PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK
SEKERJA PETRUS
(11)
Pembacaan Alkitab: Kis. 4:1-31
Dalam Kisah Para Rasul 3 Petrus menyajikan Kristus, Sang Penyembuh, sebagai Hamba Allah, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, Nabi, dan keturunan yang melaluinya semua bangsa di bumi akan diberkati. Karena Sang Penyembuh ini adalah Perintis Kehidupan, maka kapan saja kita berseru kepada-Nya, kita akan menikmati waktu kelegaan. Sebagai Nabi, Dia membicarakan Allah kepada kita, dan melalui Dia sebagai keturunan Abraham, kita akan diberkati. Semua aspek dari Kristus sebagai Sang Penyembuh yang ajaib ini adalah bagi kita. Namun, dalam Kisah Para Rasul 3 kita tidak nampak bahwa Sang Penyembuh ini adalah bagi ekonomi Allah, tujuan Allah, pembangunan Allah. Dalam pasal 4 Petrus diberi kesempatan untuk menyajikan Sang Penyembuh ini lebih jauh lagi, menyajikan Dia sebagai batu bagi pembangunan Allah. Mengenai hal ini, 4:11-12 mengatakan, ”Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang banguna yaitu kamu sendiri namun Ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Dalam berita ini kita akan memberikan perkataan lebih jauh mengenai Kristus sebagai batu bagi pembangunan Allah.
BATU PENJURU TEMPAT KEDIAMAN ALLAH
Allah berinkarnasi untuk menjadi batu bagi pemba-ngunan tempat kediaman universal-Nya, tetapi para pemimpin Yahudi, yang adalah tukang-tukang bangunan, telah membuang batu ini. Walaupun demikian, Allah membuat Dia menjadi batu penjuru. Semakin para pemimpin Yahudi itu menolak Dia, Allah semakin memakai Dia. Pertama, Dia adalah batu biasa. Tetapi setelah penolakan oleh para pemimpin Yahudi, Allah di dalam kebangkitan membuat Dia menjadi batu penjuru. Pada mulanya Dia adalah batu biasa. Kemudian para pemimpin Yahudi menolak Dia dengan membunuh Dia. Tetapi Allah menghormati Dia dengan membangkitkan Dia dari antara orang mati dan membuat Dia menjadi batu khusus, batu penjuru, batu utama yang menggabungkan dinding-dinding dari suatu bangunan. Kristus adalah batu penjuru tempat kediaman Allah.
PENGENALAN PETRUS AKAN KRISTUS
SEBAGAI BATU
Dalam Yohanes 1 kita nampak bahwa Andreas mem-bawa saudaranya, Simon Petrus, kepada Tuhan Yesus, ”Yesus memandang dia dan berkata: Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus)” (ay. 42). Kemudian, di Kaisarea Filipi, Tuhan Yesus bertanya kepada murid-murid-Nya, ”Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” (Mat. 16:15). Petrus mengambil pimpinan mengumumkan, ”Engkaulah Mesias, Anak Allah yang hidup” (ay. 16). Dalam menjawab kepada Petrus, Tuhan berkata, ”Dan Aku pun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (ay. 18). Di sini nama Petrus berarti batu, yang adalah bahan bagi pembangunan Allah. Tuhan Yesus seolah-olah berkata, ”Engkau adalah Petrus, sebuah batu. Aku akan membangun gereja-Ku dengan batu-batu.”
Tidak diragukan lagi, perkataan Tuhan itu pasti telah memberi satu kesan yang dalam pada diri Petrus, sekalipun sepertinya ia tidak mengerti pada waktu itu. Namun, setelah Roh pemberi-hayat dihembuskan ke dalamnya dan setelah Roh ekonomikal ditiupkan ke atasnya, Petrus menjadi seorang manusia rohani, seorang manusia dengan Roh esensial di dalamnya dan Roh ekonomikal di atasnya. Sebagai orang yang demikian, ia tentu mulai memahami perkataan Tuhan mengenai dirinya sebagai batu. Petrus mungkin berkata kepada dirinya sendiri, ”Aku ingat bahwa kali pertama aku bertemu dengan Tuhan, Dia mengatakan bahwa Dia akan memberikan satu nama yang baru kepadaku, satu nama yang berarti batu. Kemudian Dia memanggilku ”Petrus” dan mengatakan bahwa Dia akan membangun gereja-Nya di atas batu karang. Sekarang aku mengerti apa yang Tuhan kata-kan itu.”
Setelah memiliki pengertian ini, maka dalam Kisah Para Rasul 4 Petrus dapat menyajikan Tuhan Yesus sebagai batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan tetapi yang telah menjadi batu penjuru. Kemudian, pada masa tua-nya, Petrus menulis surat kirimannya yang pertama, di dalamnya ia berbicara tentang Tuhan sebagai batu hidup dan tentang kaum beriman sebagai batu-batu hidup bagi pembangunan Allah: ”Datanglah kepada-Nya, batu yang hi-dup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan dihormati di hadirat Allah. Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani” (1 Ptr. 2:4-5a). Menurut Kisah Para Rasul 3 dan 4, Petrus mengenal Sang Penyembuh ini bukan hanya sebagai Hamba Allah, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, Nabi, dan keturunan yang melaluinya semua bangsa di bumi akan diberkati; ia juga mengenal Dia sebagai batu bagi pembangunan Allah.
Saya tidak percaya bahwa sepanjang abad banyak orang telah mengajarkan dari firman itu bahwa Yesus Kristus adalah batu bagi pembangunan Allah. Dia bukan hanya Hamba, Yang Kudus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, Nabi, dan benih; Dia adalah batu bagi pembangunan Allah. Menurut 4:12,, batu ini adalah Dia yang di dalamnya kita dapat diselamatkan. Maka, Dia adalah Batu-Penyelamat. Sebagai Batu-Penyelamat, Dia itu kokoh padat, kuat, dan dapat diandalkan. Kita dapat mengandalkan Dia dan berdiri di atas-Nya. Batu ini adalah batu karang, batu pondasi, dan batu penjuru. Dalam Zakharia 4:7 kita nampak bahwa Dia bah-kan adalah batu utama. Kristus adalah bahan bagi pem-bangunan Allah. Pembangunan Allah seluruhnya berasal dari Kristus.
DISELAMATKAN DI DALAM NAMA DIA
YANG ALMUHIT
Ada orang, begitu mendengar kita mengatakan bahwa menurut Kitab Suci, Kristus adalah batu penjuru, batu pondasi, batu utama, dan bahkan semua batu di dalam pembangunan Allah, mereka mungkin menuduh kita sedang mengajarkan panteisme. Itu adalah tuduhan yang salah. Ya, kita mengatakan bahwa Kristus adalah makanan, udara, minuman, terang, pintu, pakaian, dan tempat kediaman kita, meskipun demikian, ini bukanlah panteisme. Apakah Kristus tidak bersyarat untuk menjadi makanan dan minuman kita? Apakah Dia tidak bersyarat untuk menjadi udara, pakaian, pintu, dan tempat kediaman kita? Apakah Dia itu bukan batu pondasi, batu penjuru, batu utama, dan semua batu bagi pembangunan Allah? Kristus memang bersyarat untuk menjadi semua ini. Tetapi, hari ini ada beberapa orang yang mengurangi kualifikasi-kualifikasi Kristus dan dengan salah menganggap orang-orang yang meng-ajar dari Alkitab bahwa Kristus itu almuhit, Dia yang adalah semua dan di dalam semua sebagai panteisme. Perjanjian Baru mewahyukan bahwa Kristus adalah semua dan di dalam semua (Kol. 3:11), dan kita adalah kepenuhan dari Dia yang adalah semua dan di dalam semua ini (Ef. 1:23). Betapa ajaib bahwa kita adalah kepenuhan Kristus untuk mengekspresikan Dia!
Dalam nama Yesus Kristus, Dia yang almuhit itu, kita diselamatkan. Tahukah Anda mengapa nama-Nya begitu penuh kuasa? Nama-Nya penuh kuasa karena Dia adalah Sang ajaib, Sang almuhit. Kita telah diselamatkan dalam nama Yesus Kristus, dan Dia adalah Sang almuhit. Sebagai Dia yang almuhit, Kristus adalah Allah, manusia, Bapa, Putra, Roh itu, batu karang, pondasi, batu penjuru, batu utama, pintu, makanan, minuman, pakaian, hayat, kekuat-an, kemampuan, fungsi, perilaku, kehidupan, perkataan, nafas, pandangan, pendengaran kita. Oh, tidak mungkin ha-bis menyebutkan semua apa adanya Kristus bagi kita!
Karena pengaruh tradisi, ada orang yang mengatakan bahwa kita tidak boleh memakai istilah-istilah baru untuk menyatakan hakiki Kristus. Mereka menuntut agar kita hanya memakai istilah-istilah yang dipakai oleh bapa-bapa gereja, konsili-konsili, dan pengajaran-pengajaran tradisional. Itu menimbulkan satu pembatasan yang besar atas umat Allah. Kita perlu menerobos pembatasan itu dan bila perlu memakai istilah-istilah baru, untuk menyampaikan kealmuhitan Kristus. Kita tidak boleh percaya kepada teologi tradisional, karena hal itu akan membatasi kita dan bahkan menyimpangkan kita. Kita perlu nampak dari firman itu semua aspek tentang Kristus. Khususnya, Kristus kita memiliki aspek sebagai batu bagi pembangunan Allah. Haleluya untuk batu pembangunan ini!
BATU SANDUNGAN, BATU SENTUHAN,
BATU PERKEMBANGBIAKAN, DAN
BATU PEMBANGUNAN
Kristus bukan hanya batu bagi pembangunan Allah. Dia juga adalah batu sandungan dan batu sentuhan. Mengenai diri-Nya sendiri sebagai batu sandungan dan batu sentuhan, Tuhan Yesus berkata, ”Siapa saja yang jatuh ke atas batu itu, ia akan hancur dan siapa saja yang ditimpa batu itu, ia akan remuk” (Mat. 21:44). Bagi kaum beriman, Kristus adalah batu pondasi yang di dalamnya kita percaya (Yes. 28:16). Tetapi bagi orang-orang Yahudi yang tidak percaya, Dia adalah batu sandungan (Yes. 8:14-15; Rm. 9:32-33), dan bagi bangsa-bangsa Dia akan menjadi batu sentuhan. Menurut Daniel 2:34-35, Kristus sebagai batu akan memukul bangsa-bangsa pada kedatangan-Nya kembali.
Bagi kita kaum beriman, Kristus bukanlah batu san-dungan maupun batu sentuhan Dia adalah batu pembangunan, bahkan batu perkembangbiakan. Bagi kita, Dia telah menjadi batu pembangunan. Pertama, kita menjadi perkembangbiakan-Nya, sekarang Dia sedang membangunkan kita bersama menjadi tempat kediaman Allah. Dia adalah Tukang Bangunan dan bahan untuk pembangunan Allah. Dia adalah Batu-Penyelamat. Di dalam ekonomi Allah, Dia sedang membangun tempat kediaman kekal-Nya. Bagi orang-orang Yahudi dan bangsa-bangsa, Dia adalah batu sandungan dan batu sentuhan. Tetapi bagi kita, Dia adalah batu perkembangbiakan dan batu pembangunan.
DARI MANUSIA DEBU TANAH SAMPAI
SEBUAH KOTA BATU
Dalam Alkitab batu adalah satu butir utama. Dalam kitab Kejadian Allah menciptakan seorang manusia dari debu tanah (Kej. 2:7). Jadi, manusia pertama adalah manusia debu tanah. Kemudian Allah sendiri datang untuk menjadi seorang manusia, dan manusia ini adalah manusia batu. Pada akhir Alkitab, dalam kitab Wahyu, kita memiliki sebuah kota batu, sebuah kota yang dibangun dari batu. Oleh karena itu, Alkitab dimulai dengan manusia debu tanah, dilanjutkan dengan manusia batu, dan rampung dalam sebuah kota batu. Inilah ekonomi Allah.
WAHYU DALAM ALKITAB MENGENAI BATU
Mempelajari Alkitab bukanlah perkara yang mudah. Kita memerlukan keahlian tertentu jika kita ingin dengan tepat mempelajari firman Allah. Orang yang kekurangan keahlian yang diperlukan itu, mungkin di dalam pembacaan kitab Kisah Para Rasul, memperhatikan hal-hal seperti tanda-tanda, keajaiban-keajaiban, dan bayangan Petrus (5:15). Mereka mungkin tidak memperhatikan batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan. Tetapi kita, perlu melihat pentingnya Kristus sebagai batu pembangunan.
Dalam Perjanjian Lama
Pada permulaan Alkitab kita memiliki pohon hayat, sungai, dan batu. Menurut Kejadian 2, setelah Allah menciptakan manusia, Allah menempatkan manusia itu di depan pohon hayat (ay. 8-9). Kita juga diberi tahu bahwa ada ”suatu sungai mengalir dari Eden untuk membasahi taman itu, dan dari situ sungai itu terbagi menjadi empat cabang” (ay. 10). Dalam hubungannya dengan sungai itu, Kejadian 2 membicarakan tentang emas, damar bedolah, dan batu krisopras (ay. 12). Ini adalah sebutan yang pertama tentang batu da-lam Alkitab.
Dalam Perjanjian Lama, berulang-ulang kita membaca tentang batu. Misalnya, batu krisopras pada tutup bahu baju efod Imam Besar, dan dua belas batu yang ada pada tutup dada Imam Besar (Kel. 28:8-12, 21). Di atas batu-batu itu diukir nama-nama dua belas suku Israel. Ini menunjukkan bahwa umat pilihan Allah harus menjadi batu dalam pandangan-Nya.
Dalam Perjanjian Lama kita juga membaca tentang batu karang terbelah yang mengalirkan air hayat (Kel. 17:5-6). Dalam 1 Korintus Paulus memberi tahu kita bahwa batu karang itu adalah Kristus: ”Dan mereka semua minum minuman rohani yang sama, sebab mereka minum dari batu karang rohani yang mengikuti mereka, dan batu karang itu ialah Kristus” (1 Kor. 10:4).
Yesaya 8:14-15 membicarakan batu sandungan. Tetapi Yesaya 28:16 mengatakan, ”Sesungguhnya, Aku meletakkan sebagai dasar di Sion sebuah batu, batu yang teruji, sebuah batu penjuru yang mahal, suatu dasar yang teguh: Siapa yang percaya tidak akan gelisah!” Bagi penentang-penentang-Nya, Kristus adalah batu karang yang menyandung mereka, tetapi bagi kita, Dia adalah batu pondasi dan batu penjuru. Selain itu, Zakharia membicarakan Kristus sebagai batu utama: ”Ia akan mengangkat batu utama, sedang orang ber-sorak: Bagus! Bagus sekali batu itu!” (Za. 4:7).
Dalam Perjanjian Baru
Dalam Perjanjian Baru kita membaca lebih banyak ten-tang batu. Tuhan Yesus menyebut Petrus sebagai batu, dan menunjukkan diri-Nya sendiri sebagai batu karang (Yoh. 1:42; Mat. 16:18). Kristus akan membangun gereja-Nya di atas batu karang ini dengan kaum beriman sebagai batu-batu. Dalam 1 Korintus 3:11 Paulus mengatakan bahwa Kristus adalah pondasi yang unik yang telah diletakkan, dan kita harus membangun di atas pondasi ini dengan emas, perak, dan batu-batu permata. Kemudian dalam 1 Petrus 2:4-5 kita nampak bahwa Tuhan Yesus adalah batu hidup dan bahwa kita juga adalah batu-batu hidup yang akan dibangun menjadi sebuah rumah rohani. Kemudian dalam kitab Wahyu Tuhan mengatakan bahwa para pemenang akan menerima batu putih, menandakan bahwa mereka telah menjadi batu-batu permata di dalam pandangan-Nya (Why. 2:17). Selanjutnya dalam Wahyu 4, Allah yang duduk di atas takhta itu memiliki penampilan seperti yaspis dan sardis: ”Dia yang duduk di takhta itu tampaknya bagaikan permata yaspis dan permata sardis” (ay. 3). Akhirnya, kita memiliki Yerusalem Baru, satu kota yang cahayanya sama seperti ”permata yang paling indah, bagaikan permata yaspis” (Why. 21:11), temboknya dari yaspis, besar dan tinggi (ay. 12, 18), dan ada dua belas batu pondasi yang terdiri dari batu-batu permata. Jika kita melihat kota ini, kita akan nampak bahwa kota itu terdiri dari emas, mutiara, dan batu-batu permata. Ini adalah wahyu yang jelas mengenai batu dalam Alkitab.
Banyak orang yang mengajarkan Alkitab belum nampak bahwa batu adalah satu butir utama dalam Kitab Suci. Pernahkah Anda mendengar bahwa Tuhan Yesus adalah Batu-Penyelamat? Pernahkah Anda diberi tahu bahwa Allah memiliki penampilan yaspis? Menurut Wahyu 4, kita dapat mengatakan bahwa Allah kita adalah Allah-yaspis. Jika ada beberapa orang yang mengatakan bahwa istilah yang demi-kian itu tidak ditemukan dalam Alkitab, kita dapat menunjukkan bahwa Alkitab tidak memakai ungkapan ”Allah Tri-tunggal”, tetapi faktanya bahwa Allah itu Tritunggal Bapa, Putra, dan Roh benar-benar ada di dalam Alkitab. Demikian pula, Alkitab tidak memakai istilah ”Allah-yaspis,” tetapi ini benar-benar mewahyukan bahwa Allah memiliki penampilan yaspis. Lalu, bukankah Dia itu benar-benar Allah-yaspis yang riil?
Sekali lagi saya akan mendorong Anda agar tidak menaruh kepercayaan kepada teologi yang tradisional. Pada teologi semacam itu, ada terlalu banyak pembatasan, kebutaan, dan selubung mengenai banyak perkara dalam Alkitab. Kita telah nampak hanya satu bagian kecil dari apa yang ada di dalam firman Tuhan. Wahyu Allah dalam Kitab Suci itu tidak terbatas. Ketika kita berada di dalam kekekalan, kita dapat berkata, ”Oh, betapa sedikitnya yang telah kita lihat!”
Dalam pengkajian kita terhadap Alkitab, kita tidak boleh ceroboh. Sebaliknya, kita perlu mengikuti prinsip-prinsip utama Kitab Suci. Jika kita mengikuti prinsip-prinsip ini, kita akan terhindar dari membuat banyak kesalahan. Meskipun kita tidak seharusnya dibatasi oleh teologi yang tradisional, kita masih perlu diarahkan oleh prinsip-prinsip utama dalam menafsirkan Alkitab. (Mungkin pada kesempatan lainnya kita akan melihat apakah prinsip-prinsip ini).
Dalam Alkitab ada satu garis mengenai batu, dari Kejadian 2 sampai Wahyu 22. Dalam Kejadian 2, pada mulanya kita memiliki batu krisopras, dan kemudian dalam Wahyu 21 dan 22, kita memiliki kota yaspis sebagai perampungannya. Penampilan, dinding, dan pondasi pertama dari kota ini semuanya adalah yaspis. Oleh karena itu, betapa banyaknya kebenaran yang ditunjukkan dan dinyatakan oleh pernyataan Petrus terhadap Kristus sebagai batu yang ditolak oleh tukang-tukang bangunan tetapi yang dijadikan Allah batu penjuru di dalam kebangkitan.