← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 17/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(12)

Pembacaan Alkitab: Kis. 4:32—5:12

Dalam 4:32—5:11 kita melihat kelanjutan kehidupan gereja, dan dalam 5:17-42, kita melihat kelanjutan penganiyaan oleh para agamawan Yahudi. Mengenai kelanjutan kehidupan gereja, ada aspek yang positif dalam 4:32-37 dan aspek yang negatif dalam 5:1-11. Dalam berita ini kita akan membahas kehidupan gereja seperti yang terlihat dalam 4:32—5:11.

KELANJUTAN KEHIDUPAN GEREJA

Aspek yang Positif

Segala Sesuatu Milik Bersama

Kisah Para Rasul 4:32 mengatakan, ”Kumpulan orang yang telah percaya itu sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun berkata bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.” Seperti dalam 2:44, memiliki segala sesuatu bersama-sama bukanlah satu tanda kasih, melainkan tanda keselamatan Kristus yang penuh kuasa, yang menyelamatkan orang-orang yang percaya dari keserakahan dan ke-pentingan diri sendiri. Ini dipraktekkan hanya dalam waktu yang singkat, yaitu pada permulaan ekonomi Perjanjian Baru Allah. Praktek ini tidak berlangsung untuk jangka panjang sebagai suatu keharusan dalam kehidupan gereja selama ministri Paulus.

Saksi-saksi dari Kristus yang Bangkit

Ayat 33 mengatakan, ”Dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam anugerah yang melimpah-limpah.” Para rasul adalah saksi-saksi dari Kristus yang bangkit, bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam kehidupan dan tindakan mereka, terutama bersaksi tentang kebangkitan-Nya.

Anugerah yang Melimpah-limpah bagi Semua Orang yang Percaya

Menurut 4:33, anugerah (kasih karunia) berlimpahlimpah bagi semua orang yang percaya. Hukum Taurat mengajukan permintaan kepada manusia menurut hakiki Allah, sedangkan anugerah menyuplai manusia dengan hakiki Allah guna memenuhi permintaan Allah. Sebenarnya, anugerah adalah Allah sendiri yang dinikmati oleh manusia. Anugerah adalah Kristus yang bangkit menjadi Roh pemberihayat (1 Kor. 15:45) untuk membawa Allah yang telah melalui proses di dalam kebangkitan ke dalam kita untuk menjadi hayat dan suplai hayat kita, supaya kita dapat hidup di dalam kebangkitan. Jadi, anugerah adalah Allah Tritunggal menjadi hayat dan segala sesuatu bagi kita.

Kisah Para Rasul 4:34-35 mengatakan, ”Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.” Seperti dalam 2:45, menjual tanah dan rumah adalah satu bukti keselamatan Allah yang penuh kuasa. Keselamatan ini membuat orang-orang yang percaya mengalahkan harta duniawi yang memenuhi, merasuki, dan menduduki seluruh umat manusia yang jatuh (Mat. 19:21-24; Luk. 12:13-19, 33-34; 14:33; 16:13-14; 1 Tim. 6:17).

Contoh Barnabas

Dalam 4:36-37 Lukas memberikan satu contoh yang positif dari seseorang yang menjual tanahnya dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul: ”Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi kelahiran Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.” Kata ”Barnabas” adalah bahasa Aram yang berarti ”anak nubuat”, diterapkan secara kiasan kepada orang yang berbicara untuk mendorong, menasihati, dan menghibur orang lain. Barnabas, seorang Lewi dan seorang Siprus, menjual harta miliknya, membawa uang hasil penjualan itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul untuk dibagikan di antara orang-orang kudus menurut keperluannya. Ini adalah bagian dari keadaan yang positif dalam 4:32-37.

Keadaan yang Negatif

Dua Pribadi yang Tinggal dalam Ananias dan Safira

Setelah aspek yang positif pada akhir pasal 4, Lukas menyajikan aspek yang negatif dalam 5:1-11. Keadaan yang negatif ini melibatkan satu pasangan, Ananias dan Safira: ”Ada seorang laki-laki bernama Ananias. Ia bersama istrinya Safira menjual sebidang tanah miliknya. Dengan setahu istrinya ia menahan sebagian dari hasil penjualan itu dan sebagian lagi dibawa dan diletakkannya di depan kaki rasul-rasul” (ay. 1-2). Ananias dan Safira memiliki satu rencana yang jahat untuk menipu, mendustai, Roh yang berhuni. ”Tetapi Petrus berkata: Ananias, mengapa hatimu dikuasai Iblis, sehingga engkau mendustai Roh Kudus dan menahan sebagian dari hasil penjualan tanah itu?” (ay. 3). Ananias kelihatannya berdusta kepada para rasul tetapi sebenarnya menipu Roh Kudus, yaitu Allah (ay. 4). Karena dalam peker-jaan para rasul bagi Tuhan, Roh Kudus dan para rasul adalah satu.

Sewaktu kita membaca ayat-ayat ini, kita nampak dua pribadi yang tinggal dalam pasangan ini. Pertama, Roh itu tentu berhuni di dalam mereka. Karena mereka telah di-selamatkan, Roh Kudus telah berhuni di dalam mereka. Ke-dua, Iblis (Satan) berhuni di dalam mereka, karena ia telah memenuhi hati mereka untuk mendustai Roh Kudus. Oleh karena itu, ada dua penghuni Roh Kudus dan Iblis yang tinggal di dalam Ananias dan Safira.

Kita perlu sadar bahwa sebagai kaum beriman, kita juga memiliki dua penghuni di dalam kita. Tetapi, ada be-berapa guru Alkitab yang tidak percaya bahwa Iblis masih tinggal di dalam kaum beriman; guru-guru ini juga tidak percaya bahwa orang-orang kudus dapat dirasuk oleh roh-roh jahat. Karena Jesse Penn-Lewis membicarakan tentang kasus-kasus kaum beriman yang kerasukan roh-roh jahat dalam bukunya Peperangan Orang-orang Kudus (War on the Saint), maka ada beberapa orang yang keterlaluan menyebut dia seorang ”tukang sihir”. Meskipun ada beberapa orang yang menyangkal bahwa kaum beriman dapat dirasuk roh jahat, nyatanya ada orang beriman sejati yang telah dirasuk roh-roh jahat. Kasus dalam Kisah Para Rasul 5 mungkin adalah kasus pertama orang beriman yang dirasuk oleh atau ditipu oleh Iblis. Petrus bertanya kepada Ananias, ”Mengapa hatimu dikuasai Iblis?” Ini menunjukkan bahwa Iblis bukan hanya ada di luar mereka, bahkan ada di dalam hati mereka, menipu mereka, dan menggoda mereka.

Masalah Ambisi

Bagaimanakah Iblis dapat memiliki kedudukan yang demikian di dalam mereka? Iblis memiliki kedudukan ini karena ambisi mereka. Saya telah mempelajari selama bertahun-tahun bahwa kaum beriman bisa berambisi untuk mendapatkan nama, kedudukan, gelar, dan jabatan. Ambisi ini bahkan bisa ditemukan di antara orang-orang yang ada di dalam kehidupan gereja. Baik di Timur maupun di Barat, saya melihat ada orang-orang di dalam gereja yang berambisi mendapatkan jabatan, kedudukan, gelar, dan nama. Bahkan orang-orang muda mungkin berambisi menjadi pe-mimpin.

Belakangan ini di Taipei Tuhan bergerak di antara kita sampai sedemikian rupa sehingga kita mendirikan lebih dari empat ratus kelompok kecil dalam gereja. Dulu, ketika kita mendirikan kelompok-kelompok yang sama, kita menunjuk seorang pemimpin di setiap kelompok dan juga para asisten. Tetapi, kita menemukan bahwa pengangkatan-pengangkatan itu menjadi satu faktor perusakan. Oleh karena itu, kali ini kita memberi tahu gereja bahwa tidak akan ada penun-jukan pemimpin apa pun di dalam kelompok-kelompok kecil itu. Tetapi, setiap orang di dalam setiap kelompok dapat mengambil pimpinan.

Kedudukan di dalam Ananias dan Safira yang merupakan basis untuk penipuan Iblis terhadap mereka adalah keinginan mereka untuk mendapatkan nama. Mereka ingin mendapatkan reputasi karena telah menjual segala sesuatu bagi gereja. Karena ambisi mereka, mereka membentuk satu rencana. Mereka menjual sebidang tanah, menahan sebagian hasil penjualan untuk diri mereka sendiri dan kemudian membawa satu bagian dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.

Seperti yang telah kita tunjukkan, Ananias dan Safira mendustai Roh Kudus. Apakah Anda mengira bahwa Roh Kudus yang mereka dustai itu adalah Roh yang ada di surga, Roh yang di luar mereka? Apakah Anda mengira bahwa mereka hanya berdusta kepada Roh yang obyektif? Ananias dan Safira benar-benar berdusta kepada Roh yang ada di da-lam mereka. Jika Roh Kudus belum ada di dalam mereka, mengapa Petrus mengatakan bahwa mereka mendustai Roh Kudus? Iblis dan Roh Kudus tinggal di dalam Ananias dan Safira pada waktu yang sama.

Hari ini ada satu gejala di antara guru-guru Alkitab yang menyangkal fakta bahwa Iblis berhuni di dalam daging manusia. Tetapi perhatikanlah pengalaman Petrus dalam Matius 16. Petrus mengenal bahwa Yesus adalah Kristus, Putra Allah yang hidup. Tuhan berkata kepadanya, ”Berbahagialah engkau Simon anak Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga” (ay. 17). Kemudian dalam pasal yang sama kita nampak Petrus, orang yang menerima wahyu dari Bapa, juga diduduki oleh Iblis. Ketika Petrus menarik Tuhan dan mulai menegur Dia, ”Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus. Enyahlah Iblis” (ay. 23). Di sini kita melihat bahwa Iblis ada di dalam Petrus, bukan hanya di luar Petrus.

Ambisi Menghasilkan Kematian

Iblis itu tidak jauh dari kita, dan kita perlu hati-hati kalau tidak mau tertipu olehnya. Jika kita ingin menghindar dari tipuan Iblis, kita harus menolak, menghukum, dan melepaskan ambisi untuk menjadi tokoh dalam kehidupan gereja. Kapan saja kita memiliki pemikiran untuk menjadi tokoh dalam kehidupan gereja, maka Iblis memiliki kedudukan untuk menipu kita dan, secara rohani, membawa kita ke dalam kematian.

Ananias dan Safira memiliki ambisi untuk menjadi tokoh di dalam gereja; mereka memiliki ambisi untuk mendapatkan satu nama. Karena ambisi mereka, mereka tertipu, dan penipuan itu membawa mereka ke dalam kematian. Seperti yang ditunjukkan oleh catatan itu, baik Ananias maupun Safira mati secara fisik.

Kita tidak boleh mengira bahwa karena tidak ada kematian fisik di dalam gereja seperti Ananias dan Safira, ini berarti tidak ada kematian sama sekali. Sebaliknya, ambisi untuk menjadi tokoh, ambisi untuk menjadi pemimpin, akan membawa orang-orang yang berambisi itu ke dalam kemati-an rohani. Orang-orang yang berambisi itu mungkin tidak mati secara fisik, tetapi mereka akan mati secara rohani. Kita telah melihat kasus-kasus seperti itu di dalam pemulih-an Tuhan. Kasus-kasus itu membuktikan bahwa ambisi menghasilkan kematian rohani. Mengenai hal ini kita semua perlu berhati-hati sekali.

Fakta bahwa Ananias dan Safira menderita penghukum-an kematian fisik itu bukan berarti bahwa mereka akan menderita penghukuman kekal. Meskipun Ananias dan Safira telah diselamatkan, mereka melakukan satu dosa yang mendatangkan kematian (1 Yoh.5:16-17). Dalam penanggulangan pemerintahan Allah, ada beberapa orang dari anak-anak-Nya yang ditentukan mati secara fisik di zaman ini karena dosa tertentu. Inilah keadaan Ananias dan Safira, yang dihukum dengan kematian fisik karena mereka mendustai Roh Kudus. Kasus mereka mengajar kita supaya berhati-hati sekali terhadap ambisi dan ketidakjujuran dalam kehidupan gereja.

Roh Kudus memakai Lukas untuk mencatat kasus Ananias dan Safira guna menunjukkan kepada kita bahwa meskipun kehidupan gereja itu mungkin indah, kita tetap perlu berhati-hati terhadap ambisi. Kita tidak boleh memiliki ambisi apa pun untuk menjadi tokoh di dalam gereja. Kita tidak boleh berambisi merebut jabatan, kedudukan, atau nama. Jika kita memiliki ambisi yang demikian, kita akan memberikan kedudukan kepada musuh untuk membawa kita kepada kematian rohani.

Dosa Mendustai Roh Kudus

Dalam 5:4 ada satu perkataan yang berhubungan dengan memiliki segala sesuatu bersama-sama: ”Selama tanah itu tidak dijual, bukankah itu tetap kepunyaanmu, dan setelah dijual, bukankah hasilnya itu tetap dalam kuasamu?” Ini menunjukkan bahwa menjual tanah dan membagi-bagikan hasil penjualannya kepada orang lain tidak dianggap rasul sebagai suatu keharusan. Kaum beriman tidak perlu menganggap segala sesuatu sebagai milik bersama. Itu ada-lah sesuatu yang harus dilakukan dengan rela. Jika Ananias dan Safira tidak mau menjual tanah mereka, mereka tidak perlu melakukannya. Lagi pula, uang hasil penjualan itu ada di bawah kekuasaan mereka. Dosa mereka adalah mereka bermaksud mendustai Roh Kudus. Bukanlah dosa jika menahan tanah mereka atau menyimpan hasil dari penjualan tanah itu. Dosa mereka adalah mendustai Roh Kudus. Maksud mereka adalah menipu gereja dan mendapatkan nama bagi mereka sendiri dengan berdusta. Ini adalah satu dosa yang kotor yang melanggar Roh yang berhuni. Dosa mereka adalah bekerja sama dengan Iblis, penghuni jahat di dalam mereka. Kita semua perlu belajar pelajaran yang diberikan oleh kasus Ananias dan Safira ini.

Dalam 5:3 Petrus memberi tahu Ananias bahwa ia berdusta kepada Roh Kudus. Kemudian pada akhir ayat 4 Petrus berkata kepadanya, ”Engkau bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah.” Ini membuktikan bahwa Roh Kudus dalam ayat 3 itu adalah Allah.

Kemudian, ketika Petrus berbicara kepada Safira, ia berkata kepadanya, ”Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan?” Roh Kudus dalam ayat 3, Allah dalam ayat 4, dan Tuhan dalam ayat 9, semuanya adalah satu, lebih-lebih dalam pengalaman kaum beriman.

Ketakutan Datang kepada Gereja

Dalam ayat 11 Lukas menutup catatannya tentang keadaan yang negatif itu dengan berkata, ”Seluruh jemaat dan semua orang yang mendengar hal itu menjadi sangat ketakutan.” Bahasa Yunani untuk ”jemaat” adalah ekklesia, terdiri atas ek, yang berarti keluar, dan kata turunan kaleo, yang berarti dipanggil; karena itu, ekklesia berarti perhimpunan kaum terpanggil. Dalam kitab ini, gereja (jemaat) untuk kali pertama disebut sebagai gereja lokal. Seperti yang akan kita lihat dalam berita selanjutnya, 8:1 membicarakan tentang gereja di Yerusalem. Ini adalah gereja pertama yang didirikan di satu lokal. Gereja ini didirikan di dalam daerah kekuasaan hukum kota itu, kota Yerusalem. Ini adalah satu gereja lokal di dalam lokalitasnya, seperti yang ditunjukkan oleh Tuhan dalam Matius 18:17. Gereja yang diwahyukan dalam Matius 16:18 adalah gereja universal, yang adalah Tubuh Kristus yang unik. Gereja yang diwahyukan dalam Matius 18:17 adalah gereja lokal, ekspresi dari Tubuh Kris-tus yang unik di lokal tertentu. Catatan Perjanjian Baru mengenai pendirian gereja di dalam lokalitasnya itu konsis-ten seluruhnya (Kis. 13:1; 14:23; Rm. 16:1; 1 Kor. 1:2; 2 Kor. 8:1; Gal. 1:2; Why. 1:4, 11).

TANDA-TANDA DAN MUJIZAT-MUJIZAT

YANG DILAKUKAN PARA RASUL

Kisah Para Rasul 5:12 mengatakan, ”Banyak tanda dan mujizat dibuat oleh rasul-rasul di antara orang banyak.” Catatan di sini mirip sekali dengan yang ada dalam 2:43, di mana kita diberi tahu bahwa ”rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda ajaib.” Kita perlu menyadari bahwa mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah, yaitu Kristus yang menjadi daging, tersalib, bangkit, dan naik ke surga, juga bukan bagian dari keselamatan sempurna Allah. Mujizat dan tanda hanyalah bukti bahwa apa yang rasul-rasul beritakan, suplaikan, dan lakukan mutlak dari Allah, bukan dari manusia (Ibr. 2:3-4). Ini berarti mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu bukanlah bagian utama kesaksian Allah maupun bagian dari ke-selamatan Allah. Mujizat-mujizat dan tanda-tanda itu adalah sarana yang dipakai Allah untuk membuktikan bahwa pemberitaan dan ministri para rasul itu berasal dari Allah. Pada zaman para rasul perlu ada tanda-tanda dan mujizat-mujizat yang dilakukan melalui mereka. Memang, hal itu menarik perhatian banyak orang. Tetapi, hari ini kita tidak seharus-nya menekankan mujizat-mujizat dan tanda-tanda.