PERHENTIAN HARI SABAT YANG TERSEDIA (5)
Alkitab adalah wahyu Allah. Bila kita ingin memahami setiap bagian yang penting dari wahyu ini, haruslah kita memperhatikan prinsip pengaturan yang didirikan dan dinyatakan dalam Alkitab. Prinsip pengaturan seluruh Alkitab ialah bahwa pada kekekalan lampau Allah mempunyai satu kehendak dan satu rencana, yakni mengekspresikan diri-Nya serta kekuasaan-Nya. Kehendak dan rencana kekal Allah ini telah diwahyukan sepenuhnya dalam dua pasal pertama dari Kitab Kejadian dan dua pasal terakhir Kitab Wahyu. Pada dua pasal pertama Kitab Kejadian kita nampak bahwa manusia merupakan inti alam semesta ciptaan Allah. Walaupun Allah telah menciptakan langit, bumi, dan segala benda, namun intinya adalah manusia. Allah menciptakan manusia dengan cara istimewa, yaitu menggunakan debu tanah (Kej. 2:7), dan menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej. 1:26). Maka manusia mengandung dua unsur: debu tanah dan gambar Allah. Sifat hakiki manusia adalah debu tanah, sedang ekspresinya ialah gambar Allah. Di atas diri manusia ini kita nampak suatu prinsip ajaib, yaitu pada satu makhluk terdapat sifat hakiki debu tanah dan gambar ilahi. Ketika manusia mengekspresikan gambar Allah dan mewakili Allah berkuasa, Allah pun memperoleh perhentian. Seperti telah kita lihat dalam berita yang lalu, inilah makna sejati dari perhentian hari Sabat. Ini juga keadaan yang ditampilkan Alkitab pada permulaannya.
Pada akhir Alkitab, kita dapat melihat perampungan sempurnanya: langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru. Dalam langit baru dan bumi baru, bumi akan lebih penting daripada langit, karena Yerusalem Baru akan berada di bumi. Bila kita membaca Kitab Wahyu dengan cermat, kita akan mengetahui bahwa Yerusalem Baru bukanlah suatu bangunan material, melainkan suatu komposisi hidup yang tersusun dari orang-orang hidup; antara lain seperti kedua belas rasul Anak Domba dan kedua belas suku Israel (Why. 21:12, 14). Kota Yerusalem Baru akan membawakan penampilan Allah dan mengekspresikan Allah dengan sepenuhnya. Lagi pula, takhta Allah juga berada di dalam kota ini, dan kekuasaan Allah akan diberlakukan sepenuhnya di sana. Inilah Kerajaan Allah yang kekal. Karena itu, di Yerusalem Baru Allah akan mendapatkan perhentian yang penuh, dan memperoleh hari Sabat-Nya yang abadi. Inilah prinsip yang mengatur seluruh Alkitab.
XIX. TIGA MASA DALAM ALAM SEMESTA
Bila kita ingin memahami Alkitab, haruslah kita memiliki suatu pandangan menyeluruh. Tahukah kita bahwa alam semesta tersusun dari tiga masa? Masa pertama ialah masa sebelum Adam tercipta. Sebelum Adam diciptakan, alam semesta sudah ada, namun berapa lama masa ini, tidak seorang pun yang mengetahuinya. Masa kedua dimulai dari Kejadian 1:2 sampai akhir Kerajaan Seribu Tahun yang akan datang, yaitu dari terciptanya Adam sampai akhir Kerajaan Seribu Tahun. Masa ini sangat pendek, mungkin tidak lebih dari tujuh ribu tahun. Walau kita merasa masa ini amat panjang, tetapi dalam pandangan Allah, seribu tahun sama seperti sehari (2Ptr. 3:8); maka tujuh ribu tahun sama dengan tujuh hari. Menyusul masa kedua ada masa ketiga dari alam semesta langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru. Masa ini akan berlangsung sampai kekekalan. Bila kita ingin memahami Alkitab secara menyeluruh, haruslah kita memahami ketiga masa dalam alam semesta ini.
Masa pertama dalam alam semesta juga disebut masa kejatuhan. Allah menciptakan, Iblis merusak, lalu Allah menghakimi alam semesta. Dalam Kejadian 1:2 kita nampak Allah memulai penciptaan kembali. Tepatnya, hanya Kejadian 1:1 yang mengatakan penciptaan semula Allah, mulai ayat 2 adalah permulaan penciptaan kembali Allah. Dalam penciptaan kembali terdapat beberapa penciptaan lanjutan, misalkan penciptaan manusia; manusia bukan penciptaan kembali, melainkan penciptaan asli. Dari permulaan penciptaan kembali hingga rampungnya kehendak Allah, berlangsung selama kurang lebih tujuh ribu tahun. Karena tenggang waktu ini Allah gunakan untuk menggenapkan kehendak kekal-Nya, maka dapat kita sebut sebagai masa penggenapan.
Masa penggenapan dimulai dari penciptaan manusia. Manusia adalah ciptaan Allah. Penciptaan kembali Allah hanya memulihkan alam semesta yang telah jatuh agar kembali ke suatu kondisi yang cocok untuk menciptakan manusia serta untuk eksistensi manusia. Kedatangan Tuhan Yesus kali kedua bukanlah akhir masa penggenapan, sebab sesudah kedatangan-Nya, langit lama dan bumi lama masih harus berlangsung selama seribu tahun. Jadi, seribu tahun ini adalah kelanjutan masa penggenapan. Kedatangan Tuhan kali kedua dapat dikatakan sebagai penggenapan lebih lanjut dari kehendak Allah. Maka penggenapan kehendak Allah dimulai dari penciptaan manusia dan akan genap pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, bukan pada waktu kedatangan Tuhan kali kedua.
Setelah masa penggenapan berlalu, datanglah langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru. Itulah masa perhentian Sabat yang kekal, yakni perhentian yang sempurna. Masa kekekalan yang akan datang akan menjadi hari Sabat yang tidak berakhir. Bapa kita, Juruselamat kita, dan segenap kaum tebusan akan berada di sana. Itulah nasib kita dan itulah masa depan kita. Masa depan kita adalah hari Sabat yang kekal, di mana Bapa kita, Juruselamat kita, dan kita semua akan menikmati perhentian sampai selama-lamanya.
XX. PENGGENAPAN KEHENDAK ALLAH
Bagaimanakah Allah menggenapkan kehendak-Nya? Pertama, Ia menciptakan manusia. Dalam susunan alamiahnya, manusia itu bukan yang benar-benar menggenapkan kehendak Allah, ia hanyalah selembar foto atau sebuah gambar pendahuluan. Walaupun demikian, dalam foto ini kita dapat melihat bahwa Allah telah merasa puas. Seluruh Perjanjian Lama terutama mewahyukan dua hal: Allah menciptakan manusia dan memanggil manusia. Allah menciptakan Adam, dan memanggil Abraham. Abraham, termasuk Ishak, Yakub, dan semua anak Yakub, merupakan manusia terpanggil yang korporat. Seluruh umat Israel telah menerima panggilan di dalam Abraham. Maka, Abraham adalah satu manusia korporat, yang merupakan gambar pendahuluan yang sekali lagi memuaskan Allah. Dalam manusia korporat ini kita dapat melihat lebih banyak daripada Adam, sebab Adam hanya merupakan satu manusia individual, sebagai foto kepuasan Allah, sedang Abraham, termasuk semua keturunannya, merupakan satu gambar korporat, yang lengkap dari kepuasan Allah. Perjanjian Lama mewahyukan kedua gambar pendahuluan dari kepuasan Allah ini; yang satu individual dan yang lain korporat. Pada prinsipnya, keduanya ini sama-sama mewahyukan apa yang telah memuaskan Allah. Kita perlu penglihatan yang menyeluruh seperti ini, agar kita dapat memahami Alkitab.
Perjanjian Lama menunjukkan kepada kita pralambang, Perjanjian Baru mewahyukan realitasnya. Allah sendiri telah datang menjadi seorang manusia, dan seperti sebutir benih, Ia telah menaburkan diri-Nya ke dalam manusia, tanah ladang ini. Kita tidak boleh memisahkan manusia dengan tanah, karena keduanya sama dalam sifat hakiki-nya. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa manusia berasal dari debu tanah dan milik tanah. Bagaikan sebutir benih, Allah datang dan menaburkan diri-Nya ke dalam manusia, tanah sejati ini. Setelah benih gandum ini ditanam ke dalam tanah manusia. Ia mati, lalu di dalam kebangkitan ia menghasilkan banyak butir, dan butir-butir ini kemudian dijadikan seketul roti, yakni gereja (Yoh. 12:24; 1Kor. 10:17). Di dalam roti, gereja ini, Allah dapat mengekspresikan diri-Nya juga dapat berkuasa. Di dalam gereja ada kerajaan Allah, tempat kekuasaan Allah diterapkan dan gambar-Nya diekspresikan. Karena itu, gereja adalah perhentian Allah, juga adalah tahap pertama penggenapan kehendak Allah secara riil.
Akan tetapi masih perlu tahap yang lain. Kalau tahap pertama dimulai dari kedatangan Tuhan kali pertama, tahap kedua akan dimulai dari kedatangan-Nya kali kedua. Untuk merampungkan kehendak-Nya secara riil, Ia perlu datang dua kali. Dalam kedatangan-Nya kali pertama Ia telah menaburkan diri-Nya ke dalam manusia, dan dalam kedatangan-Nya kali kedua, Ia akan menuai apa yang telah Ia tabur dalam kedatangan-Nya kali pertama. Dalam kedatangan-Nya kali pertama sudah ada hal-hal yang terjadi, misalnya gereja telah dihasilkan, perhentian telah ada, tetapi kehendak-Nya masih belum genap seluruhnya. Kedatangan-Nya kali kedua akan merampungkan lebih banyak, dan akan mendatangkan hari Sabat yang lebih sempurna. Memang kedatanganNya kali pertama telah mendatangkan hari Sabat pertama yang sejati, tetapi itu bukan Sabat yang sempurna, sebab kehendak Allah belum genap. Itulah sebabnya Ia perlu datang kembali, agar kehendak Allah yang kekal tergenap dengan sempurna. Ini berarti kehendak kekal Allah tidak mungkin genap sepenuhnya sebelum kedatangan Tuhan kali kedua. Dengan perkataan lain, tanpa masa Kerajaan Seribu Tahun, kehendak kekal Allah tidak mungkin genap dengan sempurna.
Kerajaan Seribu Tahun akan merupakan bagian terakhir dan yang paling penting dari penggenapan kehendak kekal Allah. Saya perlu menekankan hal ini, karena selama beberapa abad, kebanyakan pengajar Alkitab mempertahankan suatu konsepsi bahwa bila Tuhan Yesus kembali segalanya akan tergenap. Jadi menurut konsepsi itu, begitu Tuhan kembali alam semesta lama akan berakhir, dan langit baru, bumi baru akan dimulai. Memang, ketika Tuhan Yesus kembali, masa Kerajaan Seribu Tahun yang indah akan dimulai. Tetapi bagaimanapun indahnya Kerajaan Seribu Tahun, langit lama dan bumi lama masih tetap ada. Jadi, masa Kerajaan Seribu Tahun paling jauh merupakan masa pemulihan (kebangunan) (Kis. 3:21). Ketika itu langit dan bumi akan mengalami pemulihan (kebangunan), tetapi tetap sebagai langit dan bumi lama, belum diganti dengan yang baru. Langit dan bumi lama diganti dengan langit dan bumi baru seribu tahun kemudian. Sejak terciptanya Adam hingga kedatangan Kristus kali kedua, kurang lebih enam ribu tahun, akan disusul dengan masa pemulihan alam semesta, namun alam semesta belum diperbarui. Hal ini harus menunggu seribu tahun lagi. Setelah seribu tahun terakhir ini berlalu, alam semesta yang lama akan diganti dengan yang baru. Ketika itulah langit baru, bumi baru, dan Yerusalem Baru akan dimulai.
Apakah Anda masih menganggap bahwa ketika Kristus datang kembali, segalanya akan beres? Tidak semua beres. Walaupun ketika itu Iblis akan dibelenggu, tetapi ia belum ditanggulangi seluruhnya. Setelah masa seribu tahun berakhir, Iblis akan dibebaskan dan ia akan menyesatkan bangsa-bangsa, serta memimpin mereka memerangi Tuhan (Why. 20:7-9). Setelah seribu tahun, Iblis tetap akan melawan Allah. Selain itu, selama Kerajaan Seribu Tahun, sifat jahat dalam diri manusia masih belum terbasmi sama sekali. Walaupun bangsa-bangsa telah ditaklukkan, tetapi akhirnya Gog dan Magog akan memberontak sekali lagi. Hal itu membuktikan bahwa unsur pemberontakan masih terdapat dalam manusia. Ketiga, maut, musuh terakhir (1 Kor. 15:26) bukan dicampakkan ke dalam lautan api pada saat kedatangan Kristus kali kedua, melainkan pada akhir masa Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:14). Maka sampai akhir Kerajaan Seribu Tahun, ketiga perkara jahat ini Iblis, sifat pemberontak manusia, dan maut masih ada. Karena ini merupakan fakta, bagaimana kita dapat mengatakan segala-galanya akan beres ketika Kristus datang kembali? Tuhan masih memerlukan waktu untuk menyingkirkan ketiga perkara jahat itu dari alam semesta Allah yang kekal ini.
Selain Iblis, sifat pemberontak manusia, dan maut, ada dua perkara negatif lagi yang juga baru akan dibasmi setelah Kerajaan Seribu Tahun berakhir. Pertama, laut, lambang segala perkara yang negatif, yang baru dapat dibasmi sepenuhnya setelah Kerajaan Seribu Tahun berakhir. Dalam langit baru dan bumi baru, tidak ada lagi laut (Why. 21:1). Kedua, setiap orang yang telah meninggal sebelum diselamatkan akan menerima penghakiman setelah Kerajaan Seribu Tahun berakhir (Why. 20:11-15). Pada akhir Kerajaan Seribu Tahun, setiap orang yang meninggal dunia tanpa beroleh selamat akan bangkit dan berdiri di depan takhta putih, untuk menerima penghakiman dan menentukan nasib kekal mereka. Siapa saja yang namanya tidak tercantum dalam kitab kehidupan akan dilemparkan ke dalam lautan api. Itulah hal-hal terakhir dalam langit dan bumi lama yang akan diakhiri. Setelah hal-hal itu berlalu, alam semesta yang lama pun berlalu seluruhnya, dan muncullah langit dan bumi baru serta Yerusalem Baru. Dalam langit dan bumi baru tidak ada lagi Iblis, tidak ada lagi sifat pemberontak manusia, dan tidak ada lagi maut, atau laut. Jangan percaya bahwa segalanya sudah beres pada saat Tuhan datang kembali. Hanya dalam langit dan bumi baru dengan Yerusalem Baru, kita dapat memuji dengan lantang, “Haleluya, sekarang semuanya sudah beres!”
Hari ini kita menikmati perhentian hari Sabat dalam hidup gereja. Walau hal ini indah, tetapi kita masih perlu menunggu kedatangan kembali Tuhan untuk membawa kita ke dalam perhentian hari Sabat yang lebih indah. Perhentian hari Sabat ini disebut “waktu pemulihan” (Kis. 3:21), namun ini pun tidak terbilang perhentian hari Sabat yang paling indah dan yang terakhir. Iblis, sifat pemberontak manusia, maut, laut, dan setiap manusia yang telah meninggal tanpa beroleh selamat, masih perlu dibereskan. Perhentian hari Sabat yang pertama mendatangkan perhentian hari Sabat yang kedua, dan perhentian Sabat kedua mendatangkan perhentian hari Sabat yang ketiga. Gereja akan mendatangkan kerajaan, dan kerajaan akan mendatangkan langit dan bumi baru serta Yerusalem Baru.
XXI. GANJARAN DALAM ZAMAN
YANG AKAN DATANG
Dalam butir ini kita akan membahas ganjaran Tuhan. Satu Korintus 11:32 mengatakan, “Tetapi kalau kita menerima hukuman dari Tuhan, kita dididik (diganjar), supaya kita tidak akan dihukum bersama-sama dengan dunia.” Kita nampak di sini ganjaran berbeda dengan kebinasaan. Walaupun Anda tidak binasa lagi, namun jangan mengira tidak ada persoalan lagi di kemudian hari. Tuhan mungkin akan mengganjar Anda saat itu.
Semua orang Kristen golongan fondamental menyetujui bahwa setelah kita beroleh selamat bila tetap berkelakuan tidak baik, Tuhan akan mengganjar kita. Tetapi banyak orang mempunyai konsepsi keliru, mengira ganjaran Tuhan hanya berlaku pada zaman ini saja, dan setelah Tuhan datang, ganjaran tidak akan ada lagi. Konsepsi demikian tidak logis. Misalkan ada seorang saudara remaja tertipu hingga ia meninggalkan hidup gereja, kembali ke dalam dunia, dan menghabiskan sisa hidupnya dalam dosa. Percayakah Anda bahwa ia tidak ada persoalan lagi ketika Tuhan datang kembali? Dalam Alkitab saya tidak pernah menjumpai bahwa keadaan demikian tidak berakibat apa-apa. Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan bahwa orang Kristen yang tetap hidup dalam dosa, tidak bertobat, tidak akan ada persoalan apa-apa ketika Tuhan datang kembali. Sebaliknya, banyak ayat menerangkan bahwa baik kaum saleh yang masih hidup maupun yang bangkit dari kematian, semuanya harus berdiri di depan takhta penghakiman Kristus dan mendapat balasan yang baik atau buruk sesuai dengan perbuatan masing-masing. Balasan yang baik sudah tentu adalah pahala, sedang balasan yang buruk pasti adalah ganjaran atau hukuman.
Dua Korintus 5:10 mengatakan, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya sesuai dengan yang dilakukannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat.” Penghakiman ini bukan penghakiman di takhta putih besar yang menentukan keselamatan atau kebinasaan, melainkan penghakiman yang menentukan beroleh pa-hala atau ganjaran, ketika Kristus datang kali kedua sebelum Kerajaan Seribu Tahun. Dalam ayat ini Paulus memakai istilah “kita”, berarti ia sendiri termasuk. Dan kata “yang dilakukan” ditujukan kepada perbuatan kita hari ini. Satu Korintus 4:5 mengatakan, “Karena itu, janganlah menghakimi sebelum waktunya, yaitu sebelum Tuhan datang. Ia akan menerangi, juga apa yang tersembunyi dalam kegelapan, dan Ia akan memperlihatkan apa yang direncanakan di dalam hati. Kelak tiap-tiap orang akan menerima pujian dari Allah.” Dapatkah Anda menerima pujian ketika Tuhan datang kelak? Itu mutlak tergantung pada perbuatan Anda setelah Anda beroleh selamat. Ketika Tuhan datang lagi, Ia akan mendirikan satu takhta penghakiman, dan setiap orang kudus yang terangkat dan bangkit akan berdiri di hadirat-Nya untuk memberikan pertanggungjawaban.
Dalam Roma 14:10-12 kita temukan hal yang sama, “Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: ‘Demi Aku hidup,’ demikianlah firman Tuhan, ‘semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.’ Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggung jawaban tentang dirinya sendiri kepada Allah”. Kita semua harus berdiri di hadapan Allah dan memberi pertanggung-jawaban atas perbuatan yang kita lakukan setelah kita beroleh selamat. Tuhan menghendaki kita memberi pertanggungjawaban atas perbuatan kita untuk menentukan apa yang patut kita terima, pahala atau ganjaran? Ini adalah suatu hal yang sangat serius. Sayang sekali banyak orang Kristen tidak pernah mendengar perkataan ini. Jika kita tidak jelas akan hal ini, mustahillah kita memahami makna perhentian hari Sabat, juga tidak mungkin memahami lima peringatan dalam Surat Ibrani tentang perlakuan Tuhan terhadap kaum beriman di zaman yang akan datang.
XXII. UPAH DALAM INJIL MATIUS
Dalam Injil Matius tercantum masalah upah atau pahala. Janganlah menerima konsepsi aliran zaman yang mengatakan bahwa Injil Matius bukan untuk kita. Seandainya Injil Matius bukan untuk kita, tentu Yesus yang terlahir sebagai Juruselamat yang tercatat dalam Matius 1 dan disajikan sebagai perhentian dalam Matius 11, juga bukan untuk kita. Perkataan demikian sangat menggelikan! Matius 16:18-19 menunjukkan, bila gereja terbangun, kerajaan pun akan datang. Matius 18:15-17 melukiskan hidup gereja lokal dengan mengatakan bila ada seorang saudara tidak menerima nasihat gereja, ia harus dianggap sebagai orang kafir dan pemungut cukai. Itu berarti ia harus dikeluarkan dari hidup gereja, dan juga berarti ia tidak berhak menikmati perhentian Tuhan dalam Matius 11:28-29. Matius 11:28 mengatakan, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan (perhentian) kepadamu.” “Aku” yang memberikan perhentian kepada kita ini selanjutnya menuju ke gereja dalam Matius 16 dan menetap di dalam gereja dalam Matius 18. Bila kita ingin menikmati-Nya sebagai perhentian kita, haruslah kita mengikuti-Nya ke dalam gereja dan tinggal bersama-Nya di dalam gereja. Jika kita tidak menaati gereja, kita akan berada di luar hidup gereja, dan akan kehilangan perhentian. Matius 12:8 mengatakan bahwa Anak Manusia adalah Tuhan atas hari Sabat. Kita harus beserta dengan-Nya, baru bisa memiliki perhentian. Bila kita berada di luar gereja, kita tidak memiliki perhentian hari Sabat.
Matius 16:18-19 membicarakan tentang gereja dan kerajaan, Matius 16:27 membicarakan tentang upah (pahala), “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikatNya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya.” Ayat ini bukan ditujukan kepada orang yang belum beriman, sebab mereka hanya sebagai orang dosa yang tidak layak menerima pahala. Ayat ini tentu ditujukan kepada kaum beriman yang akan menerima salah satu dari kedua upah itu; yang baik menerima pahala, yang jahat menerima hukuman. Matius 1 menunjukkan bahwa Yesus adalah Juruselamat dan Imanuel; Matius 6 menyuruh kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu”; Matius 11 menyuruh kita datang kepada Tuhan untuk memperoleh perhentian; Matius 12 mengatakan bahwa Yesus adalah Tuhan atas hari Sabat; Matius 16 mewahyukan bahwa gereja dibangun di atas diri Kristus dan dari pembangunan gereja itu kerajaan didatangkan; Matius 18 menerangkan kepada kita bahwa kita harus berada dalam hidup gereja yang wajar; dan Matius 16:27 mengingatkan kita, bila Tuhan datang lagi, Ia akan membalas kita sesuai dengan perbuatan kita.
Matius 25 memberikan peringatan keras kepada kita, yaitu ketika Tuhan kembali, Ia akan menghukum beberapa hambanya (ayat 24-30). Ada yang mengatakan bahwa hamba-hamba yang dihukum itu adalah orang Kristen palsu, tetapi tafsiran demikian tidak masuk akal. Mana mungkin orang Kristen palsu bisa menjadi hamba-Nya? Mana mungkin pula Tuhan mau memberikan tugas kepada hamba yang palsu? Penafsiran yang demikian jelas tidak benar. Mereka terpaksa mengatakan hamba itu palsu, sebab mereka tidak percaya bahwa Tuhan akan menghukum hamba-hambaNya ketika Ia kembali kelak. Mereka membantah, “Bagaimana mungkin orang yang telah diselamatkan bisa dihukum Tuhan ketika Ia kembali? Kalau begitu bukankah berarti penebusan-Nya tidak sempurna?” Namun sekelompok orang ini juga mengajarkan bahwa kalau orang Kristen tidak berkelakuan baik pada hari ini, ia akan dihukum Tuhan. Kita boleh mengembalikan bantahan mereka kepada mereka sendiri, “Bukankah penghukuman itu akan menyatakan bahwa penebusan Tuhan tidak sempurna?” Perbedaannya hanya soal waktunya saja. Di manakah ada ayat yang mengatakan bahwa Tuhan hanya menghukum umat-Nya pada zaman ini, bukan pada zaman yang akan datang? Tidak ada satu ayat pun yang mengatakan demikian. Namun banyak ayat dalam Alkitab yang mengatakan bahwa ketika Tuhan kembali, Ia akan mengganjar beberapa hamba-Nya (Luk. 12:35-48, khususnya ayat 46-47; 19:11-26). Bila Tuhan kembali, Ia pasti akan menghukum hamba-hambaNya yang jahat dan malas.
Kepada mereka yang mengatakan tidak ada hukuman di kemudian hari, saya ingin bertanya demikian: Seandainya ketika Tuhan kembali segalanya sudah beres, mengapa Ia perlu menghakimi kita lagi? Mengapa kita semua harus berdiri di depan takhta penghakiman-Nya? Menurut Anda apakah setiap orang yang berdiri di depan takhta penghakiman-Nya akan menerima pahala? Mungkinkah seorang hamba yang jahat dan malas patut menerima mahkota sebagai pahala? Kalaupun Tuhan memberinya sebuah mahkota, pasti ia malu menerimanya. Jika setelah beroleh selamat Anda hidup dalam dosa, dan ketika Anda berdiri di depan takhta penghakiman-Nya, Ia menghadiahkan sebuah mahkota, beranikah Anda menerimanya? Alangkah menggelikan bila Anda mengatakan bahwa Tuhan bisa menghadiahkan mahkota kepada orang Kristen yang menghamburkan waktunya dalam perjudian, memakai narkoba atau mengunjungi kelab malam. Terhadap orang Kristen demikian jangan-jangan Tuhan akan berkata, “Kamu hamba yang jahat dan malas, patutlah kamu diganjar!” Maka janganlah mengira setelah kebangkitan segalanya akan beres. Bukti terkuat bahwa tidak segalanya sudah beres setelah kebangkitan, adalah fakta bahwa setiap orang yang tidak percaya, setelah mati dan bangkit, mereka tetap harus berdiri di depan takhta putih besar dihakimi berkaitan dengan nasib mereka yang kekal.
Berdasarkan wahyu Perjanjian Baru, semua orang Kristen sejati yang tidak hidup menurut kehendak Tuhan pasti akan menerima ganjaran atau hukuman. Hal ini mungkin terjadi pada zaman ini, mungkin juga terjadi pada zaman yang akan datang, kita tidak tahu, hanya Bapa kita yang bijaksana yang tahu. Banyak bapa menyadari bila anaknya bersalah lalu segera mengganjarnya, itu tidaklah bijaksana. Hanya bapa yang bijaklah yang tahu memilih waktu yang tepat untuk mendisiplin anak-anaknya. Bagaimanapun, prinsipnya adalah bila seorang anak bersalah, ia harus diganjar. Ibrani 12 mewahyukan bahwa kita bukan hanya berbagian dalam Roh Kudus (6:4), kita juga berbagian dalam ganjaran ilahi (12:8). Karena kita adalah anak-anak Bapa, pastilah Ia akan mengganjar kita. Kapan Dia mengganjar kita, itu adalah urusan Dia. Pokoknya, jika kita anak-anakNya, bersalah, Ia akan mengganjar kita. Karena itu janganlah Anda berpandangan picik dan berkata, “Puji Tuhan, selama dua tahun terakhir ini aku tidak menerima ganjaran Tuhan!” Barangkali ketika Tuhan kembali, Anda akan menerima ganjaran itu di depan takhta penghakiman-Nya.
A. Pengangkatan Rahasia bagi
Mereka yang telah Matang
Kita adalah ladang Allah (1Kor. 3:9), hal ini merupakan suatu prinsip dasar penanggulangan Allah terhadap kita. Sebagai tanaman Allah, kita harus bertumbuh dan menjadi matang (Why. 14:15). Bila gandum di ladang belum matang, tentu tidak akan disimpan ke dalam lumbung, melainkan ditinggalkan di ladang. Kalau kita bersalah, kita perlu menerima ganjaran; bila kita tidak matang, kita harus ditinggalkan di ladang hingga kita menjadi matang. Tidak seorang pun dapat menyangkal prinsip ini.
Setelah memiliki kedua prinsip ini, marilah kita melihat Matius 24 dan 25. Matius 24 mewahyukan, di satu pihak Tuhan akan datang lagi secara rahasia; sebab di situ dikatakan Ia akan datang seperti pencuri (Mat. 24:42-43). Tidak ada pencuri yang datang dengan terang-terangan. Matius 24:44 menyuruh kita untuk siap sedia “karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga”. Ketika kita mengira pencuri akan datang, ia tidak datang; tetapi ketika kita sedang tenang, tidak mengira pencuri datang, ia malah datang. Dalam Wahyu 3:3 Tuhan juga memperingatkan gereja di Sardis demikian, “Jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu kapan saatnya Aku tiba-tiba datang kepadamu.”
Matius 24:40-41 dua kali mengatakan, “Yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan.” Tidak disangsikan lagi, itu pasti ditujukan kepada pengangkatan yang rahasia, yakni pengangkatan orang yang telah siap sedia dan telah matang. Pencuri selalu mencuri barang-barang yang berharga, tidak mungkin mencuri sampah. Kita perlu dipandang berharga oleh Tuhan, kita perlu menjadi berharga dengan menjadi matang, sehingga kita bisa dibawa-Nya secara diam-diam. Ini akan terjadi pada suatu hari. Boleh jadi, pada suatu hari ada seorang pemuda berkata, “Aku tidak tahu, apa yang terjadi pada temanku yang sangat mengasihi Tuhan. Ia tiba-tiba hilang, entah ke mana?” Ia pasti terangkat! Janganlah percaya kepada konsepsi yang mengatakan seluruh kaum saleh akan terangkat sekaligus sebelum kesusahan besar tiba. Konsepsi itu tidak tepat, dan tidak boleh dipercaya. Memang menurut 1Tesalonika 4:17 sebagian besar kaum saleh akan terangkat; tetapi Matius 24:40-44 menerangkan bahwa kaum saleh yang telah matang akan terangkat secara rahasia. Kedatangan Tuhan mempunyai dua aspek: pertama adalah “penyertaan”Nya yang rahasia, kemudian penampilan-Nya yang terbuka. Perkataan dalam 1Tesalonika 4:15-17 tentang “yang hidup, yang masih tinggal” menunjukkan kepada kita bahwa saat itu terdapat dua kelompok orang Kristen; satu kelompok ialah mereka yang hidup, yang terangkat, satu kelompok lainnya ialah mereka yang hidup, yang masih tinggal atau tertinggal. Begitu pula yang dikatakan dalam Matius 24, yakni seorang dibawa dan seorang lainnya ditinggalkan.
B. Perumpamaan Sepuluh Gadis
Dalam Matius 25:1-13 tercantum perumpamaan sepuluh gadis. Dua orang saleh yang dikatakan dalam Matius 24 adalah yang masih hidup, sebab mereka sedang menggarap ladang dan memutar batu kilangan. Tetapi kesepuluh gadis dalam Matius 25 semuanya sedang tidur. Tidur di sini bukan tidur dalam rohaninya, melainkan mati dalam jasmaninya. Bila Tuhan melambatkan kedatangan-Nya kembali, sebagian besar kaum beriman akan mengalami sakit dan mati secara jasmani. “Sepuluh” adalah bagian besar dari “dua belas”, sedang duabelas adalah angka gereja. Jadi sepuluh dalam Matius 25 ditambah dua dalam Matius 24, itulah angka keseluruhan gereja. Sebelum Tuhan datang kembali, sebagian besar orang dalam gereja akan meninggal, hanya ada sebagian kecil yang hidup. Karena itu, ke-sepuluh gadis mewakili sebagian besar kaum beriman yang sudah meninggal sebelum Tuhan datang kembali, sedang kedua perempuan lainnya mewakili kaum beriman yang masih hidup sampai kedatangan kembali Tuhan.
Dalam perumpamaan ini kesepuluh gadis itu semua telah beroleh selamat. Janganlah percaya kepada tafsiran bahwa lima gadis yang bodoh adalah orang-orang yang belum beroleh selamat. Bodoh sangat berbeda dengan palsu. Misalnya, seorang anak yang bodoh tidak berarti ia itu anak palsu. Maka kesepuluh gadis dalam Matius 25, entah bodoh atau bijak, mereka semua telah beroleh selamat. Baik yang bijak maupun yang bodoh, pelita mereka semua menyala; yang menjadi masalah ialah, yang bodoh kekurangan minyak. Ketika mempelai laki-laki datang, mereka semua bangun (berarti mereka bangkit dari kematian), namun ketika itu barulah gadis-gadis yang bodoh menyadari bahwa diri mereka kekurangan minyak. Roh manusia adalah pelita Tuhan (Ams. 20:27), dan minyak yang ekstra adalah Roh pengubahan di dalam jiwa kita, diri kita. Manusia kita ini, jiwa kita, adalah wadah Allah (Rm. 9:21, 23). Minyak berada dalam pelita berarti roh kita terisi dengan Roh Kudus. Gadis yang bodoh tidak membiarkan Roh meresapi jiwa mereka, karena itu mereka tidak mengalami pengubahan. Mereka tidak membiarkan Roh masuk ke dalam jiwa mereka, yaitu ke dalam wadah mereka. Maka mereka masih harus membayar harga, agar bagian khusus dari Roh itu meresap ke dalam jiwa, sehingga mereka mengalami pengubahan. Inilah sebabnya gadis-gadis yang bijak berkata kepada mereka, “Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ” (Mat. 25:9). Jika hari ini Anda tidak mau membayar harga agar Roh bekerja dalam jiwa Anda dan mengubah Anda, ketika Tuhan datang kelak, Anda tetap harus membayar harga itu.
Kita semua harus membayar harga, supaya jiwa kita diubah oleh Tuhan, Roh itu. Dua Korintus 3:18 mengatakan, “Kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita sedang diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.” Roh pengubahan ini adalah minyak ekstra yang kita butuhkan. Roh itu yang masuk ke dalam roh kita, menyalakan pelita roh kita, merupakan karunia cuma-cuma yang dimiliki setiap orang yang telah dilahirkan kembali. Namun setelah dilahirkan kembali, jiwa kita tetap harus diubah, dan ini perlu membayar harga. Walaupun roh kita, pelita Tuhan, dinyalakan oleh Roh itu, jiwa kita, wadah kita, tetap perlu diubah oleh Roh itu. Kita masih perlu membayar harga, agar dalam jiwa kita terdapat Roh pengubahan itu. Jika kita dalam zaman ini enggan membayar harga, dalam zaman yang akan datang kita tetap harus membayar harga.
XXIII. PADA ZAMAN YANG AKAN DATANG
TUHAN TETAP AKAN MENANGGULANGI
KAUM BERIMAN-NYA
Banyak orang Kristen mengira segala hal mengenai kehendak Allah akan rampung ketika Tuhan datang kembali. Dengan demikian, pada masa Kerajaan Seribu Tahun, Tuhan tidak akan berbuat apa-apa lagi terhadap kaum beriman. Konsepsi semacam ini membuat mereka mengira penanggulangan Tuhan terhadap umat-Nya hanya berlangsung pada zaman ini saja, dan pada zaman yang akan datang Ia tidak berbuat apa-apa lagi. Menurut pemikiran ini, Kerajaan Seribu Tahun seharusnya ada dalam langit dan bumi baru, di mana Tuhan tidak perlu berbuat apa-apa lagi bagi kehendak Allah. Namun kita telah nampak bahwa Kerajaan Seribu Tahun adalah bagian terakhir dari masa penggenapan kehendak Allah yang kekal. Alkitab menerangkan dengan jelas kepada kita, baik pada zaman ini maupun zaman akan datang semuanya merupakan masa di mana Tuhan bekerja dan menanggulangi kaum beriman-Nya, agar mereka matang dan disempurnakan sepenuhnya agar dapat merampungkan kehendak Allah. Jika pada zaman ini Ia tidak dapat merampungkan kehendak-Nya di atas diri kita, Ia akan merampungkannya kelak pada zaman yang akan datang. Hal ini mutlak tergantung pada reaksi kita terhadap pekerjaan anugerah-Nya. Jika kita mau bekerja sama dengan Tuhan, tentu Ia lebih senang menyempurnakan dan mematangkan kita dalam zaman ini juga, namun jika kita enggan, Ia terpaksa menunda penanggulanganNya atas kita karena kebodohan kita hingga zaman yang akan datang. Dalam hikmat-Nya Allah telah mengatur Kerajaan Seribu Tahun di zaman yang akan datang sebagai pahala untuk mendorong kita untuk mencari Dia dan menanggapi pekerjaan anugerah-Nya dalam zaman ini. Bila kita mau menerima dorongan ini, di satu pihak kita akan menikmati Tuhan dan hidup gereja sebagai perhentian hari Sabat hari ini; di pihak lain, kita akan menerima pahala dalam zaman yang akan datang, yakni masuk ke dalam perhentian hari Sabat Kerajaan Seribu Tahun. Kalau kita meremehkan dorongan ini, kita akan kehilangan kenikmatan atas Tuhan dan hidup gereja sebagai perhentian hari Sabat hari ini dan akan menerima ganjaran, penghukuman dalam zaman yang akan datang, sehingga sama sekali tidak mungkin menikmati perhentian hari Sabat Tuhan dan Kerajaan Seribu Tahun sebagai perhentian hari Sabat yang lebih baik. Tentu saja, zaman gereja hari ini sangat penting bagi Tuhan untuk mematangkan dan menyempurnakan kaum beriman-Nya. Namun zaman kerajaan yang akan datang itu juga diperlukan oleh Tuhan untuk menanggulangi kaum beriman-Nya yang hari ini enggan bekerja sama dengan anugerah-Nya. Itulah sebabnya, Surat Ibrani ini mendorong kita agar kita berusaha sekuatnya untuk memasuki perhentian hari Sabat yang tersedia bagi kita.