVIII. PERINGATAN TENTANG
SENGAJA BERBUAT DOSA
Mari kita melihat peringatan keempat. Ibrani 10:26 mengatakan, “Sebab jika kita sengaja berbuat dosa, sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu.” Apakah artinya “sengaja berbuat dosa”? Untuk memahaminya perlulah kita kembali melihat ayat 25. Ayat 26 dimulai dengan kata “sebab”, berarti ayat ini adalah kelanjutan ayat 25. Ayat 25 mengatakan, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti yang dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, terlebih lagi sementara kamu melihat hari Tuhan semakin mendekat.” Maka perkataan “sengaja berbuat dosa” dalam ayat 26 mengacu kepada “menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah” dalam ayat 25. Peringatan ini bagi kaum beriman Ibrani sangatlah serius. Ketika Surat Ibrani ditulis, banyak orang Kristen Ibrani sedang berada di persimpangan antara agama Yahudi dengan gereja, mereka tidak tahu apakah harus meninggalkan gereja dan kembali kepada agama Yahudi atau meninggalkan dan maju bersama gereja. Di manakah gereja berada? Gereja berada dalam pertemuan ibadah yakni dalam sidang-sidang orang Kristen. Bagi kaum beriman Ibrani, tidak berhimpun bersama kaum beriman dalam Kristus berarti meninggalkan gereja. Kalau orang-orang Kristen Ibrani yang bimbang itu meninggalkan sidang-sidang gereja, berarti mereka sengaja berbuat dosa, setelah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran. Penulis seakan-akan berkata kepada mereka, “Dalam surat ini aku telah menerangkan kepada kalian tentang kebenaran. Kalian harus menghadiri setiap perhimpunan dalam gereja; jika tidak, itu berarti kalian sengaja berbuat dosa. Kalau kalian sengaja berdosa dengan menjauhkan diri dari sidang gereja, kembali lagi ke dalam agama Yahudi, dan mempersembahkan kurban penghapus dosa lagi, kalian harus tahu bahwa kurban penghapus dosa telah tidak ada lagi, sebab setiap kurban yang menjadi lambang kini telah berlalu.” Inilah arti yang tepat dari “tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa itu.” Di sini tidak dikatakan jika kita berbuat dosa, tidak akan diampuni, melainkan berarti semua lambang telah berlalu, karena telah diganti oleh Kristus dan orang beriman Ibrani harus berada dalam gereja, jangan berhenti bersidang. Bila mereka meninggalkan gereja dan kembali kepada Yudaisme untuk mempersembahkan kurban penghapus dosa, itu berarti mereka sengaja berbuat dosa. Persembahan kurban mereka sia-sia belaka, sebab dalam ekonomi Allah kurban penghapus dosa yang demikian tidak ada lagi.
Penulis mengingatkan orang Kristen Ibrani bahwa per-sembahan kurban penghapus dosa telah tidak ada lagi, dan “yang ada ialah penantian akan penghakiman yang menge-rikan dan kobaran api yang dahsyat yang akan menghanguskan para pembangkang” (10:27). Bila orang beriman Ibrani meninggalkan gereja, mereka akan menerima penghakiman yang semulanya ditujukan bagi semua musuh itu.
Ayat 28-29 meneruskan, “Jika ada orang yang menolak hukum Musa, ia dihukum mati tanpa belas kasihan atas keterangan dua atau tiga orang saksi. Bayangkan betapa lebih beratnya hukuman yang harus dijatuhkan atas orang yang menginjak-injak Anak Allah, dan menganggap najis darah perjanjian yang menguduskannya, dan menghina Roh anugerah!” Apakah artinya “menginjak-injak Anak Allah?” Artinya jika kaum beriman Ibrani kembali kepada Yudaisme untuk mempersembahkan suatu kurban penghapus dosa, bersandar kepada kurban itu, sesungguhnya itu berarti mereka menginjak-injak Anak Allah, meremehkan Dia. Kurban penghapus dosa adalah lambang Kristus. Karena Kristus telah datang untuk menggenapkan dan menggantikan kurban itu, maka orang beriman Ibrani seharusnya mengikuti Dia, dan tidak kembali lagi ke dalam agama Yahudi untuk mempersembahkan kurban itu. Kalau mereka tetap mempersembahkan kurban itu, berarti mereka menganggap biasa akan darah perjanjian, membuatnya sama seperti darah domba dan darah lembu. Orang-orang Kristen Ibrani diingatkan agar tidak lagi kembali ke dalam agama Yahudi dan mempersembahkan kurban penghapus dosa. Jika mereka berbuat demikian, berarti mereka menghina Anak Allah yang mereka percayai, dan meremehkan darah yang menguduskan mereka, dan menganggap darah-Nya seperti darah binatang kurban. Berbuat demikian juga berarti menghina Roh anugerah, yang bekerja, bergerak, dan mengurapi mereka. Mereka harus menaati-Nya. Kemudian penulis memperingatkan mereka, “Sebab kita mengenal Dia yang berkata, ‘Pembalasan adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan.’ Dan lagi, ‘Tuhan akan menghakimi umat-Nya.’ Ngeri benar, kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup” (ayat 30-31). Ini bukan penghakiman Tuhan terhadap orang-orang yang belum beroleh selamat melainkan terhadap “umat-Nya”, yaitu mereka yang telah percaya dan beroleh selamat.
XXIX. GANJARAN BAPA
Sekarang mari kita tinjau peringatan kelima dalam Ibrani pasal 12. Ayat 5 mengatakan, “Sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan (ganjaran) Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya.” Didikan atau ganjaran di sini ditujukan kepada sejenis pendisiplinan. Ayat 6 mengatakan, “Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia mencambuk orang yang diakui-Nya sebagai anak.” Banyak orang ketika masih kecil pernah dipukul oleh orang tuanya, begitu pula Bapa kita juga mencambuk anak-anakNya. Ayat 7, “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?” Seorang ayah akan menghajar anaknya sendiri, bukan anak orang lain yang ada di jalan. Kalau Allah menghajar kita tidak berarti kita akan kehilangan keselamatan yang kekal. Sebaliknya, semakin sering menerima hajaran, seorang anak akan semakin aman. Ayat 8 mengatakan, “Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu adalah anak-anak haram, dan bukan anak-anak yang sah.” Saya takut kalau Allah Bapa tidak menghajar saya, mungkin saya adalah anak haram, bukan anak sah. Ayat 9, “Selanjutnya: Dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup?” Menaati Bapa segala roh akan menyebabkan kita memperoleh hayat lebih banyak. Ayat 10 mengatakan, “Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang singkat sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya.” Beroleh bagian dalam kekudusan Allah adalah beroleh bagian dalam sifat kudus-Nya. Hal ini juga menyiratkan pertumbuhan hayat. Ganjaran yang kita terima adalah untuk membantu pertumbuhan kita.
Menerima pendisiplinan bukan berarti binasa. Boleh jadi seorang ayah berkata kepada anaknya, “Kalau kamu tidak berkelakuan baik, kamu akan kuhukum.” Namun ini tidak berarti anaknya akan dibinasakan. Saat menghajar anaknya, seorang ayah bukan bermaksud membunuhnya. Jangan mengira menerima hukuman Bapa yang di surga bisa mempengaruhi keselamatan kekal kita. Ketika Ia menghajar kita, keselamatan kita malah akan menjadi lebih mantap, sebab Ia telah memperlakukan kita sebagai anak bukan sebagai anak haram.
Percayakah Anda bahwa Bapa kita hanya menanggulangi kita dalam zaman ini, tidak menanggulangi kita dalam zaman yang akan datang? Karena banyak orang di antara kita telah terpengaruh oleh ajaran-ajaran yang tidak tepat, sebab itu saya harus menegaskan sekali lagi, apabila kita tidak menempuh hidup dengan baik, Bapa kita pasti akan menghukum kita, mungkin pada zaman ini, mungkin pada zaman yang akan datang. Jangan mengira asal Tuhan kembali dan setelah Anda dibangkitkan, segalanya pasti beres dengan sendirinya, tanpa pendisiplinan atau hukuman lagi. Itu adalah ajaran yang tidak tepat. Dalam berita yang lalu telah kita lihat, baik Injil Matius maupun Lukas menerangkan dengan tegas bahwa ketika Tuhan kembali pada zaman yang akan datang, Ia akan menghukum sebagian hamba-Nya yang malas. Ini jelas diwahyukan oleh firman Allah yang murni. Anda mau menerima pendisiplinan sekarang atau menerima hukuman di kemudian hari? Saya tidak suka hukuman. Demi belas kasihan dan anugerah Tuhan saya lebih suka hidup sebaik-baiknya. Kalaupun saya harus menerima hukuman, lebih baik pada zaman ini, jangan pada zaman yang akan datang.
XXX. PERINGATAN MENGENAI
MELEPASKAN HAK KESULUNGAN
Pasal 12:15-16 mengatakan, “Jagalah supaya jangan ada seorang pun kehilangan anugerah Allah, agar jangan tumbuh akar pahit yang menimbulkan kerusuhan dan mencemarkan banyak orang. Janganlah ada orang yang menjadi cabul atau mempunyai nafsu rendah seperti Esau yang menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan.” Apa artinya “kehilangan anugerah Allah”? Artinya, kita telah memiliki anugerah Allah, sekarang kita harus berusaha keras untuk tinggal di dalamnya, jangan sampai kehilangan kenikmatan anugerah itu. Jika orang beriman Ibrani kembali kepada agama Yahudi, mereka akan kehilangan anugerah Allah, yang menjadi kenikmatan semua orang yang percaya kepada Kristus. Mereka harus menjaga diri mereka, agar tidak tumbuh akar pahit yang mengganggu mereka, yaitu akan ada orang Yahudi yang merusak mereka dengan kepahitan ajaran agama Yahudi. Dalam hidup gereja, hal-hal yang seprinsip dengan itu juga sering terjadi.
Ayat 16 mengatakan bahwa Esau telah menjual hak kesulungannya demi sepiring makanan. Hak kesulungan di dalam Kristus, yang meliputi jabatan raja dalam kerajaan yang akan datang, sangat besar kaitannya bagi orang beriman. Namun mungkin kita bisa karena tamak akan sedikit kenikmatan materi lalu menjual hak kesulungan kita, seperti Esau menjualnya demi sepiring makanan. Bila orang Kristen Ibrani karena sesuatu dari agama Yahudi lalu meninggalkan anugerah Kristus, mereka akan kehilangan hak kesulungan di dalam Kristus. Kehilangan hak kesulungan bukan berarti kehilangan hayat yang kekal, melainkan kehilangan hak hayat, yakni kehilangan kenikmatan atas kerajaan yang akan datang sebagai pahala.
Ayat 28-29 mengatakan, “Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak terguncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut, sebab Allah kita adalah api yang menghanguskan.” Karena kita sedang dalam proses memperoleh kerajaan yang tidak terguncangkan, kita harus bersandar pada anugerah dengan ketat, jangan sekali-kali meninggalkannya. Ayat 29 mengatakan bahwa Allah kita adalah api yang menghanguskan. Walaupun Allah itu kasih, tetapi Ia di sini adalah api yang menghanguskan. Ini benar-benar suatu peringatan yang serius.
XXXI. MENIKMATI PERHENTIAN
DALAM HIDUP GEREJA YANG NORMAL
Setelah membaca ketujuh berita ini, kita memahami apakah makna memasuki perhentian hari Sabat yang sebenarnya. Alangkah perlunya kita memasuki perhentian hari Sabat yang tersedia ini! Kristus telah menggenapkan banyak hal. Surat Ibrani berkali-kali mengatakan bahwa Kristus telah duduk di surga. Duduk berarti mengaso. Kristus hari ini sedang duduk di surga dan menikmati perhentian hari Sabat karena Ia telah menggenapkan segala-galanya untuk melahirkan gereja yang memuaskan Allah sepenuhnya sehingga Ia beroleh perhentian. Kita harus menerima peringatan ini, yaitu jangan meninggalkan hidup gereja. Jika tidak, kita akan mengembara di padang gurun. Hampir semua orang di antara kita bisa bersaksi bahwa sebelum kita menempuh hidup gereja, kita mengembara di padang gurun. Kita berkelana di antara kelompok kekristenan yang berbeda-beda dan tidak menikmati perhentian sedikit pun. Setelah kita datang ke dalam gereja barulah kita beroleh perhentian. Karena orang-orang Kristen Ibrani itu sedang mengembara, maka penulisnya mendorong mereka untuk menempuh hidup gereja yang tepat, agar dapat menikmati perhentian hari Sabat. Kita telah menunjukkan bahwa gereja adalah perhentian hari Sabat hari ini, karena gereja adalah rumah Allah, di mana putra sulung Allah memberitakan nama Bapa kepada semua saudara-Nya dan Ia juga memuji-muji Bapa di tengah-tengah gereja. Marilah kita menempuh hidup gereja! Inilah hari Sabat hari ini!
Hari Sabat ini akan mengantar kita ke dalam kerajaan. Hidup gereja dapat memelihara kita, membina kita, membangun kita, dan melayakkan kita untuk memasuki hari Sabat berikutnya, yang adalah zaman kerajaan. Kerajaan meminta orang-orang yang sudah matang. Walaupun di dalam kita telah ada benih hayat, dan sedang bertumbuh, namun kita memerlukan kematangan. Di manakah kita menjadi matang? Di dalam gereja! Gereja adalah sebidang ladang yang tepat di mana kita bisa bertumbuh sampai matang. Dalam gereja kita dapat menikmati faedah hari Sabat yang sedang bertumbuh hari ini; dalam gereja pula barulah kita dapat diantar ke dalam perhentian penuaian. Karena itu, penulis menganjurkan orang-orang Kristen Ibrani untuk berhenti mengembara, sebaliknya menempuh hidup gereja, dan memasuki hari Sabat hari ini, yang membawa mereka memasuki hari Sabat Kerajaan Seribu Tahun yang lebih indah. Kalau mereka melalaikan hidup gereja, mereka akan mengembara di padang belantara, dan akhirnya mati di sana seperti yang dialami nenek moyang mereka. Hari ini kita harus berusaha keras untuk memasuki perhentian hari Sabat ini, yakni menempuh hidup gereja yang tepat! Ibrani 4:9 sungguh jelas bagi saya, tidak pernah sejelas hari ini. Demi belas kasih Allah, semoga kita semua, ketika Ia kembali, tidak menerima hukuman, melainkan menerima pahala!
XXXII. HIDUP GEREJA ADALAH
TEMPAT PERLINDUNGAN
Hidup gereja juga merupakan suatu tempat perlindungan. Kita harus melarikan diri dari agama Yahudi, agama lainnya, dunia, dan padang gurun, untuk masuk ke dalam hidup gereja, tempat perlindungan kita. Ketahuilah, surga bukan tempat perlindungan kita, surga bagi kita terlalu jauh, sedang kita saat ini berada di atas laut yang berbadai, situasi kita sangatlah mendesak! Hidup gereja bagi kita merupakan masalah yang berkaitan dengan hidup atau mati. Jika harus menunggu naik ke surga baru beroleh perlindungan, mungkin kita sudah mati terhanyut. Karena itu, larilah ke dalam hidup gereja untuk beroleh perlindungan! Surat Ibrani adalah kitab yang indah, yang mengandung banyak konsepsi baru. Mungkin pembaca berita ini belum pernah mendengar bahwa hidup gereja adalah tempat perlindungan. Namun di antara kita banyak yang pernah mengalaminya. Andai kata di Amerika Serikat tidak ada hidup gereja, ke manakah kita? Kebanyakan di antara kita mungkin sudah mati terhanyut dalam laut yang berbadai. Haleluya, di tepi laut ada tempat perlindungan! Hidup gereja itulah tempat perlindungan! Hidup gereja adalah tempat perlindungan kita hari ini.