← Daftar isi Kisah para Rasul (1) · bab 15/27

PERKEMBANGBIAKAN DI YERUSALEM, YUDEA, DAN SAMARIA MELALUI MINISTRI SEKELOMPOK

SEKERJA PETRUS

(10)

Pembacaan Alkitab: Kis. 4:1-31

Dalam berita ini kita akan membahas 4:1-31. Ayat-ayat ini menggambarkan permulaan penganiayaan oleh para agamawan Yahudi. Kisah Para Rasul 4:1-31 dapat dibagi menjadi enam bagian: penangkapan dan pemeriksaan oleh Mahkamah Agama (ay. 1-7), kesaksian Petrus (ay. 8-12), larangan Mahkamah Agama (ay. 13-18), jawaban Petrus dan Yohanes (ay. 19-20), pembebasan Petrus dan Yohanes oleh Mahkamah Agama (ay. 21-22), pujian dan doa gereja (ay. 23-31). Marilah kita membahas 4:1-31 secara umum dan kemudian melanjutkan membahas ayat 11 dan 12 secara ter-perinci.

PENANGKAPAN DAN PEMERIKSAAN

OLEH MAHKAMAH AGAMA

Ayat 1-2 mengatakan, ”Ketika Petrus dan Yohanes sedang berbicara kepada orang banyak, imam-imam dan kepala pengawal Bait Allah serta orang-orang Saduki mendatangi mereka. Orang-orang itu sangat marah karena mereka meng-ajar orang banyak dan memberitakan bahwa dalam Yesus ada kebangkitan dari antara orang mati.” ”Kepala” di sini adalah kapten penjaga bait. Orang-orang Saduki adalah satu sekte di dalam Yudaisme (5:17). Mereka tidak percaya kepada kebangkitan, atau malaikat, maupun roh-roh (Mat. 22:23; Kis. 23:8). Orang-orang Farisi dan Saduki dicela oleh Yohanes Pembaptis dan Tuhan Yesus sebagai keturunan ular beludak (Mat. 3:7; 12:34; 23:33). Tuhan memperingatkan murid-murid-Nya agar berjaga-jaga dan waspada terhadap doktrin-doktrin mereka (Mat. 16:6-12).

Orang-orang Saduki sangat terganggu karena Petrus dan Yohanes mengajar orang-orang dan memberitakan kebangkitan dari antara orang mati dalam Yesus. Dalam 4:2 kata depan ”dalam” menunjukkan di dalam kekuatan Yesus (dengan sifat dan karakter-Nya).

Petrus dan Yohanes ditangkap dan ditempatkan di dalam tahanan (ay. 3). ”Keesokan harinya pemimpin-pemimpin Yahudi serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat mengadakan sidang di Yerusalem dengan Imam Besar Hanas dan Kayafas, Yohanes dan Aleksander dan semua orang lain yang termasuk keturunan Imam Besar” (ay. 5-6). Ini adalah perkumpulan Mahkamah Agama Yahudi (ay. 15). Dalam keempat Kitab Injil, Mahkamah Agama yang terdiri atas pemimpin-pemimpin Yahudi menjadi penentang terkuat terhadap Tuhan Yesus dan ministri-Nya, bahkan menjatuhkan hukuman ma-ti atas Tuhan (Mat. 26:59). Sekarang, dalam kitab ini, Mahkamah Agama yang sama dengan susunan pemimpin yang sama, memulai penganiayaan terhadap para rasul dan ministri mereka (5:21; 6:12; 22:30). Ini menunjukkan bahwa agama Yahudi telah jatuh ke dalam tangan musuh Allah, Satan, Iblis. Iblis menggunakan agama Yahudi untuk menghalangi, bahkan merusak pergerakan Allah dalam ekonomi Perjanjian Baru-Nya bagi perampungan kehendak kekal-Nya, yaitu membawa kerajaan-Nya ke bumi dengan mendirikan dan membangun gereja-gereja melalui pemberitaan Injil Kristus.

Selain Imam Besar Hanas, 4:6 menyebutkan Kayafas, Yohanes dan Aleksander. Kayafas adalah seorang Imam Besar (Luk. 3:2). Yohanes dan Aleksander mungkin adalah kerabat Imam Besar. Bagaimanapun, mereka adalah orang-orang terhormat di antara orang-orang Yahudi, karena nama mereka disebut bersama pemimpin-pemimpin Mahkamah Agama Yahudi (Kis. 4:15).

Kisah Para Rasul 4:7 mengatakan, ”Lalu Petrus dan Yohanes dihadapkan kepada sidang itu dan mulai diperiksa dengan pertanyaan ini: Dengan kuasa mana atau dalam nama siapa kamu melakukan hal itu?” Pertanyaan mereka ini mengacu kepada kesembuhan orang lumpuh dalam pasal tiga. Secara harfiah, bahasa Yunani yang diterjemahkan ”dengan kuasa mana atau dalam nama siapa” itu berarti ”berdasarkan kuasa macam apa atau dalam nama macam apa”.

KESAKSIAN PETRUS

Dalam 4:8-12 terdapat kesaksian Petrus. Ayat 8-10 mengatakan, ”Lalu Petrus, yang penuh dengan Roh Kudus, menjawab mereka: Hai pemimpin-pemimpin umat dan tua-tua, jika kami sekarang harus diperiksa karena suatu perbuatan baik kepada seorang sakit dan harus menerangkan dengan kuasa mana orang itu disembuhkan, maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu.” Dalam ayat 8 Petrus dipenuhi dengan Roh Kudus secara luaran dan secara ekonomikal. Kemudian Petrus memberi tahu mereka bahwa orang lumpuh itu disembuhkan ”dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret.” Kita telah nampak bahwa kata ”orang Nazaret” menunjukkan Dia yang dihina oleh para pemimpin Yahudi (Yoh. 1:45-46; Kis. 22:8; 24:5). Dalam ayat 10 ”kamu” adalah untuk mempertegas. Di sini Petrus menekankan fakta bahwa mereka telah menyalibkan Tuhan Yesus, tetapi Allah membangkitkan Dia dari antara orang mati.

Dalam ayat 11-12 Petrus melanjutkan berkata, ”Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri namun Ia telah menjadi batu penjuru. Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di da-lam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Ayat 11 adalah kutipan dari Mazmur 118:22. Tuhan Yesus juga mengutip ayat ini dalam Matius 21:42, di mana Dia menunjukkan bahwa Dia adalah batu bagi pembangunan Allah (Yes. 28:16; Za. 3:9; 1 Ptr. 2:4), dan ”tukang-tukang bangunan” adalah para pemimpin Yahudi yang seharusnya bekerja bagi pembangunan Allah. Perkataan Petrus menyingkapkan penolakan pemimpin-pemimpin Yahudi terhadap Yesus dan penghormatan Allah terhadap-Nya bagi pembangunan tempat kediaman Allah di tengah-tengah umat-Nya di bumi. Oleh perkataan ini Petrus belajar mengenal Tuhan sebagai batu berharga yang dihormati Allah, seperti ketika Petrus menjelaskan tentang Tuhan dalam suratnya yang pertama (1 Ptr.2:4-7). Petrus mengutip perkataan ini, menunjukkan bahwa dia memberitakan Kristus bukan hanya sebagai Juruselamat bagi keselamatan orang dosa, tetapi juga sebagai batu bagi pembangunan Allah. Kristus yang sedemikian ini adalah satu-satunya keselamatan bagi orang dosa, dan di dalam nama-Nya yang unik di bawah kolong langit ini, yaitu nama yang diremehkan dan ditolak pemimpin-pemimpin Yahudi tetapi dihormati dan ditinggikan Allah (Flp. 2:9-10), orang dosa pasti diselamatkan (Kis. 4:12), bukan hanya terlepas dari dosa (Mat. 1:21), tetapi juga diselamatkan untuk berbagian dalam pembangunan Allah (1 Ptr. 2:5).

Dalam ayat 11 bahasa Yunani yang diterjemahkan ”dibuang” menyiratkan meremehkan, menganggapnya bukan apa-apa (lihat Mrk. 9:12). Batu yang ditolak diremehkan oleh tukang-tukang bangunan itu, telah menjadi batu penjuru. Kristus bukan hanya batu dasar (pondasi) (Yes. 28:16) dan batu utama (Za. 4:7), tetapi juga batu penjuru.

PUJIAN DAN DOA GEREJA

Setelah larangan Mahkamah Agama (ay. 13-18), jawaban Petrus dan Yohanes (ay. 19-20), dan pembebasan Petrus dan Yohanes oleh Mahkamah Agama (ay. 21-22), ter-dapat pujian dan doa gereja (ay. 23-31). Ayat 23 mengatakan, ”Sesudah dilepaskan pergilah Petrus dan Yohanes kepada teman-teman mereka, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang dikatakan imam-imam kepala dan tua-tua kepada mereka.” Teman-teman, dalam bahasa aslinya berarti orang-orang sendiri. Mengacu kepada orang-orang dalam gereja, yang dibedakan dan disisihkan dari orang-orang Yahudi melalui menyeru nama Yesus (9:14). Semua saudara saudari dalam Tuhan adalah orang-orang sendiri dari kaum beriman.

Ayat 24-26 melanjutkan, ”Ketika teman-teman mereka mendengar hal itu, berserulah mereka bersama-sama kepada Allah: Ya Tuhan, Engkaulah yang menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya. Oleh Roh Kudus dengan per-antaraan hamba-Mu Daud, bapak kami, Engkau telah ber-firman: Mengapa gusar bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka hal yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar berkumpul untuk melawan Tuhan dan Yang Diurapi-Nya.” Kata ”Tuhan” dalam ayat 24 dalam bahasa aslinya bukanlah kurios, kata yang biasa untuk Tuhan, melainkan despotes, yang berarti tuan dari hamba, orang yang memiliki kuasa kedaulatan yang mutlak, seperti dalam Lukas 2:29; Yudas 4; Wahyu 6:10; 1 Timotius 6:1-2. Kata ”gusar” dalam ayat 25 bahasa aslinya berarti ”mendengus seperti kuda”, tinggi hati, tidak sopan.

Ayat 27-28 melanjutkan, ”Sebab sesungguhnya telah berkumpul di dalam kota ini Herodes dan Pontius Pilatus beserta bangsa-bangsa dan suku-suku bangsa Israel melawan Yesus, Hamba-Mu yang kudus, yang Engkau urapi, untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan sejak semula oleh kuasa dan kehendak-Mu.” Kata ”tentukan” dalam ayat 28 dapat mengingatkan kita akan ”maksud dan rencana Allah” dalam 2:23. Ketersaliban Tuhan Yesus adalah satu penggenapan dengan maksud khusus dari rencana ilahi yang telah ditentukan oleh Allah Tritunggal.

Menurut 4:29-31, mereka berdoa supaya berani mem-bicarakan firman Tuhan. ”Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua dipenuhi oleh Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani” (ay. 31). Seperti Petrus dalam ayat 8, mereka dipenuhi dengan Roh Kudus secara luaran dan secara ekonomikal.

PETRUS DAN YOHANES

DI HADAPAN MAHKAMAH AGAMA

Butir yang penting dalam Kisah Para Rasul 4 ialah menyinggung tentang Kristus Sang Penyembuh yang di-wahyukan dalam pasal 3. Kesembuhan yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 3 tidak terjadi di luar kota kudus; ini terjadi bukan hanya di dalam kota itu, bahkan di dalam Bait tersebut. Karena itu, banyak dari mereka yang ada di dalam Bait itu terlibat dalam perkara ini. Pemimpin-pemimpin dan pengurus-pengurus di dalam Yudaisme itu tidak setuju dengan adanya aktivitas yang dilakukan di dalam nama Dia yang ditolak, dihukum mati, dan dibunuh oleh mereka. Namun mereka tidak dapat menolak fakta bahwa orang lumpuh itu telah disembuhkan melalui nama Yesus, bukan oleh kemampuan manusia. Selain itu, Petrus dan Yohanes adalah orang-orang Galilea, bukan penduduk Yerusalem. Mereka berasal dari daerah Galilea yang hina. Akhirnya, terjadi huru-hara besar, dan para pemimpin Yahudi kesulitan menangani situasi itu. Para pemimpin Yahudi tidak dapat menerima para nelayan Galilea ataupun setuju dengan apa yang mereka lakukan di dalam nama Dia yang mereka tolak dan salibkan. Karena itu, mereka tidak dapat terus diam, mereka berkumpul bersama dan mengadakan satu rapat.

Kisah Para Rasul 4:15 mengatakan, ”Setelah mereka menyuruh rasul-rasul itu meninggalkan ruang sidang, berundinglah mereka.” Mahkamah Agama adalah satu badan yang terdiri dari imam-imam kepala, tua-tua, ahli-ahli hukum, dan ahli-ahli Taurat. Ini adalah mahkamah yang paling tinggi di kalangan orang-orang Yahudi (Luk. 22:66; Kis. 5:27, 34, 41). Mahkamah Agama memiliki otoritas untuk memutuskan perkara-perkara tanpa berunding dengan kekuasaan yang lebih tinggi.

Dalam Kisah Para Rasul 4 kita nampak bahwa Mahkamah Agama menangani perkara mengenai Petrus dan Yohanes dengan cara yang sangat hati-hati. Mereka berunding satu dengan yang lainnya dan berkata, ”Tindakan apakah yang harus kita ambil terhadap orang-orang ini? Sebab telah nyata kepada semua penduduk Yerusalem bahwa mereka telah mengadakan suatu mujizat yang mencolok dan kita tidak dapat menyangkalnya. Tetapi supaya hal itu jangan makin luas tersebar di antara orang banyak, baiklah kita mengancam dan melarang mereka, supaya mereka jangan berbicara lagi dengan siapa pun dalam nama itu. Setelah keduanya disuruh masuk, mereka diperintahkan supaya sama sekali jangan berbicara atau mengajar lagi dalam nama Yesus” (ay. 16-18). ”Mereka semakin keras mengancam rasul-rasul itu, tetapi akhirnya melepaskan mereka juga, sebab sidang itu tidak melihat jalan untuk menghukum mereka karena orang banyak yang memuliakan nama Allah

berhubung dengan apa yang telah terjadi” (ay. 21). Mungkin karena takut orang-orang akan melempari mereka dengan batu jika mereka menghukum Petrus dan Yohanes, maka Mahkamah Agama itu membebaskan mereka.

KRISTUS ADALAH BATU

BAGI PEMBANGUNAN ALLAH

Ketika Petrus dan Yohanes ditanyai dengan kuasa manakah atau di dalam nama siapakah mereka menyembuhkan orang lumpuh itu, Petrus mengambil kesempatan ini untuk mengatakan lebih banyak mengenai Kristus sebagai Sang Penyembuh. Karena itu, pasal 4 itu sebenarnya adalah kelanjutan dari penyajian Petrus tentang Sang Penyembuh. Dalam pasal 3 Petrus menyajikan Sang Penyembuh ini dalam enam aspek: Hamba Allah, Yang Ku-dus, Yang Benar, Perintis Kehidupan, Nabi, dan keturunan yang di dalamnya semua keluarga di bumi akan diberkati. Semua aspek dari Sang Penyembuh ini adalah untuk kepentingan kita. Tetapi dalam pasal 4 Petrus menyajikan satu aspek dari Sang Penyembuh yang khusus bagi Allah; ia menyajikan Kristus sebagai batu bagi pembangunan Allah.

Batu-Penyelamat

Kisah Para Rasul 4:12 mengatakan, ”Tidak ada keselamatan di dalam siapa pun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.” Ayat ini sering dipakai di dalam pemberitaan Injil. Tetapi pernahkah Anda mendengar bahwa ayat ini dikaitkan dengan ayat 11? Kisah Para Rasul 4:11 mengatakan, ”Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan yaitu kamu sendiri namun ia telah menjadi batu penjuru.” Ayat ini menunjukkan bahwa batu dalam ayat 11 itu adalah Juruselamat. Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru, dan tidak ada keselamatan di dalam nama lainnya lagi. Kita dapat diselamatkan hanya di dalam nama Yesus, dan Yesus adalah batu. Ini berarti kita memiliki satu Batu-Penyelamat. Dalam keempat kitab Injil, kita memiliki Raja-Penyelamat dalam Injil Matius, Hamba-Penyelamat dalam Injil Markus, Manusia-Penyelamat dalam Injil Lukas, dan Allah-Penyelamat dalam Yohanes. Sekarang dalam kitab Kisah Para Rasul, kita memiliki Batu-Penyelamat. Juruselamat kita itu bukan hanya Raja, Hamba, Manusia, dan Allah Dia juga adalah batu bagi pembangunan Allah.

Dalam 4:7 Petrus dan Yohanes ditanyai dengan kuasa manakah atau di dalam nama siapakah mereka menyembuhkan orang lumpuh itu. Kemudian dalam ayat 10 Petrus berkata, ”Maka ketahuilah oleh kamu sekalian dan oleh seluruh umat Israel bahwa dalam nama Yesus Kristus, orang Nazaret, yang telah kamu salibkan, tetapi yang telah dibangkitkan Allah dari antara orang mati bahwa oleh karena Yesus itulah orang ini berdiri dalam keadaan sehat sekarang di depan kamu.” Di sini Petrus berbicara dengan berani mengenai nama Yesus Kristus. Kemudian dalam ayat 11 ia mengatakan bahwa nama ini adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Meskipun Petrus bukanlah orang terpelajar yang berpengetahuan tinggi (ay. 13), tetapi ia dapat mengumumkan bahwa Yesus Kristus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan. Siapakah tukang-tukang bangunan yang membuang batu ini? Tukang-tukang bangunan itu adalah para pemimpin di dalam Mahkamah Agama.

Pembangunan Tempat Kediaman Kekal Allah

Ketika membaca kitab Kisah Para Rasul, kita mungkin masih berada di bawah pengaruh teologi yang tradisional. Karena pengaruh ini, kita mungkin mengenal bahwa nama Yesus hanya untuk keselamatan, dan tidak ada nama lain yang diberikan kepada kita supaya diselamatkan. Kita mungkin tidak melanjutkan melihat makna batu dan tukang-tukang bangunan. Khususnya, kita mungkin tidak bertanya apa yang sedang dibangun oleh tukang-tukang bangunan itu. Apakah yang sedang mereka bangun? Beberapa orang mungkin mengira bahwa mereka sedang membangun Yudaisme, yaitu membangun sebuah agama. Tetapi, Allah tidak bermaksud membangun Yudaisme atau agama apa pun.

Para pemimpin Yahudi, tukang-tukang bangunan itu, tidak mengenal ekonomi Allah. Demikian pula, banyak orang beriman hari ini yang tidak mengenal apakah ekonomi Allah itu. Kita telah menerbitkan ratusan berita Pelajaran-Hayat, dan dalam berita-berita itu kita telah membahas banyak hal mengenai ekonomi Allah. Kita telah menunjukkan bahwa ekonomi Allah adalah membangun tempat kediaman-Nya di alam semesta ini. Surga bukanlah tempat kediaman Allah yang permanen; surga adalah tempat kediaman Allah yang sementara. Alkitab mewahyukan dengan jelas bahwa Allah tidak puas tinggal selama-lamanya di surga.

Perbauran antara Allah dengan Manusia

Alkitab mewahyukan kepada kita bahwa Allah memiliki satu ekonomi. Ekonomi Allah adalah satu rencana, peng-aturan, administrasi, untuk menggenapkan sesuatu. Apa yang ingin Allah genapkan di dalam ekonomi-Nya adalah membangun tempat kediaman kekal-Nya. Apakah tempat kediaman kekal Allah itu? Tempat kediaman kekal Allah adalah perbauran antara diri-Nya sendiri dengan manusia, perbauran antara Allah dengan keinsanian. Baik langit mau-pun bumi bukanlah tempat kediaman Allah bagi kepuasan-Nya. Tidak ada hal lain lagi selain perbauran antara Allah dengan manusia, yang bersyarat untuk menjadi tempat ke-diaman Allah. Meskipun kita nampak sedikit mengenai hal ini dalam Perjanjian Lama, ekonomi Allah ini diwahyukan sepenuhnya dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Injil Yohanes.

Yohanes 1:14 mengatakan, ”Firman itu telah menjadi manusia dan tinggal di antara kita.” Perkataan ini mengacu kepada inkarnasi: Firman, yang adalah Allah (Yoh. 1:1), menjadi daging dan berkemah di antara kita. Kata ”berkemah” dalam ayat ini memiliki makna yang kaya. Ini menyatakan Dia yang berinkarnasi itu benar-benar adalah perbauran Allah dengan manusia. Perbauran ini adalah kemah Allah, tempat Allah berhuni. Selain itu, di dalam kemah ini umat pilihan Allah dapat melayani Allah dan tinggal bersama-Nya. Karena itu, dalam Yohanes 1:14 kita nam-pak perbauran antara Allah dengan manusia dalam inkarnasi untuk menjadi kemah Allah, tempat kediaman Allah.

Dalam Yohanes 14:23 Tuhan Yesus berkata, ”Jika se-seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepada-nya dan tinggal bersama-sama dengan dia.” Di sini kita nampak bahwa Putra dan Bapa akan datang kepada orang yang mengasihi Tuhan Yesus dan akan membuat suatu tem-pat tinggal dengan orang itu.

Kemudian dalam Yohanes 15:4 Tuhan Yesus melanjutkan berkata, ”Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.” Di sini Tuhan menunjukkan bahwa Dia dapat menjadi tempat tinggal kita, dan bahwa kita perlu menjadi tempat tinggal-Nya. Tuhan seolah-olah berkata, ”Tinggallah di dalam Aku supaya Aku dapat tinggal di dalam kamu. Jadilah tempat tinggal-Ku supaya Aku dapat menjadi tempat ting-galmu.” Di sini kita memiliki perbauran antara Allah dan manusia untuk tempat tinggal bersama. Pernahkah Anda mendengar mengenai hal ini? Tidak ada konsepsi yang demi-kian dalam pengajaran-pengajaran teologi yang tradisional.

Bangunan di dalam Kebangkitan

Dalam Yohanes 2:19 Tuhan Yesus berkata, ”Runtuhkan Bait Suci ini dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali.” Menurut Yohanes 2:21, ”Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Suci ialah tubuh-Nya sendiri.” Di sini Tuhan seolah-olah berkata, ”Kalian para pemimpin Yahudi harus menjadi tukang-tukang bangunan, namun akhirnya kalian justru menghancurkan Bait ini. Akan tetapi Aku akan membangunnya dalam waktu tiga hari. Di dalam kebangkitan, Aku akan membangun apa yang telah kalian hancurkan.” Bangunan di dalam kebangkitan ini bukan hanya Yesus Kristus sendiri, tetapi juga orang-orang yang percaya kepada-Nya. Akhirnya, Dia dan semua orang beriman akan dibangun bersama menjadi tempat kediaman Allah, yang di dalam Perjanjian Baru disebut rumah Allah, gereja (1 Tim. 3:15).

Sekarang kita dapat nampak bahwa ekonomi Allah adalah membangun satu tempat kediaman kekal bagi diri-Nya sendiri dan bagi umat pilihan-Nya. Tempat kediaman ini sebenarnya adalah perbauran antara Allah dengan umat pilihan-Nya.

Satu Tempat Kediaman Bersama

Pemikiran tentang memiliki Allah sebagai tempat ke-diaman kita dapat ditemukan dalam Perjanjian Lama. Misal-nya, Ulangan 33:27 mengatakan, ”Allah yang abadi adalah tempat kediamanmu” (Tl.). Dalam Mazmur 90:1 Musa berkata, ”Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun.” Dalam ayat-ayat ini kita nampak dengan jelas bahwa Allah adalah tempat kediaman kita. Namun dalam Perjanjian Lama kita tidak dapat menemukan satu ayat yang memberi tahu kita bahwa kita, umat pilihan Allah, adalah tempat kediaman-Nya. Tetapi Perjanjian Baru mewahyukan dengan jelas bahwa ada satu bangunan universal, dan bangunan ini adalah tempat kediaman bersama antara Allah dengan umat pilihan-Nya. Sebenarnya, tempat ke-diaman ini adalah Allah sebagai tempat kediaman kita dan kita sebagai tempat kediaman Allah. Tempat kediaman yang ajaib ini adalah bangunan Allah.

Allah ingin memakai Musa, raja-raja, para nabi, dan semua pemimpin Yahudi untuk membangun tempat kediaman ini. Karena itu, tukang-tukang bangunan dalam Kisah Para Rasul 4:11 tentunya mengacu kepada tukang-tukang bangunan dari tempat kediaman universal Allah.