← Daftar isi Ibrani (2) · bab 6/17

PERHENTIAN HARI SABAT YANG TERSEDIA (6)

XXIV. PENGHAKIMAN DALAM RUMAH ALLAH

Satu Petrus 4:17 dikatakan, “Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai dari rumah Allah sendiri. Jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimana pula kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?” Dari ayat ini kita dapat mengetahui adanya penanggulangan pemerintahan Allah yang berbeda. Terhadap rumah-Nya, yakni anak-anakNya, Ia menggunakan satu cara dan waktu, dan terhadap orang-orang yang tidak percaya pada Injil, Ia menggunakan cara dan waktu yang lain. Meskipun kita telah beroleh selamat, telah menjadi isi keluarga Allah, tidaklah berarti bahwa kita tidak akan dihakimi lagi oleh Allah. Sebaliknya, ayat ini mengatakan bah-wa penghakiman Allah dimulai dari rumah-Nya. Jika Allah tidak memperlakukan anak-anakNya secara adil, bagaimanakah Ia dapat menghakimi orang yang tidak percaya dan yang menentangNya? Pada prinsipnya, untuk menghakimi orang kafir secara adil, Allah harus terlebih dahulu menghakimi anak-anakNya dengan adil.

XXV. BERTUMBUH DALAM HAYAT UNTUK MENGGENAPKAN KEHENDAK ALLAH

Tujuan Allah bukan ingin memiliki alam semesta yang dipenuhi dengan manusia yang rapi, bersih, benar, dan tanpa dosa, melainkan ingin menanamkan diriNya ke dalam umat pilihanNya, agar mereka menjadi anak-anakNya. Begitu kita menjadi anak-anakNya melalui kelahiran kembali, yakni memiliki hayat Allah sebagai benih dan isi kita, kita perlu bertumbuh dengan dan ke dalam Allah dan dipenuhi oleh unsur ilahi-Nya, sehingga kita mencapai pengubahan yang sempurna. Allah tidak ingin memperoleh segolongan manusia yang bersih dan benar, melainkan segolongan manusia yang dipenuhi oleh diri-Nya dan dibangun di dalamNya. Iblis datang untuk merusak pekerjaan Allah dengan dosa, dunia, dan ego. Karena itu, jika kita ingin bertumbuh di dalam hayat Allah, kita harus membenci dosa, menolak dunia, dan menyangkal ego. Tujuan menanggulangi dosa bukan sekadar membersihkan dosa itu sendiri, melainkan untuk menyingkirkan halangan yang berasal dari Iblis terhadap pertumbuhan hayat Allah. Maka pengampunan dosa adalah hal sekunder, yang primer ialah terlepasnya kita dari penghalangan dosa, agar kita dapat bertumbuh di dalam hayat Allah. Andaikata Anda berdosa, asalkan Anda bertobat dan mau maju terus bersama Tuhan, Allah pasti mengampuni dosa Anda oleh karena penebusan Kristus, Anda tidak usah khawatir. Tujuan Allah bukan hanya mengampuni dosa Anda, Ia pun ingin membawa Anda maju, agar Anda dapat bertumbuh di dalam hayat-Nya. Kita semua adalah manusia dan mudah tergelincir ke dalam dosa. Tetapi bila kita damba bertumbuh di dalam hayat, Allah akan dengan spontan membereskan dosa-dosa kita dan membersihkan kita dengan darah Yesus. Namun jika kita tidak mau bertumbuh, hanya ingin beroleh pengampunan belaka, Allah pun bisa mengampuni kita karena Ia setia janji, hanya saja kita tidak dapat berada dalam penggenapan kehendakNya. Hanya memperoleh pengampunan dosa di aspek negatif tidaklah dapat menggenapkan kehendak Allah. Kita masih perlu bertumbuh dan mema-suki perhentian hari Sabat.

XXVI. KEHIDUPAN DAN PEKERJAAN YANG

DIPERLUKAN UNTUK MEMASUKI

KERAJAAN SERIBU TAHUN

Dalam Matius 24 dan 25 kita nampak sebuah lukisan yang indah. Matius 24:40-41 mengisahkan ada dua orang yang masih hidup, yang satu dibawa dan yang satu akan ditinggalkan. Matius 25:1-4 mengisahkan ada sepuluh orang yang telah meninggal, lima diterima dan lima lainnya ditolak untuk sementara. Orang-orang yang telah beroleh selamat tidak mungkin ditolak selamanya oleh Allah, namun mereka akan ditolak sementara; sama seperti seorang anak karena prestasi pelajarannya di sekolah tidak baik, ia tidak diperbolehkan mengambil bagian dalam makan malam khusus yang diadakan orang tuanya sebagai hadiah untuk kakak atau adiknya yang berprestasi baik. Orang tuanya tidak menolak anak-anaknya yang tidak baik untuk selamanya, hanya menolak mereka sementara waktu saja. Kalau kita percaya akan Matius 1, kita pun harus percaya kepada Matius 24 dan 25. Kita tidak boleh memilih ayat-ayat yang kita senangi dan mengabaikan ayat-ayat yang tidak kita sukai. Matius 24 dan 25 kedua-duanya sangatlah penting bagi hidup dan pekerjaan orang Kristen.

Matius 25 memuat dua buah perumpamaan yang berhubungan dengan kita, yakni perumpamaan sepuluh gadis dan perumpamaan talenta. Perumpamaan sepuluh gadis menggambarkan kehidupan yang harus kita miliki, sedang perumpamaan talenta menggambarkan pekerjaan yang harus kita miliki. Kehidupan kita harus seperti gadis yang bijak dan pekerjaan kita harus seperti hamba yang setia. Dalam perumpamaan sepuluh gadis, kita nampak betapa kita perlu memiliki kehidupan yang berjaga-jaga, yaitu senantiasa mengemban kesaksian dan keluar dari dunia ini untuk menyambut Tuhan. Perumpamaan ini juga mewahyukan bahwa tidak hanya roh kita harus dinyalakan oleh Roh Allah, tetapi wadah kita, yakni jiwa kita, juga harus diubah oleh bagian ekstra Roh pemberi hayat.

Perumpamaan talenta mewahyukan bahwa pekerjaan kita harus seperti pekerjaan hamba yang setia, yakni dengan talenta pemberian Tuhan berniaga bagi Tuhan dan memperoleh keuntungan bagi ekonomi Tuhan. Berdasarkan wahyu dalam Kitab Matius, kehidupan yang berjaga-jaga maupun pekerjaan yang setia keduanya merupakan keharusan bagi kita untuk memperoleh perhentian hari Sabat dalam Kerajaan Seribu Tahun sebagai pahala. Hal ini tidaklah sama dengan menikmati perhentian karunia keselamatan karena percaya kepada Tuhan.

A. Talenta Diberikan Menurut Kecakapan

Kita tidak hanya telah dilahirkan kembali sehingga mendapatkan hayat Allah dan menjadi anak-anak Allah, tetapi juga telah diberi talenta untuk melayani Tuhan sebagai hamba-Nya. Dari perumpamaan talenta kita nampak bahwa talenta diberikan menurut kemampuan hamba-hamba itu “ Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya” (Mat. 25:15). Kita semua memiliki beberapa kemampuan dan talenta yang diberikan menurut kemampuan kita. Rasul Paulus memiliki kemampuan besar, dan banyak talenta diberikan kepadanya. Saudara Watchman Nee juga memiliki kemampuan besar, ia juga menerima banyak talenta. Namun, semua kemampuan alamiah kita harus dibereskan dahulu oleh kematian Kristus, baru dapat dibawa ke dalam kebangkitan untuk bekerja sama dengan talenta pemberian Tuhan itu. Kemampuan alamiah kita sering kali merupakan hambatan bagi kegunaan kita dalam tangan Tuhan. Dalam pekerjaan Tuhan, hanya kemampuan yang sudah dibangkitkanlah yang dapat mengimbangi talenta yang Tuhan berikan.

B. Peringatan Terhadap Kemalasan

Kita tidak boleh memaafkan diri sendiri dengan berkata, “Puji Tuhan, aku tidak memiliki banyak kemampuan dan talenta, maka aku tidak perlu berbuat banyak.” Entah kita diberi lima talenta, dua talenta, atau satu talenta, prinsipnya sama, yaitu kita harus mendapatkan lima, dua, dan satu talenta lain untuk Tuhan. Maka kalaupun Anda hanya diberi satu talenta, Anda tidak dapat memakai hal itu sebagai alasan untuk malas. Menurut perumpamaan ini, yang paling berbahaya bukan mereka yang menerima banyak talenta, melainkan yang menerima satu talenta. Hamba yang menerima satu talenta mencoba berdalih, tetapi malah menerima teguran dan hukuman. Banyak guru Alkitab golongan fondamental, termasuk C.I. Scofield mengatakan bahwa hamba yang menerima satu talenta adalah orang Kristen palsu. Seperti telah kita katakan dalam berita yang lalu, guru-guru fondamental itu adalah golongan Calvin, yang terpaksa mengatakan demikian, karena mereka tidak dapat mencocokkan firman Allah tersebut dengan ajaran sekali beroleh selamat akan selamat selama-lamanya. Karena mereka tidak memahami mengapa seorang Kristen ada kemungkinan dilempar dalam kegelapan, maka mereka terpaksa mengatakan bahwa hamba yang malas, yang menerima satu talenta itu, adalah orang Kristen palsu. Golongan Calvin tidak nampak masalah pahala dan ganjaran. Namun wahyu firman kudus-Nya memperlihatkan kepada kita bahwa tidak hanya ada karunia keselamatan kekal oleh iman, tetapi juga ada balasan dalam suatu masa sesuai dengan pekerjaan tiap orang, baik pahala atau hukuman. Pahala itu adalah perhentian hari Sabat dalam Kerajaan Seribu Tahun. Untuk dapat memasuki perhentian hari Sabat ini, kita perlu setelah beroleh selamat selamanya karena iman, hidup dengan berjaga-jaga seperti gadis bijak itu, dan bekerja dengan setia seperti hamba yang baik itu. Jika tidak, kita akan kehilangan perhentian hari Sabat dalam Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, dan akan menderita ganjaran.

C. Anugerah dan Tanggung Jawab

Golongan Calvin menekankan bahwa segalanya adalah anugerah, dan golongan Armenian menekankan bahwa manusia harus tanggung jawab. Namun menurut Alkitab, anugerah Allah adalah untuk tanggung jawab manusia. Pada hari Pentakosta, Petrus berkata kepada orang banyak, “Berilah dirimu diselamatkan dari orang-orang (angkatan) yang jahat ini” (Kis. 2:40). Petrus tidak berkata, “Selamatkan lah dirimu,” melainkan “Berilah dirimu diselamatkan.” “Selamatkan dirimu” berarti Anda sendiri yang melakukan, “Berilah dirimu diselamatkan” berarti orang lain yang melakukan bagi Anda, tetapi Anda harus membiarkannya melakukannya. Tuhan sedang menyelamatkan kita, namun Ia memerlukan kerja sama kita. Sebagai contoh: Seorang ibu tentu tidak berkata kepada anaknya yang masih kecil, “Makanlah sendiri”; melainkan berkata, “Mari kusuapi, jangan nakal dan menutup mulutmu, bukalah mulutmu dan makanlah.” Keselamatan memang mutlak merupakan anu-gerah, tetapi kita harus mau menerima keselamatan dan mau percaya kepada Tuhan. Jika tidak, Allah yang mahakuasa pun, tidak berdaya berbuat apa-apa bagi kita. Bersedia percaya adalah tanggung jawab dan kerja sama kita terhadap keselamatan Allah. Tidak peduli bagaimana besarnya anugerah Allah, kita semua harus mau percaya kepada Tuhan, menengadah kepada-Nya, membuka diri sendiri untuk menerima anugerah-Nya, dan membiarkannya bekerja bagi kita.

Kalau kita hanya memiliki kemampuan, kita tidak dapat bekerja bagi Tuhan. Selain kemampuan, kita harus pula beroleh talenta (karunia) dari Tuhan. Bila kita telah diberi talenta, kita harus menerapkannya. Hanya dengan menerapkan talenta barulah kita memperoleh faedah. Faedah berasal dari anugerah Allah, sedang datangnya anugerah berdasarkan penerapan kita terhadap talenta, berda-sarkan fungsi dan latihan kita. Jika kita tidak menerapkan talenta, anugerah tidak akan datang; sebab anugerah datang berdasarkan latihan kita.

D. Kematangan dan Jabatan Raja

Pertumbuhan hayat kita akan menentukan waktu kematangan kita. Bila kita bertumbuh dalam hayat, seperti gadis bijak, memiliki minyak ekstra dalam wadah kita, dan telah diubah, kita akan matang lebih cepat. Pertumbuhan hayat kita menentukan apakah kita matang lebih awal; sedang pekerjaan, latihan kita, serta penerapan karunia kita, menentukan dapat tidaknya kita beroleh bagian dalam jabatan raja Tuhan. Tuhan berkata kepada orang yang menerima lima talenta; “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam hal kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam hal yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat. 25:21). Inilah artinya menjadi raja bersama Tuhan Yesus dan menikmati perhentian yang sejati dalam Kerajaan Seribu Tahun. Dalam Lukas 19:17 Tuhan berkata, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hamba yang baik; engkau telah setia dalam hal yang sangat kecil, karena itu terimalah kekuasaan atas sepuluh kota.” Dalam Kerajaan Seribu Tahun ada yang akan memerintah atas sepuluh kota, ada yang akan memerintah atas lima kota (Luk. 19:19). Pada hari itu Anda mungkin bukan hanya menjadi wali kota yang berkuasa atas satu kota saja, tetapi menjadi gubernur yang menguasai sepuluh kota. Walaupun kita belum tahu jelas tentang keadaan pada waktu itu, namun tidak ada seorang pun yang dapat membantah prinsip ini.

Kedua perumpamaan tadi hanya memberikan prinsipnya saja, sedangkan dalam Wahyu 2:26-27 barulah kita nampak detailnya. Di situ dikatakan, “Siapa yang menang dan melakukan pekerjaanKu sampai kesudahannya, kepadanya akan Ku karuniakan kuasa atas bangsa-bangsa; dan ia akan memerintah mereka dengan tongkat besi . . .” Bangsa-bangsa di dunia ini benar-benar harus diperintah oleh kita. Ketika Tuhan Yesus kembali, Ia akan menugaskan kita untuk memerintah bangsa-bangsa. Pada waktu itu manusia tidak lagi berbicara seenaknya. Setiap orang akan berbicara dengan benar, sebab mereka telah berada di bawah pemerintahan yang tepat. Siapakah yang akan memerintah mereka? Kita, yaitu orang-orang yang telah menerima pelatihan. Percayakah Anda bahwa penguasa-penguasa hari ini semuanya orang yang tepat? Beberapa di antaranya perokok, peminum, dan penjudi. Bagaimanakah mereka dapat menjadi penguasa yang tepat? Seluruh dunia sedang berkeluh kesah dan mengharapkan kelepasan dari penguasa yang tidak tepat itu. Ketika Tuhan Yesus kembali, itulah saatnya seluruh bumi dibebaskan dari penguasa semacam itu. Mengapa Tuhan masih belum kembali? Karena kita masih belum selesai dilatih. Bila Ia kembali hari ini, siapa-kah yang layak ditugaskan-Nya untuk memerintah bangsa-bangsa?

Istilah “talenta” dalam Matius 25 sama dengan istilah “karunia” dalam Surat-surat Kiriman. Paulus mengingatkan Timotius untuk mengobarkan karunia Allah yang ada padanya (2 Tim. 1:6). Berbicara tentang hayat, kita perlu bertumbuh, sedang berbicara tentang pekerjaan, kita perlu menerapkan talenta (karunia) kita masing-masing. Perumpamaan sepuluh gadis mewahyukan betapa kita perlu diubah oleh Roh pemberi hayat, dan perumpamaan talenta mewahyukan perlunya kita menerapkan talenta rohani kita dengan tepat. Kita sekalian perlu diubah demi minyak ekstra yang terisi dalam wadah kita, kita juga perlu memperoleh keuntungan bagi Tuhan dengan jalan menerapkan talenta kita. Jadi, di samping perlu pertumbuhan, kita juga perlu menghasilkan keuntungan bagi ekonomi Allah. Pertumbuhan hayat kita akan menentukan waktu kematangan kita, dan penerapan talenta kita akan menentukan posisi yang kita nikmati bersama dengan Kristus dalam Kerajaan Se-ribu Tahun. Bila kita tidak matang dan tidak menerapkan talenta kita, kita akan kehilangan pengangkatan awal dan kenikmatan meraja bersama Kristus. Matius 25 mengatakan tentang “kebahagiaan tuanmu” (ayat 21, 23). Tidak dapat diragukan lagi, kebahagiaan ini adalah perhentian hari Sabat selama kerajaan yang akan datang.

E. Hukuman bagi Hamba yang Jahat — Ganjaran dalam Zaman Kerajaan yang Akan Datang

Hamba yang malas, yang menerima satu talenta itu tidak hanya akan kehilangan kenikmatan meraja bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun, tetapi juga akan menderita sengsara. Kalau ia tidak menderita sengsara, tentu tidak dikatakan ada “ratapan dan kertak gigi” (Mat. 25:30). Itulah bukti bahwa ia benar-benar akan menerima ganjaran. Namun itu bukan berarti ia binasa selama-lamanya, melainkan suatu ganjaran dari Allah Bapa yang berhikmat.

Zaman gereja dan zaman kerajaan adalah bagian dari masa penggenapan kehendak Allah. Hingga pada akhir Kerajaan Seribu Tahun barulah rencana-Nya genap seluruh-nya. Karena itu Allah tidak tergesa-gesa memberikan ganjaran-Nya ke atas kita dalam zaman gereja, mungkin akan dilaksanakan dalam zaman Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang itu. Ketika Kerajaan Seribu Tahun berakhir, kehendak Allah yang kekal telah genap, dan setelah langit dan bumi baru dan Yerusalem Baru tiba, barulah Ia tidak perlu mengganjar kita lagi. Ini perlu saya tekankan sekali lagi, sebab banyak orang Kristen mempunyai konsepsi keliru, yakni mengira asalkan Tuhan kembali, kita dibangkitkan, maka segalanya sudah beres, dan setiap orang Kristen boleh menjadi raja di dalam Kerajaan Seribu Tahun. Padahal dapat tidaknya kita memerintah bersama Kristus di dalam Kerajaan Seribu Tahun tergantung pada bagaimana kita hari ini. Tuhan mempunyai kuasa kedaulatan, Ia mempunyai cara untuk membuat kita bertumbuh dan matang. Jika kita tidak matang dalam zaman ini, Ia akan mematangkan kita dalam zaman yang akan datang.

F. Perlu Membayar Harga

Ketika gadis-gadis yang bodoh itu menyadari bahwa mereka kehabisan minyak, mereka disuruh membayar harga untuk membeli minyak (Mat. 25:8-9). Keselamatan itu gratis, namun pekerjaan Roh Kudus yang mengubah kita itu menuntut kita membayar harga. Jika hari ini kita enggan membayar harga, kelak kita tetap harus membayar harga. Lagi pula hal itu tidak dapat diwakili oleh orang lain. Menurut perumpamaan sepuluh gadis, bahkan saat Tuhan telah kembali dan kita telah dibangkitkan, gadis-gadis yang bodoh tetap harus membayar harga untuk mengisi wadah mereka dengan minyak ekstra. Janganlah percaya ajaran Calvin yang mengatakan gadis-gadis yang bijaksana adalah orang Kristen yang beroleh selamat, sedang yang bodoh adalah orang Kristen palsu. Ajaran itu tidak logis. Hendaklah kita menerima Matius 25 dengan serius. Bila dalam zaman gereja hari ini kita enggan membayar harga membeli minyak, nanti ketika Tuhan kembali dan ketika kita dibangkitkan, kita tetap harus membayar harga untuk membelinya. Inilah prinsip yang telah ditetapkan. Ini bukan konsepsi saya atau ajaran saya, melainkan wahyu firman Alkitab yang murni. Banyak orang Kristen hanya memilih dan membaca ayat-ayat Alkitab menurut seleranya sendiri, atau hanya memilih ayat-ayat yang sesuai dengan konsepsi alamiahnya. Mereka tidak berani menjamah ayat-ayat seperti Matius 25 ini; hal ini sungguh mencelakakan, menipu orang lain juga menipu diri sendiri! Gadis-gadis yang bijak dan hamba-hamba yang setia akan memasuki satu perhentian hari Sabat yang lebih indah daripada yang kita ketahui hari ini. Walaupun kita sedang menikmati hari Sabat yang indah dalam zaman gereja, tetapi ini tidak sebaik hari Sabat yang terdapat dalam zaman kerajaan. Masuk ke dalam kebahagiaan Tuhan berarti masuk ke dalam perhentian hari Sabat bersama Tuhan dalam Kerajaan Seribu Tahun. Ketika Tuhan memandang para pemenang, hati-Nya merasa puas, dan Ia pun memasuki perhentian hari Sabat-Nya. Jika kita juga berada di tengah-tengah pemenang, kita pun akan masuk ke dalam perhentian itu bersama-Nya.