← Daftar isi Ibrani (2) · bab 2/17

PERHENTIAN HARI SABAT YANG TERSEDIA (2)

Dalam berita yang lalu telah kita bahas makna per-hentian hari Sabat, yakni bahwa hal itu bukan hanya suatu perhentian setelah rampungnya pekerjaan, tetapi suatu kepuasan. Bila keinginan Anda belum terpuaskan, Anda tidak memiliki perhentian. Perhentian yang terbaik dan sejati ialah apabila keinginan hati Anda telah terpuaskan. Ketika membicarakan masalah perhentian hari Sabat, hendaklah kita terlebih dulu mengetahui apakah keinginan hati Allah. Dari awal hingga akhir Alkitab, kita dapat nampak bahwa kehendak Allah menurut rencana kekal-Nya adalah mendapatkan manusia sebagai ekspresi-Nya dan wakil-Nya. Itulah sebabnya manusia diciptakan menurut rupa dan gambar-Nya serta diberi kuasa untuk mewakili-Nya menguasai segalanya (Kej. 1:26). Bila manusia di bumi ini telah mengekspresikan Allah dan mewakili-Nya, hati Allah barulah terpuaskan. Ketika kita mendapatkan kepuasaan di dalam kehendak Allah, walaupun kita harus bekerja berjerih lelah, kita pun dapat menikmati perhentian itu. Ketika untuk kali pertama mengatakan tentang rupa, gambar, dan kekuasaan Allah, Alkitab menunjukkan bahwa manusia telah ditentukan untuk mengekspresikan Allah dengan gambar-Nya dan untuk mewakili-Nya dengan kekuasaan-Nya. Dengan kata lain, manusia ditentukan oleh Allah untuk mengekspresikan Dia dan mewakili Dia dalam gambar-Nya dan dengan kekuasaan-Nya untuk mendirikan suatu kerajaan, suatu wilayah ilahi, bagi pemerintahan-Nya di bumi. Inilah sebuah lukisan jelas yang terdapat dalam Kejadian 1.

Bila kita tiba pada akhir Alkitab, kita nampak setelah berabad-abad, Allah menciptakan, menebus, mengubah, dan memuliakan, akhirnya muncullah satu kota yang serupa dengan Allah. Allah yang duduk di atas takhta tampak seperti permata yaspis (Why. 4:2-3) dan segenap Kota Yerusalem Baru juga bagaikan permata yaspis (Why. 21:11, 18a). Ini berarti Allah akan sepenuhnya terekspresi di dalam dan melalui segenap kota itu. Bila Anda melihat kota itu, Anda akan nampak Allah. Allah akan diekspresikan sepenuhnya di dalam Kota Yerusalem Baru. Selain itu, di tengah-tengah kota terdapat takhta Allah (Why. 22:1, 3), ini menunjukkan bahwa Allah juga berkuasa di sana. Di dalam Yerusalem Baru rupa gambar Allah dapat diekspresikan, kuasa Allah juga dapat dilaksanakan. Karena itu, di bumi baru dalam kekekalan yang akan datang, Yerusalem Baru akan menjadi ekspresi dan pemerintahan Allah yang sempurna. Itulah perhentian hari Sabat yang sejati bagi Allah. Ketika itu, Allah akan sepenuhnya beroleh perhentian, sebab keinginan hati-Nya telah dipuaskan sepenuhnya. Inilah makna sejati dari perhentian hari Sabat.

IX. PERHENTIAN HARI SABAT

DALAM BERBAGAI ZAMAN

A. Umat Israel sebagai Perhentian Hari Sabat Allah

Berdasarkan pengenalan perhentian hari Sabat tersebut di atas, dapatlah kita melihat adanya berbagai zaman perhentian hari Sabat dalam Alkitab. Pertama, dalam Perjanjian Lama, umat Israel adalah perhentian Allah. Umat Israel pada waktu itu telah menjadi ekspresi dan wakil Allah di bumi ini. Walaupun dalam Alkitab terdapat banyak kisah negatif tentang umat Israel, bagaimanapun mereka adalah ekspresi dan wakil Allah. Kita tidak boleh hanya melihat sisi hitam dari sejarah mereka, sisi putih mereka juga harus kita lihat. Ketika saya masih muda, hampir semua kisah orang Israel yang saya dengar bersifat negatif. Tiap khotbah selalu menasihati kita agar kita jangan mengikuti teladan mereka. Karena itu, saya mempunyai kesan yang dalam mengira bahwa Kitab Bilangan merupakan kitab yang terburuk di dalam Alkitab. Bertahun-tahun kemudian barulah saya menyadari bahwa Kitab Bilangan sebenarnya mulia. Walaupun kitab ini memiliki sisi hitam, tetapi ia juga memiliki sisi putih. Sebagai contoh, apa yang terjadi ketika Bileam dibeli oleh Balak untuk mengutuk orang Israel? Allah menangani hal itu dengan kedaulatan-Nya, sehingga yang keluar dari mulut Bileam bukan kutuk, melainkan berkat. Bileam berkata, “Tidak ada ditengok kepincangan di antara keturunan Yakub, dan tidak ada dilihat kesukaran di antara orang Israel” (Bil. 23:21). Dikatakan pula dalam 24:5, “Alangkah indahnya kemah-kemahmu, hai Yakub, dan tempat-tempat kediamanmu, hai Israel!” Kitab Perjanjian Lama menunjukkan kepada kita bahwa Israel, umat pilihan Allah, menjadi perhentian Allah. Umat Israel telah mendapatkan tanah permai, maka tanah itu menjadi “Negeri Imanuel” (Yes. 8:8). Imanuel berarti “Allah menyertai kita”. Tanah Kanaan disebut “tanah Allah menyertai manusia”. Allah dapat menyertai manusia di tanah tersebut. Ketika Allah melalui umat Israel memperoleh tanah itu, umat Israel lalu menjadi perhentian Allah.

Kemudian, umat Israel di sana membangun Bait Suci bagi Allah, kemuliaan Tuhan memenuhi bait itu (1Raj. 8:11). Pada hari itu, Allah tidak hanya turun dari surga, bahkan kemuliaan-Nya memenuhi bait. Hal ini lebih indah daripada Allah menciptakan bumi. Apa gunanya bumi itu jika Allah hanya menciptakan bumi tanpa memperolehnya agar di atasnya dibangun bait-Nya, yakni tempat kediaman-Nya? Setelah bait Allah terbangun, barulah Allah bisa berkata, “Aku telah beroleh tempat kediaman di bumi.” Tanah yang diperoleh umat Israel pada waktu itu tidak hanya menjadi Negeri Imanuel, yakni tanah di mana Allah menyertai manusia, lebih-lebih kemudian menjadi tempat di mana rumah Allah didirikan. Ekspresi Allah terdapat di dalam bait, yang melambangkan umat Israel sebagai tempat kediaman Allah di bumi ini. Ketika bait telah terbangun, kemuliaan Allah segera memenuhi bait dan Allah pun beroleh perhentian. Tidak percayakah Anda bahwa umat Israel pun sama-sama menikmati perhentian? Mereka menikmati perhentian bersama Allah, itulah hari Sabat bagi mereka. Ketika mereka semua menikmati perhentian bersama Allah, mereka benar-benar memelihara hari Sabat. Itulah tahap pertama dari perhentian hari Sabat.

B. Yesus sebagai Perhentian Hari Sabat Allah

Dalam ekonomi-Nya, Allah selalu maju ke depan langkah demi langkah. Pertama, Allah menciptakan Adam, kemudian langkah demi langkah Ia memperoleh Habel, Enos, Henokh, Nuh, Abraham dan keturunannya, lalu Ia pun memperoleh umat Israel. Namun tidak berakhir di situ. Setelah melalui proses perkembangan, muncullah Yesus, Manusia kedua itu. Setelah Tuhan Yesus dibaptis, dengan girang dan puas Allah berkata, “Inilah Anak-Ku yang terkasih, kepada-Nyalah Aku berkenan” (Mat. 3:17). Ketika Allah berkata bahwa Ia berkenan kepada Anak-Nya, itu berarti Allah telah merasa puas. Pada waktu itu, Tuhan Yesus adalah perhentian hari Sabat Allah. Bukan Allah saja yang beroleh perhentian di dalam-Nya, banyak pengikut-Nya juga menikmati Dia sebagai perhentian. Tuhan Yesus adalah perhentian hari Sabat Allah, juga sebagai perhentian hari Sabat bagi semua pengikut-Nya. Allah dan pengikut-Nya beroleh perhentian di dalam-Nya.

C. Gereja, Perluasan Kristus sebagai Perhentian Hari Sabat Allah

Gereja adalah perluasan dan perkembangan Kristus. Kalau Kristus itu perhentian Allah, bukankah gereja terlebih pula menjadi perhentian Allah? Bila umat Israel adalah perhentian Allah, tentu gereja akan lebih merupakan perhentian Allah. Jika Tuhan Yesus dalam daging adalah perhentian Allah, maka gereja, Tubuh Kristus, pastilah merupakan perhentian yang lebih besar bagi Allah. Walaupun saya pernah mendengar orang mengatakan bahwa kalau kita datang kepada Tuhan Yesus, kita akan beroleh perhentian, tetapi sayang sekali, saya tidak pernah mendengar orang mengatakan bahwa kalau kita datang ke dalam gereja, kita juga akan beroleh perhentian. Hari ini saya ingin mengumumkan kepada Anda suatu berita gembira, yakni gereja adalah perhentian Anda!

Tempat yang paling memberi perhentian bagi Anda adalah rumah Anda. Bukankah gereja itu rumah Anda? Kalau gereja rumah Anda, gereja pasti juga perhentian Anda. Bukankah gereja itu rumah Allah? Karena gereja ada-lah rumah Allah (1Tim. 3:15), maka hari ini gereja pasti adalah perhentian-Nya.

Dalam zaman ini, zaman gereja, Kristus adalah perhentian kita. Namun tidakkah Anda tahu bahwa gereja adalah perluasan Kristus? Kalau Kristus perhentian kita, bagaimana dengan gereja sebagai perluasan Kristus? Kalau Kristus yang individual adalah perhentian kita, bagaimana dengan Kristus yang korporat? Bagaimana kita boleh melupakan Kristus yang diperluas ini atau mengabaikan Kristus yang korporat? Yang menjadi perhentian kita bukan hanya Kristus yang individual, tetapi juga Kristus yang korporat. Kepala adalah perhentian hari Sabat kita, Tubuh pun perhentian hari Sabat kita! Baru-baru ini Tuhan memberi beban kepada saya, “Kamu harus pergi dan memberi tahu umat-Ku bahwa gereja adalah perhentian mereka hari ini!” Masalah ini tidak pernah sejelas seperti yang kita lihat di hari-hari ini, yaitu gereja adalah perhentian hari Sabat hari ini.

1. Karena Gereja Adalah Manusia Baru

Marilah kita melihat mengapa gereja hari ini adalah perhentian hari Sabat. Pertama, menurut Kejadian 1 dan 2 kita nampak Allah beroleh perhentian hari Sabat karena Ia telah beroleh ekspresi dan wakil. Dengan perkataan lain, perhentian Allah terletak pada adanya orang yang memiliki gambar dan kuasa-Nya. Karena itu, ketika manusia pertama, yaitu manusia lama, selesai diciptakan, Allah mendapatkan perhentian; karena Allah telah memperoleh manusia untuk mengekspresikan dan mewakili Dia. Tidakkah Allah juga beroleh perhentian setelah penciptaan manusia baru? Gereja adalah manusia baru (Ef. 2:15; 4:24). Kalau setelah terciptanya manusia lama Allah bisa menikmati perhentian, Ia pasti memiliki perhentian yang lebih besar setelah penciptaan manusia baru. Hari ini kita bukan berada dalam zaman penciptaan manusia lama, melainkan dalam zaman baru setelah manusia baru diciptakan. Allah memiliki hari Sabat yang baru, karena Ia telah beroleh satu manusia baru untuk mengekspresikan dan mewakili-Nya. Alkitab menyebutkan perhentian hari Sabat untuk kali pertama adalah setelah manusia diciptakan. Jadi menurut prinsip ini, setelah manusia baru diciptakan tentu ada satu perhentian hari Sabat yang baru dan lebih indah. Hari ini kita justru berada di dalam hari Sabat yang baru ini.

2. Karena Allah Telah Beroleh Perhentian di Dalam Gereja

Kedua, Ulangan 12:9 dengan jelas memperlihatkan kepada kita bahwa karena Tanah Kanaan adalah perhentian Allah, maka tanah tersebut juga menjadi perhentian bagi orang Israel. Karena di situ Allah telah mendapatkan tempat kediaman serta menegakkan nama-Nya, maka di tanah itu Allah bisa beroleh perhentian (Ul. 12:5, 11). Nama Allah ialah Allah sendiri. Bila Allah berkata bahwa Ia akan menegakkan nama-Nya, berarti Ia sendiri berada di sana. Allah seolah-olah berkata, “Nama-Ku adalah diri-Ku sendiri. Nama-Ku ditegakkan di mana, Aku akan tinggal di sana dan membangun tempat kediaman-Ku di sana. Tempat itu akan menjadi tempat kediaman-Ku, dan tempat kediaman-Ku adalah perhentian-Ku.” Bukankah gereja hari ini adalah tempat kediaman Allah? Bukankah gereja rumah Allah? Efesus 2:22 mengatakan bahwa tempat kediaman Allah adalah di dalam roh kita. Efesus 2:15 mengatakan tentang manusia baru, sedang pada 2:22 mengatakan tentang tempat kediaman Allah. Keduanya manusia baru dan tempat kediaman adalah perhentian hari Sabat. Bukankah gereja itu manusia baru? Kalau gereja itu manusia baru, kita memiliki perhentian. Bukankah gereja itu tempat kediaman Allah? Kalau gereja memang tempat kediaman Allah, kita pun pasti memiliki perhentian Allah.

3. Karena Gereja Adalah Kerajaan Allah Hari Ini

Untuk memiliki tempat kediaman Allah bagi ekspresi-Nya, perlulah menerapkan kekuasaan Allah. Dalam Kejadian 1:26 kita nampak kekuasaan mengikuti gambar dan berjalan bersamanya. Itu berarti Kerajaan Allah muncul karena Allah dapat diekspresikan. Tanpa kerajaan sebagai perlindungan dan pengamanan, ekspresi Allah sulit untuk bereksistensi. Di mana ada ekspresi Allah, di situ selalu ada Kerajaan Allah. Bukankah gereja hari ini adalah Kerajaan Allah? Benar, gereja tentu adalah Kerajaan Allah hari ini.

Dalam Yohanes 3:5, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, jika seseorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ayat ini menerangkan bahwa kelahiran kembali membawa kita ke dalam Kerajaan Allah. Tetapi ada orang mengatakan bahwa Kerajaan Allah tidak ada pada hari ini. Mereka memegang konsepsi bahwa setelah Matius 13, Kerajaan Allah telah ditangguhkan. Menurut konsepsi itu, setelah Tuhan Yesus memberitakan Kerajaan Allah kepada orang Yahudi dan mereka menolaknya, maka Kerajaan Allah kemudian ditangguhkan. Kalau hal itu benar, bagaimanakah kita mengartikan Yohanes 3:5 yang mengatakan kita harus dilahirkan kembali agar kita dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah? Sudahkah Anda dilahirkan kembali? Kalau kita telah dilahirkan kembali, tentulah kita sekarang telah berada dalam Kerajaan Allah. Yohanes 3 mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali ke dalam Kerajaan Allah. Ketika seekor binatang dilahirkan, ia segera memasuki kerajaan binatang itu. Ketika seorang manusia dilahirkan, ia pun pasti dilahirkan ke dalam kerajaan manusia. Kini kita telah dilahirkan oleh Allah, maka kita pun telah dilahirkan kembali ke dalam kerajaan Allah. Bukankah Anda memiliki hayat Allah? Kalau kita telah memiliki hayat Allah, bagaimana kita dapat berkata bahwa kita tidak berada di dalam Kerajaan Allah?

Janganlah terpengaruh oleh konsepsi yang menganggap Kerajaan Allah tidak ada pada hari ini dan masih harus ditunggu kedatangannya. Walaupun saya tidak dapat mengatakan bahwa kerajaan Allah telah tiba dengan sepenuhnya dalam berbagai maknanya, tetapi saya dapat mengatakan bahwa Kerajaan Allah telah datang. Matius 6:10 mengatakan kita harus berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu”, namun Matius 16:18-19 juga mengatakan bila gereja telah terbangun, kerajaan pun akan tiba. Dalam ayat 18 itu Tuhan Yesus berkata, “Aku akan mendirikan jemaat-Ku . . .” dan ayat 19 melanjutkan, “Kepadamu akan Kuberikan kunci.” Kerajaan Surga” Ini menunjukkan bahwa istilah “gereja” (jemaat) dengan “kerajaan” dipakai secara bergantian, dan itu membuktikan bahwa gereja adalah kerajaan, kerajaan adalah gereja. Ketika Petrus dengan kunci membuka kerajaan, itulah saatnya gereja dibangunkan. Injil Matius khusus membicarakan masalah kerajaan, tetapi kitab ini juga memakai dua pasal, pasal 16 dan 18, untuk membicarakan masalah gereja. Dalam Matius 18:15-17 dikatakan, bila ada seorang saudara yang dengannya kita bermasalah tidak mau menerima nasihat kita, maka masalahnya haruslah disampaikan “kepada gereja”. Andaikata ia “tidak mau juga mendengarkan gereja” gereja harus menganggapnya seperti orang kafir dan pemungut cukai. Setelah mengatakan hal itu, Tuhan segera menyambung bahwa gereja berkuasa mengikat maupun melepaskan. Karena itu, di sini kita nampak bahwa hidup gereja adalah realitas Kerajaan Allah.

Kitab lain dalam Perjanjian Baru juga mewahyukan bahwa hidup gereja hari ini adalah kerajaan. Dalam Kitab Roma, kitab yang membicarakan hidup gereja, bukan kerajaan, kita nampak bahwa Kerajaan Allah adalah hidup gereja. Roma 14:17 berkata, “Sebab Kerajaan Allah bukanlah . . . tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita dalam Roh Kudus.” Jadi, hidup gereja hari ini adalah Kerajaan Allah.

Kitab Efesus juga memperlihatkan kepada kita bahwa gereja hari ini adalah Kerajaan Allah. Efesus 2:15 mengatakan tentang manusia baru, Efesus 2:22 mengatakan bahwa roh kita adalah tempat kediaman Allah, dan Efesus 3:21 mengatakan tentang gereja. Gereja sebagai Kerajaan Allah terdapat dalam Efesus 5:5. Maka manusia baru ialah tempat kediaman, tempat kediaman ialah gereja, dan gereja ialah kerajaan. Jadi, hari ini gereja adalah Kerajaan Allah. Ibrani 12:28 mengatakan bahwa kita telah menerima kerajaan yang tidak terguncangkan. Kita bukan menanti-nantikan kerajaan, melainkan kita telah memperoleh kerajaan.

Kita nampak hal yang sama dalam Kitab Wahyu. Walaupun banyak orang Kristen berkonsepsi bahwa sekarang kerajaan belum tiba, melainkan tiba di kemudian hari, namun Rasul Yohanes berkata dalam Wahyu 1:9, “Aku, Yohanes, saudara seiman yang ikut serta dalam kesusahan, dalam Kerajaan dan dalam ketekunan menantikan Yesus.” Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Yohanes sudah berada di dalam kerajaan. Apakah kerajaan itu bagi Yohanes pada saat itu? Menurut ayat berikutnya (ayat 10-13), itulah gereja. Jadi, hari ini gereja tidak lain adalah kerajaan di mana kuasa Allah diberlakukan dan diwakili. Di mana Allah berkuasa, di situlah Allah beroleh perhentian. Jadi, gereja sebagai Kerajaan Allah hari ini adalah perhentian hari Sabat Allah. Karena gereja mempunyai gambar Allah dan juga adalah kerajaan-Nya, maka gereja adalah perhentian hari Sabat Allah.

X. RUMAH ALLAH ADALAH PERHENTIAN HARI

SABAT YANG TERSEDIA DALAM KITAB IBRANI

Di sini kita perlu membaca Ibrani 3:6-7: “Tetapi Kristus setia sebagai Anak yang bertanggung jawab atas rumah-Nya; dan rumah-Nya ialah kita, jika kita sampai kepada akhirnya berpegang teguh pada kepercayaan dan pengharapan yang kita megahkan. Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus, ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya.” Ayat 6 mengatakan bahwa Kristus setia mengatur dan memelihara rumah Allah, dan rumah Allah ialah kita. Kalau kita mau menikmati Kristus, kita perlu berada dalam rumah ini dan mengambil bagian dalam rumah ini. Ayat 7 dimulai dengan kata “Sebab itu”, hal ini menerangkan bahwa ayat 7 melanjutkan ayat sebelumnya. Penggunaan kata “Sebab itu” sebagai penghubung ayat 6 dan 7 berarti kita harus memperhatikan rumah Allah, jika tidak, kita akan kehilangan hari Sabat itu, tidak dapat memasuki perhentian. Ibrani 4:7 sebagai kelanjutan 3:7, mengatakan, “Karena itu, Ia menetapkan lagi suatu hari, yaitu “hari ini”, ketika Ia berfirman dengan perantaraan Daud jauh di kemudian hari, seperti dikatakan di atas, ‘Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.’” Ayat 8 dan 9 meneruskan, “Sebab, andaikata Yosua telah membawa mereka masuk ke tempat perhentian, pasti Allah tidak akan berkata-kata kemudian tentang suatu hari yang lain. Jadi, masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.” Kalau ayat-ayat ini kita jajarkan, kita akan nampak bahwa perhentian Allah hari ini ialah rumah Allah. Jika kita tidak tinggal di dalam rumah Allah, tentulah kita akan kehilangan perhentian hari Sabat. Penulis seolah berkata kepada orang beriman Ibrani demikian, “Nenek moyang kalian ketika di padang gurun tidak mau menaati firman Allah. Maka mereka tidak dapat masuk ke dalam perhentian. Setelah itu, dalam Kitab Mazmur dikatakan bahwa Roh itu telah menetapkan suatu hari lain untuk kalian, agar kalian dapat masuk ke dalam perhentian. Perhentian apakah yang perlu kalian masuki hari ini? Itulah rumah Allah yang diatur oleh Kristus, Putra Allah.” Kata “Sebab itu” dalam 3:7 sangatlah penting. Tanpa kata tersebut, kita tidak dapat nampak bahwa perhentian hari Sabat hari ini ialah rumah Allah yang diatur Putra-Nya.

Walaupun ribuan orang Kristen telah jelas beroleh selamat, akan tetapi banyak yang masih tertinggal di padang gurun, belum masuk ke tanah permai. Di manakah tanah permai hari ini? Tanah permai memiliki satu macam keadaan yaitu di dalamnya terdapat tempat kediaman Allah dan Kerajaan Allah; itulah tanah permai hari ini, dan itu-lah hidup gereja. Gereja adalah rumah Allah, tempat kediaman Allah, dan Kerajaan Allah. Maka tanah permai hari ini tidak lain ialah gereja. Jika kita tidak berada di dalam-nya, kita akan kehilangan perhentian hari Sabat hari ini.

Bertahun-tahun lamanya saya kurang jelas akan perhentian hari Sabat yang dikatakan dalam Ibrani 4, dan tidak puas terhadap banyak penafsiran yang pernah saya dengar. Sekarang saya telah nampak bahwa gereja adalah perhentian hari Sabat hari ini. Hal ini tidak saja memuaskan hati saya, juga telah memberikan perhentian kepada saya. Rumah Allah yang diatur Putra-Nya adalah perhentian, rumah, negeri Imanuel dan tanah permai yang mengalirkan susu dan madu bagi kita.

Dalam Matius 11:28-30 Tuhan Yesus mengatakan bahwa jika kita berlelah dan berbeban berat dan mau datang kepada-Nya, Ia akan menjadi perhentian kita. Dalam Matius 12:8 Tuhan berkata bahwa Dia adalah Tuhan atas hari Sabat. Kalau demikian, di manakah Kristus yang adalah perhentian kita dan yang menjadi Tuhan atas hari Sabat? Jawabannya adalah Ia ada di dalam gereja. Jika kita ingin menikmati-Nya sebagai perhentian kita, kita harus berada di dalam gereja. Kitab Wahyu dengan jelas memberi tahu kita bahwa Kristus yang almuhit ini hari ini berada di tengah-tengah kaki pelita, yakni gereja-gereja. Tambahan pula Wahyu 2 dan 3 menerangkan bahwa Dia adalah Roh itu yang berbicara kepada gereja-gereja. Bila kita ingin menjamah Dia, menikmati Dia, dan mengambil-Nya sebagai perhentian kita, kita harus berada di dalam gereja. Gereja adalah perhentian hari Sabat kita hari ini. Kalau kita dengan pandangan demikian melihat ayat-ayat dalam Kitab Yesaya yang mengatakan tentang hari Sabat, kita akan memahami maknanya yang dalam. Bagaimana kita memelihara hari Sabat pada hari ini? Melalui mempunyai hidup gereja. O, betapa kita perlu mempunyai hidup gereja! Kita adalah pemelihara hari Sabat yang sejati. Bahkan kita memelihara hari Sabat hari demi hari. Kita menikmati hari Sabat yang luar biasa hari ini! Perhentian yang luar biasa!

Kitab Ibrani membicarakan gereja hanya secara singkat saja, namun sangat kuat. Ibrani 2:12 mengatakan, “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudaraKu, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat.” Gereja adalah tempat di mana Putra sulung Allah memberitakan nama Bapa kepada saudara-saudaraNya dan memuji Bapa. Ini bukanlah perkara yang kecil. Banyak di antara kita dapat bersaksi bahwa selama bertahun-tahun sebelum kita menempuh hidup gereja, kita tidak mengetahui bagaimana Putra sulung Allah memberitakan nama Bapa kepada kita, dan bagaimana Ia memuji-muji Bapa di tengah-tengah mereka. Mungkin Anda dahulu pernah mengikuti banyak hal yang disebut kegiatan atau pelayanan, namun pernahkah Anda merasakan bahwa di mana saja Anda berada, Putra sulung Allah selalu memuji Bapa di tempat Anda? Tetapi bagaimana pula dengan keadaan perhimpunan gereja pada hari ini? Sekali demi sekali kita bersidang, kita benar-benar merasa bahwa Tuhan terus mewahyukan hayat Bapa dan realitas Bapa kepada kita. Setiap kali kita bersidang, kita merasa bahwa Tuhan senang berada di tengah-tengah kita, dan Putra Allah memuji-muji Bapa di antara kita! Inilah perhentian hari Sabat.

Dalam Ibrani 2 terdapat gereja yang di dalamnya Putra Allah memuji Bapa, dan dalam pasal 3 terdapat tempat kediaman Allah yang diatur oleh Putra-Nya. Di sini, rumah Allah dan gereja semua ditujukan kepada perhentian hari Sabat. Sesudah mengatakan kedua hal ini dalam pasal 2 dan 3, dalam pasal 4 penulis Surat Ibrani lalu menyinggung masalah perhentian hari Sabat yang tersedia dan menasihati agar kita “Berusaha masuk ke dalam perhentian itu” (ayat 11). Apakah yang dimaksud dengan hari Sabat, tanah permai, yang dikatakan di sini? Ini adalah hidup gereja juga rumah Allah; di dalam gereja, ada Putra Allah yang memuji Bapa, di dalam rumah Allah, ada Putra Allah yang mengatur. Kata “Sebab itu” pada awal 3:7 menghubungkan rumah Allah dalam 3:6 dengan perhentian hari Sabat dalam 4:9, membuktikan bahwa hidup gereja adalah perhentian hari Sabat hari ini. Kita perlu berusaha untuk masuk ke dalamnya, dan begitu kita masuk ke dalamnya, kita selamanya tidak boleh meninggalkannya.

XI. PERINGATAN TENTANG PERPECAHAN

DAN PENOLAKAN TERHADAP

PERHENTIAN HARI SABAT

Barnabas adalah satu contoh dari seorang yang meno-lak perhentian hari Sabat. Barnabas pernah membawa Rasul Paulus ke dalam ministrinya, dan pernah sejangka waktu menjadi rasul yang bekerja sama dengan Paulus (Kis. 9:26-27; 11:25-26; 13:2; 14:14). Namun, kemudian Barnabas berselisih dengan Paulus dan berpisah dengannya, sambil membawa Markus menempuh jalannya sendiri, sedang Paulus kemudian bekerja sama dengan Silas, mereka membangun gereja di tiap tempat (Kis. 15:36-41). Sejak peristiwa itu, Kitab Kisah Para Rasul tidak lagi mencatat Barnabas, sebab ia tidak lagi berbagian dalam perhentian hari Sabat yaitu hidup gereja. Barnabas pernah memasuki perhentian hari Sabat ini dan berada di dalamnya sejangka waktu, namun kemudian ia meninggalkannya karena perselisihan. Akhirnya, ia kehilangan perhentian hari Sabat dan tidak berbagian lagi dalam ekonomi ilahi.

Dalam Roma 16:17-20 terdapat kata-kata peringatan, yaitu agar kita waspada terhadap perpecahan. Ayat 17 mengatakan, “Tetapi aku menasihatkan kamu, Saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka yang menimbulkan perpecahan dan batu sandungan, bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima. Hindarilah mereka!” Kejatuhan di sini mengacu kepada jatuh dan meninggalkan hidup gereja. Perpecahan dan batu sandungan pasti mengakibatkan kita kehilangan perhentian hari Sabat. Hal-hal ini tidak hanya terjadi pada hari ini, tetapi telah ada sejak dulu, yakni pada zaman Paulus. Namun demikian, bila kita meneliti dengan saksama keadaan orang-orang yang menentang hidup gereja atau yang memecah belah itu, kita akan menemukan bahwa tidak seorang pun di antara mereka yang memiliki perhentian. Mereka tidak memiliki sukacita, juga tidak memiliki damai sejahtera, yang ada hanyalah kedengkian, sebab mereka tidak berada dalam perhentian, tidak berada di tanah permai. Siapa saja yang memecah belah dan menentang hidup gereja, ia akan kehilangan perhentian hari Sabat. Dalam Roma 16:18 Paulus mengatakan lagi, “Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dengan kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya.” Para pemecah belah itu mempunyai semacam selera, kesukaan, atau keinginan, ingin mendirikan kerajaan atau pemerintahan kecil mereka sendiri. Jangan dengarkan perdebatan atau alasan mereka. Semua itu hanya berdasarkan selera dan keinginan mereka. Mereka lapar akan sesuatu, karena dalam batin mereka ada kekosongan. Mereka mencari sesuatu untuk memuaskan keinginan mereka sendiri. Itulah makna “perut” yang dikatakan dalam ayat ini. Mereka memakai kata-kata yang muluk-muluk dan bahasa yang manis, untuk menipu orang yang berhati tulus. Kemudian dalam ayat 20, Paulus mengatakan tentang perhentian hari Sabat. “Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Anugerah Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu!” Ketika Allah, sumber damai sejahtera menyertai kita dan Iblis dihancurkan, itu sudah pasti adalah perhentian hari Sabat. Anugerah Tuhan Yesus juga ditujukan kepada perhentian. Kita tidak seharusnya sampai terpengaruh oleh pemecah belah itu, tetapi hendaklah kita menempuh hidup gereja sambil menikmati perhentian hari Sabat. Gereja adalah kehendak Allah pada hari ini. Jadi, hidup gereja adalah perhentian hari Sabat Allah.