PERHENTIAN HARI SABAT YANG TERSEDIA (1)
Sekarang marilah kita melihat masalah perhentian hari Sabat yang tercantum dalam Ibrani 4:9. Apakah perhentian hari Sabat ini? Seperti telah saya katakan, selama berabad-abad orang Kristen sulit memahami perihal tanah permai Kanaan. Demikian pula, orang Kristen tidak dapat memahami dengan tepat perhentian hari Sabat yang diwahyukan dalam Ibrani 4. Ada yang mengatakan perhentian hari Sabat ini ditujukan kepada Kerajaan Seribu Tahun. Mereka mengira seribu tahun dari Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4) adalah seribu tahun yang ketujuh. Enam ribu tahun yang terdahulu ialah waktu yang dimulai dengan penciptaan Adam sampai dengan kedatangan Tuhan Yesus kali kedua. Mereka mengutip perkataan “seribu tahun sama seperti satu hari” dalam 2Petrus 3:8, sehingga mengira enam hari berarti enam ribu tahun, dan hari ketujuh berarti tahun ketujuh ribu, perhentian hari Sabat selama Kerajaan Seribu Tahun. Penafsiran yang demikian tidak memuaskan saya. Kalau perhentian hari Sabat hanya dikatakan sebagai Kerajaan Seribu Tahun, itu kurang tepat, itu hanya boleh dianggap benar separuh.
I. KALI PERTAMA MENYEBUT TENTANG
PERHENTIAN HARI SABAT
Bila ingin memiliki pengertian yang tepat tentang perhentian hari Sabat, perlulah kita kembali ke dalam Alkitab, yaitu melihat bagaimana perhentian itu disebutkan untuk kali pertama. Kali pertama Alkitab menyebut perhentian adalah setelah manusia diciptakan (Kej. 2:2-3). Banyak orang Kristen hanya melihat masalah ini secara dangkal, yakni hanya tahu hari Sabat sebagai hari ketujuh di mana Allah beristirahat karena Ia telah menyelesaikan pekerjaan penciptaanNya. Memang tidak salah, tetapi kita harus menyelaminya ke dalam untuk mengetahui isinya. Mengapa Allah tidak berhenti pada hari kelima? Anda mungkin menjawab karena Allah belum merampungkan pekerjaanNya. Itu benar. Kalau begitu, apakah Allah kekurangan sesuatu? Sungguh penting sekali mengetahui apa yang masih kurang pada diri Allah.
Dari catatan Kejadian 1 kita nampak bahwa Allah menciptakan segala sesuatu demi firmanNya. Ia berfirman maka segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada. Namun lain halnya dengan penciptaan manusia. Allah tidak menciptakan manusia hanya dengan berkata, “Ada manusia,” melainkan Ia membentuk manusia dengan debu tanah (Kej. 2:7). Ketika Allah ingin terang, Ia berfirman, “Jadilah terang,” maka terciptalah terang. Tetapi penciptaan manusia sama sekali berbeda, yakni bukan menyuruh yang tidak ada menjadi ada. Mula-mula, Ia mengadakan suatu rapat keAllahan (Kej. 1:26), lalu dengan bahan materi tertentu, yaitu debu tanah, Ia membentuk manusia. Andaikata manusia sampai hari keenam tidak juga diciptakan, walaupun segala makhluk lain telah diciptakan, Allah tetap tidak dapat beroleh perhentian pada hari ketujuh. Bukan selesainya pekerjaan yang dapat memberikan perhentian kepada Allah, melainkan penciptaan manusia. Setelah menciptakan manusia, Allah puas dan baru beroleh perhentian.
Apakah buktinya? Lihatlah pada hari-hari Ia menciptakan, kecuali hari kedua, Ia melihat pekerjaanNya dan berkata, “Baik.” Tetapi pada akhir hari keenam, setelah manusia diciptakan, Allah melihat semua ciptaanNya, lalu berkata, “Sungguh amat baik” (Kej. 1:31). Ia berkata, “Sungguh amat baik” itu berarti Ia merasa puas. Pada akhir hari keenam, melihat manusia yang memiliki gambarNya untuk mengekspresikanNya dan yang berkuasa sebagai wakilNya, Allah merasa puas dan berkata, “Sungguh amat baik.”
Pengertian kita tentang Alkitab sering terpengaruh oleh latar belakang agama kita. Bahkan sebelum kita membacanya, kita sudah lebih dulu memiliki suatu konsepsi, dan konsepsi itu sangat merusak. Hal itu sama dengan melihat Alkitab dengan kaca mata berwarna, yang mengakibatkan kita tidak dapat melihat warna asli Alkitab. Karena itu kita harus menanggalkan kaca mata kita dan dengan sederhana membaca firman Allah yang murni. Itulah sebabnya saya berkali-kali mengatakan bahwa kita harus kembali kepada firman yang murni, membacanya dan mempelajarinya kembali. Lupakanlah pengetahuan kita tentang Kejadian 1 yang kita peroleh di masa lampau. Kalau Anda mengulangi membaca Kejadian 1 dan 2, Anda akan nampak bahwa Allah beristirahat pada hari ketujuh bukan karena pekerjaan penciptaanNya telah selesai, melainkan karena Ia telah memperoleh apa yang dikehendakiNya. Allah bukan menghendaki suatu pekerjaan yang telah selesai, melainkan menginginkan manusia yang diperolehNya itu dapat mengekspresikan diriNya dan dapat mewakiliNya di bumi ini. Inilah kehendak hatiNya. Asalkan Allah memiliki hal ini, hatiNya pun puaslah. Hati Allah baru puas bila ada manusia mengekspresikanNya dan mewakiliNya di bumi ini. Dengan adanya hal ini barulah Allah dapat menikmati perhentian pada hari ketujuh.
II. KEHILANGAN PERHENTIAN HARI SABAT
Karena kejatuhan, manusia menjadi rusak dan kehilangan perhentian. Untuk ini, kita perlu melihat Yohanes 5, di mana tercantum kasus orang yang lumpuh 38 tahun. Yohanes 5:9 mengatakan, “Pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tikarnya dan berjalan. Tetapi hari itu hari Sabat.” Tuhan menyembuhkan orang lumpuh itu pada hari Sabat, dan hal ini telah melanggar peraturan orang Yahudi, maka akhirnya orang-orang Yahudi bangkit menganiaya Tuhan Yesus. Ayat 16 mengatakan, “Karena itu, para pemuka Yahudi berusaha menganiaya Yesus, karena Ia melakukan hal-hal itu pada hari Sabat.” Pada hari Sabat mereka hendak membunuh Yesus. Coba Anda pikirkan, orang-orang yang berniat membunuh orang lain mungkinkah ada perhentian dalam hati mereka? Mungkinkah ada perhentian dalam hati orang-orang Yahudi yang hendak membunuh Tuhan Yesus itu? Saya berani jamin mereka tidak memiliki perhentian. Dalam ayat 17 Tuhan menjawab mereka, “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Aku pun bekerja juga.” Perkataan Tuhan seolah berarti, “Kalian memelihara hari Sabat, tetapi Bapa-Ku bekerja sampai sekarang. Hari Sabat yang ditetapkan-Nya pada hari ketujuh itu telah hilang karena kejatuhan manusia. Sebelum manusia dipulihkan, Bapa-Ku terus bekerja. Lihatlah orang yang kasihan ini. Ia telah hilang dan dirusak musuh Allah. Bagaimana Bapa-Ku ada perhentian? Kalian mungkin bisa beristirahat menurut tradisi saja, tetapi kalian tidak memiliki perhentian yang sejati. Walau kalian mengatakan dengan mulut bahwa kalian memelihara hari Sabat, kalian tidak mengerti makna hari Sabat yang sebenarnya. Kalian tidak memiliki perhentian! Bapa-Ku pun tidak memiliki perhentian! Karena itu, sampai sekarang Bapa-Ku tetap bekerja, Aku pun bekerja juga. Aku datang justru untuk hal ini. Aku melakukan apa yang patut Aku lakukan. Musuh Allah telah merusak sabat (perhentian) yang diperkenan oleh-Nya itu, dan hari Sabat itu telah hilang. Tahukah kalian bahwa Allah telah kehilangan apa yang telah diperoleh-Nya? Sebab itu, sejak Kejadian 3 sampai sekarang, Bapa-Ku terus bekerja. Berhubung manusia yang pernah membuat-Nya puas itu telah jatuh, maka Ia tidak pernah berhenti bekerja.” Hendaknya makna hari Sabat yang sejati ini berkesan dalam hati kita! Makna hari Sabat adalah Allah dipuaskan ketika manusia mengekspresikan Allah dan mewakili-Nya. Bila manusia dapat mengekspresikan Allah dan mewakili-Nya, saat itu barulah merupakan hari Sabat Allah.
III. TANAH PERMAI
SEBAGAI PERHENTIAN HARI SABAT
Kini kita kembali melihat tanah permai. Mengapa tanah permai disebut suatu perhentian? Apakah orang Israel beroleh perhentian di tanah permai? Sejak memasuki tanah permai, mereka selalu berperang. Tetapi mengapa dalam Ulangan 12:9 Allah menyebut tanah permai itu sebagai perhentian? Secara dangkal orang-orang mengatakan bahwa tanah per-mai Kanaan itu adalah perhentian karena orang-orang membangun rumah mereka di sana dan menetap di sana. Penafsiran demikian terlalu alamiah dan terlalu dangkal. Tanah permai disebut perhentian tidak lain karena bait Allah dapat dibangun di situ. Dengan adanya bait suci itu Allah dapat diekspresikan, dan Ia pun memperoleh satu wakil. Ketika Allah beroleh ekspresi dan wakil, baik Allah maupun manu-sia beroleh kepuasan, dan itu adalah perhentian yang sejati.
IV. KRISTUS SEBAGAI PERHENTIAN
HARI SABAT DALAM TIGA MASA
Perhentian hari Sabat dalam Ibrani 4:9 adalah Kristus sebagai perhentian kita, dilambangkan oleh tanah permai Kanaan (Ul. 12:9; Ibr. 4:8). Kristus sebagai perhentian bagi orang-orang kudus terbagi dalam tiga tahap. Dalam zaman gereja, Kristus yang surgawi ini telah mengekspresikan Allah, mewakili Allah, juga memuaskan Allah; Ia juga telah berhenti dari pekerjaan-Nya dan duduk di sebelah kanan Allah di surga, kini Dia adalah perhentian kita di dalam roh kita (Mat. 11:28-29). Dalam Kerajaan Seribu Tahun, setelah Iblis disingkirkan dari bumi ini (Why. 20:1-3), Allah akan mendapatkan pengekspresian, perwakilan dan kepuasan karena Kristus dan kaum saleh pemenang. Kristus dengan kerajaan itu akan menjadi perhentian yang lebih penuh bagi orang-orang kudus yang menang, yang akan menjadi raja bersama Kristus (Why. 20:4, 6), berbagian dan menik-mati perhentian-Nya. Dalam langit baru dan bumi baru, setelah semua musuh, termasuk maut, musuh yang terakhir, ditaklukkan-Nya (1Kor. 15:24-27), Allah akan sepenuhnya terekspresikan, terwakili, dan terpuaskan oleh orang-orang tebusan-Nya dalam Kristus. Saat itu, Kristus sebagai Yang menaklukkan segala sesuatu, dalam keadaan yang begitu mulia, akan menjadi perhentian yang paling penuh bagi semua orang tebusan Allah sampai selama-lamanya. Karena itu, perhentian hari Sabat yang disinggung dalam 4:9 dan dilambangkan dengan perhentian tanah permai Kanaan hanya mencakup dua tahap pertama dari Kristus sebagai perhentian kita, tidak mencakup tahap ketiga. Perhentian dalam dua tahap pertama merupakan suatu pahala bagi pencari-pencari-Nya yang tekun, yang bukan hanya telah ditebus, tetapi juga telah menikmati Dia secara penuh sehingga menjadi para pemenang. Perhentian dalam tahap ketiga bukan suatu pahala, melainkan bagian yang penuh yang diberikan kepada semua orang yang telah ditebus. Karena itu, dalam dua tahap pertama, terutama yang kedua, Kristus sebagai perhentian kita adalah perhentian hari Sabat yang disinggung di sini, perhentian yang masih tersedia bagi kita untuk dicari dan dialami dengan tekun. Dalam tahap kedua dari diri-Nya sebagai perhentian kita, Kristus akan memiliki seluruh bumi sebagai warisan-Nya (Mzm. 2:8; Ibr. 2:5-6) menjadi kerajaan-Nya selama seribu tahun (Why. 11:15). Semua pengikut-Nya yang menang yang mencari dan menikmati Dia sebagai perhentian mereka da-lam tahap pertama, akan berbagian dalam pemerintahan-Nya di dalam milenium (Why. 20:4, 6; 2Tim. 2:12), juga akan mewarisi bumi (Mat. 5:5; Mzm. 37:11), ada yang ber-kuasa atas sepuluh kota, ada yang berkuasa atas lima kota (Luk. 19:17, 19), dan akan berbagian dalam sukacita Tuan mereka (Mat. 25:21, 23). Hal itu akan menjadi perhentian kerajaan, yang dilambangkan dengan perhentian memasuki tanah permai Kanaan. Perhentian tanah permai adalah sasaran seluruh bani Israel, yang telah ditebus dan diselamatkan dari Mesir. Demikian pula, perhentian kerajaan yang akan datang adalah sasaran kaum beriman Perjanjian Baru yang telah ditebus dan diselamatkan dari dunia. Sekarang kita semua berada di atas jalan yang menuju sasaran ini.
V. ALLAH DENGAN MANUSIA
SALING MENIKMATI PERHENTIAN
Ketika Allah beroleh perhentian pada hari ketujuh, Adam juga beroleh perhentian. Demikian pula, bila Allah tidak memiliki perhentian, manusia juga tidak memiliki perhentian. Dalam Yohanes 4 kita nampak Tuhan Yesus begitu giat dan berjerih lelah, sehingga merasa haus. Dalam keadaan demikian mungkinkah ada perhentian? Tidak mungkin, sebab Allah masih belum mendapatkan manusia. Kecuali Allah telah mendapatkan manusia untuk mengekspresikan dan mewakili Dia, barulah Ia dan manusia bisa menikmati perhentian. Andaikata dalam hidup gereja hari ini setiap saudara saudari menempuh jalannya masing-masing, tidak ada yang mau menempuh jalan Allah, walaupun kita datang berhimpun bersama dan memiliki suasana yang meriah, tetap tidak ada perhentian, dan keadaan demikian tidak dapat dikatakan sebagai hidup gereja yang indah. Hidup gereja adalah suatu kehidupan di mana manusia didapatkan oleh Allah di bumi untuk mengekspresikan dan mewakili Allah. Bila keadaan ini tertampak, kita semua akan mendapatkan perhentian, Allah akan merasa puas karena melihat diri-Nya diekspresikan dan diwakili oleh sekelompok orang. Bila di bumi telah muncul keadaan sedemikian, malaikat-malaikat di surga akan bersukacita karena Allah telah dipuaskan. Bagaimanakah kita mengetahui Allah puas dan menikmati perhentian? Karena roh kita telah merasa puas. Kini kita telah mengerti makna sejati dari perhentian hari Sabat, yaitu Allah di bumi telah memperoleh manusia yang dapat mengekspresikan dan mewakili Dia. Begitu keadaan ini muncul, itulah hari Sabat, dan Allah maupun manusia akan puas dan beroleh perhentian. Inilah perhen-tian hari Sabat.
VI. NUBUAT TENTANG PERHENTIAN
HARI SABAT YANG TERSEDIA
Tanah permai Kanaan hanya merupakan satu lambang dari perhentian hari Sabat. Dalam kenyataannya, walaupun orang-orang Israel telah memasuki tanah permai, mereka masih belum benar-benar memasuki perhentian. Karena itu penulis Mazmur 95:7-11 menubuatkan adanya satu perhentian hari Sabat lain yang tersedia bagi umat Allah, dan perhentian dalam Kitab Ibrani juga mengutip dari Mazmur itu. Apakah perhentian hari Sabat itu? Pada prinsipnya, ini adalah suatu keadaan manusia didapatkan oleh Allah sebagai ekspresi dan wakil-Nya. Keadaan demikian baru muncul ketika gereja terwujud.
VII. HIDUP GEREJA ADALAH PERHENTIAN ALLAH
Di pihak positifnya, hidup gereja yang tepat adalah hari Sabat Allah. Kini kita dapat mengerti mengapa Kitab Ibrani memperingatkan kaum beriman agar mereka jangan kehilangan hari Sabat itu, dan menyuruh mereka agar berusaha keras untuk memasukinya. Apakah hari Sabat ini? Hari Sabat ini adalah hidup gereja yang tepat. Penulis seolah memberi tahu mereka, “Wahai kaum beriman Ibrani, janganlah kalian kembali memelihara hari Sabat yang usang, karena yang usang itu telah berlalu. Dalam Kitab Mazmur Allah telah menubuatkan satu hari Sabat lain, itulah perhentian yang tersedia bagi kalian.” Bila kita membaca Ibrani 3 dan 4 dengan cermat, kita akan nampak adanya satu janji untuk memasuki perhentian. Dalam kedua pasal ini terdapat istilah “Suatu hari”, yang juga berarti “hari ini” (3:7, 13, 15; 4:7). Maka “suatu hari” dan “hari ini” adalah perhentian hari Sabat yang dijanjikan untuk diberikan kepada kita. Penulis kitab ini seolah menasihati mereka, “Wahai kaum beriman Ibrani, jangan bodoh. Perhentian hari Sabat yang pernah dipelihara Allah dalam Kejadian 2 itu telah dirusak dan tidak pernah terwujud lagi. Sebab itu, dalam Mazmur Allah telah menetapkan suatu hari lain, yaitu “hari ini” dan itu barulah perhentian hari Sabat yang disediakan bagi kalian. Kalian harus sekuatnya berusaha untuk memasukinya.”
Apakah perhentian hari Sabat ini? Pertama, adalah hidup gereja. Kita harus memasuki hidup gereja, agar Allah hari ini beroleh ekspresi dan wakil di bumi, dipuaskan dan beroleh perhentian. Bila ini terjadi, Allah dan kita akan memiliki perhentian hari Sabat. Bila kita tidak masuk ke dalam hidup gereja yang tepat, kita akan kehilangan perhentian. Namun, ini bukan makna keseluruhan dari perhentian hari Sabat yang dikatakan Kitab Ibrani.
Dalam Matius 11:28-29 Tuhan berkata, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan (perhentian) kepadamu. Pikullah gandar yang Kupasang dan belajarlah kepada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan (perhentian).” Banyak orang Kristen hanya memahami ayat ini secara dangkal, mengira kalau mereka berbeban berat, lalu datang ke hadapan Tuhan Yesus, maka akan memperoleh penghiburan. Pada awalnya hal ini mungkin berkhasiat bagi Anda, tetapi lambat laun mungkin khasiatnya akan hilang. Kalau Anda hanya mengandalkan konsepsi alamiah yang egoistis untuk menarik Tuhan menjadi perhentian Anda, pada akhirnya Tuhan akan menolak permohonan Anda. Banyak orang Kristen pada awal hidup Kristianinya mungkin bisa beroleh penghiburan yang sedemikian, tetapi kemudian seakan-akan hilang khasiatnya. Mengapa? Karena Kristus bukan hayat dan perhentian untuk kenikmatan individual, tetapi untuk pembangunan tepat kediaman Allah. Bila Anda ingin menikmati Kristus menjadi perhentian Anda, Anda harus datang kepada-Nya. Di manakah Ia berada? Ke manakah kita harus mendapatkan-Nya? Ke gereja! Perhentian yang adalah Kristus sendiri, berada dalam gereja. Apa sebabnya di dalam gereja ada perhentian? Sebab hanya di dalam gereja barulah Allah beroleh ekspresi dan wakil, dan di mana ada ekspresi dan wakil Allah, di situlah ada hari Sabat. Jika tidak percaya, Anda boleh saja berdoa memohon perhentian menurut cara Anda sendiri. Kalau Anda meninggalkan gereja, Anda akan menemukan bahkan berdoa pun Anda tidak dapat.
Pada hari ini tanah permai hanya ada di satu tempat saja, yakni di dalam hidup gereja. Hanya dalam hidup gereja Allah bisa mendapatkan tempat kediaman-Nya untuk ekspresi dan perwakilan-Nya. Hanya di dalam gereja baru Allah mendapat takhta, kerajaan, dan pemerintahan. Maka, hanya di dalam gerejalah baru Allah merasa puas. Jika Allah di dalam gereja tidak bisa dipuaskan, di manakah Ia bisa dipuaskan? Ketika Allah memperoleh sekelompok orang yang bisa menjadi ekspresi dan wakil-Nya, ketika itulah baru Allah merasa puas. Malaikat-malaikat tidak memiliki hak demikian, karena Allah tidak menetapkan mereka untuk mengekspresikan dan mewakili-Nya. Tetapi kita telah ditakdirkan dan ditetapkan untuk mengekspresikan dan mewakili Dia. Maka, hanya di dalam gereja barulah Allah beroleh kepuasan dan menikmati perhentian.
Walaupun banyak orang Kristen sudah benar-benar beroleh selamat, tetapi sayang sekali mereka tidak berada dalam hidup gereja. Sama halnya, banyak orang Israel telah beroleh selamat demi Paskah. Mereka telah terurap dengan darah, telah makan daging anak domba, telah keluar dari Mesir, bahkan telah menyeberang Laut Merah hingga beroleh selamat. Namun pada akhirnya berapa banyak di antara mereka yang dapat memasuki perhentian? Sangat sedikit! Begitu pula hari ini ada banyak orang Kristen yang telah benar-benar beroleh selamat, tetapi yang benar-benar menempuh hidup gereja sangat sedikit. Apakah Anda yakin semua orang Kristen telah berada di tanah permai? Tidak! Banyak orang berkelana, ada pula yang masih berada di Mesir dan melakukan hal duniawi, seperti menonton bioskop, dan lain-lain. Orang-orang Kristen semacam itu, tidak dapat dikatakan belum diselamatkan, karena mereka telah percaya Tuhan Yesus. Akan tetapi, mereka kini kalau tidak berada di Mesir, tentu berkelana di padang gurun, bukan di tanah permai. Karena itu, wajiblah kita berusaha keras maju ke depan memasuki perhentian. Di manakah perhentian kita hari ini? Di dalam hidup gereja.
VIII. HIDUP GEREJA SEBAGAI INJIL
YANG BERMUTU TINGGI
Bukan Allah saja yang berharap memperoleh perhentian dalam hidup gereja, bahkan banyak orang yang belum percaya, mereka juga sedang mengembara, tidak mendapatkan kepuasan dari cara hidup mereka. Itulah sebabnya kita perlu memiliki hidup gereja yang tepat dan yang bermutu tinggi, sebagai Injil yang bermutu tinggi, untuk diberitakan kepada orang-orang yang sedang haus itu. Hanya menghadiri kebaktian pada hari Minggu saja tidaklah cukup, melainkan harus memiliki satu hidup gereja yang tepat, agar Allah dan manusia sama-sama beroleh kepuasan. Bila orang-orang yang lapar dan haus itu datang ke dalam hidup gereja yang sedemikian, mereka akan menemukan apa yang mereka cari dan yang mereka dambakan, dan mereka akan memasuki perhentian hari Sabat. Semua orang beriman juga harus berusaha keras masuk ke dalam perhentian ini. Namun yang disayangkan ialah bahwa Kitab Ibrani masih tertutup bagi kebanyakan orang Kristen. Mereka tidak mau menjamahnya. Karena itu, kita harus nampak bahwa Kitab Ibrani merupakan sebagian dari Injil yang penuh lengkap. Izinkan saya mengutarakan isi hati saya: saya menganjuri semua saudara saudari remaja pergi ke sekolah atau kampus untuk memberitakan Injil dari Kitab Ibrani ini. Mereka harus memberitakan Injil yang bermutu tinggi ini, yaitu membawa orang ke dalam hidup gereja yang normal dan tepat.
Bertahun-tahun yang dalam pemberitaan Injil saya, saya lebih suka menyinggung tentang makna hidup manusia, kehampaan dan kesia-siaan hidup manusia, serta menghirup sumber hayat, dan beberapa lainnya. Dalam suatu kali pemberitaan Injil perayaan musim semi di tahun 1932, saya berbicara tentang kesia-siaan. Setelah memberitakan selama 20 menit, belum lagi sempat meminta mereka berdiri untuk menyatakan keinginan mereka untuk percaya, sudah banyak orang yang berdiri, sebab saya telah menjamah perasaan hampa dan sia-sia yang terkandung dalam batin mereka, dan telah menyingkapkan keadaan kehampaan dan kesia-siaan kehidupan mereka. Walaupun saya tidak menyinggung masalah dosa, tetapi setiap orang sudah bertobat atas dosa-dosa masing-masing. Saudara saudari, hari ini kita harus pergi kepada orang-orang yang dalam kelaparan dan kehausan, dan memberitakan hidup gereja yang merupakan Injil yang bermutu tinggi ini. Demikian barulah dapat memuaskan rasa lapar mereka dan meleraikan rasa haus mereka. Hidup gereja barulah merupakan perhentian hari Sabat pada hari ini, merupakan tanah permai yang mengalirkan susu dan madu.