← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 24/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(19)

Pembacaan Alkitab: Kis. 8:26-40

Kisah Para Rasul 8:26-40 mencatat hal pemberitaan Injil Filipus kepada seorang pejabat istana Etiopia. Dalam hal ini ada sejumlah teladan yang harus kita ikuti dalam pemberitaan Injil kita pada hari ini.

Kisah Para Rasul 8:27-28 mengatakan, ”Lalu Filipus bangkit dan berangkat. Adalah seorang Etiopia, seorang pejabat istana, pembesar dan kepala perbendaharaan Sri Kandake, ratu negeri Etiopia, yang pergi ke Yerusalem untuk beribadah. Orang itu sedang dalam perjalanan pulang dan duduk dalam keretanya sambil membaca kitab Nabi Yesaya.” Etiopia adalah Kusy (Yes. 18:1), tanah milik keturunan Kusy, anak Ham (Kej. 10:6). Injil telah disebarkan dari keturunan Yahudi murni sampai kepada orang Samaria berdarah campuran melalui Filipus, Petrus, dan Yohanes (ay. 5-25). Sekarang malaikat Tuhan mengarahkan Filipus untuk berkontak dengan seorang kafir murni dari Etiopia. Melalui ini Injil meluas ke selatan, ke Afrika.

Orang Etiopia dalam ayat 27 ini telah datang untuk beribadah di Yerusalem. Ini membuktikan bahwa pejabat istana dari Etiopia itu mencari Allah (lihat 17:26-27). Menurut pengaturan kedaulatan Tuhan, Filipus datang mengontak orang yang mencari Allah ini, orang yang lapar dan haus akan Allah.

MEMAKAI BAGIAN YANG PALING BAIK

DARI ALKITAB DALAM MEMBERITAKAN INJIL

Roh menyuruh Filipus mendekati kereta itu, dan ketika ia melakukannya, ia mendengar pejabat istana itu sedang membaca kitab nabi Yesaya (ay. 29-30). Ini adalah kedaulatan Allah bahwa orang Etiopia itu sedang membaca Yesaya 53: ”Seperti seekor domba Ia dibawa ke pembantaian; dan seperti anak domba yang kelu di depan orang yang menggunting bulunya, demikianlah Ia tidak membuka mulut-Nya” (ay. 32). Ayat ini adalah kutipan dari Yesaya 53:7, yang mengacu kepada Kristus Sang Penebus. Ini pastilah pimpinan kedaulatan Roh sehingga pejabat istana itu membuka ayat Alkitab tentang Kristus sebagai Domba yang menebus orang dosa, satu bagian yang cocok untuk memberitakan Injil. Oleh karena itu, ”Filipus pun mulai berbicara dan bertolak dari nas itu ia memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya” (ay. 35).

Di sini kita melihat prinsip bahwa dalam pemberitaan Injil kita perlu memakai bagian yang terbaik dari Alkitab. Ini berarti dalam pemberitaan Injil kita, kita tidak boleh membicarakan hal-hal yang aneh. Misalnya, setelah mempelajari bahwa batu adalah satu butir dasar dalam Kitab Suci, Anda mungkin ingin mengambil hal ini sebagai subyek untuk pemberitaan Injil Anda. Tetapi, subyek yang demikian ini mungkin tidak cocok untuk pemberitaan Injil. Kita harus selalu memakai satu bagian yang tepat dari firman itu dalam pemberitaan Injil kita. Kita harus memilih satu bagian seperti Yesaya 53.

Di bawah kedaulatan Tuhan, Filipus memakai Yesaya 53 untuk memberitakan Injil kepada seorang bukan Yahudi. Orang bukan Yahudi ini, seorang keturunan Kusy, putra Ham, seorang yang terkutuk (Kej. 9:22-27), mendengar Injil yang lengkap dan diselamatkan. Ini adalah langkah pertama yang diambil Tuhan dalam menyebarkan Injil-Nya kepada orang-orang bukan Yahudi.

MEMBERITAKAN INJIL DI BAWAH PETUNJUK

ROH KUDUS

Butir penting lainnya dalam pemberitaan Injil Filipus adalah bahwa segala aktivitasnya berada di bawah petunjuk, pimpinan, dan bimbingan Roh Kudus. Dalam 8:29 ”Lalu kata Roh kepada Filipus: Pergilah ke situ dan dekatilah kereta itu.” Di sini Roh itu, seperti dalam ayat 39; 10:19; 13:2; dan 16:6-7, menunjukkan bahwa pergerakan Tuhan dalam perluasan Kerajaan-Nya melalui pemberitaan Injil dalam kitab Kisah Para Rasul adalah dipimpin dan diarahkan oleh Roh, bukan dengan usaha dan jadwal manusia. Karena itu, pergerakan ini bukan berasal dari tindakan manusia, melainkan berasal dari tindakan Roh.

Kita semua harus belajar dari teladan ini untuk berdoa dan memelihara diri kita sendiri dalam persekutuan dengan Tuhan. Jika kita memelihara persekutuan kita dengan Tuhan, kita akan dapat merasakan pimpinan-Nya kapan saja. Kemudian pergerakan dan pemberitaan Injil kita akan sesuai dengan petunjuk Roh itu. Kita perlu mengikuti bimbingan Roh, bukan mengikuti opini, rencana, dan jadwal kita. Kiranya dalam pemberitaan Injil kita belajar selalu bertindak di bawah petunjuk dan bimbingan Roh itu.

SATU MASALAH YANG KHAS TENTANG

BAPTISAN AIR

Atas hal pemberitaan Injil Filipus kepada pejabat istana Etiopia, kita juga memiliki perkara baptisan air dalam 8:26-40. Hari ini banyak perdebatan di antara orang-orang Kristen mengenai baptisan air. Di sini, dalam Kisah Para Rasul 8, terdapat perkara tentang seorang bukan Yahudi yang percaya kepada Tuhan. Dari Yesaya 53 Filipus ”memberitakan Injil tentang Yesus kepadanya” (ay. 35). Kemudian ”Mereka melanjutkan perjalanan mereka, dan tiba di suatu tempat yang ada air. Lalu kata pejabat istana itu: Lihat, di situ ada air; apakah ada halangan bagiku untuk dibaptis?” (ay. 36). Fakta bahwa pejabat istana Etiopia itu memiliki reaksi yang demikian ketika ia melihat air, menunjukkan bahwa Filipus dalam pemberitaan Injilnya pasti memberitakan baptisan air kepadanya. Jika Filipus tidak mengatakan apa pun tentang baptisan, tidak mungkin orang Etiopia itu memiliki reaksi yang demikian. Filipus mungkin sedang membicarakan bap-tisan air ketika mereka sampai ke tempat yang ada airnya itu, di mana pejabat istana itu dibaptiskan.

Kita perlu melihat bahwa dalam hal baptisan air, hal yang khas ini, tidak dikatakan apa-apa tentang baptisan Roh. Khususnya, tidak disebutkan pejabat istana Etiopia ini berbahasa lidah. Jika pejabat istana itu berbahasa lidah, Lukas pasti mencatat hal ini dalam catatannya. Karena ia mencatat hal baptisan air ini, ia tentu mencatat pengalaman berbahasa lidah seandainya terjadi di sini. Orang-orang yang pada hari ini mempromosikan berbahasa lidah pada hari ini perlu memperhatikan hal ini. Hal baptisan air yang khas ini adalah satu teladan, tetapi dalam teladan ini sama sekali tidak disebutkan tentang berbahasa lidah. Catatan Lukas di sini menekankan baptisan air.

BAPTISAN AIR DAN BAPTISAN ROH

Kita telah melihat reaksi pejabat istana itu begitu melihat air menunjukkan bahwa Filipus telah memberitakan baptisan air kepadanya. Dalam kasus Injil ini, hal baptisan air secara khusus ditekankan, tetapi tidak disebutkan tentang baptisan Roh. Ini seharusnya memberi kita suatu petunjuk yang kuat bahwa kita harus memperhatikan baptisan air, yang melambangkan kesatuan kaum beriman dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Rm. 6:5; Kol. 2:12), dan juga baptisan Roh. Baptisan Roh menghasilkan realitas kesatuan kaum beriman dengan Kristus dalam hayat di aspek esensial, dan dalam kuasa di aspek ekonomikal. Baptisan air adalah pemastian kaum beriman atas realitas Roh. Keduanya diperlukan (10:47), dan tidak bisa saling menggantikan. Seluruh kaum beriman dalam Kristus seharusnya secara tepat memiliki keduanya, sama seperti umat Israel dibaptis dalam awan (yang melambangkan Roh itu) juga dibaptis dalam laut (yang melambangkan air), seperti yang disebutkan dalam 1 Korintus 10:2.

Mengenai baptisan, air melambangkan kematian dan penguburan untuk pengakhiran orang-orang yang bertobat, dan Roh Kudus adalah Roh hayat dan kebangkitan untuk penunasan orang-orang yang telah diakhiri itu. Air kematian, menunjukkan dan melambangkan kematian almuhit Kristus yang ke dalamnya kaum beriman-Nya dibaptiskan, bukan hanya menguburkan orang-orang yang dibaptiskan itu, tetapi juga dosa-dosa mereka, dunia, dan masa lampau mereka. Baptisan itu juga memisahkan mereka dari dunia yang meninggalkan Allah dan keboborokannya. Roh Kudus adalah Roh Kristus, juga Roh Allah (Rm. 8:9). Jadi, dibaptis dalam Roh Kudus berarti dibaptis ke dalam Kristus (Gal. 3:27; Rm. 6:3), ke dalam Allah Tritunggal (Mat. 28:19), bahkan ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13), yakni disatukan dengan Kristus dalam satu Roh (1 Kor. 6:17). Melalui baptisan air dan Roh yang demikianlah kaum beriman dalam Kristus dilahirkan kembali ke dalam Kerajaan Allah, ke dalam alam hayat ilahi dan pemerintahan ilahi (Yoh. 3:3, 5), sehingga mereka dapat hidup dengan hayat kekal Allah dalam Kerajaan-Nya yang abadi.

Satu Baptisan

Dalam Kisah Para Rasul 8, pejabat istana itu menerima baptisan air dan baptisan Roh pada saat yang sama. Tidak ada dua baptisan satu baptisan air dan satu baptisan Roh. Baptisan air dan baptisan Roh adalah satu.

Guru-guru Alkitab berdebat apakah baptisan dalam Roma 6 itu mengacu kepada baptisan air atau baptisan Roh. Sebenarnya, tidak perlu berdebat tentang hal ini, karena dalam ekonomi Allah hanya ada satu baptisan. Kita keliru jika bertanya apakah baptisan ini adalah baptisan air atau baptisan Roh. Mengajukan pertanyaan yang demikian itu menunjukkan suatu kekurangan pengenalan. Dalam pandangan Allah ada satu baptisan dengan dua aspek aspek air dan aspek Roh.

Bagi Allah tidak perlu ada air, hanya perlu Roh saja. Tetapi, sebagai manusia, yang bersifat jasmani, kita memi-liki keperluan akan penegasan materi terhadap hal-hal ro-hani. Karena itu, baptisan air adalah penegasan yang di luar dari baptisan Roh yang di dalam.

Di antara kebanyakan orang Kristen pada hari ini, baptisan air hanyalah suatu liturgi untuk penerimaan anggota-anggota baru. Praktek baptisan kita harus benar-benar berbeda. Kapan saja kita membaptis seseorang dalam air, kita perlu memiliki iman bahwa kita sedang membaptis orang itu bukan hanya ke dalam air, tetapi juga ke dalam Roh itu sebagai realisasi dari Allah Tritunggal.

Makna dan Hasil Baptisan Air

Allah Tritunggal

Baptisan air memiliki makna yang kaya. Pertama, air ini melambangkan Roh itu sebagai realisasi Allah Tritunggal. Dalam Matius 28:19 Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid untuk membaptis kaum beriman ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena itu, ketika kita membaptis kaum beriman, kita harus membaptis mereka bukan hanya ke dalam air, melainkan juga ke dalam Allah Tritunggal.

Kristus

Baptisan air juga melambangkan Kristus. Sebenarnya, ketika kita membaptis orang ke dalam Allah Tritunggal, kita membaptis orang tersebut ke dalam Kristus. Matius 28:19 membicarakan tentang membaptis kaum beriman ke dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus, sedangkan dalam kitab Kisah Para Rasul kaum beriman dibaptis ke dalam nama Yesus Kristus. Alasan untuk hal ini adalah bahwa Kristus adalah perwujudan Allah Tritunggal. Karena air melambangkan Allah Tritunggal, maka air juga melambangkan Kristus.

Kematian Kristus

Selain itu, air baptisan melambangkan kematian Kristus. Mengenai hal ini, Roma 6:3-4a mengatakan, ”Atau tidak tahukah kamu bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia melalui baptisan dalam kematian.” Jadi, dibaptis ke dalam Kristus adalah dibaptis ke dalam kematian-Nya.

Tubuh Kristus

Kita telah melihat bahwa air baptisan melambangkan Allah Tritunggal, Kristus, dan kematian Kristus. Hasil dari baptisan yang demikian adalah Tubuh Kristus: ”Dalam satu Roh kita semua . . . telah dibaptis menjadi satu tubuh” (1 Kor. 12:13). Karena itu, Tubuh adalah hasil dari kita dibaptis ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam Kristus, dan ke dalam kematian Kristus.

Realitas dan Penegasan

Kita perlu mengesampingkan konsep tradisional tentang baptisan, dan kembali kepada firman Alkitab yang murni untuk melihat bahwa baptisan memiliki aspek Roh dan aspek air. Roh adalah realitas dan air adalah penegasan yang di luar.

Kita dapat memakai suatu kontrak/perjanjian sebagai ilustrasi dari dua aspek baptisan ini. Sebuah kontrak, pertama-tama mungkin dibuat secara lisan. Persetujuan lisan itu adalah realitas dari kontrak itu. Tetapi supaya kontrak itu terjamin, perlu ada penegasan dalam bentuk tulisan yang di luar. Kontrak yang tertulis dan sah adalah penegasan yang di luar dari realitas kontrak yang di dalam. Demikian juga kita dapat menganggap baptisan air sebagai tulisan kontrak itu, dan baptisan Roh sebagai realitas kontrak itu. Penan-datanganan kontrak itu tidak sia-sia, sebab itu adalah penegasan dari kontrak yang riil itu. Demikian juga, baptisan air bukan hanya suatu liturgi, karena baptisan air adalah penegasan yang di luar dari Roh itu sebagai realitas baptisan. Baptisan air, bila tanpa Roh itu, akan menjadi kosong. Tetapi baptisan Roh, bila tanpa baptisan air, akan kekurangan penegasan di luar yang diperlukan. Karena itu, menurut ekonomi Perjanjian Baru Allah, baptisan harus secara batini dari Roh dan secara luaran dari air.

Praktek Kita mengenai Baptisan

Praktek kita mengenai baptisan harus sesuai dengan firman yang murni dalam Alkitab. Ketika kita membaptis orang-orang ke dalam air, ini menandakan kita sedang membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal, ke dalam Kristus, dan ke dalam kematian Kristus yang membuat mereka dibaptis ke dalam Tubuh Kristus. Ini adalah baptis-an unik yang disebutkan dalam Efesus 4:5 dan juga baptisan yang dibicarakan dalam 1 Korintus 12:13.

Dalam perlambangan, bani Israel dibaptis di dalam awan dan di dalam laut. Mereka tidak memiliki dua baptisan; mereka memiliki satu baptisan dengan dua unsur awan dan laut. Awan melambangkan Roh dari langit, dan laut melambangkan air di bumi. Lambang ini adalah satu gambaran dari baptisan kita pada hari ini. Kapan saja kita membaptis kaum beriman, kita membaptis mereka di dalam air dan di dalam Roh pada saat yang sama. Ini berarti kapan saja kita membaptis orang di dalam air, kita serentak membaptis mereka ke dalam Allah Tritunggal.