PERTOBATAN SAULUS (1)
Pembacaan Alkitab: Kis. 9:1-19
Dalam berita ini kita akan mulai membahas pertobatan Saulus.
KELAYAKAN TIGA GANDA SAULUS
Kisah Para Rasul 9:1 mengatakan, ”Sementara itu hati Saulus masih berkobar-kobar untuk mengancam dan membunuh murid-murid Tuhan. Ia menghadap Imam Besar.” Saulus menyetujui pembunuhan Stefanus (8:1), dan orang-orang yang melempari Stefanus dengan batu meletakkan pakaian mereka pada kaki Saulus (7:58). Saulus, seorang penganiaya, adalah seorang muda dengan pendirian yang sangat kuat.
Saulus lahir di Tarsus, sebuah kota berbudaya tinggi, dan menerima pendidikan Yunaninya di universitas di sana. Dalam 22:3 ia mengatakan bahwa ia ”dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel dalam hukum nenek moyang kita.” Ini menunjukkan bahwa ia menerima pendidikan agamanya dari Gamaliel, seorang guru besar. Tidak diragukan lagi, Saulus adalah seorang sarjana bahasa Yunani dan Ibrani, dan ia terlatih dalam kebudayaan Yunani dan dalam agama Ibrani. Selain itu, ia adalah seorang warga negara Roma. Pada diri Saulus kita melihat tiga unsur utama dari kebudayaan Barat: agama Ibrani, kebudayaan Yunani, dan politik Roma. Saulus diajar menurut agama Ibrani, ia terlatih dalam kebudayaan Yunani, dan ia adalah seorang warga negara dari Kekaisaran Romawi. Orang tua atau nenek moyangnya mungkin telah menjadi warga negara Roma, dan Saulus sendiri terlahir sebagai seorang Roma (22:25-28). Karena itu, Saulus memiliki tiga ganda kelayakan kebudayaan Yunani, agama Ibrani, dan politik Roma.
Tuhan itu berdaulat dan mengenal segala sesuatu. Stefanus kelihatannya lebih terpelajar daripada Petrus dan Yohanes, para nelayan Galilea yang tidak terpelajar. Tetapi Stefanus tidak secakap Saulus dalam tiga unsur kebudayaan Barat. Dalam Filipi 3:5, Saulus menggambarkan dirinya sendiri sebagai ”seorang Ibrani asli”, karena ia lahir sebagai seorang Ibrani dan sangat terdidik dalam agama Ibrani. Tidak ada lagi yang selayak Saulus untuk mengemban amanat membawa ekonomi Perjanjian Baru Allah kepada dunia Kafir.
MEMBINASAKAN GEREJA
Sebelum Tuhan mendapatkan Saulus, Saulus didapat-kan oleh Iblis. Iblis pasti tahu bahwa Saulus adalah orang yang penting. Iblis bukan hanya mendapatkan Saulus; ia juga menghasut Saulus untuk mengambil pimpinan dalam menganiaya para pengikut Yesus. Ketika para penganiaya itu melempari Stefanus, Saulus menjaga pakaian mereka. Setelah kematian Stefanus, ”Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara” (8:3). Sangatlah bermakna bahwa Lukas sengaja memakai kata ”membinasakan” untuk menunjukkan bahwa Saulus ingin menghancurkan, memusnahkan, seluruh gereja dan semua pengikut Yesus.
Saulus masih tidak puas dengan menganiaya kaum beriman di Yerusalem. Ia pergi kepada Imam Besar dan, ”meminta surat kuasa untuk dibawa kepada rumah-rumah ibadat Yahudi di Damsyik, supaya, jika ia menemukan laki-laki atau perempuan yang mengikuti Jalan Tuhan, ia dapat menangkap mereka dan membawa mereka ke Yerusalem” (9:2). Menurut 9:14, Saulus memiliki kuasa untuk menangkap semua orang yang berseru kepada nama Tuhan Yesus. Saulus ingin pergi ke Damsyik karena ada sejumlah orang kudus yang tersebar di sana. Ia pergi ke sana untuk me-nangkap semua orang yang berseru kepada nama Tuhan.
MENGANIAYA ORANG-ORANG YANG
MENGIKUTI JALAN ITU
Kisah Para Rasul 9:2 mengatakan bahwa Saulus bermaksud mencari orang-orang ”yang mengikuti Jalan Tuhan” dan ”membawa mereka ke Yerusalem.” Di sini Jalan Tuhan menunjukkan keselamatan Tuhan yang sempurna dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah. Ini adalah jalan Allah menyalurkan diri-Nya ke dalam kaum beriman melalui penebusan Kristus dan pengurapan Roh itu; ini adalah jalan kaum beriman berbagian akan Allah dan menikmati Allah; ini adalah jalan kaum beriman menyembah Allah di dalam roh mereka melalui menikmati Dia, dan mengikuti Yesus yang dianiaya melalui bersatu dengan-Nya; dan ini adalah jalan kaum beriman dibawa ke dalam gereja dan dibangun menjadi Tubuh Kristus untuk memikul kesaksian Yesus.
Jalan dalam 9:2 itu mencakup jalan kebenaran, dan jalan yang benar yang dibicarakan di dalam 2 Petrus 2:2, 15, dan 21. Jalan kebenaran adalah jalan kehidupan Kristen menurut kebenaran, yang adalah realitas isi Perjanjian Baru (1 Tim. 2:4; 3:15; 4:3; 2 Tim. 2:15, 18; Tit. 1:1). Jalan ini memiliki sebutan-sebutan lain sesuai dengan berbagai ke-bajikannya, seperti jalan yang lurus, jalan kebenaran, jalan damai sejahtera (Luk. 1:79; Rm. 3:17), jalan keselamatan (Kis. 16:17), jalan Allah (Mat. 22:16; Kis. 18:26), jalan Tuhan (Yoh. 1:23; Kis. 18:25, 19:9, 23; 22:4; 24:22). Jalan ini difitnah sebagai jalan sekte (Kis. 24:14).
DIJUMPAI OLEH TUHAN
Saulus mungkin sangat senang sewaktu ia berada dalam perjalanannya ke Damsyik. Ia mungkin gembira dan bahkan mungkin berada dalam kegembiraan yang meluap-luap. Saulus mungkin berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku telah mendapatkan kuasa dari Imam Besar untuk membelenggu semua orang yang berseru kepada nama Yesus. Aku akan pergi ke Damsyik untuk menangkap semua orang yang berseru kepada nama ini, membawa mereka ke Yerusalem, dan menjebloskan mereka ke dalam penjara.”
Cahaya Surgawi dan Suara Surgawi
Tuhan Yesus mengamati Saulus sewaktu ia berjalan ke Damsyik. Tuhan tidak menampakkan diri kepada Saulus dengan segera, melainkan menunggu sampai, ”ia sudah dekat kota itu” (9:3). Kemudian, ”tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mende-ngar suara yang berkata kepadanya: Saulus, Saulus, mengapa Engkau menganiaya Aku?” (9:3b-4). Saulus pasti kaget dengan cahaya dari langit itu dan dengan suara yang memang-gil namanya. Saulus mengira bahwa ia sedang menganiaya para pengikut Yesus. Sekarang ada satu suara dari langit memberitahunya bahwa ia sedang menganiaya Dia yang ada di surga. Suatu kejutan yang besar bagi Saulus, bahwa ia mengalami cahaya surgawi, suara surgawi, dan Dia yang surgawi. Secara spontan Saulus berkata, ”Siapa Engkau, Tuhan? Kata-Nya: Akulah Yesus yang kauaniaya itu” (ay. 5, Tl.). Saulus memanggil Dia ”Tuhan”, walaupun tidak mengenal Dia.
Saulus mungkin berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku tidak pernah menganiaya Yesus. Tetapi aku menganiaya Stefanus dan para pengikut Yesus lainnya. Aku mengira bahwa Yesus ada di dalam kuburan, tetapi sekarang Dia datang kepadaku dari langit.”
”Aku” yang Korporat
Menurut 9:4, Tuhan Yesus bertanya kepada Saulus, ”Mengapa engkau menganiaya Aku?” “Aku” di sini adalah Aku yang korporat, yang terdiri atas Tuhan Yesus dan semua orang beriman-Nya. Saulus tidak memiliki wahyu ini. Dia mengira bahwa dirinya sedang menganiaya Stefanus dan para pengikut Yesus lainnya, yang ada di atas jalan itu, yang dianggapnya sebagai bidah (24:14). Dia tidak sadar bahwa ketika dia menganiaya orang-orang ini, dia sebenarnya menganiaya Yesus, karena oleh iman dalam Yesus mereka bersatu dengan Dia. Saulus mengira bahwa dia sedang menganiaya orang-orang di bumi, tidak pernah mengira bahwa dia menjamah Seseorang di surga. Satu kejutan besar bagi Saulus, ketika ada suara dari surga yang memberitahunya bahwa Dialah yang sedang dianiaya Saulus, dan nama-Nya adalah Yesus. Bagi Saulus, ini adalah satu wahyu unik dalam alam semesta! Dengan ini, dia mulai nampak bahwa Tuhan Yesus dan orang-orang beriman-Nya adalah satu persona yang besar ”Aku” yang ajaib. Ini pasti telah memberi kesan yang dalam dan mempengaruhi dia untuk ministrinya kelak tentang Kristus dan gereja sebagai rahasia Allah yang besar (Ef. 5:32). Ini juga meletakkan satu dasar yang kokoh bagi ministrinya yang unik.
Mendengar Injil dan Diselamatkan oleh Tuhan Secara Langsung
Lukas tidak memberikan rincian-rincian yang ber-hubungan dengan pertobatan Saulus kepada kita. Meskipun demikian, kita dapat melihat bahwa Tuhan Yesus memberitakan satu Injil yang lengkap kepada Saulus. Saulus benar-benar telah mendengar Injil. Beberapa orang mungkin heran bagaimana kita dapat mengatakan hal ini. Mereka mungkin menunjukkan bahwa suara dari surga itu tidak mengatakan sesuatu tentang ketersaliban, darah yang menebus, ataupun kebangkitan. Tetapi kita perlu sadar bahwa nama Yesus adalah satu Injil yang lengkap. Saulus adalah seorang dosa, seorang penentang, tetapi ia pasti tahu makna dari nama ini, karena ia mengenal bahasa Ibrani dan bahasa Yunani. Ia pasti tahu bahwa Yesus berarti Yehova Juruselamat. Apakah ini bukan Injil? Tidakkah kita mendengar Injil ketika kita mendengar tentang Yesus? Siapakah Yehova, Sang Juruselamat itu? Paulus tentu tahu makna dari nama Yesus ini.
Dalam 9:6 Tuhan Yesus berkata kepada Saulus, ”Bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat.” Tuhan tidak mau langsung memberi tahu Saulus apa yang harus ia perbuat segera setelah pertobatannya, ini dikarenakan Tuhan perlu satu anggota Tubuh-Nya untuk membawa dia ke dalam kesatuan dengan Tubuh. Saulus diselamatkan dan berpaling kepada Tuhan langsung melalui Tuhan dan bukan secara tidak langsung melalui saluran mana pun. Jika Tuhan tidak mengutus seorang anggota Tubuh-Nya untuk berkontak dengannya, akan sangat sulit bagi anggota Tubuh mana pun untuk menerima Saulus (lihat 9:26).
Tuhan Menanggulangi Saulus
Ayat 8 mengatakan, ”Saulus bangkit berdiri, lalu mem-buka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa; mereka harus menuntun dia masuk ke Damsyik.” Ini adalah penanggulangan Tuhan terhadap Saulus. Dulu, Saulus mengira dirinya sendiri berpengetahuan hebat, mengetahui segala perkara tentang manusia dan Allah. Sekarang Tuhan membuatnya buta, tidak dapat melihat apa-apa sampai Tuhan membuka matanya (khususnya membuka mata batiniah-nya), dan memberinya amanat untuk membuka mata orang lain (26:18).
DITEGUHKAN MELALUI ANANIAS
Disatukan dengan Tubuh Kristus
Dalam 9:10-19 kita melihat bahwa pertobatan Saulus diteguhkan melalui Ananias. Ayat 10-11 mengatakan, ”Di Damsyik ada seorang murid Tuhan bernama Ananias. Tuhan berfirman kepadanya dalam suatu penglihatan: Ananias! Jawabnya: Ini aku Tuhan! Firman Tuhan: Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa.” Tuhan mengutus Ananias, salah satu anggota Tubuh-Nya, untuk pergi kepada Saulus, membawa Saulus masuk ke dalam kesatuan Tubuh Kristus. Ini pasti juga telah memberi kesan yang dalam kepada Saulus tentang pentingnya Tubuh Kristus, membantu dia menyadari bahwa orang beriman yang beroleh selamat memerlukan anggota-anggota Tubuh Kristus.
Satu Bejana Pilihan
Dalam 9:12 Tuhan memberi tahu Ananias bahwa Saulus, ”dalam suatu penglihatan ia melihat bahwa seorang yang bernama Ananias masuk ke dalam dan menumpangkan tangannya ke atasnya, supaya ia dapat melihat lagi.” Saulus yang buta menerima penglihatannya kembali berarti dia mendapatkan keselamatan yang sempurna. Hal ini sangat penting bagi Saulus, khususnya supaya mata batiniahnya tercelik sehingga nampak perkara-perkara Allah tentang rahasia-rahasia-Nya dan ekonomi-Nya.
Dalam ayat 13-14 Ananias berkata, ”Tuhan, dari banyak orang telah kudengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem. Lagi pula di sini dia memperoleh kuasa dari imam-imam kepala untuk menangkap semua orang yang menyeru nama-Mu” (Tl.). Ini menunjukkan bahwa menyeru nama Tuhan adalah tanda bagi para pengikut Tuhan pada waktu sebermula (1 Kor. 1:2). Seruan ini ten-tunya cukup nyaring, sehingga orang lain dapat mendengar, demikianlah seruan itu menjadi suatu tanda.
Dalam 9:15-16 Tuhan berkata kepada Ananias, ”Pergi-lah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku.” Karena Saulus adalah bejana pilihan Allah, maka sejak di dalam kandungan ibunya ia telah dipilih dan dipanggil oleh Tuhan (Gal. 1:15). Tuhan berdaulat atas segala sesuatu, Menurut pemilihan-Nya dalam kekekalan, Dia dapat membuat seorang penganiaya yang pa-ling kejam menjadi suatu bejana, menjadi rasul yang terkemuka, untuk merampungkan amanat-Nya dalam pemberitkan Injil dan menempuh jalan yang pernah ia tentang dan aniaya. Akhirnya, dalam ministri Injilnya yang menang, Saulus si penentang, menjadi tawanan Kristus di dalam barisan yang merayakan kemenangan Kristus atas semua musuh-Nya (2 Kor. 2:14).
Menerima Roh Kudus dan Dibaptis
Kisah Para Rasul 9:17 mengatakan, ”Lalu pergilah Ananias ke situ dan masuk ke rumah itu. Ia menumpangkan tangannya ke atas Saulus, katanya: Saulus, saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Kasus Saulus juga sangat istimewa, karena sebagai penganiaya yang paling mencolok, dia langsung diselamatkan oleh Tuhan dari surga ketika ia sedang dalam perjalanannya untuk menganiaya kaum beriman. Karena itu, seperti kaum beriman Samaria (8:14-17) dan kedua belas murid di Efesus (19:1-7), dia juga perlu satu anggota Tubuh Kristus untuk membawa dia masuk ke dalam kesatuan dengan Tu-buh Kristus melalui penumpangan tangan.
Pemenuhan Roh Kudus dalam 9:17 adalah pemenuhan yang di luar. Menurut prinsip keselamatan dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, Saulus pasti telah menerima Roh Kudus hayat di aspek esensial pada saat ia bertobat, sebelum kedatangan dan penumpangan tangan Ananias atasnya. Sebelum Ananias datang, ia sedang berdoa kepada Tuhan (ay. 11), menunjukkan bahwa ia telah percaya kepada Tuhan dan sedang berseru kepada-Nya (Rm. 10:13-14) seperti kaum beriman yang akan dicelakai dan ditangkapnya. Tetapi karena dia bukan diselamatkan melalui anggota Tubuh Kristus yang mana pun, maka Roh Kudus belum turun ke atasnya secara ekonomikal sampai Ananias, sebagai wakil dari Tubuh, datang untuk menyatukan dia dengan Tubuh Kristus.
Ayat 18-19 melanjutkan, ”Seketika itu juga seolah-olah selaput gugur dari matanya, sehingga ia dapat melihat lagi. Ia bangun lalu dibaptis. Setelah ia makan, pulihlah kekuat-annya. Saulus tinggal beberapa hari bersama-sama dengan murid-murid di Damsyik.” Kasus Saulus ini, seperti pejabat istana Etiopia itu, mengajar kita untuk memperhatikan baptisan air, yang melambangkan kesatuan kaum beriman dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:3-5; Kol. 2:12), juga baptisan Roh, yang melambangkan realitas kesatuan kaum beriman dengan Kristus dalam hayat di aspek esensial, dan dalam kuasa di aspek ekonomikal. Baptisan air adalah pemastian kaum beriman atas realitas baptisan Roh. Keduanya itu diperlukan.