← Daftar isi Ibrani (2) · bab 17/17

HAYAT YANG TIDAK DAPAT RUSAK

Dalam berita ini kita akan membahas masalah hayat yang tidak dapat rusak (Ibr. 7:16 Tl.), yang merupakan esens, unsur, dan penyusun dari imamat ilahi Kristus. Mengatakan imamat Kristus adalah imamat rajani tidaklah terlalu sukar dimengerti, sebab logikanya tidak begitu dalam. Namun mengatakan imamat ilahi Kristus, terbentuk dari hayat, dan hayat adalah unsur, esens, kadar, dan pe-nyusunnya, logikanya sangatlah dalam. Seperti telah kita tunjukkan dalam berita yang lalu, imamat ilahi Kristus adalah tersingkirnya muat. Sebelum kita membahas masalah hayat yang tidak dapat rusak, saya rasa perlu lebih banyak membicarakan perihal imamat ilahi Kristus yang berfungsi menyingkirkan maut.

Kita dapat melihat dalam Alkitab bahwa imamat mempunyai tiga aspek: aspek imamat Harun, aspek imamat rajani, dan aspek imamat ilahi. Fungsi imamat Harun ialah mempersembahkan kurban kepada Allah karena dosa-dosa kita. Maka, imamat Harun terutama berkaitan dengan kurban penghapus dosa. Fungsi imamat rajani adalah menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita sebagai suplai hayat kita. Fungsi imamat ilahi adalah menyelamatkan kita dengan sempurna. Jadi, kita dapat melukiskan ketiga aspek dari imamat tersebut dengan tiga perkataan sebagai berikut: aspek Harun untuk persembahan kurban; aspek rajani untuk penyuplaian; aspek ilahi untuk penyelamatan. Persembahan kurban untuk membereskan masalah dosa; penyuplaian untuk menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita sebagai suplai kita setiap hari; dan penyelamatan untuk menyelamatkan kita dengan sempurna. Penyelamatan dari imamat ilahi khususnya menyelamatkan kita dari maut dan segala keadaan milik maut.

Imamat Harun membereskan masalah dosa, dan imamat rajani menyuplaikan Allah kepada kita, bukan sebagai obyek penyembahan, melainkan sebagai kenikmatan dan suplai kita setiap hari. Hari ini, bila Anda membicarakan Allah kepada banyak orang Kristen, mereka selalu menganggapNya sebagai obyek atau sasaran penyembahan saja. Namun, pada saat ini, kita harus membuang konsepsi seperti itu. Kalau sekarang kita membicarakan Allah, kita harus menyadari bahwa Ia adalah Allah yang telah melalui banyak proses, dan Ia telah menyalurkan diri-Nya kepada kita menjadi suplai kita setiap hari. Maka penyembahan kita yang terbaik kepada Allah ialah menikmati-Nya sebagai suplai kita. Boleh jadi Anda suka bersembah sujud kepada-Nya, namun Ia akan berkata, “Anak-Ku, jangan berbuat demikian. Aku senang menjadi roti dan anggur, agar engkau makan dan minum. Semakin banyak engkau makan dan minum Aku, semakin banyak penyembahanmu kepada-Ku.” Makan dan minum Allah adalah penyembahan yang terindah dan tertinggi. Penyembahan yang paling memuaskan kehendak hati Allah adalah menikmati Dia sebagai suplai kita.

Dalam rencana kekal Allah, maksud tujuan-Nya yang semula memang agar manusia makan dan minum Dia (Kej. 2:9-10). Dalam rencana kekal Allah, Ia ingin menyalurkan diri-Nya ke dalam manusia, menjadi segala sesuatu manusia, sehingga manusia dapat menjadi ekspresi-Nya yang sempurna. Kehendak Allah ini hanya dapat terwujud atau tercapai oleh imamat rajani Kristus, yang menyuplaikan Allah yang telah melalui proses kepada kita, sebagai suplai kita setiap hari. Namun, sebelum hal ini tercapai, dosa telah datang. Maka, masalah dosa harus ditanggulangi lebih dulu. Tetapi penanggulangan masalah dosa bukanlah maksud hati Allah yang semula dalam menggenapkan kehendak-Nya yang kekal; melainkan hanya sebagai tindakan tambahan di kemudian karena masuknya dosa akibat kejatuhan manusia. Karena kejatuhan manusia, dosa masuk merusak rencana kekal Allah, sehingga Ia tidak dapat menyuplaikan diri-Nya kepada manusia sebagai suplai mereka setiap hari. Karena Iblis mendatangkan dosa untuk merusak rencana Allah, maka masalah dosa perlu ditanggulangi. Karena itu, perlu ada imamat Harun, guna membereskan masalah dosa tersebut. Dengan ini kita dapat nampak bahwa imamat Harun bukan merupakan bagian dari kehendak Allah yang semula, tetapi hanya suatu tindakan yang ditambahkan kemudian. Kebanyakan orang Kristen tidak menaruh perhatian atas hal-hal yang sebermula, malah hanya memperhatikan hal-hal yang ditambahkan, mengabaikan imamat rajani, dan mementingkan imamat Harun. Padahal imamat Harun hanya membereskan masalah dosa, sedangkan imamat rajani menggenapkan kehendak kekal Allah. Kalau imamat Harun menghapus dosa, maka imamat rajani mendatangkan Allah sebagai anugerah.

Lalu, mengapa perlu ada imamat aspek ketiga, yaitu imamat ilahi? Walaupun masalah dosa telah berlalu, tetapi dosa masih meninggalkan suatu akibat yang mengerikan, yakni maut. Roma 6 menerangkan kepada kita bahwa upah dosa ialah maut. Janganlah memahami masalah maut dengan pandangan sempit yang terdapat dalam konsepsi manusiawi, yaitu kematian jasmani. Menurut pengertian luas dalam Alkitab tentang maut, maut juga mencakup kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, dan kerusakan. Pada hari ini setiap hal mengalami kerusakan. Mungkin Anda sekarang memiliki tubuh yang sehat dan kuat, namun tidak lama kemudian, sedikit demi sedikit, tubuh Anda mulai rusak. Soal kesia-siaan, kebejatan, perhambaan, keluh kesah, dan kerusakan, semuanya diuraikan sepenuhnya dan dibahas dalam Roma 8. Dalam Roma 5 kita nampak dosa dan maut, sedang dalam Roma 8 kita nampak kesia-siaan, kebejatan, perhambaan, keluh kesah, dan kerusakan. Alam semesta telah dicemarkan oleh maut, yang merupakan akibat dosa yang didatangkan melalui Adam, kepala ciptaan lama itu. Apakah pencemaran yang didatangkan maut, yang menjadi upah atau akibat dari dosa itu? Itulah kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, dan kerusakan. Roma 8:22 mengatakan bahwa segenap makhluk ciptaan mengeluh. Mengapa hari ini manusia di dunia mengadakan banyak macam olahraga dan hiburan? Karena mereka, sama seperti semua makhluk lainnya, berada dalam kesakitan dan berkeluh kesah. Dalam lubuk hati setiap orang selalu ada keluhan. Karena manusia ingin menghindarkan diri dari keluhan-keluhan itu, maka mereka pergi berdansa atau mencari hiburan duniawi lainnya. Padahal semua hiburan itu hanya merupakan obat bius, seperti halnya dengan opium atau madat, yang hanya bisa menghilangkan rasa sakit untuk sementara. Opium atau madat tidak dapat menyembuhkan Anda, ia hanya membius Anda. Dansa-dansi dan macam-macam olahraga serta hiburan-hiburan lainnya hanya seperti obat bius. Ketika orang-orang pulang dari berdansa atau berolahraga, dalam batin mereka tetap berkeluh kesah. Jadi, hanya satu yang mereka rasakan, yakni merasa diri mereka terbius. Bahkan pendidikan atau ilmu pengetahuan juga merupakan obat bius. Walaupun Anda telah beroleh gelar sarjana yang tertinggi, ketika Anda lulus, Anda akan mengatakan, “Untuk apa ijazah ini?” dan mungkin Anda akan membuangnya. Keluh kesah yang demikian sebenarnya berasal dari maut.

Karena ada akibat-akibat maut itu, kita perlu memiliki imamat ilahi, yang mendatangkan hayat dan meniadakan maut. Ada kalanya Anda mengunjungi rumah beberapa orang kudus yang terkasih, Anda melihat di sana hanya ada kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, dan kerusakan. Bila keadaan keluarga Anda seperti itu, itu berarti keluarga Anda kekurangan imamat ilahi. Kalau keluarga Anda penuh dengan imamat ilahi Kristus, tentu keluarga Anda penuh dengan hayat, dan maut akan lenyap. Dengan sendirinya lenyap pula semua kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, dan kerusakan. Berlawanan dengan konsepsi kebanyakan orang Kristen, Ibrani 7:25 tidak berarti Kristus akan menyelamatkan kita dari hal-hal seperti berjudi, melainkan berarti Ia akan menyelamatkan kita dari segala kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, dan kerusakan kita. Oh, kita perlu diselamatkan dengan sempurna! Ketika Anda masuk ke dalam rumah saya, seharusnya ada puji-pujian, realitas, pembangunan, dan pertumbuhan, bukan kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, dan kerusakan. Jadi, diselamatkan dengan sempurna berarti diselamatkan dari akibat-akibat maut tersebut. Ini bukan penyelamatan dari Juruselamat, melainkan penyelamatan dari imamat yang ilahi.

Diselamatkan dengan sempurna berarti diselamatkan sepenuhnya atau sampai puncaknya. Kristus menyelamatkan kita ke dalam kesempurnaan macam apa? Ke dalam kesempurnaan-Nya. Diselamatkan dengan sempurna berarti dibawa ke dalam kesempurnaan Kristus. Anak Allah yang ilahi berinkarnasi, hidup di bumi, melewati mati dan bangkit, telah disempurnakan sepenuhnya. Dalam kesempurnaan-Nya ini tidak ada keluh-kesah, kesia-siaan, kebejatan, perhambaan, dan kerusakan. Di dalam Kristus, Anak Allah yang disempurnakan, yang telah bangkit dan ditinggikan, tidak ada keluh kesah. Di dalam-Nya sedikit pun tidak terkandung hal-hal yang berasal dari maut. Kesia-siaan, keluh kesah, kerusakan, perhambaan, dan kebejatan merupakan produk sampingan maut. Kristus telah bebas mutlak dari segalanya itu. Sebagai persona yang sempurna, Kristus sanggup menyelamatkan kita dari segala produk sampingan maut, dan membawa kita ke dalam kesempurnaan-Nya. Dalam kesempurnaan-Nya yang ajaib ini, tidak ada kesia-siaan, kebejatan, keluh kesah, perhambaan, kerusakan. Inilah artinya diselamatkan dengan sempurna dan diselamatkan sampai puncaknya. Inilah penyelamatan imamat ilahi Kristus.

Ketika berada di bumi, Kristus telah menanggulangi masalah dosa dan maut. Seperti telah kita bahas dalam berita ketiga puluh satu, pekerjaan Kristus yang dilambangkan oleh imamat Harun hanya berada di lantai pertama, namun ministri imamat rajani-Nya berada di lantai kedua. Sekarang kita berada di lantai kedua dan menikmati imamat rajani-Nya. Imamat rajani bukan berfungsi untuk menanggulangi masalah dosa. Dosa telah berlalu, tidak perlu lagi mempersembahkan kurban karena dosa. Itulah maknanya “tidak ada lagi kurban untuk menghapus dosa” dalam Ibrani 10:26. Kini, di lantai kedua, kita menikmati imamat rajani Kristus yang menyuplaikan Allah sebagai kenikmatan kita, untuk suplai kita dari hari ke hari.

Ketika kita demikian menikmati imamat rajani-Nya, kita pun mengambil bagian dalam imamat ilahi-Nya, sehingga kita dapat menyingkirkan bahkan menelan semua produk sampingan maut. Semakin kita menikmati Allah yang telah melalui proses itu, kita semakin beroleh bagian dalam imamat ilahi Kristus, yang dapat meniadakan, menyingkirkan, dan menelan setiap produk sampingan maut, seperti kesia-siaan, kebejatan, perhambaan, keluh kesah, dan kerusakan. Dari hari ke hari, akan terjadi pengikisan dan penelanan atas kesia-siaan dan keluh kesah itu dalam batin kita. Semakin kita mengambil bagian dalam imamat ilahi Kristus, semakin berkuranglah keluh kesah; semakin banyak kita menikmati imamat ilahi-Nya, keresahan semakin lenyap. Pada akhirnya kita tidak akan mengeluh lagi, melainkan bersorak-sorai. Ada kelompok kekristenan tertentu yang berciri-ciri selalu berkeluh kesah; kecuali keluh kesah tidak ada yang lain dalam sidang mereka itu. Ketika kita masuk ke dalam hidup gereja, dan mulai mengucapkan, “Amin”; mereka lalu berkata kepada kita, “Jangan berkata amin begitu keras atau berteriak haleluya. Harus beraturan dan tertib.” Mereka yang dalam sidang selalu berkeluh kesah sebenarnya tidak berada di lantai pertama, melainkan di bawah tanah. Kalau kita bersorak-sorai dalam sidang kita, itu berarti kita sudah ditinggikan ke lantai kedua. Semakin kita menikmati imamat ilahi Kristus, semakin berkuranglah keluh kesah, dan semakin banyaklah sorak-sorai.

Kebanyakan orang Kristen hanya memiliki imamat Harun. Dalam penginjilan mereka juga hanya berhenti pada imamat Harun. Terpujilah Tuhan, hari ini tingkat kita telah ditinggikan kepada imamat rajani dan imamat ilahi. Imamat ilahi terbentuk dari hayat yang tidak dapat binasa. Karena itu, imamat ilahi sanggup menyelamatkan kita dengan sempurna dari produk sampingan maut, bahkan memasuki kesempurnaan Kristus sendiri.

Berdasarkan Roma 8, langkah terakhir dari pekerjaan Allah atas diri kita ialah memuliakan kita. Apa artinya memuliakan? Yaitu dijenuhi sepenuhnya dengan imamat ilahi. Bila kita dijenuhi sepenuhnya dengan imamat ilahi, itulah artinya dimuliakan. Dimuliakan juga berarti dibebaskan dari kesia-siaan, kebejatan, perhambaan, keluh kesah dan kerusakan. Inilah makna sejati dimuliakan dalam Roma 8, yaitu hak keputraaan yang sempurna, penebusan tubuh kita. Penebusan tubuh berarti dibebaskan dari kesia-siaan, kebejatan, dan kerusakan, serta memasuki suatu alam lain, di mana kita akan dipenuhi dengan imamat ilahi secara menyeluruh. Inilah arti dimuliakan. Imamat Harun tercantum dalam Roma 3 dan 4, imamat rajani tercantum dalam Roma 6 dan 8 bagian depan, sedangkan imamat ilahi tercantum dalam bagian tengah dan akhir pasal 8. Ibrani 7 tidak berhubungan dengan Roma 3 atau 4, tetapi lebih berhubungan dengan Roma 6 dan bagian depan Roma 8; akhir nya ia berhubungan sepenuhnya dengan bagian tengah dan akhir Roma 8 yang membahas masalah dimuliakan, dan diselamatkan dari kesia-siaan, kebejatan, perhambaan, dan kerusakan, serta memasuki kemerdekaan kemuliaan.

Sekarang kita sedang dalam perjalanan menuju kesempurnaan, yakni dalam proses penyempurnaan. Sebagai Perintis, Kristus telah masuk ke dalam kesempurnaan itu, Ia pun akan membawa kita memasukinya. Kita pasti diselamatkan dengan sempurna. Diselamatkan dengan sempurna berarti dibawa ke dalam kesempurnaan Kristus yang penuh lengkap, tanpa kesia-siaan, perhambaan, kesakitan, kerusakan, dan keluh kesah. Keselamatan yang demikian adalah ministri imamat ilahi Kristus. Ketika kita membaca Ibrani 8, kita akan nampak bahwa inilah ministri yang lebih indah yang dibicarakan di sana. Ministri yang lebih indah adalah ministri imamat rajani dan ilahi.

Imamat rajani adalah untuk pembangunan Allah. Zakharia 6:12-13 menerangkan bahwa Kristus menjadi Imam rajani; di samping menjadi Raja, Ia pun menjadi imam dengan tujuan untuk membangun Bait Allah. Karena itu, tujuan imamat rajani adalah untuk membangun gereja, sebab imamat rajanilah yang memelihara keadaan dalam kebenaran dan kedamaian. Keadaan yang demikian kebenaran dan kedamaian memungkinkan kelangsungan pembangunan Allah. Sementara ministri imamat rajani ini berlangsung, tersusunlah imamat ilahi dari unsur hayat yang tidak dapat rusak, untuk mengikis semua produk sampingan maut. Kini kita harus melihat apa sebenarnya hayat yang tidak dapat rusak, yang menjadi unsur imamat ilahi itu.

I. HAYAT ALLAH

Pertama, hayat yang tidak dapat rusak ini adalah hayat Allah sendiri. Istilah “hayat Allah” dalam seluruh Alkitab hanya terdapat sekali, yaitu dalam Efesus 4:18, “Dan pengertiannya yang gelap, terpisah dari hayat Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kekerasan hati mereka” (Tl.). Orang yang tidak beriman terpisah dari hayat Allah, tetapi kita bersatu dengan hayat Allah, karena Allah telah menghubungkan hayat-Nya dengan kita. Kesatuan semacam ini sama seperti satu anggota tubuh bersatu atau berhubungan dengan anggota lainnya. Sebagai contoh, tangan saya ini bersatu dengan lengan saya, hal ini tidak hanya pada posisinya, tetapi juga pada hayatnya. Karena hayat Allah telah bersatu dengan kita sedemikian rupa, maka kita tidak mungkin terpisah lagi dengan hayat-Nya. Satu Korintus 6:17 mengatakan, “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.” Hayat Allah dapat bersatu dengan kita, ini bukan satu hal yang kecil. Saya yakin pada masa-masa mendatang Tuhan akan lebih banyak mengembangkan hal ini dalam hidup gereja. Kita harus melupakan semua ajaran manusia yang mengajar kita untuk menjadi orang yang beretika dan berkelakuan baik. Kita harus memusatkan perhatian kita sepenuhnya pada kebutuhan kita yang riil, yakni hayat Allah.

Hayat ini adalah hayat ilahi. Bila saya bertanya kepada Anda, “Anda manusia atau Allah?” Jawaban yang terbaik adalah, “Memang benar, aku adalah manusia, namun aku adalah seorang manusia yang mempunyai hayat Allah.” Kita boleh membuat satu deklarasi kepada segenap malaikat, “Hai, malaikat, tidak tahukah kalian bahwa aku memiliki hayat Allah? Kalian tidak memiliki hayat Allah, namun aku memiliki! Ya, aku memiliki hayat Pencipta kalian!” Kita memiliki hayat ilahi!

Tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada hayat. Dalam alam semesta, hayatlah yang paling indah. Andaikata Anda menyingkirkan hayat dari bumi ini, niscayalah bumi ini akan menjadi kersang. Keelokan, kenyamanan, dan keindahan bumi ini berasal dari hayat. Kalau tidak ada hayat, bumi akan tidak berarti sama sekali. Hari ini kita memiliki hayat tertinggi bukan hayat nabati, bukan hayat hewani, bukan hayat malaikat, bahkan bukan hayat insani, melainkan hayat ilahi! Bila kita nampak hal ini, kita akan lupa diri karena penuh sukacita dan pujian.

II. HAYAT YANG KEKAL

Hayat yang tidak dapat rusak ini adalah hayat yang kekal (Yoh. 3:16). Hayat yang kekal ialah hayat yang super, tanpa awal dan akhir, juga tidak terbatas oleh waktu maupun ruang. Hayat yang kekal terlampau tinggi sehingga tidak dapat dilukiskan, dan melampaui pengertian kita. Imamat ilahi Kristus terbentuk dari hayat yang sedemikian ini.

III. BUKAN HAYAT CIPTAAN

Hayat yang tidak dapat rusak ini juga bukan hayat ciptaan (Yoh. 1:4). Setiap hayat, mulai dari hayat malaikat hingga hayat nabati adalah hayat ciptaan. Hanya hayat yang tidak dapat binasa inilah bukan hayat ciptaan. Walaupun hayat ini bukan hayat ciptaan, namun hayat ini dapat menciptakan sesuatu. Hayat ini senantiasa menciptakan sesuatu yang positif dalam hidup gereja (church life), kehidupan keluarga, dan kehidupan kristiani kita. Dari hari ke hari, kita dapat menikmati hayat yang bisa menciptakan tetapi bukan hayat ciptaan ini sebagai hayat kita.

IV. HAYAT YANG ADALAH KRISTUS SENDIRI

Hayat yang tidak dapat rusak ini adalah Kristus itu sendiri (Yoh. 14:6a; Yoh. 5:12; Kol. 3:4a). Segala sesuatu yang di luar Kristus (Kristus adalah Allah) bukanlah hayat yang tidak dapat rusak. Hayat ini tidak saja memiliki fungsi dan kemampuan, bahkan merupakan satu persona yang ajaib. Kita perlu mengalami hayat ini setiap hari.

V. HAYAT YANG TELAH TERUJI

DALAM HIDUP INSANI KRISTUS

Hayat yang tidak dapat rusak ini pernah mengalami ujian dalam hidup insani Kristus (Yoh. 18:38; 19:4, 6). Hayat ini telah mengalami ujian dalam hidup Kristus di bumi selama tiga puluh tiga setengah tahun. Pada akhir hidup Tuhan di bumi, Pilatus, gubernur Kekaisaran Romawi, menguji-Nya tiga kali. Tetapi setiap ujian itu berakhir, Pilatus selalu menyatakan, “Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada-Nya.” Dapatkah Anda menemukan seseorang yang mengenai dirinya Anda berani berkata demi hati nurani Anda bahwa ia tidak berdosa? Walaupun istri saya sangat mengasihi saya, ia tetap harus mengakui bahwa ia nampak kesalahan pada diri saya. Saya yakin setiap istri tentu bisa menemukan kesalahan pada diri suaminya. Walau di antara kita tidak ada seorang pun yang tahan uji, namun Tuhan Yesus telah melewati setiap ujian. Hari ini, hayat yang kita peroleh adalah hayat yang telah melewati segala ujian. Hayat ini adalah hayat yang sempurna.

VI. HAYAT YANG TELAH MELEWATI MAUT

Hayat yang tidak dapat binasa ini juga telah melewati maut (Why. 1:18). Maut sangat kuat. Bila maut datang, tidak ada seorang pun sanggup menentangnya. Dalam alam semesta ini hanya ada satu yang lebih kuat daripada maut, yakni hayat ilahi. Hayat yang lebih kuat daripada maut ini bukan hayat dalam bayang-bayang, melainkan hayat dalam realitas, yakni hayat yang sejati. Mana yang lebih kuat gelap atau terang? Terang lebih kuat daripada kegelapan; di mana terang berpancar, kegelapan akan takluk. Mana yang lebih kuat, hayat atau maut? Puji Tuhan, hayat lebih kuat daripada maut, sebab hayat dapat melewati maut. Hayat ini tidak saja dapat melewati maut, bahkan maut itu dilaluinya laksana seorang turis yang berkeliling sambil melihat-lihat pemandangan. Setelah Tuhan Yesus mati di atas salib, Ia lalu mengadakan tur di alam maut. Sesudah berkunjung ke alam maut, Ia kemudian dengan santai keluar dari dalamnya. Maut tidak dapat berbuat apa-apa terhadap-Nya. Hendaknya ini bukan sekadar suatu pengertian yang doktrinal bagi kita. Kita harus nampak bahwa hayat yang telah melewati maut ini hari ini telah kita miliki; sekarang ini juga ada di dalam kita.

VII. HAYAT YANG TIDAK MUNGKIN

TERTAWAN OLEH MAUT

Hayat yang tidak dapat rusak ini adalah hayat yang tidak mungkin tertawan atau dikuasai oleh maut (Kis. 2:24). Ketika Kristus mengadakan wisata ke alam maut, maut mengerahkan segenap kekuatannya untuk menawan-Nya, namun sama sekali tidak berhasil. Walaupun maut mencoba dengan sekuat tenaganya menahan Kristus, tetap tidak berdaya, sebab hayat lebih kuat daripada maut.

Hari ini di dalam kita secara bersamaan ada hayat dan ada maut. Sewaktu Anda marah, atau merasa tidak senang kepada saudara atau saudari, itulah maut. Ketika Anda bersidang, tidak dapat memuji, tidak dapat berdoa, atau tidak dapat menunaikan fungsi, itu adalah maut. Hayat tidak pernah berkata, “Aku tidak bisa.” Istilah “tidak bisa” tidak terdapat dalam kamus hayat. Hayat senantiasa berkata, “Aku bisa, aku bisa segalanya: aku dapat berfungsi, aku dapat berdoa, aku dapat bersorak-sorai, aku dapat mengatakan amin, dan aku dapat memuji-muji Tuhan.” Bila Anda mengatakan “Aku bisa,” itulah hayat. Bila Anda berkata, “Aku tidak bisa,” itulah maut. Mulai sekarang, dalam hidup gereja, kita harus menghindarkan perkataan “aku tidak bisa”. Misalnya, Anda diminta berbicara sedikit dalam sidang, Anda harus menjawab, “Haleluya, aku bisa. Tidak ada masalah.” Bila ada saudara atau saudari mengatakan, “Aku tidak bisa,” kita semua harus mengingatkannya bahwa itu adalah maut. Maut berkata, “Aku tidak bisa,” tetapi hayat berkata, “Aku bisa.” Tidak ada hal yang mustahil bagi hayat. Hayat sanggup melakukan segala sesuatu. Hayat sanggup membuat saudara saudari dalam gereja lokal saling mengasihi, yakni saling mengasihi dengan sempurna. Dalam Yesaya 6:8 Allah berfirman, “Siapakah yang akan Ku utus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?”, lalu Nabi Yesaya menjawab, “Ini aku, utuslah aku.” Ketika kita mendengar Tuhan memanggil, “Siapakah yang akan Kuutus?” Janganlah kita menjawab, “Tuhan, janganlah mencari aku.” Namun kita harus menjawab, “Ya, Tuhan, ini aku, utuslah aku.” Jika setiap gereja lokal berada dalam hayat, hidup gereja akan lebih tinggi daripada langit. Saya mengharapkan agar setiap gereja tidak lama kemudian akan menjadi serupa itu, yaitu berada di dalam hayat.

VIII. HAYAT KEBANGKITAN

Hayat yang tidak dapat rusak adalah hayat kebangkitan (Yoh. 11:25). Apakah perbedaan antara hayat dengan hayat kebangkitan? Kalau hayat saja, belum tentu telah melewati ujian maut, belum keluar dari maut. Hayat kebangkitan adalah hayat yang telah melewati ujian maut, telah keluar dari maut, telah membuktikan bahwa maut tidak berdaya terhadapnya. Hayat yang kita peroleh hari ini ialah hayat kebangkitan, yang telah melewati maut dan membuktikan bahwa maut tidak berdaya menawannya.

IX. HAYAT YANG JUGA MILIK ROH ITU

Hayat yang tidak dapat rusak, ini juga adalah milik Roh itu (Rm. 8:2). Roma 8:2 mengatakan tentang Roh hayat. Di mana ada hayat, di situ ada Roh, sebab Roh adalah perwujudan, realitas, dan pelaksanaan hayat ini di aspek esens-nya. Anda mempunyai hayat, Anda mempunyai Roh; Anda memiliki Roh, Anda pun memiliki hayat. Hayat dengan Roh selamanya tidak dapat dipisahkan.

X. HAYAT KRISTUS YANG

DAPAT MENYELAMATKAN

Hayat yang tidak dapat rusak adalah hayat Kristus yang dapat menyelamatkan (Rm. 5:10). Sebagai hayat yang menyelamatkan, hayat ini dapat menyelamatkan dengan sempurna. Roma 5:10 mengatakan bahwa kita telah diperdamaikan melalui kematian Kristus dan akan diselamatkan oleh hayat Kristus yang dapat menyelamatkan.

XI. HAYAT YANG BERKUASA

Hayat ini juga merupakan hayat yang berkuasa atau meraja (Rm. 5:17). Kita tidak saja diselamatkan di dalam hayat ini, kita juga akan meraja di dalamnya. Kita telah memperoleh hayat yang menobatkan kita ke atas takhta sebagai raja. Inilah hayat yang berkuasa.

XII. HAYAT DARI POHON HAYAT ITU

Hayat ini juga adalah hayat dari pohon hayat (kehidupan) itu (Kej. 2:9; Why. 2:7; 22:2, 14). Pohon hayat ialah hayat yang pertama, sebab pada permulaan Alkitab terdapat pohon hayat. Pohon hayat juga akan menjadi hayat dalam kekekalan. Dalam Kejadian 2 kita nampak hayat yang ada pada mulanya, sedang dalam Wahyu 22 kita nampak hayat yang tetap ada dalam kekekalan. Hayat kekal yang tanpa awal dan akhir ini ialah hayat dari pohon hayat itu.

XIII. HAYAT YANG TIDAK DAPAT BINASA

Hayat ini juga merupakan hayat yang tidak dapat binasa (2Tim. 1:10). Di mana ada hayat, tidak ada kebinasaan. Kebinasaan atau kerusakan adalah salah satu produk sampingan maut. Namun, imamat ilahi, yang terbentuk dari hayat tidak dapat rusak ini, memusnahkan semua kebinasaan.

XIV. HAYAT YANG TIDAK DAPAT

DILENYAPKAN TIDAK DAPAT RUSAK

Hayat yang tidak dapat rusak ini tidak dapat dilenyapkan (Ibr. 7:16). Hayat ini selamanya tidak dapat dilenyapkan. Ada benda kimia tertentu yang larut jika dimasukkan ke dalam cairan tertentu. Namun, tidak ada sesuatu pun dapat melarutkan hayat ini. Hayat ini tidak akan berubah selama-lamanya. Inilah hayat yang kita miliki hari ini, dan yang boleh kita nikmati setiap hari. Hayat ini disebut hayat yang tidak dapat rusak, karena tidak ada apa pun yang mampu melarutkan atau merusaknya. Ia akan tetap utuh walau dibakar dengan api atau direndam dalam air. Semakin Anda berusaha membunuhnya, ia akan semakin hidup. Jika Anda menyekapnya dalam kubur, kubur akan dipecahkannya; Anda meletakkannya dalam alam maut, alam maut pun tidak berdaya menahannya. Karena kita telah memiliki hayat yang demikian ajaib di dalam kita, kita seharusnya berhenti mengeluh, dan tidak memandang kelemahan kita lagi. Yang kita terima adalah hayat yang tidak dapat rusak, maka tidak ada apa pun yang berdaya menghadapinya, baik di surga, di bumi, bahkan di neraka sekalipun. Hayat inilah yang menyusun imamat ilahi Kristus. Sungguh suatu hayat yang ajaib sekali! Inilah sebabnya imamat ilahi mampu menyelamatkan kita dengan sempurna, yaitu menyelamatkan kita dari setiap produk sampingan maut, bahkan akan membawa kita masuk ke dalam kesempurnaan Kristus yang penuh lengkap, yakni kemuliaan.

?