← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 21/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(16)

Pembacaan Alkitab: Kis. 7:1—8:3

Setelah Stefanus ditentang dan ditangkap (6:8—7:1), ia bersaksi di hadapan Mahkamah Agama (7:2-53), dan kemudian ia dilempari batu (7:54-60). Setelah ini, dalam 8:1-3 tercatat mengenai penganiayaan gereja di Yerusalem.

KESAKSIAN STEFANUS

Allah yang Mulia Menampakkan Diri

kepada Abraham

Sewaktu Stefanus bersaksi di hadapan Mahkamah Agama, ia berkata, ”Hai Saudara-saudara dan Bapak-bapak, dengarkanlah! Allah yang Mahamulia telah menampakkan diri-Nya kepada bapak leluhur kita Abraham, ketika ia masih di Mesopotamia, sebelum ia menetap di Haran, dan berfirman kepadanya: Keluarlah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan pergilah ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu” (ay. 2-3). Kemuliaan yang dibicarakan dalam ayat 2 ini mungkin adalah kemuliaan yang terlihat (lihat ay. 55), seperti ketika awan dan api tertampak oleh orang-orang Israel (Kel. 16:10; 24:16-17; Im. 9:23; Bil. 14:10; 16:19; 20:6; Ul. 5:24) dan memenuhi Kemah dan Bait (Kel. 40:35; 1 Raj. 8:11). Allah Mahamulia yang sedemikianlah yang telah menampakkan diri kepada Abraham dan memanggilnya. Kemuliaan-Nya adalah daya tarik yang sangat besar bagi Abraham, yang memisahkan (menguduskan) dia dari dunia kepada Allah (Kel. 29:43); juga adalah dorongan dan tenaga yang sangat besar, yang memungkinkan dia mengikuti Allah (Kej. 12:1, 4). Dalam prinsip yang sama, Allah memanggil kaum beriman Perjanjian Baru dengan kemuliaan-Nya yang tidak terlihat (2 Ptr. 1:3).

Pengajaran Stefanus dalam Kisah Para Rasul 7 dimulai dengan perkataan mengenai Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham. Kita tidak tahu dari mana Stefanus mendapatkan pengertian ini, karena dalam kitab Kejadian tidak dikatakan bahwa Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham. Tetapi Stefanus mengatakan bahwa ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham, Dia menampakkan diri sebagai Allah yang mulia. Meskipun kita tidak tahu dari mana Stefanus mempelajari hal ini, kita percaya bahwa perkataannya dikatakan menurut inspirasi Roh Kudus. Oleh karena itu, berita Stefanus dimulai dengan Allah yang mulia memanggil Abraham.

Perkataan Stefanus tentang Allah yang mulia itu sesuai dengan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Dalam surat kirimannya yang kedua, Petrus memberi tahu kita bahwa Allah dengan kemuliaan-Nya telah memanggil kita kepada kemuliaan-Nya (2 Ptr. 1:3). Karena kita telah dipanggil oleh kemuliaan Allah yang tidak kelihatan, maka akhirnya kita menerima Tuhan Yesus, memahami bahwa Dia itu lebih baik daripada apa pun dan siapa pun. Misalnya, kaum beriman China tertentu mengapresiasi Yesus Kristus lebih daripada Kong Hu Cu. Karena apresiasi ini, akhirnya mereka percaya kepada Tuhan dan menerima Dia. Evaluasi dari Kristus ini menunjukkan kemuliaan.

Allah yang mulia memanggil Abraham, dan Abraham ditarik dan ditangkap oleh kemuliaan itu. Prinsipnya sama dengan kita pada hari ini. Kita semua telah ditangkap oleh Tuhan dengan kemuliaan-Nya yang tidak kelihatan. Kita telah ditangkap oleh kemuliaan-Nya, dan kita tidak dapat melarikan diri.

Keturunan Abraham

Dalam 7:4 Stefanus melanjutkan berkata tentang Abraham, ”Lalu keluarlah ia dari negeri orang Kasdim, lalu menetap di Haran. Setelah ayahnya meninggal, Allah menyuruh dia pindah dari situ ke tanah ini, tempat kamu diam sekarang.” Kelihatannya Abraham yang melakukan perjalanan ke Kanaan (Kej. 12:4-5), tetapi sebenarnya Allah yang memindahkannya ke tanah permai.

Kisah Para Rasul 7:5-6 melanjutkan, ”dan di situ Allah tidak memberikan milik pusaka kepadanya, bahkan setapak tanah pun tidak, tetapi Ia berjanji akan memberikan tanah itu kepadanya menjadi miliknya dan milik keturunannya, walaupun pada waktu itu ia tidak mempunyai anak. Beginilah firman Allah bahwa keturunannya akan menjadi pendatang di negeri asing dan mereka akan diperbudak dan dianiaya empat ratus tahun lamanya.” Negeri asing dalam ayat 6 adalah Mesir (Kel. 1:1), dan penganiayanya mengacu kepada orang-orang Mesir (Kel. 1:11, 13-14). Kata ”mereka” mengacu kepada ”keturunan”. Menurut ayat 6, keturunan Abraham ini akan dianiaya selama empat ratus tahun. Ini berbeda dengan Galatia 3:17 yang membicarakan tentang empat ratus tiga puluh tahun. Ini adalah panjangnya waktu yang dihitung dari saat Allah memberi janji kepada Abraham dalam Kejadian 12 sampai pada saat Ia memberikan hukum Taurat melalui Musa dalam Keluaran 20. Periode ini dianggap oleh Allah sebagai saat bangsa Israel tinggal di Mesir (Kel. 12:40-41). Empat ratus tahun yang disebut dalam Kejadian 15:13 dan Kisah Para Rasul 7:6, dihitung dari saat Ismael mengolok-olok Ishak dalam Kejadian 21 sampai pada saat bangsa Israel keluar dari tirani Mesir dalam Keluaran 12. Inilah periode keturunan Abraham menderita penganiayaan dari orang-orang bukan Yahudi.

Yakub, Yusuf, dan Musa

Dalam Kisah Para Rasul 7:14-15 Stefanus membicarakan tentang kepergian Yakub ke Mesir: ”Kemudian Yusuf menyuruh menjemput Yakub, ayahnya, dan semua sanak saudaranya, tujuh puluh lima jiwa banyaknya. Lalu pergilah Yakub ke tanah Mesir. Di situ ia meninggal, ia dan nenek moyang kita.” Kita harus membandingkan bilangan 75 dalam ayat 14 dengan bilangan 70 dalam Kejadian 46:27 dan Keluaran 1:5. Stefanus mengutip jumlah ini dari Septuagin, yang menyebutkan lima keturunan tambahan dari Yusuf dalam Kejadian 46:20. Maka, dia menyebut jumlah keluarga Yakub yang datang ke Mesir adalah 75, bukan 70.

Dalam Kisah Para Rasul 7:18 Stefanus mengatakan bahwa ”tampil seorang raja lain memerintah tanah Mesir, seorang yang tidak mengenal Yusuf.” Kata ”lain” di sini dalam bahasa aslinya berarti berbeda (dalam karakter). Raja yang ditunjukkan di sini bukan hanya raja yang lain, bahkan raja yang berbeda karakternya.

Dalam 7:20-44 Stefanus sengaja dengan positif menyampaikan cerita panjang tentang Musa. Dia melakukan hal ini untuk membela dirinya di hadapan penetang-penentang yang menuduh dia menghujat Musa (6:11). Dalam ayat 20 Stefanus berkata, ”Pada waktu itulah Musa lahir dan ia elok di mata Allah. Tiga bulan lamanya ia diasuh di rumah ayahnya.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”elok di mata Allah” juga berarti ”elok bagi Allah” Ini adalah ungkapan lazim bahasa Ibrani yang berarti elok di mata Allah; karenanya sangatlah elok.

Dalam ayat 21 Stefanus melanjutkan, ”Lalu ia dibuang, tetapi putri Firaun memungutnya dan mengasuhnya seperti anaknya sendiri.” Kata ”dibuang” di sini juga dapat diterjemahkan ”dibuang di luar (sampai mati)”.

Kisah Para Rasul 7:22 mengatakan, ”Musa pun dididik dalam segala hikmat orang Mesir, dan ia berkuasa dalam perkataan dan perbuatannya.” Hikmat yang disebutkan di sini adalah hikmat dalam ilmu pengetahuan.

Dalam 7:30 Stefanus berkata, ”Sesudah empat puluh tahun tampaklah kepadanya seorang malaikat di padang gurun Gunung Sinai di dalam nyala api yang keluar dari semak duri.” Di sini dan dalam ayat 35-38 malaikat dalam Perjanjian Lama adalah Kristus Tuhan, yaitu Yehova, Allah Tritunggal (Kel. 3:2-16; Hak. 6:12-24; Za. 2:6-11). Ini dibuktikan dengan sebutan ”Tuhan” dan ”Allah” dalam ayat-ayat selanjutnya. Tuhan dan Allah dalam ayat 31-35 adalah malaikat dalam ayat 30, 35, dan 38.

Bani Israel di Padang Gurun

Dalam 7:41-43 Stefanus melanjutkan berkata, ”Lalu pada waktu itu mereka membuat sebuah anak lembu dan mempersembahkan persembahan kepada berhala itu dan mereka bersukacita tentang apa yang dibuat sendiri oleh mereka. Lalu berpalinglah Allah dari mereka dan membiarkan mereka beribadah kepada bala tentara langit, seperti yang tertulis dalam kitab nabi-nabi: Apakah kamu mempersembahkan kepada-Ku kurban sembelihan dan persembahan selama empat puluh tahun di padang gurun itu, hai kaum Israel? Malahan kamu justru mengusung kemah Molokh dan bintang dewamu Refan, patung-patung yang kamu buat itu untuk disembah. Karena itu, Aku akan membawa kamu ke dalam pembuangan, ke seberang Babel.” Dalam ayat 42 melayani bala tentara langit adalah satu penyembahan kepada bintang. Kemah Molokh dalam ayat 43 adalah kemah/ kuil ilah yang dapat dipindah-pindahkan, diangkut dalam perarakan (Vincent). Refan adalah dialek Mesir untuk Saturnus.

Tempat Kediaman Allah

Dalam ayat 44 Stefanus sampai pada perkara tentang tempat kediaman Allah, kemah kesaksian. Mengenai hal ini Stefanus berkata, ”Kemah Kesaksian ada pada nenek moyang kita di padang gurun, seperti yang diperintahkan Allah kepada Musa untuk dibuatnya menurut contoh yang telah dilihatnya. Kemah itu diterima nenek moyang kita dan dengan pimpinan Yosua dibawa masuk ke tanah ini ketika tanah ini direbut dari bangsa-bangsa lain yang dihalau Allah dari hadapan nenek moyang kita; demikianlah sampai zaman Daud. Daud telah mendapat anugerah di hadapan Allah dan ia memohon, supaya ia diperkenankan untuk mendapatkan suatu tempat kediaman bagi Allah Yakub” (ay. 44-46). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa satu generasi demi satu generasi memelihara kemah itu. Namun, Allah tidak puas, dan Daud, seorang manusia yang sesuai dengan hati Allah, mengetahuinya. Karena itu, Daud mencari tempat kediaman yang lebih baik bagi Allah. Tetapi, akhirnya Salomolah yang membangun satu rumah untuk Allah (ay. 47). Tetapi Allah tidak dapat dipuaskan dengan apa pun yang dibuat oleh tangan manusia. Allah perlu sesuatu yang lebih baik. Dalam pembicaraannya, Stefanus mulai dengan Allah yang mulia dan mencakup banyak perkara sampai ia membicarakan tempat kediaman Allah.

Dalam ayat 48-50 Stefanus melanjutkan, ”Tetapi Yang Mahatinggi tidak tinggal di dalam rumah-rumah buatan tangan manusia, seperti yang dikatakan oleh nabi: Langit adalah takhta-Ku dan bumi adalah tumpuan kaki-Ku. Rumah apakah yang akan kamu dirikan bagi-Ku, demikian firman Tuhan, tempat apakah yang akan menjadi perhentian-Ku? Bukankah tangan-Ku sendiri yang membuat semuanya ini?” Dalam ayat 48 Stefanus menyebut Allah sebagai Yang Mahatinggi. Stefanus menyebut Allah, Allah Yang Mahamulia dan Yang Mahatinggi untuk membenarkan diri di hadapan penentang-penentang, yang menuduhnya menghujat Allah (6:11).

Dalam ayat 48 Stefanus mengatakan bahwa Yang Mahatinggi tidak tinggal di dalam rumah-rumah buatan tangan manusia. Ini menyiratkan bahwa Allah akan meninggalkan Bait Perjanjian Lama yang material dan memulai satu zaman yang baru, supaya umat-Nya dapat menyembah Dia dalam roh (Yoh. 4:24), tempat kediaman rohani Allah, gereja (Ef. 2:22).

Perkataan dalam 7:49 menunjukkan bahwa Tuhan akan mencari suatu tempat kediaman rohani dalam roh ma-nusia. Ini dibuktikan oleh bagian Yesaya 66:1-2, yang tidak dikutip yang mengatakan, ”Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang miskin dan yang menyesal dalam roh” (Tl.).

Perkataan yang Tegas untuk Para Penentang

Dalam ayat 51 Stefanus mengatakan satu perkataan yang sangat tegas kepada para penentangnya, ”Hai orang-orang yang keras kepala, yang keras hati dan tuli, kamu se-lalu menentang Roh Kudus, sama seperti nenek moyangmu, demikian juga kamu.” Karena Stefanus penuh dengan Roh Kudus (ay. 55) dan bersatu dengan Tuhan Sang Roh (1 Kor. 6:17), maka menentang dia berarti menentang Roh Kudus. Karena itu, di kemudian hari Tuhan menunjukkan kepada Saulus, salah satu penganiaya Stefanus (Kis. 7:58; 8:1), bahwa dia sedang menganiaya Tuhan (9:4).

Dalam ayat 52-53 Stefanus melanjutkan, ”Siapa dari nabi-nabi yang tidak dianiaya oleh nenek moyangmu? Bahkan mereka membunuh orang-orang yang lebih dahulu memberitakan tentang kedatangan Orang Benar, yang sekarang telah kamu khianati dan bunuh. Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, akan tetapi kamu tidak menurutinya.” Dalam ayat 53 ”penyampaian” menunjukkan hukum Taurat Allah ditetapkan melalui para malaikat dan menjadi ketetapan-ketetapan malaikat.

PELEMPARAN BATU TERHADAP STEFANUS

Kisah Para Rasul 7:54 mengatakan, ”Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi.” Di sini terjemahan langsung dari ”tertusuk” berarti ”digergaji”.

Stefanus Melihat Kemuliaan Allah dan Yesus Berdiri di Sebelah Kanan Allah

Ayat 55 melanjutkan, ”Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.” Bahasa Yunani yang diterjemahkan ”penuh” adalah pleres, bentuk ajektiva dari pleroo, menurut penggunaan di sini dan dalam 6:3, 5; 11:24; dan Luk. 4:1. Dalam 7:55 Stefanus penuh dengan Roh itu di dalam dan secara esensial, seperti yang disebut dalam 13:52. Ini mengacu kepada hayat, bukan kepada pekerjaan.

Menurut 7:55, Stefanus melihat kemuliaan Allah. Ini adalah satu pengakuan dan dorongan yang sangat besar bagi orang yang dianiaya.

Ayat 55 mengatakan bahwa Stefanus juga melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Dalam hal kenaikan Tuhan, biasanya disebut duduk di sebelah kanan Allah (Mat. 26:64; Ibr. 1:3, 13). Tetapi Stefanus melihat Dia sedang berdiri. Ini menunjukkan bahwa Tuhan sangat memperhatikan orang-orang yang dianiaya bagi-Nya.

Stefanus tidak mempedulikan lingkungan. Tetapi dengan penuh Roh, ia menatap ke langit. Dalam 7:2 Stefanus mengatakan bahwa Allah yang mulia menampakkan diri kepada Abraham. Sekarang kita diberi tahu bahwa Stefanus melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah. Dalam seluruh Perjanjian Baru hal ini hanya terjadi satu kali.

Dalam 7:56 Stefanus berkata, ”Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.” Bumi menolak Stefanus dan tertutup baginya, tetapi langit terbuka kepadanya, menunjukkan bahwa surga be-serta dia dan untuk dia.

Ayat 57-58 mengatakan, ”Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia. Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus.” Di sini kita melihat bahwa Saulus, yang kemudian menjadi rasul (13:9), membantu para penganiaya dalam pembunuhan terhadap Stefanus. Saulus pasti sangat terkesan dengan apa yang se-dang terjadi sewaktu Stefanus dilempari batu.

Stefanus Menyeru Nama Tuhan

Kisah Para Rasul 7:59 mengatakan, ”Sementara mereka melemparinya Stefanus berseru, katanya: Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku” (Tl.). Di sini kita melihat bahwa sewaktu Stefanus dilempari batu, ia menyeru nama Tuhan Yesus. Tentunya, Stefanus tidak mengatakan dengan lemah lembut, ”Tuhan Yesus, belas kasihanilah aku.” Sebaliknya, ia dengan nyaring berseru kepada nama Tuhan, dengan berkata, ”Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Menurut ayat 60, Stefanus berlutut dan ”berseru dengan suara nyaring, Tuhan . . . “ Dari perkara Stefanus kita melihat bahwa berseru kepada nama Tuhan adalah sesuatu yang dapat didengar.

Ayat 60 mengatakan, ”Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring: Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka! Sesudah berkata demikian, ia pun meninggallah.” Di sini kita melihat bahwa doa Stefanus bagi para penganiayanya sama seperti doa Tuhan, yang dia kasihi dan perhidupkan (Luk. 23:34).

PENGANIAYAAN TERHADAP GEREJA

DI YERUSALEM

Saulus Menyetujui Pembunuhan Stefanus

Bagian yang pertama dari 8:1 mengatakan, ”Saulus juga setuju dengan pembunuhan atas Stefanus.” Kapan saja kita setuju terhadap sesuatu, seperti yang dilakukan Saulus, kita menganggap diri kita adalah orang yang cukup lumayan. Jika kita tidak menganggap diri kita lumayan, kita tidak akan menyetujui sesuatu dengan cara ini. Kita tidak akan peduli apa yang dilakukan orang lain. Orang-orang yang mengkritik gereja maupun orang-orang yang menyetujui apa yang dilakukan gereja, menganggap diri mereka sendiri orang yang lumayan. Dalam 8:1 Saulus orang muda itu menyetujui penganiayaan dan pembunuhan atas Stefanus, karena ia menganggap dirinya sendiri cukup lumayan. Sebenarnya, seperti yang ditunjukkan 8:3, Paulus memang seorang tokoh yang lumayan ia menjadi pimpinan penganiaya gereja.

Penganiayaan yang Hebat terhadap Gereja di Yerusalem

Kisah Para Rasul 8:1b mengatakan, ”Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.” Ini adalah gereja (jemaat) pertama yang didirikan di suatu lokal, berada di satu kota dalam wilayah pemerintahan kota Yerusalem. Inilah gereja lokal dalam lokalitasnya, seperti yang dinyatakan Tuhan dalam Matius 18:17. Ini bukan gereja universal, yang diwahyukan oleh Tuhan dalam Matius 16:18, tetapi hanya satu bagian dari gereja universal, Tubuh Kristus (Ef. 1:22-23). Catatan Perjanjian Baru mengenai perkara ini (gereja didirikan dalam lokalitasnya) selalu konsisten (13:1; 14:23; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 8:1; Gal. 1:2; Why. 1:4, 11).

Kecuali Rasul-rasul, Semua Tersebar

Kisah Para Rasul 8:1 dengan jelas mengatakan bahwa semua orang beriman tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria, kecuali rasul-rasul. Karena Alkitab mengatakan hal ini, kita perlu mempercayainya.

Injil Tuhan itu penuh kuasa dan menang di Yerusalem. Meskipun hanya dua belas rasul yang tetap tinggal, tidak lama sebelumnya ada sejumlah besar orang yang datang untuk percaya kepada Tuhan. Sebelum penganiayaan itu, pasti ada ribuan orang beriman di Yerusalem. Kemudian selama penganiayaan yang hebat terhadap gereja, semua orang beriman ini pergi, kecuali rasul-rasul. Tetapi karena Injil sangat kuat, segera setelah penyebaran orang-orang kudus itu, ada sejumlah besar orang yang bangkit untuk percaya kepada Tuhan Yesus. Kelihatannya semakin banyak orang beriman pergi, semakin banyak orang yang datang untuk percaya kepada Kristus. Tampaknya demikianlah satu-satunya cara untuk memahami perkara dalam 8:3 ini dalam terang kitab Kisah Para Rasul secara keseluruhan.