PERHENTIAN HARI SABAT YANG TERSEDIA (3)
Kita bersyukur kepada Tuhan berhubung Ia telah menerangkan masalah perhentian hari Sabat kepada kita. Allah tidak mungkin memperoleh perhentian hari Sabat yang sempurna di surga, sebab kehendak kekal-Nya bukan terwujud di surga. Perhentian-Nya tergantung pada manusia di bumi ini. Tidak peduli betapa elok dan agungnya malaikat-malaikat di surga, perhentian Allah tidak tergantung pada mereka, melainkan pada manusia di bumi. Itulah sebabnya Tuhan mengajar kita berdoa demikian, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat. 6:10). Alkitab menerangkan bahwa pada akhirnya perhentian Allah yang sempurna itu akan terwujud melalui suatu komposisi hidup yang terbentuk dari semua orang yang tertebus di bumi ini.
XII. PERKEMBANGAN PROGRESIF
PERHENTIAN HARI SABAT
Perihal perhentian Sabat ini berkembang secara pro-gresif mulai dari Kejadian 2. Dalam Kejadian 2 kita nampak bahwa hari Sabat pertama Allah adalah setelah Ia di bumi memperoleh seorang manusia yang dapat mengekspresikan gambar-Nya dan berkuasa sebagai wakil-Nya. Jadi setelah Allah memperoleh manusia yang demikian, barulah Ia memperoleh perhentian. Itulah perhentian yang pertama. Perhentian Allah yang kedua ialah yang diperoleh-Nya melalui umat Israel. Setelah umat Israel memperoleh tanah permai Kanaan dan membangun Bait Suci yang dipenuhi kemuliaan Allah, Allah di bumi memperoleh perhentian yang kedua. Bait yang dipenuhi oleh kemuliaan Allah di tanah permai menandakan Allah di bumi telah mendapatkan sekelompok orang menjadi tempat kediaman-Nya, sehingga Ia dapat mengekspresikan diri-Nya dan dapat melaksana-kan kekuasaan-Nya. Inilah perhentian Allah yang kedua yang diperoleh-Nya dari diri manusia. Jadi, dalam kitab Perjanjian Lama terdapat dua buah kisah perhentian Allah yang sangat menonjol: pertama tercantum dalam Kejadian 2 dan kedua tercantum dalam 1 Raja-raja 8.
Seperti telah kita lihat dalam berita sebelumnya, ketika Tuhan Yesus datang, Ia juga adalah perhentian Allah. Menyusul Tuhan Yesus, kita nampak gereja sebagai perhentian hari Sabat Allah. Kristus adalah Kepala dan gereja adalah Tubuh. Dalam Kisah Para Rasul 2, yakni ketika hari Pentakosta, kita nampak kemuliaan Allah sekali lagi memenuhi bait, Allah sekali lagi mendapatkan manusia sebagai tempat kediaman-Nya sehingga Ia memperoleh perhentian di bumi. Ini boleh kita sebut sebagai perhentian yang ke-tiga. Allah di bumi pernah memperoleh seorang manusia. Meskipun Allah telah mendapatkan sesuatu pada diri Nuh, Abraham, dan bahkan Tuhan Yesus sendiri, namun dalam berita ini kita perlu menitikberatkan ketiga perhentian yang utama; yang pertama ialah perhentian setelah terciptanya manusia dalam gambar Allah dan dengan kuasa-Nya, yang kedua yaitu ketika bait terbangun di bumi yang dipenuhi kemuliaan Allah, dan yang ketiga ialah gereja, manusia baru itu, telah terbangun dengan manusia-manusia yang memiliki gambar Allah.
Kedua perhentian yang pertama, yaitu perhentian setelah terciptanya manusia dan perhentian setelah terbangunnya Bait Suci, bukanlah perhentian yang sejati, melainkan gambaran saja. Perhentian yang sejati yang Allah peroleh karena mendapatkan manusia di bumi ialah terbangunnya gereja. Gereja bukan lambang perhentian hari Sabat, melainkan realitas perhentian. Perhentian pada masa Adam maupun perhentian pada masa pembangunan Bait Suci, semua hanya merupakan lambang. Kegenapan perhentian adalah demi terbangunnya gereja.
Cara Allah bertindak selalu progresif. Hal ini dapat kita lihat dari catatan penciptaan dalam Kejadian 1. Coba pikir, mengapa Allah tidak dalam satu hari merampungkan penciptaan-Nya atas segala benda? Padahal jika Ia mau, dalam beberapa menit saja sudah bisa. Pada hari pertama Ia hanya menyuruh terang itu terbit, dan hari kedua Ia hanya menciptakan cakrawala. Andaikata saat itu kita berada di situ, pasti kita tidak sabar lagi. Kita pasti akan mendesak Allah dan berkata kepada-Nya, “Allah, terang sudah ada, tetapi kita masih perlu udara!” Kita sering lebih tergesa-gesa daripada Allah. Tetapi Allah sering berkebalikan dengan kita, tindakanNya selalu progresif, selangkah demi selangkah maju. Hingga suatu hari, Allah telah menjadi seorang manusia, menaburkan diri-Nya ke dalam manusia; dan melalui kematian dan kebangkitan, kemudian barulah menghasilkan gereja. Allah tidak menyelesaikan segala sesuatu dengan sekali jadi. Walaupun Allah telah menaburkan diri-Nya sebagai benih di dalam kita, namun waktu penuaian belumlah tiba. Yang kita terima, dapatkan, dan miliki hari ini adalah benihnya, bukan tuaiannya. Allah sangat sabar. Walaupun benih itu telah ditabur hampir 2000 tahun yang lampau, Ia tidak merampungkan semua pekerjaan-Nya sekaligus pada masa itu juga. Ketika Allah menaburkan diri-Nya ke dalam manusia, maka muncullah suatu zaman yang ajaib, yakni zaman Perjanjian Baru. Sebelum Tuhan Yesus datang, Allah tidak pernah menaburkan diri-Nya ke dalam manusia. Adam dan umat Israel hanya lambang. Allah tidak pernah menaburkan diri-Nya ke dalam “tanah” Adam, atau ke dalam “tanah” umat Israel, sebab mereka semua hanya lambang. Allah hanya menaburkan diri-Nya ke dalam gereja yang adalah tanah yang sejati.
Lihatlah hukum alam dari pertumbuhan suatu benih. Bila Anda menabur benih ke dalam tanah, jangan berharap dapat menuainya besok pagi. Jamur-jamur pun tidak mungkin bertumbuh begitu cepat. Tumbuh-tumbuhan yang lebih baik akan memerlukan masa pertumbuhan yang lebih lama. Menurut hukum alam, setiap kehidupan membutuhkan waktu untuk bertumbuh dan kehidupan yang paling tinggi, perlu waktu pertumbuhan paling lama. Seekor anjing bisa besar dalam waktu kurang dari setahun, namun seorang manusia paling sedikit memerlukan delapan belas tahun baru mencapai kedewasaan. Maka orang tua tidak bisa mengharapkan putra putri mereka bertumbuh secepat anjing. Namun banyak pengkhotbah dan pendeta sering bermimpi bahwa orang Kristen dapat bertumbuh dewasa dalam semalam. Kita memerlukan waktu untuk bertumbuh, kita juga memerlukan waktu untuk matang dan dewasa.
XIII. PERHENTIAN PERTUMBUHAN DAN
PERHENTIAN KEMATANGAN
Allah telah menaburkan diri-Nya ke dalam sejumlah orang sehingga mereka menjadi gereja, di dalamnya mencakup setiap orang yang telah menerima Tuhan Yesus. Namun setelah menerima Tuhan Yesus, masalahnya ialah bagaimana kita membiarkan Tuhan bertumbuh di dalam kita? Dalam perumpamaan penabur pada Matius 13 kita lihat ada 4 macam tanah. Walaupun tiap macam tanah itu telah menerima benih yang sama, tetapi yang dikeluarkan dan dihasilkan masing-masing berlainan. Sudahkah Anda dilahirkan kembali? Sudahkah Anda menerima Tuhan Yesus? Tetapi bagaimana hasilnya? Inilah perkara yang paling di abaikan oleh kebanyakan orang Kristen hari ini. Memang benar hidup gereja adalah perhentian hari Sabat Allah, namun itu masih bukan merupakan perhentian yang matang. Itu memang baik, tetapi belum cukup baik. Hidup gereja bagaikan benih yang telah bertumbuh indah sekali, tetapi masih belum mencapai masa penuaiannya. Dalam hidup gereja hari ini memang ada perhentian Allah, namun perhentian ini belum sempurna dan belum matang. Itulah sebabnya perhentian ini harus memasuki tahap lain, yakni tahap penuaian ketika Tuhan Yesus datang kembali. Kedatangan kembali Tuhan adalah masa penuaian. Memang indah sekali melihat tanaman sedang bertumbuh, tetapi hal itu tidak seindah masa penuaian. Tidak usah diragukan, dalam hidup gereja hari ini ada perhentian yang riil bagi Allah, karena Allah telah menaburkan diri-Nya sebagai benih ke dalam ladang dan benih itu sekarang sedang bertumbuh. Namun kita harus ingat bahwa kita masih belum berada dalam masa penuaian. Apakah Anda sudah matang ketika masa penuaian itu tiba? Kalau Anda bertanya kepada para petani, mereka akan memberi tahu Anda bahwa walau masa penuaian sudah tiba, ada sebagian tanaman belum matang. Hidup gereja hari ini memang merupakan perhentian yang sejati, tetapi itu tidak dapat terbilang sudah matang dan sempurna. Perhentian yang matang dan sempurna akan tiba pada masa berikutnya. Dalam 1Korintus 3 kita nampak bertumbuhnya ladang, sedang dalam Wahyu 14 kita nampak penuaiannya.
Kita semua dapat berada dalam perhentian pertumbuhan, tetapi dapat tidaknya kita berada dalam perhentian penuaian kelak, sepenuhnya tergantung pada kematangan kita. Lihatlah keadaan dewasa ini, jutaan orang Kristen telah beroleh selamat, namun hanya sedikit yang datang menempuh hidup gereja dan menikmati kelimpahan Tuhan. Perhentian ini sebenarnya untuk semua orang Kristen, tetapi tidak semua memasukinya. Karena itulah Surat Ibrani ditulis. Tujuan penulisan Surat Ibrani adalah menganjurkan setiap orang yang beroleh selamat agar mereka tidak menolak hidup gereja, melainkan berusaha dengan tekun, sekuat tenaga, dan rajin untuk memasukinya, sebab inilah perhentian hari Sabat pada hari ini. Perhentian hari Sabat ini tidak mungkin Anda peroleh di kalangan organisasi, agama, dan denominasi atau kelompok bebas yang manapun. Perhentian dalam pertumbuhan pada hari ini adalah hidup gereja yang riil dengan kelimpahan Kristus, dan semua orang Kristen yang sejati harus memasuki perhentian ini dengan keberanian dan ketekunan. Bila mereka tidak berusaha dengan tekun, mereka akan kehilangan sasaran, seperti halnya dengan kebanyakan umat Israel yang keluar dari Mesir. Paling sedikit ada dua juta orang Israel telah keluar dari Mesir, tetapi hampir semuanya telah mati di padang gurun, dan hanya sedikit sekali yang dapat masuk ke dalam perhentian. Itu adalah lambang. Hari ini, di zaman gereja, lambang itu telah tergenap. Walaupun ada berjuta-juta orang Kristen telah diselamatkan, tetapi di manakah mereka berada? Mereka masih tertinggal di Mesir atau sedang mengembara di padang gurun. Ketika Surat Ibrani ditulis, keadaan orang Ibrani yang beriman sedang dalam bahaya menjadi pengembara di padang gurun yang akhirnya mati di sana. Karena itu, Surat Ibrani ditulis dengan maksud menasihati mereka, agar mereka berusaha memasuki perhentian hari Sabat hari ini. Orang Kristen hari ini benar-benar memerlukan nasihat yang sedemikian!
XIV. PAHALA BERTUMBUH DENGAN TEPAT
Sekarang kita berada dalam hidup gereja, yaitu dalam perhentian pertumbuhan hari ini, namun problemnya ialah bagaimana kita bertumbuh? Apakah kita bertumbuh dengan tepat dan memadai? Apakah kita bertumbuh demi bersandar pada anugerah Tuhan secara terus-menerus? Bagaimana kita bertumbuh dalam perhentian pertumbuhan ini akan menentukan dapat tidaknya kita mengambil bagian dalam perhentian berikutnya. Secara riil dapat dikatakan bahwa perhentian yang berikutnya merupakan suatu pahala bagi kita yang bertumbuh dengan tepat dalam perhentian masa kini. Perhentian berikutnya, yaitu perhentian kematangan, akan merupakan pahala yang riil dan sesungguhnya bagi setiap orang yang terus bertumbuh dengan tepat dalam perhentian pertumbuhan hari ini. Dengan kata lain, jika Anda tidak bertumbuh dengan baik dalam masa perhentian pertumbuhan ini, Anda akan kehilangan perhentian yang berikutnya, yaitu kehilangan perhentian kematangan. Ini adalah hikmat Allah dan sangat logis. Dengan hikmat-Nya Allah telah memakai perhentian yang akan datang sebagai pahala untuk mendorong kita menikmati perhentian masa kini. Kita pasti akan menderita ke-rugian karena kehilangan perhentian berikutnya, jika kita mengabaikan perhentian masa kini.
Dalam hal ini kita perlu merenungkan baik-baik perkataan Paulus yang tercantum dalam 1Korintus 9:24-27. Ayat 24 mengatakan, “Tidak tahukah kamu bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, te-tapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah sedemikian rupa, sehingga kamu memperolehnya!” Yang dimaksud di sini bukan mendapat karunia keselamatan, sebab karunia keselamatan telah kita peroleh, melainkan mendapat hadiah atau pahala. Ayat 25 mengatakan, “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh mahkota yang abadi.” Mahkota di sini adalah suatu pahala atau hadiah yang tersedia bagi setiap pemenang. Selanjutnya dalam ayat 26-27 dikatakan, “Sebab itu, aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.” Kata “ditolak” di sini pun bukan berarti ditolak dalam karunia keselamatan, melainkan kehilangan pahala. Satu Korintus 10:1 melanjutkan pasal 9 (Dalam bahasa aslinya tidak terbagi pasal atau ayat). Satu Korintus 10:5 mengatakan, “Sungguhpun demikian (tetapi) Allah tidak berkenan kepada sebagian besar dari mereka, karena mereka dibinasakan di padang gurun.” Ayat ini dalam bahasa aslinya diawali dengan kata “tetapi”, kata ini penting sekali. Di satu aspek, semua orang Israel ketika itu seperti menempuh suatu perlombaan. Setelah mereka keluar dari Mesir dan menyeberang Laut Merah, mereka lalu berlomba lari, namun kebanyakan di antara mereka jatuh di tengah jalan. Dalam gambaran yang dilukiskan oleh Paulus, kita nampak bahwa ia sendiri juga ikut dalam lomba lari tersebut dan ia berhati-hati supaya dirinya tidak ditolak sehingga kehilangan pahala. Kehilangan pahala apa? Singkatnya yaitu kehilangan perhentian yang akan datang dalam Kerajaan Seribu Tahun.
Bapa kita yang berhikmat telah menggunakan perhentian yang akan datang dalam Kerajaan Seribu Tahun itu sebagai dorongan bagi kita, agar hari ini kita mau menempuh perjalanan kita atau berlomba dengan sebaik-baiknya. Bagaimanakah cara Anda berlomba? Janganlah Anda berlomba dengan malas. Jika demikian, Anda tidak akan matang. Mungkin Anda kini menikmati perhentian hari ini dalam hidup gereja, yaitu dalam perhentian pertumbuhan, namun bisakah Anda berbagian dalam perhentian yang akan datang yakni perhentian kematangan? Karena itu janganlah kita mengabaikan masalah ini. Paulus sudah berlomba sejak mula pertama ia melayani Tuhan, tetapi ketika ia menulis Surat 1Korintus, ia belum berani mengatakan bahwa dirinya pasti bisa memperoleh pahala.
Ketika Paulus menulis Surat Filipi, yaitu pada saat-saat terakhir dari pelayanannya (ministrinya), pemikiran tersebut tetap ada padanya. Dalam Filipi 3:12 ia mengatakan, “Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal (pahala) ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.” Di sini Paulus mengatakan bahwa ia telah ditangkap oleh Kristus untuk sesuatu, tetapi ia belum menangkap Kristus yang telah menangkapnya itu. Kristus telah mendapatkan kita, supaya kita mendapatkan Dia; dan kini kita sedang dalam perjalanan untuk mendapatkan Dia. Sudahkah kita mendapatkan Dia dengan sepenuhnya? Belum, kita belum mendapatkan Dia sepenuhnya. Ia telah mendapatkan kita agar kita pun dapat mendapatkan Dia dengan sepenuhnya. Bahkan ketika Paulus menulis Surat Filipi, ia masih berlomba dalam tempuhan ini, ia belum mendapatkan Kristus dengan sepenuhnya. Dalam ayat 13-14 Paulus mengatakan lebih lanjut, “Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap bahwa aku telah menangkapnya, tetapi inilah yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” Dalam ayat-ayat di atas kita nampak ketika Paulus menulis Surat Filipi ia masih berlari-lari ke depan, dan belum yakin apakah dirinya pasti bisa memperoleh pahala itu.
Akan tetapi dalam 2Timotius 4:6-8 Paulus telah beroleh keyakinan untuk memperoleh pahala katanya, “Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya.” Surat ini ditulis oleh Paulus tidak lama sebelum ia mati sahid. Dapatkah kita mengucapkan perkataan seperti ini ketika kita akan mengakhiri hidup kita? Dapatkah kita mengatakan bahwa kita telah mengakhiri pertandingan yang baik, telah mencapai garis akhir dari perjalanan yang harus kita tempuh, dan telah memelihara iman, bahkan telah tersedia mahkota kebenaran bagi kita? Perhatikanlah, di sini tidak dikatakan mahkota anugerah, melainkan mahkota kebenaran. Paulus mengetahui dengan pasti bahwa Tuhan, Hakim yang adil, pada suatu hari kelak akan mengaruniakan satu mahkota kebenaran kepadanya sesuai dengan keadilan-Nya pada hari-Nya. Apakah yang dimaksud dengan “hari-Nya”? Itulah perhentian di zaman yang akan datang, yang juga adalah perhentian kematangan. Paulus mengatakan bahwa mahkota itu bukan hanya dikaruniakan kepadanya saja, tetapi juga kepada setiap orang yang merindukan kedatangan-Nya.
Bagaimanakah pertumbuhan kita sekarang? Bagaimanakah perlombaan kita sekarang? Jawabannya akan menentukan masa depan kita, yakni menentukan dapat tidaknya kita menikmati perhentian kematangan di dalam Kerajaan Seribu Tahun kelak. Banyak orang Kristen berkonsepsi keliru, mengira asalkan mereka sudah beroleh selamat pasti akan beroleh bagian dalam Kerajaan Seribu Tahun. Walaupun bertahun-tahun lamanya saya diajari demikian, setelah mempelajari Alkitab lebih lanjut, saya menemukan bahwa konsepsi itu tidak tepat. Manusia beroleh selamat cukup dengan percaya saja, tetapi bila ingin berkuasa bersama Kristus dalam Kerajaan Seribu Tahun, itu bukan masalah karunia keselamatan, melainkan suatu pahala atau hadiah yang mendorong kita berlomba dengan tepat. Di sinilah terlihat hikmat Bapa.
Bukankah hidup gereja merupakan hari Sabat pada hari ini? Ya, puji Tuhan, hidup gereja adalah perhentian pertumbuhan yang membawa kita kepada perhentian kematangan. Namun dapat tidaknya kita beroleh bagian dalam perhentian kematangan di kemudian hari tergantung pada bagaimana pertumbuhan kita hari ini. Hal ini sangat logis. Bapa kita sangatlah berhikmat. Bahkan seorang bapa jasmanipun bisa mengajar anak-anaknya, “Anak-anak, jika kalian baik-baik belajar dan sukses dalam ujian terakhir, kalian akan kuberi hadiah yang besar. Tetapi jika tidak, akan kuhukum sehari penuh dalam kamar gelap. Ketika kamu ada di dalam kamar gelap, kakak atau adikmu yang sukses akan menikmati hadiah mereka dan mengalami perhentian sehari penuh.” Banyak bapak yang melakukan hal semacam ini. Misalnya ada seorang bapak mempunyai 5 anak, yang pertama mendapat hadiah terbesar, yang satu mendapat hadiah nomor dua, yang ketiga hanya sekadar bisa lulus dan mendapat hadiah paling kecil, lalu kedua anak lainnya, yang tidak lulus karena nakal dan tidak giat belajar, dimasukkan ke dalam kamar gelap. Bukankah bapak yang demikian sangat baik, berhikmat, adil, dan juga sangat menyayangi anak-anaknya? Bapak yang demikian sungguh pandai mendorong anak-anaknya, agar mereka semua mau bersekolah dengan segiat-giatnya. Demikian pula Bapa kita yang di surga, dalam Perjanjian Baru ini Ia juga memperlakukan kita seperti itu. Bapa kita, Bapa kita yang pengasih, berhikmat dan mengetahui bagaimana mendorong anak-anakNya untuk bertumbuh. Dalam kitab Perjanjian Baru terdapat banyak ayat yang berhubungan dengan hal tersebut, dan dalam berita-berita selanjutnya akan kita bahas lebih banyak.
Sebagai rasul, Paulus masih perlu berlari berlomba. Walaupun ia sangat setia dan telah melakukan pekerjaan yang besar dan unggul bagi Tuhan, tetapi ia tetap merasa takut dan gentar kalau-kalau dirinya akan ditolak. Rasa takut dan gentar akan tertolak yang ada padanya sekali-kali bukan berarti takut tidak dapat beroleh selamat, atau takut binasa lagi. Bukan! Seperti telah kita katakan, ditolak di sini tidak berarti binasa, tetapi berarti kehilangan pahala. Ketika ia menulis Surat Filipi ia belum berani mengatakan dirinya pasti bisa beroleh pahala. Ia baru berani mengatakannya ketika ia akan mengakhiri hidupnya dengan mati sahid. Ketika itulah ia baru mengatakan, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran.” Sampai saat itulah baru ia berani mengucapkan perkataan itu. Ayat-ayat seperti ini sungguh perlu kita perhatikan sebaik-baiknya. Sayang, jarang sekali orang Kristen yang mau memperhatikannya, mereka hanya mau memperhatikan ayat-ayat “permen” rohani. Saya minta Anda membaca dan mendoakan ayat-ayat dalam 1Korintus, Filipi, dan 2 Timotius tersebut berkali-kali, hingga Anda menyelami kata-kata itu dan beroleh terang sepenuhnya dari ayat-ayat itu. Boleh jadi ayat-ayat tersebut tidak begitu manis rasanya, tetapi mengandung gizi yang kaya dan merupakan makanan yang bermanfaat bagi kesehatan kita. Di satu pihak, kita harus bersyukur kepada Tuhan bahwa hidup gereja hari ini adalah dalam perhentian pertumbuhan, menikmati kelimpahan Kristus, sedang di pihak lain, kita juga harus memperhatikan bagaimana pertumbuhan, perlombaan, dan peperangan kita, karena semua itu akan menentukan dapat tidaknya kita beroleh bagian dalam perhentian yang akan datang, yaitu perhentian kematangan. Semoga anugerah Tuhan menyertai kita dalam hal ini!