IMAM BESAR YANG RAJANI, KEKAL, DAN AGUNG
Dalam berita yang lalu kita pernah mengatakan bahwa Kristus yang kita miliki ialah obyektif yang subyektif. Apa maksudnya? Inilah suatu hal yang sangat menggembirakan. Pada suatu malam, di tahun 1968, seorang saudara berkata kepada saya, “Saudara Lee, para pengkhotbah, pastur, dan pendeta di seluruh Amerika, bertahun-tahun lamanya terus menyuruh orang untuk memandang kepada Tuhan yang ada di surga. Tetapi sejak datang di negeri ini, Anda selalu menyuruh orang kembali ke dalam roh untuk berjumpa dengan Tuhan. Kedua hal ini saling bertentangan, dan seolah-olah terdapat dua arah yang berbeda.” Ya, memang sebenarnya ada dua arah. Seperti telah kita bahas pada berita yang lampau, hari ini Tuhan tidak lagi berada di bumi, melainkan di takhta, di surga. Itu tidak dapat diragukan lagi. Namun, bila Tuhan hanya bertakhta di surga, bagaimanakah manusia yang di bumi ini dapat memiliki-Nya sebagai hayat mereka? Jikalau Tuhan hanya berada di surga, Ia terlalu jauh dengan kita, dan mustahillah kita memiliki-Nya sebagai hayat dan suplai hayat kita sehari-hari. Kalau demikian, bagaimanakah Tuhan yang obyektif bisa menjadi subyektif bagi kita dalam hidup kita seharihari? Inilah masalahnya.
Rahasia untuk menjawab pertanyaan ini terdapat dalam Surat Ibrani. Dalam Ibrani 4:12 dikatakan tentang pemisahan jiwa dengan roh, inilah rahasianya. Kelihatannya penulis menyisipkan ayat ini dengan tiba-tiba, tanpa alasan. Pasal 4 membahas masalah perhentian hari Sabat. Secara teori, antara perhentian hari Sabat dengan roh insani kita tidak ada sangkut pautnya. Perhentian hari Sabat adalah perhentian hari Sabat, roh insani kita adalah roh insani kita. Kedua hal tersebut satu sama lain sepertinya terpaut jauh sekali. Tetapi 4:14 melanjutkan dengan kata-kata bahwa kita memiliki “Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah”, lalu ayat 16 mengatakan, “. . . marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta anugerah . . .” Imam Besar Agung kita telah duduk di takhta di surga, bagaimana kita dapat menjamah-Nya? Bagaimana pula kita dapat mengalami-Nya?
Penulis Surat Ibrani menyuruh kita “menghampiri”. Dalam Surat Ibrani istilah ini dipakai beberapa kali antara lain: “menghampiri takhta anugerah” (4:16); “menghampiri tempat maha kudus” (10:22 Tl.); “datang kepada Allah” (7:25); “berpaling kepada Allah” (11:6). Kita harus menghampiri tiga tempat: tempat maha kudus, takhta anugerah, dan Allah itu sendiri. (Dalam terjemahan bahasa Indonesia, istilah “datang kepada” ini adakalanya diterjemahkan “menghampiri”, “menghadap”, atau “berpaling kepada”. Menurut bahasa aslinya terutama berarti “datang kepada”).
Kita harus memahami latar belakang Surat Ibrani ini. Kita telah nampak dengan jelas bahwa penerima surat ini sedang berada dalam bahaya mundur ke belakang. Mereka dalam keadaan bingung dan ragu, maka surat ini mendorong mereka untuk “datang kepada”. Di sini penulis bukan menyuruh mereka pergi ke depan, tetapi datang kepada. Ini berarti penulis sendiri berada di suatu tempat, lalu ia menghendaki pembacanya juga datang ke tempat di mana ia berada. Jadi ia menyuruh mereka datang ke tempat maha kudus, ke takhta anugerah, dan kepada Allah itu sendiri. Di manakah Allah? Ia berada di takhta anugerah! Di manakah takhta anugerah? Di dalam tempat maha kudus. Ketika penulis menulis surat ini, ia sendiri berada di dalam tempat maha kudus, maka ia memanggil semua saudara Ibrani agar mereka juga datang ke tempat ini.
Pada butir ini kita menghadapi satu masalah, yakni di manakah sebenarnya tempat maha kudus dan takhta anugerah itu? Berdasarkan pengalaman kita, dapat kita katakan bahwa keduanya itu berhubungan dengan roh kita. Jika keduanya itu, tempat maha kudus dan takhta anugerah berhubungan dengan roh kita, sudah pasti Allah pun berada di dalam roh kita, sebab Allah berada di takhta anugerah. Asalkan kedua tempat itu berhubungan dengan roh kita, maka pasti Allah pun berada di dalam roh kita.
Kalau Anda bertanya kepada orang Kristen pada umumnya, di manakah tempat maha kudus dan takhta anugerah, mereka pasti mengatakan semuanya itu berada di surga. Jawaban demikian memang ada dasarnya yang kuat dalam Alkitab, dan pada teorinya memang mutlak betul, namun kita perlu bertanya lagi: Jika takhta anugerah berada di surga, sedangkan kita di bumi, bagaimanakah kita dapat datang ke hadapannya? Adakah jalan bagi kita, yang di bumi, hari ini untuk menjamah takhta anugerah di sur-ga? Menurut teologi mereka, banyak orang Kristen hari ini tidak dapat menjamah takhta anugerah. Takhta anugerah sangat jauh dari mereka. Tempat maha kudus di surga yang jauh. Secara doktrinal, tempat maha kudus dan takhta anugerah berada di surga. Kita berada di bumi, bagaimana mungkin hari ini kita dapat masuk ke dalam tempat maha kudus dan menjamah takhta anugerah? Di pihak obyektif, Kristus hari ini juga berada di takhta di surga. Mana mungkin Kristus yang obyektif ini menjadi pengalaman kita yang subyektif? Menurut ajaran yang obyektif, ini tidak mungkin.
Alkitab menyinggung suatu tempat yang disebut Betel, rumah Allah (Kej. 28:19). Di tempat ini ada tangga yang menghubungkan langit dan bumi (Kej. 28:12), dan di atas tangga ini malaikat-malaikat Allah naik dan turun. Hal ini membuktikan bahwa tangga itu menghubungkan bumi dengan langit juga menghubungkan langit dengan bumi. Di antara bumi dengan langit, terdapat lalu lintas yang sibuk sekali, yang dinyatakan dengan naik turunnya malaikat-malaikat. Lalu lintas ini tidak dapat kita temukan di mana pun di bumi ini, kecuali di satu tempat yang istimewa yakni Betel, rumah Allah.
Lalu lintas antara langit dengan bumi itu dapat kita ibaratkan seperti listrik. Pusat pembangkit listrik mungkin berada di tempat yang jauh dari rumah Anda, tetapi di antara pusat pembangkit listrik dengan rumah Anda terdapat lalu lintas arus listrik. Kabel-kabel listrik membawakan listrik dari pusat pembangkitnya ke rumah Anda. Begitu pula, di antara bumi dengan langit ada suatu lalu lintas. Kristus adalah tangga yang menghubungkan keduanya itu. Di atas tangga ini banyak hal yang naik dan turun, pergi dan datang. Tangga ini berada di rumah Allah.
Namun kesemuanya itu masih merupakan teori saja. Di manakah rumah Allah di bumi hari ini? Setelah bertahun-tahun mempelajari Alkitab, akhirnya saya menemukan, Betel hari ini, yakni rumah Allah, berada di dalam roh kita. Efesus 2:22 mengatakan bahwa kita “dibangunkan menjadi tempat kediaman Allah, di dalam roh”. Gereja hari ini adalah tempat kediaman Allah, rumah Allah, dan itu ada dalam roh kita. Ketika kita, orang-orang dalam gereja, berhimpun di dalam roh, maka rumah Allah, Betel, ada di sini. Pada saat ini pula, tempat ini berhubungan dengan surga, sebab ada satu tangga yang menghubungkan bumi dengan langit dan membawakan langit ke bumi. Dengan spontan, terjadilah lalu lintas antara langit dengan bumi. Namun, bila kita keluar dari roh kita, dan hidup di dalam pikiran atau emosi, Betel akan lenyap. Di manakah Betel hari ini? Di dalam roh kita. Kalau Betel, rumah Allah berada di dalam roh kita, maka roh kita adalah tempat Kristus berada sebagai tangga surgawi yang menghubungkan kita dengan surga, dan mendatangkan surga kepada kita. Menurut wahyu ini dan menurut pengalaman kita, kita dapat dengan berani mengatakan bahwa tempat maha kudus dan takhta anugerah berhubungan dengan roh kita.
Itulah sebabnya penulis Surat Ibrani berkata pada pasal 4:12 bahwa pertama-tama kita harus mengalami pemisahan jiwa dengan roh, kemudian baru kita dapat datang ke tempat yang maha kudus, ke takhta anugerah, dan datang ke depan Allah yang berada di takhta anugerah dalam tempat maha kudus. Rahasia dari pengalaman ini ialah pemisahan jiwa dengan roh.
Apakah Kristus itu obyektif? Ya, faktanya memang Ia obyektif. Namun dalam pengalaman kita, Ia adalah obyektif yang subyektif. Faktanya, Ia memang obyektif, sebab Ia berada di surga. Tetapi kita tidak perlu pergi ke surga untuk mengalami-Nya. Ketika kita berada di bumi hari ini, kita sudah dapat mengalami Kristus yang di surga di dalam roh kita. Kristus itu obyektif, tetapi pengalaman kita terhadap-Nya bersifat subyektif. Jadi, kita dengan subyektif dapat mengalami Kristus yang obyektif. Bagaimanakah Kristus yang obyektif menjadi pengalaman kita yang subyektif? Melalui tangga surgawi yang menghubungkan kita dengan surga dan yang membawakan surga kepada kita. Bagaimana listrik yang obyektif, yang jauh dari rumah kita, yang berada di pusat pembangkitnya, bisa menjadi listrik yang subyektif, yang dapat kita manfaatkan di rumah kita? Melalui kabel listrik yang membawa arus listrik dari pusat pembangkitnya ke rumah kita. Memang di pusat pembangkitnya listrik itu obyektif, tetapi ketika listrik itu dimanfaatkan di rumah kita, ia menjadi subyektif. Sama halnya, kita dapat dengan subyektif mengalami Kristus yang obyektif. Ketika kita berada di bumi, kita sudah dapat mengalami Kristus yang di surga. Hal ini sungguh ajaib! Dari hari ke hari, saya dapat mengalami Kristus yang di surga ini. Walaupun Ia obyektif, dalam pengalaman saya, Ia itu subyektif.
Di manakah Kristus hari ini? Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sederhana. Kita harus mengatakan bahwa pada faktanya Kristus itu obyektif, di surga, tetapi dalam pengalaman kita, Ia dengan subyektif berada di dalam roh kita. Dengan demikian, Kristus yang obyektif di surga telah menjadi pengalaman subyektif kita di dalam roh. Dalam berita yang lalu kita pernah mengatakan bahwa kita harus berada di lantai kedua, tempat kita mengalami Kristus. Di manakah lantai kedua? Berhubungan dengan roh kita. Karena lantai kedua berkaitan dengan roh kita, maka kita harus beralih ke dalam roh kita untuk mengalami Kristus yang di surga itu.
I. IMAM BESAR YANG RAJANI
Kristus yang di surga yang dapat kita alami secara subyektif dalam roh kita, terutama adalah Imam Besar. Inti Surat Ibrani ialah Kristus yang surgawi, sedangkan butir utama dari Kristus yang surgawi adalah Ia sebagai Imam Besar. Butir utama di sini bukan Kristus sebagai Juruselamat atau Penebus, melainkan Kristus yang surgawi menjadi Imam Besar. Itulah sebabnya Surat Ibrani terutama membahas masalah imamat Kristus. Camkanlah keterangan ini: pokok Surat Ibrani ialah Kristus yang surgawi, sedang butir utama dari Kristus yang surgawi ialah bahwa Dia adalah Imam Besar. Surat Ibrani terutama membahas masalah imamat Kristus.
Di antara kebanyakan orang Kristen, imamat Kristus terlalu direndahkan. Ketika membicarakan Kristus sebagai Imam Besar, mereka tetap cenderung pada konsepsi bahwa Ia adalah Imam Besar yang mempersembahkan kurban kepada Allah karena dosa-dosa kita. Meskipun ini tepat, namun berada di pihak negatif. Kristus sebagai Imam Besar yang mempersembahkan kurban karena dosa-dosa kita kepada Allah dilambangkan oleh Harun. Itu adalah hal yang telah lampau. Hari ini Kristus tidak perlu mempersembahkan kurban bagi dosa-dosa kita lagi, Ia sedang menyuplaikan Allah kepada kita, menjadi suplai kita. Dulu, Kristus pernah mempersembahkan kurban karena dosa-dosa kita seperti yang dilambangkan oleh Harun. Hari ini, Ia menyuplaikan Allah kepada kita menurut aturan Melkisedek.
Hal ini dapat dibuktikan dari peristiwa penyambutan Melkisedek terhadap Abraham (Kej. 14:18-22). Kali pertama Alkitab memakai kata “imam” dalam Alkitab berkaitan dengan Melkisedek. Ia disebut Imam Besar Allah yang Maha tinggi. Sebagai Imam Besar Allah yang Mahatinggi, Melkisedek tidak mempersembahkan kurban karena dosa Abraham, melainkan menyuplaikan roti dan anggur kepadanya. Sebagaimana ditunjukkan oleh lambang perjamuan Tuhan dalam Alkitab, roti dan anggur melambangkan Allah yang telah melalui proses sebagai suplai kita. Jadi, Imam Besar kita, Kristus, bukan mempersembahkan kurban kepada Allah menurut aturan Harun, melainkan menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita, menurut aturan Melkisedek.
Siapakah kita ini? Kita bukan lagi orang dosa yang kasihan, melainkan pejuang-pejuang yang menang. Ketika Melkisedek menyambut Abraham, Abraham bukanlah seorang dosa yang kasihan, yang memohon kepadanya, “Oh, Imam Besar Melkisedek, kasihanilah aku! Aku penuh dengan dosa. Bereskanlah dosa-dosaku. Keadaanku sungguh kasihan. Persembahkanlah kurban sebanyak-banyaknya kepada Allah karena dosaku!” Saat itu keadaan Abraham tidak demikian. Ketika Melkisedek datang kepadanya, Abraham adalah seorang pemenang, pejuang, dan pembunuh musuh. Ia baru saja mengalahkan Kedorlaomer serta raja-raja lainnya (Kej. 14:17). Abraham adalah seorang pejuang yang menang yang kembali dengan membawa banyak ja-rahan. Siapakah Anda? Seorang dosa yang kasihan, atau pejuang yang menang? Saya berkata dengan gembira bahwa dalam hidup gereja, kita bukanlah orang-orang dosa yang kasihan, melainkan pejuang-pejuang yang menang!
Kita tidak berada dalam Kitab Imamat bersama Harun, melainkan dalam Kejadian 14, bersama Melkisedek. Harun telah berlalu, kita tidak bersama dia lagi, kita sekarang bersama Melkisedek. Kristus yang kita miliki hari ini jauh melampaui Harun. Dalam Kitab Imamat kita perlu mengapresiasi Harun, namun ketika kita tiba pada Surat Ibrani, kita harus berkata bahwa Harun telah berlalu. Dalam Kitab Ibrani, Melkisedek adalah Imam Besar kita. Kita tidak mau mondar-mandir di Kitab Imamat, melainkan kembali kepada yang semula yaitu Kitab Kejadian, ini barulah suatu pemulihan yang sejati. Marilah kita kembali ke Kejadian 14, di mana kita nampak bahwa imam tidak mempersembahkan kurban bagi orang dosa yang kasihan, melainkan menyuplaikan roti dan anggur bagi pemenang yang mulia.
Bukan main girangnya bila pada malam hari sebelum kita tidur, Melkisedek datang menyuplaikan roti dan anggur kepada kita, sebab sehari suntuk kita telah membunuh banyak Kedorlaomer! Kita harus sepanjang hari membunuh Kedorlaomer, yaitu agama dan segala hal negatif lainnya. Kalau pada siang hari kita membunuh musuh-musuh, maka tiap malam kita akan memperoleh jarahan. Saat itu Melkisedek kita akan datang dan berkata, “Oh, engkau sudah menang lagi. Apakah engkau letih? Inilah roti dan anggur, yaitu Allah yang telah melalui proses untuk kau nikmati.” Inilah ministri imam Allah yang Mahatinggi. Ke datangannya bukan untuk mempersembahkan kurban bagi orang dosa yang kasihan, melainkan menyuplaikan Allah kepada pejuang-pejuang yang menang. Pernahkah Anda nampak Imam Besar yang sedemikian sebelumnya? Saya sendiri tidak pernah nampak ketika saya masih berada da-lam agama di masa lampau.
A. Raja Kebenaran
Imam Besar ini berasal dari aturan lain, bukan dari aturan Harun, tetapi dari aturan Melkisedek. Melkisedek seorang raja, dan namanya berarti raja kebenaran. Yesaya 32:1 menunjukkan kepada kita, sebutan raja kebenaran juga mengacu kepada Tuhan Yesus. Kristus adalah Raja Kebenaran, Melkisedek hari ini. Sebagai Raja Kebenaran, Kristus telah membuat segala sesuatu benar dengan Allah, dan benar satu sama lain. Ia telah membuat manusia damai dengan Allah, juga telah menyenangkan Allah bagi manusia. Kebenaran menghasilkan damai sejahtera (Yes. 32:17). Demi kebenaran-Nya, Kristus telah mendatangkan dan menghasilkan buah-buah damai sejahtera.
B. Raja Damai
Melkisedek juga raja Salem, yang berarti raja damai. Hal ini juga menunjukkan bahwa Kristus adalah Raja damai (Yes. 9:5). Sebagai Raja damai dan melalui kebenaran, Kristus telah membawakan damai di antara Allah dengan manusia. Dalam damai Ia dapat melaksanakan ministri imamat-Nya, menyuplaikan Allah kepada kita sebagai kenikmatan kita.
C. Berasal dari Suku Rajani
Baik Harun maupun keturunan-keturunannya tidak ada yang pernah menjadi raja. Mereka hanya imam, bukan berasal dari suku raja, melainkan suku imam. Suku Yehuda barulah suku raja, sedang suku Lewi adalah suku imam. Kristus berasal dari suku Yehuda (7:13-14). Maka kita tidak dapat menjajarkan-Nya dengan Harun, sebab Ia bukan milik suku Harun. Kristus adalah imam yang rajani.
D. Menggabungkan Jabatan Raja dan Keimaman
Kristus adalah Imam Besar, tetapi status-Nya ialah raja. Ketika Ia bertugas sebagai Imam, Ia pun merangkap sebagai Raja. Dia adalah Raja yang menjadi Imam, karena itu, imamat-Nya adalah imamat yang rajani (1 Ptr. 2:9). Bagi pembangunan dan kemuliaan Allah, Ia telah merangkap jabatan raja dan imam di atas diri-Nya sendiri (Za. 6:13). Sebagai raja, Kristus telah memelihara suasana damai melalui kebenaran, dan suasana damai ini sangat diperlukan bagi pembangunan Allah, sebab rumah Allah dibangun dalam suasana damai. Sebagai Imam, Kristus menyuplaikan segala yang diperlukan dalam pembangunan Allah. Demikian, kemuliaan-Nya dinyatakan.
Seorang imam yang hanya mempersembahkan kurban bagi orang dosa yang kasihan, tidak perlu merangkap menjadi raja. Untuk memiliki imam semacam itu, Anda tidak memerlukan raja kebenaran atau raja damai. Namun, bila seorang Imam Besar ingin menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada pejuang yang menang, Ia harus sebagai Raja Kebenaran dan Raja Damai.
Sebelum Melkisedek mendatangi Abraham dan menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepadanya, apakah Anda mengira Allah tidak pernah datang kepada Abraham? Saya sudah mengatakan bahwa Anda perlu meluangkan waktu di malam hari bersama Melkisedek. Tetapi ini tidak berarti sejak pagi hingga petang Allah tidak pernah datang kepada Anda. Kejadian 14:20 mengatakan, “Terpujilah Allah Yang Mahatinggi, yang telah menyerahkan musuhmu ke tanganmu.” Jangan mengira Abraham dapat membunuh Kedorlaomer dan raja-raja lainnya. Ia sendiri tidak mampu melakukan hal itu. Menurut catatan Kejadian 14:22, sebelum Abraham berperang, ia telah mengangkat tangannya kepada Allah Yang Mahatinggi. Ini berarti sebelum ia berperang, ia telah berkontak dengan Allah. Maka bukan Abraham sendiri yang membunuh musuh-musuhnya, melainkan Allah.
Ketika Abraham mengangkat tangannya kepada Allah, situasi saat itu tanpa kebenaran dan damai. Tanpa kebenaran karena Lot beserta seluruh hartanya telah dirampas musuh; tanpa damai karena seteru-seteru masih belum dikalahkan. Tetapi, ketika Abraham berperang, ia beriman kepada Allah. Setelah Abraham membunuh musuh-musuhnya, dan Melkisedek datang menyongsongnya, saat itu barulah ada kebenaran dan damai sejahtera. Siapakah yang mendatangkan kebenaran dan damai? Melkisedek, imam Allah Yang Mahatinggi. Pada saat Abraham membunuh Kedorlaomer dan raja-raja lainnya, pasti ia didoakan oleh Melkisedek. Demi doa syafaatnya itu, maka kebenaran dan damai pun datang.
Percayakah Anda ketika Abraham memerangi musuhnya, Melkisedek sedang tidur? Apakah sampai Abraham kembali dengan kemenangan atas musuh-musuh itu barulah Melkisedek tiba-tiba bangun dan cepat-cepat mengambil roti dan anggur menyuplainya? Saya tidak percaya demikian! Namun saya percaya ketika Abraham berperang, Melkisedek mendoakannya, dan Allah Yang Mahatinggi mengabulkan doa syafaatnya, sehingga musuh-musuh itu diserahkan ke tangannya. Setelah doa syafaat dan menang barulah Melkisedek menampakkan dirinya. Boleh jadi ia berkata, “Abraham, apa kabar! Aku tahu engkau telah menang, sebab aku senantiasa mendoakanmu. Letihkah engkau? Aku bawakan roti dan anggur untukmu!”
Bila Anda membaca lagi Ibrani 7, Anda akan nampak Kristus yang melayani sebagai Imam Besar adalah Dia yang berdoa syafaat. Ketika Anda sepanjang siang hari berperang membunuh hal-hal yang negatif, maka Imam Besar, Kristus, mendoakan Anda. Hal ini jelas sekali disebutkan dalam Ibrani 7:25. Pada petang hari, ketika peperangan Anda usai, dan doa syafaat-Nya juga selesai, Dia datang kepada Anda dengan roti dan anggur untuk menikmatinya bersama Anda. Inilah Imam Besar kita! Ketika pejuang itu sedang berperang, Melkisedek mengawasinya sambil mendoakan. Ia melihat kemenangan Abraham, dan tahu kapan harus datang untuk menyambutnya dengan roti dan anggur. Alkitab tidak perlu memberi tahu kita suatu hal secara keseluruhan, sebab bila Anda telah nampak sisi depannya, dengan otomatis Anda tahu sisi belakangnya. Seperti halnya bila Anda telah nampak wajah saya, dengan sendirinya Anda pun tahu bagian belakang dari kepala saya. Melkisedek yang melayani, sudah pasti sebagai Imam Besar yang mendoakan. Imam Besar yang demikian adalah Kristus kita hari ini.
Imam Besar kita, Kristus, bukan menurut aturan Harun, melainkan menurut aturan Melkisedek. Harun telah berlalu! Sayang sekali banyak orang Kristen masih mempertahankan Harun yang telah ketinggalan zaman itu. Tetapi berapa banyak orang Kristen yang memiliki Melkisedek saat ini? Sangat sedikit! Kita harus diduduki sepenuhnya oleh Melkisedek saat ini. Ia bukan Imam Besar untuk mempersembahkan kurban karena dosa-dosa kita kepada Allah, melainkan untuk menyuplaikan Allah yang telah melalui proses sebagai anugerah di dalam kita. Kini dosa telah berlalu, yang ada hanyalah anugerah. Dosa telah terhapus, dan kenikmatan atas Allah telah datang. Sekarang masalahnya bukan lagi mempersembahkan kurban karena dosa, tetapi menyuplaikan roti dan anggur sebagai kenikmatan kita. Inilah imamat dalam Surat Ibrani.
Hari ini banyak sekali orang Kristen yang masih berhenti pada Harun, namun kita perlu dipulihkan kembali kepada Kejadian 14. Surat Ibrani merupakan kelanjutan dari Kejadian 14. Di antara kedua kitab tersebut, Mazmur 110 adalah jembatannya, yang membawa kita melangkahi Kitab Imamat menuju ke Kitab Ibrani. Kitab Ibrani yang membicarakan tentang Kristus yang surgawi sebagai Imam Besar kita, banyak mengutip Mazmur tersebut.
Sebelum Melkisedek kita menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita, Ia terlebih dulu mendoakan kita agar kita dapat menghunus pedang dan membunuh semua musuh. Kita harus membunuh ego, pikiran alamiah, emosi yang liar, tekad yang keras, dan musuh-musuh lainnya. Ketika kita sedang membunuh musuh-musuh itu, Ia mendoakan kita. Setiap kali kita selesai membunuh musuh, Ia akan mengganti doa syafaat-Nya dengan suplai roti dan anggur. Kehidupan orang Kristen yang tepat ialah membunuh musuh di siang hari dan menikmati roti dan anggur dari Melkisedek di malam harinya. Pada akhir setiap hari, setelah peperangan maupun doa syafaat selesai, itulah saat yang indah di mana Dia dengan kita, kita dengan Dia, bersama-sama menikmati roti dan anggur dalam kebenaran dan damai sejahtera.
Melkisedek adalah raja kebenaran dan raja damai. Begitu ia datang, kebenaran dan damai sejahtera pun datang. Hanya dalam situasi dan kondisi yang benar dan damai sejahtera Melkisedek baru datang menyuplaikan roti dan anggur kepada pejuang yang menang. Demikian pula pada hari ini, kita harus berperang untuk kebenaran, dan kebenaran akan menghasilkan damai sejahtera. Pada akhirnya, keadaan sekitar maupun kondisi kita akan dipenuhi dengan kebenaran dan damai sejahtera, kemudian Melkisedek muncul dan bersukacita bersama kita. Inilah ministri dari Imam Besar kita yang rajani.
II. IMAM BESAR YANG KEKAL
Imam Besar kita yang rajani juga kekal, abadi, tanpa awal dan akhir. Dikatakan dalam Ibrani 7:3 bahwa Melkisedek “tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal, dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya”. Menurut catatan Kejadian 14, Melkisedek muncul secara tiba-tiba, juga menghilang dengan tiba-tiba. Ia seolah-olah tidak datang juga tidak pergi, sebab harinya tidak berawal, hidupnya tidak berkesudahan. Karena Melkisedek kita kekal, ia tidak bersilsilah. Setiap tokoh penting dalam Kitab Kejadian mempunyai silsilah, hanya Melkisedek yang tanpa silsilah. Dalam tulisan yang ilahi, Roh Kudus dengan berdaulat tidak memberikan catatan tentang awal hari Melkisedek atau kesudahan hidupnya, sehingga dia bisa menjadi lambang yang tepat akan Kristus sebagai Yang kekal, menjadi Imam Besar kita sampai selama-lamanya. Ini seperti Anak Allah yang ditampilkan Injil Yohanes, yang kekal, tidak memiliki silsilah (Yoh. 1:1). Tetapi sebagai Anak Manusia, Kristus memiliki silsilah (Mat. 1:1-17; Luk. 3:23-38). Kristus yang demikian adalah Imam Besar rajani, yang menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita dari hari ke hari. Dia langgeng, kekal, abadi, hari-Nya tidak berawal, hidup-Nya tidak berkesudahan. Ia mungkin mendatangi kita pada suatu malam, dan sewaktu kita mengalami-Nya Ia seolah-olah menghilang. Ia selamanya tidak pernah mengatakan kita selamat tinggal kepada kita, kita juga tidak pernah mengatakan sampai jumpa lagi kepada-Nya. Namun ketika kita bangun pada keesokan harinya, kita dapati bahwa Ia tetap menyertai kita. Bagi-Nya tidak ada datang atau pergi, sebab Ia adalah Imam Besar yang kekal.
III. IMAM BESAR YANG AGUNG
A. Menerima Perpuluhan dari Abraham
Kristus, Imam Besar kita itu agung, dan Ia lebih agung daripada Harun dan seluruh imam suku Lewi, bahkan lebih agung daripada Abraham. Hal ini dapat dibuktikan dari fakta bahwa Abraham memberikan seperpuluh dari barang jarahan yang terpilih kepada Melkisedek (7:4, 6; Kej. 14:20). Ketika Abraham memberikan persepuluhan kepada Melkisedek, maka para imam suku Lewi, yang sebagai keturunan Abraham, saat itu berada di dalam diri Abraham, juga turut memberikan persepuluhan itu. Jadi, segenap imam suku Lewi lebih kecil daripada Melkisedek; dan aturan Harun lebih rendah daripada aturan Melkisedek.
B. Memberkati Abraham
Melkisedek memberkati Abraham (7:6). Dikatakan dalam ayat 7, “memang tidak dapat disangkal bahwa yang lebih rendah diberkati oleh yang lebih tinggi.” Inipun menunjukkan keagungan Melkisedek. Ia lebih agung daripada Abraham, maka Ia dapat memberkati Abraham, yakni dengan Allah itu sendiri sebagai berkatnya (Kej. 14:19).
C. Lebih Dahulu daripada Abraham
Kristus, sejak kuno sudah ada, jauh lebih dahulu daripada Abraham. Hal ini terbukti dari Yohanes 8:58, “Kata Yesus kepada mereka, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, sebelum Abraham ada, Aku telah ada’.” Dengan ini kita nampak bahwa Kristus lebih agung daripada Abraham. Sebelum Abraham ada, Ia telah ada. Kristus sejak kuno sudah ada, namun tidak usang atau tua. Sebagai Melkisedek kita, Kristus jauh lebih dahulu dan agung daripada Abraham. Karena itu, Ia lebih agung daripada semua imam yang menurut aturan Harun. Hari ini, Imam Besar kita, Kristus, tidak lagi mempersembahkan kurban karena dosa, tetapi menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada pejuang-pejuang yang menang. Inilah imamat yang rajani dalam Surat Ibrani.