PERTOBATAN SAULUS (2)
Pembacaan Alkitab: Kis. 9:1-19
Dalam berita ini kita akan melanjutkan pembahasan tentang pertobatan Saulus (9:1-19).
BERDOA SELAMA TIGA HARI
Ketika Saulus sudah dekat ke Damsyik, ”tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan mendengar suara yang berkata kepadanya, ”Saulus, Saulus, mengapa engkau menganiaya Aku?” (ay. 3-4). Setelah ia bangkit berdiri, ia membuka matanya, tetapi ia tidak dapat melihat apa-apa (ay. 8). Selama tiga hari Saulus tidak dapat melihat. Tuhan bukan hanya mengambil daya lihatnya, tetapi juga menanggulangi pikirannya yang pandai. Kita telah melihat bahwa Saulus terdidik dalam agama Ibrani, kebudayaan Yunani, dan politik Roma. Ia terdidik dalam tiga unsur dasar kebudayaan Barat. Dalam mengambil daya lihat Saulus, Tuhan Yesus ingin agar Saulus memikir-kan Dia.
Kisah Para Rasul 9:9 mengatakan bahwa Saulus, ”Selama tiga hari ia tidak dapat melihat dan selama itu juga ia tidak makan dan minum.” Apakah yang ia lakukan selama tiga hari itu? Jawaban pertanyaan ini ditemukan dalam firman Tuhan kepada Ananias yang tercatat dalam ayat 11: ”Bangkitlah dan pergilah ke jalan yang bernama Jalan Lurus, dan carilah di rumah Yudas seorang dari Tarsus yang bernama Saulus. Ia sedang berdoa.” Di sini kita melihat bahwa dalam tiga hari itu, Saulus sedang berdoa. Ia tidak dapat melihat apa-apa, dan ia tidak makan dan minum apa-apa. Apa yang dapat ia lakukan adalah berdoa.
Saya percaya bahwa ketika Saulus berdoa, ia berusaha menganalisis Yesus, mencari tahu siapakah Dia itu. Saulus mungkin berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku tahu bahwa Yesus telah dikubur, tetapi Ia berbicara kepadaku dari langit. Bagaimana mungkin hal ini terjadi? Yesus berkata bahwa aku sedang menganiaya Dia. Bagaimana mungkin Dia berada di antara mereka yang aku aniaya?” Selama tiga hari itu Paulus pasti berdoa tentang perkara-perkara ini.
MENERIMA BERITA YANG LENGKAP
TENTANG INJIL
Boleh jadi sewaktu Saulus sedang berdoa, visi demi visi dan wahyu demi wahyu mengenai Kristus dan gereja datang kepadanya. Pengalamannya selama hari-hari itu mungkin bagaikan menonton televisi surgawi yang di dalamnya ia melihat banyak hal mengenai Tuhan Yesus. Sewaktu ia melihat hal-hal itu, Saulus mungkin berkata, ”Yesus orang Nazaret itu adalah Yehova. Dia adalah Juruselamatku. Tidak heran para pengikut-Nya bersaksi dengan kuat bahwa Dia telah bangkit. Dia memang telah bangkit, karena Dia menampakkan diri kepadaku dari langit.” Saulus mungkin terus memikirkan kenaikan Tuhan yang menunjukkan inkarnasi, kehidupan insani, kematian, dan kebangkitan-Nya. Saulus mungkin mulai menyadari bahwa sebagai Dia yang sekarang berada di surga itu, Tuhan telah melalui proses inkarnasi, kehidupan insani, kematian, kebangkitan, dan kenaikan.
Kita perlu terkesan dengan fakta bahwa selama tiga hari itu Saulus tidak makan atau minum. Apa yang ia lakukan adalah berdoa. Sewaktu ia sedang berdoa, wahyu mengenai Kristus ”dipertontonkan” ke dalam dirinya. Saulus melihat suatu pemandangan yang ajaib dari Tuhan pada televisi surgawi ini. Saulus tidak lagi memiliki keraguan tentang kebangkitan Kristus. Ia juga percaya kepada inkarnasi dan kematian-Nya. Melalui visi-visi yang ia lihat selama hari-hari itu, Saulus menerima berita yang lengkap tentang Injil.
YESUS DAN ”AKU” YANG KORPORAT
Saulus bukan hanya melihat bahwa Yesus adalah Yehova, Juruselamat, yang telah mati dan bangkit; ia juga melihat bahwa Tuhan Yesus adalah satu dengan para pengikut-Nya. Mungkin Saulus berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku tidak menganiaya Yesus aku menganiaya para pengikut-Nya. Tetapi Dia memberitahuku bahwa aku menganiaya Dia. Ini berarti pasti Dia itu satu dengan para pengikut-Nya.” Dengan cara ini Saulus melihat Tubuh. Ia mendengar satu berita yang bukan hanya mengenai keselamatan Kristus, tetapi juga mengenai Tubuh Kristus. Ketika Tuhan menampakkan diri kepada Saulus, Dia bertanya kepadanya, ”Mengapa engkau menganiaya Aku?” Tuhan seolah-olah berkata, ”Saulus, ’Aku’ ini meliputi Aku pribadi dan Tubuh-Ku yang korporat. Secara pribadi Aku berada di surga, tetapi secara korporat Tubuh itu ada di bumi. Ketika engkau menganiaya para pengikut-Ku, engkau menganiaya Tubuh-Ku. Menganiaya Tubuh-Ku adalah menganiaya Aku.” Karena itu, ”Aku” dalam 9:4 adalah korporat, yang terdiri dari Tuhan Yesus dan semua orang beriman-Nya.
Menurut 9:5, Saulus berkata, ”Siapa Engkau, Tuhan?” Kata-Nya, ”Akulah Yesus yang kauaniaya itu.” (Tl.) ”Aku” dalam ayat 4 dan nama ”Yesus” dalam ayat 5 sangatlah penting, dan Saulus pasti banyak memikirkan mengenai Yesus dan ”Aku” yang korporat ini. Selama tiga hari itu ia mungkin telah menganalisis dua kata ”Aku” dan ”Yesus” ini.
Ketika Saulus berkata, ”Siapa Engkau, Tuhan?” ia pasti telah diselamatkan dan menerima Roh esensial. Kemudian, dalam kitab Roma, ia berkata, ”Sebab, siapa saja yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan” (Rm. 10:13). Dalam Kisah Para Rasul 9:5, Saulus memanggil Yesus sebagai Tuhan, bahkan tanpa mengenal Dia. Tidak diragukan lagi, Saulus telah dikejutkan oleh penampakan dan pembicaraan Tuhan. Pada waktu itu Roh esensial tentu telah masuk ke dalam dirinya. Kemudian ia dapat berdoa selama tiga hari tanpa makan dan minum. Di bawah inspirasi dari Roh esensial, ia hanya ingin berdoa untuk mengetahui makna dari apa yang telah ia lihat dan yang telah ia dengar. Selama hari-hari itu, Saulus telah menerima Injil yang lengkap mengenai keselamatan dan Tubuh Kristus.
Pengalaman Saulus terhadap Aku yang korporat, Kristus dan Tubuh, pasti telah memberi satu kesan yang dalam pada dirinya dan mempengaruhi ministrinya di kemudian hari mengenai Kristus dan gereja. Pengalaman itu meletakkan satu pondasi bagi ministrinya Karena itu, ia sangat tegas dalam mengajar Tubuh Kristus (Rm. 12:4-5; 1 Kor. 12:12-27; Ef. 1:22-23; 2:16; 4:4, 16). Ia adalah satu-satunya penulis dalam Perjanjian Baru yang memakai istilah ”Tubuh Kristus”. Ia menanamkan penekanan yang kuat tentang Tubuh karena pada waktu pertobatannya, ia telah mende-ngar berita mengenai ”Aku” yang korporat, berita mengenai Tubuh Kristus.
DIKONFIRMASIKAN
OLEH SEORANG WAKIL DARI TUBUH
Segera setelah Saulus diselamatkan, Tuhan mulai men-didiknya mengenai Tubuh. Inilah sebabnya Dia berkata kepada Saulus, ”Bangunlah dan pergilah ke dalam kota, di sana akan dikatakan kepadamu, apa yang harus kauperbuat” (9:6). Di sini Tuhan seolah-olah berkata, ”Saulus, Aku tidak akan memberi tahu kamu apa yang perlu kamu lakukan. Kamu telah diselamatkan secara langsung oleh-Ku, dan tidak ada orang lain yang tahu bahwa kamu telah diselamatkan. Karena itu, kamu perlu satu wakil dari Tubuh-Ku untuk datang kepadamu dan mengkonfirmasi fakta bahwa Aku telah menyelamatkan kamu, memilih kamu, dan memanggil kamu. Kamu juga perlu satu wakil dari Tubuh yang demikian untuk membawa kamu masuk ke dalam persekutuan dengan Tubuh-Ku.” Seperti yang akan kita lihat, ketika Saulus datang ke Yerusalem dan berusaha bergabung dengan murid-murid, ”semuanya takut kepadanya, karena mereka tidak percaya bahwa ia juga seorang murid” (ay. 26). Situasi yang demikian itu membuat dia perlu diteguhkan oleh satu wakil dari Tubuh.
Ketika Tuhan menyuruh Ananias mencari Saulus, Ananias menjawab, ”Tuhan, dari banyak orang telah ku-dengar tentang orang itu, betapa banyaknya kejahatan yang dilakukannya terhadap orang-orang kudus-Mu di Yerusalem” (ay. 13). Di sini kita melihat bahwa Ananias tidak mau berhubungan dengan Saulus. Namun Tuhan melanjutkan berkata kepada Ananias, ”Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku di hadapan bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel. Aku sendiri akan menunjukkan kepadanya, betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku” (ay. 15-16). Kemudian Ananias mendatangi Saulus. Dalam kontaknya dengan Saulus, Ananias mengakuinya sebagai seorang saudara dalam Tuhan (ay. 17). Jika Tuhan tidak menyuruh Ananias mencari Saulus, tidak ada satu pun orang beriman yang akan mengakui Saulus sebagai seorang saudara. Melalui Ananias, Tuhan memberikan pengajaran yang sangat baik kepada Saulus mengenai praktek kehidupan Tubuh.
DIPENUHI DENGAN ROH KUDUS
Dalam 9:17 Ananias berkata kepada Saulus, ”Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” Pemenuhan di sini adalah pemenuhan secara luaran dengan Roh ekonomikal. Baik dalam perkara Saulus dalam pasal 9 mau-pun dalam perkara orang-orang Samaria dalam pasal 8, Kepala Tubuh menahan Roh ekonomikal. Tuhan menahan Roh ekonomikal dari kaum beriman Samaria karena orang-orang Yahudi menganggap mereka sebagai orang asing dan tidak berhubungan dengan mereka. Orang-orang Yahudi merasa sulit untuk mempercayai bahwa Allah mau menyelamatkan orang-orang Samaria. Karena itu, Kepala Tubuh menahan Roh ekonomikal sampai Petrus dan Yohanes datang ke Samaria untuk menumpangkan tangan ke atas kaum beriman Samaria. Melalui penumpangan tangan Petrus dan Yohanes, Sang Kepala memberikan Roh ekonomikal sebagai suatu tanda bagi kaum beriman Yahudi bahwa orang-orang Samaria pun dapat menjadi anggota-anggota Tubuh Kristus.
Memang, Saulus dari Tarsus adalah orang Yahudi, orang Ibrani asli. Tetapi ia adalah seorang pemimpin penganiaya gereja, seorang yang membinasakan gereja di Yerusalem. Siapakah yang dapat percaya bahwa ia telah berpaling kepada Tuhan dan telah diselamatkan? Ketika Paulus me-nerima keselamatan Tuhan, ia juga menerima Roh esensial di dalamnya. Tetapi, Kepala Tubuh menahan Roh ekonomikal sampai satu wakil dari Tubuh datang kepada Saulus dan menumpangkan tangannya atasnya. Pada waktu itu, Roh ekonomikal turun ke atasnya sebagai bukti yang kuat dari fakta bahwa ia telah diselamatkan dan telah diterima oleh Sang Kepala ke dalam Tubuh sebagai satu anggota. Sebenarnya, Saulus adalah satu anggota khusus, satu anggota yang akan mengemban amanat yang berat untuk melayankan ekonomi Perjanjian Baru Allah kepada dunia Kafir.
Tidak mudah untuk memiliki pemahaman yang tepat dari semua yang digambarkan dalam 9:1-19. Demikian juga, tidak mudah melihat makna dari apa yang tercatat dalam bagian dari kitab Kisah Para Rasul ini. Pemahaman kita akan bagian dari firman kudus ini datang bukan hanya dari pembacaan Alkitab dan buku-buku yang ditulis oleh orang lain, tetapi juga dari merenungkan pengalaman dalam sejarah kita sendiri. Sebagai hasil dari bertahun-tahun belajar dan mengalami, kita dapat melihat butir-butir penting dalam 9:1-19. Setiap butir bukan hanya harus menjadi satu pengajaran bagi kita; tetapi juga harus menjadi visi yang kita lihat pada televisi surgawi.
KELENGKAPAN
EKONOMI PERJANJIAN BARU ALLAH
Dalam Kisah Para Rasul 9 kita nampak bahwa pemimpin penganiaya dan orang yang paling menentang Yesus diselamatkan dan menjadi satu bejana. Saulus menjadi satu dengan Kepala dan dengan Tubuh. Sebagai satu anggota Tubuh, ia layak menerima amanat surgawi untuk melengkapi firman dari wahyu Perjanjian Baru Allah. Mengenai hal ini, ia sendiri berkata, ”Aku telah menjadi pelayan jemaat itu sesuai dengan tugas yang dipercayakan Allah kepadaku untuk meneruskan firman-Nya dengan sepenuhnya kepada kamu” (Kol. 1:25). Tanpa surat Rasul Paulus, wahyu perjanjian Baru Allah tidak akan lengkap. Di antara dua puluh tujuh kitab dari Perjanjian Baru, empat belas kitab ditulis oleh Paulus sebagai kelengkapan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Pada ministri Petrus dan sekerjanya kita memiliki permulaannya, tetapi kita tidak memiliki kelengkapannya. Jika kita hanya memiliki ministri Petrus dan se-erjanya, ekonomi Perjanjian Baru Allah tidak akan lengkap. Untuk kelengkapan ini perlu ada bejana lain, bejana yang dipilih Allah untuk melaksanakan ekonomi Perjanjian Baru-Nya. Akhirnya, Allah dalam hikmat-Nya memasukkan Paulus ke dalam penjara sehingga ia dapat menulis surat-surat kiriman yang sangat penting bagi ekonomi Perjanjian Baru Allah.
SATU BEJANA PILIHAN
Dalam 9:15 kita melihat bahwa Saulus dari Tarsus adalah satu bejana pilihan. Ketika membaca Kitab Suci kita mungkin kurang memperhatikan kata ”bejana”, satu istilah rohani yang penting. Bejana adalah satu wadah, berbeda dengan alat atau senjata.
Dalam surat Rasul Paulus ada satu penekanan yang kuat tentang pentingnya bejana. Misalnya Roma 9:23 membicarakan tentang Allah menyatakan, ”kekayaan kemuliaan-Nya atas bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan untuk kemuliaan.” Dalam Roma 9 terdapat pemikiran bahwa manusia dijadikan Allah sebagai bejana untuk menampung Dia. Dalam 2 Korintus 4:7 Paulus kembali membicarakan tentang bejana: ”Tetapi harta ini kami miliki dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Kemudian dalam 2 Timotius 2:20 ia berkata, ”Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia.” Maksud Allah dalam menyelamatkan Saulus dari Tarsus adalah untuk memenuhi dia dengan diri-Nya sendiri dan kemudian membuat dia menjadi satu bejana yang luar biasa. Dalam tulisan Paulus kita melihat pengembangan makna rohani dari kata ”bejana”.
Kemungkinan dari Ananiaslah, Saulus tahu bahwa ia adalah satu bejana pilihan. Saulus dari Tarsus dipilih Tuhan bukan hanya untuk menjadi rasul-Nya, hamba-Nya, dan pelayan-Nya, tetapi juga dipilih untuk menjadi bejana-Nya. Dalam Kisah Para Rasul 9:15 Tuhan Yesus seolah-olah berkata kepada Ananias, ”Saulus adalah satu bejana pilihan. Ia akan menampung-Ku, dan ministrinya akan menyampaikan Aku kepada dunia Kafir.” Kita semua perlu melihat pentingnya Saulus sebagai satu bejana pilihan.
Dalam kehidupan dan tulisan Paulus kita dapat melihat tiga unsur kebudayaan baratn unsur Ibrani, unsur Yunani, dan unsur Roma. Paulus tersusun dari tiga unsur ini. Karena itu, ia mewujudkan agama Ibrani, kebudayaan Yunani, dan politik Roma. Karena ia adalah susunan dari tiga unsur ini, ia cocok sebagai satu bejana untuk menampung dan menyampaikan Kristus yang almuhit. Paulus layak menjadi satu bejana yang demikian.
KEPERLUAN KITA AKAN VISI ROHANI
Dalam mempelajari Alkitab tidak cukup hanya mengenal huruf hitam di atas putih. Kita juga memerlukan visi dan pandangan rohani. Tuhan Yesus memiliki visi dan pandangan yang demikian ketika Dia mewahyukan bahwa gelar ilahi ”Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub” itu menunjukkan kebangkitan (Mat. 22:23-33). Kita tidak dapat melihat hal yang demikian hanya dengan membaca Alkitab secara harfiah saja. Hanya dengan memiliki visi dan pandangan rohani, kita dapat melihat bahwa kebangkitan tersirat dalam gelar ilahi ini. Memiliki pemahaman yang demikian bukanlah mengiaskan Kitab Suci atau hanya membuat kesimpulan. Sebaliknya, ini adalah menerima wahyu melalui mempelajari firman Allah yang tertulis. Ketika kita membaca Kisah Para Rasul 9, kita juga perlu melihat visi surgawi mengenai ”Aku”, Yesus, dan bejana pilihan.