← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 20/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(15)

Pembacaan Alkitab: Kis. 6:8-15

Kisah Para Rasul 6:8—8:3 menggambarkan meningkatnya penganiayaan oleh kaum agamawan Yahudi. Dalam 6:8—7:60 kita memiliki satu catatan tentang martirnya Stefanus. Dalam berita ini kita akan membahas 6:8-15.

DITENTANG DAN DITANGKAP

Ayat 8 mengatakan, ”Stefanus, yang penuh dengan anugerah dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.” Seperti yang telah kita tunjukkan, mujizat-mujizat dan tanda-tanda ini bukanlah bagian utama kesaksian Allah, yaitu Kristus yang menjadi daging, tersalib, bangkit, dan naik ke surga juga bukan bagian dari keselamatan sempurna Allah.

Ayat 9-10 melanjutkan, ”Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut Orang-orang Merdeka mereka berasal dari Kirene dan Aleksandria bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Mereka berdebat dengan Stefanus, tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia ber-bicara.” Ayat 9 membicarakan tentang sinagoga dari Orang-orang Merdeka. Orang-orang Merdeka adalah orang-orang yang Bebas. Ada sejumlah sinagoga di Yerusalem yang terdiri atas orang-orang Yahudi yang kembali menurut bahasa masing-masing yang telah mereka pelajari pada waktu mereka tersebar (lihat 2:9-11). Kata ”sinagoga” adalah bentuk serapan dari kata Yunani sunagoge, yang terdiri dari sun, bersama, dan ago, membawa; jadi, ini adalah suatu perhimpunan, perkumpulan pertama; arti khusus, tempat berkumpul. Kata ini digunakan dalam Perjanjian Baru untuk menunjukkan jemaat Yahudi (13:43; 9:2; Luk. 12:11) dan tempat pertemuan mereka (Luk. 7:5), tempat mereka mencari pengetahuan akan Allah melalui mempelajari Kitab Suci (Luk. 4:16-17; Kis. 13:14-15). Di Yerusalem terdapat sejumlah sinagoga untuk berbagai macam orang Yahudi.

Kisah Para Rasul 6:11-12 mengatakan, ”Lalu mereka mempengaruhi beberapa orang untuk mengatakan: Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah. Dengan jalan demikian mereka menghasut orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama.” Mahkamah Agama adalah pengadilan orang-orang Yahudi yang paling tinggi, suatu badan yang terdiri atas imam-imam kepala, tua-tua, ahli hukum, dan ahli Taurat. Mahkamah Agama menghukum mati Tuhan Yesus (Mat. 26:59) dan menganiaya kaum beriman. Ini menunjukkan bahwa Yudaisme telah jatuh ke tangan musuh Allah, Iblis, dan telah dipakai olehnya untuk merusak pergerakan Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya bagi perampungan kehendak kekal-Nya.

TUDUHAN-TUDUHAN DARI PARA PENGANIAYA

Kisah Para Rasul 6:13-14 selanjutnya mengatakan, ”Lalu mereka mengajukan saksi-saksi palsu yang berkata: Orang ini tidak henti-hentinya mengucapkan perkataan yang menentang tempat kudus ini dan hukum Taurat, sebab kami telah mendengar dia mengatakan bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan meruntuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.” Dalam ayat 13 ”tempat kudus ini” mengacu kepada bait (Mat. 24:15; Mzm. 68:36; Yeh. 7:24; 21:2).

Ayat 15 mengatakan, ”Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.” Fakta bahwa muka Stefanus seperti muka seorang malaikat menandakan penampilan surgawi. Stefanus adalah manusia di bumi, tetapi dia mengekspresikan penampilan surgawi ketika sedang dianiaya.

PERUBAHAN ZAMAN DAN MASA TRANSISI

Menurut ayat 14, para penentang menuduh Stefanus mengatakan bahwa Yesus akan menghancurkan Bait dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa. Ini menunjukkan bahwa pasti ada perkataan yang tersebar di antara kaum beriman tentang peruntuhan Bait, seperti yang dinubuatkan Tuhan dalam Matius 23:37-39 dan 24:2, dan perkataan tentang pengakhiran zaman hukum Taurat, seperti yang dibicarakan Tuhan dalam Matius 11:13. Orang-orang Yahudi penentang itu memutarbalikkan perkataan orang-orang beriman, sama seperti dalam Matius 27:40 ketika mereka menyalibkan Tuhan, mereka memutarbalikkan perkataan yang Tuhan katakan dalam Yohanes 2:19. Tak diragukan lagi, penentangan orang-orang Yahudi itu adalah hasutan Iblis untuk menghalangi ekonomi Perjanjian Baru Allah, dan dasar yang dipakai Iblis untuk menimbulkan penentangan ini adalah perubahan zaman, yang ber-lawanan dengan tradisi Yahudi. Ekonomi Perjanjian Baru Allah adalah untuk mendapatkan satu zaman baru yang mutlak terpisah dari Yudaisme. Ini melanggar tradisi-tradisi yang telah mereka warisi dari generasi ke generasi, karena itu orang-orang Yahudi marah dan bangkit menentang. Penentangan ini sudah dimulai terhadap ministri Tuhan dalam kitab-kitab Injil dan makin bertambah hebat pada ministri para rasul dalam kitab ini. Pada masa itu pergerakan Perjanjian Baru Tuhan sedang melalui masa transisi.

Menurut catatan Lukas dalam kitab ini, gereja di tengah-tengah orang Yahudi, termasuk para rasul sebermula, tidak bisa dengan sukses melalui transisi ini, karena pengaruh latar belakang Yahudi yang masih ada dan tentangan yang menjerat dari kerabat Yahudi mereka. Dalam kitab ini, masalah ini terus-menerus mengganggu mereka (11:1-3; 15:1-5; 21:18-26). Bahkan Rasul Paulus pun dalam bahaya dibawa kembali kepada praktek-praktek Yahudi pada kunjungannya yang terakhir ke Yerusalem (21:20-26).

Dalam kitab Kisah Para Rasul kaum beriman Yahudi itu masih memelihara hukum Taurat Perjanjian Lama, seperti yang ditunjukkan oleh perkataan dalam 21:20 yang dikatakan kepada Paulus oleh Yakobus dan para penatua di Yerusalem. Yakobus, para penatua di Yerusalam, dan beribu-ribu kaum beriman Yahudi itu masih tetap tinggal dalam suatu percampuran antara iman Kristen dan hukum Taurat Musa. Mereka bahkan menasihatkan Paulus untuk mem-praktekkan percampuran semi Yahudi yang demikian (21:17-26). Mereka tidak sadar bahwa zaman hukum Taurat itu telah benar-benar berlalu dan bahwa zaman kasih karunia harus dihormati sepenuhnya, dan bahwa sikap acuh tak acuh akan perbedaan antara kedua zaman ini akan berlawanan dengan administrasi zaman Allah dan akan menjadi suatu kerusakan besar bagi rencana ekonomikal Allah bagi pembangunan gereja sebagai ekspresi Kristus.

Bani Israel memiliki hukum Taurat yang diberikan melalui Musa. Mereka juga memiliki satu sistem penyembahan yang melibatkan Bait, para imam, dan persembahan-persembahan. Dua hal yang utama bagi bani Israel adalah hukum Taurat dan Bait sebagai inti penyembahan mereka. Hukum Taurat dan Bait adalah lambang Kristus. Mendapatkan hukum Taurat yang tertulis dan Bait yang materi itu bukanlah maksud Allah. Maksud Allah adalah mendapatkan Kristus yang hidup sebagai hukum hayat dan juga mendapatkan Kristus sebagai bait yang hidup utuk ekonomi Perjanjian Baru Allah. Allah ingin mendapatkan Kristus sebagai hukum yang hidup di dalam kita dan mendapatkan Kristus sebagai bait yang hidup di luar kita, supaya Dia dapat merampungkan ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Ekonomi ini benar-benar adalah hal Allah Tritunggal membaurkan diri-Nya sendiri dengan umat pilihan-Nya untuk menghasil kan suatu kesatuan yang korporat bagi ekspresi-Nya. Inilah maksud Allah dari mulanya dalam kitab Kejadian. Tetapi, bani Israel memperhatikan hukum Taurat dan Bait itu dengan cara yang tradisional menurut huruf-huruf yang mati.

Seribu lima ratus tahun setelah hukum Taurat itu diberikan, Allah Tritunggal masuk dalam inkarnasi. Suatu hari Dia yang berinkarnasi ini berkata, ”Semua nabi dan kitab Taurat bernubuat hingga tampilnya Yohanes” (Mat. 11:13). Ini menunjukkan akhir dari zaman Perjanjian Lama. Meskipun prinsip-prinsip hukum Taurat itu tidak dapat diakhiri, tetapi zaman hukum Taurat itu telah berakhir.

Selain itu, dalam Matius 23:37-39 Tuhan meninggalkan Yerusalem dengan Baitnya. Dalam ayat 38 Dia berkata, ”Lihatlah, rumahmu ini akan ditinggalkan dan menjadi sunyi.” Di sini ”rumah” mengacu kepada rumah Allah, yang adalah Bait Suci (Mat. 21:12-13). Nubuat mengenai peruntuhan Bait ini berhubungan dengan yang ada dalam Matius 24:2, di mana Tuhan mengatakan mengenai Bait itu, ”Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan.” Ini digenapi pada 70 M, ketika Titus dan tentara Romawi menghancurkan Yerusalem. Karena itu, dalam Matius 23:38 dan 24:2 Tuhan menunjukkan kepada murid-murid-Nya bahwa Bait yang material itu, yang telah menjadi suatu penghalang bagi ekonomi Allah, akan dihancurkan.

Tuhan Yesus dengan sederhana menunjukkan bahwa hukum Taurat itu akan diakhiri dan bait itu akan diruntuhkan. Tidak diragukan lagi, perkataan-Nya itu memberi kesan yang dalam kepada murid-murid. Mereka pasti bersekutu mengenai pengakhiran hukum Taurat dan peruntuhan Bait, karena Bait dan hukum Taurat itu adalah hal yang besar bagi orang-orang Yahudi.

Setelah Tuhan Yesus naik ke surga dan Roh itu dicurah-kan, ada suatu pergerakan yang hebat di antara murid-murid-Nya. Para penentang mulai memutarbalikkan perkataan yang sudah beredar di antara kaum beriman mengenai akhir dari zaman hukum Taurat dan peruntuhan Bait. Khususnya, para penentang menuduh Stefanus, ”mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah” dan mengatakan bahwa, ”Yesus, orang Nazaret itu, akan meruntuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita” (Kis. 6:11, 14). Jelaslah bahwa para penentang itu memutarbalikkan kebenaran. Tuhan Yesus telah mem-bicarakan mengenai akhir dari zaman hukum Taurat dan peruntuhan Bait itu. Tetapi para penentang itu memutar-balikkan perkataan-Nya.

Zaman yang lama adalah zaman hukum Taurat dan Bait. Zaman yang baru adalah zaman Kristus sebagai hu-kum hayat dan sebagai bait yang hidup. Di antara dua zaman ini ada satu masa transisi yang di dalamnya Allah sedang memindahkan umat pilihan-Nya dari zaman yang lama ke dalam zaman yang baru. Semua murid yang mula-mula, termasuk Petrus, berada di bawah pemindahan Allah ini. Mereka lahir dalam zaman yang lama, dan bertumbuh menurut pengetahuan dari zaman itu. Jadi, mereka adalah umat dari zaman yang lama. Tetapi, mereka telah dipanggil oleh Tuhan dan telah meluangkan waktu selama tiga setengah tahun bersama-Nya. Lagi pula, mereka meluangkan waktu selama empat puluh hari bersama-Nya setelah kebangkitan-Nya dengan cara yang ajaib, yang rohani. Kita mungkin mengira bahwa Allah memindahkan mereka sepenuhnya keluar dari zaman yang lama ke dalam zaman yang baru, yaitu keluar dari hukum Taurat yang harfiah dan Bait yang materi ke dalam Kristus sebagai hukum hayat dan sebagai bait yang hidup. Meskipun mereka telah mengenal Kristus secara demikian, mereka masih berada di bawah pengaruh Yudaisme yang kuat, dan mereka dikelilingi oleh kerabat Yahudi mereka. Karena itu, sulit bagi mereka untuk lepas dari latar belakang mereka yang lama.

Yakobus, saudara kandung Tuhan Yesus lebih lagi. Yakobus adalah seorang yang beribadah, saleh, dan sangat dihormati oleh orang-orang Yahudi. Sulit sekali baginya untuk dipalingkan dari latar belakang Yahudinya. Sebaliknya, ia mengambil pimpinan untuk tetap tinggal di dalamnya, seperti yang ditunjukkan oleh catatan Kisah Para Rasul 21.

Menurut Kisah Para Rasul 21, ketika Paulus melakukan kunjungannya yang terakhir ke Yerusalem, ia pergi mengunjungi Yakobus, dan semua penatua hadir di situ (ay. 18). Yakobus mendorong Paulus untuk kembali kepada praktek-praktek Yahudi tertentu: ”Di antara kami ada em-pat orang yang bernazar. Bawalah mereka bersama-sama dengan engkau, lakukanlah upacara penyucian diri bersama-sama dengan mereka dan tanggunglah biaya mereka, se-hingga mereka dapat mencukurkan rambutnya; maka semua orang akan tahu bahwa segala kabar yang mereka dengar tentang engkau sama sekali tidak benar, melainkan bahwa engkau tetap memelihara hukum Taurat” (ay. 23-24). Paulus mengikuti nasihat ini dan pergi ke Bait Allah dengan orang-orang yang telah bernazar itu. Sulit dipercayai bahwa Paulus dapat melakukan hal yang demikian setelah menulis kitab Roma dan kitab Galatia, kitab-kitab yang menunjukkan bahwa zaman hukum Taurat itu telah berlalu. Tetapi dalam Kisah Para Rasul 21, Paulus tidak dapat mengatasi lingkungan Yahudi itu.

Menurut catatan dalam Kisah Para Rasul, gereja di Yerusalem, termasuk dua belas rasul, tidak melalui masa transisi ini dengan sukses. Sebaliknya, mereka gagal. Kegagalan mereka beralih dengan mutlak adalah salah satu alasan Tuhan mengutus pasukan Romawi untuk menghancurkan Yerusalem beserta Baitnya. Campuran agamawi yang ada di Yerusalem juga dihancurkan pada waktu itu.

SITUASI HARI INI

Mengenai perlunya suatu peralihan dari zaman yang lama kepada zaman yang baru, kita bukan hanya memperhatikan pengetahuan Alkitab saja, tetapi juga penerapannya pada situasi hari ini. Bukan hanya hal-hal dalam Perjanjian Lama telah dibuat menjadi suatu tradisi agama, hal-hal dalam Perjanjian Baru pun dipakai dengan cara yang tradisional. Bahkan sebelum akhir abad yang pertama, orang-orang Kristen mulai membuat hal-hal dari ekonomi Perjanjian Baru Allah menjadi suatu tradisi agama. Jika Anda mempelajari sejarah gereja, Anda akan melihat kemerosotan terjadi setelah zaman para rasul. Akhirnya sewaktu kekristenan itu sampai kepada kita pada abad dua puluhan, kekristenan itu disajikan dengan cara yang tradisional. Akibatnya, kita tidak melihat ekonomi Perjanjian Baru Allah yang sesungguhnya.

Sungguh suatu belas kasihan bahwa kita berada dalam pemulihan Tuhan! Kita dapat mengatakan sejujurnya bahwa sedikitnya sampai suatu tingkat, kita telah dibawa kembali kepada ekonomi Perjanjian Baru Allah dengan cara yang tepat. Saya percaya bahwa jika orang-orang yang berada di dalam aliran Katolik dan yang berada di denominasi-deno-minasi mau menghadiri sidang perjamuan Tuhan di dalam gereja dan jujur tentang apa yang mereka amati, mereka akan mengakui bahwa di antara kita ada sesuatu yang riil dari ekonomi Perjanjian Baru Allah.

Kekristenan telah menjadi suatu agama tradisi. Sepanjang abad, ada beberapa hal dari ekonomi Perjanjian Baru Allah yang telah dipakai sebagai unsur-unsur untuk membentuk suatu tradisi. Seperti halnya Petrus dan Yohanes yang lahir dan bertumbuh dalam tradisi dari zaman yang lama, banyak sekali dari antara kita yang lahir dalam tradisi kekristenan dan bertumbuh menurut tradisi-tradisi itu. Karena itu, ada satu keperluan bagi Tuhan untuk memulihkan ekonomi Perjanjian Baru-Nya yang sesungguhnya.

Sebagaimana Petrus dan Yohanes berada dalam suatu masa transisi, hari ini kita juga berada dalam suatu masa transisi. Sewaktu kita sedang beralih ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah, kita harus diperingatkan oleh kegagalan-kegagalan Yakobus, Petrus, dan yang lainnya dan belajar dari kegagalan mereka. Kita harus belajar untuk tidak memperhatikan tradisi apa pun dan tidak berada di dalam pengaruh agama mana pun. Kita perlu tepat dan mutlak bagi peralihan Tuhan supaya kita dibawa keluar dari tradisi dan dibawa kembali kepada ekonomi Perjanjian Baru Allah yang murni. Apakah ekonomi Perjanjian Baru Allah itu? Tidak lain Yesus Kristus, manusia-Allah, sebagai segala sesuatu bagi kita. Dia adalah hukum kita, Bait kita, segalagala kita.

Dalam Pelajaran-Hayat Kisah Para Rasul ini, kita bukan hanya mempelajari Alkitab secara harfiah. Kita tidak hanya tertarik untuk mendapatkan pengetahuan alkitabiah. Oleh belas kasihan Tuhan kita perlu rela untuk dibawa oleh Dia ke dalam kedalaman dari kebenaran-kebenaran-Nya supaya kita dapat melihat apa yang ada di hati-Nya. Umat Allah perlu menyadari bahwa situasi agama hari ini telah jauh dari maksud Allah. Saya berharap Allah mau membelaskasihani semua orang pilihan-Nya, termasuk kaum beriman dalam seluruh kekristenan agar mereka dapat melihat terang yang sejati dan wahyu yang sejati dalam Alkitab mengenai eko-nomi Perjanjian Baru-Nya. Sebagai orang-orang yang ada dalam pemulihan Tuhan, kita bersyukur kepada-Nya atas apa yang telah Dia tunjukkan kepada kita dalam firman-Nya mengenai ekonomi-Nya. Kiranya kita semua dibantu oleh Tuhan untuk melihat terang dari kebenaran-kebenaran ilahi dalam Alkitab, supaya kita dapat sepenuhnya dibawa masuk ke dalam ekonomi Perjanjian Baru Allah.