PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(18)
Pembacaan Alkitab: Kis. 8:14-35
Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang teladan yang disajikan dalam Kisah Para Rasul 8.
TUHAN MENYEDIAKAN ROH EKONOMIKAL
Kisah Para Rasul 8:14-16 mengatakan, ”Ketika rasul-rasul di Yerusalem mendengar bahwa tanah Samaria telah menerima firman Allah, mereka mengutus Petrus dan Yohanes ke situ. Setibanya di situ kedua rasul itu berdoa, supaya orang-orang Samaria itu beroleh Roh Kudus. Sebab Roh Kudus belum turun di atas seorang pun di antara mereka, karena mereka hanya dibaptis dalam nama Tuhan Yesus.” Dalam ayat ini kita melihat satu perkara yang sangat penting. Orang-orang kudus yang tersebar itu telah melakukan pekerjaan yang baik dalam memberitakan Injil. Mereka telah bermigrasi dengan Injil, dan Filipus telah menguatkan pemberitaan Injil mereka. Hasilnya, pekerjaan yang menakjubkan telah dilakukan. Tetapi, meskipun Tuhan telah berbuat banyak melalui pemberitaan dari orang-orang kudus yang tersebar dan Filipus pemberita Injil, namun Dia menyisakan (menahan) satu hal Roh ekonomikal. Menurut 8:14-16, orang-orang beriman di Samaria belum menerima Roh ekonomikal. Petrus dan Yohanes diutus kepada mereka dan berdoa bagi mereka supaya mereka dapat menerima Roh Kudus secara ekonomikal.
Untuk Mencegah Sikap yang Merdeka
Dalam ayat ini kita memiliki satu teladan penting yang berhubungan dengan pekerjaan Injil. Dari teladan ini kita melihat bahwa pekerjaan Injil itu tidak boleh merdeka dari Tubuh Kristus. Orang-orang kudus yang tersebar dan Filipus pemberita Injil itu telah melaksanakan pekerjaan yang baik sekali. Tetapi jika Tuhan tidak menahan sesuatu, mereka mungkin dapat terdorong untuk merdeka. Mereka mungkin berkata, ”Petrus dan Yohanes, kita melakukan hal yang sama seperti yang sedang kalian lakukan di Yerusalem. Apa pun yang dapat kalian lakukan, kami juga dapat melakukannya.” Untuk mencegah sikap merdeka yang demikian, maka Tuhan menahan Roh ekonomikal.
Satu Kasus yang Khusus
Menurut 8:15, Petrus dan Yohanes berdoa bagi kaum beriman di Samaria agar mereka menerima Roh Kudus. Situasi di sini berbeda dengan yang ada dalam 2:38. Para rasul memberitakan dan meministrikan Kristus, tetapi ketika para pendengar mereka bertobat dan percaya kepada Tuhan, mereka menerima Roh yang ajaib dari Allah Tritunggal. Ini menunjukkan bahwa Roh itu adalah diri Kristus yang bangkit dan naik itu. Penerimaan Roh dalam 2:38 itu adalah esensial dan ekonomikal, secara umum dan almuhit. Ini berbeda dengan penerimaan Roh dalam 8:15-17, yang secara khusus menerima Roh itu turun ke atas kaum beriman secara ekonomikal.
Kisah Para Rasul 8:16 memberi tahu kita bahwa sebelum Petrus dan Yohanes datang, Roh Kudus belum turun atas kaum beriman di Samaria. Ini bukan berarti ketika kaum beriman di Samaria percaya kepada Tuhan, mereka tidak menerima Roh Kudus di aspek esensial. Menurut pengajaran Perjanjian Baru dalam Efesus 1:13 dan Galatia 3:2, di aspek esensial mereka pasti telah menerima Roh Kudus ketika mereka percaya dan dilahirkan kembali (Yoh. 3:6, 36). Tetapi di aspek ekonomikal mereka belum menerima Roh yang membuat mereka bersatu dengan Tubuh Kristus. Roh Kudus tidak turun ke atas mereka secara luaran dan secara ekonomikal karena perlu menanti kedatangan para rasul untuk membawa mereka masuk ke dalam kesatuan dengan Tubuh Kristus, sebab pembangunan gereja secara riil dimulai di Yerusalem melalui rasul. Kasus ini berbeda dengan kasus orang-orang dalam rumah Kornelius. Ketika orang-orang dalam rumah Kornelius percaya Tuhan, di dalam, di aspek esensial, mereka telah menerima Roh Kudus sehingga mereka dilahirkan kembali, bersamaan dengan itu juga di luar, di luar, di aspek ekonomikal, mereka menerima Roh Kudus, supaya mereka dibaptis masuk ke dalam Tubuh Kristus (1 Kor. 12:13) dan bersatu dengan Tubuh Kristus. Ini terjadi karena saat itu Injil langsung diberitakan oleh Petrus, yang memainkan peran utama dalam permulaan pembangunan gereja secara riil.
Perkembangan Tubuh Kristus
Kita perlu belajar dari teladan yang disajikan di sini agar tidak merdeka terhadap Tubuh dalam pekerjaan Injil kita. Misalnya, ada beberapa orang yang bermigrasi ke tempat tertentu dan memulai suatu pekerjaan di sana. Jika orang-orang kudus ini mengira bahwa mereka dapat melakukan segala sesuatu, maka mereka dapat menjadi orang-orang yang merdeka terhadap Tubuh. Ini berarti mereka sebenarnya menjadi satu pemecah, satu sekte.
Teladan dalam pasal 8 ini mewahyukan bahwa Kepala Tubuh itu berdaulat. Dia memberikan banyak hal kepada kaum beriman di Samaria, tetapi Dia tidak memberikan Roh ekonomikal sampai rasul-rasul datang dan menumpangkan tangan mereka ke atas kaum beriman. Dengan demikian Roh ekonomikal turun di atas kaum beriman yang baru ini.
Situasi di antara kebanyakan kaum beriman pada hari ini sangat berbeda dengan yang ada dalam Kisah Para Rasul 8. Sering kali pekerja-pekerja Kristen memiliki sikap bahwa mereka bersyarat melakukan segala sesuatu. Kelihatannya pada hari ini membuka apa yang disebut gereja itu semudah membuka sebuah rumah makan. Situasi demikian sangat tercela.
Ketika orang-orang yang bermigrasi itu pergi dari Yerusalem dalam Kisah Para Rasul 8, mereka tidak mendirikan gereja-gereja mereka sendiri. Sebaliknya, mereka mengembangkan Tubuh Kristus. Pekerjaan yang dilakukan di Samaria itu perlu diperkuat oleh para rasul. Karena itu, Petrus dan Yohanes memperkuat kaum beriman yang baru itu dan menyatukan mereka dengan Tubuh Kristus dengan menumpangkan tangan ke atas mereka. Kemudian Roh itu turun di atas kaum beriman ini secara ekonomikal untuk kesatuan mereka dengan Tubuh Kristus. Dari hal ini kita melihat bahwa pekerjaan yang dilakukan di Samaria itu bukan suatu pekerjaan yang merdeka, bukan pekerjaan yang terpisah. Tetapi, apa yang dihasilkan di Samaria itu benar-benar merupakan perkembangan Tubuh Kristus. Gereja di tempat itu bukan menjadi milik orang-orang kudus yang bermigrasi secara merdeka dan terpisah. Itu juga bukan pekerjaan milik Filipus yang terpisah, yang merdeka. Tidak, itu adalah bagian dari Tubuh. Ini berarti, apa yang dihasilkan melalui migrasi dan melalui pemberitaan Injil Filipus adalah bagian dari Tubuh Kristus. Dengan sendirinya, keesaan Tubuh Kristus tetap terpelihara. Ini berbeda dengan situasi pada hari ini.
Kaum Beriman Dibaptis ke dalam
Nama Tuhan Yesus
Kisah Para Rasul 8:16 mengatakan bahwa sebelum rasul-rasul itu datang ke Samaria, kaum beriman di sana ”hanya dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus” (Tl.). Perhatikan bahwa ayat ini tidak mengatakan ”di dalam nama”; ayat ini mengatakan ”ke dalam nama”. Nama mengacu kepada persona. Dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus berarti dibaptis ke dalam persona Tuhan, disatukan dengan Kristus yang tersalib, bangkit, dan naik ke surga, memiliki kesatuan yang organik dengan Tuhan yang hidup.
Dalam Matius 28:19, Tuhan menyuruh murid-murid membaptis orang-orang percaya masuk ke dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus. Tetapi kemudian, dalam pelaksanaannya, orang-orang percaya dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus (dalam Kis. 8:16 dan 19:5), dan ke dalam Kristus (Rm. 6:3 dan Gal. 3:27). Ini menunjukkan: (1) dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus sama dengan dibaptis ke dalam nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, karena Tuhan Yesus adalah Allah Tritunggal, perwujudan Allah sendiri (Kol. 2:9); (2) dibaptis ke dalam nama Allah Tritunggal atau ke dalam nama Tuhan Yesus sama dengan dibaptis ke dalam persona Kristus.
Kaum beriman Samaria sudah dibaptis ke dalam nama Tuhan Yesus, yaitu dibaptis ke dalam Tuhan sendiri. Karena itu, meskipun di luar, di aspek ekonomikal, mereka belum menerima Roh kuasa, di dalam, di aspek esensial, mereka telah menerima Roh hayat supaya mereka tidak hanya dilahirkan dari Tuhan tetapi juga disatukan dengan Tuhan (1 Kor. 6:17).
Kaum Beriman Disatukan dengan Tubuh Kristus
Kisah Para Rasul 8:17 mengatakan, ”Kemudian keduanya menumpangkan tangan di atas mereka, lalu mereka menerima Roh Kudus.” Petrus dan Yohanes diutus ke Samaria bukan hanya untuk memperkuat pemberitaan Injil Filipus (salah satu dari ketujuh orang yang ditunjuk melayani meja), tetapi juga untuk membawa gereja di Samaria (terdiri atas orang Samaria yang tidak berhubungan dengan orang Yahudi) ke dalam kesatuan dengan Tubuh Kristus melalui penumpangan tangan mereka. Roh Kudus mengakui penumpangan tangan ini dan turun ke atas orang-orang Samaria, Ini menandakan kesatuan mereka dengan Tubuh Kristus. Dengan jalan ini, ketika kaum beriman Samaria percaya Tuhan Yesus, mereka menerima Roh Kudus di aspek ekonomikal selain menerima Roh Kudus di aspek esensial.
KASUS SIMON
Dalam 8:9-13 kita melihat bahwa seorang yang bernama Simon, yang mempraktekkan sihir di kota Samaria, percaya kepada Tuhan dan dibaptis. Ketika ia melihat bahwa Roh itu diberikan melalui penumpangan tangan rasul-rasul, ”ia menawarkan uang kepada mereka, serta berkata: Berikanlah juga kepadaku kuasa itu, supaya jika aku menumpangkan tanganku di atas seseorang, ia boleh menerima Roh Kudus” (ay. 18-19). Permintaan Simon menunjukkan bahwa praktek sihirnya, yang menakjubkan orang (ay. 9), adalah untuk uang.
Dalam ayat 20 Petrus berkata kepadanya, ”Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.” Di sini ”binasa”, bukan kebinasaan kekal, tetapi suatu hukuman, seperti dalam Ibrani 10:39 dan Matius 7:13. Khususnya, ini mengacu kepada kebinasaan perbuatan dan pekerjaan seseorang (1 Kor. 3:15). Simon telah percaya Injil, juga telah dibaptis. Karena itu, dia pasti telah mengalami keselamatan dalam tahap awal. Tetapi ia belum diselamatkan dari pikiran dan perilakunya yang jahat tentang uang. Karena itu, dia perlu bertobat atas kejahatannya supaya dia bisa menerima pengampunan Tuhan. Kalau tidak, dia akan menerima hukuman bersama uangnya.
MEMPERSAKSIKAN FIRMAN TUHAN
Mengenai Petrus dan Yohanes, Kisah Para Rasul 8:25 mengatakan ”Setelah keduanya bersaksi dan memberitakan firman Tuhan, kembalilah mereka ke Yerusalem dan dalam perjalanannya itu mereka memberitakan Injil dalam banyak desa di Samaria.” Mempersaksikan firman Tuhan adalah bersaksi berdasarkan pengalaman pribadi terhadap Tuhan, dan memberitakan firman Tuhan berarti memberitakan dan mengajar menurut wahyu Tuhan. Untuk bersaksi kita perlu pengalaman penglihatan dan penikmatan terhadap Tuhan atau hal-hal rohani.
FILIPUS MENINGGALKAN PEKERJAAN
DI SAMARIA
Kisah Para Rasul 8:26 mengatakan, ”Kemudian berkatalah seorang malaikat Tuhan kepada Filipus: Bangkitlah dan berangkatlah ke sebelah selatan, menurut jalan yang turun dari Yerusalem ke Gaza. Jalan itu jalan yang sunyi.” Di sini kita melihat bahwa Filipus meninggalkan pekerjaan di Samaria. Kemudian setelah memberitakan Injil kepada seorang Etiopia, Filipus dilarikan oleh Roh itu (ay. 39). Di sini kita memiliki teladan lain yang berhubungan dengan pekerjaan Injil. Filipus telah memainkan satu peran penting dalam pekerjaan di Samaria. Tidak diragukan lagi, orang-orang beriman percaya kepadanya dan bersandar padanya. Tetapi tiba-tiba Filipus disuruh bangun dan pergi ke selatan oleh seorang malaikat. Meskipun Filipus telah sangat membantu kaum beriman di Samaria, ia dapat meninggalkan pekerjaan di sana segera setelah ia diminta untuk melakukannya.
Dalam hal Filipus meninggalkan pekerjaan di Samaria kita melihat satu teladan dengan satu prinsip penting. Prinsip ini adalah bahwa kapan saja kita pergi ke satu tempat dan mendirikan gereja di sana, kita harus siap untuk meninggalkan tempat itu, bahkan untuk ”dilarikan”. Tetapi, kebanyakan dari antara kita memiliki kecenderungan untuk menetap di satu tempat di mana gereja yang kuat telah didirikan melalui kita. Kita mungkin berkata, ”Kota ini akan menjadi rumahku. Aku akan membeli sebuah rumah dan tinggal di sini.” Apakah Anda senang untuk ”dilarikan” dari gereja yang didirikan melalui Anda? Menurut teladan di sini, kita harus siap untuk meninggalkan pekerjaan apa pun yang telah didirikan melalui kita. Ini berarti kita harus selalu siap untuk dilarikan dari pekerjaan di tempat tertentu.
Tidak boleh ada pekerjaan yang tetap berada di tangan kita. Dilarikan tidak lain berarti tidak menahan satu pekerjaan di tangan kita. Tidak peduli berapa banyak yang telah kita lakukan atau berapa banyak yang telah kita rampungkan, kita harus siap meninggalkan pekerjaan kita kepada gereja, kepada orang-orang kudus, kepada Tuhan, dan membiarkan Roh itu membawa kita lari.
Dari pengalaman saya sendiri, saya dapat bersaksi mengenai mengikuti teladan yang tampak dalam hal Filipus meninggalkan pekerjaan di Samaria. Saya melaksanakan satu pekerjaan di Chefoo, di Shanghai, dan kemudian di pulau Taiwan. Tetapi meskipun saya melakukan banyak pekerjaan di tempat-tempat itu, saya selalu siap untuk meninggalkannya. Ketika waktunya tiba, saya meninggalkan Chefoo, Shanghai, dan Taiwan.
Seorang pemberita atau seorang pelayan mudah memandang pekerjaannya sebagai karirnya. Jika kita bersikap demikian, kita akan menahan pekerjaan itu di ”kantong” kita. Kemudian begitu ada sebuah gereja yang telah didirikan melalui kita, itu akan menjadi ”gereja kantong” kita. Hal ini tidak boleh menjadi praktek kita dalam pemulihan Tuhan. Tidak peduli berapa banyak yang dapat kita rampungkan bagi Tuhan di satu tempat, kita harus selalu siap untuk pergi dan meninggalkan pekerjaan itu kepada gereja, kepada orang-orang kudus, dan kepada Tuhan sendiri. Ini adalah satu prinsip yang penting, dan kita perlu mengikutinya pada hari ini.