← Daftar isi Ibrani (2) · bab 16/17

IMAM BESAR ILAHI, HIDUP SENANTIASA DAN SANGGUP MENYELAMATKAN I. IMAM BESAR ILAHI

Ibrani 7 adalah pasal yang membahas imamat Kristus, mewahyukan dua aspek imamat Kristus. Aspek pertama adalah imamat yang rajani dan aspek kedua adalah imamat yang ilahi. Dalam berita di depan kita telah nampak bahwa Kristus adalah Imam yang rajani. Ia berstatus raja. Walau Ia seorang Imam Besar, Ia bukan berasal dari suku imam, tetapi dari suku raja Yehuda. Berhubung status-Nya raja, maka Ia menjadi Imam yang rajani.

Kedudukan raja berkaitan dengan kebenaran dan kedamaian, sebab kedudukan raja merupakan semacam pengaturan dan penguasaan. Kalau kondisi benar (adil) dan damai ingin terpelihara, perlu ada kuasa (kekuasaan). Jika Kristus hendak menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita sebagai roti dan anggur, maka perlu ada kondisi atau suasana yang penuh kebenaran dan kedamaian. Ketika kita datang ke depan meja perjamuan Tuhan, kita perlu mempunyai perasaan yang mendalam bahwa kita sedang berada dalam kondisi benar dan damai. Andaikata tanpa kondisi demikian, sebaliknya kita terus bersengketa satu sama lain, dengan sendirinya dalam suasana itu kebenaran dan kedamaian tidak akan ada, dan pasti pula tidak ada suplai roti dan anggur bagi kita. Agar untuk dapat menerima suplai Allah yang telah melalui proses sebagai kenikmatan kita, hubungan antara Allah dengan kita dan antar sesama kita haruslah benar. Ketika segalanya sudah benar, barulah ada damai sejahtara, dan di dalam kedamaian ini barulah Kristus dapat menyuplaikan Allah yang telah melalui proses itu kepada kita. Kebenaran dan kedamaian berasal dari kedudukan Kristus sebagai raja. Bila Raja berada di sini, tidak seorang pun dapat bersengketa, dan segala-galanya akan menjadi sangat damai. Kedudukan Kristus sebagai raja telah memelihara suatu situasi yang benar dan damai. Status raja-Nya adalah untuk mempertahankan kelangsungan situasi dan kondisi benar dan damai tersebut.

Aspek kedua dari imamat Kristus dalam Ibrani 7 ialah imamat yang ilahi. Kerajanian (to be kingly) Kristus adalah perihal status; tetapi keilahian-Nya adalah perihal unsur penyusun, yaitu unsur yang harus ada dan mendasar yang ada pada-Nya yang telah menjadikan-Nya Imam Besar yang demikian. Keilahian Kristus mengacu kepada sifat-Nya. Kerajanian Kristus adalah menurut status rajani-Nya, sedang keilahian-Nya menurut sifat ilahi-Nya. Kristus itu rajani, karena Ia adalah Raja; Kristus itu ilahi, karena Ia adalah Putra Allah. Sebagai Putra Allah, Kristus tidak saja memiliki kedudukan raja, juga memiliki keilahian. Kedudukan raja-Nya memelihara semacam suasana yang penuh kebe-naran dan kedamaian, sehingga Ia dapat menyuplaikan Allah yang telah melalui proses sebagai kenikmatan kita. Keilahian-Nya telah menjadikan Dia sebagai Imam Besar, yang hidup dan penuh dengan hayat, sehingga Ia dapat melanjutkan imamat-Nya sampai selama-lamanya.

Keilahian adalah sifat dan hayat Kristus, maka sebagai persona ilahi yang penuh keilahian, Ia adalah persona yang hidup. Pada Kristus, Imam Besar yang rajani ini, tidak ada ketidakbenaran maupun persengketaan, yang ada hanyalah kebenaran (keadilan) dan kedamaian. Pada Kristus, Imam Besar yang ilahi, tidak ada maut. Ia telah mengalahkan, menaklukkan, dan menelan maut. Mengapa pada Imam Besar yang ilahi ini tidak ada maut? Sebab Ia adalah hayat. Kristus itu ilahi. Keilahian adalah esens, sifat, unsur, dan susunan-Nya. Status rajani-Nya telah membereskan se-gala masalah dan mendatangkan suasana damai sejahtera. Tetapi Ia tidak saja rajani, Ia pun ilahi. Karena itu, di mana Ia berada, di situ tidak ada maut. Di mana ada Kristus, di sana ada kebangkitan dan maut telah tertelan. Di mana ada Kristus, di situ maut tersingkir. Imamat Kristus telah meniadakan maut. Pernahkah Anda mendengar bahwa imamat Kristus telah meniadakan maut? Adanya terang telah meniadakan kegelapan. Bila ada terang, kegelapan pasti sirna. Demikian pula, bila Kristus hadir, maut pasti lenyap.

Mengapa kehadiran Kristus melenyapkan maut? Sebab Ia ilahi. Keilahian adalah unsur pokok dari imamat-Nya. Imamat-Nya tersusun atau terbentuk dari keilahian-Nya. Seperti kayu adalah unsur meja, maka keilahian adalah unsur yang membentuk Kristus menjadi Imam Besar. Ketika ministri-Nya datang, maut pun lenyap. Di satu pihak, imamat Kristus membuat maut lenyap; di pihak lain imamat Kristus mendatangkan hayat. Jadi, imamat Kristus selain melenyapkan maut, juga mendatangkan hayat. Sebagai Imam Besar yang rajani, Kristus menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita, dan sebagai Imam Besar yang ilahi, di mana Ia berada, di situ ada hayat. Imamat-Nya mendatangkan hayat.

Pernahkah Anda memperhatikan kedua aspek dari imamat Kristus dalam Ibrani 7, yaitu aspek rajani dan aspek ilahi? Mungkin Anda heran bagaimana kita bisa membuktikan bahwa di sini terdapat kedua aspek ini. Sebenarnya ini mudah dibuktikan. Dalam Ibrani 7:2 kita mempunyai Raja kebenaran dan Raja damai; dalam Ibrani 7:28 kita mempunyai Anak Allah yang telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya. Anak Allah telah ditetapkan menjadi Imam Besar dan Anak Allah sudah pasti ilahi. Dengan demikian, pada awal pasal ini kita memiliki Raja dan pada akhir pasal ini kita memiliki Anak Allah. Walau saya telah mengeluarkan banyak waktu untuk mempelajari pasal ini, namun saya tidak dapat mengerti. Sampai suatu hari saya jumpai istilah “raja” dan “ilahi”. Ketika saya nampak bahwa bagian depan menunjukkan aspek rajani, dan bagian belakang menunjukkan aspek ilahi, barulah seluruh pasal ini jelas sama sekali bagi saya.

Imam Besar ajaib yang menurut aturan Melkisedek, menjadi imam bukan “berdasarkan peraturan-peraturan manusiawi (milik daging), tetapi berdasarkan kuasa hidup yang tidak dapat binasa” (ayat 16), sebab “hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan” (ayat 19). Karena hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan, maka kita perlu berkata kepadanya, “Hukum Taurat, kamu sama sekali bukan apa-apa, dan tidak ada gunanya bagi manusia. Hukum Taurat, menyingkirlah dariku.” Imam Besar kita bukan diangkat menurut hukum Taurat, melainkan menurut kuasa hidup kekal yang tidak dapat binasa. Siapakah Dia? Di adalah Anak Allah. Anda juga boleh berkata kepada hukum Taurat, “Hukum Taurat, dapatkah kamu membandingkan dirimu dengan Putra Allah? Bertahun-tahun aku tertipu olehmu, mengira kamu adalah sesuatu yang penting, padahal kamu sama sekali bukan apa-apa. Hai, hukum Taurat, aku sekarang telah mendapatkan hayat!” Kita telah memiliki hayat Tuhan, dan hayat ini adalah Anak Allah itu sendiri.

Anak Allah tidaklah sederhana, sebab Ia mempunyai dua aspek. Kebanyakan orang Kristen hanya tahu Putra Allah sebagai Anak tunggal Allah, tetapi Alkitab juga mengatakan Ia adalah Anak sulung Allah. Anak tunggal merupakan satu aspek, dan Anak sulung merupakan aspek lain. Selaku Anak tunggal, Ia sudah ada sejak kekekalan yang lampau, dan hanya memiliki sifat ilahi. Namun, selaku Anak sulung, berdasarkan Mazmur 2 dan Kisah Para Rasul 13:33, Ia dilahirkan pada hari kebangkitan, dan memiliki sifat ilahi dan insani. Pada hari kebangkitan, Yesus yang menjadi manusia ini telah dilahirkan menjadi Anak Allah. Kelahiran ini tidak berhubungan dengan aspek Ia menjadi Anak tunggal Allah, melainkan berhubungan dengan aspek Ia menjadi Anak sulung Allah.

Jangan mengira ini hanya suatu uraian yang doktrinal. Hal ini ada hubungannya dengan persyaratan Kristus sebagai Imam Besar. Walaupun Anak tunggal Allah sangat indah, Ia hanya memiliki sifat ilahi, tanpa sifat insani yang diperlukan bagi-Nya untuk menjadi Imam Besar kita. Dalam ayat 28 dikatakan bahwa Anak Allah telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya. Ini membuktikan bahwa Anak Allah di sini bukan hanya Anak tunggal, juga Anak sulung. Sebagai Anak tunggal, Ia tidak perlu disempurnakan, sebab sejak dulu Ia telah sempurna selamanya. Akan tetapi, sebagai Anak sulung, Ia memerlukan penyempurnaan dalam berbagai aspek. Ia perlu mengenakan sifat insani dalam inkarnasi-Nya, dan hidup di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun, mengalami seluruh kehidupan manusia. Kemudian Ia perlu mengalami kematian, mengecap maut, bahkan mengalahkan, menaklukkan, dan menelan maut. Setelah itu, Ia perlu bangkit dari kematian. Sesudah bangkit, barulah Ia menjadi Anak sulung Allah yang mengandung sifat insani, demikian disempurnakan dengan sepenuhnya. Sekarang Ia bukan lagi sekadar Anak tunggal Allah yang kekal, bahkan Anak sulung Allah yang telah disempurnakan. Jadi, sekarang Ia telah disempurnakan, diperlengkapi, dan memenuhi syarat untuk menjadi Imam Besar kita yang ilahi.

Bagaimanakah Kristus bisa terbentuk menjadi Imam Besar yang sedemikian? Dengan cara keilahian-Nya berinkarnasi ke dalam keinsanian, hidup di bumi, melalui kematian, dan bangkit keluar dari maut. Siapakah Ia sekarang? Ia adalah Anak Allah yang beraspek dua: aspek pertama ialah Anak tunggal, aspek kedua ialah Anak sulung. Kini Ia merangkap sifat ilahi dan sifat insani. Setelah mengalami inkarnasi, hidup sebagai manusia, mati dan bangkit lagi, Ia telah diperlengkapi dan memenuhi syarat memikul imamat yang ilahi. Di dalam Imam Besar yang demikian, tidak hanya tidak ada keduniawian atau dosa, bahkan tidak ada maut sama sekali. Maut telah tertelan seluruhnya oleh hayat ilahi-Nya.

Kristus hidup hingga kekal. Maut tidak berdaya mencegah-Nya meneruskan jabatan-Nya sebagai Imam Besar. Semua imam suku Lewi hidup hingga umur tertentu, lalu meninggal dunia. Maut telah mencegah mereka menjadi imam untuk seterusnya. Setelah Imam Besar pertama mati, yang kedua menggantikannya, dan kemudian diganti oleh yang ketiga, dan seterusnya, karena mereka semua terhalang maut, maka mereka tidak dapat melanjutkan imamat mereka. Jangankan menyelamatkan orang lain, menyelamatkan diri sendiri pun mereka tidak sanggup. Mereka semuanya tidak ada harapan. Akan tetapi, Imamat Kristus mutlak berbeda. Imamat Harun selalu terbatasi oleh maut, tetapi imamat Kristus yang menurut aturan Melkisedek sedikit pun tidak terbatas oleh maut, sebab imamat-Nya terbentuk dari unsur hayat. Hayat yang menyusun imamat ini telah melewati maut, bahkan telah menelan maut. Hayat ini tidak dapat binasa. Bagaimana kita mengetahui bahwa hayat ini tidak dapat binasa? Karena hayat ini telah diuji oleh setiap hal dan setiap kondisi. Ia telah diuji oleh ibunda jasmani-Nya, oleh sanak saudara jasmani-Nya, oleh penderitaan kehidupan insani-Nya, dan oleh pencobaan Iblis, Satan. Pada akhirnya, Ia diuji oleh maut, kubur, alam maut, dan kuasa kegelapan. Hayat ini telah melalui ujian dari setiap hal, dan tidak ada apa pun yang dapat merusaknya, ini membuktikan bahwa hayat ini mutlak tidak dapat binasa. Imam Besar kita terbentuk dari unsur hayat yang tidak dapat binasa.

Imamat Kristus yang rajani adalah untuk menyuplai dan imamat-Nya yang ilahi untuk menyelamatkan. Ibrani 7:25 mengatakan, “Karena itu, Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua orang yang melalui Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk menjadi pengantara (berdoa bagi) mereka.” Mengapa Ia sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna? Karena Ia hidup selama-lamanya, dan karena Ia adalah hayat yang tidak dapat binasa. Walaupun saya berniat menyelamatkan Anda, namun saya sangat mudah rusak dan berakhir. Akan tetapi, Kristus dapat menyelamatkan kita dengan sempurna, karena imamat-Nya terbentuk dari hayat yang tidak dapat binasa. Entah bagaimana situasi dan kondisi kita, kita dapat berkata kepada Iblis, “Hai Iblis, lakukanlah sekuat tenagamu. Kerahkanlah semua tentaramu untuk menentangku. Aku tidak takut! Karena aku mempunyai imamat ilahi yang melindungi dan memelihara aku!” Apa-kah imamat ilahi ini? Adalah kuasa menyelamatkan dari hayat yang tidak dapat binasa. Ministri Imam Besar yang rajani menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita sebagai kenikmatan kita, bukan untuk mempersembahkan kurban kepada Allah karena dosa-dosa kita, sedangkan tugas utama dari Imam Besar ilahi ini adalah menyelamatkan kita.

A. Peralihan Imamat

1. Dari Aturan Harun Beralih ke Aturan Melkisedek

Dari Ibrani 7:12 kita nampak adanya peralihan imamat, yakni dari aturan Harun beralih ke aturan Melkisedek (ayat 11, 15, 17). Dalam Perjanjian Lama, imamat berdasar pada aturan Harun, yang selalu terhalang oleh maut, sehingga tidak dapat bertahan lama. Dalam Perjanjian Baru, imamat telah beralih ke aturan Melkisedek, yang berlangsung hingga kekal.

2. Dari Suku Imamat Lewi Beralih ke Suku Rajani Yehuda

Imamat telah beralih dari suku imamat Lewi ke suku rajani Yehuda (ayat 13-14). Dalam Perjanjian Lama, suku Lewi adalah suku para imam, sedang suku Yehuda adalah suku para raja. Berhubung Tuhan adalah keturunan suku Yehuda, maka imamat turut beralih, sehingga imamat dan kedudukan raja bergabung dalam satu suku (Za. 6:13), seperti yang terdapat pada Melkisedek, yang selain sebagai Imam Besar juga sebagai raja (ayat 1).

3. Dari Manusia Beralih ke Anak Allah

Ayat 28 menunjukkan bahwa imamat juga telah beralih dari manusia ke Anak Allah. Semua imam Perjanjian Lama lemah, rapuh, dan terbatas oleh maut, namun Anak Allah kekal dan hidup selamanya. Dia adalah Anak tunggal Allah dan Anak sulung Allah sebagai hayat yang menyusun imamat Perjanjian Baru. Imamat telah beralih dari manusia ke Anak tunggal dan Anak sulung Allah. PadaNya terkandung keilahian yang telah berinkarnasi dan terkandung keinsanian yang telah ditinggikan. Di dalam-Nya kita memiliki kehidupan manusia, kematian, dan kebangkitan yang almuhit. Di dalam Anak sulung Allah kita beroleh kelahiran kembali, yaitu kelahiran yang menghasilkan banyak anak Allah. Dalam masa Perjanjian Baru, imamat telah beralih dari manusia kepada Dia yang sedemikian.

4. Diperlukan Peralihan Hukum

Ayat 12 mengatakan, “Jikalau imamat berubah, dengan sendirinya akan berubah pula hukum Taurat itu.” Imamat Perjanjian Lama memerlukan hukum Taurat yang lama. Kini, imamat Perjanjian Baru memerlukan hukum yang baru. Jadi, perlu ada suatu peralihan hukum.

a. Dari Hukum Taurat yang Tertulis Beralih ke Hukum Hayat

Ini adalah perubahan dari hukum yang tertulis kepada hukum hayat; menurut hukum hayat ini Kristus telah menjadi Imam Besar yang hidup, tidak berkesudahan (ayat 16). Kristus menjadi Imam Besar bukan menurut hukum tertulis yang tidak memiliki kuat kuasa, melainkan menurut unsur yang penuh kuasa dari hayat yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat rusak. Namun, banyak orang Kristen masih ingin kembali kepada hukum tertulis yang terdapat di seberang sana sungai. Bersandarkan rahmat-Nya, kita telah menyeberang dari tepi sungai yang sama, yakni tepi hukum yang tertulis, ke tepi sungai yang lain, yakni tepi yang hayati. Dalam hayat yang tidak dapat binasa, yang kekal inilah kita berbagian dan menikmati imamat Kristus hari ini.

b. Dari Hukum yang Lemah dan tidak Berguna Beralih kepada Pengharapan yang lebih Baik

Ayat 18-19 mengatakan, “Di satu sisi hukum yang dikeluarkan dahulu dibatalkan, kalau hukum itu tidak mempunyai kekuatan dan karena itu tidak berguna sebab hukum Taurat sama sekali tidak membawa kesempurnaan di sisi lain, diperkenalkan suatu pengharapan yang lebih baik, yang mendekatkan kita kepada Allah.” Perintah Taurat atau aturan dari hukum mengenai imamat Lewi telah disingkirkan karena itu hanyalah huruf-huruf yang tidak mempunyai kekuatan. Itu bukan perkara hayat, melainkan suatu perintah yang mati dalam huruf-huruf, jadi itu tidak berguna. Karena kelemahan manusia, hukum Taurat sama sekali tidak menggenapkan apa-apa (Rm. 8:3).

Peralihan hukum telah menghapus hukum Taurat la-ma dan mendatangkan pengharapan yang lebih baik. Apakah pengharapan yang lebih baik? Imamat dalam hayat. Pengharapan ini terutama tergantung pada hayat, yakni hayat yang tidak dapat binasa. Karena imamat yang memelihara kita berada dalam hayat yang demikian, maka kita penuh dengan pengharapan. Sewaktu Anda merasa lemah, dan menyadari bahwa perasaan itu palsu, itu menunjukkan bahwa Anda penuh dengan pengharapan. Bila istri Anda mengatakan Anda lemah, Anda harus menjawabnya, “Sayangku, kelemahan ini palsu. Tunggulah sejenak. Aku akan menjadi pejuang yang perkasa seperti Abraham. Aku penuh dengan pengharapan karena aku mempunyai imamat Melkisedek.” Kalau Anda berkata demikian, berarti Anda penuh pengharapan yang lebih baik. Pengharapan yang lebih baik adalah imamat dalam hayat. Di mana ada hayat, di situ ada pengharapan. Hanya orang matilah yang tidak mempunyai pengharapan. Asalkan kita hidup, pasti mempunyai banyak pengharapan. Peralihan hukum di samping meniadakan hukum tertulis yang mati, juga mendatangkan pengharapan dalam hayat. Saudara saudari, jangan sekali-kali putus asa, sebab kita mempunyai suatu pengharapan yang lebih baik. Kita mempunyai imamat yang berasal dari hayat yang tidak binasa.

Sering kali orang berkata kepada saya, “Saudara Lee, kami tidak pernah melihat Anda resah. Apakah dalam hidup kristiani Anda tidak pernah menjumpai ujian atau kesulitan?” Kesulitan yang saya alami sedikit pun tidak lebih ringan daripada Anda semua. Bedanya adalah saya tidak percaya kepada kesukaran saya. Saya hanya percaya kepada pengharapan saya. Di dalam saya ada suatu pengharapan yang lebih indah. Kita sekalian memiliki pengharapan tersebut, sebab imamat yang memelihara kita bukan terbentuk dari hukum peraturan lama yang rapuh dan tidak berguna, melainkan telah diganti dengan yang terbentuk dari hayat yang tidak dapat binasa.

B. Anak Tunggal Allah juga sebagai Anak Sulung

Allah Menjadi Imam Besar

Status Kristus sebagai Anak tunggal Allah dan Anak sulung Allah adalah syarat yang harus dipenuhi-Nya untuk menjadi Imam Besar (ayat 28). Ia menjadi Imam Besar dengan dua syarat ini. Kristus menjadi Imam Besar kita berdasarkan pada status-Nya sebagai Anak tunggal Allah dan Anak sulung Allah.

1. Menjadi Imam Menurut Kuasa Hayat yang Tidak Dapat Binasa

Kristus menjadi Imam Besar bukan menurut hukum Taurat tertulis yang tidak memiliki kuat kuasa, melainkan menurut unsur yang penuh kuasa dari hayat yang tidak dapat binasa (ayat 16). Tidak ada apa pun yang dapat melenyapkan hayat ini. Hayat ini tidak berkesudahan, karena hayat ini kekal, ilahi, bukan ciptaan, dan adalah hayat kebangkitan, yang telah melewati ujian kematian dan alam maut (Kis. 2:24; Why. 1:18). Dengan hayat yang demikianlah hari ini Kristus melayani sebagai Imam Besar kita. Karena itu, Dia mampu menyelamatkan kita dengan sempurna (ayat 25). Sebagai Imam Besar kita, Ia adalah Anak Allah yang hidup. Ia penuh dengan kuasa. Di satu pihak, Ia ada di surga; di pihak lain, Ia juga berada di dalam roh kita. Di antara kedua ujung ini, yakni di antara surga dengan roh kita terdapat lalu lintas pada tangga surgawi, karena imamat-Nya mengalir terus-menerus dari takhta ke dalam roh kita. Yang mengalir bukanlah pengetahuan, melainkan kuat kuasa hayat yang tidak dapat binasa.

2. Diangkat dengan Sumpah yang Dilakukan Allah

Sebagai Anak tunggal dan Anak sulung Allah, Kristus menjadi Imam Besar dengan mengangkat sumpah yang dilakukan Allah (ayat 20-21, 28). Di antara para imam suku Lewi tidak seorang pun yang pernah diangkat demi sumpah Allah. Dalam Ibrani 7, penulis Surat Ibrani mengutip Mazmur 110 menunjukkan kepada kita bahwa pengangkatan Kristus sebagai Imam yang kekal yang menurut aturan Melkisedek adalah demi sumpah Allah. Hal ini merupakan bukti kuat bahwa diangkatnya Kristus sebagai Imam Besar ilahi ialah melalui pengukuhan sumpah Allah.

3. Sempurna Sampai Selama-lamanya

Dalam Ibrani 7:28, kita nampak bahwa Kristus telah dijadikan sempurna sampai selama-lamanya. Kita pernah mengatakan, sebagai Anak tunggal Allah, Kristus tidak perlu disempurnakan. Namun untuk menjadi Anak sulung Allah, Ia perlu disempurnakan. Sebab itu setelah bangkit, Ia disempurnakan sampai selama-lamanya. Kini, Ia telah sempurna, diperlengkapi, dan memenuhi syarat menjadi Imam Besar kita yang kekal. Kita boleh bersandar kepada-Nya dengan penuh keyakinan karena Ia telah demikian sempurna.

4. Menjadi Jaminan dari Perjanjian yang lebih Baik

Ayat 22 menerangkan, “Itulah sebabnya Yesus telah menjadi jaminan dari suatu perjanjian yang lebih baik.” Kristus telah menjadi jaminan dari perjanjian yang lebih baik, berdasarkan fakta bahwa Dia adalah Imam Besar yang hidup dan tidak berkesudahan. Istilah “jaminan” dalam akar kata bahasa Yunaninya mengandung arti “anggota tubuh”. Jadi di sini berarti anggota tubuh ini menjaminkan dirinya kepada tubuh. Misalnya, tangan saya menjaminkan dirinya kepada lengan saya untuk melakukan segala sesuatu bagi lengan saya ini. Jaminan ini merupakan suatu garansi. Istilah jaminan dalam ayat ini berarti Kristus telah menjaminkan diri-Nya kepada Perjanjian Baru dan kepada kita semua. Ia telah terikat, menjamin bahwa Ia akan melakukan segala hal yang perlu bagi penggenapan Perjanjian Baru.

Sekali tangan menjaminkan dirinya kepada lengan, ia menjadi jaminan untuk melakukan segala hal bagi lengan. Bahkan kalau tangan enggan melakukan sesuatu bagi lengan, ia tetap harus melakukannya juga, sebab ia telah menjaminkan dirinya kepada lengan. Sudah pasti Kristus tidak pernah enggan melakukan sesuatu bagi kita. Namun andaikata Ia enggan, Ia juga sudah terlambat untuk menolak, karena Ia telah menjaminkan diri-Nya kepada Perjanjian Baru dan kepada kita semua yang berada di bawah Perjanjian Baru ini. Ia tetap harus melakukan segalanya itu bagi kita.

Pemikiran yang sedemikian amatlah dalam, dan mutlak merupakan masalah hayat. Tidakkah Anda menyadari bahwa hayat jasmani Anda juga telah menjaminkan dirinya kepada Anda? Entah hayat jasmani Anda mau atau tidak mau melakukan segala hal bagi Anda, ia tetap harus melakukannya, karena ia telah menjaminkan dirinya. Jadi, hayat jasmani Anda sendiri menjadi jaminan, yang menjamin bahwa ia mau melakukan segala hal bagi Anda, telah terikat untuk melakukannya.

Demikian pula, Kristus telah menandatangani satu ikatan atau perjanjian. Dengan cara apakah Ia menandatanganinya? Dengan cara menjaminkan diri-Nya kepada Perjanjian Baru dan kepada kita. Dia tidak mungkin untuk berubah pikiran, sebab sudah terlanjur. Entah kita mengerti ini atau tidak, entah Ia mau atau tidak, Ia tetap harus melakukannya, karena Ia telah menjaminkan diri-Nya. Itulah sebabnya Ia menjadi jaminan atas sebuah perjanjian yang baru. Jaminan ini tergantung sepenuhnya pada imamat-Nya yang ilahi.

Walaupun tangan saya telah menjaminkan dirinya kepada lengan saya, namun tangan saya terbatas oleh kemampuannya. Ia sanggup membawa sejilid buku, tetapi tidak sanggup mengangkat sebuah meja yang berat. Pada Kristus tidak ada pembatasan itu. Jaminan-Nya tidaklah terbatas. Kristus yang menjaminkan diri-Nya kepada kita itu tidak terbatas. Ia akan melakukan segala hal, Ia pun sanggup melakukan segala hal bagi kita. Ia adalah jaminan yang memenuhi syarat, mampu, dan sanggup. Ia senantiasa siap dan mampu mewujudkan apa saja yang telah dijamin-Nya.

Misalnya, Anda diminta seorang teman untuk menandatangani sebuah jaminan pada banknya. Kalau manajer bank itu tahu bahwa Anda hanya mempunyai beberapa dolar saja, tentulah ia tidak akan mengizinkan Anda menandatangani jaminan itu, walaupun Anda berjanji memenuhi tanggung jawab atas jaminan itu. Namun, Kristus memiliki sumber kekayaan yang tidak terhitung. Ketika Ia menjaminkan diri-Nya, itu telah mencakup segala-galanya. Karena itu, perjanjian yang baru, yang disahkan dengan hukum hayat, tidak mungkin gagal, sebab Kristus menjadi jaminan atas perjanjian ini. Setiap hal yang tercantum di dalam-nya pasti akan digenapi-Nya satu per satu. Bukan kita yang menggenapinya, melainkan penjamin kita ini. Kristus bukan hanya pelaksana dan penggenap perjanjian baru, Ia pun adalah penjamin, yang menjamin akan mewujudkan setiap hal yang terdapat dalam perjanjian tersebut.

II. HIDUP SENANTIASA

Kristus sanggup menyelamatkan, dikarenakan Ia hidup senantiasa. Ia siap sedia kapan dan di mana saja, karena Ia hidup senantiasa. Apa saja dapat dilakukan-Nya dikarenakan satu hal, yaitu Ia hidup senantiasa.

A. Berlangsung hingga Kekal,

Tidak Dapat Dicegah oleh Maut

Berhubung Ia hidup senantiasa, Kristus dapat meneruskan imamat-Nya hingga kekal, tidak dapat dicegah oleh maut (ayat 23-24). Di masa Perjanjian Lama, semua imam tidak dapat melanjutkan imamat mereka karena dicegah oleh maut. Namun maut tidak berdaya mencegah Kristus yang hidup selamanya, imamat-Nya dapat berlangsung terus tanpa penggantian.

B. Tidak Dapat Diubah

Imamat Kristus tidak dapat diubah atau diganti. Apa adanya Dia tetap untuk selamanya. “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (13:8), begitu pula imamat-Nya.

III. SANGGUP MENYELAMATKAN

A. Menyelamatkan dengan Sempurna

Ayat 25 mengatakan bahwa Kristus sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna. Istilah “sempurna” dapat diterjemahkan secara tuntas, secara menyeluruh sampai kesudahannya, dan sampai selamanya. Karena Ia hidup selamanya, tanpa perubahan sedikit pun, maka penyelamatan Kristus terhadap kita dapat mencapai kesempurnaan baik dalam tingkatan, waktu, maupun ruang. Jadi, Ia sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna dalam tingkatan, waktu, dan ruang.

B. Mendoakan Kita

Kristus sanggup menyelamatkan kita karena Ia mendoakan kita. Kristus sebagai Imam Besar kita memikul perkara kita dan berdoa (bersyafaat) bagi kita. Dia tampil di hadapan Allah bagi kita dan berdoa bagi kita, agar kita diselamatkan dan sepenuhnya dibawa ke dalam kehendak kekal Allah. Mungkin Anda berkata bahwa Anda tidak pernah merasa Ia mendoakan Anda. Anda tidak perlu merasakan hal itu. Apa baiknya bila Anda dapat merasakannya? Jangan berusaha merasakan doa syafaat-Nya. Mengaso saja di dalamnya, percayalah di dalamnya, dan nikmati saja hal itu. Yakinlah bahwa Imam Besar Anda yang ilahi ini senantiasa mendoakan Anda. Pengalaman saya sendiri membuktikan bahwa saya sering kali diselamatkan oleh doa syafaat-Nya. Kita mempunyai seorang Jurusyafaat yang kekal, tidak berubah sampai selama-lamanya.

Imam Besar kita yang ilahi ini senantiasa mendoakan kita. Ia tahu betapa mudahnya kita jatuh, dan bila kita jatuh kita akan terus tinggal dalam kondisi kejatuhan itu, sukar untuk bangun kembali. Namun, cepat atau lambat, doa syafaat-Nya akan menyelamatkan kita keluar dari kondisi itu. Jika hal ini tidak terjadi pada hari ini atau besok, pasti akan terjadi tahun depan, atau masa yang akan datang, atau pada akhirnya, yaitu dalam langit dan bumi baru kelak. Bagaimanapun, melalui doa syafaat-Nya, pada akhirnya kita semua pasti akan mutlak ditundukkan, diselamatkan dengan sempurna. Allah telah menetapkan Dia untuk memelihara kita. Hari ini Ia sedang memelihara kita melalui doa syafaat-Nya. Sekalipun Anda lupa bahwa Anda pernah berseru kepada nama-Nya, Ia tidak akan lupa. Kini Ia sedang mendoakan Anda, dan Ia akan menyelamatkan Anda dengan sempurna.

C. Yang Cocok bagi Kita

1. Saleh (Kudus), Tanpa Salah, Tanpa Noda, dan Terpisah dari Orang-orang Berdosa

Ayat 26 mengatakan, “Sebab Imam Besar yang demikianlah yang cocok bagi kita: Yaitu yang saleh, tanpa salah (kudus), tanpa noda, terpisah dari orang-orang berdosa” (Tl.). Kristus itu kudus, tanpa salah, tanpa noda, dan terpisah dari orang-orang berdosa. Ia demikian sempurna, maka pasti cocok sekali bagi kita. Kita, yang masih memiliki sifat-sifat alamiah yang bejat dan jatuh, memerlukan seorang Imam Besar yang demikian, untuk menyelamatkan kita setiap saat.

2. Lebih Tinggi daripada Tingkat-tingkat Surga

Dikatakan dalam ayat 26 bahwa Ia “lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga.” Dalam kenaikan-Nya, Kristus “telah melintasi semua langit” (4:14). Kini Ia tidak saja berada di dalam surga (9:24), tetapi juga “lebih tinggi daripada tingkat-tingkat surga”, dan “jauh lebih tinggi daripada semua langit” (Ef. 4:10). Berapakah tingginya kesukaran Anda? Mungkinkah lebih tinggi daripada semua langit? Karena Imam Besar kita lebih tinggi daripada semua langit, maka Ia tidak hanya sanggup menyelamatkan kita, bahkan sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna.

3. Mempersembahkan diri-Nya Sendiri karena Dosa-dosa Kita, Satu Kali untuk Selama-lamanya

Ibrani 7:27 mengatakan, “Ia tidak seperti imam-imam besar itu yang setiap hari harus mempersembahkan kurban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa-dosa umatnya. Sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri.” Ayat ini tidak mengacu kepada apa yang sedang Kristus lakukan hari ini, melainkan mengacu kepada apa yang telah dilakukan-Nya dulu. Ayat ini menjamin kita bahwa kita tidak perlu terganggu oleh dosa, sebab Kristus telah mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban karena dosa-dosa kita, sekali untuk selama-lamanya. Di atas salib, Ia telah membereskan masalah dosa satu kali untuk selama-lamanya. Kini, di atas takhta, Ia menunaikan tugas-Nya sebagai Imam Besar sampai selama-lamanya. Alangkah bahagianya, kita memiliki seorang Imam Besar yang demikian rajani dan ilahi ini!