← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 22/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(17)

Pembacaan Alkitab: Kis. 8:4-13

Dalam Kisah Para Rasul 8 ada banyak teladan bagi kita. Khususnya, teladan dalam pasal ini berhubungan dengan pemberitaan Injil. Dalam berita ini kita akan mulai membahas teladan-teladan dalam Kisah Para Rasul 8.

PEMBERITAAN INJIL MELALUI PENYEBARAN ORANG-ORANG KUDUS

Kisah Para Rasul 8:4 mengatakan, ”Mereka yang tersebar itu menjelajahi seluruh negeri itu sambil memberitakan Injil.” Ini adalah kedaulatan Allah bahwa kaum beriman yang tersebar dari Yerusalem ke tempat-tempat lain, karena penganiayaan itu, melakukan perluasan Injil untuk menggenapkan perkataan Tuhan dalam 1:8 (11:19).

Teladan untuk Pemberitaan Injil Kita pada Hari ini

Teladan pertama dalam Kisah Para Rasul 8 adalah pemberitaan Injil melalui penyebaran kaum beriman. Di Yerusalem, Injil yang diberitakan terutama dilaksanakan oleh para rasul. Meskipun itu juga merupakan satu teladan, tetapi itu bukanlah satu-satunya teladan bagi pemberitaan Injil kita. Jika hal itu adalah satu-satunya teladan, maka pemberitaan Injil itu akan terbatas. Karena itu, dalam 8:4 kita memiliki teladan lain dari pemberitaan Injil pemberitaan Injil melalui penyebaran, migrasi, dari orang-orang kudus.

Dalam Kisah Para Rasul 8 tidak terdapat kata-kata ”bermigrasi” atau ”migrasi”. Meskipun demikian, migrasi ini ditunjukkan oleh perkataan ”tersebar”. Penyebaran orang-orang kudus sebenarnya adalah satu migrasi.

Sebelum penyebaran orang-orang kudus dalam 8:4, ada ribuan orang beriman di Yerusalem. Seperti kebanyakan orang, mereka mungkin tidak mau pindah; sebaliknya mereka mungkin ingin menetap di sana. Tetapi Tuhan berdaulat, karena Dia adalah Pemimpin, Penguasa raja-raja. Meskipun Iblis menghasut sehingga timbul penganiayaan terhadap gereja, Tuhan ada di atas Iblis, dan apa pun yang dilakukan Iblis berada di bawah kedaulatan Tuhan. Karena itu, penganiayaan dalam pasal 8 sebenarnya adalah untuk penyebaran Injil; ribuan orang beriman tersebar ke seluruh Yudea dan Samaria. Melalui penyebaran itu kabar baik dibawa ke banyak kota. Di sini kita memiliki teladan pemberitaan Injil melalui migrasi orang-orang kudus.

Selama bertahun-tahun dalam pemulihan Tuhan, kita telah mempraktekkan perkara migrasi. Misalnya, banyak orang kudus datang ke Los Angeles dari tahun 1962 sampai 1970. Kemudian pada tahun 1970 kita mulai bermigrasi, dan migrasi ini sukses besar. Ketika orang-orang kudus bermigrasi, Injil pergi bersama mereka. Orang-orang kudus yang bermigrasi membawa Injil itu ke mana pun mereka pergi.

Semua gereja harus mengikuti teladan dalam 8:4 mengenai migrasi. Orang-orang kudus tidak boleh tinggal di satu tempat terlalu lama. Sebaliknya kita semua harus bermigrasi, mengikuti jejak nenek moyang kita Abraham. Abraham adalah seorang penyeberang sungai; ia bermigrasi dari Kasdim ke Kanaan. Seperti Abraham, kita tidak boleh menetap di satu tempat. Kita semua harus belajar ber-migrasi.

Mengalir ke Luar dan Mengalir ke Dalam

Selama bertahun-tahun banyak orang kudus di Amerika Serikat yang enggan bermigrasi. Tetapi kita bersyukur kepada Tuhan bahwa belakangan ini orang-orang kudus telah mulai bermigrasi lagi. Pada tahun yang lalu ada sejumlah gereja yang telah dibangkitkan melalui migrasi orang-orang kudus.

Orang-orang kudus di semua gereja harus didorong untuk bermigrasi. Jika orang-orang kudus di tempat tertentu tidak mau bermigrasi, maka akhirnya tempat itu akan menjadi satu ”Laut Mati”. Laut Mati adalah sebuah waduk besar untuk air dari Sungai Yordan. Begitu air Sungai Yordan itu sampai ke Laut Mati, air itu tidak mengalir lebih jauh lagi. Jika gereja di suatu tempat ingin terhindar dari menjadi sebuah Laut Mati, sebuah ”kanal” harus digali untuk membiarkan ”air” itu mengalir keluar. Mungkin setiap tahun sepuluh persen dari orang-orang kudus di satu tempat dapat bermigrasi. Ini akan memenuhi keperluan mengalir keluar tanpa menghancurkan gereja itu. Selain itu, jika air itu dibiarkan mengalir keluar, maka akan semakin banyak air yang mengalir ke dalam.

Dengan memakai ilustrasi sebuah selang air, kita dapat mengatakan bahwa setiap gereja harus menjadi seperti selang air yang terbuka ujung-ujungnya. Bila selang air itu terbuka sedemikian, maka air dapat mengalir masuk dan mengalir keluar. Tetapi jika air tidak dapat mengalir keluar dari pipa itu, maka tidak akan ada air yang dapat mengalir ke dalam. Berapa banyak air yang mengalir ke dalam itu tergantung pada berapa banyak air yang mengalir keluar. Jika kita ingin gereja berkembang, harus ada aliran keluar. Hanya bila ada aliran keluar, maka gereja di tempat itu dapat terhindar dari menjadi Laut Mati.

Tetapi, migrasi orang-orang kudus itu bukanlah suatu peraturan/hukum. Yang hendak kita tekankan adalah bahwa gereja-gereja perlu mengikuti teladan dalam 8:4. Ini berarti, dalam prinsipnya, kita harus rela bermigrasi.

Dari pengalaman saya sendiri saya dapat mempersaksi-kan tentang pentingnya migrasi. Pada mulanya, saya tidak mau pindah; saya lebih suka tinggal di satu tempat. Tetapi Tuhan adalah Penguasa raja-raja, dan Dia tidak membiarkan saya untuk menetap di satu tempat. Sebaliknya, Tuhan membuat kehidupan saya menjadi sebuah kehidupan yang bepergian. Saya pindah ke sana sini, dan akhirnya saya datang ke Amerika Serikat. Setelah meluangkan waktu lebih dari dua puluh tahun di Amerika Serikat, saya berbeban untuk meluangkan lebih banyak waktu di Taiwan karena keperluan gereja-gereja di sana.

Bermigrasi demi Injil

Saya mendorong Anda semua menerima beban untuk bermigrasi. Kita harus bermigrasi bukan demi penghidupan (nafkah) kita, melainkan demi Injil. Tuhan memanggil Abraham, dan Abraham bermigrasi. Dalam mengikuti Tuhan, Abraham itu tidak kekurangan. Demikian juga, bila kita bermigrasi demi Injil, Tuhan akan memenuhi kebutuhan kita. Bermigrasi bagi Injil adalah bermigrasi bagi Tuhan, karena Injil itu sebenarnya adalah diri-Nya sendiri. Teladan pertama yang terdapat dalam Kisah Para Rasul 8 adalah migrasi orang-orang kudus bagi penyebaran Injil.

PEMBERITAAN FILIPUS DI KOTA SAMARIA Dinyatakan sebagai Pemberita Injil

Kisah Para Rasul 8:5 mengatakan, ”Filipus pergi ke suatu kota di Samaria dan memberitakan Mesias (Kristus) kepada orang-orang di situ.” Filipus ini bukanlah Filipus yang menjadi salah satu di antara para rasul (1:13), tetapi Filipus di antara ketujuh orang yang ditunjuk oleh para rasul untuk melayani meja (6:5). Melalui ministrinya dalam pemberitaan Injil, seperti yang tercatat dalam pasal delapan, dia ternyata sebagai seorang penginjil (21:8).

Pemberitaan Kristus oleh Filipus di Samaria adalah langkah lanjut dalam pergerakan Injil Tuhan. Dengan langkah ini Dia menyebarkan diri-Nya sebagai benih Kerajaan Allah dari keturunan Yahudi murni meluas kepada orang Samaria yang berdarah campuran untuk menggenapkan nubuat Tuhan dalam 1:8.

Menurut 8:4-5, di antara orang-orang kudus yang bermigrasi dari Yerusalem, sedikitnya ada seorang yang adalah pemberita Injil. Filipus mengambil bagian dalam migrasi ini, dan ia memiliki karunia memberitakan Injil yang menonjol. Karena karunia ini, ia akhirnya disebut ”Filipus pemberita Injil” (21:8).

Memberitakan Kristus dan Kerajaan Allah

Mengenai pemberitaan Injil Filipus, 8:12 memberi tahu kita bahwa ia ”memberitakan Injil tentang Kerajaan Allah dan tentang nama Yesus Kristus.” Filipus memberitakan Kristus sebagai Injil. Dengan kata lain, ia memberitakan Kristus, Kristus adalah Injilnya.

Kisah Para Rasul 8:12 juga menunjukkan bahwa Filipus memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil. Ia memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil, sama seperti yang dilakukan Tuhan (Mrk. 1:14-15; Luk. 4:43). Seperti Filipus, kita harus memberitakan Injil yang adalah Yesus Kristus dan juga Kerajaan Allah. Jadi, kita harus memberitakan Yesus Kristus sebagai Kerajaan Allah.

Kerajaan Allah adalah Tuhan Yesus, Juruselamat, sebagai benih hayat yang ditaburkan ke dalam kaum beriman, yaitu umat pilihan Allah (Mrk. 4:3, 26), dan berkembang ke dalam suatu alam, yakni Kerajaan Allah, yang di dalamnya Allah dapat memerintah dalam hayat ilahi-Nya. Jalan masuk ke dalam Kerajaan Allah adalah kelahiran kembali (Yoh. 3:5), dan perkembangannya adalah pertumbuhan kaum beriman dalam hayat ilahi (2 Ptr. 1:3-11). Kerajaan Allah adalah kehidupan gereja hari ini, yang di dalamnya kaum beriman yang setia hidup (Rm. 14:17), dan akan berkembang ke dalam kerajaan yang akan datang sebagai suatu pahala untuk diwarisi (Gal. 5:21; Ef. 5:5) oleh kaum saleh pemenang dalam Kerajaan Seribu Tahun (Why. 20:4-6). Akhirnya, kerajaan akan rampung dalam Yerusalem Baru sebagai Kerajaan Allah yang kekal, suatu alam kekal dari berkat kekal hayat kekal Allah, yang akan dinikmati oleh seluruh umat tebusan Allah dalam langit baru dan bumi baru sampai selama-lamanya (Why. 21:1-4; 22:1-5, 14). Kerajaan yang demikian, Kerajaan Allah, adalah yang diberitakan oleh Tuhan Yesus dan Filipus sebagai Injil, sebagai kabar baik.

Dalam kitab-kitab Injil, Tuhan sendiri adalah benih kerajaan itu. Dalam kitab Kisah Para Rasul kita melihat penyebaran benih ini. Khususnya, benih ini tersebar melalui pemberitaan Injil Yesus Kristus dan Kerajaan Allah oleh Filipus. Hari ini kebanyakan pemberitaan Injil di antara orang-orang Kristen tidak mencakup Kerajaan Allah. Karena itu, kita harus memberitakan Injil yang memiliki Kristus sebagai isinya dan juga memiliki Kristus sebagai kerajaan.

Kita perlu mengalami Kristus bukan hanya sebagai Juruselamat dan hayat kita saja, tetapi juga sebagai Kerajaan Allah. Ketika kita menerima Kristus, kita menerima Penyelamat, hayat, dan kerajaan. Sekarang kita harus menempuh kehidupan kerajaan. Kemudian kita akan tahu bagaimana memberitakan Kerajaan Allah sebagai Injil.

Pemberita-pemberita tertentu pada hari ini fasih dan tahu bagaimana merangsang orang dan menggugah orang. Dalam pembicaraannya, para pemberita ini mungkin memakai kisah-kisah dan ilustrasi-ilustrasi. Tetapi jika Anda menguji isi berita-berita mereka, Anda akan menemukan bahwa hanya ada sedikit tentang Kristus atau kerajaan. Pemberitaan Injil kita harus berbeda. Kita harus memberitakan Injil yang tinggi dan kaya dengan Kristus sebagai kerajaan itu. Dalam pemberitaan kita, kita harus memiliki Kristus bukan hanya sebagai Juruselamat dan hayat, tetapi juga sebagai kerajaan.

Saya senang bahwa Lukas dalam tulisannya menunjuk-kan bahwa Filipus memberitakan Injil mengenai Yesus Kris-tus dan Kerajaan Allah. Meskipun Lukas tidak memberikan pemberitaan Filipus secara terperinci, tetapi ia memberi tahu kita bahwa Filipus memberitakan Kristus dan Keraja-an Allah sebagai Injil. Ini harus menjadi satu teladan bagi pemberitaan Injil kita pada hari ini.

ORANG-ORANG KUDUS MEMBERITAKAN

FIRMAN ALLAH SEBAGAI INJIL

Kita telah melihat bahwa menurut 8:4, orang-orang yang tersebar itu pergi ke seluruh negeri memberitakan firman Allah sebagai Injil. Kita telah melihat bahwa ayat ini mengandung teladan dari orang-orang kudus yang ber-migrasi untuk penyebaran Injil. Sekarang kita perlu membahas teladan lain dalam ayat ini orang-orang kudus memberitakan firman Allah sebagai Injil.

Penuh dengan Firman Tuhan

Di antara banyak pemberitaan Injil pada hari ini hanya ada sedikit Firman Allah. Sebaliknya, ada kisah-kisah dan ilustrasi-ilustrasi. Pembicaraan kita tidak boleh seperti itu. Kita perlu mempelajari firman dalam Perjanjian Baru. Kita perlu mempelajari firman dalam Perjanjian Baru dan dijenuhi olehnya. Jika demikian, ketika kita membuka mulut untuk berbicara, firman itu akan keluar dengan spontan. Tidak perlu memakai begitu banyak kisah dan ilustrasi. Kita harus dengan sederhana memberikan firman itu kepada orang-orang.

Orang-orang mungkin terhibur oleh kisah-kisah dan ilustrasi-ilustrasi dari para pemberita itu, tetapi mereka tidak dapat menerima banyak firman. Ini adalah kemiskinan dalam sebagian besar dari pengajaran dan pemberitaan pada hari ini.

Kita yang ada dalam pemulihan Tuhan harus dipenuhi dengan firman Tuhan. Berita-berita Pelajaran-Hayat tidak mengandung banyak kisah, tetapi berita-berita ini penuh dengan kekayaan firman Allah. Orang-orang kudus tidak menerima bantuan dari kisah-kisah; mereka menerima bantuan dari firman yang solid, yang ilahi.

Firman yang Menyampaikan Kristus dan Kerajaan

Sewaktu kita pergi untuk penyebaran Injil, kita harus pergi dengan Injil Kristus dan kerajaan dalam firman itu. Hanya firman ilahi yang dapat mengandung dan menyampaikan Kristus dan Kerajaan Allah. Pengajaran-pengajaran lain tidak dapat menyampaikan Kristus, tidak dapat menjadi bejana untuk menyampaikan Kristus kepada orang lain. Hanya firman kudus, firman ilahi, yang berguna dalam menyampaikan Kristus sebagai Kerajaan Allah kepada orang lain.

Ketika kita menaburkan firman ke dalam orang lain, kita juga menaburkan Kristus ke dalam mereka. Menurut Injil, kita tidak dapat memisahkan Kristus dari firman itu. Kristus adalah benih, dan benih ini adalah firman. Karena itu, kita perlu dipenuhi dengan firman dan menaburkannya ke dalam orang lain.

Dalam berita ini kita telah melihat beberapa butir penting mengenai pemberitaan Injil. Isi Injil kita haruslah Yesus Kristus dan Kerajaan Allah. Selain itu, kita perlu memberitakan Kristus dan Kerajaan Allah dalam firman dan dengan firman. Untuk memberitakan Kristus dan kerajaan, dan bahkan untuk memberitakan Kristus sebagai Kerajaan Allah dengan cara ini, kita perlu mengenal Kitab Suci. Kita perlu dipenuhi dan dijenuhi dengan firman ilahi dalam Perjanjian Baru.